ONE DAY ONE HADITH
Dari Jabir bin Abdillah
RA, Rasulullah SAW bersabda :
لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ
عَزَّ وَجَلَّ
“Janganlah salah seorang di antara kalian
meninggal kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” [HR
Muslim]
Catatan Alvers
Perempuan 34 tahun
di Bandung, Jawa Barat, ditemukan tewas gantung diri di kusen pintu kamarnya.
Dua anaknya yang berusia 9 tahun dan 11 bulan ditemukan tak bernyawa tak jauh
dari sang ibu. Ditemukan surat wasiat yang ditulis oleh sang ibu 'Mamah tidak
rela hidup terus-terusan susah'. Surat itu mengungkapkan masalah keluarga,
tepatnya kesulitan ekonomi, dan berisi pula permintaan maaf untuk seluruh
keluarganya, termasuk kepada kedua anaknya yang telah meninggal. [bbc.com]
Himpitan ekonomi
seperti itu juga dirasakan banyak orang dan beberapa diantara mereka menjadi
putus asa lalu mengambil jalan pintas yang sama untuk mengakhiri hidupnya. Putus
asa adalah perbuatan yang dilarang oleh agama sebagaimana dalam hadits utama
disebutkan : “Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali dalam
keadaan berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” [HR Muslim] Hadits ini didengarkan
oleh Jabir disabdakan oleh Nabi SAW tiga hari sebelum wafat.
Membunuh anak-anak karena himpitan ekonomi sebagaimana dilakukan oleh perempuan di atas adalah
wujud keputus asaan atas rahmat Allah. Allah SWT berfirman :
لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ
janganlah berputus
asa dari rahmat Allah. [QS Az-Zumar : 53]
Dan Allah SWT berfirman :
وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ
"Dan
janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. [QS
Al-Isra' : 31]
Di lain tempat, banyak
orang yang memiliki masalah yang sama, namun mereka memilih bertahan karena
mereka masih memiliki iman dan husnudzan (berbaik sangka) kepada Allah yang
berfirman :
نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ
Kami-lah yang memberi rezeki kepada mereka dan (juga)
kepada kalian. [QS Al-Isra' : 31]
Maka yakinlah
dengan janji Allah karena Allah itu “La Yukhliful Mi’ad” (tak pernah ingkar
janji) dan teruslah berbaik sangka dengan rahmat dan kasih sayang-Nya. Umar bin
Khattab RA berkata : “Suatu hari datanglah sejumlah tawanan kepada Nabi SAW.
Tiba-tiba ada seorang perempuan dari kalangan tawanan itu yang sedang memerah
air susunya untuk diberikan minum. Setiap kali ia menemukan seorang anak di
antara para tawanan, ia mengambilnya, mendekapkannya ke perutnya, lalu
menyusuinya. Nabi SAW kemudian bersabda kepada kami: ‘Menurut kalian, apakah
perempuan ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?’ Kami menjawab, ‘Tidak,
selama ia mampu untuk tidak melemparkannya.’ Beliau SAW bersabda :
لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا
‘Sungguh, Allah lebih penyayang kepada
hamba-hamba-Nya melebihi daripada perempuan ini kepada anaknya.’ [HR Bukhari]
Berprasangka baiklah kepada Allah niscaya kita akan
mendapatkan kebaikan dari prasangka baik kita kepada-Nya. Allah SWT dalam
hadits qudsy berfirman :
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku
kepada-Ku. [HR Bukhari]
Dalam riwayat lain, terdapat lanjutan hadits :
إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ
Jika ia
berprasangka baik kepada-Ku, maka kebaikan itu untuknya. Dan jika ia
berprasangka buruk kepada-Ku, maka keburukan itu untuknya.” [HR Ahmad]
Senada dengan hadits
qudsy ini, Rasul SAW bersabda : “Suatu ketika Allah
memerintahkan agar seorang hamba dibawa ke neraka. Ketika hamba itu telah
berdiri di tepi neraka, ia menoleh lalu berkata :
أَمَا
وَاللهِ يَا رَبِّ إِنْ كَانَ ظَنِّي بِكَ لَحَسَنٌ
“Demi Allah, wahai
Tuhanku, sungguh prasangka-ku kepada-Mu benar-benar baik.”
Maka Allah
berfirman, ‘Kembalikan dia! Karena sesungguhnya Aku sesuai dengan prasangka
baik hamba-Ku kepada-Ku.’” [HR Baihaqi]
Maka prasangka
baik kepada Allah tidak hanya bermanfaat di dunia tapi juga di akhirat. Sahl, saudaranya
Hazm bercerita bahwa ia pernah bertemu Abu Yahya Malik bin Dinar dalam mimpi
setelah ia wafat. Sahl bertanya : “Wahai
Abu Yahya, betapa baiknya kondisimu, amal apa yang engkau bawa ?” Abu Yahya
menjawab :
قَدِمْتُ
بِذُنُوْبٍ كَثِيْرَةٍ مَحَاهَا عَنِّي حُسْنُ الظَّنِّ بِاللهِ
“Aku datang dengan
membawa dosa yang banyak. Namun, itu semua terhapuskan oleh baik sangkaku
kepada Allah.” [Al-Mujalasah wajawahirul Ilm]
Diriwayatkan dari Abu
Hurairah RA, Rasul SAW bersabda : “Satu ketika Allah
memerintahkan agar seorang hamba dibawa ke neraka. Ketika ia telah berdiri di
tepi neraka, ia menoleh dan berkata:
أَمَا وَاللهِ يَا رَبِّ إِنْ كَانَ ظَنِّي بِكَ لَحَسَنٌ
“Demi Allah, wahai Tuhanku, sungguh
prasangkaku kepada-Mu sangatlah baik."
Maka Allah Azza Wa
Jalla berfirman:”Kembalikanlah dia, karena Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku
kepada-Ku.” [HR Baihaqi]
Wallahu A’lam.
Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk agar senantiasa berbaik sangka kepada Allah baik dalam urusan dunia maupun akhirat sehingga kita
mendapat rahmat dan kasih sayang-Nya.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul
Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren
Wisata
AN-NUR 2 Malang
Jatim
Ngaji dan Belajar
Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok
Itu Keren!
NB.
“Ballighu Anni
Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada.
Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus
setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]













