• WhatsApp Channel : One Day One Hadith

    Bergabunglah bersama Saluran WhatsApp One Day One Hadith

  • Penerimaan Santri Baru 2026/2027

    Monggo nderek-nderek Nyethak Sholihin Sholihat dengan mendaftarkan putra putri jenengan ke PPW An-Nur 2 Al Murtadlo

  • Tadarus Akbar

    Tadarus Akbar oleh ribuan santri putra Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo

  • Sholat Tarawih Akbar

    Sekitar 3.000 santri putra melaksanakan Tarawih Akbar di Lapangan Utama Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo. Sabtu malam, 21 Februari 2026, lapangan center An-Nur II penuh dengan 24 saf santri berbaju putih

  • Bersama KAPOLRI

    Bersama Bapak Jenderal Listyo Sigit Prabowo - KAPOLRI dan Majelis Keluarga An-Nur 2

INDUKNYA KITAB SUCI #9

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW Bersabda :

أُمُّ الْقُرْآنِ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ

Ummul Qur’an itu adalah as-Sab‘ul-Matsani, dan (sebagian dari) Al-Qur’an yang agung.” [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Sering kita dengar imam memandu jama’ah untuk membaca surat fatihah seperti sehabis shalat, dalam acara tahlil bahkan dalam pembukaan setiap acara kita mendengar seruan “Al-Fatihah”. Sering juga al-Fatihah dibaca untuk tercapainya satu hajat baik yang disebutkan secara spesifik maupun tidak. Ada apa dengan fatihah? Kenapa tidak diserukan dengan surat lain dari 114 Surat dalam Al-Qur’an?

 

Surat Al-Fatihah itu dahsyatnya luar biasa. Kenapa? karena ia adalah “Ummul Qur’an” induk dari kitab suci Al-Qur’an. Dalam hadits utama disebutkan : Ummul Qur’an itu adalah as-Sab‘ul-Matsani, dan (sebagian dari) Al-Qur’an yang agung.” [HR Bukhari]

 

Ibnu Hajar Al-Asqalani mensyarahi : Lafad “Al-Qur’an Al-Qadzim” pada hadits tersebut bukan athaf kepada “As-Sab’ul Matsani” karena Fatihah itu bukanlah Al-Qur’an itu sendiri secara keseluruhan. Boleh mengucapkan Al-Qur’an untuk merujuk kepada surat fatihah karena fatihah itu bagian dari Al-Qur’an tetapi bukan Al-Qur’an itu sendiri secara keseluruhan… “At-Thabari meriwayatkan dengan dua sanad yang baik dari Umar kemudian dari Ali bahwa “al-Sab‘ul-Matsani (Tujuh ayat yang diulang-ulang) adalah Fatihatul Kitab (pembuka Al-Quran Yakni Al-Fatihah)”. Dalam riwayat Umar ada tambahan : “karena ia (Fatihah) itu diulang-ulang (pembacaannya) dalam setiap rakaat.” ... Satu ketika Ibn Abbas membaca al-Fatihah lalu berkata : “Itu adalah Fatihatul Kitab, dan Bismillahir Rahmanir Rahim adalah ayat yang ketujuh.” [Fathul Bari]

 

Tiada surat yang sedahsyat Fatihah. Diriwayatkan dari ubay Bin Ka’b RA, Rasul SAW bersabda :

مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ مِثْلَ أُمِّ الْقُرْآنِ وَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَهِيَ مَقْسُومَةٌ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

“Allah tidak menurunkan dalam Taurat maupun Injil sesuatu yang serupa dengan Ummul Qur’an (al-Fatihah). Ia adalah as-Sab‘ul-Matsani, dan ia terbagi antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” [HR Tirmidzi]

 

Mengapa Al-Fatihah disebut dengan induknya Al-Qur’an? Imam Suyuthi berkata: Para ulama berbeda pendapat mengapa fatihah dinamakan dengan Ummul Qur’an. Ada yang mengatakan karena ia ditulis pertama kali dalam mushaf dan dibaca ketika shalat sebelum membaca surah (yang lain)…Ada juga pendapat: karena ‘umm’ itu artinya permulaan, sebagaimana ibu adalah permulaan anak. Al-Mawardi berkata: dinamakan demikian karena ia mendahului dan (surat-surat) yang lain mengikuti setelahnya. Ada pula yang mengatakan bahwa

أُمُّ الشَّيْءِ أَصْلُهُ، وَهِيَ أَصْلُ القُرْآنِ لانْطِوَائِهَا عَلَى جَمِيعِ أَغْرَاضِ القُرْآنِ وَمَا فِيهِ مِنَ العُلُومِ وَالحِكَمِ

‘umm’ berarti asal, dan al-Fatihah adalah asal al-Qur’an karena mencakup seluruh maksud al-Qur’an, ilmu-ilmu, dan hikmah-hikmahnya.” [Al-Itqan Fi Ulumil Qur’an]

 

Pendapat terakhir ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh Abu Bakar syatha : “Diriwayatkan bahwa kitab-kitab suci yang diturunkan dari langit ke bumi berjumlah 104 kitab : 60 kepada Syits diturunkan, 30 kepada Ibrahim, 10 kepada Musa sebelum Taurat, kemudian Taurat, Injil, Zabur, dan Furqan (al-Qur’an).

وَأَنَّ مَعَانِيَ كُلِّ الكُتُبِ مَجْمُوعَةٌ فِي القُرْآنِ، وَمَعَانِيهِ مَجْمُوعَةٌ فِي الفَاتِحَةِ، وَلِهَذَا سُمِّيَتْ أُمَّ الكِتَابِ

Dan sesungguhnya makna dari semua kitab itu terkumpul dalam al-Qur’an, sedangkan makna dari al-Qur’an terkumpul dalam al-Fatihah. Oleh karena itu al-Fatihah dinamakan Umm al-Kitab (induknya Qur’an).” [I’anatut Thalibin]

 

Surat fatihah sebagai induk dari Al-Qur’an memiliki keutamaan. Diantaranya adalah sebagai sarana mencapai hajat bagi seseorang. Abu Hurairah RA berkata "Bacalah Ummul Qur'an dalam dirimu, karena aku mendengar Rasulullah bersabda, 'Allah berfirman :

 

قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

"Aku membagi shalat antara Aku dengan hambaKu, dan hambaku mendapatkan sesuatu yang dia minta”.

 

“Apabila seorang hamba berkata : “Alhamdulillahi rabbil Alamin” (Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam). Maka Allah berfirman : 'HambaKu memujiKu.' Apabila ia mengucapkan, “Ar-rahmanir rahim” (Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang).' Allah berfirman : 'HambaKu memujiKu.' Apabila ia mengucapkan, “Maliki Yaumid din” (Pemilik hari kiamat). Allah berfirman : 'HambaKu memujiku. HambaKu menyerahkan urusannya kepadaKu.' Apabila ia mengucapkan, “Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in” (Hanya kepadaMulah aku menyembah dan hanya kepadaMulah aku memohon pertolongan).' Allah berfirman: 'Ini adalah antara Aku dengan hambaKu. Dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta'. Apabila hamba tersebut mengucapkan, “Ihdinas Shirathal Mustaqim Shirathal ladzina an’amta Alayhim Ghairil Magdlubi Alayhim walad Dhallin” ('Berilah kami petunjuk jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri ni kmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang sesat). Allah berfirman : 'Ini untuk hambaKu, dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta'." [HR Muslim]

 

Dan ulama Darul Ifta Mesir berkata : Dengan hadits ini, sebagian ulama berhujjah bahwa :

مَا قَرَأَ أَحَدٌ الفَاتِحَةَ لِقَضَاءِ حَاجَةٍ وَسَأَلَ حَاجَتَهُ إِلَّا قُضِيَتْ

“Tidaklah seseorang membaca al-Fatihah untuk suatu hajat, lalu ia memohon hajatnya, melainkan hajat itu akan dipenuhi.” [dar-alifta org]

Disamping induknya Qur’an, Al-Fatihah juga menjadi Surat paling agung. Abu Sa’id Rafi’ bin Al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu berkata : ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengatakan,

لأُعَلِّمَنَّكَ أعْظَمَ سُورَةٍ في القُرْآنِ

‘Aku akan mengajarkanmu surah yang paling agung dalam Al-Qur’an?’

Beliau menjawab, ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin (surah Al-Fatihah), itu adalah as-sab’ul matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang), dan Al-Qur’an Al-‘Adzim (Al-Qur’an yang agung) yang telah diberikan kepadaku.” [HR Bukhari]

 

Sebagai induk dari Qur’an, Al-Fatihah memiliki cara yang unik ketika diturunkan. Ibnu Abbas RA berkata : Ketika malaikat Jibril sedang duduk di samping Nabi SAW tiba-tiba ia mendengar suara pintu dibuka dari arah atas kepala. Lalu malaikat Jibril berkata: "Itu adalah suara salah satu pintu langit yang dibuka, sebelumnya ia belum pernah dibuka sama sekali kecuali pada hari ini." Lalu keluarlah daripadanya malaikat. Jibril berkata: "Ini adalah malaikat yang hendak turun ke bumi, sebelumnya ia belum pernah turun ke bumi sama sekali kecuali pada hari ini saja." Lalu ia memberi salam dan berkata: "Bergembiralah atas dua cahaya yang diberikan kepadamu dan belum pernah diberikan kepada seorang Nabipun sebelummu, yaitu pembuka Al-Kitab (surat Fatihah) dan penutup surat Al Baqarah”.

لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ

“Tidaklah kamu membaca satu huruf dari kedua surat itu kecuali pasti akan diberikan kepadamu."  [HR Muslim]

 

Ada keterangan menarik dari Syekh Ismail Haqqi al-Burusawi : “Syekh al-Akbar (Ibnu ‘Arabi) dalam al-Futuhat berkata: Ketika engkau membaca al-Fatihah, maka Jibril AS menyampaikan dari Mikail AS, dari Israfil AS, bahwa Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai Israfil, demi keperkasaan-Ku, keagungan-Ku, kemurahan-Ku, dan kedermawanan-Ku,

مَنْ قَرَأَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مُتَّصِلَةً بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ مَرَّةً وَاحِدَةً

“Barangsiapa membaca Bismillahir Rahmanir Rahim dengan disambungkan dengan al-Fatihah sekali saja”,

“maka saksikanlah bahwa Aku telah mengampuninya, menerima amal baiknya, mengampuni kesalahannya, tidak akan membakar lidahnya dengan api, melindunginya dari siksa kubur, siksa neraka, siksa hari kiamat, dan dari ketakutan yang besar. Ia akan berjumpa dengan-Ku sebelum para nabi dan para wali seluruhnya.’” [Ruhul Bayan fi Tafsir al-Qur’an]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk senantiasa membaca Al-Quran dan  merenungkan maknanya serta melaksanakan isinya, termasuk surat al-Fatihah yang merupakan induk dari al-Quran.

 

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

PUASA BATHIN

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW Bersabda :

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya melainkan lapar saja.” [HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Puasa dalam bahasa Arab disebut dengan shaum. Shaum sendiri bermakna menahan. Puasa didefinisikan dengan :

إِمْسَاكٌ عَنِ الْمُفْطِرِ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوصٍ

menahan diri dari perkara yang membatalkan dengan cara tertentu. [Fathul Wahhab]

 

Ditinjau dari sisi bathin, puasa memiliki beberapa tingkatan. Dalam Ihya ulumiddin, Imam Ghazali berkata :

اِعْلَمْ أَنَّ الصَّوْمَ ثَلاثُ دَرَجَاتٍ: صَوْمُ الْعُمُومِ وَصَوْمُ الْخُصُوصِ وَصَوْمُ خُصُوصِ الْخُصُوصِ.

Ketahuilah bahwa puasa itu ada tiga derajat : Puasa umum, puasa khusus dan puasa khususil khusus. [Ihya ulumiddin]

 

Lebih lanjut Imam Ghazali menjelaskan : Pertama, Puasa umum dan ini merupakan puasanya kebanyakan orang (awam) yaitu menahan perut dari makanan dan menahan kemaluan dari syahwat. Kenyataannya memang demikian. Kebanyakan orang berpuasa berpinsip yang peting tidak makan minum dan tidak berjima’ dengan istri di siang bulan ramadhan.

 

Kedua, Puasa khusus dan ini merupakan puasanya orang-orang shalih. Yaitu menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Dan ini adalah puasanya orang-orang shalih. Kesempurnaan puasa tingkatan ini adalah dengan enam perkara yaitu :

 

(1) Menjaga Pandangan dari melihat hal-hal tercela, yang membangkitkan syahwat, atau melalaikan dari mengingat Allah. Nabi SAW bersabda:

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومَةٌ، فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللهِ أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ

“Pandangan (yang haram) adalah salah satu anak panah beracun dari panah-panah Iblis. Maka barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberinya iman yang manisnya dapat ia rasakan dalam hati.” [HR Al-Hakim]

 

(2) Menjaga Lisan dari ucapan sia-sia, dusta, ghibah, adu domba, kata-kata kotor, debat kusir dan mengisi lisan dengan dzikir dan tilawah. Mujahid berkata :

خَصْلَتَانِ يُفْسِدَانِ الصِّيَامَ: الغِيبَةُ وَالكَذِبُ

“Dua perkara yang merusak puasa yaitu ghibah dan dusta.” [Ihya]

 

Diriwayatkan bahwa ada dua orang wanita berpuasa pada masa Rasul SAW. Menjelang sore, keduanya sangat lapar dan haus hingga hampir pingsan. Lalu mereka mengirim utusan kepada Rasul untuk meminta izin berbuka. Rasul SAW mengirimkan sebuah bejana dan bersabda : Katakan kepada mereka, muntahkanlah ke dalam bejana ini apa yang kalian makan. Maka salah satunya memuntahkan setengah bejana berupa darah segar dan daging mentah, dan yang lain memuntahkan hal yang sama hingga penuh. Orang-orang pun keheranan melihat hal itu. Rasul SAW bersabda:

هَاتَانِ صَامَتَا عَمَّا أَحَلَّ اللَّهُ لَهُمَا وَأَفْطَرَتَا عَلَى مَا حَرَّمَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِمَا

Kedua wanita ini berpuasa dari apa yang Allah halalkan bagi mereka, tetapi berbuka dengan apa yang Allah haramkan atas mereka.

Keduanya duduk bercengkrama sambil maka daging manusia (yaitu dengan menggunjing mereka).  [HR Ahmad]

 

(3) Menjaga Pendengaran dari hal-hal yang haram, seperti ghibah atau kebohongan. Allah menyamakan pendengar kebohongan dengan pemakan harta haram. Nabi SAW bersabda:

المُغْتَابُ وَالمُسْتَمِعُ شَرِيكَانِ فِي الإِثْمِ

“Penggunjing dan pendengar ghibah adalah sekutu dalam dosa.” [Ihya]

 

(4) Menjaga Anggota Tubuh Lain seperti tangan, kaki, dan seluruh anggota dari perbuatan maksiat. Menjaga perut dari makanan haram atau syubhat saat berbuka. Puasa seseorang akan sia-sia jika ia menahan diri dari perkara yang halal namun ia berbuka dengan perkara yang haram. Imam Ghzali berkata : “Perumpamaan orang yang berpuasa tetapi tetap melakukan hal-hal yang merusak puasanya,

مِثَالُ مَنْ يَبْنِي قَصْرًا وَيَهْدِمُ مِصْرًا

seperti orang yang membangun sebuah istana namun meruntuhkan kota.

 

Sesungguhnya makanan halal itu membahayakan bukan karena jenisnya, melainkan karena banyaknya. Maka puasa bertujuan untuk mengurangi jumlah makanan. Orang yang meninggalkan banyaknya obat karena takut mudarat, lalu beralih kepada racun, adalah orang yang bodoh. Yang haram itu ibarat racun yang membinasakan agama, sedangkan yang halal itu ibarat obat: sedikitnya bermanfaat, banyaknya membahayakan. Tujuan puasa adalah untuk mengurangi (makanan halal) agar tidak berlebihan.” [Ihya]

 

(5) Tidak Berlebihan dalam Memakan makanan yang Halal saat berbuka. Bukankah tujuan puasa itu adalah melemahkan syahwat dan nafsu. Jika seseorang ketika puasa di bulan ramadhan takaran makanannya sama saja dengan ketika tidak puasa, maka ruh puasa jadi hilang dan puasa menjadi sia-sia sebab Ia hanya memindah jam makan saja.

 

(6) Hati antara Khauf (cemas) dan Raja’ (penuh harap) setelah seseorang berbuka puasa. Takut kalau puasanya ditolak namun ia berharap agar diterima. Demikian pula sikap ini harus tetap ada setelah ibadah dilakukan. Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri, bahwa ia pernah melewati suatu kaum yang sedang tertawa. Maka ia berkata: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menjadikan bulan Ramadan sebagai gelanggang perlombaan bagi hamba-hamba-Nya, di mana mereka berlomba di dalamnya untuk taat kepada-Nya. Maka ada kaum yang mendahului lalu menang, dan ada kaum yang tertinggal lalu rugi. Maka sungguh mengherankan, sangat mengherankan, orang yang tertawa dan bermain pada hari ketika para pemenang telah berhasil dan para yang lalai telah gagal.

أَمَا وَاللهِ لَوْ كُشِفَ الغِطَاءُ لاشْتَغَلَ المُحْسِنُ بِإِحْسَانِهِ وَالمُسِيءُ بِإِسَاءَتِهِ

Ingatlah Demi Allah, seandainya tirai penutup itu disingkap, niscaya orang yang berbuat baik akan sibuk dengan kebaikannya, dan orang yang berbuat buruk akan sibuk dengan keburukannya. [Ihya]

Maksudnya kegembiraan orang yang diterima amalnya melupakannya akan bermain-main, sementara penyesalan orang yang ditolak amalnya akan menjadikannya tidak bisa tertawa.

 

Imam Ghazali berkata : Manusia kedudukannya di atas binatang karena manusia memiliki akal sementara hewan tidak memilikinya, tetapi manusia di bawah derajat malaikat karena manusia memiliki syahwat sedangkan malaikat tidak memilikinya. Jika manusia memperturukan syahwatnya maka derajatnya turun ke derajat asfalas safilin, derajat paling rendah dan bergabung dengan golongan hewan. Namun jika manusia mampu mengendalikan syahwatnya maka derajatnya naik ke derajat a’la illiyin. Derajat paling tinggi dan bergabung dengan derajat malaikat.

Malaikat itu didekatkan dengan Allah. Maka siapa saja yang bisa meneladani malaikat serta menyerupai akhlak mereka, maka ia akan dekat dengan Allah sebagaimana kedekatan malaikat. Sesungguhnya (manusia) yang menyerupai dengan yang dekat (malaikat), maka ia (manusia) pun menjadi dekat pula (seperti malaikat).

وَلَيْسَ القُرْبُ ثَمَّ بِالمَكَانِ بَلْ بِالصِّفَاتِ

Dan kedekatan disitu bukanlah dengan tempat, melainkan dengan sifat.” [Ihya]

 

Ketiga, Puasa khususil khusus dan ini merupakan puasanya para nabi, Shiddiqin dan Al-Muqarrabin. Yaitu puasa hati dari ambisi rendah dan pikiran duniawi, serta menahannya dari segala sesuatu selain Allah Ta‘ala sepenuhnya. Puasa ini batal dengan memikirkan selain Allah dan hari akhir, serta dengan memikirkan urusan dunia—kecuali dunia yang dimaksudkan untuk agama, karena itu termasuk bekal akhirat dan bukan bagian dari dunia.

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk menjadikan puasa kita tidak hanya urusan menahan perut namun juga urusan semua anggota badan bahkan urusan hati.

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

MARHABAN YA RAMADHAN

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari ِAbu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ

“Sungguh telah datang kepada kalian bulan ramadhan, bulan yang penuh berkah” [HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Menjelang datangnya bulan ramadhan, ada orang yang susah dan ada juga yang bahagia. Ada orang badannya besar berotot namun ketika mendengar ramadhan akan datang maka ia tepok jidat, “Mati aku!” katanya. Ia adalah seorang kuli angkut tebu di mana di siang hari dalam keadaan lapar ia harus mengangkat beban berat. Iapun susah membayangkan ramadhan tiba.

 

Namun banyak juga yang senang dengan datangnya ramadhan. Anak kecil senang dengan datangnya ramadhan karena di bulan ramadhan banyak makanan. Pemuda-pemuda juga senang karena bisa begadang bermain semalaman sampai subuh. Pedagang juga senang karena dagangannya bisa laris hingga cuci gudang. Akan tetapi bukan senang seperti ini yang rasakan orang yang beriman. Orang-orang yang dipanggil oleh Allah SWT dalam firman-Nya :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa...” [QS Al-Baqarah : 183]

 

Dan Rasul juga memberikan kabar gembira dengan datangnya ramadhan. Abu Hurairah RA berkata :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ...

“Rasul SAW bersabda dengan memberi kabar gembira kepada para sahabatnya : Sungguh telah datang kepada kalian bulan ramadhan, bulan yang penuh berkah” [HR Ahmad]

 

Untuk menggambarkan kebahagiaan mereka, saya teringat dengan lagu yang dipopulerkan oleh Opick yang banyak diputar ketika menjelang datangnya bulan ramadhan. “Ramadan tiba, Ramadan tiba, Marhaban Ya Ramadan, Marhaban Ya Ramadan... Ramadan tiba, semua bahagia. Tua dan muda bersukacita”

 

Mereka bahagia karena telah menanti-nantikan kedatangannya sebagaimana para sahabat dahulu demikian. Mu’alla bin Al-Fadhl (tabi’it tabi’in) berkata :

كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُم رَمَضَانَ، وَيَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ.

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.” [Lathaif Al-Ma’arif]

 

Mereka bahagia karena mereka tahu bahwa bulan ramadhan adalah bulan penuh ampunan. Dalam lirik disebutkan : “Bulan ampunan, bulan yang berkah

Bulan terbebas api neraka”

 

Bulan ramadhan adalah bulan ampunan. Ya, hal itu seperti sabda Rasul SAW :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu [HR Bukhari]

 

Bulan ramadhan adalah bulan yang berkah. Rasul SAW memberikan ceramah kepada para sahabat di akhir bulan Sya’ban. Beliau Bersabda sebagaimana hadits utama : “Sungguh telah datang kepada kalian bulan ramadhan, bulan yang penuh berkah” [HR Ahmad]

 

Dan Bulan ramadhan adalah bulan pembebasan dari api neraka. Rasul SAW bersabda :

وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

"(Dan pada bulan ramadhan) Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, dan itu setiap malam" [HR Tirmidzi]

 

Dalam lirik disebutkan : “Andaikan saja Ramadan semua. Bulan yang tiba, bulan yang ada. Kar'na besarnya setiap pahala. Yang dijanjikan kepada kita”

 

Bulan ramadhan adalah bulan dimana kebaikan gandakan 70 kali lipat. Rasul SAW bersabda :

مَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيهِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِينَ فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ

Barang siapa yang menunaikan perkara wajib di bulan Ramadhan, maka ia seperti orang yang mengerjakan 70 kali perkara wajib di bulan yang lain. [HR Al-Baihaqi]

 

Orang yang mengerti hal ini pastilah ia berandai-andai seandainya sepanjang tahun adalah ramadhan. Jadi statement ini tidak perlu dukungan dari hadits semisal : Seandainya orang-orang tahu betapa besarnya pahal di bulan ramadhan biscaya ummatku menginginkan ramadhan sepanjang tahun. Karena hadits ini menurut Imam Suyuthi adalah palsu. [Al-La’ali Al-Mashnu’ah]

 

Dalam lirik disebutkan : “Dalam bersahur ada pahala. Dalam berbuka alangkah indah.” Dalam bersahur ada pahala. Ya benar, makan sahur saja berpahala. Nabi SAW bersabda : Makan sahur adalah barokah maka janganlah kalian meninggalkannya walau dengan minum seteguk air

فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

karena Allah Azza wa Jalla dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur. [HR Ahmad]

 

Dalam berbuka alangkah indah. Ya benar, berbuka puasa mendatangkan kebahagiaan tersendiri. Rasul SAW bersabda :

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, yaitu bahagia ketika berbuka dan bahagia ketika bertemu tuhannya. [HR Muslim]

 

Dalam lirik disebutkan : “Menahan diri, menahan lidah. Menjaga hati, menjaga mata. Banyakkan amal hari-harinya. Pahala datang berlipat ganda. Berlomba-lomba untuk ibadah. Dunia bahagia, surga nantinya.”

 

Ya demikianlah puasa. Ia tidak hanya untuk menahan lapar dan dahaga akan tetapi juga menahan emosi, perkataan kotor bahkan menjaga hati.  Rasul SAW mengingatkan hal ini dalam sabda-Nya :

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

"Betapa banyak orang yang berpuasa, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar saja". [HR Ibnu Majah]

 

Dalam lirik disebutkan : “Dunia bahagia, surga nantinya.” Orang yang berpuasa akan masuk surga bahkan disediakan pintu khusus. Rasul SAW bersabda :

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ

"Di surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayyan, yang mana pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa masuk surga lewat pintu tersebut. Tidak akan ada orang yang masuk ke surga melewati pintu itu kecuali orang-orang yang berpuasa. [HR Bukhari]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk gembira menyambut datangnya bulan Ramadhan dan bisa bersemangat untuk memperbanyak ibadah di dalam bulan yang bertabur pahala dan ampunan tersebut.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’] 

Share:

TAK MEMBEDAKAN AGAMA

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Rasul SAW Bersabda :

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ

”Bukanlah orang mukmin itu orang yang kenyang sementara (ia membiarkan) tetangganya kelaparan.” [HR Thabrani]

 

Catatan Alvers

 

Viral video seorang perempuan bernama Nikalie Monroe di Kentucky, Amerika Serikat usai mengunggah video eksperimennya. Ia berpura-pura menjadi seorang ibu kurang mampu lalu Ia menelfon 43 tempat ibadah di Amerika Serikat untuk membantunya memberikan susu formula untuk anaknya. Semua video memiliki format yang relatif serupa dimana Monroe berperan sebagai seorang ibu yang sedang berjuang, meminta sekaleng kecil susu formula ditambah efek suara tangisan bayi dapat terdengar dalam video tersebut. Ia mengatakan bahwa dia sudah mencoba menelepon lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan lembaga makanan lainnya, tetapi mereka sedang tidak ada dan menyarankan dia untuk menelepon gereja.

 

Beberapa gereja mengatakan ia harus menjadi jemaat agar bisa dibantu. Yang lain hanya mengatakan tidak punya. Ketika ia bertanya apakah mereka bisa menyediakan sumbangan sebesar USD 20 untuknya, mereka menjawab tidak bisa. Monroe juga menelepon gereja besar milik Joel Osteen di Houston, Lakewood Church, salah satu gereja terbesar di Amerika Serikat, dengan perkiraan kekayaan bersih terbaru sebesar USD 59 juta. Wanita yang menjawab telepon tersebut mengatakan Monroe bisa mendaftar ke pelayanan amal mereka, tetapi persetujuannya bisa memakan waktu beberapa hari hingga beberapa minggu (11/25).

 

Menariknya dalam unggahan tersebut, ketika Monroe menghubungi Islamic Center of Charlotte di Harrisburg Road, Amerika Serikat maka tanpa ragu pengurus masjid langsung mengiyakan. Monroe sendiri mengaku sangat terharu dengan respon cepat pihak masjid. Tanpa berbasa-basi pihak masjid langsung menanykan lokasi dan kebutuhan yang diperlukannya. ”Dia langsung cepat. Dia cuman tanya satu pertanyaan kayak dimana kamu tinggal dan apa yang kamu butuhkan. Nggak ada pertanyaan lain beda dengan tempat ibadah lainnya.”

 

Monroe kemudian buka kartu bahwa dia sedang melakukan sosial eksperimen untuk mengetahui tempat ibadah mana yang bisa membantu kondisinya. Ia berkata : ”Saya melakukan sosial eksperimen untuk mengetahui gereja mana yang bisa membantu bayi yang kelaparan. Sayangnya banyak gereja yang menolak permintaan tolong saya tapi pihak masjid Anda tidak demikian. Saya mau mengucapkan terima kasih terhadap kebaikan hati kalian.” kata Monroe.

 

Manager Council on American–Islamic Relations (CAIR) memberikan apresiasi terhadap dewan kemakmuran masjid Charlotte. "Kami mengapresiasi atas teladan akhlak dan perilaku yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan Al-Qur'an. Agama kami memerintahkan kami untuk bekerja demi memastikan tidak ada seorang pun di sekitar kami yang menderita kelaparan atau kekurangan.” [VIVA co id] dan ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW pada hadits utama : ”Bukanlah orang mukmin itu orang yang kenyang sementara (ia membiarkan) tetangganya kelaparan.” [HR Thabrani]

 

Dalam hadits di atas, kita diperintahkan untuk menolong tetangga yang membutuhkan tanpa melihat apa agamanya, apakah dia muslim ataukah non muslim. Secara tegas, Allah tidak melarang kaum muslimin berbuat baik kepada non muslim. Allah SWT berfirman :

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ 

”Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”. [QS Al-Mumtahanah :  8]

 

Mujahid berkata: “Aku pernah berada di sisi Abdullah bin Umar, sementara seorang budaknya sedang menyembelih dan menguliti seekor kambing”. Lalu Abdullah bin Umar berkata:

يَا غُلَامُ، إِذَا سَلَخْتَ فَابْدَأْ بِجَارِنَا الْيَهُوْدِيِّ

‘Wahai budak, apabila engkau selesai menguliti, mulailah dengan memberikan (daging) kepada tetangga kita yang Yahudi”.

Ia mengulanginya beberapa kali. Maka ada yang bertanya kepadanya: ”Mengapa engkau mengatakan demikian? ” Abdullah bin Umar menjawab: ”Sesungguhnya Rasul SAW senantiasa berwasiat kepada kami tentang tetangga, hingga kami khawatir beliau akan menjadikannya sebagai ahli waris. ” [Ihya Ulumuddin]

 

Sautu ketika Aisyah RA bertanya : Wahai Rasulullah, aku memiliki dua orang tetangga, kepada siapa aku harus memberikan hadiah?” Beliau menjawab:

إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا

“Kepada tetangga yang paling dekat pintunya denganmu.” [HR Bukhari]

 

Anjuran berbuat baik kepada orang dekat atau tetangga sebagaimana hadits-hadits di atas itu tidaklah membeda-bedakan apa agamanya, apakah islam ataukah bukan. Islam mengajarkan kasih sayang kepada sesama karena Islam itu Rahmatan Lil Alamin, kasih sayang kepada alam semesta.  

 

Suatu ketika ada seorang Majusi meminta jamuan amakanan kepada Nabi Ibrahim AS. Ibrahim berkata kepadanya: “Jika engkau masuk Islam, aku akan menjamu dan memuliakanmu.” Majusi itu menjawab: “Kalau aku masuk Islam, maka apa kelebihanmu atas diriku?” Lalu ia pergi. Maka Allah SWT mewahyukan kepada Ibrahim AS :

يَا إِبْرَاهِيمُ، لَمْ تُطْعِمْهُ إِلَّا بِتَغْيِيرِ دِينِهِ وَنَحْنُ مُنْذُ سَبْعِينَ سَنَةً نُطْعِمُهُ عَلَى كُفْرِهِ، فَلَوْ أَضَفْتَهُ لَيْلَةً مَاذَا عَلَيْكَ؟

“Wahai Ibrahim, apakah engkau tidak mau memberinya makan kecuali jika ia mengubah agamanya? Padahal Kami telah memberinya makan selama tujuh puluh tahun dalam keadaan kafir. Kalau engkau menjamunya satu malam saja, apa ruginya bagimu?”

 

Maka Ibrahim AS segera mengejar Majusi itu dan menjamunya. Majusi itu bertanya: “Apa sebab engkau berubah pikiran?” Ibrahim pun menceritakan wahyu Allah tadi kepadanya. Majusi itu berkata: “Apakah demikian Allah memperlakukanku?” Lalu ia berkata: “Tunjukkan kepadaku Islam.” Maka ia pun masuk Islam. [Ar-Risalah Al-Qusyairiyah]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk berbuat baik kepada sesama manusia tanpa membeda-bedakan agamanya. Semakin tinggi Iman semakin banyak kebaikan kepada sesama dan  orang yang beriman itu tidaklah membiarkan tetangganya kelaparan.

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts