ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan dari Abu Sa’id RA, Rasul
SAW bersabda :
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ
Sesungguhnya dunia adalah manis dan hijau. [HR Muslim]
Catatan Alvers
Dunia itu sering
membuat manusia tertipu. Dengan penampilan indahnya membuat banyak orang memperebutkannya
tanpa disadari bahwa ia tidaklah awet, cepat rusak. Imam Nawawi memaknai hadits
di atas “dunia itu manis dan hijau” dengan dua
makna. Pertama, Dunia itu dari sisi keindahan, kesegarannya, dan kenikmatannya,
seperti buah yang masih hijau lagi manis yang membuat manusia sangat tertarik. Kedua:
dari itu dari sisi cepatnya rusak, seperti sesuatu (buah) yang hijau. [Al-Minhaj
Syarah Muslim]
Allah SWT memberi
peringatan dalam hal ini dalam firman-Nya :
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ فَلَا
تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۗ
Wahai manusia,
sesungguhnya janji Allah itu benar. Maka, janganlah sekali-kali kehidupan dunia
memperdayakan kalian. [QS Fathir : 5]
Ada ilustrasi yang
lain mengenati hakikat kehidupan dunia. Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tafsir
Ad-Durrul Mantsur mengutip hadits dari Dala’ilun Nubuwwah, yang mengisahkan ketika
Nabi dalam perjanan Isra’ menaiki buruaq, Beliau melihat seorang nenek-nenek di
seberang jalan. Beliau bertanya siapakah gerangan? … Lalu Jibril menjawab :
أَمَّا الْعَجُوزُ الَّتِي رَأَيْتُهَا عَلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ،
فَلَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا بَقِيَ مِنْ عُمُرِ تِلْكَ الْعَجُوزِ
“Adapun wanita tua
yang aku lihat di pinggir jalan itu, maka tidak tersisa dari dunia ini kecuali
seperti sisa umur wanita tua tersebut.” [HR Baihaqi]
Al-Ghazali berkata
: “Ketahuilah bahwa dunia itu indah pada
penampilannya, tetapi buruk pada hakikat batinnya. Ia seperti seorang wanita
tua yang berhias, yang menipu manusia dengan penampilan luarnya. Namun ketika
mereka mengetahui hakikat batinnya dan tersingkaplah tabir dari wajahnya,
tampaklah bagi mereka keburukan-keburukannya. Maka mereka pun menyesal karena
telah mengikutinya, dan merasa malu atas lemahnya akal mereka karena tertipu
oleh penampilan luarnya.” [Ihya Ulumiddin]
Dan Ibnu ‘Abbās
berkata :
يُؤْتَى بِالدُّنْيَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي صُورَةِ عَجُوزٍ
شَمْطَاءَ زَرْقَاءَ، أَنْيَابُهَا بَادِيَةٌ، مُشَوَّهًا خَلْقُهَا
“Dunia akan
didatangkan pada hari kiamat dalam bentuk seorang wanita tua yang beruban,
bermata kebiruan, giginya tampak menonjol, dan rupanya buruk.
Lalu ia
ditampakkan kepada seluruh makhluk, kemudian dikatakan kepada mereka: ‘Apakah
kalian mengenal ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami berlindung kepada Allah dari
mengenal orang seperti ini.”
Maka dikatakan:
‘Inilah dunia yang dahulu kalian saling bermusuhan karenanya, memutuskan
hubungan kekerabatan karenanya, saling dengki karenanya, saling membenci, dan
tertipu olehnya.’ Kemudian dunia itu dilemparkan ke dalam neraka Jahannam. Lalu
ia berseru: ‘Wahai Tuhanku, di mana para pengikutku dan golonganku?’ Maka Allah
‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Susulkan kepadanya para pengikutnya dan
golongannya.’” [Ihya Ulumiddin]
Sebentarnya masa
hidup di dunia juga digambarkan oleh Nabi dengan bayang-bayang. Satu ketika Rasul
SAW tidur di atas tikar, lalu beliau bangun dan bekas tikar itu terlihat pada
lambung beliau. Maka kami (Abdullah Ibnu Mas’ud RA) berkata, ‘Wahai Rasulullah,
bagaimana jika kami buatkan alas (yang empuk) untukmu.’ Maka Beliau bersabda,
مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ
اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
‘Apa urusanku
dengan dunia? Aku di dunia ini hanyalah seperti seorang pengendara yang
berteduh di bawah bayang-bayang sebuah pohon, lalu ia pergi dan
meninggalkannya.’ [HR Tirmidzi]
Dikisahkan juga bahwa
seorang Arab Badui singgah pada suatu kaum. Mereka menyuguhkan makanan
kepadanya, lalu ia makan. Setelah itu ia pergi ke naungan sebuah kemah milik
mereka dan tidur di sana. Kemudian mereka membongkar kemah itu sehingga ia terkena
sinar matahari. Maka sang badui pun terbangun lalu berkata :
أَلَا إِنَّمَا الدُّنْيَا كَظِلٍّ بَنَيْتَهُ :: وَلَا بُدَّ
يَوْمًا أَنَّ ظِلَّكَ زَائِلٌ
“Ketahuilah,
sesungguhnya dunia itu seperti bayangan yang engkau bangun, dan pasti suatu
hari bayanganmu akan hilang.” [Ihya Ulumiddin]
Maka janganlah
kita tertipu dengan kehidupan dunia yang durasinya seperti bayang-bayang. Al-Hasan
bin Ali berkata :
يَا أَهْلَ لَذَّاتِ دُنْيَا لَا بَقَاءَ لَهَا :: إِنَّ اغْتِرَارًا
بِظِلٍّ زَائِلٍ حُمْقٌ
“Wahai para
pencari kenikmatan dunia yang tidak kekal, sesungguhnya tertipu oleh bayangan
yang akan hilang adalah suatu kebodohan.”
Ada perumpamaan
yang lebih cepat dari itu, dunia itu seperti mimpi. Suatu ketika Hasan
al-Bashri menulis surat nasehat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz :
إِنَّمَا الدُّنْيَا حُلْمٌ وَالْآخِرَةُ يَقَظَةٌ وَالْمَوْتُ مُتَوَسِّطٌ وَنَحْنُ فِي
أَضْغَاثِ أَحْلَامٍ
“Sesungguhnya
dunia itu adalah mimpi, sedangkan akhirat adalah keadaan terjaga. Kematian
adalah tengah-tengah (di antara keduanya); dan kita ini sekarang berada dalam
mimpi-mimpi yang tak nyata.” [Al-Iqdul Farid]
Maka setiap kita yang
hidup di dunia ini tak ubahnya seperti orang yang sedang tidur. Ali bin Abi Thalib
RA berkata :
النَّاسُ نِيَامٌ فَإِذَا مَاتُوا انْتَبَهُوا
Manusia itu tidur
jika mereka mati maka mereka terbangun. [Al-Maqashid Al-Hasanah]
Dan Yunus bin
‘Ubaid berkata: ‘Aku tidak menyerupakan diriku di dunia ini kecuali seperti
seseorang yang tidur, lalu melihat dalam mimpinya sesuatu yang ia benci dan
sesuatu yang ia sukai. Ketika ia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba ia
terbangun. Demikian pula manusia: mereka itu tidur, dan apabila mereka mati, mereka
terbangun. Maka ketika itu, tidak ada lagi kenikmatan yang dahulu mereka senangi.’
[Ihya Ulumiddin]
Wallahu A’lam.
Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita tidak tertipu dengan
kehidupan di dunia yang fana dan singkat ini sehingga tidak melalaikan kehidupan
kekal di akhirat nanti.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul
Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren
Wisata
AN-NUR 2 Malang
Jatim
Ngaji dan Belajar
Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok
Itu Keren!
NB.
Jangan pelit
berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka
ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan
(3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]













