• WhatsApp Channel : One Day One Hadith

    Bergabunglah bersama Saluran WhatsApp One Day One Hadith

  • Penerimaan Santri Baru 2026/2027

    Monggo nderek-nderek Nyethak Sholihin Sholihat dengan mendaftarkan putra putri jenengan ke PPW An-Nur 2 Al Murtadlo

  • Tadarus Akbar

    Tadarus Akbar oleh ribuan santri putra Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo

  • Sholat Tarawih Akbar

    Sekitar 3.000 santri putra melaksanakan Tarawih Akbar di Lapangan Utama Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo. Sabtu malam, 21 Februari 2026, lapangan center An-Nur II penuh dengan 24 saf santri berbaju putih

  • Bersama KAPOLRI

    Bersama Bapak Jenderal Listyo Sigit Prabowo - KAPOLRI dan Majelis Keluarga An-Nur 2

GHIBAH NUNGGU BUKA

 

ONE DAY ONE HADITH


Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dengannya, maka Allah tidak menghendaki ia meninggalkan makan dan minum.” .”[HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

“Tahan. Tahan. gak boleh ghibah karena masih satu jam lagi buka puasa”. Ini adalah salah satu cuplikan komentar netizen yang marak terdapat di medsos. Ketika seseorang hendak melakukan ghibah maka yang lain memberikan saran agar menundanya hingga waktu setelah berbuka. Boleh jadi motivasinya adalah anggapan bahwa ghibah itu dilarang ketika sedang puasa dan boleh setelah berbuka puasa sehingga ia harus menundanya sehabis berbuka, atau mungkin hal itu dilakukan agar puasanya tidak batal karena ghibah saat sedang puasa itu dapat menjadikan puasa batal. Benarkah demikian?

 

Gibah yang semacam ini pernah terjadi di masa Rasul SAW. Imam Ahmad meriwayatkan “Suatu ketika ada dua wanita yang berpuasa dan keduanya hampir mati kehausan di waktu siang yang terik. Lalu seorang laki-laki memberitahukan hal itu kepada Nabi SAW namun beliau berpaling. Kemudian laki-laki itu kembali lagi kepada Nabi dan berkata: ‘Wahai Nabi Allah, demi Allah keduanya hampir mati.’ Maka beliau bersabda: ‘Panggil keduanya.’ Lalu keduanya datang. Kemudian dibawakan sebuah bejana. Beliau berkata kepada salah satunya: ‘Muntahkanlah!’ Maka ia memuntahkan nanah, darah, cairan busuk, dan daging hingga setengah bejana penuh. Lalu beliau berkata kepada yang lain: ‘Muntahkanlah!’ Maka ia memuntahkan nanah, darah, cairan busuk, dan daging segar serta lainnya hingga bejana penuh. Kemudian beliau bersabda:

إِنَّ هَاتَيْنِ صَامَتَا عَمَّا أَحَلَّ اللَّهُ وَأَفْطَرَتَا عَلَى مَا حَرَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِمَا

“Sesungguhnya kedua wanita ini berpuasa dari apa yang Allah halalkan, tetapi berbuka dengan apa yang Allah haramkan atas mereka”.

“Salah satunya duduk bersama yang lain, lalu mereka berdua memakan daging manusia (yakni dengan menggunjing).’ [HR Ahmad]

 

Dengan demikian Imam as‑Syirazi berkata :

وَيَنبَغِي لِلصَّائِمِ أَنْ يُنَزِّهَ صَومَهُ عَنِ الغِيبَةِ

sebaiknya orang yang berpuasa menjauhkan puasanya dari perbuatan ghibah” [Al-Muhadzdzab]

 

Namun supaya tidak salah paham sebagaimana kejadian di atas, maka Imam Nawawi menjelaskan : “Perkataan tersebut maksudnya adalah semakin ditekankan untuk menjauhi hal itu (ghibah) bagi orang yang berpuasa dibandingkan dengan selainnya, karena adanya hadits (yang spesifik melarangnya). Jika tidak dipahami demikian maka orang yang tak berpuasa pun sebaiknya menjauhi hal itu juga dan diperintahkan untuk menjauhinya dalam setiap keadaan (yakni puasa atau tidak)”. [Al-Majmu’]

 

Jadi ghibah ketika puasa ataupun di luar puasa itu sama-sama terlarang. Secara umum, ghibah mendatangkan dosa yang digambarkan siksanya oleh Rasul SAW. Beliau  bersabda : Ketika Tuhanku ‘Azza wa Jalla memperjalankan aku (Isra’ Mi‘raj), aku melewati suatu kaum

لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ

“Yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka mencakar wajah dan dada mereka sendiri”.

Maka aku bertanya: Siapakah mereka ini, wahai Jibril? Ia menjawab: Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan menjatuhkan kehormatan mereka. [HR Ahmad]

 

Jika demikian adanya, maka jika ghibah dilakukan di bulan ramadhan yang mulia tentu akan lebih besar dosanya dan lebih berat siksanya. Rasul SAW bersabda:

فَاتَّقُوا شَهْرَ رَمَضَانَ، فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ تُضَاعَفُ فِيهِ مَا لَا تُضَاعَفُ فِيمَا سِوَاهُ، وَكَذَلِكَ السَّيِّئَاتُ

Maka takutlah kalian terhadap bulan Ramadhan, karena sesungguhnya kebaikan dilipatgandakan di dalamnya dengan kadar yang tidak dilipatgandakan di selainnya, demikian pula keburukan." [HR Thabarani]

 

Namun demikian, ghibah tidak menjadikan puasa batal. Imam Nawawi berkata :

فَلَوِ اغْتَابَ فِي صَوْمِهِ عَصَى وَلَمْ يَبْطُلْ صَوْمُهُ عِنْدَنَا

“Maka jika seseorang berpuasa lalu melakukan ghibah, ia berdosa tetapi puasanya tidak batal menurut kami (Syafi’iyyah)”. [Al-Majmu’]

Demikianlah pendapat … seluruh ulama, kecuali al-Awza‘i yang berpendapat bahwa puasa batal karena ghibah dan wajib diqadla.” [Al-Majmu’]

 

Ya memang benar puasanya tetap sah, dan puasa itu adalah perisai. Rasul SAW bersabda :

الصَّوْمُ جُنَّةٌ
“Puasa adalah perisai.” [HR An-Nasa’i]

Dalam riwayat lain : “Puasa adalah perisai dari azab Allah.” [HR Baihaqi] Dan dalam riwayat lain pula dinyatakan : “Puasa adalah perisai yang dengannya seorang hamba berlindung dari api neraka”. [HR Thabrani]. Namun ingat bahwa beliau masih melanjutkan :

"الصِّيَامُ جُنَّةٌ مَا لَمْ يَخْرِقْهُ"

"Puasa adalah perisai selama tidak ia robek."

قِيلَ: وَبِمَ يَخْرِقُهُ؟ قَالَ:"بِكَذِبٍ، أَوْ غِيبَةٍ

Ditanyakan: "Dengan apa ia merobeknya?" Beliau menjawab: "Dengan dusta atau ghibah." [HR Thabrani]

 

Maka sungguh disayangkan jika seseorang punya perisai namun perisai itu robek sehingga tidak bisa lagi melindungi dirinya dari adzab neraka. Dan puasa menjadi sia-sia. Rasul SAW mengingatkan hal ini dalam hadits :

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”[HR Ahmad]

 

Dan dalam hadits utama juga dinyatakan : “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dengannya, maka Allah tidak menghendaki ia meninggalkan makan dan minum.” .”[HR Bukhari] hadits utama ini sepertinya tidak nyambung dengan materi ghibah karena haditsnya membicarakan bohong. Ya, sekilas tampak demikian namun Imam Tirmidzi dalam sunan-nya menriwayatkan hadits ini di dalam bab penekanan larangan ghibah bagi orang yang berpuasa. Menurut Al-Mubarakfuri hal ini dikarenakan Imam tirmidzi dan Ashabus sunan memahami larangan “perkataan dustasebagai perintah untuk menjaga lisan (secara keseluruhan). [Tuhfatul Ahwadzi]

 

 

 

Jadi jika ada orang yang mengajak ghibah selepas berbuka maka jangan turuti rencana itu. Sebab dengan mengurungkan niat kejelekan maka seseorang akan terlepas dari dosa

Rasul SAW bersabda :

وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ

Barangsiapa berniat melakukan suatu keburukan lalu tidak jadi melakukannya, maka hal itu tidak dicatat sebagai kejelekan. [HR Muslim]

Bahkan mendapatkan pahala sebagaimana Rasul SAW bersabda :

وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً

Barangsiapa berniat melakukan suatu keburukan lalu tidak jadi melakukannya, maka Allah akan mencatatnya sebagai satu kebaikan yang sempurna. [HR Bukhari]

 

Marilah kita jaga kemuliaan bulan ramadhan dengan menjauhi maksiat. Rasul SAW bersabda :

إِنَّ أُمَّتِي لَنْ تَخْزَى مَا أَقَامُوا صِيَامَ رَمَضَانَ».

Sesungguhnya umatku tidak akan mendapatkan kehinaan selama mereka menegakkan puasa Ramadhan."

Ditanyakan : "Wahai Rasulullah, apa bentuk kehinaan mereka jika menyia-nyiakan bulan Ramadhan?" Beliau menjawab:

انْتِهَاكُ الْمَحَارِمِ فِيهِ

"Melanggar hal-hal yang diharamkan di dalamnya. [HR Thabarani]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk senantiasa menjaga diri dari ghibah dan perkara haram lainnya terutama di bulan ramadhan.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

RENUNGAN AKHIR RAMADHAN #9

 

ONE DAY ONE HADITH


Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”[HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Ketika berada di penghujung Ramadhan, ada kegalauan di hati setiap orang beriman. Ada beberapa renungan di dalam hati. Ramadhan pasti datang tahun depan namun apakah ketika ia datang lagi apakah kita masih berada di atas tanah atau malah sudah berkalang tanah. Jika ramadhan kali ini menjadi ramadhan terakhir dalam hidup kita lantas apakah sudah maksimal ibadah puasa dan qiyamul lail kita. Sejauh mana puasa membentuk ketakwaan yang menjadi tujuannya “La’allakum Tattaqun”. Dan lebih penting lagi apakah semua ibadah yang telah dilakukan itu diterima oleh Allah ataukah sekedar menggugurkan kewajiban sebagaiman dinyatakan dalam hadits utama tadi?

 

Hal yang demikian menjadi konsen para sahabat Nabi. Ma’la bin Fadl menceritakan :

كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ تَعَالَى ... سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْهُمْ

“Para sahabat nabi memohon kepada Allah selama enam bulan (pasca ramadhan) agar amalan mereka diterima.”[Latha’iful Ma’arif]

 

Ketika hari raya Idul Fitri, ‘Umar bin ‘Abdul Aziz berkhutbah :

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ صُمْتُمْ لِلَّهِ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، وَقُمْتُمْ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً،  وَخَرَجْتُمُ الْيَوْمَ تَطْلُبُونَ مِنَ اللَّهِ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْكُمْ

“Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. [Latha’iful Ma’arif]

 

Demikian pula hal itu dirasakan oleh salafus shalih. Ibnu Rajab berkata : “Sebagian salaf terlihat bersedih ketika hari raya Idul Fitri. Dikatakan  kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka menjawab :

صَدَقْتُمْ، وَلَكِنِّي عَبْدٌ أَمَرَنِي مَوْلَايَ أَنْ أَعْمَلَ لَهُ عَمَلًا، فَلَا أَدْرِي أَيَقْبَلُهُ مِنِّي أَمْ لَا؟

“Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.” [Latha’iful Ma’arif]

 

Berbicara apakah ibadah puasa kita diterima atau tidak maka kita bisa memeriksa sejauh mana ibadah puasa yang sudah dijalankan memberikan efek positif dan perubahan perilaku dalam kehidupan kita. Bukankah tujuan disyariatkan puasa adalahlah menjadikan seseorang bertakwa. Fudhalah bin ‘Ubaid berkata :

لَأَنْ أَكُونَ أَعْلَمَ أَنَّ اللهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا؛ لِأَنَّ اللهَ يَقُولُ:  إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Mengetahui bahwa Allah menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji sawi saja, itu lebih aku sukai dari pada dunia dan seisinya karena Allah berfirman “Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertaqwa”. .” [Latha’iful Ma’arif]

 

Saya jadi teringat dengan kisah orang bijak mengenai dua binatang yang sama-sama berpuasa namun hasil dari keduanya berbeda. Hewan pertama, yaitu ular. Ia berpuasa agar mampu menjaga kelangsungan hidupnya yaitu dengan cara mengganti kulitnya secara berkala. Ia berpuasa dalam kurun waktu tertentu, setelah itu barulah kulit luarnya terlepas dan iapun memiliki kulit yang baru. Meskipun demikian anehnya ular tetap seperti semula, tidak ada perubahan bentuk, tabiat bahkan kebiasaannya.

 

Kedua yaitu ulat. Ia termasuk hewan yang rakus, karena hampir sepanjang waktunya di habiskan untuk makan. Tapi begitu sudah bosan menjadi ulat, ia berpuasa dan mengasingkan diri, menjauhkan dari tempat makanan, membungkus badannya dengan kepompong, sehingga ia benar-benar berpuasa dan bukan sekedar menahan lapar dan haus saja. Bahkan mulut, mata dan anggota tubuh lainnya juga ikut berpuasa dan berusaha menghindari segala perkara dapat mengganggu puasanya. Lalu setelah beberapa minggu berpuasa, maka ulat keluar dari kepompong dengan bentuk yang baru yang sangat indah yaitu kupu-Kupu.

 

Pasca berpuasa sang ulat tak hanya mengganti kulit namun ia juga mengganti tabiat dan kebiasaannya. Kalau dulu ulat menjadi perusak alam pemakan daun maka kini setelah menjadi kupu-kupu, ia menghidupkan dan membantu kelangsungan kehidupan tumbuhan dengan cara membantu Penyerbukan Bunga.

 

Sekarang kita instrospeksi, apakah puasa kita seperti ular yang hanya berganti kulit yaitu baju baru di hari raya ataukah seperti ulat yang berubah tabiat dan kebiasaan. Dahulu sering mengganggu orang lain namun pasca puasa kita menjadi orang yang bermanfaat dan bermaslahat untuk orang lain?. Jika tidak ada perubahan maka puasa kita rupanya masuk kategori hadits utama yaitu “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” Namun jika ada perubahan menuju kepada yang lebih baik maka itu indikasi puasa kita diterima karena puasa kita mengantarkan kita menjadi pribadi yang bertakwa dan masuk dalam firman Allah “Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertaqwa”.

 

Renungan seperti ini sangat perlu dilakukan karena hal itu merupakan tanpa kita menjadi mukmin. Syeikh Hasan al-Bashri berkata :

ٱلْمُؤْمِنُ جَمَعَ إِحْسَانًا وَخَشْيَةً، وَٱلْمُنَافِقُ جَمَعَ إِسَاءَةً وَأَمْنًا.

Orang beriman menggabungkan amal yang baik dan rasa takut kepada Allah. Sedangkan orang munafik menggabungkan keburukan dan merasa aman dari siksa Allah. [Tafsir Lubabut Ta’wil]

 

Orang yang sudah mendapat garansi surga saja masih takut dan harap-harap cemas. Lihatlah Sayyidina Abu bakar RA, ia berkata :

لَوْ كَانَتْ إِحْدَى قَدَمَيَّ دَاخِلَ الْجَنَّةِ وَالْأُخْرَى خَارِجَهَا، مَا أَمِنْتُ مَكْرَ اللَّهِ.

“Seandainya satu kakiku sudah di surga dan satu lagi di luar, aku belum merasa aman dari makar Allah." [Kitab Ad-Daril Akhirah]

 

Dan lihat pula Sayyidina Umar RA, ia berkata : "Seandainya ada penyeru berseru: 'Seluruh manusia akan masuk neraka kecuali satu orang,' maka aku berharap akulah orang itu”.

وَلَوْ نُودِيَ لِيَدْخُلِ الْجَنَّةَ كُلُّ النَّاسِ إِلَّا رَجُلًا وَاحِدًا، لَخَشِيتُ أَنْ أَكُونَ أَنَا ذَلِكَ الرَّجُلَ.

“Dan seandainya ada penyeru berseru: 'Seluruh manusia akan masuk surga kecuali satu orang,' maka aku takut akulah orang itu." [Ihya Ulumiddin]

 

 

Maka tiada kebaikan dan kebahagiaan melainkan amal puasa kita diterima Allah SWT. Nabi dan para sahabat menjarkan agar saling mendoakan demikian. Khalid bin Ma’dan RA, berkata : Aku menemui Watsilah bin Al-Asqa’ pada hari Id, lalu aku mengatakan, ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka”. Lalu ia menjawab, ‘Iya, Taqabbalallah Minna Wa Minka, Kemudian Watsilah berkata, ‘Aku menemui Rasulullah SAW pada hari Id lalu aku mengucapkan ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka’, kemudian Rasulullah SAW menjawab,

نَعَمْ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ

“Ya, semoga Allah menerima (amal baik) dariku dan darimu”. [HR Baihaqi]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk khawatir akan amal baik kita tidak diterima Allah SWT sehingga kita terus semangat beribadah dan tidak menyombongkan amal kebaikan di hadapan manusia.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

BERBAGI TAKJIL

 

ONE DAY ONE HADITH


Diriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al-Juhani RA, Rasul SAW bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barang siapa yang memberi makan berbuka kepada orang yang sedang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikitpun juga.” [HR Tirmidzi]

 

Catatan Alvers

 

Kegiatan berbagi makanan untuk berbuka puasa atau dikenal dengan berbagi takjil, marak dilakukan oleh berbagai kalangan di bulan suci ramadhan. Mulai dari perorangan, kalangan siswa sekolah, kalangan kepolisian, imigrasi, Rumah sakit, KUA, hingga partai politik. Kegiatan tersebut dilakukan di berbagai tempat, mulai dari masjid, rumah pribadi, kantor, terminal hingga di pinggir-pinggir jalan raya. Bulan ramadhan terpilih menjadi bulan untuk kegiatan berbagi takjil karena di bulan ramadhan mayoritas orang islam berpuasa sehingga mereka membutuhkan makanan untuk berbuka.

 

Di samping itu, ada alasan lainnya yaitu dikarenakan bersedekah di bulan suci ramadhan merupakan sedekah terbaik. Suatu ketika ada sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apakah sedekah yang paling baik?" Rasulullah SAW menjawab,

صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ

"(Sedekah yang paling afdhal adalah) sedekah di bulan Ramadan." [HR Tirmidzi]

 

Rasulullah SAW sendiri bersedekah dengan lebih banyak di bulan ramadhan dari bulan-bulan lainnya. Ibnu Abbas RA berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

"Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan”

“Yaitu ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan untuk membacakan dan mempelajari Al-Qur’an bersama beliau. Maka sungguh Rasulullah SAW itu lebih cepat dalam berbuat kebaikan daripada angin yang berhembus." [HR Bukhari]

 

Imam Syafi’i berkata :

أُحِبُّ لِلرَّجُلِ الزِّيَادَةَ بِالْجُودِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ

“Aku menyukai bagi seseorang untuk menambah kedermawanannya di bulan Ramadan”

Lalu beliau memberikan alasannya : “Guna meneladani Rasul SAW, dan karena kebutuhan manusia pada bulan itu terhadap kemaslahatan mereka, serta karena banyak dari mereka sibuk dengan puasa dan shalat sehingga terhalang dari mencari pekerjaan mereka." [Nida’ur Rayyan]

 

Lebih khusus lagi, bersedekah dengan memberi makanan berbuka puasa akan mendatangkan pahala yang sangat besar. Diantaranya terdapat dalam hadits utama yaitu Rasul SAW bersabda: “Barang siapa yang memberi makan berbuka kepada orang yang sedang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikitpun juga.” [HR Tirmidzi]

 

Tidak perlu menu makanan yang mewah, memberikan sepotong roti sudah cukup untuk mendapatkan pahala. Suatu ketika Rasul SAW ditanya: “Amal apakah yang paling utama?” Maka Beliau menjawab:

أَنْ تُدْخِلَ عَلَى أَخِيكَ الْمُسْلِمِ سُرُورًا أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تُطْعِمَهُ خُبْزًا

“Engkau memasukkan kebahagiaan kepada saudaramu yang Muslim, atau engkau melunasi hutangnya, atau engkau memberinya roti.” [HR Baihaqi]

 

Dahulu para sahabat termotivasi ketika mendengar hadits ini namun pada kenyataannya tidak semua dari mereka memiliki banyak makanan untuk dibagi-bagikan. Maka ada sahabat yang memberanikan diri bertanya : “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kami memiliki sesuatu untuk memberi makan orang yang berpuasa ketika berbuka.” Maka Nabi SAW bersabda :

يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى مَذْقَةِ لَبَنٍ أَوْ تَمْرَةٍ أَوْ شَرْبَةٍ مِنْ مَاءٍ

“Allah akan memberikan pahala tersebut bagi siapa saja yang memberi makan orang yang berpuasa dengan seteguk susu, atau sebutir kurma, atau seteguk air”.

“Dan siapa yang membuat orang berpuasa kenyang, maka Allah akan memberinya minum dari telagaku (di akhirat) dengan satu tegukan yang tidak akan membuatnya haus lagi hingga ia masuk surga.” [HR Baihaqi]

 

Dari besarnya pahala memberi buka puasa tersebut Ibnu Jawzi menyarankan agar kita memberi makan buka puasa selama bulan ramadhan walaupun cuma kepada satu orang karena itu artinya kita seakan-akan berpuasa selama 60 hari dalam satu bulan ramadhan. Beliau berkata :

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا فَلَهُ أَجْرُ صَائِمٍ فَاجْتَهِدْ أَنْ تَصُومَ رَمَضَانَ سِتِّينَ يَوْمًا

"Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu. Karena itu, bersungguh-sungguhlah agar engkau bisa berpuasa di bulan Ramadan selama enam puluh hari." [At-Tabshirah]

 

Lantas bagaimana jika seseorang benar-benar tidak memiliki makanan berbuka puasa untuk dibagikan bahkan untuk dirinya sendiri?. Orang yang seperti itu masih bisa mendapatkan keutamaan yaitu dengan berniat akan memberikan makanan berbuka puasa kepada orang lain jika ia sudah memilikinya. Rasul SAW menceritakan orang yang punya ilmu tapi tidak memiliki uang namun ia memiliki niat yang kuat (untuk berbuat kebaikan semisal memberi makanan berbuka) sehingga ia berkata : “Seandainya aku memiliki uang maka aku akan melakukan seperti perbuatan si fulan (yang suka bersedekah)”,

فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ

maka ia (akan mendapatkan pahala) dengan niat baiknya sehingga keduanya (ia dan si fulan yang dermawan) mendapatkan pahala yang sama. [HR Turmudzi]

 

Tidak berhenti di situ, keutamaan memberi makan berbuka puasa dinyatakan juga dalam hadits Nabi yang lain, yaitu :

" مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا فِي رَمَضَانَ مِنْ كَسْبٍ حَلَالٍ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ لَيَالِيَ رَمَضَانَ كُلَّهَا

"Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa di bulan Ramadan dari hasil pekerjaan yang halal, maka para malaikat akan mendoakannya sepanjang malam-malam Ramadan”.

“Dan Jibril AS akan bersalaman dengannya pada malam Lailatul Qadr. Barangsiapa yang bersalaman dengan Jibril, maka akan banyak menangis (karena lembut hatinya), dan hatinya akan menjadi penuh kelembutan." [HR Baihaqi]

 

Dan seseorang yang menerima sedekah makanan atau takjil hendaklah ia membalas kebaikannya minimal dengan mendoakannya. Rasul SAW bersabda : “Siapa saja yang berbuat baik kepada kalian, maka balaslah kebaikannya. Jika engkau tidak mampu membalasnya maka :

فَادعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوا أَنَّكُم قَد كَافَأتُمُوهُ

“doakanlah dia sampai-sampai kalian yakin telah benar-benar mengimbangi kebaikan nya.” [HR Abu Daud]

 

Rasul SAW pernah diberi makanan lalu beliau mendoakan orang yang membaca doa :

أَكَلَ طَعَامَكُمْ الْأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمْ الْمَلَائِكَةُ وَأَفْطَرَ عِنْدَكُمْ الصَّائِمُونَ

Semoga orang-orang yang baik yang memakan makanan kalian, semoga para malaikat memintakan ampunan untuk kalian, dan orang-orang yang berpuasa telah berbuka di sisi kalian."[HR Ahmad]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk memperbanyak desekah dan berbagi buka puasa di bulan yang penuh berkah ini untuk meneladani perilaku Nabi SAW dan mengharap pahala dari Allah SWT.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts