ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan dari Abu
Hurairah RA, Rasul SAW Bersabda :
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
Betapa banyak
orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya melainkan lapar saja.”
[HR Ahmad]
Catatan
Alvers
Puasa dalam bahasa
Arab disebut dengan shaum. Shaum sendiri bermakna menahan. Puasa didefinisikan
dengan :
إِمْسَاكٌ عَنِ الْمُفْطِرِ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوصٍ
menahan diri dari
perkara yang membatalkan dengan cara tertentu. [Fathul Wahhab]
Ditinjau dari sisi bathin, puasa memiliki beberapa
tingkatan. Dalam
Ihya ulumiddin, Imam Ghazali berkata :
اِعْلَمْ أَنَّ الصَّوْمَ ثَلاثُ دَرَجَاتٍ: صَوْمُ الْعُمُومِ
وَصَوْمُ الْخُصُوصِ وَصَوْمُ خُصُوصِ الْخُصُوصِ.
Ketahuilah bahwa
puasa itu ada tiga derajat : Puasa umum, puasa khusus dan puasa khususil
khusus. [Ihya ulumiddin]
Lebih lanjut Imam
Ghazali menjelaskan : Pertama, Puasa umum
dan ini merupakan puasanya kebanyakan orang (awam) yaitu menahan perut dari makanan dan menahan kemaluan
dari syahwat. Kenyataannya memang demikian. Kebanyakan orang berpuasa berpinsip
yang peting tidak makan minum dan tidak berjima’ dengan istri di siang bulan
ramadhan.
Kedua, Puasa khusus
dan ini merupakan puasanya orang-orang shalih. Yaitu
menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota
tubuh dari perbuatan dosa. Dan ini adalah puasanya orang-orang shalih.
Kesempurnaan puasa tingkatan ini adalah dengan enam perkara yaitu :
(1) Menjaga
Pandangan dari melihat hal-hal tercela, yang membangkitkan syahwat, atau
melalaikan dari mengingat Allah. Nabi SAW bersabda:
النَّظْرَةُ
سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومَةٌ، فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللهِ
أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ
“Pandangan (yang haram) adalah salah satu
anak panah beracun dari panah-panah Iblis. Maka barang siapa yang meninggalkannya karena takut
kepada Allah
Azza wa Jalla, maka
Allah akan memberinya iman yang
manisnya dapat
ia rasakan dalam hati.”
[HR Al-Hakim]
(2) Menjaga Lisan dari
ucapan sia-sia, dusta, ghibah, adu domba, kata-kata kotor, debat kusir dan mengisi
lisan dengan dzikir dan tilawah. Mujahid berkata :
خَصْلَتَانِ
يُفْسِدَانِ الصِّيَامَ: الغِيبَةُ وَالكَذِبُ
“Dua perkara yang merusak puasa yaitu ghibah dan dusta.” [Ihya]
Diriwayatkan bahwa
ada dua orang wanita berpuasa pada masa Rasul SAW. Menjelang sore, keduanya
sangat lapar dan haus hingga hampir pingsan. Lalu mereka mengirim utusan kepada
Rasul untuk meminta izin berbuka. Rasul SAW mengirimkan sebuah bejana dan
bersabda : Katakan kepada mereka, muntahkanlah ke dalam bejana ini apa yang
kalian makan. Maka salah satunya memuntahkan setengah bejana berupa darah segar
dan daging mentah, dan yang lain memuntahkan hal yang sama hingga penuh.
Orang-orang pun keheranan melihat hal itu. Rasul SAW bersabda:
هَاتَانِ صَامَتَا عَمَّا أَحَلَّ اللَّهُ لَهُمَا وَأَفْطَرَتَا
عَلَى مَا حَرَّمَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِمَا
“Kedua wanita ini berpuasa dari apa yang Allah
halalkan bagi mereka, tetapi berbuka dengan apa yang Allah haramkan atas mereka”.
Keduanya duduk
bercengkrama sambil maka daging manusia (yaitu dengan menggunjing mereka). [HR
Ahmad]
(3) Menjaga
Pendengaran dari hal-hal yang haram, seperti ghibah atau kebohongan. Allah
menyamakan pendengar kebohongan dengan pemakan harta haram. Nabi SAW bersabda:
المُغْتَابُ
وَالمُسْتَمِعُ شَرِيكَانِ فِي الإِثْمِ
“Penggunjing dan
pendengar ghibah adalah sekutu dalam dosa.” [Ihya]
(4) Menjaga
Anggota Tubuh Lain seperti tangan, kaki, dan seluruh anggota dari perbuatan
maksiat. Menjaga perut dari makanan haram atau syubhat saat berbuka. Puasa seseorang
akan sia-sia jika ia menahan diri dari perkara yang halal namun ia berbuka
dengan perkara yang haram. Imam Ghzali berkata : “Perumpamaan orang yang
berpuasa tetapi tetap melakukan hal-hal yang merusak puasanya”,
مِثَالُ مَنْ يَبْنِي قَصْرًا وَيَهْدِمُ مِصْرًا
“seperti orang yang membangun sebuah istana namun
meruntuhkan kota”.
Sesungguhnya
makanan halal itu membahayakan bukan karena jenisnya, melainkan karena
banyaknya. Maka puasa bertujuan untuk mengurangi jumlah makanan. Orang yang
meninggalkan banyaknya obat karena takut mudarat, lalu beralih kepada racun,
adalah orang yang bodoh. Yang haram itu ibarat racun yang membinasakan agama,
sedangkan yang halal itu ibarat obat: sedikitnya bermanfaat, banyaknya
membahayakan. Tujuan puasa adalah untuk mengurangi (makanan halal) agar tidak
berlebihan.” [Ihya]
(5) Tidak Berlebihan dalam Memakan makanan yang
Halal saat berbuka. Bukankah tujuan puasa itu adalah melemahkan syahwat dan nafsu.
Jika seseorang ketika puasa di bulan ramadhan takaran makanannya sama saja dengan
ketika tidak puasa, maka ruh puasa jadi hilang dan puasa menjadi sia-sia sebab Ia
hanya memindah jam makan saja.
(6) Hati antara
Khauf (cemas) dan Raja’ (penuh harap) setelah seseorang berbuka puasa. Takut
kalau puasanya ditolak namun ia berharap agar diterima. Demikian pula sikap ini
harus tetap ada setelah ibadah dilakukan. Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri,
bahwa ia pernah melewati suatu kaum yang sedang tertawa. Maka ia berkata:
‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menjadikan bulan Ramadan sebagai gelanggang
perlombaan bagi hamba-hamba-Nya, di mana mereka berlomba di dalamnya untuk taat
kepada-Nya. Maka ada kaum yang mendahului lalu menang, dan ada kaum yang tertinggal
lalu rugi. Maka sungguh mengherankan, sangat mengherankan, orang yang tertawa
dan bermain pada hari ketika para pemenang telah berhasil dan para yang lalai
telah gagal.
أَمَا وَاللهِ لَوْ كُشِفَ الغِطَاءُ لاشْتَغَلَ المُحْسِنُ
بِإِحْسَانِهِ وَالمُسِيءُ بِإِسَاءَتِهِ
Ingatlah Demi
Allah, seandainya tirai penutup itu disingkap, niscaya orang yang berbuat baik
akan sibuk dengan kebaikannya, dan orang yang berbuat buruk akan sibuk dengan
keburukannya. [Ihya]
Maksudnya kegembiraan
orang yang diterima amalnya melupakannya akan bermain-main, sementara penyesalan
orang yang ditolak amalnya akan menjadikannya tidak bisa tertawa.
Imam
Ghazali berkata : Manusia kedudukannya di atas binatang karena manusia memiliki
akal sementara hewan tidak memilikinya, tetapi manusia di bawah derajat malaikat
karena manusia memiliki syahwat sedangkan malaikat tidak memilikinya. Jika
manusia memperturukan syahwatnya maka derajatnya turun ke derajat asfalas
safilin, derajat paling rendah dan bergabung dengan golongan hewan. Namun jika manusia
mampu mengendalikan syahwatnya maka derajatnya naik ke derajat a’la illiyin. Derajat
paling tinggi dan bergabung dengan derajat malaikat.
Malaikat
itu didekatkan dengan Allah. Maka siapa saja yang bisa meneladani malaikat serta
menyerupai akhlak mereka, maka ia akan dekat dengan Allah sebagaimana kedekatan
malaikat. Sesungguhnya (manusia) yang menyerupai dengan yang dekat (malaikat),
maka ia (manusia) pun menjadi dekat pula (seperti malaikat).
وَلَيْسَ القُرْبُ ثَمَّ بِالمَكَانِ بَلْ بِالصِّفَاتِ
Dan
kedekatan disitu bukanlah
dengan tempat, melainkan dengan sifat.” [Ihya]
Ketiga, Puasa khususil
khusus dan ini merupakan puasanya para nabi, Shiddiqin dan
Al-Muqarrabin. Yaitu puasa hati dari ambisi rendah dan pikiran
duniawi, serta menahannya dari segala sesuatu selain Allah Ta‘ala sepenuhnya.
Puasa ini batal dengan memikirkan selain Allah dan hari akhir, serta dengan
memikirkan urusan dunia—kecuali dunia yang dimaksudkan untuk agama, karena itu
termasuk bekal akhirat dan bukan bagian dari dunia.
Wallahu A’lam.
Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk menjadikan puasa kita tidak hanya urusan menahan perut
namun juga urusan semua anggota badan bahkan urusan hati.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul
Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren
Wisata
AN-NUR 2 Malang
Jatim
Ngaji dan Belajar
Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok
Itu Keren!
NB.
Jangan pelit
berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka
ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan
(3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]






0 komentar:
Post a Comment