• WhatsApp Channel : One Day One Hadith

    Bergabunglah bersama Saluran WhatsApp One Day One Hadith

  • Penerimaan Santri Baru 2026/2027

    Monggo nderek-nderek Nyethak Sholihin Sholihat dengan mendaftarkan putra putri jenengan ke PPW An-Nur 2 Al Murtadlo

  • Tadarus Akbar

    Tadarus Akbar oleh ribuan santri putra Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo

  • Sholat Tarawih Akbar

    Sekitar 3.000 santri putra melaksanakan Tarawih Akbar di Lapangan Utama Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo. Sabtu malam, 21 Februari 2026, lapangan center An-Nur II penuh dengan 24 saf santri berbaju putih

  • Bersama KAPOLRI

    Bersama Bapak Jenderal Listyo Sigit Prabowo - KAPOLRI dan Majelis Keluarga An-Nur 2

BERBAIK SANGKA KEPADA ALLAH

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Dari Jabir bin Abdillah RA, Rasulullah SAW bersabda :

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” [HR Muslim] 

 

Catatan Alvers

 

Perempuan 34 tahun di Bandung, Jawa Barat, ditemukan tewas gantung diri di kusen pintu kamarnya. Dua anaknya yang berusia 9 tahun dan 11 bulan ditemukan tak bernyawa tak jauh dari sang ibu. Ditemukan surat wasiat yang ditulis oleh sang ibu 'Mamah tidak rela hidup terus-terusan susah'. Surat itu mengungkapkan masalah keluarga, tepatnya kesulitan ekonomi, dan berisi pula permintaan maaf untuk seluruh keluarganya, termasuk kepada kedua anaknya yang telah meninggal. [bbc.com]

 

Himpitan ekonomi seperti itu juga dirasakan banyak orang dan beberapa diantara mereka menjadi putus asa lalu mengambil jalan pintas yang sama untuk mengakhiri hidupnya. Putus asa adalah perbuatan yang dilarang oleh agama sebagaimana dalam hadits utama disebutkan : “Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” [HR Muslim] Hadits ini didengarkan oleh Jabir disabdakan oleh Nabi SAW tiga hari sebelum wafat.

 

Membunuh anak-anak karena himpitan ekonomi sebagaimana dilakukan oleh perempuan di atas adalah wujud keputus asaan atas rahmat Allah. Allah SWT berfirman :

لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ

janganlah berputus asa dari rahmat Allah. [QS Az-Zumar : 53]

 

Dan Allah SWT berfirman :

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. [QS Al-Isra' : 31]

 

Di lain tempat, banyak orang yang memiliki masalah yang sama, namun mereka memilih bertahan karena mereka masih memiliki iman dan husnudzan (berbaik sangka) kepada Allah yang berfirman :

نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ

Kami-lah yang memberi rezeki kepada mereka dan (juga) kepada kalian. [QS Al-Isra' : 31]

 

Maka yakinlah dengan janji Allah karena Allah itu “La Yukhliful Mi’ad” (tak pernah ingkar janji) dan teruslah berbaik sangka dengan rahmat dan kasih sayang-Nya. Umar bin Khattab RA berkata : “Suatu hari datanglah sejumlah tawanan kepada Nabi SAW. Tiba-tiba ada seorang perempuan dari kalangan tawanan itu yang sedang memerah air susunya untuk diberikan minum. Setiap kali ia menemukan seorang anak di antara para tawanan, ia mengambilnya, mendekapkannya ke perutnya, lalu menyusuinya. Nabi SAW kemudian bersabda kepada kami: ‘Menurut kalian, apakah perempuan ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?’ Kami menjawab, ‘Tidak, selama ia mampu untuk tidak melemparkannya.’ Beliau SAW bersabda :

لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

‘Sungguh, Allah lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya melebihi daripada perempuan ini kepada anaknya.’ [HR Bukhari]

 

Berprasangka baiklah kepada Allah niscaya kita akan mendapatkan kebaikan dari prasangka baik kita kepada-Nya. Allah SWT dalam hadits qudsy berfirman :

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. [HR Bukhari]

Dalam riwayat lain, terdapat lanjutan hadits :

إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ

Jika ia berprasangka baik kepada-Ku, maka kebaikan itu untuknya. Dan jika ia berprasangka buruk kepada-Ku, maka keburukan itu untuknya.” [HR Ahmad]

 

Senada dengan hadits qudsy ini, Rasul SAW bersabda : “Suatu ketika Allah memerintahkan agar seorang hamba dibawa ke neraka. Ketika hamba itu telah berdiri di tepi neraka, ia menoleh lalu berkata :

 أَمَا وَاللهِ يَا رَبِّ إِنْ كَانَ ظَنِّي بِكَ لَحَسَنٌ

“Demi Allah, wahai Tuhanku, sungguh prasangka-ku kepada-Mu benar-benar baik.”

Maka Allah berfirman, ‘Kembalikan dia! Karena sesungguhnya Aku sesuai dengan prasangka baik hamba-Ku kepada-Ku.’” [HR Baihaqi]

 

Maka prasangka baik kepada Allah tidak hanya bermanfaat di dunia tapi juga di akhirat. Sahl, saudaranya Hazm bercerita bahwa ia pernah bertemu Abu Yahya Malik bin Dinar dalam mimpi setelah ia wafat.  Sahl bertanya : “Wahai Abu Yahya, betapa baiknya kondisimu, amal apa yang engkau bawa ?” Abu Yahya menjawab :

 قَدِمْتُ بِذُنُوْبٍ كَثِيْرَةٍ مَحَاهَا عَنِّي حُسْنُ الظَّنِّ بِاللهِ

“Aku datang dengan membawa dosa yang banyak. Namun, itu semua terhapuskan oleh baik sangkaku kepada Allah.” [Al-Mujalasah wajawahirul Ilm]

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda : Satu ketika Allah memerintahkan agar seorang hamba dibawa ke neraka. Ketika ia telah berdiri di tepi neraka, ia menoleh dan berkata:

أَمَا وَاللهِ يَا رَبِّ إِنْ كَانَ ظَنِّي بِكَ لَحَسَنٌ

“Demi Allah, wahai Tuhanku, sungguh prasangkaku kepada-Mu sangatlah baik."

 

Maka Allah Azza Wa Jalla berfirman:”Kembalikanlah dia, karena Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” [HR Baihaqi]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk agar senantiasa berbaik sangka kepada Allah baik dalam urusan dunia maupun akhirat sehingga kita mendapat rahmat dan kasih sayang-Nya.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

 NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

Share:

KEUTAMAAN SAT SET

ONE DAY ONE HADITH

 

Dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ

“Bersegeralah melakukan amal-amal sebelum datang berbagai fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap”. [HR Muslim] 

 

Catatan Alvers

 

Di dalam pekerjaan dan menjalankan perintah atasan ada slogan “Sat set wat wet” yang artinya merespon perintah dengan menjalankannya sesegera mungkin. “Sat set” tidak hanya dalam pekerjaaan, sat set juga dibutuhkan dalam ibadah dan menjalankan perintah Allah SWT. Hal ini sebagaimana Nabi SAW bersabda dalam hadits utama : “Bersegeralah melakukan amal-amal sebelum datang berbagai fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap”. [HR Muslim] 

 

Imam Ghazali menyebutkan kisah menarik mengenai orang yang bersegera melaksanakan perintah Allah lalu iapun dimasukkan ke surga. Sa‘d bin Bilal berkata : “Pada hari kiamat diperintahkan agar dua orang dikeluarkan dari neraka. Lalu Allah Tabāraka wa Ta‘ālā berfirman : ‘Itu disebabkan oleh apa yang telah diperbuat oleh kedua tangan kalian, dan Aku tidak pernah menzalimi hamba-hamba.’ Kemudian Allah memerintahkan agar keduanya dikembalikan ke neraka.

فَيَعْدُو أَحَدُهُمَا فِي سَلَاسِلِهِ حَتَّى يَقْتَحِمَهَا، وَيَتَلَكَّأُ الْآخَرُ

“Orang pertama ia berlari dengan rantai-rantainya hingga ia menerjunkan dirinya ke dalam neraka. Sedangkan orang kedua berjalan dengan lambat”.

Kemudian Allah memerintahkan agar keduanya dipanggil kembali, lalu menanyakan kepada mereka tentang perbuatan masing-masing.

Orang yang berlari menuju neraka berkata:

قَدْ حُذِّرْتُ مِنْ وَبَالِ الْمَعْصِيَةِ فَلَمْ أَكُنْ لِأَتَعَرَّضَ لِسَخَطِكَ ثَانِيَةً

‘Aku telah diperingatkan tentang akibat buruk dari kemaksiatan. Karena itu, aku tidak mau lagi melakukan sesuatu yang menyebabkan kemurkaan-Mu untuk kedua kalinya.’

Sedangkan orang yang berjalan lambat berkata: ‘Baik sangkaku kepada-Mu membuatku berharap bahwa Engkau tidak akan mengembalikanku ke dalam neraka setelah Engkau mengeluarkanku darinya.’ Maka Allah memerintahkan agar keduanya dimasukkan ke dalam surga.” [Ihya Ulumiddin]

 

Menyegerakan diri dalam kebaikan merupakan hal yang dapat mendatangkan ridla Allah SWT. Ketika Nabi Musa AS hendak bermunajat kepada Allah di tempat yang telah ditentukan, beliau tergesa-gesa sehingga meninggalkan kaumnya. Allah bertanya: “Apakah yang membuatmu tergesa-gesa meninggalkan kaummu, wahai Musa?” Nabi Musa menjawab :

هُمْ أُولَاءِ عَلَىٰ أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَىٰ

“Mereka itu sedang menyusulku. “Aku bersegera datang kepada-Mu, wahai Tuhanku, agar Engkau ridha.” [QS Thaha: 84]

 

Namun banyak orang baik tetapi ia diuji dengan “taswif” yaitu kebiasaan menunda-nunda. Ia menangguhkan amal kebaikan dari satu waktu ke waktu berikutnya, tidak memanfaatkan kesempatan yang ada, dan tidak memiliki tekad untuk menyegerakan perintah Allah. Orang yang demikian akan menyesal pada akhirnya. Allah SWT berfirman :

وَأَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau menangguhkan (kematian)-ku sedikit waktu, niscaya aku akan bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh. [QS Al-Munafiqun : 10]

 

Kepada orang-orang semacam inilah Rasul SAW berpesan dengan hadits utama di atas. Dan Beliau juga bersabda :

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سَبْعًا

“Bersegeralah kalian melakukan amal-amal saleh sebelum datang tujuh perkara”. [HR Tirmidzi]

Apakah itu? Beliau melanjutkan : Apakah kalian menunggu kemiskinan yang membuat lupa, kekayaan yang membuat lalai dan melampaui batas, penyakit yang merusak, usia tua yang melemahkan, kematian yang mengakhiri kehidupan, Dajjal—dan ia adalah perkara gaib yang paling buruk untuk ditunggu—atau datangnya Hari Kiamat? Karena Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.” [HR Tirmidzi]

 

Dan dalam hadits yang familier disebutkan :

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ.

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara : masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kecukupanmu sebelum kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu.” [HR Al-Hakim]

 

Kita diperintah juga untuk bersegera menuju ampunan. Allah SWT berfirman :

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ

“Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” [QS Ali ‘Imran: 133]

 

Sebagaimana amal yang utama adalah shalat di awal waktu sebagai wujud menyegerakan melaksanakan perintah, contoh lainnya adalah menyegerakan puasa sunnah Syawal. Imam Ar-Ramli berkata :  “Mengerjakan puasa Syawal berturut-turut sehari setelah Idul Fitri itu lebih utama karena :

مُبَادَرَةً إِلَى الْعِبَادَةِ وَلِمَا فِي التَّأْخِيرِ مِنَ الْآفَاتِ

Agar menyegerakan diri dalam melakukan ibadah dan agar terhindar dari halangan akibat mengakhirkan satu ibadah.” (Nihayah Al-Muhtaj). 

 

Maka intinya kita bersegera bahkan berlomba-lomba dalam melakukan semua kebaikan. Allah SWT berfirman :

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” [QS Al-Baqarah: 148]

 

Dan ada keterangan dari Hatim (Al-Asham), ia berkata: Dahulu dikatakan,

الْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلَّا فِي خَمْسٍ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ إِذَا حَضَرَ الضَّيْفُ، وَتَجْهِيزُ الْمَيِّتِ إِذَا مَاتَ، وَتَزْوِيجُ الْبِكْرِ إِذَا أَدْرَكَتْ، وَقَضَاءُ الدَّيْنِ إِذَا وَجَبَ، وَالتَّوْبَةُ مِنَ الذَّنْبِ إِذَا أَذْنَبَ

“Tergesa-gesa itu berasal dari setan, kecuali dalam lima perkara: memberi makan ketika tamu telah datang, mengurus jenazah ketika seseorang telah meninggal, menikahkan gadis ketika telah mencapai usianya, melunasi utang ketika telah jatuh tempo, dan bertaubat dari dosa ketika telah melakukan dosa.”[Hilyatul Awliya’]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk agar senantiasa menyegerakan diri dalam menjalankan ibadah dan perintah Allah agar kita mendapatkan ridla dan ampunan-Nya.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

 NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

 

 

Share:

TAAT PADA MAKSIAT

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Dari Ali bin Abi Thalib KW, Rasulullah SAW bersabda :

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Tidak boleh taat kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” [HR Ahmad] 

 

Catatan Alvers

 

Ada kasus ajudan pejabat terkena OTT (operasi tankap tangan) membawa sejumlah koper berisikan uang yang diduga sebagai uang suap. Ketika ditangkap petugas, sang ajudan mengaku bahwa uang itu milik atasannya dan ia berdalih hanya menjalankan perintah meskipun ia menduga uang tersebut adalah uang haram. Kasus lain adalah ketika seorang pelajar dicabuli oknum guru agama, ia mengaku menuruti kemauan sang guru karena khawatir ilmunya tidak berkah. Lantas, apakah hal itu dibenarkan dalam agama? Benarkah seorang bawahan harus tunduk kepada apapaun perintah atasan dan seorang pelajar tidak boleh menolak perintah maksiat oknum guru?

 

Secara umum, setiap orang diperintahkan untuk mentaati pemimpinnya. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan pemimpin di antara kamu”. [QS An-Nisa' : 59]

 

Namun apakah ketaatan itu berlaku untuk semua perintah termasuk perintah maksiat dan melanggar aturan sehingga perintah dari atasan atau pemimpin tersebut harus dilaksanakan? Inilah yang perlu dipahami dengan menyimak uraian berikut.

 

Diriwaytakan dari ‘Ali bin Abi Thalib RA bahwasannya Nabi SAW mengirim sebuah sariyyah (pasukan ekspedisi Militer) dan menunjuk seorang laki-laki dari kalangan Anshar sebagai pemimpinnya. Nabi SAW memerintahkan mereka untuk menaati pemimpin tersebut. Dalam perjalanan, terjadi sesuatu yang membuat sang pemimpin marah. Kemudian ia berkata : “Kumpulkan kayu bakar untukku lalu nyalakanlah api.” Mereka pun menyalakan api. Kemudian ia berkata :

أَلَمْ يَأْمُرْكُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَسْمَعُوا لِي وَتُطِيعُوا

“Bukankah Nabi SAW telah memerintahkan kalian untuk mendengarkanku dan menaatiku?”

 

Mereka menjawab : “Iya benar”.  Ia berkata : “Masuklah kalian kedalam api itu!”.  Mendengar perintah ini, sebagian dari mereka menoleh kepada sebagian yang lain (karena kebingungan antara mentaati perintah dan membangkang). Mereka berkata :

“Sesungguhnya kita datang kepada Rasulullah SAW untuk menyelamatkan diri dari api neraka. Apakah sekarang kita akan masuk ke dalam api?.  Mereka terus dalam keadaan demikian sampai kemarahan pemimpin tersebut reda dan juga apinya padam.

 

Setelah mereka kembali, kejadian itu disampaikan kepada Nabi SAW dan beliau bersabda : “Seandainya mereka masuk ke dalam api tersbut, niscaya mereka tidak akan keluar darinya.

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

Sesungguhnya ketaatan (kepada pemimpin) itu hanya dalam kebaikan.” [HR Muslim]

 

Hal ini selaras dengan hadits utama di atas “Tidak boleh taat kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” [HR Ahmad]  atau dalam redaksi hadits yang lebih familier disebutkan :

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

Tidak boleh taat kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Khaliq (sang pencipta). [HR Thabrani]

 

Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata : “Di dalam hadits ini terdapat penjelasan bahwa perintah yang bersifat mutlak tidak mencakup seluruh keadaan. Sebab, Nabi SAW memerintahkan mereka untuk menaati pemimpin, lalu mereka memahami perintah tersebut berlaku secara umum, bahkan dalam keadaan marah dan ketika diperintah melakukan kemaksiatan. Maka Nabi SAW menjelaskan kepada mereka bahwa perintah untuk menaati pemimpin itu terbatas pada perintah-perintahnya yang tidak mengandung kemaksiatan. [Fathul Bari]

 

Ini adalah batasan yang sangat penting yang harus diketahui dan tak boleh terlupakan. Hal ini tercermin dalam kisah yang diriwayatkan dari Muhammad (bin Sirin), Ia berkata : Seorang laki-laki datang kepada ‘Imran bin Hushain RA (Sahabat Nabi), sementara kami berada di sisinya. Ia berkata, “Al-Hakam bin ‘Amr al-Ghifari (Sahabat Nabi) telah diangkat sebagai pemimpin di Khurasan.” Maka ‘Imran mengkhawatirkannya, hingga salah seorang dari rombongan berkata kepadanya, “Tidakkah kami memanggilnya untukmu?” ‘Imran menjawab, “Jangan.” Kemudian ‘Imran berdiri dan menemuinya di tengah orang banyak. ‘Imran berkata, “Sesungguhnya engkau telah diberi tanggung jawab atas suatu urusan kaum Muslimin yang besar.” Kemudian ia memberikan beberapa nasihat kepadanya, melarangnya dari beberapa hal, dan memberinya wejangan. Lalu ia berkata,

هَلْ تَذْكُرُ يَوْمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

“Apakah engkau masih ingat hari ketika Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala’?”

Al-Hakam menjawab, “Ya.” Maka ‘Imran berkata, “Allahu Akbar!” [HR Ahmad]

 

Rasul SAW juga bersabda :

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ عَلَيْهِ وَلَا طَاعَةَ

Mendengar dan menaati merupakan kewajiban bagi seorang Muslim, dalam perkara yang ia sukai maupun yang ia tidak sukai, selama ia tidak diperintah melakukan kemaksiatan. Apabila ia diperintah melakukan kemaksiatan, maka tidak ada kewajiban baginya untuk mendengar dan tidak ada ketaatan. [HR Turmudzi]

 

Muhammad bin Jarir ath-Thabari berkata: “Dalam hadis Ali dan hadis Ibnu Umar terdapat penjelasan yang sangat jelas tentang larangan Allah, melalui lisan Rasul-Nya, kepada para hamba-Nya untuk menaati makhluk dalam perkara yang merupakan kemaksiatan kepada Penciptanya;

سُلْطَانًا كَانَ الْآمِرُ بِذَلِكَ، أَوْ سُوقَةً، أَوْ وَالِدًا، أَوْ كَائِنًا مَنْ كَانَ

baik yang memerintahkan itu seorang penguasa, orang biasa/rakyat, orang tua, ataupun siapa pun dia.

Maka tidak boleh bagi seseorang menaati siapa pun dari manusia dalam suatu perkara yang telah jelas baginya bahwa Allah melarang perkara tersebut.” [Syarh Ibn Batthal]

 

Dari uraian hadits ini jelas bahwa kasus bawahan tidak dibenarkan melaksanakan perintah atasan jika diketahui bahwa itu adalah pelanggaran dan kemaksiatan, demikian dalam kasus pelajar diatas.

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk agar senantiasa taat kepada pemimpin dengan menyadari bahwa tidak ada keberkahan dalam ketaatan kepada manusia apabila ketaatan itu mengantarkan kepada kemaksiatan kepada Allah. Guru dihormati, atasan ditaati, tetapi Allah tetap lebih berhak untuk ditaati.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

 NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

 

Share:

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts