ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir RA, Rasul SAW bersabda:
مَنْ عَلِمَ الرَّمْيَ ثُمَّ تَرَكَهُ
فَلَيْسَ مِنَّا أَوْ قَدْ عَصَى
"Barang
siapa telah mempelajari memanah kemudian meninggalkannya, maka ia bukan
termasuk golongan kami atau sungguh ia telah bermaksiat." [HR Muslim]
Catatan Alvers
Heboh penggerebekan sebuah pondok pesantren di Sukoharjo Jawa
Tengah yang dilakukan oleh polisi. Kapolda berkata : "Ada banyak yang
diamankan ada senjata tajam panah gitu gitu..." [kumparan com] Statement
ini kemudian menarik perhatian saya untuk menulis artikel odoh kali ini supaya
menjadi pencerahan sehingga tidak gagal paham dengan keberadaan alat panah di
lembaga-lembaga Islam.
Panahan merupakan aktifitas yang sudah dikenal sejak
5.000 tahun lalu. Dan kini panahan menjadi cabang olehraga. Negara pertama yang
menganggap panahan sebagai olahraga adalah lnggris. Pada tahun 1676, Raja
Charles II menggelar perlombaan panahan. Organisasi panahan resmi di Indonesia
dibentuk pada tanggal 12 Juli 1953 di Yogyakarta dengan nama PERPANI (Persatuan
Panahan Indonesia). Dan Panahan bermanfaat untuk menguatkan tubuh bagian atas,
mengontrol keseimbangan, melatih koordinasi, menyehatkan jantung, melatih fokus,
relaksasi, melatih kesabaran dan melatih percaya diri. [wikipedia]
Dalam Islam, panahan merupakan aktifitas yang sangat dianjurkan.
Sautu ketika Fuqaim al-Lakhmi berkata kepada Uqbah bin Amir : " (Kenapa) Engkau
bolak-balik di antara dua sasaran ini, padahal usiamu sudah tua dan hal itu
tentu memberatkanmu." Uqbah menjawab : "Seandainya bukan karena
sebuah perkataan yang pernah aku dengar dari Rasul SAW tentu aku tidak akan
bersusah payah melakukannya." Dalam hadits utama disebutkan : "Rasul
SAW bersabda : “Barang siapa telah mempelajari keterampilan memanah kemudian
meninggalkannya, maka ia bukan termasuk golongan kami, atau sungguh ia telah
bermaksiat." [HR Muslim] Dan dalam riwayat lain disebutkan :
فَإِنَّهَا نِعْمَةٌ تَرَكَهَا أَوْ قَالَ كَفَرَهَا
maka sungguh ia telah meninggalkan suatu nikmat, atau beliau
bersabda: sungguh ia telah mengingkari nikmat tersebut." [HR Abu Dawud]
Imam an-Nawawi menjelaskan hadits tersebut dan berkata :
هَذَا تَشْدِيدٌ
عَظِيمٌ فِي نِسْيَانِ الرَّمْيِ بَعْدَ عِلْمِهِ ، وَهُوَ مَكْرُوهٌ كَرَاهَةً شَدِيدَةً
لِمَنْ تَرَكَهُ بِلَا عُذْرٍ
"Ini
merupakan bentuk penegasan yang sangat keras untuk meninggalkan keterampilan
memanah setelah mempelajarinya. Hukumnya sangat makruh bagi orang yang meninggalkannya
tanpa alasan atau uzur." [Al-Minhaj
Syarah Muslim]
Bahkan Uqbah bin Amir RA meriwayatkan, Rasul SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُدْخِلُ
بِالسَّهْمِ الْوَاحِدِ ثَلَاثَةَ نَفَرٍ الْجَنَّةَ
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memasukkan tiga
orang ke dalam surga karena satu anak panah”
yaitu orang yang membuatnya dengan mengharapkan pahala
kebaikan dari pekerjaannya, orang yang menggunakannya, dan orang yang
menyediakan anak panah tersebut kepada pemanah. [HR Abu Dawud]
Sebagian orang
menganggap aktifitas memanah sebagai permainan, ya
memang demikian namun dalam Islam memanah termasuk permainan yang sangat
dianjurkan. Rasul SAW bersabda :
لَيْسَ مِنْ اللَّهْوِ إِلَّا ثَلَاثٌ
تَأْدِيبُ الرَّجُلِ فَرَسَهُ وَمُلَاعَبَتُهُ أَهْلَهُ وَرَمْيُهُ بِقَوْسِهِ وَنَبْلِهِ
“Tidaklah
termasuk permainan (yang dianjurkan) kecuali tiga perkara : seseorang melatih ketangkasan
kudanya, seseorang bercanda dan bermain bersama keluarganya, serta seseorang
berlatih memanah dengan busur dan anak panahnya”. [HR Abu Dawud]
Suatu ketika Rasul SAW melewati sekelompok orang dari suku Aslam yang sedang
berlomba memanah. Kemudian beliau bersabda :
ارْمُوا
بَنِي إِسْمَاعِيلَ فَإِنَّ أَبَاكُمْ كَانَ رَامِيًا
“Memanahlah, wahai keturunan Ismail! Sesungguhnya
leluhur kalian adalah pemanah yang mahir”.
“Memanahlah, dan aku berpihak pada Bani Fulan (salah satu kubu peserta lomba).” Kemudian salah satu dari kedua kelompok
tersebut menghentikan aktivitas memanah mereka. Rasul SAW bertanya: “Mengapa kalian
tidak teruskan memanah?” Mereka menjawab : “Bagaimana mungkin kami memanah, sedangkan engkau berada
di pihak mereka (salah satu dari dua kubu perlombaan)?” Nabi SAW kemudian bersabda : “Memanahlah! Aku memihak kalian semua (kedua kubu peserta lomba)." [HR Bukhari]
Memanah bukan sekadar olahraga yang
mengandalkan kekuatan tangan. Di dalamnya terdapat konsentrasi, ketenangan,
ketepatan, kesabaran, dan strategi. Seorang pemanah tidak cukup hanya memiliki
busur dan anak panah, tetapi juga harus mampu mengendalikan diri sebelum
melepaskan bidikannya. Tak heran jika memanah merupakan
salah satu keterampilan yang mendapat perhatian khusus dari Rasul SAW. Uqbah bin Amir RA berkata : "Aku mendengar Rasul SAW ketika beliau
berada di atas mimbar bersabda :
وَأَعِدُّوا
لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ، أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، أَلَا
إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ
“Persiapkanlah untuk menghadapi mereka segala
kekuatan yang kalian mampu. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah
memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah,
sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah." [HR Muslim]
Kekuatan panah sebagai kekuatan telah terbukti menjadi faktor penentu
kemenangan dan kekalahan dalam perang uhud. Dalam perang tersebut kaum muslimin
menderita kekalahan karena pasukan pasukan pemanah
yang berjumlah lima puluh orang meninggalkan pos yang ditentukan. Rasul SAW berpesan kepada
mereka :
إِنْ
رَأَيْتُمُونَا قَدْ هَزَمْنَا الْقَوْمَ وَأَوْطَأْنَاهُمْ فَلَا تَبْرَحُوا
"Jika kalian melihat kami telah
mengalahkan musuh dan berhasil memukul mundur mereka, maka janganlah kalian
meninggalkan posisi kalian”.
“dan jika kalian melihat kami dikalahkan dan musuh
menyerang ke arah kami, maka janganlah kalian turun untuk membantu kami." [HR Bukhari]
Ada pelajaran kehidupan yang bisa kita ambil
dari aktivitas memanah. Busur mengajarkan bahwa untuk melangkah maju,
terkadang seseorang harus menarik diri terlebih dahulu. Anak panah mengajarkan
bahwa kehidupan harus memiliki arah. Sasaran mengajarkan bahwa setiap usaha
membutuhkan tujuan. Namun, jangan sampai kita terlalu sibuk menarik busur
hingga lupa melepaskan anak panah. Artinya, jangan hanya pandai merencanakan,
tetapi tidak pernah berani memulai. Sebaliknya, jangan pula terlalu cepat
melepaskan anak panah tanpa memastikan arah dan sasarannya. Sebab, tindakan
tanpa pertimbangan sering kali berakhir dengan penyesalan. Maka memanah mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hanya
ditentukan oleh seberapa kuat kita menarik busur, tetapi juga seberapa tepat
kita mengarahkan anak panah.
Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka
hati dan pikiran kita untuk mengetahui bahwa memanah adalah ajaran Nabi. Memanah bukan hanya tentang bagaimana anak panah tepat
mengenai sasaran, tetapi juga bagaimana manusia mampu mengarahkan kehidupannya
menuju tujuan yang baik dan benar.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!
NB.
Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata :
“Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata :
(1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]














