ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan dari Miqdan
bin Ma’dy kariba RA, Rasul SAW Bersabda :
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ
أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ
لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
"Anak Adam tidaklah memenuhi suatu bejana yang lebih jelek
dari perutnya. Cukuplah bagi mereka beberapa suap (makanan) yang dapat menegakkan
tulangnya. Jika terpaksa, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga
untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk
pernafasan" [HR Tirmidzi]
Catatan Alvers
Seorang
ilmuwan biologi sel dan profesor di Institut Sains Tokyo bernama
Yoshinori Ohsumi (lahir 1945) [wikipedia] memenangkan hadiah nobel pada tahun 2016 dengan penemuan
“Autophagy”. Banyak situs mengulas penemuannya, di antaranya situs health grid
id yang mengangkat judul “Authopagi, Konsep Tubuh
Melaparkan Diri Sendiri Untuk Perbaikan Sel Sejalan dengan Konsep Puasa,
Penemunya Mendapat Hadiah Nobel”.
Kata autophagy
berasal dari kata Yunani auto yang berarti "diri", dan phagein, yang
berarti "makan". Jadi, autophagy berarti "makan diri sendiri".
[health grid
id] Saat seseorang tidak makan dalam beberapa jam
maka sel akan memakan dirinya sendiri. sel yang baik akan memakan sel yang rusak.
Dengan demikian sel akan “membersihkan” dan mendaur ulang bagian yang rusak.
Inilah yang disebut dengan Autophagy. Ia sering dikaitkan dikaitkan dengan : Regenerasi sel, Mengurangi
stres oksidatif, Membantu tubuh bekerja lebih optimal. Ternyata puasa bukan
cuma soal menahan lapar,
tapi juga kasih waktu tubuh buat “reset”. [ig proem1indonesia]
Dengan manfaat
puasa seperti itu, saya teringat hadits yang statusnya sering diperdebatkan,
yaitu :
صُومُوْا تَصِحُّوا
Berpuasalah,
niscaya kalian sehat. [Ihya Ulumuddin]
Hadits itu dikutip
oleh Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin tepatnya pada bab Bayan Fawa’idil Ju’ (keutamaan lapar). Dan Al-Iraqi berkata :
Hadits tersebut dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Al-Awsath dan Abu Nu’aim dalam
At-Thibb An-nabawy dari Abu Hurairah dengan sanad Dla’if (lemah). [Takhrij
Ahaditsil Ihya’] Demikian pula dikutip
oleh Imam Suyuthi dalam Al-Jami’ As-Shagir dan Al-Munawi menilai sanadnya dengan status lemah. [At-Taysir bi Syarhil
Jami’ As-Shagir] dan demikian pula Al-Albani
juga menilainya sebagai hadits dla’if. Ia menambahkan : “Pendla’ifan hadits
tersebut tidak dapat dinafikan oleh perkataan Al-Mundziri dan Al-Haytsami yang
menyatakan bahwa perawinya tsiqah karena hal itu tidak menafikan adanya ‘illat
(cacat) dalam sanad meskipun para perawinya tsiqah, sebagaimana jelas bagi
orang yang memahami kaidah ilmu hadits.
Dan Mungkin al-Shaghani terlalu berlebihan ketika mengatakan: ‘Hadis ini mawdlu‘
(palsu). [As-Silsilah Ad-Dla’ifah]
Oleh karena hadits tersebut berstatus dla’if bukan
mawdlu’ maka hadits tersebut masih bisa dipergunakan. Ibnu Hajar al-Haitami (w. 1566 M ) berkata :
قَدِ اتَّفَقَ
العُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ العَمَلِ بِالحَدِيثِ الضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ
الأَعْمَالِ
“Para ulama sepakat atas bolehnya mengamalkan
hadits dla’if dalam fadlailul a’mal (keutamaan amalan)”.
Karena jika hadits tersebut ternyata benar,
maka sudah seharusnya diamalkan. Dan jika ternyata tidak benar, maka pengamalan
terhadap hadits tersebut tidaklah mengakibatkan kerusakan (mafsadah) dengan
menghalalkan yang haram,
mengharamkan yang halal, dan tidaklah menyia-nyiakan hak orang lain. [Fathul Mubin Fi Syarhil Arbain]
Dengan demikian
pula jauh sebelum Yoshinori Ohsumi menjelaskan autopagi, Nabi SAW telah
menjelaskan manfaat kesehatan dari puasa, Banyak juga para ulama mengulasnya
hadits tersebut. Diantaranya adalah Al-Harali (w. 1240 M). Ia berkata: “pada
hadits tersebut terdapat isyarat bahwa orang yang berpuasa akan memperoleh
banyak kebaikan pada tubuhnya, kesehatannya, dan rezekinya, di samping pahala
besar di akhirat.” [Faidlul Qadir]
Ulama mesir, Rasyid
Ridla (w. 1935 M) berkata : “Di antara manfaat kesehatan dari puasa adalah
bahwa ia menghancurkan zat-zat yang mengendap dalam tubuh, terutama pada tubuh
orang-orang yang hidup mewah, rakus, dan sedikit bekerja. Puasa mengeringkan
kelembapan yang berbahaya, membersihkan usus dari kerusakan pencernaan dan
racun yang ditimbulkan oleh kekenyangan, serta melelehkan lemak atau mencegah
penumpukannya di perut yang sangat berbahaya bagi jantung. Puasa itu seperti
melatih kuda yang menjadikannya lebih kuat untuk maju dan mundur... Sebagian
dokter Eropa berkata :
إِنَّ صِيَامَ شَهْرٍ وَاحِدٍ فِي السَّنَةِ يَذْهَبُ بِالفُضْلَاتِ
المَيِّتَةِ فِي البَدَنِ مُدَّةَ سَنَةٍ
Sesungguhnya puasa
satu bulan dalam setahun dapat menghilangkan sisa-sisa zat mati dalam tubuh
selama setahun.” [Tafsir Al-Manar]
DR Wahbah
Az-Zuhayli (w. 2015 M) ulama dari suriah berkata : “Di antara manfaat terbesar
puasa adalah bahwa ia memperbarui tubuh, menguatkan kesehatan, membersihkan
jasad dari endapan dan fermentasi yang berbahaya, memberi istirahat bagi
anggota tubuh, serta menguatkan daya ingat apabila seseorang meneguhkan
tekadnya dan mencurahkan dirinya untuk pekerjaan akalnya tanpa disibukkan oleh
kenikmatan jasmani… Semua manfaat jasmani, rohani, kesehatan, dan sosial ini
bergantung pada sikap moderat dalam makan saat berbuka dan sahur. Jika
seseorang berlebihan hingga kekenyangan dan tidak menjaga keseimbangan dalam
makan dan minum, maka keadaan akan berbalik menjadi bencana, kesulitan, dan
bahaya.” [Tafsir Al-Munir]
Dengan demikian
puasa akan bermanfaat bagi kesehatan jika seseorang tidak balas dendam dalam
makan di malam harinya. Hal ini sesuai dengan syarat yang dikemukakan oleh Az-Zuhaily di atas dan
sesuai dengan hadits utama yaitu
: "Anak Adam tidaklah
memenuhi suatu bejana yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah bagi mereka
beberapa suap (makanan) yang dapat menegakkan tulangnya. Jika terpaksa, maka
(ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk
minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan" [HR Tirmidzi]
Ar-Raghib Al-Ashfihani,
Ulama asal Iran (W. 1109 M) berkata : “Sedikit
makan dapat melemahkan syahwat, dan untuk melemahkannya Allah memerintahkan
dalam setiap syariat dengan puasa, agar hal itu menjadi sebab untuk menahannya
dari apa yang diserukan oleh syahwat.
فَلَا تَكُونَ كَالْبَهَائِمِ الَّتِي تَأْكُلُ مَا تَشْتَهِي
“Sehingga manusia
tidak seperti hewan yang makan apa saja yang diinginkannya”.
Dan Rasul SAW mengisyaratkan hal ini dengan
sabdanya : ‘Berpuasalah, niscaya kalian sehat.’ Sesungguhnya dalam puasa
terdapat kesehatan bagi tubuh dan kesehatan bagi jiwa.” [Tafsir Ar-Raghib Al-Ashfihani]
Wallahu A’lam.
Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk berpuasa karena Allah dan menjalani sesuai dengan
tuntunan dan adab yang disampaikan oleh Nabi SAW sehingga kita mendapatkan
manfaat dari puasa baik di dunia maupun di akhirat.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul
Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren
Wisata
AN-NUR 2 Malang
Jatim
Ngaji dan Belajar
Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok
Itu Keren!
NB.
Jangan pelit
berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka
ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan
(3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]












