ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, Rasul SAW bersabda :
لَا تَدْخُلُوا عَلَى هَؤُلَاءِ الْمُعَذَّبِينَ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا
بَاكِينَ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا بَاكِينَ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ لَا يُصِيبُكُمْ
مَا أَصَابَهُمْ
"Janganlah kalian masuk ke tempat kaum
yang diazab, kecuali dalam keadaan menangis. Jika tidak bisa menangis, maka
janganlah kalian masuk ke tempat mereka, agar tidak menimpa kalian apa yang
menimpa mereka.”[HR Bukhari]
Catatan Alvers
Akhir-akhir ini marak program umrah plus wisata
Al-Ula. Detik com mengagkat judul “Al Ula, Kawasan yang Dihindari Nabi tapi
Jadi Wisata Primadona Arab”.
Kawasan Al-Ula
menyimpan sejumlah situs arkeologi dan sejarah di antaranya Hegra, yang merupakan Situs Warisan
Dunia UNESCO pertama di Arab Saudi. Dalam mitologi Arab, Al-Ula merupakan daerah terkutuk. Stigma tersebut
melekat pada Al-Ula karena
berkaitan dengan kisah kaum Tsamud yang lenyap usai diazab. [detik com]
Berwisata ke
tempat-tempat yang indah untuk menghilangkan penat dan menikmati pemandangan alam itu boleh-boleh saja namun jika
tempat itu dahulunya adalah negeri yang penduduknya pernah di adzab maka itu
menjadi terlarang. Nabi SAW bersabda : "Janganlah kalian masuk ke tempat
kaum yang diazab, kecuali dalam keadaan menangis. Jika tidak bisa menangis,
maka janganlah kalian masuk ke tempat mereka, agar tidak menimpa kalian apa
yang menimpa mereka.”[HR Bukhari] Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata : Larangan itu terjadi ketika para sahabat bersama
Nabi SAW melintas di daerah al-Hijr, yaitu tempat tinggal kaum Tsamud, dalam
perjalanan menuju Tabuk. [Fathul Bari]
Dalam hadits lain,
Ibnu Umar RA berkata : Ketika Nabi SAW melewati daerah al-Hijr, beliau
bersabda:
لَا تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ أَنْ يُصِيبَكُمْ
مَا أَصَابَهُمْ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ
“Janganlah kalian
memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi diri mereka sendiri,
agar tidak menimpa kalian apa yang menimpa mereka, kecuali jika kalian masuk
sambil menangis.”
Kemudian beliau
menundukkan kepalanya dan mempercepat langkah hingga melewati lembah itu.”[HR
Bukhari]
Ada pertanyaan, bagaimana
mungkin adzab orang-orang dzalim menimpa orang yang bukan dzalim hanya karena
memasuki wilayahnya? dan kenapa pula harus menangis? Ibnu Hajar Al-Asqalani menjawab
: “Barangsiapa melewati mereka (kaum yang diazab) tanpa merenungkan hal-hal
yang membuatnya menangis sebagai pelajaran dari keadaan mereka, berarti ia
menyerupai mereka dalam kelalaiannya. Hal itu menunjukkan kerasnya hati dan
tidak adanya kekhusyukan. Karena itu, ia tidak aman dari kemungkinan terseret
untuk melakukan perbuatan seperti perbuatan mereka, lalu ditimpa azab
sebagaimana mereka ditimpa”. [Fathul Bari]
Aturan selanjutnya
adalah dilarang mengambil sesuatu dari area tersebut. Abdullah bin Umar RA menceritakan:
Ketika orang-orang singgah bersama Rasul SAW di tanah kaum Tsamud yaitu al-Hijr,
mereka mengambil air dari salah satu sumurnya dan membuat adonan dengan air
itu.
فَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ
يُهَرِيقُوا مَا اسْتَقَوْا مِنْ بِئْرِهَا
“Maka Rasul SAW memerintahkan
mereka untuk membuang air yang telah mereka ambil dari sumur tersebut”.
“dan memerintahkan agar adonan itu diberikan kepada
unta sebagai pakan. Beliau juga memerintahkan mereka untuk mengambil air dari
sumur yang dahulu didatangi oleh unta Nabi Shalih.”[HR Bukhari]
Abu Said Al-Khudri
RA berkata : Aku melihat seorang laki-laki membawa cincin yang ia temukan di
al-Hijr di rumah-rumah kaum yang diazab (yaitu kaum Tsamud) lalu Nabi SAW berpaling
darinya sambil menutup mata dengan tangan agar tidak melihat cincin itu, lalu
bersabda: “Buanglah (cincin itu). Maka lelaki itu membuangnya. [Fathul Bari]
Lalu bagaimanakah kisah
kaum tsamud sehingga Rasul SAW mewanti-wanti agar kita tidak
mendatangi tempat mereka? Dalam Hasyiyah Tafsir As-Shawi diceritakan bahwa Allah
memberitahu kepada Nabi Shalih bahwa kaumnya akan membunuh untanya. Nabi Shalih
berkata: “Akan lahir seorang anak laki-laki di bulan ini yang akan membunuh
unta itu, dan kebinasaan kalian akan datang melalui tangannya.” Kaum Tsamud pun
bersepakat: “Kalau ada bayi laki-laki lahir bulan ini, akan kita bunuh.” Maka
sembilan orang dari mereka benar-benar membunuh bayi laki-laki mereka sendiri. Namun
orang yang kesepuluh menolak membunuh anaknya, karena sebelumnya ia belum
pernah punya anak. Anak itu tumbuh cepat, berkulit kemerahan kebiruan. Setiap
kali sembilan orang itu melihatnya, mereka berkata: “Seandainya anak-anak kita
masih hidup, pasti seperti ini.”
Lama kelamaan sembilan
orang itu marah kepada Salih, karena merasa dialah penyebab mereka membunuh
anak-anak mereka. Mereka pun bersekongkol untuk membunuh Shalih dan keluarganya
secara diam-diam dengan cara mereka berpura-pura pergi lalu bersembunyi di
sebuah gua. Mereka berencana membunuh Shalih ketika keluar malam menuju
masjidnya. Namun malam itu gua tersebut runtuh menimpa mereka sehingga mereka
mati. Orang-orang kampung menuduh Shalih yang membunuh mereka dan berkata :
“Wahai hamba-hamba Allah, belum cukupkah Shalih menyuruh mereka membunuh
anak-anak mereka, sampai akhirnya ia juga membunuh mereka?” Akhirnya penduduk
kampung berkumpul dan sepakat untuk membunuh unta. [Hasyiyah Tafsir As-Shawi]
Inilah mengapa
dalam Qur’an, yang membunuh untuk itu disebut dengan “Fa Aqaruha” (Maka mereka
membunuhnya) yang mengisyaratkan orang banyak padahal
yang membunuh satu orang saja. Qatadah berkata : “unta itu tidak dibunuh
kecuali setelah semua orang mengikut pembunuhnya, baik yang tua maupun muda,
laki-laki maupun perempuan”. [Tafsir Al-Qurtubi] Dia bernama “Qudar” dengan
dibaca dlammah (bin Salif). [Tafsir Al-Baidlawi] Rasul pernah berkata
kepada Ali bin Abi Thalib :
مَنْ أَشْقَى الأَوَّلِينَ؟"
“Siapakah orang yang
paling celaka dari kalangan umat terdahulu?”
Sahabat Ali menjawab: “Dialah orang yang membunuh unta (Naqatallah)”.
Rasul SAW berbda : Benarlah engkau. [HR Thabrani]
Akhirnya mereka
dikenai adzab. Allah SWT berfirman :
فَأَخَذَتْهُمُ ٱلرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا۟ فِى دِيَٰرِهِمْ جَٰثِمِينَ
“Maka mereka
ditimpa gempa, sehingga jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam
rumah-rumah mereka.” [QS Al-A’raf: 91]
Dan dalam ayat
lain disebut “As-Syaihah” suara yang mengguntur, [QS Al-A’raf: 78] dan
juga “At-Thaghiyah” (suara yang sangat keras menggelegar).” [QS Al-Haqqah: 5]
Wallahu A’lam.
Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk tidak mendatangi tempat-tempat yang dahulunya
merupakan tempat diturunkannya adzab meskipun tempat itu kini indah dan menarik
perhatian.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul
Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren
Wisata
AN-NUR 2 Malang
Jatim
Ngaji dan Belajar
Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok
Itu Keren!
NB.
Jangan pelit
berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka
ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan
(3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]








No comments:
Post a Comment