TIPUAN WALI PALSU

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Imran Bin Hushain RA, Rasul SAW bersabda :

لا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

Tidak boleh taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta. [HR Thabrani]

 

Catatan Alvers

 

Medsos dihebohkan dengan berita mengenai Oknum kyai bahkan wali, yang diduga melakukan pelecehan seksual. tribunnews merilis berita berjudul “Tampang Kiai Cabul Pati Lecehkan 50 Santriwati, Dianggap Wali gegara Jago Ramal Masa Depan”. Salah satu warga bernama Shofi yang pernah bekerja kepada Ashari selama 11 tahun,  mengaku berulang kali diperas dan dipaksa berbohong ke orang tua kalau mondok di Jepara, supaya uang kiriman dari orang tua itu bisa masuk ke sini. Istrinya juga gitu kalau salaman, dicium pipi kanan kiri, jidat, bibir juga. Banyak, hampir semua." Namun akhirnya memberanikan diri lepas dari jeratan Ashari karena ajarannya dianggap menyimpang. [tribunnews com] Para santri tertipu oleh ucapan oknum kyai yang mengaku Khariqul ‘Adah atau menjadi wali yang memiliki kemampuan di luar akal manusia. [bap-jbb com] "Karena saya anggap dia itu walinya gusti Allah. Dia tahu semuanya, mbah saya akan meninggal dia tahu. Adik saya mau melahirkan jam 11 malam itu disuruh ngebel adek saya 'nanti adekmu lahir jam 12, cowok, nanti kasih nama ini" aku Shofi. [tribunnews com]

 

Orang yang tidak tahu, akan mudah tertipu dengan kemampuan diluar nalar manusia seperti bisa mengetahui waktu lahir dan mati misalnya atau bisa kebal, bisa makan beling bahkan bisa terbang dan berjalan di atas air, mereka secara spontan akan menganggap dia itu wali Allah. Padahal tidaklah demikian. Yang disebut waliyullah itu bukanlah yang memiliki kemampuan yang luar biasa seperti itu (khariqul Adah).

 

Lantas siapakah wali (waliyullah) itu? Ibnu Hajar Al-Asqalany berkata :

الْمُرَادُ بِوَلِيِّ اللَّهِ الْعَالِمُ بِاللَّهِ، الْمُوَاظِبُ عَلَى طَاعَتِهِ، الْمُخْلِصُ فِي عِبَادَتِهِ.

“Yang dimaksud dengan wali Allah ialah orang yang mengenal Allah, senantiasa tekun dalam menaati-Nya, dan ikhlas dalam beribadah kepada-Nya.” [Fathul Bari]

 

Ibnu Katsir berkata : “Allah Ta‘ala sendiri mengabarkan bahwa para wali-Nya adalah
“Alladzina Amanu wakanu Yattaqun” (orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa), sebagaimana Allah sendiri menjelaskan sifat mereka.

فَكُلُّ مَنْ كَانَ تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا

Maka setiap orang yang bertakwa adalah wali Allah.” [Tafsir Ibni Katsir]

 

Dan untuk menjadi orang yang bertaqwa, yang mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya maka seseorang haruslah menguasai ilmu untuk mengetahui mana yang wajib dikerjakan dan mana yang haram untuk dilakukan. Ilmu itulah yang disebut dengan ilmu fikih. Orang yang tidak mengetahui ilmu fikih maka ia tidak bisa melakukan perintah Allah seperti shalat, puasa, haji dan perintah lainnya dengan benar. Begitu pula ia tidak menjauhi larangan Allah seperti syirik, riba dan larangan dalam jual beli lainnya, meminum khamer atau berzina karena ketidak tahuannya. Oleh karena pentingnya memahami ilmu fikih dalam menjalankan ketaqwaan maka Imam Syafii dan Imam Abu Hanifah berkata :

 

 

إِنْ لَمْ يَكُنِ الْفُقَهَاءُ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ وَلِيٌّ

“Jika para ahli fikih (yang mengamalkan ilmuya) itu bukan wali Allah, maka tidak ada yang menjadi wali Allah.” [Al-Majmu’ Syarah Al-Muhaddzab]

 

Dengan demikian wali itu tidak harus diketahui memiliki karamah yang berupa kemampuan yang di luar nalar dan orang yang tampak memiliki karamah tidak otomatis ia menjadi wali Allah. As-Syinqithi menukil perkataan Ulama’:

إِذَا رَأَيْتَ رَجُلًا يَطِيرُ وَفَوْقَ مَاءِ الْبَحْرِ قَدْ يَسِيرُ. وَلَمْ يَقِفْ عِنْدَ حُدُودِ الشَّرْعِ فَإِنَّهُ مُسْتَدْرَجٌ أَوْ بِدْعِيٌّ.

Jika engkau melihat seseorang mampu Terbang ataupun Mampu berjalan di atas air. Sedang dia tidak berdiri di batas-batas hukum Syariat maka sesungguhnya dia adalah seorang yang di istidrajkan (sesat) atau seorang Pelaku Bid’ah. [Adlwa’ul Bayan]

 

Jika ada orang yang mengaku menjadi wali dengan menunjukkan keramatnya namun ia memerintahkan maksiat maka janganlah diikuti karena dia sesungguhnya adalah wali palsu, bukan walinya Allah tapi walinya setan. Seorang waliyullah yang asli dia tidak akan berbuat maksiat, apalagi memerintahkan orang lain untuk berbuat maksiat. Sekalipun anda yakin misalnya bahwa orang itu adalah waliyullah, maka tetap jangan menuruti perintahnya untuk berbuat maksiat karena Nabi SAW melarang hal itu. Rasul SAW bersabda pada hadits utama : Tidak boleh taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta. [HR Thabrani]

 

Maka ciri utama wali Allah bukan karamah yang berupa kemampuan yang di luar nalar, namun ciri utamanya adalah ketaqwaan kepada Allah SWT dengan mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Status kewalian itu sangatlah samar. Ja'far al-Sadiq berkata : Sesungguhnya Allah menyembunyikan tiga perkara dalam tiga perkara, diantaranya

خَبَّأَ وِلَايَتَهُ فِي عِبَادِهِ، فَلَا تَحْقِرُوا مِنْهُمْ أَحَدًا فَلَعَلَّهُ وَلِيُّ اللَّهِ تَعَالَى.

Allah menyembunyikan kewalian-Nya di antara hamba-hamba-Nya, maka jangan meremehkan seorang pun dari mereka, karena boleh jadi ia adalah wali Allah.” [Ihya Ulumiddin]

Dan menguatkan hal ini, Imam Ghazali berkata :

فَلَعَلَّ الَّذِي تَزْدَرِيهِ عَيْنُكَ هُوَ وَلِيُّ اللَّهِ.

Boleh jadi orang yang kau pandang hina justru dia adalah waliyullah.” [Ihya Ulumiddin]

 

Dan ada ciri-ciri lainnya. Ahmad ibnu Abil Ward berkata :

إِنَّ وَلِيَّ اللَّهِ إِذَا زَادَ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ زَادَ مِنْهَا ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ

“Sesungguhnya wali Allah, apabila bertambah padanya tiga perkara, maka bertambah pula tiga perkara

Yaitu, apabila kedudukannya bertambah, maka kerendahan hatinya bertambah; apabila hartanya bertambah, maka kemurahan dirinya bertambah; dan apabila umurnya bertambah, maka kesungguhannya dalam ibadah juga bertambah. [Hilyatul Awliya]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk tidak mudah tertipu dengan orang yang mengaku-ngaku sebagai waliyullah yang suka berbuat maksiat dan memerintahkan pengikutnya untuk melakukan maksiat kepada Allah SWT.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

No comments:

Post a Comment

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts