PERSAINGAN USAHA

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit RA, Rasul SAW bersabda :

انَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

“Sesungguhnya sesuatu (rizki atau musibah) yang menimpamu tidak mungkin meleset darimu, dan sesuatu yang meleset darimu tidak mungkin akan menimpamu.” [HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Malang Berdarah, Pedagang Ayam di Madyopuro Tega Bacok Sesama Penjual, Bermula dari Sakit Hati. Begitulah judul berita mass media. Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (23/5/2026). Pelaku sempat mengobrak-abrik kios milik korban yang berujung pada pembacokan hingga menimbulkan dua korban luka. Pelaku dan korban ini sama-sama pedagang ayam potong. Karena persaingan bisnis, pelaku kemudian membacok korban dengan sebilah pisau sepanjang 34,5cm. [TribunJatim com]

 

Percekcokan yang demikian pada dasarnya tidak perlu terjadi jika masing-masing pelaku usaha berpegang teguh kepada prinsip “Rezeki sudah ditakar dan tidak akan tertukar” dan “Usaha bisa dicopy namun rezeki tidak bisa dipaste”. Lihatlah pada pesaingan toko retail modern yang begitu ketat hingga dikatakan “dimana ada ind*maret pasti disebelahnya ada alf*mart”. Lihat pula pada pedagang buah di pinggir jalan yang berderet panjang dengan dagangan yang sama namun tetap berdampingan bertahun-tahun. Pernah satu ketika saya pergi ke Mall khusus penjualan HP yang terdiri dari beberapa lantai. Sengaja saya pergi ke lantai paling atas dan paling pojok yang menurut asumsi saya tempat itu sangat tidak strategis. Saya bertanya : “Pak, anda berjualan di sini apa laku?”. Penjual itu menjawab : “kalau gak laku ya sudah gulung tidak dari dulu. Kalau sudah rezeki, ada saja pembeli”.

 

Prinsip di atas selaras dengan ajaran agama islam, di antaranya yang terdapat dalam hadits utama di atas, yaitu “Sesungguhnya sesuatu (rizki atau musibah) yang menimpamu tidak mungkin meleset darimu, dan sesuatu yang meleset darimu tidak mungkin akan menimpamu.” [HR Ahmad] Syeikh Adzim Abadi berkata : Sesuatu yang menimpa itu maksudnya seperti nikmat atau bencana, ta’at atau maksiat dari segala sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah, berupa bermanfaat untukmu ataupun yang merugikanmu. [Aunul Ma’bud] Hadits ini memerintahkan setiap pengusaha agar meyakini bahwa rizki yang telah menjadi jatahnya tidak akan lepas darinya dan apa yang bukan merupakan jatah rizkinya maka tidak akan ia dapatkan dengan cara apapun.

 

Dan hal ini menjadi prinsip keyakinan yang harus dimiliki setiap orang beriman, bahkan Al-Munawi menjelaskan bahwa hadits tersebut menjadi pengejawantahan dari rukun iman yang ke enam yaitu iman kepada takdir, “khayrihi wa sarrihi” (Takdir yang baik atapun yang buruk). Hadits utama di atas tidak hanya diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit, namun juga diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Mas’ud dan Hudzaifah ibnul Yaman. Lebih lengkap, Ibnud Daylami berkata : “Terbetik dalam diriku sesuatu keraguan tentang takdir. Lalu aku mendatangi Zaid ibn Tsabit dan bertanya kepadanya. Maka ia berkata: Aku mendengar Rasul SAW bersabda :  … Seandainya engkau memiliki emas sebesar Gunung Uhud lalu engkau infakkan di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerimanya darimu sampai engkau beriman kepada takdir, dan mengetahui bahwa apa yang menimpamu tidak mungkin meleset darimu, dan apa yang meleset darimu tidak mungkin akan menimpamu. Lalu Nabi SAW bersabda lagi :

وَأَنَّكَ إِنْ مِتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا دَخَلْتَ النَّارَ

 

Dan sesungguhnya jika engkau mati bukan di atas keyakinan ini, engkau akan masuk neraka.’” [HR Ahmad]

 

Setiap pelaku usaha hendaknya juga merenungkan apa yang disabdakan oleh Rasul SAW :

لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، وَلَا يَحْمِلَنَّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوهُ بِمَعَاصِي اللَّهِ، فَإِنَّهُ لَا يُدْرَكُ مَا عِنْدَ اللَّهِ إِلَّا بِطَاعَتِهِ.

“Tidaklah seseorang akan mati hingga ia mendapatkan jatah rezekinya dengan sempurna. Maka bertakwalah kepada Allah dan tempuhlah cara yang baik dalam mencari rezeki. Janganlah lambatnya rezeki mendorong kalian bekerja dengan maksiat kepada Allah, karena apa yang ada di sisi Allah tidak dapat diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya.” [HR Baihaqi]

 

“Tempuhlah cara yang baik dalam mencari rezeki. Hadits ini mengingatkan penulis akan sebuah kisah. Ada dua toko bersebelahan, yang satu jual madu dan satunya lagi jual cuka. Menariknya toko yang menjual cuka itu laris berbanding terbalik dengan yang jual madu. Penjual madu menuduh penjual cuka menggunakan guna-guna dalam melariskan dagangannya. Penjual cuka menjawab : “Cuka yang aku jual memang rasanya kecut namun aku melayani pembeli dengan muka yang manis, sementara madu yang kamu jual memang rasanya manis namun kamu melayani pembeli dengan muka yang kecut. Pantesan saja pelangganmu pada kabur”.

 

Jika seseorang sudah tahu bahwa rizki itu sudah dijatah oleh Allah maka buat apa ia bekerja over time, bukankah hal itu tidak akan menambah rizkinya. Orang bijak berkata :  “Dunia itu bagaikan obat. Cara minumnya harus sesuai dengan resep dokter. Jika tidak sesuai maka bisa over dosis dan akan membahayakan keselamatan jiwanya”. Ibnu Athaillah As-sakandari berkata:

   إِجْتِهَادُكَ فِيْمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيْرُكَ فِيْمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيْلٌ عَلَى إِنْطِمَاسِ الْبَصِيْرَةِ مِنْكَ  

“Kerja kerasmu dalam mencari rizki yang telah dijamin Allah dan kelalaianmu dalam ibadah yang diperintahkan oleh-Nya adalah tanda kebutaan mata hatimu”.[Al-Hikam]

 

Maka bekerjalah sewajarnya dan beribadahlah dengan sungguh-sungguh karena usaha hanyalah ikhtiyar sementara rezeki itu hakikatnya berasal dari Allah SWT. Jangan halalkan segala cara, jangan main dukun dan pesugihan. Dalam lanjutan hadits utama, Rasul SAW bersabda : “Maka apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. [HR Ahmad]

 

Jika sudah bekerja dengan baik serta beribadah dengan sungguh-sungguh maka tunggulah waktunya. Orang bijak mengatakan :

كُلُّ شَيْءٍ يَنْتَظِرُ وَقْتَهُ، لَا وَرْدَةٌ تَتَفَتَّحُ قَبْلَ وَقْتِهَا وَلَا شَمْسٌ تُشْرِقُ قَبْلَ وَقْتِهَا اِنْتَظِرْ. الَّذِي لَكَ سَيَأْتِيكَ.

“Segala sesuatu menunggu waktunya. Bunga tidaklah mekar sebelum waktunya, dan matahari tidak pernah terbit sebelum waktunya. Maka bersabarlah menunggu. Apa yang menjadi bagian takdirmu pasti akan datang kepadamu.” [Tanpa Sumber]

 

Dan Nabi SAW pada akhir dari hadits utama bersabda :

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama dengan kesabaran, dan kelapangan itu bersama dengan kesempitan, dan sesungguhnya di dalam kesulitan ada kemudahan.” [HR Thabrani]

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menyikapi persaingan usaha dengan positif dan senantiasa bekerja dengan cara yang baik serta beribadah dengan sungguh-sungguh.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

No comments:

Post a Comment

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts