• WhatsApp Channel : One Day One Hadith

    Bergabunglah bersama Saluran WhatsApp One Day One Hadith

  • Penerimaan Santri Baru 2026/2027

    Monggo nderek-nderek Nyethak Sholihin Sholihat dengan mendaftarkan putra putri jenengan ke PPW An-Nur 2 Al Murtadlo

  • Tadarus Akbar

    Tadarus Akbar oleh ribuan santri putra Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo

  • Sholat Tarawih Akbar

    Sekitar 3.000 santri putra melaksanakan Tarawih Akbar di Lapangan Utama Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo. Sabtu malam, 21 Februari 2026, lapangan center An-Nur II penuh dengan 24 saf santri berbaju putih

  • Bersama KAPOLRI

    Bersama Bapak Jenderal Listyo Sigit Prabowo - KAPOLRI dan Majelis Keluarga An-Nur 2

BERWISATA KE DAERAH ADZAB

 

ONE DAY ONE HADITH


Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, Rasul SAW bersabda :

لَا تَدْخُلُوا عَلَى هَؤُلَاءِ الْمُعَذَّبِينَ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا بَاكِينَ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ لَا يُصِيبُكُمْ مَا أَصَابَهُمْ

"Janganlah kalian masuk ke tempat kaum yang diazab, kecuali dalam keadaan menangis. Jika tidak bisa menangis, maka janganlah kalian masuk ke tempat mereka, agar tidak menimpa kalian apa yang menimpa mereka.”[HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Akhir-akhir ini marak program umrah plus wisata Al-Ula. Detik com mengagkat judul “Al Ula, Kawasan yang Dihindari Nabi tapi Jadi Wisata Primadona Arab”. Kawasan Al-Ula menyimpan sejumlah situs arkeologi dan sejarah di antaranya Hegra, yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO pertama di Arab Saudi. Dalam mitologi Arab, Al-Ula merupakan daerah terkutuk. Stigma tersebut melekat pada Al-Ula karena berkaitan dengan kisah kaum Tsamud yang lenyap usai diazab. [detik com]

Berwisata ke tempat-tempat yang indah untuk menghilangkan penat dan menikmati pemandangan alam itu boleh-boleh saja namun jika tempat itu dahulunya adalah negeri yang penduduknya pernah di adzab maka itu menjadi terlarang. Nabi SAW bersabda : "Janganlah kalian masuk ke tempat kaum yang diazab, kecuali dalam keadaan menangis. Jika tidak bisa menangis, maka janganlah kalian masuk ke tempat mereka, agar tidak menimpa kalian apa yang menimpa mereka.”[HR Bukhari] Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata  : Larangan itu terjadi ketika para sahabat bersama Nabi SAW melintas di daerah al-Hijr, yaitu tempat tinggal kaum Tsamud, dalam perjalanan menuju Tabuk. [Fathul Bari]

 

Dalam hadits lain, Ibnu Umar RA berkata : Ketika Nabi SAW melewati daerah al-Hijr, beliau bersabda:

لَا تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ

“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi diri mereka sendiri, agar tidak menimpa kalian apa yang menimpa mereka, kecuali jika kalian masuk sambil menangis.”

Kemudian beliau menundukkan kepalanya dan mempercepat langkah hingga melewati lembah itu.”[HR Bukhari]

 

Ada pertanyaan, bagaimana mungkin adzab orang-orang dzalim menimpa orang yang bukan dzalim hanya karena memasuki wilayahnya? dan kenapa pula harus menangis? Ibnu Hajar Al-Asqalani menjawab : “Barangsiapa melewati mereka (kaum yang diazab) tanpa merenungkan hal-hal yang membuatnya menangis sebagai pelajaran dari keadaan mereka, berarti ia menyerupai mereka dalam kelalaiannya. Hal itu menunjukkan kerasnya hati dan tidak adanya kekhusyukan. Karena itu, ia tidak aman dari kemungkinan terseret untuk melakukan perbuatan seperti perbuatan mereka, lalu ditimpa azab sebagaimana mereka ditimpa”. [Fathul Bari]

 

Aturan selanjutnya adalah dilarang mengambil sesuatu dari area tersebut. Abdullah bin Umar RA menceritakan: Ketika orang-orang singgah bersama Rasul SAW di tanah kaum Tsamud yaitu al-Hijr, mereka mengambil air dari salah satu sumurnya dan membuat adonan dengan air itu.

فَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُهَرِيقُوا مَا اسْتَقَوْا مِنْ بِئْرِهَا

“Maka Rasul SAW memerintahkan mereka untuk membuang air yang telah mereka ambil dari sumur tersebut”.

dan memerintahkan agar adonan itu diberikan kepada unta sebagai pakan. Beliau juga memerintahkan mereka untuk mengambil air dari sumur yang dahulu didatangi oleh unta Nabi Shalih.”[HR Bukhari]

 

Abu Said Al-Khudri RA berkata : Aku melihat seorang laki-laki membawa cincin yang ia temukan di al-Hijr di rumah-rumah kaum yang diazab (yaitu kaum Tsamud) lalu Nabi SAW berpaling darinya sambil menutup mata dengan tangan agar tidak melihat cincin itu, lalu bersabda: “Buanglah (cincin itu). Maka lelaki itu membuangnya. [Fathul Bari]

 

Lalu bagaimanakah kisah kaum tsamud sehingga Rasul SAW mewanti-wanti agar kita tidak mendatangi tempat mereka? Dalam Hasyiyah Tafsir As-Shawi diceritakan bahwa Allah memberitahu kepada Nabi Shalih bahwa kaumnya akan membunuh untanya. Nabi Shalih berkata: “Akan lahir seorang anak laki-laki di bulan ini yang akan membunuh unta itu, dan kebinasaan kalian akan datang melalui tangannya.” Kaum Tsamud pun bersepakat: “Kalau ada bayi laki-laki lahir bulan ini, akan kita bunuh.” Maka sembilan orang dari mereka benar-benar membunuh bayi laki-laki mereka sendiri. Namun orang yang kesepuluh menolak membunuh anaknya, karena sebelumnya ia belum pernah punya anak. Anak itu tumbuh cepat, berkulit kemerahan kebiruan. Setiap kali sembilan orang itu melihatnya, mereka berkata: “Seandainya anak-anak kita masih hidup, pasti seperti ini.”

 

Lama kelamaan sembilan orang itu marah kepada Salih, karena merasa dialah penyebab mereka membunuh anak-anak mereka. Mereka pun bersekongkol untuk membunuh Shalih dan keluarganya secara diam-diam dengan cara mereka berpura-pura pergi lalu bersembunyi di sebuah gua. Mereka berencana membunuh Shalih ketika keluar malam menuju masjidnya. Namun malam itu gua tersebut runtuh menimpa mereka sehingga mereka mati. Orang-orang kampung menuduh Shalih yang membunuh mereka dan berkata : “Wahai hamba-hamba Allah, belum cukupkah Shalih menyuruh mereka membunuh anak-anak mereka, sampai akhirnya ia juga membunuh mereka?” Akhirnya penduduk kampung berkumpul dan sepakat untuk membunuh unta. [Hasyiyah Tafsir As-Shawi]

 

Inilah mengapa dalam Qur’an, yang membunuh untuk itu disebut dengan “Fa Aqaruha” (Maka mereka membunuhnya) yang mengisyaratkan orang banyak padahal yang membunuh satu orang saja. Qatadah berkata : “unta itu tidak dibunuh kecuali setelah semua orang mengikut pembunuhnya, baik yang tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan”. [Tafsir Al-Qurtubi] Dia bernama “Qudar” dengan dibaca dlammah (bin Salif). [Tafsir Al-Baidlawi] Rasul pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib :

مَنْ أَشْقَى الأَوَّلِينَ؟"

“Siapakah orang yang paling celaka dari kalangan umat terdahulu?”

Sahabat Ali menjawab: “Dialah orang yang membunuh unta (Naqatallah)”. Rasul SAW berbda : Benarlah engkau. [HR Thabrani]

 

Akhirnya mereka dikenai adzab. Allah SWT berfirman :

فَأَخَذَتْهُمُ ٱلرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا۟ فِى دِيَٰرِهِمْ جَٰثِمِينَ

“Maka mereka ditimpa gempa, sehingga jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka.” [QS Al-A’raf: 91]

Dan dalam ayat lain disebut “As-Syaihah” suara yang mengguntur, [QS Al-A’raf: 78] dan juga “At-Thaghiyah” (suara yang sangat keras menggelegar).” [QS Al-Haqqah: 5]

 

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk tidak mendatangi tempat-tempat yang dahulunya merupakan tempat diturunkannya adzab meskipun tempat itu kini indah dan menarik perhatian.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

GHIBAH NUNGGU BUKA

 

ONE DAY ONE HADITH


Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dengannya, maka Allah tidak menghendaki ia meninggalkan makan dan minum.” .”[HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

“Tahan. Tahan. gak boleh ghibah karena masih satu jam lagi buka puasa”. Ini adalah salah satu cuplikan komentar netizen yang marak terdapat di medsos. Ketika seseorang hendak melakukan ghibah maka yang lain memberikan saran agar menundanya hingga waktu setelah berbuka. Boleh jadi motivasinya adalah anggapan bahwa ghibah itu dilarang ketika sedang puasa dan boleh setelah berbuka puasa sehingga ia harus menundanya sehabis berbuka, atau mungkin hal itu dilakukan agar puasanya tidak batal karena ghibah saat sedang puasa itu dapat menjadikan puasa batal. Benarkah demikian?

 

Gibah yang semacam ini pernah terjadi di masa Rasul SAW. Imam Ahmad meriwayatkan “Suatu ketika ada dua wanita yang berpuasa dan keduanya hampir mati kehausan di waktu siang yang terik. Lalu seorang laki-laki memberitahukan hal itu kepada Nabi SAW namun beliau berpaling. Kemudian laki-laki itu kembali lagi kepada Nabi dan berkata: ‘Wahai Nabi Allah, demi Allah keduanya hampir mati.’ Maka beliau bersabda: ‘Panggil keduanya.’ Lalu keduanya datang. Kemudian dibawakan sebuah bejana. Beliau berkata kepada salah satunya: ‘Muntahkanlah!’ Maka ia memuntahkan nanah, darah, cairan busuk, dan daging hingga setengah bejana penuh. Lalu beliau berkata kepada yang lain: ‘Muntahkanlah!’ Maka ia memuntahkan nanah, darah, cairan busuk, dan daging segar serta lainnya hingga bejana penuh. Kemudian beliau bersabda:

إِنَّ هَاتَيْنِ صَامَتَا عَمَّا أَحَلَّ اللَّهُ وَأَفْطَرَتَا عَلَى مَا حَرَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِمَا

“Sesungguhnya kedua wanita ini berpuasa dari apa yang Allah halalkan, tetapi berbuka dengan apa yang Allah haramkan atas mereka”.

“Salah satunya duduk bersama yang lain, lalu mereka berdua memakan daging manusia (yakni dengan menggunjing).’ [HR Ahmad]

 

Dengan demikian Imam as‑Syirazi berkata :

وَيَنبَغِي لِلصَّائِمِ أَنْ يُنَزِّهَ صَومَهُ عَنِ الغِيبَةِ

sebaiknya orang yang berpuasa menjauhkan puasanya dari perbuatan ghibah” [Al-Muhadzdzab]

 

Namun supaya tidak salah paham sebagaimana kejadian di atas, maka Imam Nawawi menjelaskan : “Perkataan tersebut maksudnya adalah semakin ditekankan untuk menjauhi hal itu (ghibah) bagi orang yang berpuasa dibandingkan dengan selainnya, karena adanya hadits (yang spesifik melarangnya). Jika tidak dipahami demikian maka orang yang tak berpuasa pun sebaiknya menjauhi hal itu juga dan diperintahkan untuk menjauhinya dalam setiap keadaan (yakni puasa atau tidak)”. [Al-Majmu’]

 

Jadi ghibah ketika puasa ataupun di luar puasa itu sama-sama terlarang. Secara umum, ghibah mendatangkan dosa yang digambarkan siksanya oleh Rasul SAW. Beliau  bersabda : Ketika Tuhanku ‘Azza wa Jalla memperjalankan aku (Isra’ Mi‘raj), aku melewati suatu kaum

لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ

“Yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka mencakar wajah dan dada mereka sendiri”.

Maka aku bertanya: Siapakah mereka ini, wahai Jibril? Ia menjawab: Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan menjatuhkan kehormatan mereka. [HR Ahmad]

 

Jika demikian adanya, maka jika ghibah dilakukan di bulan ramadhan yang mulia tentu akan lebih besar dosanya dan lebih berat siksanya. Rasul SAW bersabda:

فَاتَّقُوا شَهْرَ رَمَضَانَ، فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ تُضَاعَفُ فِيهِ مَا لَا تُضَاعَفُ فِيمَا سِوَاهُ، وَكَذَلِكَ السَّيِّئَاتُ

Maka takutlah kalian terhadap bulan Ramadhan, karena sesungguhnya kebaikan dilipatgandakan di dalamnya dengan kadar yang tidak dilipatgandakan di selainnya, demikian pula keburukan." [HR Thabarani]

 

Namun demikian, ghibah tidak menjadikan puasa batal. Imam Nawawi berkata :

فَلَوِ اغْتَابَ فِي صَوْمِهِ عَصَى وَلَمْ يَبْطُلْ صَوْمُهُ عِنْدَنَا

“Maka jika seseorang berpuasa lalu melakukan ghibah, ia berdosa tetapi puasanya tidak batal menurut kami (Syafi’iyyah)”. [Al-Majmu’]

Demikianlah pendapat … seluruh ulama, kecuali al-Awza‘i yang berpendapat bahwa puasa batal karena ghibah dan wajib diqadla.” [Al-Majmu’]

 

Ya memang benar puasanya tetap sah, dan puasa itu adalah perisai. Rasul SAW bersabda :

الصَّوْمُ جُنَّةٌ
“Puasa adalah perisai.” [HR An-Nasa’i]

Dalam riwayat lain : “Puasa adalah perisai dari azab Allah.” [HR Baihaqi] Dan dalam riwayat lain pula dinyatakan : “Puasa adalah perisai yang dengannya seorang hamba berlindung dari api neraka”. [HR Thabrani]. Namun ingat bahwa beliau masih melanjutkan :

"الصِّيَامُ جُنَّةٌ مَا لَمْ يَخْرِقْهُ"

"Puasa adalah perisai selama tidak ia robek."

قِيلَ: وَبِمَ يَخْرِقُهُ؟ قَالَ:"بِكَذِبٍ، أَوْ غِيبَةٍ

Ditanyakan: "Dengan apa ia merobeknya?" Beliau menjawab: "Dengan dusta atau ghibah." [HR Thabrani]

 

Maka sungguh disayangkan jika seseorang punya perisai namun perisai itu robek sehingga tidak bisa lagi melindungi dirinya dari adzab neraka. Dan puasa menjadi sia-sia. Rasul SAW mengingatkan hal ini dalam hadits :

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”[HR Ahmad]

 

Dan dalam hadits utama juga dinyatakan : “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dengannya, maka Allah tidak menghendaki ia meninggalkan makan dan minum.” .”[HR Bukhari] hadits utama ini sepertinya tidak nyambung dengan materi ghibah karena haditsnya membicarakan bohong. Ya, sekilas tampak demikian namun Imam Tirmidzi dalam sunan-nya menriwayatkan hadits ini di dalam bab penekanan larangan ghibah bagi orang yang berpuasa. Menurut Al-Mubarakfuri hal ini dikarenakan Imam tirmidzi dan Ashabus sunan memahami larangan “perkataan dustasebagai perintah untuk menjaga lisan (secara keseluruhan). [Tuhfatul Ahwadzi]

 

 

 

Jadi jika ada orang yang mengajak ghibah selepas berbuka maka jangan turuti rencana itu. Sebab dengan mengurungkan niat kejelekan maka seseorang akan terlepas dari dosa

Rasul SAW bersabda :

وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ

Barangsiapa berniat melakukan suatu keburukan lalu tidak jadi melakukannya, maka hal itu tidak dicatat sebagai kejelekan. [HR Muslim]

Bahkan mendapatkan pahala sebagaimana Rasul SAW bersabda :

وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً

Barangsiapa berniat melakukan suatu keburukan lalu tidak jadi melakukannya, maka Allah akan mencatatnya sebagai satu kebaikan yang sempurna. [HR Bukhari]

 

Marilah kita jaga kemuliaan bulan ramadhan dengan menjauhi maksiat. Rasul SAW bersabda :

إِنَّ أُمَّتِي لَنْ تَخْزَى مَا أَقَامُوا صِيَامَ رَمَضَانَ».

Sesungguhnya umatku tidak akan mendapatkan kehinaan selama mereka menegakkan puasa Ramadhan."

Ditanyakan : "Wahai Rasulullah, apa bentuk kehinaan mereka jika menyia-nyiakan bulan Ramadhan?" Beliau menjawab:

انْتِهَاكُ الْمَحَارِمِ فِيهِ

"Melanggar hal-hal yang diharamkan di dalamnya. [HR Thabarani]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk senantiasa menjaga diri dari ghibah dan perkara haram lainnya terutama di bulan ramadhan.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

RENUNGAN AKHIR RAMADHAN #9

 

ONE DAY ONE HADITH


Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”[HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Ketika berada di penghujung Ramadhan, ada kegalauan di hati setiap orang beriman. Ada beberapa renungan di dalam hati. Ramadhan pasti datang tahun depan namun apakah ketika ia datang lagi apakah kita masih berada di atas tanah atau malah sudah berkalang tanah. Jika ramadhan kali ini menjadi ramadhan terakhir dalam hidup kita lantas apakah sudah maksimal ibadah puasa dan qiyamul lail kita. Sejauh mana puasa membentuk ketakwaan yang menjadi tujuannya “La’allakum Tattaqun”. Dan lebih penting lagi apakah semua ibadah yang telah dilakukan itu diterima oleh Allah ataukah sekedar menggugurkan kewajiban sebagaiman dinyatakan dalam hadits utama tadi?

 

Hal yang demikian menjadi konsen para sahabat Nabi. Ma’la bin Fadl menceritakan :

كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ تَعَالَى ... سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْهُمْ

“Para sahabat nabi memohon kepada Allah selama enam bulan (pasca ramadhan) agar amalan mereka diterima.”[Latha’iful Ma’arif]

 

Ketika hari raya Idul Fitri, ‘Umar bin ‘Abdul Aziz berkhutbah :

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ صُمْتُمْ لِلَّهِ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، وَقُمْتُمْ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً،  وَخَرَجْتُمُ الْيَوْمَ تَطْلُبُونَ مِنَ اللَّهِ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْكُمْ

“Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. [Latha’iful Ma’arif]

 

Demikian pula hal itu dirasakan oleh salafus shalih. Ibnu Rajab berkata : “Sebagian salaf terlihat bersedih ketika hari raya Idul Fitri. Dikatakan  kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka menjawab :

صَدَقْتُمْ، وَلَكِنِّي عَبْدٌ أَمَرَنِي مَوْلَايَ أَنْ أَعْمَلَ لَهُ عَمَلًا، فَلَا أَدْرِي أَيَقْبَلُهُ مِنِّي أَمْ لَا؟

“Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.” [Latha’iful Ma’arif]

 

Berbicara apakah ibadah puasa kita diterima atau tidak maka kita bisa memeriksa sejauh mana ibadah puasa yang sudah dijalankan memberikan efek positif dan perubahan perilaku dalam kehidupan kita. Bukankah tujuan disyariatkan puasa adalahlah menjadikan seseorang bertakwa. Fudhalah bin ‘Ubaid berkata :

لَأَنْ أَكُونَ أَعْلَمَ أَنَّ اللهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا؛ لِأَنَّ اللهَ يَقُولُ:  إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Mengetahui bahwa Allah menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji sawi saja, itu lebih aku sukai dari pada dunia dan seisinya karena Allah berfirman “Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertaqwa”. .” [Latha’iful Ma’arif]

 

Saya jadi teringat dengan kisah orang bijak mengenai dua binatang yang sama-sama berpuasa namun hasil dari keduanya berbeda. Hewan pertama, yaitu ular. Ia berpuasa agar mampu menjaga kelangsungan hidupnya yaitu dengan cara mengganti kulitnya secara berkala. Ia berpuasa dalam kurun waktu tertentu, setelah itu barulah kulit luarnya terlepas dan iapun memiliki kulit yang baru. Meskipun demikian anehnya ular tetap seperti semula, tidak ada perubahan bentuk, tabiat bahkan kebiasaannya.

 

Kedua yaitu ulat. Ia termasuk hewan yang rakus, karena hampir sepanjang waktunya di habiskan untuk makan. Tapi begitu sudah bosan menjadi ulat, ia berpuasa dan mengasingkan diri, menjauhkan dari tempat makanan, membungkus badannya dengan kepompong, sehingga ia benar-benar berpuasa dan bukan sekedar menahan lapar dan haus saja. Bahkan mulut, mata dan anggota tubuh lainnya juga ikut berpuasa dan berusaha menghindari segala perkara dapat mengganggu puasanya. Lalu setelah beberapa minggu berpuasa, maka ulat keluar dari kepompong dengan bentuk yang baru yang sangat indah yaitu kupu-Kupu.

 

Pasca berpuasa sang ulat tak hanya mengganti kulit namun ia juga mengganti tabiat dan kebiasaannya. Kalau dulu ulat menjadi perusak alam pemakan daun maka kini setelah menjadi kupu-kupu, ia menghidupkan dan membantu kelangsungan kehidupan tumbuhan dengan cara membantu Penyerbukan Bunga.

 

Sekarang kita instrospeksi, apakah puasa kita seperti ular yang hanya berganti kulit yaitu baju baru di hari raya ataukah seperti ulat yang berubah tabiat dan kebiasaan. Dahulu sering mengganggu orang lain namun pasca puasa kita menjadi orang yang bermanfaat dan bermaslahat untuk orang lain?. Jika tidak ada perubahan maka puasa kita rupanya masuk kategori hadits utama yaitu “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” Namun jika ada perubahan menuju kepada yang lebih baik maka itu indikasi puasa kita diterima karena puasa kita mengantarkan kita menjadi pribadi yang bertakwa dan masuk dalam firman Allah “Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertaqwa”.

 

Renungan seperti ini sangat perlu dilakukan karena hal itu merupakan tanpa kita menjadi mukmin. Syeikh Hasan al-Bashri berkata :

ٱلْمُؤْمِنُ جَمَعَ إِحْسَانًا وَخَشْيَةً، وَٱلْمُنَافِقُ جَمَعَ إِسَاءَةً وَأَمْنًا.

Orang beriman menggabungkan amal yang baik dan rasa takut kepada Allah. Sedangkan orang munafik menggabungkan keburukan dan merasa aman dari siksa Allah. [Tafsir Lubabut Ta’wil]

 

Orang yang sudah mendapat garansi surga saja masih takut dan harap-harap cemas. Lihatlah Sayyidina Abu bakar RA, ia berkata :

لَوْ كَانَتْ إِحْدَى قَدَمَيَّ دَاخِلَ الْجَنَّةِ وَالْأُخْرَى خَارِجَهَا، مَا أَمِنْتُ مَكْرَ اللَّهِ.

“Seandainya satu kakiku sudah di surga dan satu lagi di luar, aku belum merasa aman dari makar Allah." [Kitab Ad-Daril Akhirah]

 

Dan lihat pula Sayyidina Umar RA, ia berkata : "Seandainya ada penyeru berseru: 'Seluruh manusia akan masuk neraka kecuali satu orang,' maka aku berharap akulah orang itu”.

وَلَوْ نُودِيَ لِيَدْخُلِ الْجَنَّةَ كُلُّ النَّاسِ إِلَّا رَجُلًا وَاحِدًا، لَخَشِيتُ أَنْ أَكُونَ أَنَا ذَلِكَ الرَّجُلَ.

“Dan seandainya ada penyeru berseru: 'Seluruh manusia akan masuk surga kecuali satu orang,' maka aku takut akulah orang itu." [Ihya Ulumiddin]

 

 

Maka tiada kebaikan dan kebahagiaan melainkan amal puasa kita diterima Allah SWT. Nabi dan para sahabat menjarkan agar saling mendoakan demikian. Khalid bin Ma’dan RA, berkata : Aku menemui Watsilah bin Al-Asqa’ pada hari Id, lalu aku mengatakan, ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka”. Lalu ia menjawab, ‘Iya, Taqabbalallah Minna Wa Minka, Kemudian Watsilah berkata, ‘Aku menemui Rasulullah SAW pada hari Id lalu aku mengucapkan ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka’, kemudian Rasulullah SAW menjawab,

نَعَمْ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ

“Ya, semoga Allah menerima (amal baik) dariku dan darimu”. [HR Baihaqi]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk khawatir akan amal baik kita tidak diterima Allah SWT sehingga kita terus semangat beribadah dan tidak menyombongkan amal kebaikan di hadapan manusia.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts