إنَّ اللّهَ أَوْحَىٰ إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّىٰ لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ علىٰ أَحَدٍ، وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَىٰ أَحَدٍ

"Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menyuruh kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya di hadapan orang lain, dan tidak seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain." [HR Muslim]

أَرْفَعُ النَّاسِ قَدْرًا : مَنْ لاَ يَرَى قَدْرَهُ ، وَأَكْبَرُ النَّاسِ فَضْلاً : مَنْ لَا يَرَى فَضْلَهُ

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah melihat kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah melihat kemuliannya (merasa mulia).” [Syu’abul Iman]

الإخلاص فقد رؤية الإخلاص، فإن من شاهد في إخلاصه الإخلاص فقد احتاج إخلاصه إلى إخلاص

"Ikhlas itu tidak merasa ikhlas. Orang yang menetapkan keikhlasan dalam amal perbuatannya maka keihklasannya tersebut masih butuh keikhlasan (karena kurang ikhlas)." [Ihya’ Ulumuddin]

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur." [HR Muslim]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu.”[HR Ahmad]

Sunday, February 22, 2026

MANDI DI BULAN RAMADHAN

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW Bersabda :

حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَغْتَسِلَ فِي كُلِّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ يَوْمًا يَغْسِلُ فِيهِ رَأْسَهُ وَجَسَدَهُ

Adalah hak atas setiap Muslim agar ia mandi dalam setiap tujuh hari sekali, dimana ia mencuci kepalanya dan seluruh tubuhnya.” [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Dalam agama Islam, mandi bukan sekedar kebiasaan seperti mandi karena badan berkeringat sehabis olahraga atau berdebu sehabis bepergian jauh akan tetapi mandi menjadi rangkaian ibadah seperti mandi pada hari jum’at, sebagaimana dinyatakan dalam hadits utama di atas. Dalam Islam, mandi itu bisa mendatangkan pahala karena mandi itu ada yang hukumnya wajib dan ada pula yang sunnah dan kesemuanya itu jika dikerjakan akan mendatangkan pahala.

 

Di tengah bulan suci ramadhan, mandi merupakan satu kesunnahan sebagaimana dimaklumi dalam Madzhab Syafi’i. Sayyid Bakri Syatha berkata :

وَمِنَ الأَغْسَالِ المُسْنُونَةِ الغُسْلُ لِكُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ

“Termasuk mandi-mandi yang disunnahkan adalah mandi setiap malam di bulan Ramadan”. [I’anatut Thalibin]

 

Mandi yang bagaimanakah itu? Beliau melanjutkan : “Dalam kitab al-Nihayah disebutkan: al-Adzra‘i mengkhususkannya bagi orang yang akan menghadiri shalat berjamaah, namun pendapat yang lebih kuat adalah berlaku umum karena mengikuti redaksi ulama. Syekh ‘Ali al-Syibramallisi berkata: Waktu mandi itu dimulai sejak terbenam matahari dan berakhir dengan terbit fajar.” [I’anatut Thalibin]

 

Ketika di bulan ramadhan kita dianjurkan untuk memperbanyak melakukan I’tikaf di masjid. Dan kita juga dianjurkan untuk mandi dalam rangkan I’tikaf. Sayyid Bakri Syatha berkata :

مِنَ الأَغْسَالِ المُسْنُونَةِ الغُسْلُ لِلِاعْتِكَافِ فِي المَسْجِدِ

“Termasuk mandi-mandi yang disunnahkan adalah mandi untuk i‘tikaf di masjid.” [I’anatut Thalibin]

Demikian pula ketika di bulan ramadhan banyak diadakan majelis pengajian. Untuk mendatanginya kita dianjurkan untuk mandi terlebih dahulu. Sayyid Bakri Syatha berkata :

وَمِنَ الأَغْسَالِ المُسْنُونَةِ أَيْضًا: الغُسْلُ لِكُلِّ مَجْمَعٍ مِنْ مَجَامِعِ الخَيْرِ، كَمَجَالِسِ الوَعْظِ، وَالذِّكْرِ، وَالتَّعْلِيمِ، وَالتَّعَلُّمِ.

“Dan termasuk mandi-mandi yang disunnahkan juga adalah mandi untuk setiap pertemuan dari pertemuan-pertemuan kebaikan, seperti majelis nasihat, dzikir, pengajaran, dan pembelajaran.” [I’anatut Thalibin]

 

Boleh jadi mandi yang demikian akan membantu seseorang untuk lebih semangat melakukan shalat berjamaah dan tarawih. Badan yang lemas setelah berpuasa akan menjadi segar dengan mandi. Dengan demikian ia akan lebih banyak melakukan kebaikan dan ibadah di malam hari bulan ramadhan. Dan kesunnahan mandi pada setiap malam itu tidak kami temukan haditsnya secara spesifik sehingga para ulama mengqiyaskannya pada mandi pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan.

 

Dalam madzhab Hanbali, mandi ketika bulan ramadhan itu dianjurkan secara khusus pada sepuluh terakhir. Al-Hafidz Ibnu Rajab dalam Lathaiful Ma’arif ketika membahas amalan di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan beliau mengemukakan hadits : bahwasannya Nabi SAW mandi antara Maghrib dan Isya pada setiap malam Ramadan, Yakni sepuluh malam terakhir. Hudzayfah pernah bersama Nabi SAW di malam Ramadan, lalu Nabi mandi dan ditutupi oleh Ḥudzayfah. Sisa air digunakan oleh Hudzayfah untuk mandi, dan Nabi menutupinya. [Lathaiful Ma’arif]

 

Ibn Jarir meriwayatkan bahwa para ulama salaf menyukai mandi setiap malam dari sepuluh malam terakhir Ramadan dan Al-Nakha‘i melakukan mandi pada setiap malam di sepuluh terakhir. Sebagian ulama melakukan mandi dan memakai wewangian pada malam-malam yang lebih diharapkan sebagai Lailatul Qadr. Anas ibn Malik memiliki kebiasaan yaitu mandi pada malam 24 Ramadan, lalu memakai wewangian, dan mengenakan pakaian indah. Setelah pagi, beliau melipatnya dan tidak memakainya lagi hingga malam yang sama tahun berikutnya. [Lathaiful Ma’arif]

 

Al-Hafidz Ibnu Rajab menyimpulkan : “Maka jelaslah dengan ini bahwa dianjurkan pada malam-malam yang diharapkan sebagai Lailatul Qadr untuk membersihkan diri, berhias, dan memakai wewangian dengan mandi, parfum, dan pakaian yang indah, sebagaimana hal itu disyariatkan pada hari Jumat dan hari-hari raya… Ibnu Umar berkata: ‘Allah lebih berhak untuk seseorang berhias di hadapan-Nya.’ Dan beliau juga berkata:

وَلَا يَكْمُلُ التَّزَيُّنُ الظَّاهِرُ إِلَّا بِتَزَيُّنِ البَاطِنِ

“Dan tidaklah sempurna berhias lahir kecuali dengan berhias batin”

Yaitu melalui taubat dan kembali kepada Allah Ta‘ala serta membersihkannya dari noda dan kotoran dosa. Sebab, berhias lahiriah sementara batinnya rusak tidak akan memberi manfaat apa pun.” [Lathaiful Ma’arif]

 

Adapun mandi pada malam pertama bulan ramadhan yang dianggap bisa mencegah penyakit gatal-gatal sampai ramadhan tahun berikutnya sebagaimana ditemukan beredar di medsos maka kami tidak temukan sumber yang valid. Demikian pula mandi khusus di setiap malam ramadhan sebagaimana pokok bahasan ini, kami tidak menemukan hadits yang spesifik sehingga hukum mandi tersebut bisa berbeda antar madzhab.

 

Adapun mandi karena junub maka itu tidak terkait secara langsung dengan bulan ramadhan dan aktifitas berpuasa. Ia berkaitan dengan shalat fardlu dimana diharuskan suci dari najis dan hadas. Diriwayatkan dari ‘Aisyah RA, Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, Wahai Rasullah aku memasuki waktu shalat (Shubuh) dalam keadaan junub, bolehkah aku berpuasa? Rasulullah SAW menjawab :

وَأَنَا تُدْرِكُنِي الصَّلَاةُ وَأَنَا جُنُبٌ فَأَصُومُ

“Aku juga –kadang- memasuki waktu shalat dalam keadaan junub dan aku tetap berpuasa”.

 

Orang tersebut berkata, engkau bukan seperti kami, Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan akan datang. Rasul SAW  bersabda : “Demi Allah, Aku beraharap akulah yang paling takut kepada Allah (tidak sembrono) di antara kalian dan paling tahu apa yang harus dihindari”. [HR Muslim]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk semakin termotivasi melakukan kebaikan dalam bulan suci ramadhan diantaranya adalah mandi pada setiap malamnya.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Saturday, February 21, 2026

INDUKNYA KITAB SUCI

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW Bersabda :

أُمُّ الْقُرْآنِ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ

Ummul Qur’an itu adalah as-Sab‘ul-Matsani, dan (sebagian dari) Al-Qur’an yang agung.” [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Sering kita dengar imam memandu jama’ah untuk membaca surat fatihah seperti sehabis shalat, dalam acara tahlil bahkan dalam pembukaan setiap acara kita mendengar seruan “Al-Fatihah”. Sering juga al-Fatihah dibaca untuk tercapainya satu hajat baik yang disebutkan secara spesifik maupun tidak. Ada apa dengan fatihah? Kenapa tidak diserukan dengan surat lain dari 114 Surat dalam Al-Qur’an?

 

Surat Al-Fatihah itu dahsyatnya luar biasa. Kenapa? karena ia adalah “Ummul Qur’an” induk dari kitab suci Al-Qur’an. Dalam hadits utama disebutkan : Ummul Qur’an itu adalah as-Sab‘ul-Matsani, dan (sebagian dari) Al-Qur’an yang agung.” [HR Bukhari]

 

Ibnu Hajar Al-Asqalani mensyarahi : Lafad “Al-Qur’an Al-Qadzim” pada hadits tersebut bukan athaf kepada “As-Sab’ul Matsani” karena Fatihah itu bukanlah Al-Qur’an itu sendiri secara keseluruhan. Boleh mengucapkan Al-Qur’an untuk merujuk kepada surat fatihah karena fatihah itu bagian dari Al-Qur’an tetapi bukan Al-Qur’an itu sendiri secara keseluruhan… “At-Thabari meriwayatkan dengan dua sanad yang baik dari Umar kemudian dari Ali bahwa “al-Sab‘ul-Matsani (Tujuh ayat yang diulang-ulang) adalah Fatihatul Kitab (pembuka Al-Quran Yakni Al-Fatihah)”. Dalam riwayat Umar ada tambahan : “karena ia (Fatihah) itu diulang-ulang (pembacaannya) dalam setiap rakaat.” ... Satu ketika Ibn Abbas membaca al-Fatihah lalu berkata : “Itu adalah Fatihatul Kitab, dan Bismillahir Rahmanir Rahim adalah ayat yang ketujuh.” [Fathul Bari]

 

Tiada surat yang sedahsyat Fatihah. Diriwayatkan dari ubay Bin Ka’b RA, Rasul SAW bersabda :

مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ مِثْلَ أُمِّ الْقُرْآنِ وَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَهِيَ مَقْسُومَةٌ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

“Allah tidak menurunkan dalam Taurat maupun Injil sesuatu yang serupa dengan Ummul Qur’an (al-Fatihah). Ia adalah as-Sab‘ul-Matsani, dan ia terbagi antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” [HR Tirmidzi]

 

Mengapa Al-Fatihah disebut dengan induknya Al-Qur’an? Imam Suyuthi berkata: Para ulama berbeda pendapat mengapa fatihah dinamakan dengan Ummul Qur’an. Ada yang mengatakan karena ia ditulis pertama kali dalam mushaf dan dibaca ketika shalat sebelum membaca surah (yang lain)…Ada juga pendapat: karena ‘umm’ itu artinya permulaan, sebagaimana ibu adalah permulaan anak. Al-Mawardi berkata: dinamakan demikian karena ia mendahului dan (surat-surat) yang lain mengikuti setelahnya. Ada pula yang mengatakan bahwa

أُمُّ الشَّيْءِ أَصْلُهُ، وَهِيَ أَصْلُ القُرْآنِ لانْطِوَائِهَا عَلَى جَمِيعِ أَغْرَاضِ القُرْآنِ وَمَا فِيهِ مِنَ العُلُومِ وَالحِكَمِ

‘umm’ berarti asal, dan al-Fatihah adalah asal al-Qur’an karena mencakup seluruh maksud al-Qur’an, ilmu-ilmu, dan hikmah-hikmahnya.” [Al-Itqan Fi Ulumil Qur’an]

 

Pendapat terakhir ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh Abu Bakar syatha : “Diriwayatkan bahwa kitab-kitab suci yang diturunkan dari langit ke bumi berjumlah 104 kitab : 60 kepada Syits diturunkan, 30 kepada Ibrahim, 10 kepada Musa sebelum Taurat, kemudian Taurat, Injil, Zabur, dan Furqan (al-Qur’an).

وَأَنَّ مَعَانِيَ كُلِّ الكُتُبِ مَجْمُوعَةٌ فِي القُرْآنِ، وَمَعَانِيهِ مَجْمُوعَةٌ فِي الفَاتِحَةِ، وَلِهَذَا سُمِّيَتْ أُمَّ الكِتَابِ

Dan sesungguhnya makna dari semua kitab itu terkumpul dalam al-Qur’an, sedangkan makna dari al-Qur’an terkumpul dalam al-Fatihah. Oleh karena itu al-Fatihah dinamakan Umm al-Kitab (induknya Qur’an).” [I’anatut Thalibin]

 

Surat fatihah sebagai induk dari Al-Qur’an memiliki keutamaan. Diantaranya adalah sebagai sarana mencapai hajat bagi seseorang. Abu Hurairah RA berkata "Bacalah Ummul Qur'an dalam dirimu, karena aku mendengar Rasulullah bersabda, 'Allah berfirman :

 

قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

"Aku membagi shalat antara Aku dengan hambaKu, dan hambaku mendapatkan sesuatu yang dia minta”.

 

“Apabila seorang hamba berkata : “Alhamdulillahi rabbil Alamin” (Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam). Maka Allah berfirman : 'HambaKu memujiKu.' Apabila ia mengucapkan, “Ar-rahmanir rahim” (Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang).' Allah berfirman : 'HambaKu memujiKu.' Apabila ia mengucapkan, “Maliki Yaumid din” (Pemilik hari kiamat). Allah berfirman : 'HambaKu memujiku. HambaKu menyerahkan urusannya kepadaKu.' Apabila ia mengucapkan, “Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in” (Hanya kepadaMulah aku menyembah dan hanya kepadaMulah aku memohon pertolongan).' Allah berfirman: 'Ini adalah antara Aku dengan hambaKu. Dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta'. Apabila hamba tersebut mengucapkan, “Ihdinas Shirathal Mustaqim Shirathal ladzina an’amta Alayhim Ghairil Magdlubi Alayhim walad Dhallin” ('Berilah kami petunjuk jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri ni kmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang sesat). Allah berfirman : 'Ini untuk hambaKu, dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta'." [HR Muslim]

 

Dan ulama Darul Ifta Mesir berkata : Dengan hadits ini, sebagian ulama berhujjah bahwa :

مَا قَرَأَ أَحَدٌ الفَاتِحَةَ لِقَضَاءِ حَاجَةٍ وَسَأَلَ حَاجَتَهُ إِلَّا قُضِيَتْ

“Tidaklah seseorang membaca al-Fatihah untuk suatu hajat, lalu ia memohon hajatnya, melainkan hajat itu akan dipenuhi.” [dar-alifta org]

Disamping induknya Qur’an, Al-Fatihah juga menjadi Surat paling agung. Abu Sa’id Rafi’ bin Al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu berkata : ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengatakan,

لأُعَلِّمَنَّكَ أعْظَمَ سُورَةٍ في القُرْآنِ

‘Aku akan mengajarkanmu surah yang paling agung dalam Al-Qur’an?’

Beliau menjawab, ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin (surah Al-Fatihah), itu adalah as-sab’ul matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang), dan Al-Qur’an Al-‘Adzim (Al-Qur’an yang agung) yang telah diberikan kepadaku.” [HR Bukhari]

 

Sebagai induk dari Qur’an, Al-Fatihah memiliki cara yang unik ketika diturunkan. Ibnu Abbas RA berkata : Ketika malaikat Jibril sedang duduk di samping Nabi SAW tiba-tiba ia mendengar suara pintu dibuka dari arah atas kepala. Lalu malaikat Jibril berkata: "Itu adalah suara salah satu pintu langit yang dibuka, sebelumnya ia belum pernah dibuka sama sekali kecuali pada hari ini." Lalu keluarlah daripadanya malaikat. Jibril berkata: "Ini adalah malaikat yang hendak turun ke bumi, sebelumnya ia belum pernah turun ke bumi sama sekali kecuali pada hari ini saja." Lalu ia memberi salam dan berkata: "Bergembiralah atas dua cahaya yang diberikan kepadamu dan belum pernah diberikan kepada seorang Nabipun sebelummu, yaitu pembuka Al-Kitab (surat Fatihah) dan penutup surat Al Baqarah”.

لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ

“Tidaklah kamu membaca satu huruf dari kedua surat itu kecuali pasti akan diberikan kepadamu."  [HR Muslim]

 

Ada keterangan menarik dari Syekh Ismail Haqqi al-Burusawi : “Syekh al-Akbar (Ibnu ‘Arabi) dalam al-Futuhat berkata: Ketika engkau membaca al-Fatihah, maka Jibril AS menyampaikan dari Mikail AS, dari Israfil AS, bahwa Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai Israfil, demi keperkasaan-Ku, keagungan-Ku, kemurahan-Ku, dan kedermawanan-Ku,

مَنْ قَرَأَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مُتَّصِلَةً بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ مَرَّةً وَاحِدَةً

“Barangsiapa membaca Bismillahir Rahmanir Rahim dengan disambungkan dengan al-Fatihah sekali saja”,

“maka saksikanlah bahwa Aku telah mengampuninya, menerima amal baiknya, mengampuni kesalahannya, tidak akan membakar lidahnya dengan api, melindunginya dari siksa kubur, siksa neraka, siksa hari kiamat, dan dari ketakutan yang besar. Ia akan berjumpa dengan-Ku sebelum para nabi dan para wali seluruhnya.’” [Ruhul Bayan fi Tafsir al-Qur’an]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk senantiasa membaca Al-Quran dan  merenungkan maknanya serta melaksanakan isinya, termasuk surat al-Fatihah yang merupakan induk dari al-Quran.

 

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Friday, February 20, 2026

PUASA BATHIN

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW Bersabda :

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya melainkan lapar saja.” [HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Puasa dalam bahasa Arab disebut dengan shaum. Shaum sendiri bermakna menahan. Puasa didefinisikan dengan :

إِمْسَاكٌ عَنِ الْمُفْطِرِ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوصٍ

menahan diri dari perkara yang membatalkan dengan cara tertentu. [Fathul Wahhab]

 

Ditinjau dari sisi bathin, puasa memiliki beberapa tingkatan. Dalam Ihya ulumiddin, Imam Ghazali berkata :

اِعْلَمْ أَنَّ الصَّوْمَ ثَلاثُ دَرَجَاتٍ: صَوْمُ الْعُمُومِ وَصَوْمُ الْخُصُوصِ وَصَوْمُ خُصُوصِ الْخُصُوصِ.

Ketahuilah bahwa puasa itu ada tiga derajat : Puasa umum, puasa khusus dan puasa khususil khusus. [Ihya ulumiddin]

 

Lebih lanjut Imam Ghazali menjelaskan : Pertama, Puasa umum dan ini merupakan puasanya kebanyakan orang (awam) yaitu menahan perut dari makanan dan menahan kemaluan dari syahwat. Kenyataannya memang demikian. Kebanyakan orang berpuasa berpinsip yang peting tidak makan minum dan tidak berjima’ dengan istri di siang bulan ramadhan.

 

Kedua, Puasa khusus dan ini merupakan puasanya orang-orang shalih. Yaitu menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Dan ini adalah puasanya orang-orang shalih. Kesempurnaan puasa tingkatan ini adalah dengan enam perkara yaitu :

 

(1) Menjaga Pandangan dari melihat hal-hal tercela, yang membangkitkan syahwat, atau melalaikan dari mengingat Allah. Nabi SAW bersabda:

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومَةٌ، فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللهِ أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ

“Pandangan (yang haram) adalah salah satu anak panah beracun dari panah-panah Iblis. Maka barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberinya iman yang manisnya dapat ia rasakan dalam hati.” [HR Al-Hakim]

 

(2) Menjaga Lisan dari ucapan sia-sia, dusta, ghibah, adu domba, kata-kata kotor, debat kusir dan mengisi lisan dengan dzikir dan tilawah. Mujahid berkata :

خَصْلَتَانِ يُفْسِدَانِ الصِّيَامَ: الغِيبَةُ وَالكَذِبُ

“Dua perkara yang merusak puasa yaitu ghibah dan dusta.” [Ihya]

 

Diriwayatkan bahwa ada dua orang wanita berpuasa pada masa Rasul SAW. Menjelang sore, keduanya sangat lapar dan haus hingga hampir pingsan. Lalu mereka mengirim utusan kepada Rasul untuk meminta izin berbuka. Rasul SAW mengirimkan sebuah bejana dan bersabda : Katakan kepada mereka, muntahkanlah ke dalam bejana ini apa yang kalian makan. Maka salah satunya memuntahkan setengah bejana berupa darah segar dan daging mentah, dan yang lain memuntahkan hal yang sama hingga penuh. Orang-orang pun keheranan melihat hal itu. Rasul SAW bersabda:

هَاتَانِ صَامَتَا عَمَّا أَحَلَّ اللَّهُ لَهُمَا وَأَفْطَرَتَا عَلَى مَا حَرَّمَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِمَا

Kedua wanita ini berpuasa dari apa yang Allah halalkan bagi mereka, tetapi berbuka dengan apa yang Allah haramkan atas mereka.

Keduanya duduk bercengkrama sambil maka daging manusia (yaitu dengan menggunjing mereka).  [HR Ahmad]

 

(3) Menjaga Pendengaran dari hal-hal yang haram, seperti ghibah atau kebohongan. Allah menyamakan pendengar kebohongan dengan pemakan harta haram. Nabi SAW bersabda:

المُغْتَابُ وَالمُسْتَمِعُ شَرِيكَانِ فِي الإِثْمِ

“Penggunjing dan pendengar ghibah adalah sekutu dalam dosa.” [Ihya]

 

(4) Menjaga Anggota Tubuh Lain seperti tangan, kaki, dan seluruh anggota dari perbuatan maksiat. Menjaga perut dari makanan haram atau syubhat saat berbuka. Puasa seseorang akan sia-sia jika ia menahan diri dari perkara yang halal namun ia berbuka dengan perkara yang haram. Imam Ghzali berkata : “Perumpamaan orang yang berpuasa tetapi tetap melakukan hal-hal yang merusak puasanya,

مِثَالُ مَنْ يَبْنِي قَصْرًا وَيَهْدِمُ مِصْرًا

seperti orang yang membangun sebuah istana namun meruntuhkan kota.

 

Sesungguhnya makanan halal itu membahayakan bukan karena jenisnya, melainkan karena banyaknya. Maka puasa bertujuan untuk mengurangi jumlah makanan. Orang yang meninggalkan banyaknya obat karena takut mudarat, lalu beralih kepada racun, adalah orang yang bodoh. Yang haram itu ibarat racun yang membinasakan agama, sedangkan yang halal itu ibarat obat: sedikitnya bermanfaat, banyaknya membahayakan. Tujuan puasa adalah untuk mengurangi (makanan halal) agar tidak berlebihan.” [Ihya]

 

(5) Tidak Berlebihan dalam Memakan makanan yang Halal saat berbuka. Bukankah tujuan puasa itu adalah melemahkan syahwat dan nafsu. Jika seseorang ketika puasa di bulan ramadhan takaran makanannya sama saja dengan ketika tidak puasa, maka ruh puasa jadi hilang dan puasa menjadi sia-sia sebab Ia hanya memindah jam makan saja.

 

(6) Hati antara Khauf (cemas) dan Raja’ (penuh harap) setelah seseorang berbuka puasa. Takut kalau puasanya ditolak namun ia berharap agar diterima. Demikian pula sikap ini harus tetap ada setelah ibadah dilakukan. Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri, bahwa ia pernah melewati suatu kaum yang sedang tertawa. Maka ia berkata: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menjadikan bulan Ramadan sebagai gelanggang perlombaan bagi hamba-hamba-Nya, di mana mereka berlomba di dalamnya untuk taat kepada-Nya. Maka ada kaum yang mendahului lalu menang, dan ada kaum yang tertinggal lalu rugi. Maka sungguh mengherankan, sangat mengherankan, orang yang tertawa dan bermain pada hari ketika para pemenang telah berhasil dan para yang lalai telah gagal.

أَمَا وَاللهِ لَوْ كُشِفَ الغِطَاءُ لاشْتَغَلَ المُحْسِنُ بِإِحْسَانِهِ وَالمُسِيءُ بِإِسَاءَتِهِ

Ingatlah Demi Allah, seandainya tirai penutup itu disingkap, niscaya orang yang berbuat baik akan sibuk dengan kebaikannya, dan orang yang berbuat buruk akan sibuk dengan keburukannya. [Ihya]

Maksudnya kegembiraan orang yang diterima amalnya melupakannya akan bermain-main, sementara penyesalan orang yang ditolak amalnya akan menjadikannya tidak bisa tertawa.

 

Imam Ghazali berkata : Manusia kedudukannya di atas binatang karena manusia memiliki akal sementara hewan tidak memilikinya, tetapi manusia di bawah derajat malaikat karena manusia memiliki syahwat sedangkan malaikat tidak memilikinya. Jika manusia memperturukan syahwatnya maka derajatnya turun ke derajat asfalas safilin, derajat paling rendah dan bergabung dengan golongan hewan. Namun jika manusia mampu mengendalikan syahwatnya maka derajatnya naik ke derajat a’la illiyin. Derajat paling tinggi dan bergabung dengan derajat malaikat.

Malaikat itu didekatkan dengan Allah. Maka siapa saja yang bisa meneladani malaikat serta menyerupai akhlak mereka, maka ia akan dekat dengan Allah sebagaimana kedekatan malaikat. Sesungguhnya (manusia) yang menyerupai dengan yang dekat (malaikat), maka ia (manusia) pun menjadi dekat pula (seperti malaikat).

وَلَيْسَ القُرْبُ ثَمَّ بِالمَكَانِ بَلْ بِالصِّفَاتِ

Dan kedekatan disitu bukanlah dengan tempat, melainkan dengan sifat.” [Ihya]

 

Ketiga, Puasa khususil khusus dan ini merupakan puasanya para nabi, Shiddiqin dan Al-Muqarrabin. Yaitu puasa hati dari ambisi rendah dan pikiran duniawi, serta menahannya dari segala sesuatu selain Allah Ta‘ala sepenuhnya. Puasa ini batal dengan memikirkan selain Allah dan hari akhir, serta dengan memikirkan urusan dunia—kecuali dunia yang dimaksudkan untuk agama, karena itu termasuk bekal akhirat dan bukan bagian dari dunia.

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk menjadikan puasa kita tidak hanya urusan menahan perut namun juga urusan semua anggota badan bahkan urusan hati.

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]