Thursday, January 27, 2022

PELAJARAN DARI NYAMUK


ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d RA, Rasul bersabda :

لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia ini bagi Allah seperti sayap seekor nyamuk, tentu Dia tidak akan memberikan minuman kepada orang kafir walau hanya setetes air.” [HR Tirmidzi]

 

Catatan Alvers

 

Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Malang melonjak dalam beberapa waktu terakhir. Sampai saat ini (23/1/2022) sudah 45 orang dirawat gegara DBD. Dari jumlah itu, satu orang dinyatakan meninggal dunia. Penambahan kasus DBD ini diakibatkan kondisi cuaca yang sering berubah-ubah. Belum lagi, hujan lebat melanda yang mengakibatkan adanya genangan air di sudut rumah menjadi lokasi jentik-jentik nyamuk bersarang. Pelaksanaan fogging dirasa belum dirasa optimal memberantas pangkal penyebab DBD sebab fogging hanya akan mematikan jenis nyamuk dewasa saja, sementara untuk pemberantasan harus mulai dari pangkalnya yaitu dengan program Jumantik (Juru Pemantau Jentik) dan juga program pemberantasan sarang nyamuk (PSN). [malang suara com]

 

Jadi memberantas nyamuk DBD adalah dengan kebersihan, bukankah kebersihan itu diperintahkan agama dan ia adalah sebagian dari iman?. Saya jadi teringat lagu anak yang dipopulerkan oleh Enno Lerian pada tahun 2010 silam. “Banyak nyamuk dirumahku, Gara-gara aku Malas bersih-bersih. Dikamarku, Banyak nyamuk. Aduh mama aku jadi susah tidur. Nyamuk-nyamuk nakal Sukanya menggoda aku, Sukanya membikin kotor. Aduh mama aku jadi susah tidur”.

 

Nyamuk adalah binatang yang dijadikan perumpamaan Oleh Allah SWT.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.  Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan Ini untuk perumpamaan?.” [Al-Baqarah : 26]

 

Apa sih pelajaran dari nyamuk, binatang yang kita anggap tak berguna? Bahkan kita berusaha untuk membasminya. Ubaidillah bin Abi ziyad berkata : Aku melihat Salim membunuh nyamuk di mekkah dan ia berkata : kita diperintahkan membunuh ular dan kalajengking karena itu adalah musuh (yang membahayakan) dan ini (nyamuk) juga musuh (yang membahayakan). [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah]

 

Nyamuk adalah makhluk ciptaan Allah yang kecil dan lemah namun demikian orang bisa mati karenanya seperti kasus DBD di atas. Lihatlah juga kasus yang menimpa Raja Namrudz bin Kan’an, Orang pertama yang sombong “Jabbar” di muka bumi yang mengaku-ngaku menjadi tuhan dengan perkataannya “Akulah yang menghidupkan dan mematikan”. Bala tentaranya binasa karena gigitan jutaan nyamuk yang menyisakan tulang belulang mereka. Lalu khusus untun Namrudz, Allah mengutus seekor nyamuk saja untuk masuk ke kepalanya melalui lubang hidungnya dan nyamuk itu terus bertahan di kepala Namrud dan menyiksanya selama 400 tahun sehingga ia memukul-mukul kepalanya sendiri dengan “mathariq” (palu) sebagai balasan atas kedzalimannya selama 400 tahun. [Fathul Qadir Lis-Syaukani]

 

Abul Aliyah Ketika menafsiri ayat di atas mengatakan “Jika manusia telah tiba ajalnya maka mereka seperti nyamuk. Ia bisa bertahan hidup ditengah kelaparan dan akan mati Ketika tiba ajalnya meskipun dalam kondisi kenyang. Seperti itulah orang-orang yang dibuat perumpamaan oleh Allah, Ketika mereka bergelimang harta dan berada dalam puncak kejayaannya maka Allah membinasakan mereka.” [Tafsir Ibnu Abi Hatim]

 

Nyamuk adalah hewan yang ringan bobotnya sehingga bisa terbang dengan mudah, dan yang paling ringan lagi adalah bagian sayapnya. Dengan kondisi demikian maka sayap nyamuk dijadikan perumpamaan timbangan yang sangat ringan. Rasul SAW bersabda :

إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ

Pada hari kiamat, ada seorang lelaki yang besar lagi gemuk namun timbangannya di sisi Allah tidak lebih berat dari satu sayap dari seekor nyamuk. [HR Bukhari]

 

Maka dalam islam, kemuliaan seseorang tidaklah diukur dengan kwantitas berat badan sebagaimana hadits tadi, dan juga tidak diukur dengan kwantitas like dan subscribe sebagaimana keterangan hadits berikut :  

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَنْشُرُ لَهُ مِنَ الثَّنَاءِ مَا يَمْلَأُ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغرِبِ وَمَا يَزِنُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ

Terdapat seseorang yang mendapat pujian manusia dari ujung timur hingga ujung barat namun di sisi Allah timbangan kebaikannya tidaklah melebihi berat sayap seekor nyamuk. [Ihya Ulumiddin]

 

Oleh karena itu janganlah tertipu dengan pujian atas amal baik berapapun banyaknya. Ibnu Ajibah berkata : Tidak seyogyanya seorang hamba melihat (mengandalkan) amal ibadahnya meskipun sangat banyak, tidak pula tingkah lakunya meskipun sangat baik karena malaikat peneliti amal sangatlah jeli dan teliti dan malaikat yang mengawasi hati sangatlah tahu hal yang sebenarnya.

فَكَمْ مِنْ طَاعَةٍ تَعْظُمُ فِي عَيْنِ صَاحِبِهَا كَأَمْثَالِ الْجِبَالِ لَا تُسَاوِي عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ

Maka betapa banyak amal kebaikan yang dianggap agung di mata pelakunya layaknya gunung yang besar namun amal tersebut di sisi Allah tidaklah seimbang beratnya dengan sayap seekor nyamuk. [Iqadul Himam]

 

Amal kebaikan seperti sedekah misalnya tidak hanya dilihat dari pelaksanaannya namun juga dari sumbernya. Jabir RA meriwayatkan ada seseorang bertanya “Wahai Rasulallah, Aku berdagang miras (Khamr) dan aku banyak mendapatkan uang darinya. Apakah bermanfaat bagiku jika harta hasil miras tadi aku infaqkan di jalan Allah SWT?”. Rasul SAW menjawab : Jika engkau menggunakannya untuk haji, jihad, sedekah maka hal itu tidaklah bernilai melebihi sayap seekor nyamuk sebab Allah tidak akan menerima amal kecuali dari yang baik (halal) saja”. [Al-Kaba’ir] Dari kejadian ini, turunlah Ayat :

قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ

Katakanlah : "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu membuatmu takjub” [QS Al-Maidah : 100]

 

Kebaikan dan keburukan sekecil apapun akan dilihat Allah dan akan dibalas dengan setimpal baik di dunia maupun di akhirat. Contoh kasus dalam hal niat untuk menipu. Rasul SAW bersabda :

وَمَا حَلَفَ حَالِفٌ بِاللَّهِ يَمِينَ صَبْرٍ فَأَدْخَلَ فِيهَا مِثْلَ جَنَاحِ بَعُوضَةٍ إِلَّا جُعِلَتْ نُكْتَةً فِي قَلْبِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Tidaklah seseorang bersumpah atas nama Allah setelah ia dipaksa bersumpah (untuk memperkuat dakwaannya) lalu ia sedikit kebohongan seberat sayap nyamuk dalam sumpahnya melainkan hal itu akan menjadi noktah hitam dalam hatinya sampai hari kiamat. [HR Tirmidzi]

 

Nyamuk juga digunakan sebagai simbol pekerjaan yang sangat ringan. Hal ini dinyatakan oleh malaikat maut yang tugasnya mencabut nyawa. Meskipun setiap saat ia mencabut nyawa namun ia sadar bahwa ia tidak bisa apa-apa tanpa ijin Allah SWT. Semestinya kita memiliki kesadaran seperti itu pula. Ia berkata :

وَاللَّهِ يَا مُحَمَّدُ لَوْ أَرَدْتُ أَنْ أَقْبِضَ رُوحَ بَعُوضَةٍ مَا قَدَرْتُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يَكُونَ اللَّهُ هُوَ أَذِنَ بِقَبْضِهَا

 

Wahai Muhammad, jika aku ingin mencabut nyawa seekor nyamuk maka aku tidak bisa melakukannya sehingga aku mendapat ijin dari Allah SWT. [HR Thabrani]

 

Nyamuk juga dijadikan perumpamaan dunia sebagaimana hadits di atas. “Seandainya dunia ini bagi Allah (berharga) seperti sayap seekor nyamuk, tentu Dia tidak akan memberikan minuman kepada orang kafir walau hanya setetes air.” [HR Tirmidzi] Dalam Riwayat lain kata “orang kafir” disebut dengan redaksi “Muysrik” [HR Baihaqi], “Fir’aun.” [Tahdzibul Atsar Lit-thabari] Hadits tersebut asbabul wurudnya adalah suatu Ketika Nabi melintasi daerah bernama Dzul Hulaifah dan beliau melihat bangkai kambing yang kakinya terangkat ke atas. Beliau bersabda : Apakah kalian lihat bangkai kambing ini begitu hina bagi pemiliknya? Para sahabat menjawab “Iya”. Beliau bersabda : “Demi Allah, Dunia lebih hina disisi Allah mengalahkan hinanya bangkai kambing ini disisi pemiliknya”. [HR Turmudzi] Lalu beliau menlanjutkan sabdanya sebagaimana hadits utama di atas. Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk mengerti perumpamaan berupa nyamuk dan kita terhindar dari bahaya nyamuk serta binatang bahaya lainnya.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]


0 komentar:

Post a Comment