إنَّ اللّهَ أَوْحَىٰ إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّىٰ لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ علىٰ أَحَدٍ، وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَىٰ أَحَدٍ

"Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menyuruh kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya di hadapan orang lain, dan tidak seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain." [HR Muslim]

أَرْفَعُ النَّاسِ قَدْرًا : مَنْ لاَ يَرَى قَدْرَهُ ، وَأَكْبَرُ النَّاسِ فَضْلاً : مَنْ لَا يَرَى فَضْلَهُ

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah melihat kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah melihat kemuliannya (merasa mulia).” [Syu’abul Iman]

الإخلاص فقد رؤية الإخلاص، فإن من شاهد في إخلاصه الإخلاص فقد احتاج إخلاصه إلى إخلاص

"Ikhlas itu tidak merasa ikhlas. Orang yang menetapkan keikhlasan dalam amal perbuatannya maka keihklasannya tersebut masih butuh keikhlasan (karena kurang ikhlas)." [Ihya’ Ulumuddin]

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur." [HR Muslim]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu.”[HR Ahmad]

Friday, February 27, 2026

RENUNGAN AKHIR RAMADHAN #9

 

ONE DAY ONE HADITH


Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”[HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Ketika berada di penghujung Ramadhan, ada kegalauan di hati setiap orang beriman. Ada beberapa renungan di dalam hati. Ramadhan pasti datang tahun depan namun apakah ketika ia datang lagi apakah kita masih berada di atas tanah atau malah sudah berkalang tanah. Jika ramadhan kali ini menjadi ramadhan terakhir dalam hidup kita lantas apakah sudah maksimal ibadah puasa dan qiyamul lail kita. Sejauh mana puasa membentuk ketakwaan yang menjadi tujuannya “La’allakum Tattaqun”. Dan lebih penting lagi apakah semua ibadah yang telah dilakukan itu diterima oleh Allah ataukah sekedar menggugurkan kewajiban sebagaiman dinyatakan dalam hadits utama tadi?

 

Hal yang demikian menjadi konsen para sahabat Nabi. Ma’la bin Fadl menceritakan :

كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ تَعَالَى ... سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْهُمْ

“Para sahabat nabi memohon kepada Allah selama enam bulan (pasca ramadhan) agar amalan mereka diterima.”[Latha’iful Ma’arif]

 

Ketika hari raya Idul Fitri, ‘Umar bin ‘Abdul Aziz berkhutbah :

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ صُمْتُمْ لِلَّهِ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، وَقُمْتُمْ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً،  وَخَرَجْتُمُ الْيَوْمَ تَطْلُبُونَ مِنَ اللَّهِ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْكُمْ

“Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. [Latha’iful Ma’arif]

 

Demikian pula hal itu dirasakan oleh salafus shalih. Ibnu Rajab berkata : “Sebagian salaf terlihat bersedih ketika hari raya Idul Fitri. Dikatakan  kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka menjawab :

صَدَقْتُمْ، وَلَكِنِّي عَبْدٌ أَمَرَنِي مَوْلَايَ أَنْ أَعْمَلَ لَهُ عَمَلًا، فَلَا أَدْرِي أَيَقْبَلُهُ مِنِّي أَمْ لَا؟

“Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.” [Latha’iful Ma’arif]

 

Berbicara apakah ibadah puasa kita diterima atau tidak maka kita bisa memeriksa sejauh mana ibadah puasa yang sudah dijalankan memberikan efek positif dan perubahan perilaku dalam kehidupan kita. Bukankah tujuan disyariatkan puasa adalahlah menjadikan seseorang bertakwa. Fudhalah bin ‘Ubaid berkata :

لَأَنْ أَكُونَ أَعْلَمَ أَنَّ اللهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا؛ لِأَنَّ اللهَ يَقُولُ:  إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Mengetahui bahwa Allah menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji sawi saja, itu lebih aku sukai dari pada dunia dan seisinya karena Allah berfirman “Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertaqwa”. .” [Latha’iful Ma’arif]

 

Saya jadi teringat dengan kisah orang bijak mengenai dua binatang yang sama-sama berpuasa namun hasil dari keduanya berbeda. Hewan pertama, yaitu ular. Ia berpuasa agar mampu menjaga kelangsungan hidupnya yaitu dengan cara mengganti kulitnya secara berkala. Ia berpuasa dalam kurun waktu tertentu, setelah itu barulah kulit luarnya terlepas dan iapun memiliki kulit yang baru. Meskipun demikian anehnya ular tetap seperti semula, tidak ada perubahan bentuk, tabiat bahkan kebiasaannya.

 

Kedua yaitu ulat. Ia termasuk hewan yang rakus, karena hampir sepanjang waktunya di habiskan untuk makan. Tapi begitu sudah bosan menjadi ulat, ia berpuasa dan mengasingkan diri, menjauhkan dari tempat makanan, membungkus badannya dengan kepompong, sehingga ia benar-benar berpuasa dan bukan sekedar menahan lapar dan haus saja. Bahkan mulut, mata dan anggota tubuh lainnya juga ikut berpuasa dan berusaha menghindari segala perkara dapat mengganggu puasanya. Lalu setelah beberapa minggu berpuasa, maka ulat keluar dari kepompong dengan bentuk yang baru yang sangat indah yaitu kupu-Kupu.

 

Pasca berpuasa sang ulat tak hanya mengganti kulit namun ia juga mengganti tabiat dan kebiasaannya. Kalau dulu ulat menjadi perusak alam pemakan daun maka kini setelah menjadi kupu-kupu, ia menghidupkan dan membantu kelangsungan kehidupan tumbuhan dengan cara membantu Penyerbukan Bunga.

 

Sekarang kita instrospeksi, apakah puasa kita seperti ular yang hanya berganti kulit yaitu baju baru di hari raya ataukah seperti ulat yang berubah tabiat dan kebiasaan. Dahulu sering mengganggu orang lain namun pasca puasa kita menjadi orang yang bermanfaat dan bermaslahat untuk orang lain?. Jika tidak ada perubahan maka puasa kita rupanya masuk kategori hadits utama yaitu “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” Namun jika ada perubahan menuju kepada yang lebih baik maka itu indikasi puasa kita diterima karena puasa kita mengantarkan kita menjadi pribadi yang bertakwa dan masuk dalam firman Allah “Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertaqwa”.

 

Renungan seperti ini sangat perlu dilakukan karena hal itu merupakan tanpa kita menjadi mukmin. Syeikh Hasan al-Bashri berkata :

ٱلْمُؤْمِنُ جَمَعَ إِحْسَانًا وَخَشْيَةً، وَٱلْمُنَافِقُ جَمَعَ إِسَاءَةً وَأَمْنًا.

Orang beriman menggabungkan amal yang baik dan rasa takut kepada Allah. Sedangkan orang munafik menggabungkan keburukan dan merasa aman dari siksa Allah. [Tafsir Lubabut Ta’wil]

 

Orang yang sudah mendapat garansi surga saja masih takut dan harap-harap cemas. Lihatlah Sayyidina Abu bakar RA, ia berkata :

لَوْ كَانَتْ إِحْدَى قَدَمَيَّ دَاخِلَ الْجَنَّةِ وَالْأُخْرَى خَارِجَهَا، مَا أَمِنْتُ مَكْرَ اللَّهِ.

“Seandainya satu kakiku sudah di surga dan satu lagi di luar, aku belum merasa aman dari makar Allah." [Kitab Ad-Daril Akhirah]

 

Dan lihat pula Sayyidina Umar RA, ia berkata : "Seandainya ada penyeru berseru: 'Seluruh manusia akan masuk neraka kecuali satu orang,' maka aku berharap akulah orang itu”.

وَلَوْ نُودِيَ لِيَدْخُلِ الْجَنَّةَ كُلُّ النَّاسِ إِلَّا رَجُلًا وَاحِدًا، لَخَشِيتُ أَنْ أَكُونَ أَنَا ذَلِكَ الرَّجُلَ.

“Dan seandainya ada penyeru berseru: 'Seluruh manusia akan masuk surga kecuali satu orang,' maka aku takut akulah orang itu." [Ihya Ulumiddin]

 

 

Maka tiada kebaikan dan kebahagiaan melainkan amal puasa kita diterima Allah SWT. Nabi dan para sahabat menjarkan agar saling mendoakan demikian. Khalid bin Ma’dan RA, berkata : Aku menemui Watsilah bin Al-Asqa’ pada hari Id, lalu aku mengatakan, ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka”. Lalu ia menjawab, ‘Iya, Taqabbalallah Minna Wa Minka, Kemudian Watsilah berkata, ‘Aku menemui Rasulullah SAW pada hari Id lalu aku mengucapkan ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka’, kemudian Rasulullah SAW menjawab,

نَعَمْ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ

“Ya, semoga Allah menerima (amal baik) dariku dan darimu”. [HR Baihaqi]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk khawatir akan amal baik kita tidak diterima Allah SWT sehingga kita terus semangat beribadah dan tidak menyombongkan amal kebaikan di hadapan manusia.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Thursday, February 26, 2026

BERBAGI TAKJIL

 

ONE DAY ONE HADITH


Diriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al-Juhani RA, Rasul SAW bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barang siapa yang memberi makan berbuka kepada orang yang sedang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikitpun juga.” [HR Tirmidzi]

 

Catatan Alvers

 

Kegiatan berbagi makanan untuk berbuka puasa atau dikenal dengan berbagi takjil, marak dilakukan oleh berbagai kalangan di bulan suci ramadhan. Mulai dari perorangan, kalangan siswa sekolah, kalangan kepolisian, imigrasi, Rumah sakit, KUA, hingga partai politik. Kegiatan tersebut dilakukan di berbagai tempat, mulai dari masjid, rumah pribadi, kantor, terminal hingga di pinggir-pinggir jalan raya. Bulan ramadhan terpilih menjadi bulan untuk kegiatan berbagi takjil karena di bulan ramadhan mayoritas orang islam berpuasa sehingga mereka membutuhkan makanan untuk berbuka.

 

Di samping itu, ada alasan lainnya yaitu dikarenakan bersedekah di bulan suci ramadhan merupakan sedekah terbaik. Suatu ketika ada sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apakah sedekah yang paling baik?" Rasulullah SAW menjawab,

صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ

"(Sedekah yang paling afdhal adalah) sedekah di bulan Ramadan." [HR Tirmidzi]

 

Rasulullah SAW sendiri bersedekah dengan lebih banyak di bulan ramadhan dari bulan-bulan lainnya. Ibnu Abbas RA berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

"Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan”

“Yaitu ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan untuk membacakan dan mempelajari Al-Qur’an bersama beliau. Maka sungguh Rasulullah SAW itu lebih cepat dalam berbuat kebaikan daripada angin yang berhembus." [HR Bukhari]

 

Imam Syafi’i berkata :

أُحِبُّ لِلرَّجُلِ الزِّيَادَةَ بِالْجُودِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ

“Aku menyukai bagi seseorang untuk menambah kedermawanannya di bulan Ramadan”

Lalu beliau memberikan alasannya : “Guna meneladani Rasul SAW, dan karena kebutuhan manusia pada bulan itu terhadap kemaslahatan mereka, serta karena banyak dari mereka sibuk dengan puasa dan shalat sehingga terhalang dari mencari pekerjaan mereka." [Nida’ur Rayyan]

 

Lebih khusus lagi, bersedekah dengan memberi makanan berbuka puasa akan mendatangkan pahala yang sangat besar. Diantaranya terdapat dalam hadits utama yaitu Rasul SAW bersabda: “Barang siapa yang memberi makan berbuka kepada orang yang sedang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikitpun juga.” [HR Tirmidzi]

 

Tidak perlu menu makanan yang mewah, memberikan sepotong roti sudah cukup untuk mendapatkan pahala. Suatu ketika Rasul SAW ditanya: “Amal apakah yang paling utama?” Maka Beliau menjawab:

أَنْ تُدْخِلَ عَلَى أَخِيكَ الْمُسْلِمِ سُرُورًا أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تُطْعِمَهُ خُبْزًا

“Engkau memasukkan kebahagiaan kepada saudaramu yang Muslim, atau engkau melunasi hutangnya, atau engkau memberinya roti.” [HR Baihaqi]

 

Dahulu para sahabat termotivasi ketika mendengar hadits ini namun pada kenyataannya tidak semua dari mereka memiliki banyak makanan untuk dibagi-bagikan. Maka ada sahabat yang memberanikan diri bertanya : “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kami memiliki sesuatu untuk memberi makan orang yang berpuasa ketika berbuka.” Maka Nabi SAW bersabda :

يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى مَذْقَةِ لَبَنٍ أَوْ تَمْرَةٍ أَوْ شَرْبَةٍ مِنْ مَاءٍ

“Allah akan memberikan pahala tersebut bagi siapa saja yang memberi makan orang yang berpuasa dengan seteguk susu, atau sebutir kurma, atau seteguk air”.

“Dan siapa yang membuat orang berpuasa kenyang, maka Allah akan memberinya minum dari telagaku (di akhirat) dengan satu tegukan yang tidak akan membuatnya haus lagi hingga ia masuk surga.” [HR Baihaqi]

 

Dari besarnya pahala memberi buka puasa tersebut Ibnu Jawzi menyarankan agar kita memberi makan buka puasa selama bulan ramadhan walaupun cuma kepada satu orang karena itu artinya kita seakan-akan berpuasa selama 60 hari dalam satu bulan ramadhan. Beliau berkata :

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا فَلَهُ أَجْرُ صَائِمٍ فَاجْتَهِدْ أَنْ تَصُومَ رَمَضَانَ سِتِّينَ يَوْمًا

"Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu. Karena itu, bersungguh-sungguhlah agar engkau bisa berpuasa di bulan Ramadan selama enam puluh hari." [At-Tabshirah]

 

Lantas bagaimana jika seseorang benar-benar tidak memiliki makanan berbuka puasa untuk dibagikan bahkan untuk dirinya sendiri?. Orang yang seperti itu masih bisa mendapatkan keutamaan yaitu dengan berniat akan memberikan makanan berbuka puasa kepada orang lain jika ia sudah memilikinya. Rasul SAW menceritakan orang yang punya ilmu tapi tidak memiliki uang namun ia memiliki niat yang kuat (untuk berbuat kebaikan semisal memberi makanan berbuka) sehingga ia berkata : “Seandainya aku memiliki uang maka aku akan melakukan seperti perbuatan si fulan (yang suka bersedekah)”,

فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ

maka ia (akan mendapatkan pahala) dengan niat baiknya sehingga keduanya (ia dan si fulan yang dermawan) mendapatkan pahala yang sama. [HR Turmudzi]

 

Tidak berhenti di situ, keutamaan memberi makan berbuka puasa dinyatakan juga dalam hadits Nabi yang lain, yaitu :

" مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا فِي رَمَضَانَ مِنْ كَسْبٍ حَلَالٍ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ لَيَالِيَ رَمَضَانَ كُلَّهَا

"Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa di bulan Ramadan dari hasil pekerjaan yang halal, maka para malaikat akan mendoakannya sepanjang malam-malam Ramadan”.

“Dan Jibril AS akan bersalaman dengannya pada malam Lailatul Qadr. Barangsiapa yang bersalaman dengan Jibril, maka akan banyak menangis (karena lembut hatinya), dan hatinya akan menjadi penuh kelembutan." [HR Baihaqi]

 

Dan seseorang yang menerima sedekah makanan atau takjil hendaklah ia membalas kebaikannya minimal dengan mendoakannya. Rasul SAW bersabda : “Siapa saja yang berbuat baik kepada kalian, maka balaslah kebaikannya. Jika engkau tidak mampu membalasnya maka :

فَادعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوا أَنَّكُم قَد كَافَأتُمُوهُ

“doakanlah dia sampai-sampai kalian yakin telah benar-benar mengimbangi kebaikan nya.” [HR Abu Daud]

 

Rasul SAW pernah diberi makanan lalu beliau mendoakan orang yang membaca doa :

أَكَلَ طَعَامَكُمْ الْأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمْ الْمَلَائِكَةُ وَأَفْطَرَ عِنْدَكُمْ الصَّائِمُونَ

Semoga orang-orang yang baik yang memakan makanan kalian, semoga para malaikat memintakan ampunan untuk kalian, dan orang-orang yang berpuasa telah berbuka di sisi kalian."[HR Ahmad]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk memperbanyak desekah dan berbagi buka puasa di bulan yang penuh berkah ini untuk meneladani perilaku Nabi SAW dan mengharap pahala dari Allah SWT.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Wednesday, February 25, 2026

TIDUR SAAT PUASA

 

ONE DAY ONE HADITH


Diriwayatkan dari
Abu Musa Al-Asy’ari RA, Rasul SAW bersabda:

فَلْيَعْمَلْ بِالْمَعْرُوفِ وَلْيُمْسِكْ عَنْ الشَّرِّ فَإِنَّهَا لَهُ صَدَقَةٌ

“Hendaklah seorang muslim berbuat baik dan menahan diri dari keburukan, karena hal itu bernilai sedekah baginya.” [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Saat berpuasa badan akan terasa lemas dan saat itu aktifitas yang paling enak adalah rebahan dan tidur. Lalu orang yang demikian beralasan, bahwa tidurnya orang yang berpuasa itu bernilai ibadah! Benarkah demikian? Memang ada hadits yang cukup populer yang berbunyi demikian. Hadits tersebut juga dikutip oleh Imam Ghazali dalam Ihya dan Imam Suyuthi dalam Al-Jami’ As-Shagir, yaitu :

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ

Tidurnya orang yang berpuasa itu bernilai ibadah. [HR Baihaqi]

 

Al-Iraqi dalam Takhrij Ahaditsil Ihya menilai bahwa hadits tersebut dla’if (lemah). Dan Al-Albani dalam As-Silislah Ad-Dla’ifah juga menilai hadits tersebut dla’if (lemah). Jadi status hadits tersebut lemah, dan tidak sampai kepada derajat Mauclu’ atau palsu sehingga masih diperbolehkan untuk dipergunakan dalam ranah motivasi. Jika demikian, apakah dibenarkan orang bermalas-malasan dengan tidur sepanjang siang dengan beralasan pada hadits tersebut? Dan bagaimanakah makna benar dari hadits tersebut?

 

Seorang ulama besar Mesir sekaligus mufti dan tokoh Al-Azhar, Syekh ‘Athiyyah Shaqr (w. 2006) berkata : “Terlepas dari masalah sanad hadits, ada dua sudut pandang dalam menafsirkannya. Salah satu sudut pandang mengatakan: seorang yang berpuasa, ketika dalam puasanya ia menghadapi hal-hal yang bertentangan dengan hikmah puasa karena berbaur dengan masyarakat seperti berbohong, menggunjing, memandang yang haram, dan lain-lain maka tidurnya di siang hari akan menahannya dari perbuatan-perbuatan tercela tersebut. Hal ini merupakan salah satu bentuk ibadah, yaitu ibadah pasif, sebagaimana sedekah yang diwajibkan Nabi SAW atas setiap Muslim yang tidak memiliki sesuatu untuk disedekahkan atau bantuan dalam bentuk apa pun. Beliau bersabda: “Maka hendaklah ia menahan diri dari kejahatan, karena menahan diri dari kejahatan adalah sedekah” yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dari sini, tidurnya dianggap benar dan bernilai ibadah. [Fatawa Daril Ifta’ Al-Mishriyyah]

 

Hadits yang dikutip oleh Syekh ‘Athiyyah tadi secara lengkap adalah : Rasul SAW bersabda:

عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ

“Hendaklah setiap Muslim itu bersedekah.”

Para sahabat bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana jika ia tidak memiliki sesuatu?” Beliau menjawab: “Bekerjalah dengan tangannya, lalu manfaatkan untuk dirinya dan bersedekah dengannya.” Mereka bertanya lagi: “Jika tidak mampu?” Beliau menjawab: “Membantu orang yang membutuhkan dan kesusahan.” Mereka bertanya lagi: “Jika tidak mampu?” Beliau menjawab sebagaimana teks hadits utama, yaitu : “Hendaklah seorang muslim berbuat baik dan menahan diri dari keburukan, karena hal itu bernilai sedekah baginya.” [HR Bukhari]

Pendapat Syeikh Athiyah tersebut juga senada dengan perkataan Hafshah binti Sirin (w. 100 H), seorang ulama wanita masa tabi’in dan saudari dari Muhammad Ibnu Sirin, yaitu : Abu al-‘Aliyah, (Ulama besar tabi’in Bashrah w. 90 H) mengatakan :

الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ مَا لَمْ يَغْتَبْ أَحَدًا وَإِنْ كَانَ نَائِمًا عَلَى فِرَاشِهِ

“Orang yang berpuasa tetap berada dalam ibadah selama ia tidak menggunjing orang lain, meskipun ia sedang tidur di atas ranjangnya.”

Maka Hafshah berkata: “Alangkah nikmatnya ibadah itu, aku sedang tidur di atas ranjangku (sedangkan hal itu tercatat sebagai ibadah).” [Lathaiful Ma’arif]

 

Secara umum, setiap amalan yang statusnya mubah seperti makan dan tidur itu bisa bernilai ibadah dan mendatangkan pahala apabila dilakukan dengan niat yang baik. Contohnya adalah anjuran Nabi mengenai makan sahur agar kuat puasa di siang harinya dan tidur qaylulah agar tidak mengantuk saat qiyamul lail. Dengan demikian, tidurnya seseorang dengan niat agar ia terhindar dari ghibah dan maksiat lainnya maka itu bernilai pahala. Imam Nawawi berkata :

انَّ الْمُبَاحَ إِذَا قَصَدَ بِهِ وَجْهَ اللَّه تَعَالَى صَارَ طَاعَةً وَيُثَابُ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya perbuatan yang mubah, jika dilakukan dengan tujuan mengharapkan ridla Allah Ta’ala, maka ia akan menjadi suatu ketaatan dan mendatangkan pahala”. [Al-Minhaj Syarah Muslim]

Hal ini berlaku kepada orang yang tidak berpuasa. Lantas bagaimana jika orangnya sedang berpuasa?.

 

Syekh ‘Athiyyah melanjutkan fatwanya. “Dari sudut pandang lain, orang yang berpuasa namun lebih memilih tidur sehingga mengurangi pekerjaan positif yang produktif, berarti ia menyelisihi perintah agama yang mewajibkan pemanfaatan energi manusia untuk melakukan kebaikan. Hal itu juga bertentangan dengan ajaran agama yang mencela kelemahan dan kemalasan. Nabi SAW bahkan memerintahkan Abu Umamah untuk berlindung dari keduanya agar Allah menghilangkan kesedihannya dan melunasi utangnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud. Islam adalah agama gerakan, kerja, dan produktivitas. Orang yang berpuasa tetap mampu melakukan hal itu sesuai batas kemampuan dan tenaganya. Para sahabat pun tidak berhenti bekerja ketika berpuasa, bahkan pertempuran besar terjadi di bulan Ramadan, seperti Perang Badar dan penaklukan agung kota Mekah. Jika sebagian negara meringankan beban kerja di bulan puasa, hal itu tidak boleh dijadikan alasan untuk menambah kemalasan dan kelalaian. Justru amal saleh yang dilakukan dalam keadaan berpuasa memiliki pahala yang besar”.

وَمِنْ هُنَا يَكُونُ نَوْمُ الصَّائِمِ خَطَأً وَلَيْسَ عِبَادَةً

“Dari sini, tidurnya orang yang berpuasa (dengan didasari kemalasan) merupakan satu kekeliruan dan bukan menjadi ibadah”. [Fatawa Daril Ifta’ Al-Mishriyyah]

 

Dengan demikian janganlah hadits “Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah” dijadikan sebagai pembenaran atas kemalasan dan kelalain. Seyogyanya seorang yang berpuasa melakukan puasa tidak hanya bertujuan sekedar menggugurkan kewajian puasa namun juga untuk melaksanakan adab-adab berpuasa demi kesempurnaan puasanya. Imam Ghazali berkata :

"بَلْ مِنَ الْآدَابِ أَنْ لَا يُكْثِرَ النَّوْمَ بِالنَّهَارِ"

“Bahkan termasuk adab puasa adalah tidak terlalu banyak tidur di siang hari”

“Hal itu agar seorang yang berpuasa merasakan lapar dan haus serta merasakan lemahnya kekuatan, sehingga hatinya menjadi jernih. Dengan kelemahan itu ia dapat terus merasakan kekhusyukan setiap malam, sehingga lebih ringan baginya untuk melakukan tahajud dan wirid. Dengan begitu, diharapkan setan tidak berputar di sekitar hatinya, lalu ia dapat melihat kerajaan langit. Dan malam Lailatul Qadar adalah malam di mana tersingkap sebagian dari kerajaan langit. [Ihya Ulumiddin]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk menjalankan puasa beserta adab-adabnya dan tidak menjadikan hadits Nabi sebagai justifikasi atas kemalasan dan kelalaian.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]