إنَّ اللّهَ أَوْحَىٰ إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّىٰ لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ علىٰ أَحَدٍ، وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَىٰ أَحَدٍ

"Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menyuruh kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya di hadapan orang lain, dan tidak seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain." [HR Muslim]

أَرْفَعُ النَّاسِ قَدْرًا : مَنْ لاَ يَرَى قَدْرَهُ ، وَأَكْبَرُ النَّاسِ فَضْلاً : مَنْ لَا يَرَى فَضْلَهُ

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah melihat kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah melihat kemuliannya (merasa mulia).” [Syu’abul Iman]

الإخلاص فقد رؤية الإخلاص، فإن من شاهد في إخلاصه الإخلاص فقد احتاج إخلاصه إلى إخلاص

"Ikhlas itu tidak merasa ikhlas. Orang yang menetapkan keikhlasan dalam amal perbuatannya maka keihklasannya tersebut masih butuh keikhlasan (karena kurang ikhlas)." [Ihya’ Ulumuddin]

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur." [HR Muslim]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu.”[HR Ahmad]

Friday, February 20, 2026

PUASA BATHIN

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW Bersabda :

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya melainkan lapar saja.” [HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Puasa dalam bahasa Arab disebut dengan shaum. Shaum sendiri bermakna menahan. Puasa didefinisikan dengan :

إِمْسَاكٌ عَنِ الْمُفْطِرِ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوصٍ

menahan diri dari perkara yang membatalkan dengan cara tertentu. [Fathul Wahhab]

 

Ditinjau dari sisi bathin, puasa memiliki beberapa tingkatan. Dalam Ihya ulumiddin, Imam Ghazali berkata :

اِعْلَمْ أَنَّ الصَّوْمَ ثَلاثُ دَرَجَاتٍ: صَوْمُ الْعُمُومِ وَصَوْمُ الْخُصُوصِ وَصَوْمُ خُصُوصِ الْخُصُوصِ.

Ketahuilah bahwa puasa itu ada tiga derajat : Puasa umum, puasa khusus dan puasa khususil khusus. [Ihya ulumiddin]

 

Lebih lanjut Imam Ghazali menjelaskan : Pertama, Puasa umum dan ini merupakan puasanya kebanyakan orang (awam) yaitu menahan perut dari makanan dan menahan kemaluan dari syahwat. Kenyataannya memang demikian. Kebanyakan orang berpuasa berpinsip yang peting tidak makan minum dan tidak berjima’ dengan istri di siang bulan ramadhan.

 

Kedua, Puasa khusus dan ini merupakan puasanya orang-orang shalih. Yaitu menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Dan ini adalah puasanya orang-orang shalih. Kesempurnaan puasa tingkatan ini adalah dengan enam perkara yaitu :

 

(1) Menjaga Pandangan dari melihat hal-hal tercela, yang membangkitkan syahwat, atau melalaikan dari mengingat Allah. Nabi SAW bersabda:

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومَةٌ، فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللهِ أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ

“Pandangan (yang haram) adalah salah satu anak panah beracun dari panah-panah Iblis. Maka barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberinya iman yang manisnya dapat ia rasakan dalam hati.” [HR Al-Hakim]

 

(2) Menjaga Lisan dari ucapan sia-sia, dusta, ghibah, adu domba, kata-kata kotor, debat kusir dan mengisi lisan dengan dzikir dan tilawah. Mujahid berkata :

خَصْلَتَانِ يُفْسِدَانِ الصِّيَامَ: الغِيبَةُ وَالكَذِبُ

“Dua perkara yang merusak puasa yaitu ghibah dan dusta.” [Ihya]

 

Diriwayatkan bahwa ada dua orang wanita berpuasa pada masa Rasul SAW. Menjelang sore, keduanya sangat lapar dan haus hingga hampir pingsan. Lalu mereka mengirim utusan kepada Rasul untuk meminta izin berbuka. Rasul SAW mengirimkan sebuah bejana dan bersabda : Katakan kepada mereka, muntahkanlah ke dalam bejana ini apa yang kalian makan. Maka salah satunya memuntahkan setengah bejana berupa darah segar dan daging mentah, dan yang lain memuntahkan hal yang sama hingga penuh. Orang-orang pun keheranan melihat hal itu. Rasul SAW bersabda:

هَاتَانِ صَامَتَا عَمَّا أَحَلَّ اللَّهُ لَهُمَا وَأَفْطَرَتَا عَلَى مَا حَرَّمَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِمَا

Kedua wanita ini berpuasa dari apa yang Allah halalkan bagi mereka, tetapi berbuka dengan apa yang Allah haramkan atas mereka.

Keduanya duduk bercengkrama sambil maka daging manusia (yaitu dengan menggunjing mereka).  [HR Ahmad]

 

(3) Menjaga Pendengaran dari hal-hal yang haram, seperti ghibah atau kebohongan. Allah menyamakan pendengar kebohongan dengan pemakan harta haram. Nabi SAW bersabda:

المُغْتَابُ وَالمُسْتَمِعُ شَرِيكَانِ فِي الإِثْمِ

“Penggunjing dan pendengar ghibah adalah sekutu dalam dosa.” [Ihya]

 

(4) Menjaga Anggota Tubuh Lain seperti tangan, kaki, dan seluruh anggota dari perbuatan maksiat. Menjaga perut dari makanan haram atau syubhat saat berbuka. Puasa seseorang akan sia-sia jika ia menahan diri dari perkara yang halal namun ia berbuka dengan perkara yang haram. Imam Ghzali berkata : “Perumpamaan orang yang berpuasa tetapi tetap melakukan hal-hal yang merusak puasanya,

مِثَالُ مَنْ يَبْنِي قَصْرًا وَيَهْدِمُ مِصْرًا

seperti orang yang membangun sebuah istana namun meruntuhkan kota.

 

Sesungguhnya makanan halal itu membahayakan bukan karena jenisnya, melainkan karena banyaknya. Maka puasa bertujuan untuk mengurangi jumlah makanan. Orang yang meninggalkan banyaknya obat karena takut mudarat, lalu beralih kepada racun, adalah orang yang bodoh. Yang haram itu ibarat racun yang membinasakan agama, sedangkan yang halal itu ibarat obat: sedikitnya bermanfaat, banyaknya membahayakan. Tujuan puasa adalah untuk mengurangi (makanan halal) agar tidak berlebihan.” [Ihya]

 

(5) Tidak Berlebihan dalam Memakan makanan yang Halal saat berbuka. Bukankah tujuan puasa itu adalah melemahkan syahwat dan nafsu. Jika seseorang ketika puasa di bulan ramadhan takaran makanannya sama saja dengan ketika tidak puasa, maka ruh puasa jadi hilang dan puasa menjadi sia-sia sebab Ia hanya memindah jam makan saja.

 

(6) Hati antara Khauf (cemas) dan Raja’ (penuh harap) setelah seseorang berbuka puasa. Takut kalau puasanya ditolak namun ia berharap agar diterima. Demikian pula sikap ini harus tetap ada setelah ibadah dilakukan. Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri, bahwa ia pernah melewati suatu kaum yang sedang tertawa. Maka ia berkata: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menjadikan bulan Ramadan sebagai gelanggang perlombaan bagi hamba-hamba-Nya, di mana mereka berlomba di dalamnya untuk taat kepada-Nya. Maka ada kaum yang mendahului lalu menang, dan ada kaum yang tertinggal lalu rugi. Maka sungguh mengherankan, sangat mengherankan, orang yang tertawa dan bermain pada hari ketika para pemenang telah berhasil dan para yang lalai telah gagal.

أَمَا وَاللهِ لَوْ كُشِفَ الغِطَاءُ لاشْتَغَلَ المُحْسِنُ بِإِحْسَانِهِ وَالمُسِيءُ بِإِسَاءَتِهِ

Ingatlah Demi Allah, seandainya tirai penutup itu disingkap, niscaya orang yang berbuat baik akan sibuk dengan kebaikannya, dan orang yang berbuat buruk akan sibuk dengan keburukannya. [Ihya]

Maksudnya kegembiraan orang yang diterima amalnya melupakannya akan bermain-main, sementara penyesalan orang yang ditolak amalnya akan menjadikannya tidak bisa tertawa.

 

Imam Ghazali berkata : Manusia kedudukannya di atas binatang karena manusia memiliki akal sementara hewan tidak memilikinya, tetapi manusia di bawah derajat malaikat karena manusia memiliki syahwat sedangkan malaikat tidak memilikinya. Jika manusia memperturukan syahwatnya maka derajatnya turun ke derajat asfalas safilin, derajat paling rendah dan bergabung dengan golongan hewan. Namun jika manusia mampu mengendalikan syahwatnya maka derajatnya naik ke derajat a’la illiyin. Derajat paling tinggi dan bergabung dengan derajat malaikat.

Malaikat itu didekatkan dengan Allah. Maka siapa saja yang bisa meneladani malaikat serta menyerupai akhlak mereka, maka ia akan dekat dengan Allah sebagaimana kedekatan malaikat. Sesungguhnya (manusia) yang menyerupai dengan yang dekat (malaikat), maka ia (manusia) pun menjadi dekat pula (seperti malaikat).

وَلَيْسَ القُرْبُ ثَمَّ بِالمَكَانِ بَلْ بِالصِّفَاتِ

Dan kedekatan disitu bukanlah dengan tempat, melainkan dengan sifat.” [Ihya]

 

Ketiga, Puasa khususil khusus dan ini merupakan puasanya para nabi, Shiddiqin dan Al-Muqarrabin. Yaitu puasa hati dari ambisi rendah dan pikiran duniawi, serta menahannya dari segala sesuatu selain Allah Ta‘ala sepenuhnya. Puasa ini batal dengan memikirkan selain Allah dan hari akhir, serta dengan memikirkan urusan dunia—kecuali dunia yang dimaksudkan untuk agama, karena itu termasuk bekal akhirat dan bukan bagian dari dunia.

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk menjadikan puasa kita tidak hanya urusan menahan perut namun juga urusan semua anggota badan bahkan urusan hati.

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Tuesday, February 17, 2026

MARHABAN YA RAMADHAN

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari ِAbu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ

“Sungguh telah datang kepada kalian bulan ramadhan, bulan yang penuh berkah” [HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Menjelang datangnya bulan ramadhan, ada orang yang susah dan ada juga yang bahagia. Ada orang badannya besar berotot namun ketika mendengar ramadhan akan datang maka ia tepok jidat, “Mati aku!” katanya. Ia adalah seorang kuli angkut tebu di mana di siang hari dalam keadaan lapar ia harus mengangkat beban berat. Iapun susah membayangkan ramadhan tiba.

 

Namun banyak juga yang senang dengan datangnya ramadhan. Anak kecil senang dengan datangnya ramadhan karena di bulan ramadhan banyak makanan. Pemuda-pemuda juga senang karena bisa begadang bermain semalaman sampai subuh. Pedagang juga senang karena dagangannya bisa laris hingga cuci gudang. Akan tetapi bukan senang seperti ini yang rasakan orang yang beriman. Orang-orang yang dipanggil oleh Allah SWT dalam firman-Nya :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa...” [QS Al-Baqarah : 183]

 

Dan Rasul juga memberikan kabar gembira dengan datangnya ramadhan. Abu Hurairah RA berkata :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ...

“Rasul SAW bersabda dengan memberi kabar gembira kepada para sahabatnya : Sungguh telah datang kepada kalian bulan ramadhan, bulan yang penuh berkah” [HR Ahmad]

 

Untuk menggambarkan kebahagiaan mereka, saya teringat dengan lagu yang dipopulerkan oleh Opick yang banyak diputar ketika menjelang datangnya bulan ramadhan. “Ramadan tiba, Ramadan tiba, Marhaban Ya Ramadan, Marhaban Ya Ramadan... Ramadan tiba, semua bahagia. Tua dan muda bersukacita”

 

Mereka bahagia karena telah menanti-nantikan kedatangannya sebagaimana para sahabat dahulu demikian. Mu’alla bin Al-Fadhl (tabi’it tabi’in) berkata :

كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُم رَمَضَانَ، وَيَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ.

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.” [Lathaif Al-Ma’arif]

 

Mereka bahagia karena mereka tahu bahwa bulan ramadhan adalah bulan penuh ampunan. Dalam lirik disebutkan : “Bulan ampunan, bulan yang berkah

Bulan terbebas api neraka”

 

Bulan ramadhan adalah bulan ampunan. Ya, hal itu seperti sabda Rasul SAW :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu [HR Bukhari]

 

Bulan ramadhan adalah bulan yang berkah. Rasul SAW memberikan ceramah kepada para sahabat di akhir bulan Sya’ban. Beliau Bersabda sebagaimana hadits utama : “Sungguh telah datang kepada kalian bulan ramadhan, bulan yang penuh berkah” [HR Ahmad]

 

Dan Bulan ramadhan adalah bulan pembebasan dari api neraka. Rasul SAW bersabda :

وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

"(Dan pada bulan ramadhan) Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, dan itu setiap malam" [HR Tirmidzi]

 

Dalam lirik disebutkan : “Andaikan saja Ramadan semua. Bulan yang tiba, bulan yang ada. Kar'na besarnya setiap pahala. Yang dijanjikan kepada kita”

 

Bulan ramadhan adalah bulan dimana kebaikan gandakan 70 kali lipat. Rasul SAW bersabda :

مَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيهِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِينَ فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ

Barang siapa yang menunaikan perkara wajib di bulan Ramadhan, maka ia seperti orang yang mengerjakan 70 kali perkara wajib di bulan yang lain. [HR Al-Baihaqi]

 

Orang yang mengerti hal ini pastilah ia berandai-andai seandainya sepanjang tahun adalah ramadhan. Jadi statement ini tidak perlu dukungan dari hadits semisal : Seandainya orang-orang tahu betapa besarnya pahal di bulan ramadhan biscaya ummatku menginginkan ramadhan sepanjang tahun. Karena hadits ini menurut Imam Suyuthi adalah palsu. [Al-La’ali Al-Mashnu’ah]

 

Dalam lirik disebutkan : “Dalam bersahur ada pahala. Dalam berbuka alangkah indah.” Dalam bersahur ada pahala. Ya benar, makan sahur saja berpahala. Nabi SAW bersabda : Makan sahur adalah barokah maka janganlah kalian meninggalkannya walau dengan minum seteguk air

فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

karena Allah Azza wa Jalla dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur. [HR Ahmad]

 

Dalam berbuka alangkah indah. Ya benar, berbuka puasa mendatangkan kebahagiaan tersendiri. Rasul SAW bersabda :

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, yaitu bahagia ketika berbuka dan bahagia ketika bertemu tuhannya. [HR Muslim]

 

Dalam lirik disebutkan : “Menahan diri, menahan lidah. Menjaga hati, menjaga mata. Banyakkan amal hari-harinya. Pahala datang berlipat ganda. Berlomba-lomba untuk ibadah. Dunia bahagia, surga nantinya.”

 

Ya demikianlah puasa. Ia tidak hanya untuk menahan lapar dan dahaga akan tetapi juga menahan emosi, perkataan kotor bahkan menjaga hati.  Rasul SAW mengingatkan hal ini dalam sabda-Nya :

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

"Betapa banyak orang yang berpuasa, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar saja". [HR Ibnu Majah]

 

Dalam lirik disebutkan : “Dunia bahagia, surga nantinya.” Orang yang berpuasa akan masuk surga bahkan disediakan pintu khusus. Rasul SAW bersabda :

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ

"Di surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayyan, yang mana pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa masuk surga lewat pintu tersebut. Tidak akan ada orang yang masuk ke surga melewati pintu itu kecuali orang-orang yang berpuasa. [HR Bukhari]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk gembira menyambut datangnya bulan Ramadhan dan bisa bersemangat untuk memperbanyak ibadah di dalam bulan yang bertabur pahala dan ampunan tersebut.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’] 

Friday, January 30, 2026

TAK MEMBEDAKAN AGAMA

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Rasul SAW Bersabda :

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ

”Bukanlah orang mukmin itu orang yang kenyang sementara (ia membiarkan) tetangganya kelaparan.” [HR Thabrani]

 

Catatan Alvers

 

Viral video seorang perempuan bernama Nikalie Monroe di Kentucky, Amerika Serikat usai mengunggah video eksperimennya. Ia berpura-pura menjadi seorang ibu kurang mampu lalu Ia menelfon 43 tempat ibadah di Amerika Serikat untuk membantunya memberikan susu formula untuk anaknya. Semua video memiliki format yang relatif serupa dimana Monroe berperan sebagai seorang ibu yang sedang berjuang, meminta sekaleng kecil susu formula ditambah efek suara tangisan bayi dapat terdengar dalam video tersebut. Ia mengatakan bahwa dia sudah mencoba menelepon lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan lembaga makanan lainnya, tetapi mereka sedang tidak ada dan menyarankan dia untuk menelepon gereja.

 

Beberapa gereja mengatakan ia harus menjadi jemaat agar bisa dibantu. Yang lain hanya mengatakan tidak punya. Ketika ia bertanya apakah mereka bisa menyediakan sumbangan sebesar USD 20 untuknya, mereka menjawab tidak bisa. Monroe juga menelepon gereja besar milik Joel Osteen di Houston, Lakewood Church, salah satu gereja terbesar di Amerika Serikat, dengan perkiraan kekayaan bersih terbaru sebesar USD 59 juta. Wanita yang menjawab telepon tersebut mengatakan Monroe bisa mendaftar ke pelayanan amal mereka, tetapi persetujuannya bisa memakan waktu beberapa hari hingga beberapa minggu (11/25).

 

Menariknya dalam unggahan tersebut, ketika Monroe menghubungi Islamic Center of Charlotte di Harrisburg Road, Amerika Serikat maka tanpa ragu pengurus masjid langsung mengiyakan. Monroe sendiri mengaku sangat terharu dengan respon cepat pihak masjid. Tanpa berbasa-basi pihak masjid langsung menanykan lokasi dan kebutuhan yang diperlukannya. ”Dia langsung cepat. Dia cuman tanya satu pertanyaan kayak dimana kamu tinggal dan apa yang kamu butuhkan. Nggak ada pertanyaan lain beda dengan tempat ibadah lainnya.”

 

Monroe kemudian buka kartu bahwa dia sedang melakukan sosial eksperimen untuk mengetahui tempat ibadah mana yang bisa membantu kondisinya. Ia berkata : ”Saya melakukan sosial eksperimen untuk mengetahui gereja mana yang bisa membantu bayi yang kelaparan. Sayangnya banyak gereja yang menolak permintaan tolong saya tapi pihak masjid Anda tidak demikian. Saya mau mengucapkan terima kasih terhadap kebaikan hati kalian.” kata Monroe.

 

Manager Council on American–Islamic Relations (CAIR) memberikan apresiasi terhadap dewan kemakmuran masjid Charlotte. "Kami mengapresiasi atas teladan akhlak dan perilaku yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan Al-Qur'an. Agama kami memerintahkan kami untuk bekerja demi memastikan tidak ada seorang pun di sekitar kami yang menderita kelaparan atau kekurangan.” [VIVA co id] dan ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW pada hadits utama : ”Bukanlah orang mukmin itu orang yang kenyang sementara (ia membiarkan) tetangganya kelaparan.” [HR Thabrani]

 

Dalam hadits di atas, kita diperintahkan untuk menolong tetangga yang membutuhkan tanpa melihat apa agamanya, apakah dia muslim ataukah non muslim. Secara tegas, Allah tidak melarang kaum muslimin berbuat baik kepada non muslim. Allah SWT berfirman :

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ 

”Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”. [QS Al-Mumtahanah :  8]

 

Mujahid berkata: “Aku pernah berada di sisi Abdullah bin Umar, sementara seorang budaknya sedang menyembelih dan menguliti seekor kambing”. Lalu Abdullah bin Umar berkata:

يَا غُلَامُ، إِذَا سَلَخْتَ فَابْدَأْ بِجَارِنَا الْيَهُوْدِيِّ

‘Wahai budak, apabila engkau selesai menguliti, mulailah dengan memberikan (daging) kepada tetangga kita yang Yahudi”.

Ia mengulanginya beberapa kali. Maka ada yang bertanya kepadanya: ”Mengapa engkau mengatakan demikian? ” Abdullah bin Umar menjawab: ”Sesungguhnya Rasul SAW senantiasa berwasiat kepada kami tentang tetangga, hingga kami khawatir beliau akan menjadikannya sebagai ahli waris. ” [Ihya Ulumuddin]

 

Sautu ketika Aisyah RA bertanya : Wahai Rasulullah, aku memiliki dua orang tetangga, kepada siapa aku harus memberikan hadiah?” Beliau menjawab:

إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا

“Kepada tetangga yang paling dekat pintunya denganmu.” [HR Bukhari]

 

Anjuran berbuat baik kepada orang dekat atau tetangga sebagaimana hadits-hadits di atas itu tidaklah membeda-bedakan apa agamanya, apakah islam ataukah bukan. Islam mengajarkan kasih sayang kepada sesama karena Islam itu Rahmatan Lil Alamin, kasih sayang kepada alam semesta.  

 

Suatu ketika ada seorang Majusi meminta jamuan amakanan kepada Nabi Ibrahim AS. Ibrahim berkata kepadanya: “Jika engkau masuk Islam, aku akan menjamu dan memuliakanmu.” Majusi itu menjawab: “Kalau aku masuk Islam, maka apa kelebihanmu atas diriku?” Lalu ia pergi. Maka Allah SWT mewahyukan kepada Ibrahim AS :

يَا إِبْرَاهِيمُ، لَمْ تُطْعِمْهُ إِلَّا بِتَغْيِيرِ دِينِهِ وَنَحْنُ مُنْذُ سَبْعِينَ سَنَةً نُطْعِمُهُ عَلَى كُفْرِهِ، فَلَوْ أَضَفْتَهُ لَيْلَةً مَاذَا عَلَيْكَ؟

“Wahai Ibrahim, apakah engkau tidak mau memberinya makan kecuali jika ia mengubah agamanya? Padahal Kami telah memberinya makan selama tujuh puluh tahun dalam keadaan kafir. Kalau engkau menjamunya satu malam saja, apa ruginya bagimu?”

 

Maka Ibrahim AS segera mengejar Majusi itu dan menjamunya. Majusi itu bertanya: “Apa sebab engkau berubah pikiran?” Ibrahim pun menceritakan wahyu Allah tadi kepadanya. Majusi itu berkata: “Apakah demikian Allah memperlakukanku?” Lalu ia berkata: “Tunjukkan kepadaku Islam.” Maka ia pun masuk Islam. [Ar-Risalah Al-Qusyairiyah]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk berbuat baik kepada sesama manusia tanpa membeda-bedakan agamanya. Semakin tinggi Iman semakin banyak kebaikan kepada sesama dan  orang yang beriman itu tidaklah membiarkan tetangganya kelaparan.

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Sunday, January 25, 2026

AYO MONDOK

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Anas Bin Malik RA, Rasul SAW bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. [HR Ibnu Majah]

 

Catatan Alvers

 

“Mondok” adalah istilah untuk aktifitas seseorang tinggal di pondok pesantren dengan tujuan fokus untuk mengaji atau menuntut ilmu agama yang diwajibkan untuknya. Hal ini sebagaimana disebut pada hadits utama. Mengaji itu sangatlah mulia, bahkan disetarakan dengan kemuliaan berjihad. Rasul SAW Bersabda :

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu (syar’i) maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang (kembali ke rumahnya)”. [HR Turmudzi]

 

Yahya bin Yahya al-Laytsi adalah seorang ulama besar asal Andalusia (Spanyol Muslim), murid Imam Malik. Ia berkata : Pertama kali Imam Malik bin Anas berbicara kepadaku ketika aku datang kepadanya sebagai penuntut ilmu, pada hari pertama aku duduk di majelisnya, beliau bertanya: “Siapa namamu?” Aku menjawab: “Semoga Allah memuliakanmu, namaku Yahya.” Saat itu aku adalah yang paling muda di antara sahabatku.

 

Beliau berkata kepadaku: “Wahai Yahya, Allah, Allah, bersungguh-sungguhlah dalam urusan ini (menuntut ilmu). Aku akan menceritakan kepadamu sebuah kisah yang akan membuatmu bersemangat dalam ilmu, dan membuatmu enggan terhadap selainnya.”

Kemudian beliau bercerita: “Pernah datang ke Madinah seorang pemuda dari Syam, seusiamu, ia bersama kami bersungguh-sungguh menuntut ilmu hingga akhirnya ia wafat. Aku melihat pada jenazahnya sesuatu yang belum pernah kulihat pada jenazah siapa pun di negeri kami, baik penuntut ilmu maupun ulama. Semua ulama berdesakan mengiringi jenazahnya. Hingga sang amir (pemimpin) menahan diri dari menshalatinya dan berkata: ‘Silakan kalian majukan siapa yang kalian kehendaki.’ Maka para ulama memajukan Rabi‘ah. Lalu Rabi‘ah bersama Zaid bin Aslam, Yahya bin Sa‘id, Ibn Syihab, Muhammad bin al-Mundhir, Shafwan bin Sulaim, Abu Hazim, dan lainnya turun ke liang lahadnya. Mereka semua bergantian memberikan batu bata untuk menutup liang lahad.”

 

Imam Malik melanjutkan: “Pada hari ketiga setelah pemuda itu dimakamkan, orang shalih dari Madinah melihatnya dalam mimpi, dalam rupa yang sangat indah: seorang pemuda tampan, berpakaian putih, berikat serban hijau, menunggang kuda putih turun dari langit. Ia datang kepadanya, memberi salam, dan berkata: ‘Ilmu telah mengantarkanku ke derajat ini.’ Orang shalih itu bertanya: ‘Apa yang telah mengantarkanmu?’ Ia menjawab: ‘Allah memberiku satu derajat di surga untuk setiap bab ilmu yang kupelajari. Namun derajat itu belum menyampaikanku ke derajat para ulama. Lalu Allah berfirman:

زِيدُوا وَرَثَةَ أَنْبِيَائِي، فَقَدْ ضَمِنْتُ عَلَى نَفْسِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ وَهُوَ عَالِمٌ سُنَّتِي، أَوْ سُنَّةَ أَنْبِيَائِي، أَوْ طَالِبٌ لِذَلِكَ أَنْ أَجْمَعَهُمْ فِي دَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ.

“Tambahkan bagi para pewaris nabi. Aku telah menjamin bahwa siapa yang mati sebagai ulama sunnahku, atau sunnah para nabi, atau penuntut ilmu itu, akan Aku kumpulkan mereka dalam satu derajat”.

 

Maka Allah memberiku hingga aku sampai pada derajat para ulama. Antara aku dan Rasul SAW hanya ada dua derajat : satu derajat beliau duduk bersama para nabi, satu derajat bersama para sahabat beliau dan sahabat para nabi, lalu derajat berikutnya adalah para ulama dan penuntut ilmu. Aku ditempatkan di tengah mereka, mereka menyambutku dengan hangat. Selain itu, Allah menjanjikan tambahan: bahwa para nabi akan dikumpulkan dalam satu kelompok, lalu Allah berkata: ‘Wahai para ulama, inilah surga-Ku, Aku halalkan untuk kalian. Inilah ridha-Ku, Aku ridha kepada kalian. Jangan masuk surga sebelum kalian berdoa dan memberi syafaat. Aku akan kabulkan doa kalian dan syafaat kalian, agar hamba-hamba-Ku melihat kemuliaan kalian di sisi-Ku.’”

 

Ketika lelaki itu bangun, ia menceritakan mimpinya kepada para ulama, dan berita itu tersebar di Madinah. Imam Malik berkata: “Ada orang-orang di Madinah yang dahulu memulai menuntut ilmu bersama kami lalu berhenti. Setelah mendengar kisah ini, mereka kembali lagi bersungguh-sungguh, hingga kini mereka menjadi ulama di negeri kami.

يَا يَحْيَى جِدَّ فِي هَذَا الْأَمْرِ

Wahai Yahya, bersungguh-sungguhlah dalam urusan ini (menuntut ilmu agama).” [Syarah Al-Bukhari Libni Batthal]

 

Dari kemuliaan menuntut Ilmu maka sahabat Abu Darda’ RA berkata:

كُنْ عَالِمًا، أَوْ مُتَعَلِّمًا، أَوْ مُسْتَمِعًا، وَلَا تَكُنِ الرَّابِعَ فَتَهْلَكَ.

"Jadilah seorang alim, atau penuntut ilmu, atau pendengar ilmu. Janganlah engkau menjadi yang keempat, niscaya engkau akan binasa." [Ihya Ulumiddin]

 

Siapakah orang ke empat itu?. Ada orang memberi nasehat berkata kepada Umar bin Abdul Aziz, Ia berkata :

إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ عَالِمًا فَكُنْ عَالِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَكُونَ عَالِمًا فَكُنْ مُتَعَلِّمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَكُونَ مُتَعَلِّمًا فَأَحْبِبْهُمْ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَلَا تُبْغِضْهُمْ

Jika engkau mampu menjadi seorang alim, maka jadilah alim. Jika tidak mampu menjadi alim, maka jadilah penuntut ilmu. Jika tidak mampu menjadi penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Jika tidak mampu mencintai mereka, maka janganlah membenci mereka."

Maka Umar bin Abdul Aziz berkata: "Subhanallah, sungguh Allah telah memberikan jalan keluar bagi kita." [Ihya Ulumiddin]

 

Janganlah berputus asa ketika merasa sulit untuk memahami ilmu agama. Syeikh Rabi’ bin Sulaiman seorang faqih, ahli hadis, dan muazin di Masjid Fusthath, Mesir, murid utama Imam Syafi’i di Mesir, dan merupakan periwayat paling terkenal dari kitab al-Umm, dahulu ia dikenal sebagai pelajar yang “Bathi’ul Fahm” (Lemot). As-Subki menceritakan bahwa Imam Syafi’i pernah mengajari Rabi’ satu masalah dan dilang-ulangi sampai 40 X namun ia tidak paham juga hingga ia pergi meninggalkan majelis karena malu. Imam Syafi’i akhirnya memberinya pelajaran secara privat sampai ia paham. Dahulu Imam Syafi’i pernah berkata kepadanya :

يَا رَبِيعُ، لَوْ أَمْكَنَنِي أَنْ أُطْعِمَكَ الْعِلْمَ لَأَطْعَمْتُكَ

"Wahai Rabi‘, seandainya aku mampu memberimu ilmu dengan cara menyuapimu, niscaya aku akan melakukannya." [Thabaqat As-Syafi’iyyah Al-Kubra]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk terus menuntut ilmu agama yang diperintahkan dan tidak pernah berhenti dari belajar serta tidak putus asa ketika menemukan kendala apapaun.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]