إنَّ اللّهَ أَوْحَىٰ إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّىٰ لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ علىٰ أَحَدٍ، وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَىٰ أَحَدٍ

"Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menyuruh kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya di hadapan orang lain, dan tidak seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain." [HR Muslim]

أَرْفَعُ النَّاسِ قَدْرًا : مَنْ لاَ يَرَى قَدْرَهُ ، وَأَكْبَرُ النَّاسِ فَضْلاً : مَنْ لَا يَرَى فَضْلَهُ

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah melihat kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah melihat kemuliannya (merasa mulia).” [Syu’abul Iman]

الإخلاص فقد رؤية الإخلاص، فإن من شاهد في إخلاصه الإخلاص فقد احتاج إخلاصه إلى إخلاص

"Ikhlas itu tidak merasa ikhlas. Orang yang menetapkan keikhlasan dalam amal perbuatannya maka keihklasannya tersebut masih butuh keikhlasan (karena kurang ikhlas)." [Ihya’ Ulumuddin]

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur." [HR Muslim]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu.”[HR Ahmad]

Sunday, January 25, 2026

AYO MONDOK

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Anas Bin Malik RA, Rasul SAW bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. [HR Ibnu Majah]

 

Catatan Alvers

 

“Mondok” adalah istilah untuk aktifitas seseorang tinggal di pondok pesantren dengan tujuan fokus untuk mengaji atau menuntut ilmu agama yang diwajibkan untuknya. Hal ini sebagaimana disebut pada hadits utama. Mengaji itu sangatlah mulia, bahkan disetarakan dengan kemuliaan berjihad. Rasul SAW Bersabda :

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu (syar’i) maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang (kembali ke rumahnya)”. [HR Turmudzi]

 

Yahya bin Yahya al-Laytsi adalah seorang ulama besar asal Andalusia (Spanyol Muslim), murid Imam Malik. Ia berkata : Pertama kali Imam Malik bin Anas berbicara kepadaku ketika aku datang kepadanya sebagai penuntut ilmu, pada hari pertama aku duduk di majelisnya, beliau bertanya: “Siapa namamu?” Aku menjawab: “Semoga Allah memuliakanmu, namaku Yahya.” Saat itu aku adalah yang paling muda di antara sahabatku.

 

Beliau berkata kepadaku: “Wahai Yahya, Allah, Allah, bersungguh-sungguhlah dalam urusan ini (menuntut ilmu). Aku akan menceritakan kepadamu sebuah kisah yang akan membuatmu bersemangat dalam ilmu, dan membuatmu enggan terhadap selainnya.”

Kemudian beliau bercerita: “Pernah datang ke Madinah seorang pemuda dari Syam, seusiamu, ia bersama kami bersungguh-sungguh menuntut ilmu hingga akhirnya ia wafat. Aku melihat pada jenazahnya sesuatu yang belum pernah kulihat pada jenazah siapa pun di negeri kami, baik penuntut ilmu maupun ulama. Semua ulama berdesakan mengiringi jenazahnya. Hingga sang amir (pemimpin) menahan diri dari menshalatinya dan berkata: ‘Silakan kalian majukan siapa yang kalian kehendaki.’ Maka para ulama memajukan Rabi‘ah. Lalu Rabi‘ah bersama Zaid bin Aslam, Yahya bin Sa‘id, Ibn Syihab, Muhammad bin al-Mundhir, Shafwan bin Sulaim, Abu Hazim, dan lainnya turun ke liang lahadnya. Mereka semua bergantian memberikan batu bata untuk menutup liang lahad.”

 

Imam Malik melanjutkan: “Pada hari ketiga setelah pemuda itu dimakamkan, orang shalih dari Madinah melihatnya dalam mimpi, dalam rupa yang sangat indah: seorang pemuda tampan, berpakaian putih, berikat serban hijau, menunggang kuda putih turun dari langit. Ia datang kepadanya, memberi salam, dan berkata: ‘Ilmu telah mengantarkanku ke derajat ini.’ Orang shalih itu bertanya: ‘Apa yang telah mengantarkanmu?’ Ia menjawab: ‘Allah memberiku satu derajat di surga untuk setiap bab ilmu yang kupelajari. Namun derajat itu belum menyampaikanku ke derajat para ulama. Lalu Allah berfirman:

زِيدُوا وَرَثَةَ أَنْبِيَائِي، فَقَدْ ضَمِنْتُ عَلَى نَفْسِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ وَهُوَ عَالِمٌ سُنَّتِي، أَوْ سُنَّةَ أَنْبِيَائِي، أَوْ طَالِبٌ لِذَلِكَ أَنْ أَجْمَعَهُمْ فِي دَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ.

“Tambahkan bagi para pewaris nabi. Aku telah menjamin bahwa siapa yang mati sebagai ulama sunnahku, atau sunnah para nabi, atau penuntut ilmu itu, akan Aku kumpulkan mereka dalam satu derajat”.

 

Maka Allah memberiku hingga aku sampai pada derajat para ulama. Antara aku dan Rasul SAW hanya ada dua derajat : satu derajat beliau duduk bersama para nabi, satu derajat bersama para sahabat beliau dan sahabat para nabi, lalu derajat berikutnya adalah para ulama dan penuntut ilmu. Aku ditempatkan di tengah mereka, mereka menyambutku dengan hangat. Selain itu, Allah menjanjikan tambahan: bahwa para nabi akan dikumpulkan dalam satu kelompok, lalu Allah berkata: ‘Wahai para ulama, inilah surga-Ku, Aku halalkan untuk kalian. Inilah ridha-Ku, Aku ridha kepada kalian. Jangan masuk surga sebelum kalian berdoa dan memberi syafaat. Aku akan kabulkan doa kalian dan syafaat kalian, agar hamba-hamba-Ku melihat kemuliaan kalian di sisi-Ku.’”

 

Ketika lelaki itu bangun, ia menceritakan mimpinya kepada para ulama, dan berita itu tersebar di Madinah. Imam Malik berkata: “Ada orang-orang di Madinah yang dahulu memulai menuntut ilmu bersama kami lalu berhenti. Setelah mendengar kisah ini, mereka kembali lagi bersungguh-sungguh, hingga kini mereka menjadi ulama di negeri kami.

يَا يَحْيَى جِدَّ فِي هَذَا الْأَمْرِ

Wahai Yahya, bersungguh-sungguhlah dalam urusan ini (menuntut ilmu agama).” [Syarah Al-Bukhari Libni Batthal]

 

Dari kemuliaan menuntut Ilmu maka sahabat Abu Darda’ RA berkata:

كُنْ عَالِمًا، أَوْ مُتَعَلِّمًا، أَوْ مُسْتَمِعًا، وَلَا تَكُنِ الرَّابِعَ فَتَهْلَكَ.

"Jadilah seorang alim, atau penuntut ilmu, atau pendengar ilmu. Janganlah engkau menjadi yang keempat, niscaya engkau akan binasa." [Ihya Ulumiddin]

 

Siapakah orang ke empat itu?. Ada orang memberi nasehat berkata kepada Umar bin Abdul Aziz, Ia berkata :

إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ عَالِمًا فَكُنْ عَالِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَكُونَ عَالِمًا فَكُنْ مُتَعَلِّمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَكُونَ مُتَعَلِّمًا فَأَحْبِبْهُمْ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَلَا تُبْغِضْهُمْ

Jika engkau mampu menjadi seorang alim, maka jadilah alim. Jika tidak mampu menjadi alim, maka jadilah penuntut ilmu. Jika tidak mampu menjadi penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Jika tidak mampu mencintai mereka, maka janganlah membenci mereka."

Maka Umar bin Abdul Aziz berkata: "Subhanallah, sungguh Allah telah memberikan jalan keluar bagi kita." [Ihya Ulumiddin]

 

Janganlah berputus asa ketika merasa sulit untuk memahami ilmu agama. Syeikh Rabi’ bin Sulaiman seorang faqih, ahli hadis, dan muazin di Masjid Fusthath, Mesir, murid utama Imam Syafi’i di Mesir, dan merupakan periwayat paling terkenal dari kitab al-Umm, dahulu ia dikenal sebagai pelajar yang “Bathi’ul Fahm” (Lemot). As-Subki menceritakan bahwa Imam Syafi’i pernah mengajari Rabi’ satu masalah dan dilang-ulangi sampai 40 X namun ia tidak paham juga hingga ia pergi meninggalkan majelis karena malu. Imam Syafi’i akhirnya memberinya pelajaran secara privat sampai ia paham. Dahulu Imam Syafi’i pernah berkata kepadanya :

يَا رَبِيعُ، لَوْ أَمْكَنَنِي أَنْ أُطْعِمَكَ الْعِلْمَ لَأَطْعَمْتُكَ

"Wahai Rabi‘, seandainya aku mampu memberimu ilmu dengan cara menyuapimu, niscaya aku akan melakukannya." [Thabaqat As-Syafi’iyyah Al-Kubra]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk terus menuntut ilmu agama yang diperintahkan dan tidak pernah berhenti dari belajar serta tidak putus asa ketika menemukan kendala apapaun.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Thursday, January 22, 2026

BERJUALAN DI HARI JUM’AT

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

لِيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ مِنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَحْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ

"Sungguh berhentilah kaum-kaum dari meninggalkan beberapa Jumat atau sungguh Allah akan menutup hati mereka sehingga mereka termasuk orang-orang yang lalai." [HR Muslim]

 

Catatan Alvers

 

Hari Jumat adalah hari yang paling mulia sehingga semestinya kita mengisinya dengan banyak amal dan ibadah dan tentunya shalat jumat yang wajib ditunaikan sebagaimana disebutkan dalam hadits utama, namun di sisi lain orang-orang butuh untuk tetap bekerja mencari nafkah dan sebagian mereka butuh untuk membeli kebutuhan seperti makanan dan kebutuhan harian lainnya. Maka lakukan keduanya, yaitu ibadah dan bekerja pada waktu masing-masing.

 

Dahulu ada kejadian di mana jamaah sholat jumat sebagian mereka membubarkan diri terlebih dahulu karena ingin segera berjual beli. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Jabir bin ‘Abdillah RA berkata :

بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَقْبَلَتْ عِيرٌ تَحْمِلُ طَعَامًا فَالْتَفَتُوا إِلَيْهَا حَتَّى مَا بَقِيَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا

Ketika kami melaksanakan sholat jumat bersama Nabi SAW (tepatnya saat berkhutbah) saat itu datanglah kafilah dagang yang membawa makanan, maka orang-orang pun bergegas menuju kafilah itu hingga tidak tersisa bersama Nabi kecuali dua belas orang lelaki. [HR Bukhari]

Kemudian turunlah ayat ini :

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا

“Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka bergegas menuju kepadanya dan meninggalkan engkau (wahai Muhammad) sedang berdiri”... [QS Jumu’ah : 11]

 

Al-Kalbi menjelaskan lebih lanjut : Kafilah yang datang itu adalah Dihyah bin Khalifah al-Kalbi dari Syam, pada masa terjadi paceklik dan mahalnya harga. Ia membawa segala kebutuhan manusia berupa gandum, tepung, dan lainnya. Lalu ia singgah di tempat bernama Ahjar az-Zayt, kemudian ia memukul genderang untuk memberi tahu orang-orang tentang kedatangannya. Maka orang-orang pun keluar (meninggalkan khutbah) kecuali dua belas orang saja.” [Tafsir Al-Qurtubi]

 

Imam Nawawi berkata : Di dalam hadits tersebut terdapat dalil bagi Imam Malik dan selainnya yang berpendapat bahwa shalat Jumat sah dengan dua belas orang. Sedangkan para pengikut Imam Syafi‘i dan selain mereka yang mensyaratkan empat puluh orang menjawab dengan penjelasan bahwa para sahabat itu kembali lagi (ke masjid), atau sebagian dari mereka kembali hingga genap empat puluh orang, lalu dengan jumlah itu shalat Jumat disempurnakan.” [Al-Minhaj Syarah Muslim]

 

Abu Dawud dalam Marasil-nya menyebut bahwa khutbah Nabi SAW yang ditinggalkan oleh sebagian sahabat itu sebenarnya terjadi setelah shalat Jumat dilaksanakan, bukan sebelumnya, sehingga para sahabat mengira tidak mengapa meninggalkan khutbah karena shalat telah selesai. Sebelum kejadian ini, Nabi SAW melaksanakan shalat dulu baru khutbah jumat. [Al-Minhaj Syarah Muslim]

 

Al-Damamini menjelaskan bahwa pada masa awal Islam, tata cara shalat Jumat mirip dengan shalat ‘Id dan istisqā’: yaitu shalat dulu, baru khutbah...

فَقُدِّمَتِ الْخُطْبَةُ مِنْ حِيْنئِذٍ

Sejak saat itu (peristiwa turunnya surat jumat di atas), maka khutbah jumat didahulukan (dari pelaksanaan shalat jumat). [Hasyiyah Al-Bujairimi]

 

Maka dengan turunnya surat Al-Jum’ah, Allah melarang jual beli saat ibadah Jum’at diselenggarakan, tepatnya pada firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli...” [QS. Al-Jumu’ah: 9].

 

Ibnu Katsir berkata :

وَلِهٰذَا اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ عَلَى تَحْرِيمِ الْبَيْعِ بَعْدَ النِّدَاءِ الثَّانِي

“Oleh karena itulah, para ulama radhiallahu’anhum bersepakat akan keharaman jual-beli setelah adzan yang kedua” [Tafsir Ibnu Katsir]

 

Mengapa yang menjadi patokan adzan kedua? Ibnu Qudamah (Ulama Hanbali) mengatakan: “Adzan (shalat Jum’at) yang ada di zaman Rasul SAW hanyalah adzan (kedua, yaitu) setelah imam duduk di mimbar. Maka larangan jual-beli ini dikaitkan pada adzan tersebut bukan adzan yang lainnya. [Al-Mughni]

 

Hendaklah orang-orang yang keras kepala untuk melaksanakan jual beli ketika diselenggarkan ibadah jumat, mereka mengetahui bahwa Allah SWT berfirman :

 قُلْ مَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِۗ وَاللّٰهُ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan. Dan Allahlah pemberi rezeki yang terbaik. [QS. Al-Jumu’ah: 11].

 

Hendaklah mereka menutup usahanya sebentar. Barulah sesuai shalat Jumat ditunakan, silahkan lakukan jual beli lagi. Allah SWT berfirman :

فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ

Apabila shalat (Jum’at) telah dilaksanakan maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia (rizki) Allah... [QS. Al-Jumu’ah: 10].

 

Menyambut perintah ini, Urak bin Malik (Tabi’in Madinah) ketika tiba di pintu masjid saat hendak keluar dari shalat jumat maka ia berhenti sejenak dan berdoa “Ya Allah, sesungguhnya aku telah memenuhi panggilan-Mu, dan telah menunaikan shalat wajib-Mu, dan aku (akan) bertebaran (di muka bumi) sebagaimana Engkau perintahkan. Maka berilah aku rezeki dari karunia-Mu, karena Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.” [Tafsir Ibnu Katsir]

 

Oleh karena adanya perintah Allah dalam ayat [QS. Al-Jumu’ah: 10] tersebut maka sebagian ulama salaf berkata :

مَنْ بَاعَ وَاشْتَرَى فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، بَارَكَ اللهُ لَهُ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Barangsiapa yang melakukan jual dan beli pada hari Jumat setelah melaksanakan shalat jumat maka Allah akan memberinya keberkahan sebanyak tujuh puluh kali lipat.” [Tafsir Ibnu Katsir]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk menunda berjual-beli ketika shalat jumat diselenggarakan dan setelah itu kembali lagi untuk bersemangat berjual-beli dan mencari rizki dan keberkahan dari Allah SWT.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Monday, January 19, 2026

BERKAH DARI NABI

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Rasul SAW Bersabda :

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

“Ya Allah, perbanyaklah harta (Anas) dan keturunannya dan berkahilah untuknya apa-apa yang engkau anugerahkan kepadanya.” [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Kita sering kali menemukan kata “Barokah”, “Barakah” atau “Berkah”. Barokah di dalam doa yang dipanjatkan, bahkan terdapat pada nama-nama usaha. Misalnya toko Barokah, CV Berkah Utama, Warung Barokah bahkan ada gerobak kaki lima bertuliskan “Cilok Barokah”. Apa sih arti barokah itu sendiri?. Syeikh Al-Bujairimi berkata : secara bahasa, Barokah itu artinya “Az-Ziayadah” (bertambah) dan An-Nama’ (berkembang). Dan secara istilah, Barokah itu adalah :

ثُبُوتُ الْخَيْرِ الْإِلَهِيِّ فِي الشَّيْءِ

Tetapnya kebaikan dari Tuhan pada sesuatu. [Hasyiyah Al-Bujairimi]

 

Untuk mendapatkan barokah, ada beberapa cara yang dilakukan. Pertama, dengan berdoa. Hal ini dicontohkan oleh Nabi SAW. Anas berkata: "Rasul SAW masuk ke dalam rumah Ummu Sulaim, maka Ummu Sulaim pun menghidangkan kurma dan keju.  Beliau bersabda : "Masukkanlah kembali kurma dan keju kalian ke tempatnya karena aku sedang berpuasa!" Kemudian beliau berdiri di salah satu sudut rumah dan shalat sunnah, kemudian beliau berdoa untuk kebaikan Ummu Sulaim dan keluarganya. Lalu Ummu Sulaim berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي خُوَيْصَّةً

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki permintaan “khuwayshah” (doa khusus)."

 

Beliau bersabda : "Apakah itu?" Ummu Sulaim menjawab: "(untuk) Pembantumu Anas." Maka Rasul SAW berdoa dan tidak ada suatu kebaikan dunia maupun akhirat kecuali beliau mintakan untukku. Dan Beliau berdoa : “ya Allah, berilah ia rizki berupa harta dan anak, dan berkahilah padanya." Maka aku termasuk orang yang paling banyak hartanya dari kalangan sahabat anshar.[HR Bukhari]

Dan Anas berkata :

فَوَاللَّهِ إِنَّ مَالِي لَكَثِيرٌ وَإِنَّ وَلَدِي وَوَلَدَ وَلَدِي لَيَتَعَادُّونَ عَلَى نَحْوِ الْمِائَةِ الْيَوْمَ

"Demi Allah, hartaku sungguh banyak, dan anak-anakku serta cucu-cucuku jumlahnya pada hari ini sekitar seratus orang." [HR Muslim]

 

Imam an-Nawawi berkata : Anas bin Malik adalah sahabat yang paling banyak memiliki anak... Abul Aliyah berkata tentang Anas : Ia memiliki sebuah kebun yang setiap tahun berbuah dua kali (di saat kebun lainnya setahun sekali), dan di dalamnya ada tanaman raihān (sejenis harum-haruman) yang baunya seperti bau misk (kasturi)... Adapun tentang panjang umur Anas : Telah tetap dalam riwayat sahih bahwa ketika hijrah ia berusia sembilan tahun... dan disebutkan oleh Khalifah (bin Khayyath) bahwa ia berusia 103 tahun. [Fathul Bari]

 

Tidak hanya lewat doa, dahulu para sahabat juga mencari barokah dari Nabi SAW dengan sarana air. Dalam hadits shahih, Anas RA menceritakan :

 

“Rasul SAW apabila selesai shalat Subuh, para pelayan Madinah datang membawa bejana-bejana mereka yang berisi air”.

فَمَا يُؤْتَى بِإِنَاءٍ إِلَّا غَمَسَ يَدَهُ فِيهَا

“Tidaklah didatangkan sebuah bejana pun melainkan beliau mencelupkan tangannya ke dalamnya”. [HR Muslim]

 

Dan Anas melanjutkan : “Kadang mereka datang kepadanya pada pagi yang dingin, lalu beliau tetap mencelupkan tangannya ke dalamnya.” [HR Muslim]

Imam Nawawi berkata : “Di dalam hadits itu terdapat bukti kesabaran Nabi SAW menanggung kesulitan demi kemaslahatan kaum muslimin.  Beliau memenuhi permintaan orang yang meminta kebutuhan atau keberkahan, dengan cara menyentuhkan tangannya atau mencelupkannya ke dalam air, sebagaimana disebutkan dalam riwayat.

وَفِيهِ التَّبَرُّك بِآثَارِ الصَّالِحِينَ

“Hadits ini juga menunjukkan bolehnya bertabarruk dengan bekas orang‑orang shaleh”.

“Dan menjelaskan bagaimana para sahabat bertabarruk dengan bekas Nabi SAW, termasuk dengan mencelupkan tangan beliau yang mulia ke dalam bejana air”. [Syarah Muslim]

 

Barokah juga didapat dengan mengusap kepala sambil berdoa. Al-Walid bin Uqbah berkata :  “Ketika Nabi Allah SAW menaklukkan Makkah, penduduk Makkah membawa anak anak mereka kepada beliau”.

فَيَدْعُو لَهُمْ بِالْبَرَكَةِ وَيَمْسَحُ رُءُوسَهُمْ

Beliau mendoakan mereka dengan keberkahan dan mengusap kepala mereka”. [HR Abu Dawud]

Dan Al Walid melanjutkan : Lalu aku pun dibawa kepadanya, sedangkan aku memakai khaluq (Parfum wanita). Maka beliau tidak menyentuhku karena khaluq itu.” [HR Abu Dawud]

 

Abu Musa RA berkata: "Aku bersama Rasul SAW ketika singgah bersama Bilal di Ji'ranah, yaitu suatu wilayah antara Makkah dan Madinah. Tak lama kemudian, seorang Arab badui datang dan berkata: “Tidak kau melaksanakan apa yang telah kamu janjikan kepadaku?” Maka Rasulullah pun bersabda kepadanya : “Ada berita gembira untukmu”. Namun orang itu malah berkata : “Kamu sudah banyak mengatakan kepadaku : Ada kabar kabar gembira untukmu”.

 

Kemudian Rasul berpaling darinya dan menghadap kepada Abu Musa dan Bilal seperti sikap orang yang sedang marah seraya bersabda : “Dia menolak berita gembira dariku. Sebaiknya kalian saja yang menerima kabar gembira itu”. Kedua sahabat itu menjawab : “Kami bersedia menerimanya ya Rasulullah!”.

 

Lalu Rasul meminta bejana berisi air. Lalu beliau basuh kedua tangan dan wajah dengan air tersebut. Kemudian beliau meludah ke dalam air itu seraya bersabda :

اشْرَبَا مِنْهُ وَأَفْرِغَا عَلَى وُجُوهِكُمَا وَنُحُورِكُمَا وَأَبْشِرَا

“Minumlah dari air ini dan tuangkanlah ke wajah dan leher kalian. Kemudian sampaikanlah kabar gembira!.”

Keduanya mengambil bejana tersebut dan melaksanakannya. Kemudian Ummu Salamah berkata dari balik tabir : Sisakanlah air tersebut untuk ibu kalian! (Ummu Salamah, Ummul Mu’minin). [HR Bukhari]

 

Dalam program “Bisikan Pagi Ini” kami tulis : “Barokah itu tidak selalu berupa materi tetapi bertambahnya kebaikan dalam segala kondisi. Ketika rizki banyak, jadi banyak pula syukurnya. Ketika rizki sedikit, sedikit pula mengeluhnya. Pun ketika diuji dengan sakit maka iapun lulus karena sabarnya. Wabarikli Fima A'thoiyt (Ya Allah, berkahilah pada semua pemberian-Mu)”.

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk semakin mendalami ajaran Islam dengan tidak melulu mengandalkan akal pikiran namun dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi SAW. Semoga berkah!

 

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]