KLARIFIKASI DULU!

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Hafsh bin Ashim RA, Rasul SAW bersabda :

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

"Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar."  [HR Muslim]

 

Catatan Alvers

 

Publik dihebohkan oleh pemberitaan mengenai seorang santriwati yang mengaku hamil dan pada awalnya mengaitkannya dengan mimpi tertentu. Keluarganya sempat mengaku kebingungan karena putrinya menyatakan tidak pernah berhubungan badan dengan siapa pun dan hanya mengaku sering mengalami mimpi tertentu. AH (54), selaku pimpinan Padepokan PPA, kemudian ditangkap polisi pada (27/5/2026) terkait dugaan tindak kekerasan seksual yang telah dilakukan menahun pada para santriwatinya. [news.detik.com] Namun belakangan (6/7/2026), Polisi mengumumkan hasil tes DNA terkait kasus tersebut menunjukkan bayi yang dilahirkan korban bukan anak biologis tersangka. Pasca tes DNA, korban mengakui bahwa perbuatan itu dilakukan dengan orang lain, seseorang yang diketahui dari ciri-cirinya adalah dari batuk yang diduga adalah dari AH. [news.detik.com]

 

Terlepas dari proses hukum kejadian tersebut yang masih berlangsung, Islam menganjurkan agar senantiasa melakukan tabayyun, klarifikasi atas setiap berita dan informasi. Allah SWT berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik dengan membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [QS Al-Hujurat : 6].

 

Apalagi jika berita tersebut menyangkut tuduhan zina atau kehormatan seseorang. Syariat Islam menetapkan standar pembuktian yang sangat ketat agar tidak terjadi fitnah yaitu mendatangkan empat orang yang saksi yang melihat secara langsung. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً

"Orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang terpelihara kehormatannya, kemudian mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali. [QS An-Nur : 4]

 

Saya teringat dengan kisah Juraij, seorang ahli ibadah yang hidup di zaman bani Isra’il. Dalam Shahih Bukhari dikisahkan ia dituduh oleh seorang wanita yang barusan melahirkan bahwa sang bayi adalah hasil zina dengan Juraij. Orang-orang pun terhasud dengan tuduhan tersebut, mereka mencaci maki juraij bahkan mereka membakar tempat ibadahnya. Melihat fitnah ini, Juraij lalu sholat dan kemudian bertanya kepada sang bayi, siapakah ayahmu? Sang bayi menjawab : “Ayahku adalah seorang penggembala”. Mengetahui hal ini, massa kemudian sadar bahwa mereka telah salah menuduh juraij. Merekapun meminta maaf dan berkata :

نَبْنِي صَوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبٍ

“Kami akan membangunkan tempat ibadahmu dengan emas.” [HR Bukhari]

 

Penyesalan selalu datang belakangan. Karena itu Islam mengajarkan agar seorang muslim tidak tergesa-gesa menyimpulkan suatu perkara sebelum melakukan tabayyun. Janganlah kita meneruskan berita yang demikian sebelum tabayyun. Dalam hadits utama, Rasul SAW bersabda : "Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar."  [HR Muslim] Dan Allah SWT mengingatkan agar kita tidak menyesal di kemudian hari karena tergesa-gesa menerima informasi tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu. Allah SWT berfirman : “agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [QS Al-Hujurat : 6].

 

Ayat tersebut turun berkenaan dengan peristiwa yang terjadi pada Al-Walid bin Uqbah. Al-Wahidi menjelaskan : Rasul SAW mengutusnya kepada kabilah Bani al-Musthaliq untuk mengambil zakat mereka. Sebelumnya, pada masa jahiliah, pernah terjadi permusuhan antara Al-Walid dan Bani al-Musthaliq. Ketika penduduk Bani al-Musthaliq mendengar kedatangan utusan Rasul SAW, mereka keluar menyambutnya sebagai bentuk penghormatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun setan membisikkan kepada Al-Walid bahwa mereka hendak membunuhnya. Karena merasa takut, ia pun berbalik arah di tengah perjalanan dan kembali kepada Rasul SAW.

 

Al-Walid berkata : "Sesungguhnya Bani al-Musthaliq telah menolak menyerahkan zakat mereka dan mereka hendak membunuhku." Mendengar laporan itu, Rasul SAW menjadi marah dan berencana mengirim pasukan untuk memerangi mereka. Sementara itu, ketika Bani al-Musthaliq mengetahui bahwa Al-Walid telah kembali, mereka segera datang menghadap Rasul SAW seraya berkata : "Kami mendengar kedatangan utusanmu, maka kami keluar untuk menyambutnya, memuliakannya, dan menyerahkan hak Allah (zakat) yang menjadi kewajiban kami. Namun ternyata ia kembali di tengah jalan. Kami khawatir ia kembali karena menerima surat darimu yang menunjukkan kemurkaanmu kepada kami.

وَإِنَّا نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ غَضَبِهِ وَغَضَبِ رَسُولِهِ

Kami berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah dan kemurkaan Rasul-Nya."

Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah (tabayyunlah)." [Asbabun Nuzul]

 

Hampir saja terjadi peperangan antar sesama kaum muslimin akibat sebuah berita yang ternyata tidak benar. Sebuah peperangan yang tak perlu terjadi karena kesalahpahaman. Dari sinilah Allah mengajarkan pentingnya tabayyun sebelum mengambil keputusan. Maka ketika membaca berita, sebelum menulis komentar, sebelum menekan tombol share, bertanyalah kepada diri sendiri : "Apakah berita ini benar-benar valid?, Sudahkah aku bertabayyun?" Sebab penyesalan itu selalu datang belakangan.

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk agar senantiasa menjaga lisan, tulisan, dan media sosial kita dari menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, serta memberikan kepada kita taufik untuk selalu bertabayyun sebelum menilai dan menyimpulkan suatu perkara.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

 NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

Share:

No comments:

Post a Comment

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts