• WhatsApp Channel : One Day One Hadith

    Bergabunglah bersama Saluran WhatsApp One Day One Hadith

  • Penerimaan Santri Baru 2026/2027

    Monggo nderek-nderek Nyethak Sholihin Sholihat dengan mendaftarkan putra putri jenengan ke PPW An-Nur 2 Al Murtadlo

  • Tadarus Akbar

    Tadarus Akbar oleh ribuan santri putra Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo

  • Sholat Tarawih Akbar

    Sekitar 3.000 santri putra melaksanakan Tarawih Akbar di Lapangan Utama Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo. Sabtu malam, 21 Februari 2026, lapangan center An-Nur II penuh dengan 24 saf santri berbaju putih

  • Bersama KAPOLRI

    Bersama Bapak Jenderal Listyo Sigit Prabowo - KAPOLRI dan Majelis Keluarga An-Nur 2

TAAT PADA MAKSIAT

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Dari Ali bin Abi Thalib KW, Rasulullah SAW bersabda :

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Tidak boleh taat kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” [HR Ahmad] 

 

Catatan Alvers

 

Ada kasus ajudan pejabat terkena OTT (operasi tankap tangan) membawa sejumlah koper berisikan uang yang diduga sebagai uang suap. Ketika ditangkap petugas, sang ajudan mengaku bahwa uang itu milik atasannya dan ia berdalih hanya menjalankan perintah meskipun ia menduga uang tersebut adalah uang haram. Kasus lain adalah ketika seorang pelajar dicabuli oknum guru agama, ia mengaku menuruti kemauan sang guru karena khawatir ilmunya tidak berkah. Lantas, apakah hal itu dibenarkan dalam agama? Benarkah seorang bawahan harus tunduk kepada apapaun perintah atasan dan seorang pelajar tidak boleh menolak perintah maksiat oknum guru?

 

Secara umum, setiap orang diperintahkan untuk mentaati pemimpinnya. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan pemimpin di antara kamu”. [QS An-Nisa' : 59]

 

Namun apakah ketaatan itu berlaku untuk semua perintah termasuk perintah maksiat dan melanggar aturan sehingga perintah dari atasan atau pemimpin tersebut harus dilaksanakan? Inilah yang perlu dipahami dengan menyimak uraian berikut.

 

Diriwaytakan dari ‘Ali bin Abi Thalib RA bahwasannya Nabi SAW mengirim sebuah sariyyah (pasukan ekspedisi Militer) dan menunjuk seorang laki-laki dari kalangan Anshar sebagai pemimpinnya. Nabi SAW memerintahkan mereka untuk menaati pemimpin tersebut. Dalam perjalanan, terjadi sesuatu yang membuat sang pemimpin marah. Kemudian ia berkata : “Kumpulkan kayu bakar untukku lalu nyalakanlah api.” Mereka pun menyalakan api. Kemudian ia berkata :

أَلَمْ يَأْمُرْكُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَسْمَعُوا لِي وَتُطِيعُوا

“Bukankah Nabi SAW telah memerintahkan kalian untuk mendengarkanku dan menaatiku?”

 

Mereka menjawab : “Iya benar”.  Ia berkata : “Masuklah kalian kedalam api itu!”.  Mendengar perintah ini, sebagian dari mereka menoleh kepada sebagian yang lain (karena kebingungan antara mentaati perintah dan membangkang). Mereka berkata :

“Sesungguhnya kita datang kepada Rasulullah SAW untuk menyelamatkan diri dari api neraka. Apakah sekarang kita akan masuk ke dalam api?.  Mereka terus dalam keadaan demikian sampai kemarahan pemimpin tersebut reda dan juga apinya padam.

 

Setelah mereka kembali, kejadian itu disampaikan kepada Nabi SAW dan beliau bersabda : “Seandainya mereka masuk ke dalam api tersbut, niscaya mereka tidak akan keluar darinya.

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

Sesungguhnya ketaatan (kepada pemimpin) itu hanya dalam kebaikan.” [HR Muslim]

 

Hal ini selaras dengan hadits utama di atas “Tidak boleh taat kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” [HR Ahmad]  atau dalam redaksi hadits yang lebih familier disebutkan :

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

Tidak boleh taat kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Khaliq (sang pencipta). [HR Thabrani]

 

Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata : “Di dalam hadits ini terdapat penjelasan bahwa perintah yang bersifat mutlak tidak mencakup seluruh keadaan. Sebab, Nabi SAW memerintahkan mereka untuk menaati pemimpin, lalu mereka memahami perintah tersebut berlaku secara umum, bahkan dalam keadaan marah dan ketika diperintah melakukan kemaksiatan. Maka Nabi SAW menjelaskan kepada mereka bahwa perintah untuk menaati pemimpin itu terbatas pada perintah-perintahnya yang tidak mengandung kemaksiatan. [Fathul Bari]

 

Ini adalah batasan yang sangat penting yang harus diketahui dan tak boleh terlupakan. Hal ini tercermin dalam kisah yang diriwayatkan dari Muhammad (bin Sirin), Ia berkata : Seorang laki-laki datang kepada ‘Imran bin Hushain RA (Sahabat Nabi), sementara kami berada di sisinya. Ia berkata, “Al-Hakam bin ‘Amr al-Ghifari (Sahabat Nabi) telah diangkat sebagai pemimpin di Khurasan.” Maka ‘Imran mengkhawatirkannya, hingga salah seorang dari rombongan berkata kepadanya, “Tidakkah kami memanggilnya untukmu?” ‘Imran menjawab, “Jangan.” Kemudian ‘Imran berdiri dan menemuinya di tengah orang banyak. ‘Imran berkata, “Sesungguhnya engkau telah diberi tanggung jawab atas suatu urusan kaum Muslimin yang besar.” Kemudian ia memberikan beberapa nasihat kepadanya, melarangnya dari beberapa hal, dan memberinya wejangan. Lalu ia berkata,

هَلْ تَذْكُرُ يَوْمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

“Apakah engkau masih ingat hari ketika Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala’?”

Al-Hakam menjawab, “Ya.” Maka ‘Imran berkata, “Allahu Akbar!” [HR Ahmad]

 

Rasul SAW juga bersabda :

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ عَلَيْهِ وَلَا طَاعَةَ

Mendengar dan menaati merupakan kewajiban bagi seorang Muslim, dalam perkara yang ia sukai maupun yang ia tidak sukai, selama ia tidak diperintah melakukan kemaksiatan. Apabila ia diperintah melakukan kemaksiatan, maka tidak ada kewajiban baginya untuk mendengar dan tidak ada ketaatan. [HR Turmudzi]

 

Muhammad bin Jarir ath-Thabari berkata: “Dalam hadis Ali dan hadis Ibnu Umar terdapat penjelasan yang sangat jelas tentang larangan Allah, melalui lisan Rasul-Nya, kepada para hamba-Nya untuk menaati makhluk dalam perkara yang merupakan kemaksiatan kepada Penciptanya;

سُلْطَانًا كَانَ الْآمِرُ بِذَلِكَ، أَوْ سُوقَةً، أَوْ وَالِدًا، أَوْ كَائِنًا مَنْ كَانَ

baik yang memerintahkan itu seorang penguasa, orang biasa/rakyat, orang tua, ataupun siapa pun dia.

Maka tidak boleh bagi seseorang menaati siapa pun dari manusia dalam suatu perkara yang telah jelas baginya bahwa Allah melarang perkara tersebut.” [Syarh Ibn Batthal]

 

Dari uraian hadits ini jelas bahwa kasus bawahan tidak dibenarkan melaksanakan perintah atasan jika diketahui bahwa itu adalah pelanggaran dan kemaksiatan, demikian dalam kasus pelajar diatas.

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk agar senantiasa taat kepada pemimpin dengan menyadari bahwa tidak ada keberkahan dalam ketaatan kepada manusia apabila ketaatan itu mengantarkan kepada kemaksiatan kepada Allah. Guru dihormati, atasan ditaati, tetapi Allah tetap lebih berhak untuk ditaati.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

 NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

 

Share:

NABI ISA SUDAH TURUN?

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا

"Tidaklah datang hari kiamat sehingga putra Maryam turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil."  [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Seorang pria asal Kota Batu, Jawa Timur, mendadak viral di media sosial setelah penampilannya disebut netizen mirip Yesus. Berambut panjang bergelombang, kumis dan jenggot yang panjang, serta wajah ala Timur Tengah dengan baju gamis panjang dengan dikelilingi oleh domba-domba. Akun Instagramnya dibanjiri pengikut hingga menembus lebih dari 170 ribu followers, padahal baru dibuat beberapa hari saja. Pria yang berusia 38 tahun yang sehari-hari bekerja jual beli dan sembelih kambing itu mengaku kaget akan hal ini. [tribunMadura com]

 

“Gawat, Nabi Isa telah turun sebagai pertanda akan kiamat.” Ujar seseorang menanggapi berita tersebut. Apa benar demikian? Terlepas dari berita di atas, Nabi Isa memang akan turun di akhir zaman sebagaimana dalam hadits utama "Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh hampir tiba saatnya Isa putra Maryam turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil."  [HR Bukhari] Imam Nawawi berkata : Maksudnya Nabi Isa turun sebagai hakim dengan syari'at ini (Islam), bukan dengan kenabian-nya sendiri dan bukan pula syari'at yang menghapus, maka ia menjadi seorang hakim diantara para hakim dari kalangan umat ini. [Al-Minhaj Syarah Muslim]

 

Berbicara mengenai turunnya Nabi Isa di akhir zaman maka ada beberapa pertanyaan di benak banyak orang. Apa yang akan dilakukan oleh Nabi Isa ketika ia turun?”. Dalam lanjutan hadits utama dijelaskan, yaitu :

فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ

Lalu ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah, dan harta akan melimpah ruah hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya."  [HR Bukhari]

 

Istilah “Nabi Isa turun” ini dikarenakan Nabi Isa dahulu tidaklah disalib akan tetapi beliau itu diangkat. Allah SWT berfirman :

وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ

"Mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh) diserupakan dengan Isa bagi mereka." [QS An-Nisa': 157]

Lalu Allah berfirman:

بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ

"Tetapi Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya." [QS An-Nisa': 158]

 

Diangkat ke mana? Beliau diangkat ke langit. Dalam hadits mengenai kisah mi’raj, Nabi Muhammad SAW bersabda :

فَأَتَيْنَا السَّمَاءَ الثَّانِيَةَ

"Kemudian kami mendatangi langit yang kedua”.

Ditanyakan, 'Siapa ini?' Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi, 'Siapa yang bersamamu?' Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan, 'Apakah beliau telah diutus?' Jibril menjawab, 'Ya.' Lalu dikatakan, 'Selamat datang kepadanya. Sebaik-baik kedatangan adalah kedatangannya.' Kemudian aku bertemu dengan Isa dan Yahya. Keduanya berkata, 'Selamat datang kepadamu, wahai saudara dan nabi.'" [HR Bukhari]

 

Apakah Nabi Isa wafat lalu di akhir zaman akan dihidupkan kembali ataukah ia masih hidup? Al-Qurtubi berkata : "Pendapat yang benar adalah bahwa Allah Ta'ala mengangkat Nabi Isa ke langit tanpa didahului kematian dan tanpa tidur”. Beliau berkata : Dalam firman Allah Ta'ala:

إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

"Aku akan mewafatkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku." [QS Ali Imran : 55]

Terdapat taqdim dan ta'khir (mendahulukan dan mengakhirkan), karena huruf 'waw' tidak menunjukkan urutan (tertib). Maka maknanya adalah: 'Sesungguhnya Aku akan mengangkatmu kepada-Ku, menyucikanmu dari orang-orang kafir, kemudian mewafatkanmu setelah engkau turun dari langit.'" [Tafsir Al-Qurtubi]

 

“Kapankah waktunya Nabi Isa turun?” Beliau turun setelah datangnya fitnah Dajjal ketika sudah mendekati terjadinya kiamat.  an-Nawwas bin Sam'an RA berkata: "Pada suatu pagi Rasul SAW menceritakan tentang Dajjal..." Setelah panjang lebar beliau menceritakan tentang fitnah Dajjal lalu beliau bersabda :

فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ، فَيَنْزِلُ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ شَرْقِيَّ دِمَشْقَ

"Maka ketika Dajjal berada dalam keadaan demikian, Allah mengutus Al-Masih Isa putra Maryam. Lalu beliau turun di dekat menara putih di sebelah timur Damaskus..." [HR Bukhari]

 

“Apakah Nabi Isa itu menggembalakan domba-domba?” Tidak ada hadits yang secara spesifik menyatakan demikian namun secara umum Nabi SAW bersabda :

مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan ia menggembala kambing”. [HR Bukhari]

 

“Kenapa para nabi menggembala kambing?” Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata : “Para ulama berkata :

اَلْحِكْمَةُ فِي إِلْهَامِ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ رَعْيِ الْغَنَمِ قَبْلَ النُّبُوَّةِ

Hikmah Allah mengilhamkan para nabi untuk menggembala kambing sebelum diangkat menjadi nabi

adalah agar mereka memperoleh latihan dalam menggembalakannya sebagai persiapan untuk memikul tugas memimpin umat mereka kelak. Sebab, dengan bergaul bersama kambing, mereka akan memiliki sifat penyabar dan penyayang. Hal itu karena mereka harus bersabar dalam menggembalakan kambing-kambing tersebut, mengumpulkannya setelah berpencar di padang rumput, memindahkannya dari satu tempat penggembalaan ke tempat lainnya, serta melindunginya dari serangan binatang buas maupun musuh lainnya seperti pencuri. [Fathul Bari]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk senantiasa mengingat Allah atas semua fenomena yang terjadi dan mengambil hikmah dan kebaikan dari setiap kejadian.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

 NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

 

 

Share:

KLARIFIKASI DULU!

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Hafsh bin Ashim RA, Rasul SAW bersabda :

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

"Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar."  [HR Muslim]

 

Catatan Alvers

 

Publik dihebohkan oleh pemberitaan mengenai seorang santriwati yang mengaku hamil dan pada awalnya mengaitkannya dengan mimpi tertentu. Keluarganya sempat mengaku kebingungan karena putrinya menyatakan tidak pernah berhubungan badan dengan siapa pun dan hanya mengaku sering mengalami mimpi tertentu. AH (54), selaku pimpinan Padepokan PPA, kemudian ditangkap polisi pada (27/5/2026) terkait dugaan tindak kekerasan seksual yang telah dilakukan menahun pada para santriwatinya. [news.detik.com] Namun belakangan (6/7/2026), Polisi mengumumkan hasil tes DNA terkait kasus tersebut menunjukkan bayi yang dilahirkan korban bukan anak biologis tersangka. Pasca tes DNA, korban mengakui bahwa perbuatan itu dilakukan dengan orang lain, seseorang yang diketahui dari ciri-cirinya adalah dari batuk yang diduga adalah dari AH. [news.detik.com]

 

Terlepas dari proses hukum kejadian tersebut yang masih berlangsung, Islam menganjurkan agar senantiasa melakukan tabayyun, klarifikasi atas setiap berita dan informasi. Allah SWT berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik dengan membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [QS Al-Hujurat : 6].

 

Apalagi jika berita tersebut menyangkut tuduhan zina atau kehormatan seseorang. Syariat Islam menetapkan standar pembuktian yang sangat ketat agar tidak terjadi fitnah yaitu mendatangkan empat orang yang saksi yang melihat secara langsung. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً

"Orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang terpelihara kehormatannya, kemudian mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali. [QS An-Nur : 4]

 

Saya teringat dengan kisah Juraij, seorang ahli ibadah yang hidup di zaman bani Isra’il. Dalam Shahih Bukhari dikisahkan ia dituduh oleh seorang wanita yang barusan melahirkan bahwa sang bayi adalah hasil zina dengan Juraij. Orang-orang pun terhasud dengan tuduhan tersebut, mereka mencaci maki juraij bahkan mereka membakar tempat ibadahnya. Melihat fitnah ini, Juraij lalu sholat dan kemudian bertanya kepada sang bayi, siapakah ayahmu? Sang bayi menjawab : “Ayahku adalah seorang penggembala”. Mengetahui hal ini, massa kemudian sadar bahwa mereka telah salah menuduh juraij. Merekapun meminta maaf dan berkata :

نَبْنِي صَوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبٍ

“Kami akan membangunkan tempat ibadahmu dengan emas.” [HR Bukhari]

 

Penyesalan selalu datang belakangan. Karena itu Islam mengajarkan agar seorang muslim tidak tergesa-gesa menyimpulkan suatu perkara sebelum melakukan tabayyun. Janganlah kita meneruskan berita yang demikian sebelum tabayyun. Dalam hadits utama, Rasul SAW bersabda : "Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar."  [HR Muslim] Dan Allah SWT mengingatkan agar kita tidak menyesal di kemudian hari karena tergesa-gesa menerima informasi tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu. Allah SWT berfirman : “agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [QS Al-Hujurat : 6].

 

Ayat tersebut turun berkenaan dengan peristiwa yang terjadi pada Al-Walid bin Uqbah. Al-Wahidi menjelaskan : Rasul SAW mengutusnya kepada kabilah Bani al-Musthaliq untuk mengambil zakat mereka. Sebelumnya, pada masa jahiliah, pernah terjadi permusuhan antara Al-Walid dan Bani al-Musthaliq. Ketika penduduk Bani al-Musthaliq mendengar kedatangan utusan Rasul SAW, mereka keluar menyambutnya sebagai bentuk penghormatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun setan membisikkan kepada Al-Walid bahwa mereka hendak membunuhnya. Karena merasa takut, ia pun berbalik arah di tengah perjalanan dan kembali kepada Rasul SAW.

 

Al-Walid berkata : "Sesungguhnya Bani al-Musthaliq telah menolak menyerahkan zakat mereka dan mereka hendak membunuhku." Mendengar laporan itu, Rasul SAW menjadi marah dan berencana mengirim pasukan untuk memerangi mereka. Sementara itu, ketika Bani al-Musthaliq mengetahui bahwa Al-Walid telah kembali, mereka segera datang menghadap Rasul SAW seraya berkata : "Kami mendengar kedatangan utusanmu, maka kami keluar untuk menyambutnya, memuliakannya, dan menyerahkan hak Allah (zakat) yang menjadi kewajiban kami. Namun ternyata ia kembali di tengah jalan. Kami khawatir ia kembali karena menerima surat darimu yang menunjukkan kemurkaanmu kepada kami.

وَإِنَّا نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ غَضَبِهِ وَغَضَبِ رَسُولِهِ

Kami berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah dan kemurkaan Rasul-Nya."

Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah (tabayyunlah)." [Asbabun Nuzul]

 

Hampir saja terjadi peperangan antar sesama kaum muslimin akibat sebuah berita yang ternyata tidak benar. Sebuah peperangan yang tak perlu terjadi karena kesalahpahaman. Dari sinilah Allah mengajarkan pentingnya tabayyun sebelum mengambil keputusan. Maka ketika membaca berita, sebelum menulis komentar, sebelum menekan tombol share, bertanyalah kepada diri sendiri : "Apakah berita ini benar-benar valid?, Sudahkah aku bertabayyun?" Sebab penyesalan itu selalu datang belakangan.

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk agar senantiasa menjaga lisan, tulisan, dan media sosial kita dari menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, serta memberikan kepada kita taufik untuk selalu bertabayyun sebelum menilai dan menyimpulkan suatu perkara.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

 NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

Share:

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts