• WhatsApp Channel : One Day One Hadith

    Bergabunglah bersama Saluran WhatsApp One Day One Hadith

  • Penerimaan Santri Baru 2026/2027

    Monggo nderek-nderek Nyethak Sholihin Sholihat dengan mendaftarkan putra putri jenengan ke PPW An-Nur 2 Al Murtadlo

  • Tadarus Akbar

    Tadarus Akbar oleh ribuan santri putra Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo

  • Sholat Tarawih Akbar

    Sekitar 3.000 santri putra melaksanakan Tarawih Akbar di Lapangan Utama Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo. Sabtu malam, 21 Februari 2026, lapangan center An-Nur II penuh dengan 24 saf santri berbaju putih

  • Bersama KAPOLRI

    Bersama Bapak Jenderal Listyo Sigit Prabowo - KAPOLRI dan Majelis Keluarga An-Nur 2

PRAMUKA, PEMUDA BERKARYA

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Jabir Bin Abdillah RA, Rasul SAW bersabda :

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” [HR Al-Qudla’iy]

 

Catatan Alvers

 

Semua pernah menjadi Pramuka dan berseragam Pramuka. Namun tidak semua ingat apa kepanjangannya? Apa hayoo? Pramuka adalah singkatan dari Praja Muda Karana. Praja artinya warga, Muda artinya pemuda dan Karana artinya yang suka berkarya. Jadi, pramuka itu berarti “kaum muda yang gemar berkarya.” Istilah Pramuka resmi digunakan pada 14 Agustus 1961. Namun Istilah Pramuka sendiri bermula dari ide Sri Sultan Hamengkubuwana IX, yang terinspirasi dari kata “Poromuko” yang berarti pasukan terdepan dalam perang.

 

Pramuka adalah pemuda yang berkarya. Dalam Islam, masa muda tidak boleh dilewatkan begitu saja, apalagi dengan hura-hura dan kegiatan yang sia-sia. Rasul SAW bersabda :

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu…. [HR Baihaqi]

 

Masa muda akan juga dipertanggung jawabkan kelak di akhirat. Rasul SAW bersabda :  

لَنْ تَزُولَ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاهُ

Kedua kaki seseorang tidak akan bergeser pada hari kiamat (dari hadapan Tuhannya) sampai ia ditanya tentang empat perkara: tentang masa mudanya, untuk apa ia habiskan… [HR Thabrani]

 

Maka sama-sama beribadah, beribadah di masa muda akan mendatangkan pahala tersendiri yang berbeda dengan beribadah hanya di masa tua. Rasul SAW bersabda :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ ... وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ

“Tujuh golongan akan mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya … seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah.” [HR Bukhari]

 

Namun perlu digaris bawahi bahwa beribadah itu bukan hanya shalat, baca qur’an dan beri’tikaf di masjid, menolong orang dalam kebaikan itu juga berpahala seperti ibadah. Rasul SAW bersabda :

وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ شَهْرًا

“Sungguh, berjalan bersama saudaraku untuk membantu memenuhi kebutuhannya lebih aku sukai daripada aku beri‘tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama satu bulan.” [HR Thabrani]

 

Dalam darma ke lima dari dasa darma pramuka disebutkan “Rela Menolong dan Tabah”. Seorang pramuka harus rela dan ikhlas menolong sesama manusia tanpa membedakan agama, warna kulit, suku, dan sebagainya. Demikian pula dalam Islam, ajaran menolong itu tidak harus sesama muslim. Terbukti dalam hadits utama yaitu “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” [HR Al-Qudla’iy] Rasul SAW tidak menyebut yang paling bermanfaat bagi orang Islam, tetapi yang paling bermanfaat bagi manusia. Suatu ketika Asma' binti Abu Bakr RA berkata: “Ibuku datang kepadaku dalam keadaan masih musyrik. Aku kemudian meminta fatwa kepada Rasul SAW. Aku berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي قَدِمَتْ عَلَيَّ وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُهَا

‘Wahai Rasulullah, ibuku datang kepadaku dan ia membutuhkan sesuatu dariku. Apakah aku boleh tetap berbuat baik kepadanya?’

Beliau menjawab, ‘Ya, tetaplah berbuat baik kepadanya.’” [HR Bukhari]

 

Dalam Islam menolong itu tidak harus sesama manusia, menolong hewanpun juga dianjurkan bahkan kepada anjing sekalipun yang dalam Islam dihukumi Najis berat. Rasul SAW bersabda : “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, ia merasa sangat haus. Ia menemukan sebuah sumur, lalu turun ke dalamnya dan minum. Setelah keluar, ia melihat seekor anjing menjulurkan lidah dan memakan tanah karena kehausan. Laki-laki itu berkata, ‘Anjing ini benar-benar mengalami kehausan seperti yang tadi aku alami.’ Kemudian (ia turun kembali ke sumur), memenuhi sepatunya dengan air, lalu ia naik dan memberi minum anjing tersebut.

فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ

Allah berterima kasih kepada lelaki tersebut dan mengampuni (dosa-dosa)nya.” [HR Bukhari]

 

Dalam darma ke lima tadi disebutkan “Rela Menolong” jadi menolong itu dilakukan harus tanpa pamrih tanpa mengharapkan imbalan dari orang yang ditolong. Tidak melihat orang yang hendak ditolong apakah ia kaya, punya pangkat dan kedudukan ataupun kelebihan lainnya. Dalam Islam, menolong akan dapat balasan dari Allah, sehingga kita tidak perlu mengharap imbalan manusia. Rasul SAW bersabda :

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” [HR Muslim]

 

Bahkan sejatinya perbuatan kita, apakah baik mapun buruk itu akan kembali kepada kita sendiri. Allah SWT berfirman :

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri… [QS Al-Isra : 7]

 

Dengan demikian, berbuat baik dan bermanfaat tidak nunggu masa tua. Justru ketika muda kita harus bermanfaat karena kita tidak tau apakah kita hidup sampai tua dan jika pemuda hari ini hebat maka ketika ia menjadi pemimpin kelak ia akan menjadi pemimpin yang hebat pula. Dalam pepatah arab disebutkan :

 شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الْغَدِ أِنَّ فِي يَدِكُمْ أَمْرُ الْأُمَّةِ وَفِي اَقْدَامِكُمٍ حَيَاتُهَا

“Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Sesungguhnya di tangan kalian-lah urusan ummat ini dan dalam langkahmu terdapat kehidupan ummat.” [Mustafa Al-Ghalayaini]

 

Selanjutnya adalah Tabah. Artinya tabah dalam Menghadapi Tantangan, tidak mudah menyerah dan tetap optimis dalam menghadapi segala rintangan atau kesulitan. Dalam Islam, kita dilarang berputus asa. Allah SWT berfirman :

وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah. [QS Yusuf : 87]

 

Dan Rasul SAW memotivasi kita untuk bersabar. Beliau bersabda :   

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesusahan, dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”  [HR Thabrani]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk agar senantiasa memanfaatkan masa yang ada untuk berkarya, Rela Menolong dan Tabah

sehingga kita manusia terbaik dan mendapat rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

 NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

 

Share:

EFEK MAKANAN HARAM

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

Sungguh akan datang kepada manusia suatu zaman ketika seseorang tidak lagi peduli dari mana ia memperoleh harta; apakah dari yang halal atau dari yang haram. [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Tidak semua yang bisa kita makan, boleh kita makan. Tidak semua yang bisa kita dapatkan, halal untuk kita nikmati. Orang sibuk memikirkan apa yang akan masuk ke perut. Mereka memilih makanan yang enak, sehat, bergizi, bahkan mahal. Tetapi ada satu pertanyaan yang terkadang terlupakan: Dari mana semua itu didapatkan? Maka jangan berhenti pada “Apa yang saya makan?” Tetapi tanyakan pula : “Dari mana saya mendapatkannya?” “Halalkah?” Sebab, yang masuk ke perut hari ini, bisa menjadi bagian dari diri kita esok hari. Rasul SAW bersabda :

مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ، فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ.

“Barang siapa dagingnya tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” [HR Al-Hakim]

 

Aisyah RA berkata : Abu Bakar memiliki seorang budak yang biasa menyerahkan hasil usahanya kepada beliau. Abu Bakar pun biasa memakan dari hasil yang dibawanya. Pada suatu hari budak itu datang membawa sesuatu, lalu Abu Bakar memakannya. Budak itu berkata, “Tahukah engkau apa yang baru saja engkau makan?” Abu Bakar bertanya, “Memang apakah itu?” Ia menjawab, “Dahulu pada masa jahiliah aku pernah menjadi tukang ramal (kahin) bagi seseorang. Sebenarnya aku tidak pandai meramal; aku hanya menipunya. Lalu orang itu bertemu denganku dan memberiku upah karena hal tersebut. Inilah yang tadi engkau makan.”

فَأَدْخَلَ أَبُو بَكْرٍ يَدَهُ فَقَاءَ كُلَّ شَيْءٍ فِي بَطْنِهِ

Maka Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam mulutnya, lalu memuntahkan seluruh isi perutnya. [Shahih Bukhari]

 

Tidak hanya berefek di akhirat kelak, makanan akan berpengaruh kepada seseorang sejak di dunia. Makanan haram akan menarik orangnya kepada perbuatan yang haram pula. Ibnu Ajibah (Seorang Mufassir Sufi W. 1224H) menukil perkataan ulama :

مَنْ أَكَلَ الْحَلَالَ أَطَاعَ اللَّهَ، أَحَبَّ أَمْ كَرِهَ، وَمَنْ أَكَلَ الْحَرَامَ عَصَى اللَّهَ، أَحَبَّ أَمْ كَرِهَ.

“Barang siapa memakan yang halal, niscaya ia akan menaati Allah, baik ia suka maupun tidak. Dan barang siapa memakan yang haram, niscaya ia akan bermaksiat kepada Allah, baik ia suka maupun tidak.” [Tafsir Al-Bahr Al-Madid]

 

Makanan yang haram juga akan merubah watak manusia menjadi jelek. Dikisahkan bahwa Syekh Abu Muhammad pada awal kehidupannya bekerja menyalin kitab dengan upah. Dari hasil jerih payahnya itu, terkumpullah sejumlah uang yang kemudian ia gunakan untuk membeli seorang budak perempuan (untuk dijadikan istri) yang dikenal baik dan shalihah. Ia senantiasa memberinya makanan dari hasil kerja tangannya yang halal, hingga sang istri hamil. Ia tetap membesarkannya dengan penghasilan yang halal. Ketika melahirkan, ia berpesan kepadanya agar tidak membiarkan seorang pun menyusui bayi tersebut.

 

Suatu hari, terdapat seorang perempuan dari tetangganya masuk ke dalam rumah Syekh Abu Muhammad karena mendengar suara bayi menangis sementara sang ibu sedang sakit. Perempuan tadi lalu mengambil bayi dan menyusuinya. Bayi itu sempat menyusu sedikit. Ketika Syekh Abu Muhammad melihat hal itu, ia langsung mengambil bayintya, membalikkan kepalanya, mengusap perutnya, lalu memasukkan jarinya ke dalam mulut bayi itu. Ia terus melakukan hal tersebut sampai bayi itu memuntahkan seluruh susu yang telah diminumnya. Sambil berkata:

يَسْهُلُ عَلَيَّ مَوْتُهُ، وَلَا تَفْسُدُ طِبَاعُهُ بِشُرْبِ لَبَنِ غَيْرِ أُمِّهِ.

“Lebih ringan bagiku jika ia meninggal daripada tabiatnya rusak karena meminum susu selain dari ibunya.”

Dan dikisahkan pula bahwa sang bayi yang tak lain adalah Imam al-Haramain (Guru besar dua tanah Haram, W. 478 H) terkadang mengalami suatu keadaan “fathrah” (nge-lag) ketika sedang berada dalam majelis perdebatan. Ia lalu berkata:

هَذَا مِنْ بَقَايَا تِلْكَ الرَّضْعَةِ

“Ini adalah sisa dari susuan itu.” [Wafayatul A’yan]

 

Makan makanan yang haram juga berpotensi menjadikan ibadah tertolak dari sisi Allah SWT. Ibnu Abbas RA berkata :

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ امْرِئٍ فِي جَوْفِهِ حَرَامٌ

“Allah tidak menerima shalat seseorang yang di dalam perutnya terdapat sesuatu yang haram.” [Nuzhatul Majalis]

 

Dan semakin mempertegas hal itu, Wuhaib ibn al-Ward (Seorang Zahid dari kalangan Tabi’in, W. 153 H) berkata:

وَاللَّهِ لَوْ قُمْتَ مَقَامَ هَذِهِ السَّارِيَةِ، مَا نَفَعَكَ حَتَّى تَعْلَمَ مَا يَدْخُلُ بَطْنَكَ مِنْ حَلَالٍ أَوْ حَرَامٍ.

“Demi Allah, seandainya engkau berdiri menggantikan tempat tiang ini, hal itu tidak akan bermanfaat bagimu sampai engkau mengetahui apa yang masuk ke dalam perutmu, apakah berasal dari yang halal atau yang haram.” [Hilyatul Awliya’]

 

Makan makanan yang haram juga menjadikan doa-doa kita tertolak. Rasul SAW bersabda : Ada seseorang melakukan perjalan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata : Yaa Rabb, Yaa Rabb, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram,

فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ

maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan. [HR Muslim].

 

Karena itu, bahaya memakan yang haram merupakan bahaya yang sangat besar. Seorang Muslim wajib bersungguh-sungguh memastikan makanan dan minumannya halal. Sehingga Maimun Bin Mihran (Pembesar tabi'in , W 117 H) berkata :

لَا يَكُونُ الرَّجُلُ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ أَشَدَّ مِنْ مُحَاسَبَةِ الشَّرِيكِ شَرِيكَهُ، حَتَّى يَعْلَمَ مِنْ أَيْنَ مَطْعَمُهُ، وَمِنْ أَيْنَ مَشْرَبُهُ، أَمِنْ حَلَالٍ ذَلِكَ أَمْ مِنْ حَرَامٍ.

“Tidaklah seseorang termasuk golongan orang-orang yang bertakwa hingga ia menghisab dirinya lebih ketat daripada seorang mitra menghisab mitranya, sampai ia mengetahui dari mana makanan dan minumannya diperoleh; apakah itu dari yang halal atau dari yang haram.” [Al-Bidayah Wan Nihayah]

 

Maka dari itulah pembahasan ini sangat penting, mengingat banyak manusia pada zaman ini yang meremehkan perkara memakan harta haram. Nabi SAW telah mengabarkan hal tersebut hadits utama, yaitu : “Akan datang kepada manusia suatu zaman ketika seseorang tidak lagi peduli dari mana ia memperoleh harta; apakah dari yang halal atau dari yang haram.” . [HR Bukhari]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk agar senantiasa membaca doa dan melaksanakan adab ketika makan sehingga kita dijauhkan dari setan dan makanan setiap hari yang kita makan menjadi berkah dan sarana mendapatkan maghfirah.

 

berbaik sangka kepada Allah baik dalam urusan dunia maupun akhirat sehingga kita mendapat rahmat dan kasih sayang-Nya.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

 NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

 

 

Share:

MAKAN BERSAMA SETAN

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Dari Hudzaifah RA, Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لَا يُذْكَرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ

"Sesungguhnya setan dapat memakan makanan yang tidak disebut nama Allah atasnya." [HR Muslim] 

 

Catatan Alvers

 

Setiap hari kita makan, bahkan bisa beberapa kali dalam sehari. Namun, pernahkah kita bertanya mengapa Rasulullah SAW begitu menekankan membaca doa sebelum dan sesuah makan? Ternyata adab yang tampak sederhana ini bukan sekadar doa pembuka atau penutup, melainkan perlindungan yang menghalangi setan mengambil bagian dari rezeki yang Allah anugerahkan dan upaya menjadikan rutinitas harian membawa kebaikan tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak.

 

Sahabat Hudzaifah RA berkata : Kami apabila menghadiri jamuan makan bersama Nabi SAW, tidaklah kami mengulurkan tangan hingga Rasulullah SAW memulai dan meletakkan tangan beliau pada makanan. Suatu ketika kami menghadiri jamuan bersama beliau. Tiba-tiba datang seorang anak perempuan, seakan-akan ada yang mendorongnya, lalu ia hendak mengulurkan tangannya ke makanan. Rasulullah SAW segera memegang tangannya. Kemudian datang pula seorang Arab Badui, seolah-olah ada yang mendorongnya, lalu beliau juga memegang tangannya. Lalu Rasul SAW bersabda (dengan hadits utama, yaitu): "Sesungguhnya setan akan memakan makanan yang tidak disebut nama Allah atasnya”.  Ia datang membawa anak perempuan ini agar dengan perantaranya ia dapat memperoleh bagian dari makanan itu, maka aku memegang tangannya. Kemudian ia datang membawa Arab Badui ini agar dengan perantaranya ia memperoleh bagian dari makanan itu, maka aku pun memegang tangannya. “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh tangan setan berada dalam genggamanku bersama tangan kedua orang itu." [HR Muslim]

 

Imam Nawawi menjelaskan hadits di atas dan berkata : Makna “yastaḥillu” adalah  setan dapat memperoleh kesempatan untuk memakannya. Maksudnya, setan dapat ikut memakan makanan apabila seseorang mulai menyantapnya tanpa menyebut nama Allah Ta'ala. Adapun jika belum ada seorang pun yang memulai makan, maka setan tidak dapat ikut memakannya. Bila yang makan berjamaah, lalu sebagian membaca nama Allah (basmalah) sedangkan sebagian lainnya tidak, maka setan tidak dapat memperoleh bagian dari makanan tersebut. Kemudian pendapat yang benar, yang dipegang oleh jumhur ulama dari kalangan salaf maupun khalaf—baik ahli hadis, ahli fikih, maupun ahli kalam—adalah bahwa hadits ini dan hadis-hadits lain tentang setan makan dipahami sesuai makna lahiriahnya. Artinya, setan benar-benar makan secara hakiki, karena akal tidak menganggapnya mustahil, dan syariat pun tidak menolaknya; bahkan menetapkannya. Maka wajib menerimanya dan meyakininya. [Al-Minhaj Syarah Muslim]

 

Jika lupa membaca basmalah di awal maka bisa basmalah bisa dibaca ketika tengah-tengah makan. Umayyah bin Makhsyi RA berkata : Rasul SAW sedang duduk, sementara ada seorang laki-laki makan. Ia tidak membaca basmalah hingga makanannya tinggal satu suapan. Ketika mengangkat suapan itu ke mulutnya, ia membaca : “Bismillahi awwalahu wa akhirahu” (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya). Maka Nabi SAW tertawa, kemudian bersabda:

مَا زَالَ الشَّيْطَانُ يَأْكُلُ مَعَهُ حَتَّى سَمَّى فَلَمْ يَبْقَ فِي بَطْنِهِ شَيْءٌ إِلَّا قَاءَهُ

“Setan terus makan bersamanya. Namun ketika ia menyebut nama Allah, maka setan memuntahkan seluruh makanan yang ada dalam perutnya.” [HR Abu Dawud]

 

Demikianlah Rasul SAW mengajarkannya tidak hanya kepada orang tua namun juga kepada anak kecil. Umar bin Abi Salamah RA berkata : “Ketika aku masih kecil dan berada dalam asuhan Rasul SAW, tanganku sering bergerak ke sana kemari di dalam nampan makanan. Maka beliau bersabda kepadaku :

يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

‘Wahai anak kecil, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang berada di dekatmu.’

Sejak saat itu, begitulah cara makanku.” [HR Bukhari]

 

Setan juga bisa makan dari makanan kita yang tercecer sehingga beliau juga memerintahkan agar mengambilnya. Rasul SAW bersabda :

إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ

“Apabila suapan makanan salah seorang di antara kalian jatuh, ambillah kembali lalu buanglah kotoran dari makanan tersebut dan makanlah. Jangan dibiarkan suapan tersebut dimakan oleh setan.” [HR Muslim]

 

Beliau juga mengajarkan agar tidak menyisakan makanan sedikitpun. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasannya Rasul SAW bersabda :

إِنَّكَ لَا تَدْرِي فِي أَيِّ طَعَامِكَ تَكُونُ الْبَرَكَةُ

Engkau tidak tahu di bagian mana dari makananmu yang mengandung barokah. [HR Ahmad]

 

Setelah makan, jangan lupa bersukur kepada Allah. Jika kita kenyang sehabis makan maka ketahuilah di lain tempat masih banyak orang yang susah mencari makan bahkan kelaparan. Rasul SAW bersabda :

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ يَأْكُلُ الْأَكْلَةَ أَوْ يَشْرَبُ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدُهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah ridla (sangat suka) kepada hamba-Nya yang makan atau minum lalu ia memuji-Nya. [HR Muslim]

 

Lebih dari itu, orang yang makan lalu ia memuji Allah maka ia akan mendapat ampunan. Rasul SAW bersabda :

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa yang makan lalu ia mengucapkan “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan makanan ini kepadaku dengan tanpa daya dan kekuatan dariku” maka diampunilah dosanya yang telah lalu. [HR Tirmidzi, Hadits hasan]

 

Tidak hanya basmalah dan hamdalah, doa juga sangat penting ketika makan. Imam Nawawi meriwayatkan dari dari Ibnu A‘bud, ia berkata : Ali bin Abi Thalib RA berkata kepadaku, “Wahai Ibnu A‘bud, tahukah engkau apa hak makanan?” Aku menjawab, “Apakah hak makanan itu, wahai Abu al-Hasan?” Beliau berkata: “Engkau mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا

Dengan nama Allah. Ya Allah, berkahilah kami pada rezeki yang telah Engkau anugerahkan kepada kami.”

 

Kemudian beliau bertanya lagi, “Tahukah engkau apa syukur terhadap makanan setelah selesai?” Aku menjawab, “Apakah syukurnya?” Beliau menjawab:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا

Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan memberi kami minum. [HR Ahmad]

 

Adapun doa makan yang biasa diajarkan adalah hadits yang dinukil oleh Imam Nawawi yang bersumber dari Amr bin Ash bahwasannya ketika makanan sudah didekatkan kepada Nabi SAW maka beliau membaca :

اللَّهُمَّ، بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ بِسْمِ اللهِ

Ya Allah, berkahilah kami pada rezeki yang telah Engkau anugerahkan kepada kami, lindungilah kami dari siksa neraka, dengan menyebut nama Allah. [Al-Adzkar]

 

Ada hal unik di mana doa makan diatas yang versi singkatnya mirip dengan redaksi doa hubungan suami istri, hanya saja berbeda posisi basmalahnya saja.  Doa tersebut merupakan atsar dari Al-Hasan al-Bashri, ia berkata: "Disebutkan apabila seorang lelaki mendatangi istrinya, hendaklah ia mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ، بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَلَا تَجْعَلْ لِلشَّيْطَانِ نَصِيبًا فِيمَا رَزَقْتَنَا

Bismillah. Ya Allah, berkahilah kami pada rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami, dan janganlah Engkau jadikan setan memiliki bagian dalam rezeki yang Engkau karuniakan kepada kami."

Al-Hasan berkata : "Maka diharapkan, apabila istrinya hamil dan menerima benih itu, maka anak yang lahir akan menjadi anak yang shalih." [al-Mushannaf Lis Shan’any]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk agar senantiasa membaca doa dan melaksanakan adab ketika makan sehingga kita dijauhkan dari setan dan makanan setiap hari yang kita makan menjadi berkah dan sarana mendapatkan maghfirah.

 

berbaik sangka kepada Allah baik dalam urusan dunia maupun akhirat sehingga kita mendapat rahmat dan kasih sayang-Nya.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

 NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

Share:

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts