Sabtu, 23 Juni 2018

KUFUR NIKMAT

ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ
Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan bentuk rupa) dan janganlah engkau melihat orang yang berada di atasmu (dalam hal tersebut) karena hal itu akan menjadikanmu tidak meremehkan nikmat Allah [HR Muslim]

Catatan Alvers

Orang bijak mengatakan : “Sudah di gunung, kau rindukan pantai. Setibanya di pantai, kau inginkan gunung. Saat kemarau, kau tanya kapan hujan dan saat hujan, kau tanyakan kapan kemarau. Sudah tenang di rumah, ingin pergi. Begitu pergi, kau inginkan rumah. Saat bujangan mengeluh mencari istri dan saat sudah punya istri mengeluhkan masalah dengan istri. Saat belum punya anak mengeluh dan ketika sudah dapat anak mengeluh masalah anak, dan mengeluh masalah pekerjaan, mengeluh penghasilan dan mengeluh-mengeluh yang lainnya... itulah manusia yang memang tercipta banyak berkeluh kesah. Allah swt berfirman :
إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah dan apabila mendapat kebaikan dia menjadi kikir. [QS Al-Ma’arij : 19-21]


Lantas kapankah manusia mendapat kebahagiaan jika nikmat Allah selalu ia abaikan? Bukankah telah banyak sekali nikmat Aallah yang telah diberikan? Maka sadarilah bahwa “Tak ada manusia yang terlahir sempurna. Jangan kau sesali Segala yang telah terjadi. Syukuri apa yang ada. Hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini. Melakukan yang terbaik. Tuhan pasti kan menunjukkan Kebesaran dan kuasanya Bagi hambanya yang sabarDan tak kenal putus asa”. Itulah sepenggal lirik lagu D’Massiv yang patut kita renungkan.

Bersyukur adalah perilaku yang sulit sehingga Allah swt berfirman:
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Sedikit dari hamba-Ku yang bersyukur. [QS Saba’ :13]
Namun demikian bukan berarti kita menjadikannya sebagai dalil untuk mengabaikan syukur, kewajiban kita berusaha sesuai dengan kemampuan untuk mensyukuri atas semua nikmat-Nya sebagaimana metode yang diajarkan oleh Nabi SAW pada hadits utama di atas. Bersyukur tidak harus menunggu kita menjadi raja dan kaya raya seperti Nabi Sulaiman AS. Bersyukur tidak harus menunggu kita menjadi rupawan layaknya Nabi Yusuf, namun dengan hati yang bersyukur bilal bin rabah yang budak lagi miskin bisa bahagia di atas derita bahkan mendapatkan surga dan julaybib yang bertubuh pendek lagi buruk rupa menjadi idola bidadari surga.

Orang bijak berkata : “Selembar daun yang kecil  tidak mungkin bisa menutupi bumi yang luas ini bahkan sekedar untuk menutupi telapak tangan kita. Namun jika daun kecil ini nempel di mata kita, maka tertutuplah semua belahan bumi yang terbentang luas dengan daun yang sama”. Selembar Daun nan kecil itulah perumpamaan sifat syukur kepada Allah. Jika kita bisa bersyukur maka nikmat yang kecil akan terasa besar dan menjadikan makanan kaki lima serasa menu bintang lima. Allah swt berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat.’” [QS Ibrahim : 7]

Adzab atas kekufuran alias tidak mau bersyukur ini digambarkan oleh Nabi SAW :
أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
Neraka telah diperlihatkan kepadaku dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita karena mereka kufur.” Para Sahabat bertanya: “Apakah disebabkan kufurnya mereka kepada Allah?” Rasul menjawab: “(Tidak), mereka kufur kepada suaminya dan mereka kufur kepada kebaikan. Seandainya seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada isterinya selama setahun, kemudian isterinya melihat (sedikit) perbuatan jelek pada diri suaminya, maka dia mengatakan, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu sama sekali.’” [HR Bukhari]

Balasan itu tidak melulu di akhirat, di duniapun seorang yang kurfur nikmat akan merasakannya seperti qarun yang sombong karena memiliki harta berlimpah dan ia berkata: “”Sesungguhnya aku memiliki banyak harta karena ilmu yang ada padaku.” [QS Al-Qashash : 78] iapun tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikan kepadanya. Maka Allah timpakan adzab yang pedih. Allah swt berfirman :
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ
Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap adzab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” [QS Al-Qashash : 81].

Maka marilah kita mensyukuri nikmat Allah dengan tiga hal. Yang
pertama, bersyukur dengan perkataan (bil lisan) dengan memperbanyak membaca hamdalah dan menceritakannya kepada orang lain serta menjauhi keluh kesah kepada manusia. kedua, bersyukur dengan perilaku (bil arkan) yaitu dengan banyak berbuat ketaatan dan kebaikan. Dan ketiga, bersyukur dengan hati (bil jinan) yakni dengan meyadari sepenuhnya bahwa hanya Allah semata yang memberikan semua kenikmatan kepadanya, bukan yang lain. Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari menjadikan kita hamba-hambaNya yang bersyukur dan mendapatkan tambahan nikmat-NYa

Salam Satu Hadits,
DR.H.Fathul Bari. SS., M.Ag
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jawa Timur Indonesia

Artikel lain bisa anda dapatkan versi bukunya dalam
BUKU ONE DAY ONE HADITH
sistem SPAA (Singkat, Padat, Akurat). SINGKAT karena  Didesain sekali duduk bisa selesai baca satu judul ::PADAT karena  Tidak bertele-tele :: AKURAT karena disertai referensinya dan AKTUAL karena membahas fenomena yang sedang terjadi.

0 komentar:

Posting Komentar