Sunday, January 25, 2026

AYO MONDOK

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Anas Bin Malik RA, Rasul SAW bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. [HR Ibnu Majah]

 

Catatan Alvers

 

“Mondok” adalah istilah untuk aktifitas seseorang tinggal di pondok pesantren dengan tujuan fokus untuk mengaji atau menuntut ilmu agama yang diwajibkan untuknya. Hal ini sebagaimana disebut pada hadits utama. Mengaji itu sangatlah mulia, bahkan disetarakan dengan kemuliaan berjihad. Rasul SAW Bersabda :

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu (syar’i) maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang (kembali ke rumahnya)”. [HR Turmudzi]

 

Yahya bin Yahya al-Laytsi adalah seorang ulama besar asal Andalusia (Spanyol Muslim), murid Imam Malik. Ia berkata : Pertama kali Imam Malik bin Anas berbicara kepadaku ketika aku datang kepadanya sebagai penuntut ilmu, pada hari pertama aku duduk di majelisnya, beliau bertanya: “Siapa namamu?” Aku menjawab: “Semoga Allah memuliakanmu, namaku Yahya.” Saat itu aku adalah yang paling muda di antara sahabatku.

 

Beliau berkata kepadaku: “Wahai Yahya, Allah, Allah, bersungguh-sungguhlah dalam urusan ini (menuntut ilmu). Aku akan menceritakan kepadamu sebuah kisah yang akan membuatmu bersemangat dalam ilmu, dan membuatmu enggan terhadap selainnya.”

Kemudian beliau bercerita: “Pernah datang ke Madinah seorang pemuda dari Syam, seusiamu, ia bersama kami bersungguh-sungguh menuntut ilmu hingga akhirnya ia wafat. Aku melihat pada jenazahnya sesuatu yang belum pernah kulihat pada jenazah siapa pun di negeri kami, baik penuntut ilmu maupun ulama. Semua ulama berdesakan mengiringi jenazahnya. Hingga sang amir (pemimpin) menahan diri dari menshalatinya dan berkata: ‘Silakan kalian majukan siapa yang kalian kehendaki.’ Maka para ulama memajukan Rabi‘ah. Lalu Rabi‘ah bersama Zaid bin Aslam, Yahya bin Sa‘id, Ibn Syihab, Muhammad bin al-Mundhir, Shafwan bin Sulaim, Abu Hazim, dan lainnya turun ke liang lahadnya. Mereka semua bergantian memberikan batu bata untuk menutup liang lahad.”

 

Imam Malik melanjutkan: “Pada hari ketiga setelah pemuda itu dimakamkan, orang shalih dari Madinah melihatnya dalam mimpi, dalam rupa yang sangat indah: seorang pemuda tampan, berpakaian putih, berikat serban hijau, menunggang kuda putih turun dari langit. Ia datang kepadanya, memberi salam, dan berkata: ‘Ilmu telah mengantarkanku ke derajat ini.’ Orang shalih itu bertanya: ‘Apa yang telah mengantarkanmu?’ Ia menjawab: ‘Allah memberiku satu derajat di surga untuk setiap bab ilmu yang kupelajari. Namun derajat itu belum menyampaikanku ke derajat para ulama. Lalu Allah berfirman:

زِيدُوا وَرَثَةَ أَنْبِيَائِي، فَقَدْ ضَمِنْتُ عَلَى نَفْسِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ وَهُوَ عَالِمٌ سُنَّتِي، أَوْ سُنَّةَ أَنْبِيَائِي، أَوْ طَالِبٌ لِذَلِكَ أَنْ أَجْمَعَهُمْ فِي دَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ.

“Tambahkan bagi para pewaris nabi. Aku telah menjamin bahwa siapa yang mati sebagai ulama sunnahku, atau sunnah para nabi, atau penuntut ilmu itu, akan Aku kumpulkan mereka dalam satu derajat”.

 

Maka Allah memberiku hingga aku sampai pada derajat para ulama. Antara aku dan Rasul SAW hanya ada dua derajat : satu derajat beliau duduk bersama para nabi, satu derajat bersama para sahabat beliau dan sahabat para nabi, lalu derajat berikutnya adalah para ulama dan penuntut ilmu. Aku ditempatkan di tengah mereka, mereka menyambutku dengan hangat. Selain itu, Allah menjanjikan tambahan: bahwa para nabi akan dikumpulkan dalam satu kelompok, lalu Allah berkata: ‘Wahai para ulama, inilah surga-Ku, Aku halalkan untuk kalian. Inilah ridha-Ku, Aku ridha kepada kalian. Jangan masuk surga sebelum kalian berdoa dan memberi syafaat. Aku akan kabulkan doa kalian dan syafaat kalian, agar hamba-hamba-Ku melihat kemuliaan kalian di sisi-Ku.’”

 

Ketika lelaki itu bangun, ia menceritakan mimpinya kepada para ulama, dan berita itu tersebar di Madinah. Imam Malik berkata: “Ada orang-orang di Madinah yang dahulu memulai menuntut ilmu bersama kami lalu berhenti. Setelah mendengar kisah ini, mereka kembali lagi bersungguh-sungguh, hingga kini mereka menjadi ulama di negeri kami.

يَا يَحْيَى جِدَّ فِي هَذَا الْأَمْرِ

Wahai Yahya, bersungguh-sungguhlah dalam urusan ini (menuntut ilmu agama).” [Syarah Al-Bukhari Libni Batthal]

 

Dari kemuliaan menuntut Ilmu maka sahabat Abu Darda’ RA berkata:

كُنْ عَالِمًا، أَوْ مُتَعَلِّمًا، أَوْ مُسْتَمِعًا، وَلَا تَكُنِ الرَّابِعَ فَتَهْلَكَ.

"Jadilah seorang alim, atau penuntut ilmu, atau pendengar ilmu. Janganlah engkau menjadi yang keempat, niscaya engkau akan binasa." [Ihya Ulumiddin]

 

Siapakah orang ke empat itu?. Ada orang memberi nasehat berkata kepada Umar bin Abdul Aziz, Ia berkata :

إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ عَالِمًا فَكُنْ عَالِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَكُونَ عَالِمًا فَكُنْ مُتَعَلِّمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَكُونَ مُتَعَلِّمًا فَأَحْبِبْهُمْ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَلَا تُبْغِضْهُمْ

Jika engkau mampu menjadi seorang alim, maka jadilah alim. Jika tidak mampu menjadi alim, maka jadilah penuntut ilmu. Jika tidak mampu menjadi penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Jika tidak mampu mencintai mereka, maka janganlah membenci mereka."

Maka Umar bin Abdul Aziz berkata: "Subhanallah, sungguh Allah telah memberikan jalan keluar bagi kita." [Ihya Ulumiddin]

 

Janganlah berputus asa ketika merasa sulit untuk memahami ilmu agama. Syeikh Rabi’ bin Sulaiman seorang faqih, ahli hadis, dan muazin di Masjid Fusthath, Mesir, murid utama Imam Syafi’i di Mesir, dan merupakan periwayat paling terkenal dari kitab al-Umm, dahulu ia dikenal sebagai pelajar yang “Bathi’ul Fahm” (Lemot). As-Subki menceritakan bahwa Imam Syafi’i pernah mengajari Rabi’ satu masalah dan dilang-ulangi sampai 40 X namun ia tidak paham juga hingga ia pergi meninggalkan majelis karena malu. Imam Syafi’i akhirnya memberinya pelajaran secara privat sampai ia paham. Dahulu Imam Syafi’i pernah berkata kepadanya :

يَا رَبِيعُ، لَوْ أَمْكَنَنِي أَنْ أُطْعِمَكَ الْعِلْمَ لَأَطْعَمْتُكَ

"Wahai Rabi‘, seandainya aku mampu memberimu ilmu dengan cara menyuapimu, niscaya aku akan melakukannya." [Thabaqat As-Syafi’iyyah Al-Kubra]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk terus menuntut ilmu agama yang diperintahkan dan tidak pernah berhenti dari belajar serta tidak putus asa ketika menemukan kendala apapaun.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

0 komentar:

Post a Comment