METODE PEMBELAJARAN NABAWI

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah RA, Rasul SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyulitkan dan bukan pula orang yang mencari-cari kesulitan, akan tetapi Allah mengutusku sebagai seorang pendidik yang memudahkan.” [HR Muslim]

 

Catatan Alvers

 

Fenomena "ganti menteri, ganti kurikulum" telah menjadi perbincangan hangat dalam sistem pendidikan Indonesia. Hal ini terjadi karena setiap kabinet memiliki visi misi, prioritas, dan pandangan yang berbeda dalam menjawab tantangan zaman yang terus berkembang. Mulai Kurikulum 1975 yang pada tahun 1984, diganti dengan kurikulum CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) lalu pada tahun 2004 di era mentri Malik Fadjar berganti menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Tahun 2006 di era mentri Bambang Sudibyo berganti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Tahun 2013, di era mentri M Nuh berganti Kurikulum 2013 (K13). Dan pada Tahun 2020 di era Mentri Nadiem Makarim berganti menjadi Kurikulum Merdeka.

 

Secara umum, kurikulum itu memuat 4 komponen yaitu Tujuan, Isi / Materi, Strategi / Metode, Evaluasi. Dengan demikian perubahan kurikulum sering kali menuntut

Setiap ada perubahan kurikulum biasanya diadakan bimtek (bimbingan teknis) dan workshop untuk para guru mengingat perubahan kurikulum tidak hanya menyebabkan perubahan materi tetapi juga perubahan metode pembelajaran dan metode itu komponen yang sangat penting dalam kurikulum. Dalam ungkapan populer dikatakan :

الطَّرِيقَةُ أَهَمُّ مِنَ الْمَادَّةِ

"Metode lebih penting daripada materi”.

Bebicara mengenai metode pembelajaran maka dalam Islam nabi banyak memberikan contohnya mengingat posisi Nabi sebagai guru sebagaimana dinyatakan dalam hadits utama : “Allah mengutusku sebagai seorang pendidik yang Muyassiran (memudahkan).” [HR Muslim]

Metode pembelajaran Nabi didasari oleh tujuan untuk mempermudah pemahaman para sahabat selaku peserta didik dan tidak mempersulit mereka. Dalam hadits utama Rasul SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai Mu’annit (orang yang menyulitkan) dan bukan pula Muta’annit (orang yang sengaja mempersulit). [HR Muslim] Dan tidak pula pembelajaran dilakukan dengan kekerasan. Rasul SAW bersabda :

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّفًا وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak mengutusku sebagai orang yang keras, tetapi Allah mengutusku sebagai seorang pendidik yang memudahkan.”[HR Ahmad]

 

Di antara Metode Pembelajaran yang dicontohkan Nabi adalah metode dialog dan tanya jawab. Pada suatu hari ketika para sahabat sedang duduk bersama Rasul SAW, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang pakaiannya sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Kemudian ia berkata : 'Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang Islam, Iman, Ihsan dan tanda-tanda kiamat." Setiap Nabi selesai menjawab maka lelaki itu berkata : Shadaqta (Engkau benar). Sahabatpun terheran-heran mengapa lelaki itu yang bertanya namun ia pula yang menilai. Kemudian setelah percakapan selesai, Rasul SAW bersabda :

فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ

'Sesungguhnya dia adalah Jibril. Dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.' [HR Muslim]

Rasul SAW juga tidak keberatan untuk mengulang-ngulang perkataan supaya mudah dipahami. Sahabat Anas RA berkata :

كَانَ إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ

“Nabi SAW apabila berbicara suatu kalimat maka beliau mengulanginya tiga kali sampai dipahami.” [HR Bukhari]

Rasul SAW juga seringkali memberikan contoh atau praktik secara langsung seperti ketika beliau menjelaskan tatacara shalat. Rasul SAW bersabda :

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”  [HR Ad-Daruqutni]

Dan ketika beliau menjelaskan tatacara haji, beliau bersabda : "Ambillah dariku tata cara pelaksanaan manasik haji kalian." [HR Baihaqi]

 

Rasul SAW juga seringkali menggunakan analogi (perumpamaan) dalam memberikan penjelasan sehingga lebih mudah dipahami. Sebagaimana sabda beliau :

مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا

"Perumpamaan hidayah dan ilmu yang mana Allah mengutusku (untuk menyampaikannya) adalah seperti hujan lebat yang turun ke bumi”. [HR Bukhari]

Sama-sama mengalami proses belajar namun hasil yang didapat peserta didik bisa berbeda-beda. Mengapa demikian? Rasul SAW memberikan analogi. Ada hujan yang turun mengenai tanah yang subur (Naqiyah) sehingga bisa menumbuhkan banyak tumbuhan. Ada juga yang mengenai tanah yang padat (Ajadib) sehingga air tersimpan menjadi danau yang bisa mengairi sawah dan dijadikan air minum ternak. Ada juga yang mengenai tanah tandus (Qi’an) yang tidak dapat menahan air dan tidak pula menumbuhkan tanaman.

 

Rasul SAW juga pernah menerangkan tentang angan-angan manusia serta ajal dengan menggambar kotak dan menulis beberapa garis di atas tanah sambil menerangkannya. [Lihat HR Bukhari] Sebagaimana Rasul juga pernah menjelaskan dengan memperlihatkan bendanya. Ali bin Abi Thalib RA berkata : "Rasul SAW mengambil selembar sutra dengan tangan kirinya dan emas dengan tangan kanannya. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sambil bersabda : Sesungguhnya kedua benda ini haram bagi laki-laki dari umatku, dan halal bagi perempuan mereka." [HR Ibnu Majah]

 

Dan selanjutnya harus kita sadari bahwa sebaik apapun metode dan seberbobot apapun materi maka jauh lebih penting keberadaan guru itu sendiri. Maka hendaknya guru menjadi pribadi yang bisa di gugu dan ditiru, uswah hasanah. Hal ini sebagaimana dalam ungkapan populer di atas yang secara lengkap berbunyi :

الطَّرِيقَةُ أَهَمُّ مِنَ الْمَادَّةِ ، وَالْمُدَرِّسُ أَهَمُّ مِنَ الطَّرِيقَةِ، وَرُوحُ الْمُدَرِّسِ أَهَمُّ مِنَ الْمُدَرِّسِ نَفْسِهِ

"Metode lebih penting daripada materi dan guru lebih penting daripada metode, dan kwalitas guru lebih penting daripada guru itu sendiri."

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk meneladani Nabi SAW baik ketika di rumah, di jalan maupun ketika di ruang kelas.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

No comments:

Post a Comment

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts