WALLAHU A’LAM

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ

"Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya." [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Wallahu A’lam adalah kata yang sering kita dengar saat seorang penceramah mengakhiri pengajiannya atau saat penulis mengakhiri tulisannya. Namun demikian, kata tersebut bukanlah kata yang digunakan untuk menandakan akhir sebuah ceramah atau tulisan akan tetapi kata “Wallahu A’lam” yang artinya Allah lebih mengetahui, adalah kata yang dapat menjauhkan orang yang mengucapkannya dari perasaan “sok paling tahu”, merasa paling alim dan paling banyak ilmu.

 

Wallahu A’lam itu artinya adalah Allah lebih tahu dari setiap orang yang tahu. Kata pepatah “di atas langit masih ada langit” dan di atas langit yang diatasnya itu masih ada langit lagi dan seterusnya hingga yang ter-atas dan yang tertinggi serta puncak dari ilmu pengetahuan itulah Allah SWT. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an :

وَفَوْقَ كُلِّ ذِى عِلْمٍ عَلِيمٌ

Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui. [QS Yusuf : 76]

 

Abdullah Ibnu Abbas RA menjelaskan :

يَكُونُ هَذَا أَعْلَمَ مِنْ هَذَا، وَهَذَا أَعْلَمَ مِنْ هَذَا، وَاللَّهُ فَوْقَ كُلِّ عَالِمٍ

"Orang ini lebih berilmu daripada orang itu, dan orang itu lebih berilmu daripada yang lain, sedangkan Allah berada di atas daripada setiap orang yang berilmu." [Tafsir At-Thabari]

 

Dari Muhammad ibn Ka'b al-Quradhi ia berkata : "Seorang laki-laki bertanya kepada Ali ibn Abi Thalib tentang suatu masalah. Maka Ali menjawabnya. Lalu orang itu berkata, 'Tidak demikian, tetapi yang benar adalah begini dan begini.' Maka Ali berkata,

أَصَبْتَ وَأَخْطَأْتُ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“Engkau benar, dan aku keliru.Dan di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih mengetahui."[Tafsir At-Thabari]

 

Maka saat seorang guru mengakhiri kajiannya dengan kata “Wallahu A’lam” itu artinya ia hendak melepaskan diri dari pengakuan menjadi orang yang paling alim dan ia memasrahkan kebenaran dari ilmu yang disampaikannya kepada Allah SWT sebagai puncak dari pengetahuan. Dan inilah yang dikatakan oleh Syeikh Al-Bayjuri sebagai “Ghayatut Tafwidl Al-Mathlub” (Tingkat tertinggi dari penyerahan diri yang semestinya). [Hasyiyah Al-Bayjuri] As-Shaymari berkata :

وَلَا يَدَعْ خَتْمَ جَوَابِهِ بِقَوْلِهِ: وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ، أَوِ اللَّهُ أَعْلَمُ، أَوِ اللَّهُ الْمُوَفِّقُ

"Janganlah seseorang (mufti) meninggalkan untuk menutup jawaban dengan ucapan: 'Wa billahit tawfiq (dan dengan pertolongan Allah-lah taufik itu)', atau 'Allahu a‘lam (Allah lebih mengetahui)', atau 'Allahul Muwaffiq (Allah-lah Yang memberikan taufik)'." [Al-Majmu’]

 

Mulla Ali Al-Qari lebih jelas berkata :  “Apabila seorang mufti telah memberikan jawaban, maka dianjurkan baginya untuk menulis di akhir jawabannya: "Wallahu A‘lam (Allah lebih mengetahui)" dan yang  semisalnya. Dan ada yang berpendapat bahwa dalam masalah-masalah agama yang telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah, dianjurkan baginya untuk menulis: "Wallahul Muwaffiq (Allah-lah Yang memberi taufik)", "Wabillahil ‘Ishmah (dengan pertolongan Allah terjagalah seseorang dari kesalahan), dan yang semisal dengannya. [Syammul Awaridl fi Dzammir Rawafidl]

 

Dahulu gara-gara tidak mengatakan “Allahu A’lam”, Nabi Musa diperintahkan untuk belajar kepada Nabi Khidlir. Rasul SAW bersabda : Pada suatu hari Musa berkhutbah di hadapan Bani Isra’il. Maka ada di antara mereka yang bertanya; ‘Siapakah orang yang paling berilmu?. Musa menjawab : “Ana A’lam” (Aku yang paling alim). Maka Allah menegurnya, karena ia tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Lalu Allah memberi wahyu kepadanya, yaitu :

أَنَّ عَبْدًا مِنْ عِبَادِي بِمَجْمَعِ الْبَحْرَيْنِ هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ

“Sesungguhnya ada seseorang dari hamba-hambaku yang ada di pertemuan dua samudera, dia lebih alim darimu.” [HR Bukhari]

 

Singkat cerita, setelah pencarian panjang Nabi Musa berhasil menemukannya. Dan saat itu, Nabi khidlir menjelaskan bahwa ia memiliki ilmu yang tidak diketahui oleh Musa. Namun demikian hal itu tidak menjadikannya merasa paling alim, Khidlir juga mengakui bahwa Musa memiliki ilmu yang tidak diketahuinya. Nabi khidlir berkata :

يَا مُوسَى إِنِّي عَلَى عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ عَلَّمَنِيهِ لَا تَعْلَمُهُ أَنْتَ وَأَنْتَ عَلَى عِلْمٍ عَلَّمَكَهُ لَا أَعْلَمُهُ

"Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki suatu ilmu dari ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku yang tidak engkau ketahui. Dan engkau pun memiliki suatu ilmu yang Allah telah ajarkan kepadamu yang tidak aku ketahui." [HR Bukhari]

 

Kejadian ini memberikan pelajaran bahwa setinggi apapun ilmu manusia pastilah ada ilmu yang belum diketahuinya karena ilmu manusia itu sangatlah terbatas. Allah SWT berfiman :

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“ … dan tidaklah kalian diberi ilmu melainkan sedikit saja“ [QS Al-Isra: 85]

 

Jangankan Nabi Musa, Nabi Muhammad SAW juga dalam beberapa hadits diriwayatkan bersabda : “La Adri” (Aku tidak tahu). Bahkan Malaikat Jibril sekalipun. Abdullah ibn Umar RA berkata : Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, tempat manakah yang paling baik?" Beliau menjawab: “La Adri” (Aku tidak tahu).” Orang itu bertanya lagi: "Tempat manakah yang paling buruk?" Beliau menjawab: “La Adri” (Aku tidak tahu)." Orang itu berkata: "Tanyakanlah kepada Tuhanmu." Ketika Jibril turun, Rasul SAW bersabda: "Sesungguhnya aku ditanya: 'Tempat manakah yang paling baik dan tempat manakah yang paling buruk?' Maka aku menjawab: 'Aku tidak tahu.'" Lalu Jibril berkata:

وَأَنَا لَا أَدْرِي حَتَّى أَسْأَلَ رَبِّي

"Aku pun tidak tahu sampai aku bertanya kepada Tuhanku."

Singkat cerita, Allah memberitahu : “Ketahuilah, sesungguhnya sebaik-baik tempat adalah masjid-masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar-pasar." [HR Al-Hakim]

 

Dalam hadits utama di atas, ketika ditanya malaikat jibril mengenai kapan kiamat maka beliau bersabda : "Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya." Lalu beliau menyebutkan tanda-tanda kiamat. [HR Bukhari] Demikianlah para sahabat ketika ditanya sesuatu yang mereka tidak tahu maka mereka mengatakan “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Hal ini sebagaimana kejadian selepas shalat subuh di Hudaibiyah. Rasul SAW bertanya kepada para sahabat. “Tahukah kalian apa yang Allah firmankan?” Para Sahabat menjawab :

اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

“Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. [HR Bukhari]

 

Hal yang sama ketika Rasul SAW berkhutbah pada Hari raya kurban dan bertanya kepada para sahabat “Apakah kalian tahu hari apa ini?”, “Bulan Apakah ini?”, “Tanah apa ini?”. Para sahabat menjawab dengan “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu” lalu diam sembari mendengar penjelasan dari Rasul SAW. Para sahabat mengira bahwa Rasul SAW akan memberi jawaban lain dari apa yang diketahui. [HR Bukhari]

Demikian pula ketika Muadz bin Jabal RA ditanya Rasul SAW : Wahai Muadz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba-Nya atas Allah?  Muadz menjawab : “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu” [HR Bukhari]

 

Demikianlah seharusnya, Abdullah bin Mas'ud RA berkata:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ عَلِمَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلْ اللَّهُ أَعْلَمُ

"Wahai manusia, barang siapa mengetahui sesuatu maka hendaklah ia mengatakannya. Dan barang siapa tidak mengetahui, maka hendaklah ia mengatakan: 'Allah lebih mengetahui.' Karena sesungguhnya termasuk ilmu adalah seseorang mengatakan terhadap perkara yang tidak diketahuinya: 'Allah lebih mengetahui.' Allah 'Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi-Nya SAW : "Katakanlah: Aku tidak meminta kepada kalian suatu imbalan pun atas (dakwah) ini,

وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mengada-adakan (sesuatu yang tidak aku ketahui)." [QS Shad : 86]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita menyadari betapa terbatasnya ilmu kita sehingga tidak menjadi sombong dengan sebanyak apapun ilmu yang dimiliki dan menyadari bahwa masih ada orang yang lebih alim dari kita dan seterusnya hingga Allah SWT.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

No comments:

Post a Comment

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts