• WhatsApp Channel : One Day One Hadith

    Bergabunglah bersama Saluran WhatsApp One Day One Hadith

  • Penerimaan Santri Baru 2026/2027

    Monggo nderek-nderek Nyethak Sholihin Sholihat dengan mendaftarkan putra putri jenengan ke PPW An-Nur 2 Al Murtadlo

  • Tadarus Akbar

    Tadarus Akbar oleh ribuan santri putra Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo

  • Sholat Tarawih Akbar

    Sekitar 3.000 santri putra melaksanakan Tarawih Akbar di Lapangan Utama Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo. Sabtu malam, 21 Februari 2026, lapangan center An-Nur II penuh dengan 24 saf santri berbaju putih

  • Bersama KAPOLRI

    Bersama Bapak Jenderal Listyo Sigit Prabowo - KAPOLRI dan Majelis Keluarga An-Nur 2

TERKADANG PERLU BOHONG

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Asma’ binti Yazid RA, Rasul SAW bersabda :

لَا يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ

Tidak halal berbohong kecuali dalam tiga perkara : (1) seorang suami berbicara kepada istrinya untuk menyenangkannya, (2) berbohong dalam peperangan, (3) dan berbohong untuk mendamaikan di antara manusia.”.” [HR Tirmidzi]

 

Catatan Alvers

 

​​Kejujuran Berujung Pilu, Istri dan Anak Ditinggal Suami di Jalan Usai Bikin Konten Video. Kejadian itu bermula saat pasangan suami istri tersebut sedang berkendara sepeda motor melintasi jalanan di area perkebunan, bersama anak mereka. ​Sambil memegang kamera untuk merekam video, sang suami tiba-tiba melontarkan pertanyaan kepada istrinya yang duduk di belakang membonceng anak mereka. "Ganteng enggak aku bu?" tanya sang suami. Mendengar pertanyaan tersebut, sang istri, mungkin dengan nada bercanda atau bermaksud jujur, menjawab singkat, "Enggak." Jawaban jujur tersebut rupanya menyinggung perasaan sang suami secara mendalam. Tak disangka, sang suami langsung menghentikan sepeda motornya dan menyuruh istri serta anak bayi yang masih digendong itu turun dari motor lalu suami melanjutkan perjalanan dengan meninggalkan istri berjalan kaki di jalanan perkebunan yang sepi. [Anfer_tv]

 

Dalam peribahasa disebutkan “Tiada gading yang tak retak”. Gading gajah yang indah sekalipun kalau diteliti dengan detail maka akan ditemukan retakan-retakan kecil. Demikian pula manusia, tiada yang sempurna. Sesempurna apapun seseorang pasti ada kekurangannya dan sebaik apapun seseorang pasti ada jeleknya. Maka jika kita melihat seseorang dari kejelekannya maka tiada orang yang baik namun jika kita melihat dari dari sisi baiknya maka tidak ada orang yang jelek. Syaikh Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi berkata :

مَنِ ابْتَغَى زَوْجَةً بِلَا نَقْصٍ عَاشَ أَعْزَبًا

“ Siapa yang ingin mencari istri yang tak punya kekurangan, maka ia akan hidup menjomblo.” [arabcont com]

 

Ketika belum menikah boleh jadi pasangan kita tampak sebagai manusia yang sempurna namun ketika sudah menikah maka kita akan tahu betapa banyak kekurangannya. Namun ketika kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna maka kita tidak akan mempermasalahkan kekurangan pasangan kita. Kekurangan itu tidaklah untuk diperlihatkan dan pasangan itu ibarat pakaian, fungsinya adalah menutupi segala kekurangan. Allah SWT berfirman :

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

Mereka (istri) adalah pakaian untuk kalian dan kalian adalah pakaian untuk mereka.  [QS Al-Baqarah : 187]

 

Menafsiri ayat ini, Al-Raghib al-Isfahani berkata:

جَعَلَ اللِّبَاسَ كِنَايَةً عَنِ الزَّوْجِ لِكَوْنِهِ سِتْرًا لِنَفْسِهِ وَلِزَوْجِهِ أَنْ يَظْهَرَ مِنْهُمَا سُوءٌ، كَمَا أَنَّ اللِّبَاسَ سِتْرٌ عَنْهُ أَنْ يَبْدُوَ مِنْهُ السُّوءُ.

“Allah menjadikan ‘pakaian’ sebagai kiasan (kinayah) untuk pasangan (suami/istri), karena ia menjadi penutup bagi dirinya dan bagi pasangannya dari tampaknya keburukan dari keduanya; sebagaimana pakaian itu menutupi seseorang agar tidak tampak darinya hal yang buruk.” [Tafsir Al-Wasith, Thanthawi]

Maka suami atau istri yang baik adalah yang dapat menutupi kekurangan pasangannya dan tidak memperlihatkannya. Nabi SAW bersabda :

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

Sesungguhnya termasuk manusia paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang menggauli istrinya kemudian dia sebarkan rahasianya.” [HR. Muslim]

 

Tidak semua orang bisa menerima dengan lapang dada akan kekurangan yang dimilikinya, tak terkecuali pasangan kita. Terkadang berkata jujur akan hal tersebut bisa menyakiti hatinya sebagaimana kejadian viral di atas. Dan sebaliknya, berkata bohong dalam hal itu bisa menjadikan pasangan kita bahagia. Al-Mutanabbi berkata :

لَا خَيْلَ عِنْدَكَ تُهْدِيهَا وَلَا مَالُ :: فَلْيُسْعِدِ النُّطْقُ إِنْ لَمْ يُسْعِدِ الْحَالُ

“Engkau tidak punya kuda untuk dihadiahkan kepadanya, dan tidak pula harta. :: Maka hendaklah seseorang membahagiakan dengan ucapan (yang baik), jika ia tidak bisa membahagiakan dengan keadaan (materi).” [Tafsir Al-Alusi]

 

Bohong dalam hal ini diperbolehkan dalam Islam. Seandainya Istri dalam video viral tersebut berbohong dengan menjawab : Iya, Kamu ganteng” meskipun dalam hati tidak demikian maka itu tidaklah berdosa dan suaminya tidak akan marah meskipun ia sendiri yakin bahwa istrinya berbohong bahkan itu akan menyenangkan hati sang suami.  Dalam hadits di atas, Nabi SAW bersabda : Tidak halal berbohong kecuali dalam tiga perkara : (1) seorang suami berbicara kepada istrinya untuk menyenangkannya, (2) berbohong dalam peperangan, (3) dan berbohong untuk mendamaikan di antara manusia.”.” [HR Tirmidzi]

 

Dalam Ibnu Shihab berkata :

وَلَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ الْحَرْبُ وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا

“Belum pernah aku dengar, kalimat (bohong) yang diberi keringanan untuk diucapkan manusia selain dalam 3 hal : Ketika perang, dalam rangka mendamaikan pertikaian antar-sesama, dan ucapan suami kepada istrinya atau ucapan istri pada suaminya ” [Shahih Muslim]

Berbohong termasuk akhlak tercela yang dilarang oleh Islam namun dalam sebagian keadaan terkadang dibutuhkan sebaliknya, sebagaimana dalam tiga keadaan yang dijelaskan oleh hadits tersebut. (1) Seorang suami berbicara kepada istrinya untuk menyenangkannya. Berbohong dalam rangka menampakkan rasa cinta, menggombal, dengan tujuan kasih sayang dan ketenangan keluarga. Al-Hafidz ibnu hajar mengatakan: “Ulama sepakat bahwa yang dimaksud bohong antar-suami istri adalah bohong yang tidak menggugurkan kewajiban atau mengambil sesuatu yang bukan haknya.” [Fathul Bari]

 

(2) ‘Berbohong dalam peperangan’, yaitu seorang muslim boleh berkata tidak sesuai kenyataan; dengan menampakkan kekuatan, membangkitkan semangat kawan-kawannya, serta mengelabui musuhnya, atau berbohong kepada musuh untuk menipunya; karena perang itu adalah tipu daya. (3) ‘Berbohong untuk mendamaikan manusia’, yaitu mengatakan sesuatu yang tidak terjadi tetapi mengandung unsur meredakan pihak-pihak yang berselisih; dengan menyampaikan kebaikan dari salah satu kepada yang lain, meskipun tidak ada izin darinya, dengan tujuan memperbaiki hubungan.

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk senantiasa berkata jujur namun tidak ragu berbohong ketika memuji pasangan dan membahagiakan hatinya.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

KEMBALI KE PONDOK

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ...

"Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang tetap mengikutinya setelah kematiannya adalah ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan dan anak shalih yang ia tinggalkan…” [HR Ibnu Majah]

 

Catatan Alvers

 

Sekarang sudah saatnya kembali beraktifitas pasca liburan. Tidak hanya orang yang bekerja ataupun anak yang bersekolah, santri yang mondok juga saatnya kembali ke pesantren. Bermain-main ketika masa liburan itu sah-sah saja asal jangan melupakan bahwa liburan itu adalah istirahat sejenak supaya kembali semangat saat waktu kembalian tiba. Liburan yang demikian akan menjadi sarana yang efektif untuk merefreshing pikiran setelah penat beraktifitas di pesantren. Tidak hanya santri sekarang butuh refreshing, santrinya Nabi SAW juga demikian. Abu Darda’ RA menyatakan:

إِنِّي لَأَجُمُّ فُؤَادِي بِبَعْضِ الْبَاطِلِ أَيْ اللَّهْوِ الْجَائِزِ لِأَنْشَطَ لِلْحَقِّ

“Sungguh, saya merefresh jiwa saya dengan melakukan sebagian sendau-gurau atau permainan yang dibolehkan, agar saya kembali giat dalam melaksanakan kebaikan.” [Faidlul Qadir]

Dan Sayyidina  Ali RA juga berkata:

أَجِمُّوا هَذِهِ الْقُلُوبَ فَإِنَّهَا تَمَلُّ كَمَا تَمَلُّ الْأَبْدَانُ

“Rehatkan hati kalian, karena hati juga merasa bosan sebagaimana jiwa kalian merasa capek dan bosan.” [Faidlul Qadir]

 

Islam sebagai agama yang fitrah menyadari akan petingnya liburan atau istirahat sejenak mengingat manusia memiliki tabi’at bosan. Bahkan dalam urusan ibadah sekalipun, Rasul menganjurkan kita untuk melakukannya dengan kadar dimana kita tidak gampang merasa bosan dan terkesan memforsir fisik hingga melebihi batas kemampuan. Rasul SAW bersabda :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak akan pernah bosan sampai kalian sendiri merasa bosan.[HR. Muslim]

 

Namun demikian ketika masa libur telah usai terkadang ada perasaan berat bagi santri untuk kembali ke pesantren karena sudah nyaman dengan berbagai macam hiburan dan rekreasi selama liburan. Ketika anak merasa berat seperti itu maka hendaknya orang tua berjuang dan tetap optimis untuk mengembalikan anaknya ke pesantren.

 

Ketika anak berhenti mondok, dan ia memilih terus bermain-main dengan teman-teman di kampung halamannya yang cenderung berperilaku negatif maka kemungkinan besar sang anak akan terseret ke dalam circle yang negatif tersebut. Di sinilah peran orang tua sangat menentukan. Rasul SAW bersabda :

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

"Setiap anak terlahir dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi. [HR Bukhari]

 

Mengembalikan anak ke pondok merupakan usaha orangtua untuk menjadikan anak sebagai anak yang shalih, yang memiliki sopan santun serta ilmu agama sebagai bekal kehidupan dunia dan akhirat, bahkan aktifitas mondok itu sendiri sangatlah mulia, yang disetarakan dengan kemuliaan berjihad. Rasul SAW Bersabda :

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu (syar’i) maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang (kembali ke rumahnya)”. [HR Turmudzi]

 

Dengan kemuliaan anak yang menuntut ilmu agama maka setan tidak akan tinggal diam, setan akan terus menggoda dan menghalang-halangi anak yang akan kembali menuntut ilmu. Orang tua sudah semestinya memperjuangkan kembalinya anak ke pesantren karena anak itu merupakan investasi jangka panjang. Nabi SAW bersabda :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaat darinya, atau anak shalih yang mendoakannya." [HR Muslim]

 

Dan dalam hadits utama di atas, Nabi SAW bersabda : "Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang tetap mengikutinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan, anak shalih yang ia tinggalkan…” (selanjutnya) mushaf (Al-Qur’an) yang ia wariskan, masjid yang ia bangun, rumah (tempat singgah) untuk ibnu sabil yang ia dirikan, sungai (saluran air) yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya di saat sehat dan hidupnya—semua itu akan tetap sampai kepadanya setelah ia meninggal."[HR Ibnu Majah]

 

Anak juga bisa menjadi sebab terangkatnya derajat dan kemuliaan orang tua di akhirat kelak. Nabi SAW bersabda :

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، مِنْ أَيْنَ لِي هَذَا؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

"Sesungguhnya Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Maka ia berkata: ‘Wahai Tuhanku, dari mana aku mendapatkan ini?’ Maka Allah berfirman: ‘Dari istighfar (permohonan ampun) anakmu untukmu. [HR Ibnu Majah]

 

Hal ini dikarenakan anak itu sendiri merupakan aset bagi orang tuanya. Nabi SAW bersabda :

إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَإِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِهِ

Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya anaknya termasuk dari hasil usahanya." [HR Ibnu Majah]

 

Oleh karena itu maka setiap amal shalih yang dilakukan anak itu pahalanya akan didapatkan oleh kedua orang tuanya, tanpa mengurangi pahala si anak sedikit pun. Bahkan dikatakan:

لِلْوَالِدِ ثَوَابٌ مِنْ عَمَلِ الْوَلَدِ الصَّالِحِ، سَوَاءٌ دَعَا لِأَبِيهِ أَمْ لَا

Orang tua tetap mendapat pahala dari amal anak shalih, baik anak itu mendoakannya atau tidak”.

Sebagaimana orang yang menanam pohon akan mendapat pahala dari buahnya yang dimakan, baik orang yang memakan itu mendoakannya atau tidak. [Mirqatul Mafatih]

 

 

 

 

 

 

Maka mengupayakan anak menjadi shalih itu sangatlah penting. Ibn al-Malak berkata :

قَيَّدَ بِالصَّالِحِ لِأَنَّ الْأَجْر لَا يَحْصُل مِنْ غَيْره

"Nabi SAW mensyaratkan (anak) dengan sifat shalih karena pahala (untuk orang tua) itu tidak bisa diperoleh dari anak yang tidak shalih."

Dan al-Munawi berkata : "Faedah disebutkannya ‘anak’ (secara khusus), padahal doa selain anak juga bermanfaat baginya, adalah untuk mendorong anak agar berdoa (untuk orang tuanya)." [Aunul Ma’bud]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk terus mengupayakan agar anak menjadi shalih dengan bimbingan, arahan, usaha dan doa. Semoga anak-anak kita menjadi anak shalih yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat kelak.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

TOP UP USIA

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Tsauban RA, Rasul SAW bersabda :

لَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ

“Tidaklah menambah umur kecuali kebaikan (berbakti).” [HR Ibnu Majah]

 

Catatan Alvers

 

Ada seorang milyuner berusia sekitar 60 tahun, ia berandai-andai bisa kembali muda meskipun dengan me-reset kekayaannya. Ia rela kehilangan semua hartanya asalkan ia bisa kembali muda. Penyair berkata :

أَلَا لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُودُ يَوْمًا * فَأُخْبِرَهُ بِمَا فَعَلَ الْمَشِيبُ

andaikata masa muda itu berulang satu hari saja akan kuberitahukan kepadanya apa yang telah diperbuat oleh masa tua (penyesalan). [Jami’ud Durus]

 

Demikianlah, setiap orang menginginkan umur yang panjang. Nabi SAW bersabda :

يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ حُبُّ الْمَالِ وَطُولُ الْعُمُرِ

Anak Adam semakin tua, dan dua perkara semakin besar juga bersamanya: cinta harta dan panjang umur. [HR Bukhari]

 

Bahkan di antara manusia ingin panjang umur tak terkira. Allah SWT berfirman :

يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ

Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun. [QS Al-Baqarah : 96]

 

Namun apalah daya, usia telah ditentukan. Allah SWT berfirman :

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan. [QS Al-A'raf : 34]

 

Suatu ketika Ummu Habibah berdoa : "Ya Allah, berilah aku kenikmatan dengan (panjang umur bersama) suamiku, Rasulullah SAW, ayahku Abu Sufyan, dan saudaraku Mu‘awiyah." Maka Nabi SAW bersabda kepadanya: "Sesungguhnya engkau telah meminta kepada Allah tentang ajal-ajal yang sudah ditentukan, jejak-jejak (kehidupan) yang sudah ditetapkan, dan rezeki yang telah dibagi.

لَا يُعَجِّلُ شَيْئًا مِنْهَا قَبْلَ حِلِّهِ وَلَا يُؤَخِّرُ مِنْهَا شَيْئًا بَعْدَ حِلِّهِ

Tidaklah Allah menyegerakan sesuatu darinya sebelum waktunya, dan tidak pula menundanya setelah waktunya.

Seandainya engkau meminta kepada Allah agar Dia melindungimu dari adzab neraka dan adzab kubur, itu lebih baik bagimu." [HR Muslim]

 

Namun demikian di sisi lain, Rasul SAW menyatakan bahwa umur itu bisa ditambah. Pertama, sebagaimana dinyatakan dalam hadits utama : “Tidaklah menambah umur kecuali al-birr (kebaikan atau berbakti).” [HR Ibnu Majah] al-Kalabadzi berkata : Yang dimaksud dengan Al-Birr adalah ketaatan kepada Allah Ta‘ala dalam apa yang Dia perintahkan, menjauhi apa yang Dia larang, serta ridha terhadap apa yang Dia tetapkan dan takdirkan…

وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِالْبِرِّ بِرَّ الْوَلَدِ بِوَالِدَيْهِ

“Dan boleh jadi yang dimaksud dengan al-Birr adalah berbaktinya seorang anak kepada kedua orang tuanya”,

serta kebaikan seseorang kepada anaknya, kerabatnya, tetangganya, dan orang-orang yang bergaul dengannya. [Bahrul Fawa’id al-Musamma bi Ma'anil Akhyar]

 

Kedua, Rasul SAW bersabda :

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

"Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi." [HR Bukhari]

 

Ketiga, Rasul SAW bersabda :

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّ مُتَابَعَةً بَيْنَهُمَا تَزِيدُ فِي الْعُمُرِ وَالرِّزْقِ

"Dekatkanlah antara (pelaksanaan) haji dan umrah, karena sesungguhnya melakukan hal itu dapat menambah umur dan rezeki." [HR Bukhari]

 

Keempat, Rasul SAW bersabda :

إِنَّ صَدَقَةَ الْمُسْلِمِ تَزِيدُ فِي الْعُمُرِ

"Sesungguhnya sedekah seorang Muslim menambah umur."  [HR Thabrani]

 

Kelima, Rasul SAW bersabda :

صِلَةُ الرَّحِمِ، وَحُسْنُ الْخُلُقُ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَيَزِدْنَ فِي الْأَعْمَارِ

"Menyambung silaturahmi dan akhlak yang baik dapat memakmurkan negeri (rumah-rumah) dan menambah umur." [HR Baihaqi]

 

Ternyata usia seseorang bisa di perpanjang dengan beberapa usaha di atas. Lantas pertanyaannya akankah usia akan bertambah sementara soal usia adalah takdir yang telah di tetapkan Allah SWT? Memahami hal tersebut terdapat dua kemungkinan makna, pertama penambahan usia secara kwalitas dan kedua penambahan usia secara kwantitas. As-Sindy berkata : Pertama, karena orang yang berbakti (al-barr) meskipun umurnya pendek namun ia akan memperoleh manfaat yang lebih besar dibandingkan orang lain yang (umurnya) panjang tetapi tidak berbakti. [Hasyiyah As-Sindy] Hal ini sebagaimana Syekh Ibnu Athaillah berkata :

رُبَّ عُمُرٍ اتَّسَعَتْ آمادُهُ وَقَلَّتْ أمْدادُهُ، وَرُبَّ عُمُرٍ قَليلَةٌ آمادُهُ كَثيرَةٌ أمْدادُهُ.

"Betapa banyak umur yang panjang namun sedikit manfaatnya sementara betapa banyak umur yang pendek namun banyak manfaatnya." [al-Hikam]

 

Pada pengertian ini, umur manusia itu tetap, tidak bertambah dan sebaliknya tidak berkurang. Maka dengan demikian, suatu pembunuhan tidak mengurangi jatah umur orang yang terbunuh. Imam Nawawi berkata :

وَاعْلَمْ أَنَّ مَذْهَبَ أَهْلِ الْحَقّ أَنَّ الْمَقْتُولَ مَاتَ بِأَجَلِهِ وَقَالَتْ الْمُعْتَزِلَةُ قُطِعَ أَجَلُهُ

"Ketahuilah bahwa mazhab Ahlul Haq (Ahlus Sunnah) berpendapat bahwa orang yang dibunuh itu mati sebab ajalnya (yang telah ditentukan telah tiba). Sedangkan Mu‘tazilah berkata: ajal dari orang yang dibunuh itu terpotong (dari masa usia yang telah ditentukan)." [Al-Minhaj Syarah Muslim]

 

As-Sindy berkata : Kedua, umurnya benar-benar ditambah secara hakiki, dalam artian seandainya ia tidak berbakti, niscaya umurnya akan lebih pendek daripada kadar yang telah ditetapkan baginya ketika ia berbakti. Bukan berarti ia menjadi lebih panjang umur dibandingkan orang yang tidak berbakti secara mutlak. Kemudian, perbedaan ini hanya tampak pada takdir yang bersifat mu‘allaq (tergantung/bersyarat), bukan pada apa yang telah diketahui oleh Allah SWT sebagai ketetapan akhir, karena yang demikian itu tidak menerima perubahan sebagaimana Allah SWT berfirman : “Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab.” Demikian pula sabda: “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa.” [Hasyiyah As-Sindy]

 

Imam Ghazali berkata : “Lantas Apa faedah doa, jika ketetapan (qadla’) tidak dapat ditolak? Maka ketahuilah bahwa

أَنَّ مِنْ جُمْلَةِ الْقَضَاءِ رَدَّ الْبَلَاءِ بِالدُّعَاءِ

“Termasuk bagian dari ketetapan itu sendiri adalah ditolaknya bala dengan doa”.

Sesungguhnya doa itu menjadi sebab dari terhindarnya bala’ dan datangnya rahmat, sebagaimana benih menjadi sebab tumbuhnya tanaman dari bumi, dan sebagaimana perisai menjadi sebab dari selamatnya seseorang dari anak panah.” [Hasyiyah As-Sindy]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk ikhtiyar dengan berdoa dan melakukan berbagai amal baik diatas sehingga kita menjadi insan terbaik yang berumur panjang dan banyak beramal kebaikan,

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts