DOA UNTUK KARHUTLA

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Anas Bin Malik RA, Rasul SAW bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak (sempurna) iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Ada pramuka peserta PPSN VI yang diselenggarakan PP AN-NUR 2 Malang yang berasal dari kalimantan saat memberikan pesan kesan ia berkata bahwa hidup di daerah malang itu enak karena hawanya sejuk dan udaranya bersih tidak seperti di daerah asalnya dipenuhi asap karena kebakaran hutan berkepanjangan sehingga kalo kemana-mana harus pakai masker. Dalam berita disebutkan “Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan terdeteksi memasuki atmosfer Jakarta pada Jumat (16/10/2026) pagi. Namun, asap tersebut belum terindikasi mencapai permukaan tanah... [kompas com] Kepala BNPB menyebut luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi yang masih ditangani saat ini tercatat 639,23 hektare. Karhutla terluas terdapat di provinsi Kalimantan Tengah karena adanya titik baru yakni Taman Nasional Tanjung Puting. [detik com]

 

Sesaat mendengar hal itu maka hati ini bersyukur karena daerah yang kami tinggali ternyata tidak terjadi bencana kebakaran besar seperti daerah lain. Namun segera kami beristighfar karena teringat dengan kisah Sari as-Saqathi berikut. Beliau adalah seorang ulama dan tokoh sufi besar abad ke-3 Hijriah (wafat 253 H / 867 M dalam usia 98 tahun) yang berasal dari Baghdad, Irak. Beliau berkata :

مِنْذُ ثَلَاثِينَ سَنَةً أَنَا فِي الِاسْتِغْفَارِ مِنْ قَوْلِي مَرَّةً الْحَمْدُ لِلَّهِ

“Sejak tiga puluh tahun yang lalu aku beristighfar memohon ampun kepada Allah atas ucapanku sekali, Alhamdulillah.”

 

Ditanyakan kepadanya, “Bagaimana bisa demikian?” Ia menjawab : “Pernah terjadi kebakaran di Baghdad. Kemudian seseorang menemuiku dan berkata, ‘Tokomu selamat dari kebakaran.’ Aku pun berkata, ‘Alhamdulillah.’ Sejak saat itu, aku terus menyesali ucapanku tersebut. Sebab, ketika itu aku menginginkan keselamatan bagi diriku sendiri, sementara di saat yang sama orang-orang tertimpa musibah.” [Wafayatul A’yan]

 

Lantas, apakah mengucapkan alhamdulillah ketika selamat dari musibah merupakan kesalahan? Tentu tidak. Bersyukur atas nikmat keselamatan merupakan perbuatan terpuji. Namun kisah itu mengingatkan akan pentingnya mengoreksi hati agar rasa syukur atas keselamatan diri tidak membuat kita melupakan penderitaan orang lain.

Ketika daerah kita selamat sementara daerah lain terbakar, kita boleh bersyukur. Namun, alangkah baiknya jika rasa syukur itu disertai kepedulian terhadap mereka yang dilanda musibah kebakaran di daerahnya. Jangan sampai kita merasa cukup dengan keselamatan diri sendiri, sementara masyarakat lainnya terkena dampak dibiarkan berjuang sendirian. Terlebih jika kita memiliki kemampuan untuk membantu, mencegah, atau mengingatkan orang lain agar tidak melakukan tindakan yang membahayakan lingkungan. Rasulullah SAW bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak (sempurna) iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” [HR Bukhari]

 

Kementerian Lingkungan Hidup menyebut bahwa sebagian besar kebakaran hutan dan lahan bukan merupakan bencana alam murni. Penyebabnya banyak berkaitan dengan aktivitas manusia, baik yang dilakukan secara sengaja maupun akibat kelalaian. Seperti pembukaan lahan atau pencarian madu hutan yang menggunakan asap untuk mengusir lebah. Kemungkinan juga kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan ketika dilakukan di kawasan gambut yang telah mengering sehingga mudah terbakar bahkan merambat hingga ke bawah permukaan. [umy.ac.id]

 

Kelalaian seperti diatas yang menjadi penyebab kebakaran haruslah dihindari dan diantisipasi. Abu Musa RA berkata : “Pada suatu malam, sebuah rumah di Madinah terbakar bersama para penghuninya. Peristiwa mereka kemudian disampaikan kepada Nabi SAW. Beliau bersabda:

إِنَّ هَذِهِ النَّارَ إِنَّمَا هِيَ عَدُوٌّ لَكُمْ فَإِذَا نِمْتُمْ فَأَطْفِئُوهَا عَنْكُمْ

‘Sesungguhnya api ini adalah musuh bagi kalian. Oleh karena itu, apabila kalian hendak tidur, padamkanlah api itu agar tidak membahayakan kalian.” [HR Bukhari]

 

Kami mengutuk keras pihak-pihak yang sengaja membakar hutan dan lahan yang menjadi penyebab karhutla dan mendukung pemerintah mengusut tuntas dan memberikan hukuman setimpal pada pelaku. Dalam berita dinyatakan “Pemerintah terus mendalami dugaan unsur kesengajaan di balik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan yang masih terjadi hingga saat ini… polisi sudah menangkap beberapa orang yang diduga menyebabkan karhutla dan sudah diproses hukum”. [kompas com]

 

Allah SWT telah menciptakan bumi dengan baik namun manusia malah merusaknya. Allah melarang manusia untuk merusak bumi. Allah SWT berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik.” [QS Al-A'raf: 56]

Dan nyatalah kerusakan di muka bumi itu akibat ulah tangan manusia.  Dengan tegas, Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.” [QS Ar-Rum : 41]

Dan Allah tidak menyukai manusia yang demikian. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

… janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

 

Jangankan membakar hutan yang luas, membakar satu sarang semut membuat Allah murka. Rasul SAW pernah menceritakan bahwa ada seekor semut menggigit seorang nabi di antara para nabi. Lalu ia memerintahkan agar sarang semut dibakar. Kemudian Allah memberikan wahyu kepadanya,

أَنْ قَرَصَتْكَ نَمْلَةٌ أَحْرَقْتَ أُمَّةً مِنْ الْأُمَمِ تُسَبِّحُ

‘Hanya karena seekor semut menggigitmu, apakah engkau membakar suatu umat di antara umat-umat yang bertasbih?” [HR Bukhari]

 

Jika membakar satu sarang semut saja dilarang lantas bagaimana dengan membakar hutan, bukankah ada ribuan sarang semut di sana bahkan ribuan satwa akan ikut terbakar dan mati sia-sia dan boleh jadi ada korban jiwa dari saudara kita karenanya.

 

 

 

Marilah kita barengai ikhtiar dari pemerintah dalam memadamkan kebarakan dengan doa dan memohon pertolongan Allah SWT agar hujan segera memadamkan apinya. Allah SWT berfirman :

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ

“Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya.” [QS Asy-Syura : 28]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk senantiasa berempati atas setiap musibah yang menimpa saudara kita bahkan sesama ummat manusia dan memberikan doa terbaik.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

 NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

 

 

Share:

No comments:

Post a Comment

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts