ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan dari Abdillah Ibnu Harits RA Iaberkata :
مَا كَانَ ضَحِكُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا تَبَسُّمًا
Tidaklah Rasul SAW
tertawa melainkan dengan seyuman. [HR Tirmidzi]
Catatan Alvers
Menurut medis, tertawa itu menyehatkan bahkan bermanfaat
untuk kesehatan mental maupun kesehatan fisik. Dalam berbagai penelitian
ditemukan manfaatnya diantaranya dapat mengurangi stres, mengurangi gejala
depresi, mengurangi risiko serangan jantung. memperkuat imunitas tubuh, mengurangi
nyeri dll. [alodokter com] Meskipun demikian, tidak serta merta tertawa itu dianjurkan dalam Islam
karena Islam tidak bersumber dari logika namun dari dogma wahyu Allah SWT. Maka
dari itu mari kita cek bagaimana Islam menilai tertawa!
Tertawa itu ada beberapa macam. Ibnu Hajar Al-Asqalany
berkata : Para ahli bahasa
berkata: “Tersenyum (Tabassum) adalah permulaan dari tertawa. Sedangkan tertawa (Dlahik) adalah mengembangnya wajah hingga tampak gigi karena rasa senang. Jika disertai suara, dan suaranya dapat terdengar dari kejauhan, maka itu
disebut qahqahah (tertawa terbahak-bahak). Jika tidak sampai demikian, maka itu adalah tertawa biasa. Jika tanpa suara,
maka itu adalah tersenyum. Gigi-gigi yang berada di bagian
depan mulut disebut dawahik (gigi yang tampak saat tertawa), yaitu: gigi seri, gigi taring dan yang berada setelahnya disebut dengan nawajidz (gigi geraham). [Fathul Bari] Dan dari sisi hukum, senyum
dan tertawa itu berbeda. Dalam hadits disebutkan :
اَلْكَشْرُ لَا يَقْطَعُ
الصَّلَاةَ، وَلَكِنْ يَقْطَعُهَا الْقَرْقَرَةُ
Senyum itu tidak membatalkan shalat akan tetapi yang
membatalkan adalah tertawa dengan suara. [HR Al-Khatib]
Lantas bagaimana dengan tertawanya Rasul SAW sendiri? Di
satu sisi, Siti Aisyah RA berkata :
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ
يَتَبَسَّمُ
“Aku
tidak pernah melihat Rasul SAW tertawa (lebar) sampai aku melihat bagian dalam
tenggorokannya, sesungguhnya beliau hanyalah tersenyum.” [HR Bukhari]
Namun di sisi lain banyak ditemukan hadits yang
menyatakan :
ضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ
Nabi SAW tertawa hingga tampak gigi geraham
beliau. [HR Bukhari]
Maka Ibnu Hajar Al-Asqalany berkata : (kedua hadits itu
tidaklah bertentangan) karena tampaknya gigi geraham — yaitu gigi yang berada
di bagian depan mulut atau taring — tidak mengharuskan terlihatnya lahawat
(bagian dalam tenggorokan/langit-langit mulut). [Fathul Bari]
Dengan demikian tertawanya beliau berupa tersenyum lebar dan bukan berupa tertawa
hingga terbahak-bahak sebagaimana hadits utama diatas. Dan Abdillah Ibnu Harits
RA berkata :
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ تَبَسُّمًا
مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak
tersenyum daripada Nabi SAW. [HR Tirmidzi]
Dan demikian pula dalam syariat terdahulu. Suatu ketika Nabi
Musa pernah berkata kepada Nabi Khidir: “Berilah aku wasiat.” Maka Nabi Khidir berkata
:
كُنْ بَسَّامًا
وَلَا تَكُنْ غَضَّابًا
“Jadilah engkau orang yang banyak tersenyum, jangan
menjadi orang yang mudah marah. [Faidlul Qadir]
Tertawa dengan suara lepas tidaklah dianjurkan bahkan sebaliknya, kita dianjurkan untuk sedikit tertawa. Hal itu
dikarenakan Rasul SAW bersabda :
لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ
قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
“Seandainya
kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan
banyak menangis.” [HR Bukhari]
Alasan lain adalah karena banyak tertawa akan menimbulkan
efek negatif. Apa itu? Rasul SAW bersabda :
وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ
الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
“Janganlah
engkau banyak tertawa, karena sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati.” [HR Ahmad]
Menjelaskan hal ini, As-Sindy berkata :
أَيْ تَجْعَلُهُ قَاسِيًا لَا
يَتَأَثَّرُ بِالْمَوَاعِظِ كَالْمَيِّتِ
Banyak tertawa menyebabkan hati menjadi keras, tidak mempan
dinasehati layaknya seperti orang mati. [Hasyiyah As-Sindy]
Alasan lainnya adalah dikarenakan tawa akan dihisab pada hari kiamat. Pada suatu hari Al-Awza’i menasehati khalifah Al-Manshur : “Wahai Amirul Mukminin, tahukah engkau akan penafsiran yang datang dari ayat berikut dari kakekmu :
مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا
يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا
‘Mengapa kitab ini tidak meninggalkan yang kecil dan
tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’
Ia melanjutkan : ‘Yang kecil itu adalah senyuman, dan yang besar adalah tertawa.’
Lantas bagaimana dengan apa yang dilakukan oleh tangan-tangan
dan yang diucapkan oleh lisan-lisan, wahai Amirul Mukminin!’” [Syu’abul Iman]
Tidak banyak tertawa
bukan berarti tidak tertawa sama sekali, sehingga hadits utama di atas dipahami
sebagai pembatasan secara relatif atau bentuk mubalaghah. Al-Mubarakfury
berkata : “Dan pembatasan
(dalam hadits) ini
bersifat relatif (idlafy), yaitu jika dibandingkan dengan yang lebih dominan
(kebiasaan beliau). Karena telah nyata bahwa Nabi SAW terkadang tertawa hingga tampak gigi
gerahamnya, kecuali jika ini dipahami sebagai bentuk mubalaghah (ungkapan yang berlebih-lebihan).”
[Tuhfatul Ahwadzi]
Nabi SAW sendiri
sesekali ditemukan tertawa hingga terlihat gigi geraham beliau. Diantaranya ketika
seorang alim dari
kalangan Yahudi berkata : “Wahai Muhammad, sesungguhnya kami
mendapati (dalam kitab kami) bahwa Allah menjadikan langit di atas satu jari, bumi
di atas satu jari, pepohonan di atas satu jari, air dan tanah di atas satu
jari, dan seluruh makhluk lainnya di atas satu jari, kemudian Dia berfirman:
‘Akulah Raja. Maka Nabi SAW
tertawa hingga tampak
gigi geraham beliau, sebagai pembenaran terhadap perkataan orang alim tersebut. Kemudian membaca QS. Az-Zumar: 67.
[HR Bukhari]
Dalam kesempatan lain, ada seorang laki-laki datang kepada Nabi mengaku telah menggauli istri di siang hari bulan
Ramadhan. Ketika ia disuruh untuk memerdekakan seorang budak, maka ia tidak mampu. ketika disuruh
berpuasa dua bulan berturut-turut, ia juga tidak mampu. Disuruh beri makan enam puluh orang miskin, ia juga tidak
mampu. Akhirnya Nabi memberikan sebuah keranjang berisi kurma kepadanya untuk
diberikan kepada fakir miskin. Dan lelaki itu berkata “ Demi Allah, di Madinah ini tidak ada keluarga yang lebih miskin daripada
kami.” Maka Nabi SAW tertawa hingga tampak gigi geraham beliau,
lalu bersabda: “Kalau begitu,
berikanlah kepada keluargamu.” [HR Bukhari]
Demikian pula Nabi Sulaiman. Allah SWT berfirman
: “hingga ketika sampai di lembah semut, ratu
semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak
diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak
menyadarinya.”
فَتَبَسَّمَ
ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا
Maka Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa
karena (mendengar) perkataan semut itu... [QS An-Naml : 19]
Wallahu A’lam. Semoga
Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk terus menyelaraskan kehidupan
kita dengan ajaran Rasul SAW, baik perbuatan maupun ucapan bahkan sekedar tawa
dan senyuman.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!
NB.
Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata :
“Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata :
(1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]












