Selasa, 12 Mei 2020

BERBURU LAILATUL QADAR



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah RA, Nabi SAW bersabda :
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. [HR Bukhari]

Catatan Alvers

Ketika melihat garis finish di depan mata, Sang joki berusaha memacu kuda balapnya agar keluar sebagai juara. Bagaimana dengan kita, ketika melihat garis finish ramadhan didepan mata, akankah kita semakin memacu diri untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah supaya keluar ramadhan menjadi pemenang lailatul qadar dan “la’allakum Tattaqun”? Ataukah sebaliknya semakin memperlambat laju ibadah karena bosan atau sibuk dengan mempersiapkan hari raya?


Memang tabiat nafsu, ia senang hal baru dan lambat laun akan merasa bosan. Demikianlah di bulan ramadhan dimana di awalnya banyak orang yang melakukan taraweh namun lambat laun mereka berguguran hingga di akhir ramadhan nyaris jumlah jamaah tidak berbeda dengan hari-hari biasa di luar ramadhan padahal di masa-masa akhir ramadhan itulah terdapat pahala besar yaitu lailatul qadar.

Keberadaan banyak masjid yang tutup karena Pandemi covid-19 ini janganlah kita jadikan alasan untuk tidak beribadah seperti tarawih dan qiyamul lail, bukankah ibadah itu tidak hanya dilakukan di masjid? Di rumahpun kita masih bisa beribadah, bahkan pahalanya tidak akan berkurang dari tahun lalu. Bukankah malaikat akan tetap mencatat semua ibadah yang ditinggalkan karena adanya udzur?.

Jika kita tetap saja merasa berat hati karena tidak bisa beri’tikaf di masjid sebab masjidnya ditutup maka dalam kondisi seperti ini boleh saja kita mengikuti pendapat ulama yang membolehkan i’tikaf di musholla dalam rumah. Imam Nawawi berkata :
وَجَوَّزَهُ بَعْضُ أَصْحَابِ مَالِكٍ وَبَعْضُ أَصْحَابِ الشَّاِفعِيِّ لِلْمَرْأَةِ وَالرَّجُلِ فِي مَسْجِدِ بَيْتِهِمَا
Sebagian ulama mazhab maliki dan ulama mazhab syafi’i memperbolehkan beri’tikaf bagi laki-laki dan perempuan di masjid dalam rumahnya. [Al-Minhaj Syarah Muslim]
Nah sekarang sudah tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak giat beribadah pada 10 terakhir ramadhan ini untuk mencari lailatul qadar sebagaimana sabda Nabi SAW pada hadits utama di atas. Sayyidah A’isyah RA berkata:  “Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” [HR. Muslim]. Bahkan beliau mengatakan:
كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Apabila Nabi SAW memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” [HR. Bukhari]

Cukuplah kiranya motivasi keberadaan amalan pada malam lailatul qadar lebih baik dari amalan selama 1000 bulan atau 83 tahun alias seumur hidup kita dan ditambah dengan pengampunan dari dosa-dosa kita yang pernah kita lakukan sebelumnya. Baginda Nabi SAW bersabda :
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa menghidupkan malam lailatul qadar dengan ibadah karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [HR. Bukhari]

Anas bin malik RA berkata : “Ketika datang bulan ramadhan, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya bulan ini telah hadir kepada kalian. Di bulan ini ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.
مَنْ حُرِمَهَا فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ وَلَا يُحْرَمُ خَيْرَهَا إِلَّا مَحْرُومٌ
Barangsiapa terhalang (tidak mendapatkan) dari lailatul qadar  maka dia telah terhalang dari semua kebaikan. Dan tidaklah terhalang dari kebaikan lailatul qadar kecuali orang yang benar-benar terhalang (dari kebaikan dan keberuntungan). [HR Ibnu Majah]

Lailatul Qadar berawal dari Kisah Empat laki-laki dari Bani Israil yang beribadah kepada Allah selama delapan puluh tahun dengan tanpa maksiat sekejap matapun. Lalu Nabi SAW menyebut Ayub, Zakaria, Hizqil bin ‘Azuz dan Yusa’ bin Nun.” Para sahabatpun takjub dengan kondisi mereka. Lalu Jibril datang kepada Nabi seraya berkata: “Wahai Muhammad, umatmu takjub dengan ibadah mereka selama delapan puluh tahun dan tidak bermaksiat kepada Allah sekejap matapun. Sesungguhnya Allah telah menurunkan sesuatu yang lebih baik dari itu. Lalu Malaikat Jibril membacakan ayat ini kepada Nabi SAW :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam lailatul qadar. Dan tahukah kamu apakah malam lailatul qadar itu? Makam lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. [QS Al-Qadar : 1-3]
Lalu Rasulullah SAW beserta para sahabat bergembira”. [ad-Durr al-Mantsur]

Dahulu Rasul SAW mengetahui kapan lailatul qadar itu, beliau bersabda :
إِنِّي كُنْتُ أُرِيْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ نُسِّيْتُهَا وَهِيَ فِى الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ
Sesungguhnya aku telah diperlihatkan malam lailatul qadar, kemudian aku dibuat lupa. Dan(yang pasti) malam lailatul qadar itu di sepuluh terakhir (ramadhan). [HR Ibnu Hibban]

Imam Ibnu Hajar Al-Haytami berkata :
وَحِكْمَةُ إِبْهَامِهَا فِي الْعَشْرِ إِحْيَاءُ جَمِيْعِ لَيَالِيهِ وَهِيَ مِنْ خَصَائِصِنَا وَبَاقِيَةٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Hikmah disamarkannya waktu lailatul qadar pada 10 hari terakhir adalah agar kita menghidupkan semua malamnya dengan ibadah dan lailatul qadar itu merupakan keistimewaan khusus untuk kita, ummat Nabi Muahmmad SAW dan ia akan tetap ada sampai hari kiamat. [Tuhfatul Muhtaj]

Namun demikian Nabi SAW memberikan batasan yaitu 10 hari terakhir bulan ramadhan sebagaimana hadits utama di atas dan Rasul SAW masih menambahkan dengan memberi tanda-tanda datangnya lailatul Qadar secara fisik di antaranya udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” [HR. Al-Baihaqi] 

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Rasul SAW memberi tanda-tanda lailatul qadar pada pagi harinya? Bukankah malam lailatul qadar telah lewat tadi malamnya sehingga tidak ada manfaatnya baginya?. Menjawab hal ini, Sayyid bakri berkata :
وَفَائِدَةُ ذَلِكَ مَعْرِفَةُ يَوْمِهَا إِذْ يُسَنُّ الْاِجْتِهَادُ فِيْهِ كَلَيْلَتِهَا
Manfaat dari tanda-tanda tersebut adalah mengetahui bahwa siangnya itu adalah siang dari lailatul qadar karena disunnahkan juga beribadah di siang harinya sebagaimana dianjurkan beribadah pada malam harinya. [I’anatut Thalibin]

Jawaban ini menurut saya logis, karena pada kenyataannya bahwa terjadinya malam hari itu tidaklah bersamaan di berbagai penjuru dunia. Bukankah jika di indonesia sudah masuk pagi hari sementara di arab saudi masih malam hari?.

Lantas kapankah lailatul qadar itu?. Para ulama’ berbeda-beda dalam menentukannya bahkan Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata:
وَقَدِ اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ اِخْتِلَافًا كَثِيْرًا وَتَحْصُلُ لَنَا مِنْ مَذَاهِبِهِمْ فِي ذَلِكَ أَكْثَرُ مِنْ أَرْبَعِيْنَ قَوْلًا
 “Ulama berselisih pendapat dalam menentukan malam lailatul qadar bahkan pendapat tersebut mencapai lebih dari empat puluh pendapat (46 pendapat). [Fathul bari]

Di samping tanda-tanda fisik dalam hadits, ada pula tanda-tanda yang dilihat secara pribadi. Imam Ibnu Hajar menyebutkan “Ada yang berkata dia melihat semua benda bersujud, ada juga yang mengatakan semua tempat bersinar bahkan di tempat-tempat gelap, ada juga yang mengatakan mendengar salam atau ucapan dari malaikat dan ada juga yang mengatakan tandanya adalah doa yang dipanjatkan malam itu terealisasi”. [Fathul Bari]

Memprediksi lailatul qadar, sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di atas adalah 10 hari terakhir dan Imam Syafi’i berpendapat bahwa kemungkinan terbesarnya adalah malam 21 atau 23 sementara imam Nawawi berpendapat bahwa lailatul qadar itu bisa berpindah-pindah harinya. Dan sesuai tanda-tanda yang terdapat dalam hadits maupun tanda secara pribadi, Imam Ghazali / Abul Hasan As-Sadzili /(Nadzam) al-Bajuri memberikan prediksinya yang mengacu pada hari tanggal 1 bulan ramadhan. Berikut ringkasannya saya sebutkan sesuai urutannya :
Ahad : malam 29/29/27
Senin : malam 21/21/29
Selasa : malam 27/27/25
Rabu : malam 29/19/27
Kamis : malam 25/25/Ganjil>10
*Jumat : malam 27/17/29*
Sabtu : malam 23 /23/21

Untuk memperoleh kemuliaan lailatul qadar tersebut merujuk kepada teks hadits di atas “Man Qama” apakah kita harus menghidupkan seluruh malam dengan ibadah ataukah cukup kita melakukan badah yang minimalnya sudah disebut dengan “Qiyamul Lail”?. Sayyid bakri menjawab : Cukup minimalnya, dan ini juga merupakan pendapat sebagian para Imam. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa mendapat lailatul qadar itu dianggap cukup dengan shalat fardlu isya’ namun yang jelas secara urf (adat) seseorang tidak disebut “Qama Al-Laylata” (mendirikan ibadah pada suatu malam) kecuali ia beribadah pada seluruh malam atau sebagian besar dari malam tersebut. [I’anatut Thalibin]

Namun demikian terdapat hadits :
مَنْ صَلَّى الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ حَتَّى يَنْقَضِيَ شَهْرُ رَمَضَانَ فَقَدْ أَصَابَ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Barang siapa melakukan shalat maghrib dan isya’ secara berjamaah sampai akhir bulan ramadhan maka dia telah mendapati lailatul qadar dengan bagian yang sempurna. [HR Baihaqi]

Sayyidah ‘Aisyah RA pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku, jika aku mengetahui waktu malam lailatul qadr, apa yang akan aku baca pada waktu itu?” Beliau menjawab: “Bacalah : 
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Wahai Allah, sesungguhnya Engkau Maha pemberi maaf lagi Maha pemurah, Engkau suka memberi maaf, maka maafkanlah aku”. [HR Tirmidzi]

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk semangat beribadah setiap malam sepanjang 10 malam terakhir ini guna mencari lailatul Qadar. ”Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni Ya Allah Engkau Maha Pengampun, Engkau suka mengampuni, ampunilah aku”.

Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.
Hak cipta berupa karya ilmiyah ini dilindungi oleh Allah SWT. Dilarang mengubahnya tanpa izin tertulis. Silahkan Share tanpa mengedit artikel ini. Sesungguhnya orang yang copas perkataan orang  lain tanpa menisbatkan kepadanya maka ia adalah seorang pencuri atau peng-ghosob dan keduanya adalah tercela [Imam Alhaddad]

0 komentar:

Posting Komentar