ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan
dari Mahmud bin Labid RA,
Rasul
SAW bersabda :
اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ الْمَوْتُ وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ
مِنْ الْفِتْنَةِ وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ
“Dua perkara yang
dibenci anak Adam, (pertama) kematian, padahal kematian itu lebih baik bagi
seorang mukmin daripada fitnah (kesesatan di dalam agama). (Kedua) dia membenci
sedikit harta, padahal sedikit harta itu lebih ringan hisabnya. [HR Ahmad]
Catatan Alvers
Catatan Alvers
“Ketemuan tidak sesuai dengan foto. Sumpah
ilfeel banget!” Tulis satu akun di medsos. Tidak sedikit orang yang mencari pasangan melalui
media sosial. Setelah menjalin komunikasi yang intensif, mereka akan bertemu.
Beredar video dimana lelaki
dan perempuan sudah menentukan
tempat bertemu. Saat berada di lokasi, pria yang berada di dalam mobil melihat
seorang perempuan di depannya. Namun
dia kesal karena wajah perempuan itu berbeda dengan foto di media sosial.Boleh
jadi si perempuan selalu pakai filter di medsos sehingga sang pria kecewa sampai
menulis status tersebut. [okzone com]
Ternyata kita seringkali menjadi korban tipuan dunia
karena dunia itu seperti wanita tadi, selalu memakai filter sehingga tidak
terlihat wajah aslinya. Banyak dari kita mati-matian mempertahankan sesuatu
yang tidak dibawa mati, yakni harta dunia. Dunia sangatlah menyilaukan sehingga mereka buta
dan tidak bisa melihat hakikatnya secara nyata. Itu semua karena filter kamera
dunia.
Kekeliruan
inilah yang ingin diluruskan oleh Nabi SAW dalam hadits utama di atas, “Ada dua perkara yang dibenci anak Adam, (pertama)
kematian, padahal kematian itu lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah
(kesesatan di dalam agama). (Kedua) dia membenci sedikit harta, padahal sedikit
harta itu lebih ringan hisabnya. [HR Ahmad]
Setiap manusia menginginkan harta yang banyak, bahkan
mereka berambisi yang menyebabkan mereka memakan harta dengan cara yang bathil.
Rasul SAW mengajak kita untuk merenungi hakikat harta, beliau bersabda :
يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي قَالَ وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ
مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ
فَأَمْضَيْتَ
‘Anak Adam berkata: hartaku, hartaku!
Padahal tidaklah harta milikmu wahai anak Adam, kecuali:
apa yang engkau makan lalu
habis, atau yang engkau pakai lalu usang, atau yang engkau sedekahkan lalu
menjadi bekal (yang engkau kirim ke akhirat).’” [HR Muslim]
Ali bin Abi Thalib
RA juga mengajak kita berfikir secara jernih mengenai
hakikat harta yang kita kejar selama ini. Harta yang kita muliakan selama ini ternyata
adalah barang yang kita hinakan. Beliau berkata:
إِنَّمَا الدُّنْيَا سِتَّةُ أَشْيَاءَ: مَطْعُومٌ وَمَشْرُوبٌ
وَمَلْبُوسٌ وَمَرْكُوبٌ وَمَنْكُوحٌ وَمَشْمُومٌ
“Sesungguhnya
dunia itu hanya enam perkara: makanan, minuman, pakaian, kendaraan, pasangan
(yang dinikahi), dan sesuatu yang dicium (aroma)”.
Maka yang paling
mulia dari makanan adalah madu, padahal ia hanyalah liurnya lebah.
Yang
paling mulia dari minuman adalah air, dan sama saja dalam hal itu orang baik
maupun orang jahat. Yang paling mulia dari pakaian adalah sutra, padahal ia
adalah hasil tenunan ulat. Yang paling mulia dari kendaraan adalah kuda, dan di
atasnya lelaki dibunuh (ketika perang). Yang paling utama dari yang dinikahi
adalah wanita, padahal ia adalah tempat keluarnya kotoran ke tempat keluarnya
kotoran. Bahkan seorang wanita menghias bagian terbaik dari dirinya, padahal
yang diinginkan darinya adalah bagian yang paling buruk. Dan yang paling mulia
dari wewangian adalah misik, padahal ia adalah darah.” [Ihya Ulumiddin]
Harta yang paling kita butuhkan setiap harinya adalah
apa yang kita makan, karena tanpa makanan kita akan mati. Dan Allah menyuruh
kita untuk memperhatikan makakan. Allah SWT berfirman:
فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ
“Maka hendaklah
manusia memperhatikan makanannya.” [QS Abasa
: 24]
Maksudnya, kata Abdullah bin Abbas RA :
إِلَى رَجِيعِهِ
(hendaklah manusia memperhatikan) kepada
apa yang keluar darinya (yakni kotorannya). ” [Ihya Ulumiddin]
Hal ini senada dengan ucapan Sahabat Abdullah bin Umar RA : “Sesungguhnya
malaikat berkata kepada orang (yang melihat
kotorannya sendiri) :
Lihatlah apa yang dahulu engkau kikir terhadapnya (enggan mengeluarkannya),
lihatlah menjadi apa ia sekarang.’” [Ihya]
Para ulama setelahnya, mereka juga mengajak kita
merenungi hakikat dunia. Ibrahim ibn Adham (w. 166 H) ingin menggugah pikiran dan ia bertanya : “Apakah
satu dirham (uang perak) dalam mimpi lebih engkau sukai, atau satu dinar (Uang
Emas) dalam keadaan terjaga?” Seseorang menjawab: “Dinar dalam keadaan
terjaga.” Beliau berkata: “Engkau berdusta. Karena sesungguhnya apa yang engkau
cintai di dunia, seakan-akan engkau mencintainya dalam mimpi; dan apa yang
tidak engkau cintai di akhirat, seakan-akan engkau tidak mencintainya dalam
keadaan terjaga.” [Ihya]
Demikian pula, Fudlayl ibn Iyadl (w.
187 H) berkata
: “Seandainya dunia itu terbuat dari emas yang fana,
dan akhirat dari tanah liat yang kekal, niscaya seharusnya kita memilih tanah
liat yang kekal daripada emas yang fana. Lalu bagaimana (keadaan kita sekarang), kita justru memilih tanah liat yang fana
daripada emas yang kekal?” [Ihya]
Boleh jadi Kita tertipu karena selama ini kita hanya
melihat nikmatnya dunia dan kita memang merasakan nikmat itu nyata sekarang ini.
Namun jika kenikmatan dunia kita bandingkan dengan kenikmatan akhirat barulah
kita akan tersadar bahwa kenikmatan yang kita rasakan di dunia ini ternyata
tidak ada apa-apanya. Rasul SAW bersabda :
وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ
أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي
الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ
“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan
akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka
lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” [HR Muslim]
Selama ini dalam urusan dunia, kita merasa kurang dan
kurang. Dan ini wajar terjadi karena Nabi Isa AS berkata :
مَثَلُ طَالِبِ الدُّنْيَا مِثْلُ شَارِبِ مَاءِ الْبَحْرِ، كُلَّمَا
ازْدَادَ شُرْبًا ازْدَادَ عَطَشًا حَتَّى يَقْتُلَهُ.
Perumpamaan
pencari dunia itu seperti orang yang minum air laut; setiap kali ia bertambah
minum, semakin bertambah pula rasa hausnya, hingga akhirnya membinasakannya.” [Ihya]
Dengan tersingkapnya hakikat dunia maka manusia akan
tersadar betapa meruginya selama ini. Jikapun manusia sekarang ini tidak tersadar
juga, maka ketika mati ia baru tersadar akan hal tersebut. Hasan al-Bashri (w. 110 H) berkata :
لَا تَخْرُجُ نَفْسُ ابْنِ آدَمَ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا بِحَسَرَاتٍ
ثَلَاثٍ
“Tidaklah jiwa
anak Adam keluar dari dunia kecuali dengan tiga penyesalan: (1)
ia tidak pernah merasa cukup dari apa yang ia kumpulkan, (2)
ia tidak mencapai apa yang ia angan-angankan, (3) dan ia tidak
memperbaiki bekal untuk apa yang akan ia hadapi (akhirat).” [Ihya]
Tidak sadarnya kita selama ini karena kita terus-terusan
ditipu oleh dunia. Dunia terlihat indah dan menarik namun hakikatnya bertolak
belakang. Suatu
ketika diperlihatkanlah kepada Isa AS tentang
hakikat dunia.
فَرَآهَا فِي صُورَةِ عَجُوزٍ هَتْمَاءَ عَلَيْهَا مِنْ كُلِّ
زِينَةٍ
“Beliau melihatnya dalam bentuk seorang wanita tua
yang ompong, namun dihiasi dengan berbagai macam perhiasan”.
Maka beliau bertanya kepadanya : ‘Berapa kali engkau menikah?’ Ia menjawab: ‘Aku tidak dapat
menghitung mereka.’ Beliau bertanuya lagi : ‘Apakah semuanya
meninggal darimu, atau semuanya menceraikanmu?’ Ia menjawab :
‘Bahkan, semuanya aku bunuh.’ Maka Nabi Isa AS berkata :
‘Celaka para suamimu yang masih tersisa! Mengapa mereka tidak mengambil
pelajaran dari suami-suami terdahulu? Bagaimana engkau membinasakan mereka satu
per satu, sementara mereka tidak waspada terhadapmu?”. [Ihya]
Maka berhati-hatilah dalam urusan dunia. Ali bin Abi Thalib
RA berkata:
مَثَلُ الدُّنْيَا مَثَلُ الْحَيَّةِ لَيِّنٌ مَسُّهَا وَيَقْتُلُ
سُمُّهَا
“Perumpamaan dunia
itu seperti ular : sentuhannya lembut, tetapi racunnya mematikan”. [Ihya]
Wallahu A’lam.
Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk tidak
tertipu dengan wujud dunia yang terlihat cantik dengan filter kamera namun hakikatnya ia
berwajah buruk dan membahayakan.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul
Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren
Wisata
AN-NUR 2 Malang
Jatim
Ngaji dan Belajar
Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok
Itu Keren!
NB.
Jangan pelit
berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka
ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan
(3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]













