MAKAN BERSAMA SETAN

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Dari Hudzaifah RA, Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لَا يُذْكَرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ

"Sesungguhnya setan dapat memakan makanan yang tidak disebut nama Allah atasnya." [HR Muslim] 

 

Catatan Alvers

 

Setiap hari kita makan, bahkan bisa beberapa kali dalam sehari. Namun, pernahkah kita bertanya mengapa Rasulullah SAW begitu menekankan membaca doa sebelum dan sesuah makan? Ternyata adab yang tampak sederhana ini bukan sekadar doa pembuka atau penutup, melainkan perlindungan yang menghalangi setan mengambil bagian dari rezeki yang Allah anugerahkan dan upaya menjadikan rutinitas harian membawa kebaikan tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak.

 

Sahabat Hudzaifah RA berkata : Kami apabila menghadiri jamuan makan bersama Nabi SAW, tidaklah kami mengulurkan tangan hingga Rasulullah SAW memulai dan meletakkan tangan beliau pada makanan. Suatu ketika kami menghadiri jamuan bersama beliau. Tiba-tiba datang seorang anak perempuan, seakan-akan ada yang mendorongnya, lalu ia hendak mengulurkan tangannya ke makanan. Rasulullah SAW segera memegang tangannya. Kemudian datang pula seorang Arab Badui, seolah-olah ada yang mendorongnya, lalu beliau juga memegang tangannya. Lalu Rasul SAW bersabda (dengan hadits utama, yaitu): "Sesungguhnya setan akan memakan makanan yang tidak disebut nama Allah atasnya”.  Ia datang membawa anak perempuan ini agar dengan perantaranya ia dapat memperoleh bagian dari makanan itu, maka aku memegang tangannya. Kemudian ia datang membawa Arab Badui ini agar dengan perantaranya ia memperoleh bagian dari makanan itu, maka aku pun memegang tangannya. “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh tangan setan berada dalam genggamanku bersama tangan kedua orang itu." [HR Muslim]

 

Imam Nawawi menjelaskan hadits di atas dan berkata : Makna “yastaḥillu” adalah  setan dapat memperoleh kesempatan untuk memakannya. Maksudnya, setan dapat ikut memakan makanan apabila seseorang mulai menyantapnya tanpa menyebut nama Allah Ta'ala. Adapun jika belum ada seorang pun yang memulai makan, maka setan tidak dapat ikut memakannya. Bila yang makan berjamaah, lalu sebagian membaca nama Allah (basmalah) sedangkan sebagian lainnya tidak, maka setan tidak dapat memperoleh bagian dari makanan tersebut. Kemudian pendapat yang benar, yang dipegang oleh jumhur ulama dari kalangan salaf maupun khalaf—baik ahli hadis, ahli fikih, maupun ahli kalam—adalah bahwa hadits ini dan hadis-hadits lain tentang setan makan dipahami sesuai makna lahiriahnya. Artinya, setan benar-benar makan secara hakiki, karena akal tidak menganggapnya mustahil, dan syariat pun tidak menolaknya; bahkan menetapkannya. Maka wajib menerimanya dan meyakininya. [Al-Minhaj Syarah Muslim]

 

Jika lupa membaca basmalah di awal maka bisa basmalah bisa dibaca ketika tengah-tengah makan. Umayyah bin Makhsyi RA berkata : Rasul SAW sedang duduk, sementara ada seorang laki-laki makan. Ia tidak membaca basmalah hingga makanannya tinggal satu suapan. Ketika mengangkat suapan itu ke mulutnya, ia membaca : “Bismillahi awwalahu wa akhirahu” (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya). Maka Nabi SAW tertawa, kemudian bersabda:

مَا زَالَ الشَّيْطَانُ يَأْكُلُ مَعَهُ حَتَّى سَمَّى فَلَمْ يَبْقَ فِي بَطْنِهِ شَيْءٌ إِلَّا قَاءَهُ

“Setan terus makan bersamanya. Namun ketika ia menyebut nama Allah, maka setan memuntahkan seluruh makanan yang ada dalam perutnya.” [HR Abu Dawud]

 

Demikianlah Rasul SAW mengajarkannya tidak hanya kepada orang tua namun juga kepada anak kecil. Umar bin Abi Salamah RA berkata : “Ketika aku masih kecil dan berada dalam asuhan Rasul SAW, tanganku sering bergerak ke sana kemari di dalam nampan makanan. Maka beliau bersabda kepadaku :

يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

‘Wahai anak kecil, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang berada di dekatmu.’

Sejak saat itu, begitulah cara makanku.” [HR Bukhari]

 

Setan juga bisa makan dari makanan kita yang tercecer sehingga beliau juga memerintahkan agar mengambilnya. Rasul SAW bersabda :

إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ

“Apabila suapan makanan salah seorang di antara kalian jatuh, ambillah kembali lalu buanglah kotoran dari makanan tersebut dan makanlah. Jangan dibiarkan suapan tersebut dimakan oleh setan.” [HR Muslim]

 

Beliau juga mengajarkan agar tidak menyisakan makanan sedikitpun. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasannya Rasul SAW bersabda :

إِنَّكَ لَا تَدْرِي فِي أَيِّ طَعَامِكَ تَكُونُ الْبَرَكَةُ

Engkau tidak tahu di bagian mana dari makananmu yang mengandung barokah. [HR Ahmad]

 

Setelah makan, jangan lupa bersukur kepada Allah. Jika kita kenyang sehabis makan maka ketahuilah di lain tempat masih banyak orang yang susah mencari makan bahkan kelaparan. Rasul SAW bersabda :

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ يَأْكُلُ الْأَكْلَةَ أَوْ يَشْرَبُ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدُهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah ridla (sangat suka) kepada hamba-Nya yang makan atau minum lalu ia memuji-Nya. [HR Muslim]

 

Lebih dari itu, orang yang makan lalu ia memuji Allah maka ia akan mendapat ampunan. Rasul SAW bersabda :

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa yang makan lalu ia mengucapkan “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan makanan ini kepadaku dengan tanpa daya dan kekuatan dariku” maka diampunilah dosanya yang telah lalu. [HR Tirmidzi, Hadits hasan]

 

Tidak hanya basmalah dan hamdalah, doa juga sangat penting ketika makan. Imam Nawawi meriwayatkan dari dari Ibnu A‘bud, ia berkata : Ali bin Abi Thalib RA berkata kepadaku, “Wahai Ibnu A‘bud, tahukah engkau apa hak makanan?” Aku menjawab, “Apakah hak makanan itu, wahai Abu al-Hasan?” Beliau berkata: “Engkau mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا

Dengan nama Allah. Ya Allah, berkahilah kami pada rezeki yang telah Engkau anugerahkan kepada kami.”

 

Kemudian beliau bertanya lagi, “Tahukah engkau apa syukur terhadap makanan setelah selesai?” Aku menjawab, “Apakah syukurnya?” Beliau menjawab:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا

Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan memberi kami minum. [HR Ahmad]

 

Adapun doa makan yang biasa diajarkan adalah hadits yang dinukil oleh Imam Nawawi yang bersumber dari Amr bin Ash bahwasannya ketika makanan sudah didekatkan kepada Nabi SAW maka beliau membaca :

اللَّهُمَّ، بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ بِسْمِ اللهِ

Ya Allah, berkahilah kami pada rezeki yang telah Engkau anugerahkan kepada kami, lindungilah kami dari siksa neraka, dengan menyebut nama Allah. [Al-Adzkar]

 

Ada hal unik di mana doa makan diatas yang versi singkatnya mirip dengan redaksi doa hubungan suami istri, hanya saja berbeda posisi basmalahnya saja.  Doa tersebut merupakan atsar dari Al-Hasan al-Bashri, ia berkata: "Disebutkan apabila seorang lelaki mendatangi istrinya, hendaklah ia mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ، بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَلَا تَجْعَلْ لِلشَّيْطَانِ نَصِيبًا فِيمَا رَزَقْتَنَا

Bismillah. Ya Allah, berkahilah kami pada rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami, dan janganlah Engkau jadikan setan memiliki bagian dalam rezeki yang Engkau karuniakan kepada kami."

Al-Hasan berkata : "Maka diharapkan, apabila istrinya hamil dan menerima benih itu, maka anak yang lahir akan menjadi anak yang shalih." [al-Mushannaf Lis Shan’any]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk agar senantiasa membaca doa dan melaksanakan adab ketika makan sehingga kita dijauhkan dari setan dan makanan setiap hari yang kita makan menjadi berkah dan sarana mendapatkan maghfirah.

 

berbaik sangka kepada Allah baik dalam urusan dunia maupun akhirat sehingga kita mendapat rahmat dan kasih sayang-Nya.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

 NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

Share:

No comments:

Post a Comment

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts