ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan dari Anas Bin Malik RA, Rasul SAW bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ
الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan dan
sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah yang banyak bertaubat. [HR
Ibnu Majah]
Catatan Alvers
Sungguh mengherankan kasus pencurian terjadi di masjid, bahkan tak tanggung-tanggung terjadi di masjidil Haram yang berlokasi di tanah suci. Kok bisa ya? Padahal kan
di tanah suci? Ya hal ini terjadi. Media menulis “Aparat
Keamanan Masjidil Haram berhasil menangkap 130 pencuri dan pencopet di Masjidil
Haram, Makkah, yang menyamar dan berkedok sebagai jamaah dengan pakaian ihram. [Suarasurabaya net]
Dulu saya sendiri pernah kehilangan sandal di masjid
nabawi madinah namun saya tidak yakin kalau itu ulah pencuri. Saya beranggapan mungkin
saya lupa posisi rak sandal atau sandal saya jatuh dari rak lalu di sapu oleh
petugas kebersihan. Sampai satu saat, ketika saya mencari-cari sandal yang
tidak ada di raknya lalu saya keluar ke teras masjid dan secara tak sengaja saya melihat orang yang menenteng sandal yang mirip dengan
sandal saya. Saya tepuk pundaknya dan spontan orang itu menyodorkan sandal tersebut
kepada saya. Di sini saya baru sadar bahwa tanah suci itu yang suci adalah tanahnya,
bukan orangnya. Lihatlah Abu Jahal, ia juga tinggal di area tanah suci, tanah
haram. Bahkan lokasi rumahnya sekarang masuk dalam wilayah perluasan fasilitas
masjidil Haram di dekat area bukit marwah tepatnya dibangunan besar toilet umum.
Jadi tidak ada manusia yang suci dari dosa. Dalam hadits di atas, Rasul SAW bersabda: Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah yang banyak bertaubat. [HR Ibnu Majah] As-Sindy berkata : Lafadz Khattha’ itu artinya "Katsirun Khata" (orang yang banyak melakukan kesalahan). Yang dimaksud dengan kesalahan di sini adalah maksiat yang dilakukan dengan sengaja, atau maksiat secara mutlak (baik sengaja maupun tidak), mengingat (pengertian yang umum) bahwa kesalahan itu lawan dari kebenaran, dan terjadi tanpa disengaja. [Hasyiyah As-Sindy]
Namun demikian, hal ini mengecualikan para nabi karena
status mereka adalah ma’shum (orang yang dijaga). Allah SWT berfirman :
وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إلاَّ
لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan
agar ia ditaati dengan izin Allah." [QS An-Nisa' : 64]
Syeikh Nawawi Al-Jawi berkata : Ayat ini menunjukkan
bahwa para nabi itu ma‘shum (terjaga) dari “ma’ashi wadz-dzunub” (maksiat dan dosa-dosa). [Marah Labid] Dan Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata :
وَالْأَنْبِيَاء مَعْصُومُونَ مِنْ
الْكَبَائِر بِالْإِجْمَاعِ . وَاخْتُلِفَ فِي جَوَاز وُقُوع الصَّغَائِر
“Para
nabi itu terjaga dari dosa-dosa besar berdasarkan ijma’ (kesepakatan ulama).
Adapun mengenai kemungkinan terjadinya dosa-dosa kecil pada diri mereka, maka
para ulama berbeda pendapat”. [Fathul Bari]
Mengenai kesalahan kecil itu seperti yang dilakukan Nabi
Adam dengan memakan buah larangan (khuldi). “Fa Asha Adamu Rabbahu” (Maka Adam
bermaksiat kepada tuhannya) [QS Thaha : 121] Nabi Musa meminta melihat Allah
dan Nabi Musa berkata “Subhanaka Tubtu Ilayka” (Maha Suci Engkau, Aku bertaubat
kepadaMu). [QS Al-A’raf-143] Nabi Dawud terlalu cepat memutuskan perkara
sebelum mendengar pihak kedua. “Fastaghfara Rabbahu” (lalu ia meminta ampunan
kepada tuhanNya). [QS Shad : 25] Bahkan Nabi Muhammad SAW memalingkan wajah
saat orang buta datang kepada beliau sehingga Allah menegur “Abasa Watalla…”
(Ia bermuka masam dan berpaling). [QS Abasa : 1]
Adapun selain para
Nabi maka tidak ada yang terjaga dari dosa besar mapun dosa kecil tak
terkecuali orang yang keramat sekalipun. Al-Fasyni menceritakan dalam
Al-Majalis As-Saniyah mengenai ahli ibadah dari kalangan Bani Israil yang bernama
Barshisha.
Ia telah beribadah selama 220 tahun dan membuat kagum para
malaikat dan hebatnya lagi,
ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﺳِﺘُّﻮْﻥَ أَﻟْﻔًﺎ ﻣِﻦَﺍﻟﺘَّﻠَﺎﻣِﺬَﺓِ وَﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﻤْﺸُﻮْنَ ﻓِﻰﺍﻟْﻬَﻮَﺍﺀِ ﺑِﺒَﺮَﻛَﺘِﻪِ ﻓَﻤَﺎتَ ﻛَﺎﻓِﺮًﺍ
“Ia memiliki 60.000 murid dan
mereka semua bisa terbang di udara dengan
sebab keberkahannya namun ia mati dalam keadaan kafir”.
Secara ringkas, dikisahkan bahwa Iblis yang
berwujud manusia beribadah tiga hari tiga malam non stop, puasa dan qiyamul
Lail. Barshisha-pun ingin mengetahui cara bagaimana bisa melakukan demikian. Iblis berkata: “bermaksiatlah lalu bertaubatlah hingga engkau dapat merasakan
manisnya keta’atan.” Barshisha berkata: “Dosa
manakah yang engkau sarankan kepadaku?” Iblis berkata: “Berzina, membunuh atau meminum khamr. Barshisha memilih yang paling ringan yaitu meminum Khamr.
Sesuai arahan Iblis, Barshisha membeli khamr dari wanita cantik. Ketika ia mabuk,
iapun berzina dengan
wanita itu. Ketika suaminya memergokinya maka Barshisha membunuhnya. Iblis melaporkan kejadian ini kepada raja. Lalu raja memerintahkan
untuk menyalib Barshisha. Lalu tatkala Barshisha
berada di atas kayu salib hendak dibunuh maka datanglah iblis
kepadanya untuk menawarkan pertolongan dengan syarat bersujud kepadanya
dengan isyarat.
فَأَوْمَأَ
بِرَأْسِهِ سَاجِدًا فَكَفَرَ
Barshishapun sujud
dengan isyarat kepala sehingga ia menjadi kafir. [Al-Majalis As-Saniyyah]
Maka tiada yang aman dari godaan dan tipuan setan. Orang yang ahli ibadah
nan sakti layaknya Barshisha pun tidak bisa otomatis selamat dari setan, lantas
bagaimana dengan kita? Dengan kisah tersebut kita harus waspada. Jangan sampai kita
melakukan dosa dan meremehkan maksiat sekecil apapun. Hindari sebisa mungkin
dan sadari sejak dini bahwa dorongan berbuat maksiat itu adalah jebakan setan.
Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan
fikiran kita untuk berpegang teguh kepada ajaran Islam dan tidak termakan
hasutan aliran-aliran sesat dan menyesatkan.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!
NB.
Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata :
“Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata :
(1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]








No comments:
Post a Comment