• WhatsApp Channel : One Day One Hadith

    Bergabunglah bersama Saluran WhatsApp One Day One Hadith

  • Penerimaan Santri Baru 2026/2027

    Monggo nderek-nderek Nyethak Sholihin Sholihat dengan mendaftarkan putra putri jenengan ke PPW An-Nur 2 Al Murtadlo

  • Tadarus Akbar

    Tadarus Akbar oleh ribuan santri putra Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo

  • Sholat Tarawih Akbar

    Sekitar 3.000 santri putra melaksanakan Tarawih Akbar di Lapangan Utama Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo. Sabtu malam, 21 Februari 2026, lapangan center An-Nur II penuh dengan 24 saf santri berbaju putih

  • Bersama KAPOLRI

    Bersama Bapak Jenderal Listyo Sigit Prabowo - KAPOLRI dan Majelis Keluarga An-Nur 2

TAWA NABI

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abdillah Ibnu Harits RA Iaberkata :

مَا كَانَ ضَحِكُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا تَبَسُّمًا

Tidaklah Rasul SAW tertawa melainkan dengan seyuman. [HR Tirmidzi]

 

Catatan Alvers

 

Menurut medis, tertawa itu menyehatkan bahkan bermanfaat untuk kesehatan mental maupun kesehatan fisik. Dalam berbagai penelitian ditemukan manfaatnya diantaranya dapat mengurangi stres, mengurangi gejala depresi, mengurangi risiko serangan jantung. memperkuat imunitas tubuh, mengurangi nyeri dll. [alodokter com] Meskipun demikian, tidak serta merta tertawa itu dianjurkan dalam Islam karena Islam tidak bersumber dari logika namun dari dogma wahyu Allah SWT. Maka dari itu mari kita cek bagaimana Islam menilai tertawa!

 

Tertawa itu ada beberapa macam. Ibnu Hajar Al-Asqalany berkata : Para ahli bahasa berkata: “Tersenyum (Tabassum) adalah permulaan dari tertawa. Sedangkan tertawa (Dlahik) adalah mengembangnya wajah hingga tampak gigi karena rasa senang. Jika disertai suara, dan suaranya dapat terdengar dari kejauhan, maka itu disebut qahqahah (tertawa terbahak-bahak). Jika tidak sampai demikian, maka itu adalah tertawa biasa. Jika tanpa suara, maka itu adalah tersenyum. Gigi-gigi yang berada di bagian depan mulut disebut dawahik (gigi yang tampak saat tertawa), yaitu: gigi seri, gigi taring dan yang berada setelahnya disebut dengan nawajidz (gigi geraham). [Fathul Bari] Dan dari sisi hukum, senyum dan tertawa itu berbeda. Dalam hadits disebutkan :

اَلْكَشْرُ لَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ، وَلَكِنْ يَقْطَعُهَا الْقَرْقَرَةُ

Senyum itu tidak membatalkan shalat akan tetapi yang membatalkan adalah tertawa dengan suara. [HR Al-Khatib]

 

Lantas bagaimana dengan tertawanya Rasul SAW sendiri? Di satu sisi, Siti Aisyah RA berkata :

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ

“Aku tidak pernah melihat Rasul SAW tertawa (lebar) sampai aku melihat bagian dalam tenggorokannya, sesungguhnya beliau hanyalah tersenyum.” [HR Bukhari]

 

Namun di sisi lain banyak ditemukan hadits yang menyatakan :

ضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ
Nabi SAW tertawa hingga tampak gigi geraham beliau. [HR Bukhari]

 

Maka Ibnu Hajar Al-Asqalany berkata : (kedua hadits itu tidaklah bertentangan) karena tampaknya gigi geraham — yaitu gigi yang berada di bagian depan mulut atau taring — tidak mengharuskan terlihatnya lahawat (bagian dalam tenggorokan/langit-langit mulut). [Fathul Bari]

 

Dengan demikian tertawanya beliau berupa  tersenyum lebar dan bukan berupa tertawa hingga terbahak-bahak sebagaimana hadits utama diatas. Dan Abdillah Ibnu Harits RA berkata :

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Nabi SAW. [HR Tirmidzi]

 

Dan demikian pula dalam syariat terdahulu. Suatu ketika Nabi Musa pernah berkata kepada Nabi Khidir: “Berilah aku wasiat.” Maka Nabi Khidir berkata :

كُنْ بَسَّامًا وَلَا تَكُنْ غَضَّابًا

“Jadilah engkau orang yang banyak tersenyum, jangan menjadi orang yang mudah marah. [Faidlul Qadir]

 

Tertawa dengan suara lepas tidaklah dianjurkan bahkan sebaliknya, kita dianjurkan untuk sedikit tertawa. Hal itu dikarenakan Rasul SAW bersabda :

لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

“Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” [HR Bukhari]

 

Alasan lain adalah karena banyak tertawa akan menimbulkan efek negatif. Apa itu? Rasul SAW bersabda :

وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah engkau banyak tertawa, karena sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati.” [HR Ahmad]

 

Menjelaskan hal ini, As-Sindy berkata :

أَيْ تَجْعَلُهُ قَاسِيًا لَا يَتَأَثَّرُ بِالْمَوَاعِظِ كَالْمَيِّتِ

Banyak tertawa menyebabkan hati menjadi keras, tidak mempan dinasehati layaknya seperti orang mati. [Hasyiyah As-Sindy]

 

Alasan lainnya adalah dikarenakan tawa akan dihisab pada hari kiamat. Pada suatu hari Al-Awza’i menasehati khalifah Al-Manshur : “Wahai Amirul Mukminin, tahukah engkau akan penafsiran yang datang dari ayat berikut dari kakekmu :

مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا

‘Mengapa kitab ini tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’

Ia melanjutkan : ‘Yang kecil itu adalah senyuman, dan yang besar adalah tertawa.’

Lantas bagaimana dengan apa yang dilakukan oleh tangan-tangan dan yang diucapkan oleh lisan-lisan, wahai Amirul Mukminin!’”  [Syu’abul Iman]

 

Tidak banyak tertawa bukan berarti tidak tertawa sama sekali, sehingga hadits utama di atas dipahami sebagai pembatasan secara relatif atau bentuk mubalaghah. Al-Mubarakfury berkata : “Dan pembatasan (dalam hadits) ini bersifat relatif (idlafy), yaitu jika dibandingkan dengan yang lebih dominan (kebiasaan beliau). Karena telah nyata bahwa Nabi SAW terkadang tertawa hingga tampak gigi gerahamnya, kecuali jika ini dipahami sebagai bentuk mubalaghah (ungkapan yang berlebih-lebihan).” [Tuhfatul Ahwadzi]

 

Nabi SAW sendiri sesekali ditemukan tertawa hingga terlihat gigi geraham beliau. Diantaranya ketika seorang alim dari kalangan Yahudi berkata : “Wahai Muhammad, sesungguhnya kami mendapati (dalam kitab kami) bahwa Allah menjadikan langit di atas satu jari, bumi di atas satu jari, pepohonan di atas satu jari, air dan tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk lainnya di atas satu jari, kemudian Dia berfirman: ‘Akulah Raja. Maka Nabi SAW tertawa hingga tampak gigi geraham beliau, sebagai pembenaran terhadap perkataan orang alim tersebut. Kemudian membaca QS. Az-Zumar: 67. [HR Bukhari]

Dalam kesempatan lain, ada seorang laki-laki datang kepada Nabi mengaku telah menggauli istri di siang hari bulan Ramadhan. Ketika ia disuruh untuk memerdekakan seorang budak, maka ia tidak mampu. ketika disuruh berpuasa dua bulan berturut-turut, ia juga tidak mampu. Disuruh beri makan enam puluh orang miskin, ia juga tidak mampu. Akhirnya Nabi memberikan sebuah keranjang berisi kurma kepadanya untuk diberikan kepada fakir miskin. Dan lelaki itu berkata “ Demi Allah, di Madinah ini tidak ada keluarga yang lebih miskin daripada kami.” Maka Nabi SAW tertawa hingga tampak gigi geraham beliau, lalu bersabda: “Kalau begitu, berikanlah kepada keluargamu.” [HR Bukhari]

Demikian pula Nabi Sulaiman. Allah SWT berfirman : “hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.”

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا

Maka Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu... [QS An-Naml : 19]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk terus menyelaraskan kehidupan kita dengan ajaran Rasul SAW, baik perbuatan maupun ucapan bahkan sekedar tawa dan senyuman.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

TERKADANG PERLU BOHONG

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Asma’ binti Yazid RA, Rasul SAW bersabda :

لَا يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ

Tidak halal berbohong kecuali dalam tiga perkara : (1) seorang suami berbicara kepada istrinya untuk menyenangkannya, (2) berbohong dalam peperangan, (3) dan berbohong untuk mendamaikan di antara manusia.”.” [HR Tirmidzi]

 

Catatan Alvers

 

​​Kejujuran Berujung Pilu, Istri dan Anak Ditinggal Suami di Jalan Usai Bikin Konten Video. Kejadian itu bermula saat pasangan suami istri tersebut sedang berkendara sepeda motor melintasi jalanan di area perkebunan, bersama anak mereka. ​Sambil memegang kamera untuk merekam video, sang suami tiba-tiba melontarkan pertanyaan kepada istrinya yang duduk di belakang membonceng anak mereka. "Ganteng enggak aku bu?" tanya sang suami. Mendengar pertanyaan tersebut, sang istri, mungkin dengan nada bercanda atau bermaksud jujur, menjawab singkat, "Enggak." Jawaban jujur tersebut rupanya menyinggung perasaan sang suami secara mendalam. Tak disangka, sang suami langsung menghentikan sepeda motornya dan menyuruh istri serta anak bayi yang masih digendong itu turun dari motor lalu suami melanjutkan perjalanan dengan meninggalkan istri berjalan kaki di jalanan perkebunan yang sepi. [Anfer_tv]

 

Dalam peribahasa disebutkan “Tiada gading yang tak retak”. Gading gajah yang indah sekalipun kalau diteliti dengan detail maka akan ditemukan retakan-retakan kecil. Demikian pula manusia, tiada yang sempurna. Sesempurna apapun seseorang pasti ada kekurangannya dan sebaik apapun seseorang pasti ada jeleknya. Maka jika kita melihat seseorang dari kejelekannya maka tiada orang yang baik namun jika kita melihat dari dari sisi baiknya maka tidak ada orang yang jelek. Syaikh Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi berkata :

مَنِ ابْتَغَى زَوْجَةً بِلَا نَقْصٍ عَاشَ أَعْزَبًا

“ Siapa yang ingin mencari istri yang tak punya kekurangan, maka ia akan hidup menjomblo.” [arabcont com]

 

Ketika belum menikah boleh jadi pasangan kita tampak sebagai manusia yang sempurna namun ketika sudah menikah maka kita akan tahu betapa banyak kekurangannya. Namun ketika kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna maka kita tidak akan mempermasalahkan kekurangan pasangan kita. Kekurangan itu tidaklah untuk diperlihatkan dan pasangan itu ibarat pakaian, fungsinya adalah menutupi segala kekurangan. Allah SWT berfirman :

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

Mereka (istri) adalah pakaian untuk kalian dan kalian adalah pakaian untuk mereka.  [QS Al-Baqarah : 187]

 

Menafsiri ayat ini, Al-Raghib al-Isfahani berkata:

جَعَلَ اللِّبَاسَ كِنَايَةً عَنِ الزَّوْجِ لِكَوْنِهِ سِتْرًا لِنَفْسِهِ وَلِزَوْجِهِ أَنْ يَظْهَرَ مِنْهُمَا سُوءٌ، كَمَا أَنَّ اللِّبَاسَ سِتْرٌ عَنْهُ أَنْ يَبْدُوَ مِنْهُ السُّوءُ.

“Allah menjadikan ‘pakaian’ sebagai kiasan (kinayah) untuk pasangan (suami/istri), karena ia menjadi penutup bagi dirinya dan bagi pasangannya dari tampaknya keburukan dari keduanya; sebagaimana pakaian itu menutupi seseorang agar tidak tampak darinya hal yang buruk.” [Tafsir Al-Wasith, Thanthawi]

Maka suami atau istri yang baik adalah yang dapat menutupi kekurangan pasangannya dan tidak memperlihatkannya. Nabi SAW bersabda :

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

Sesungguhnya termasuk manusia paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang menggauli istrinya kemudian dia sebarkan rahasianya.” [HR. Muslim]

 

Tidak semua orang bisa menerima dengan lapang dada akan kekurangan yang dimilikinya, tak terkecuali pasangan kita. Terkadang berkata jujur akan hal tersebut bisa menyakiti hatinya sebagaimana kejadian viral di atas. Dan sebaliknya, berkata bohong dalam hal itu bisa menjadikan pasangan kita bahagia. Al-Mutanabbi berkata :

لَا خَيْلَ عِنْدَكَ تُهْدِيهَا وَلَا مَالُ :: فَلْيُسْعِدِ النُّطْقُ إِنْ لَمْ يُسْعِدِ الْحَالُ

“Engkau tidak punya kuda untuk dihadiahkan kepadanya, dan tidak pula harta. :: Maka hendaklah seseorang membahagiakan dengan ucapan (yang baik), jika ia tidak bisa membahagiakan dengan keadaan (materi).” [Tafsir Al-Alusi]

 

Bohong dalam hal ini diperbolehkan dalam Islam. Seandainya Istri dalam video viral tersebut berbohong dengan menjawab : Iya, Kamu ganteng” meskipun dalam hati tidak demikian maka itu tidaklah berdosa dan suaminya tidak akan marah meskipun ia sendiri yakin bahwa istrinya berbohong bahkan itu akan menyenangkan hati sang suami.  Dalam hadits di atas, Nabi SAW bersabda : Tidak halal berbohong kecuali dalam tiga perkara : (1) seorang suami berbicara kepada istrinya untuk menyenangkannya, (2) berbohong dalam peperangan, (3) dan berbohong untuk mendamaikan di antara manusia.”.” [HR Tirmidzi]

 

Dalam Ibnu Shihab berkata :

وَلَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ الْحَرْبُ وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا

“Belum pernah aku dengar, kalimat (bohong) yang diberi keringanan untuk diucapkan manusia selain dalam 3 hal : Ketika perang, dalam rangka mendamaikan pertikaian antar-sesama, dan ucapan suami kepada istrinya atau ucapan istri pada suaminya ” [Shahih Muslim]

Berbohong termasuk akhlak tercela yang dilarang oleh Islam namun dalam sebagian keadaan terkadang dibutuhkan sebaliknya, sebagaimana dalam tiga keadaan yang dijelaskan oleh hadits tersebut. (1) Seorang suami berbicara kepada istrinya untuk menyenangkannya. Berbohong dalam rangka menampakkan rasa cinta, menggombal, dengan tujuan kasih sayang dan ketenangan keluarga. Al-Hafidz ibnu hajar mengatakan: “Ulama sepakat bahwa yang dimaksud bohong antar-suami istri adalah bohong yang tidak menggugurkan kewajiban atau mengambil sesuatu yang bukan haknya.” [Fathul Bari]

 

(2) ‘Berbohong dalam peperangan’, yaitu seorang muslim boleh berkata tidak sesuai kenyataan; dengan menampakkan kekuatan, membangkitkan semangat kawan-kawannya, serta mengelabui musuhnya, atau berbohong kepada musuh untuk menipunya; karena perang itu adalah tipu daya. (3) ‘Berbohong untuk mendamaikan manusia’, yaitu mengatakan sesuatu yang tidak terjadi tetapi mengandung unsur meredakan pihak-pihak yang berselisih; dengan menyampaikan kebaikan dari salah satu kepada yang lain, meskipun tidak ada izin darinya, dengan tujuan memperbaiki hubungan.

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk senantiasa berkata jujur namun tidak ragu berbohong ketika memuji pasangan dan membahagiakan hatinya.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

KEMBALI KE PONDOK

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ...

"Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang tetap mengikutinya setelah kematiannya adalah ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan dan anak shalih yang ia tinggalkan…” [HR Ibnu Majah]

 

Catatan Alvers

 

Sekarang sudah saatnya kembali beraktifitas pasca liburan. Tidak hanya orang yang bekerja ataupun anak yang bersekolah, santri yang mondok juga saatnya kembali ke pesantren. Bermain-main ketika masa liburan itu sah-sah saja asal jangan melupakan bahwa liburan itu adalah istirahat sejenak supaya kembali semangat saat waktu kembalian tiba. Liburan yang demikian akan menjadi sarana yang efektif untuk merefreshing pikiran setelah penat beraktifitas di pesantren. Tidak hanya santri sekarang butuh refreshing, santrinya Nabi SAW juga demikian. Abu Darda’ RA menyatakan:

إِنِّي لَأَجُمُّ فُؤَادِي بِبَعْضِ الْبَاطِلِ أَيْ اللَّهْوِ الْجَائِزِ لِأَنْشَطَ لِلْحَقِّ

“Sungguh, saya merefresh jiwa saya dengan melakukan sebagian sendau-gurau atau permainan yang dibolehkan, agar saya kembali giat dalam melaksanakan kebaikan.” [Faidlul Qadir]

Dan Sayyidina  Ali RA juga berkata:

أَجِمُّوا هَذِهِ الْقُلُوبَ فَإِنَّهَا تَمَلُّ كَمَا تَمَلُّ الْأَبْدَانُ

“Rehatkan hati kalian, karena hati juga merasa bosan sebagaimana jiwa kalian merasa capek dan bosan.” [Faidlul Qadir]

 

Islam sebagai agama yang fitrah menyadari akan petingnya liburan atau istirahat sejenak mengingat manusia memiliki tabi’at bosan. Bahkan dalam urusan ibadah sekalipun, Rasul menganjurkan kita untuk melakukannya dengan kadar dimana kita tidak gampang merasa bosan dan terkesan memforsir fisik hingga melebihi batas kemampuan. Rasul SAW bersabda :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak akan pernah bosan sampai kalian sendiri merasa bosan.[HR. Muslim]

 

Namun demikian ketika masa libur telah usai terkadang ada perasaan berat bagi santri untuk kembali ke pesantren karena sudah nyaman dengan berbagai macam hiburan dan rekreasi selama liburan. Ketika anak merasa berat seperti itu maka hendaknya orang tua berjuang dan tetap optimis untuk mengembalikan anaknya ke pesantren.

 

Ketika anak berhenti mondok, dan ia memilih terus bermain-main dengan teman-teman di kampung halamannya yang cenderung berperilaku negatif maka kemungkinan besar sang anak akan terseret ke dalam circle yang negatif tersebut. Di sinilah peran orang tua sangat menentukan. Rasul SAW bersabda :

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

"Setiap anak terlahir dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi. [HR Bukhari]

 

Mengembalikan anak ke pondok merupakan usaha orangtua untuk menjadikan anak sebagai anak yang shalih, yang memiliki sopan santun serta ilmu agama sebagai bekal kehidupan dunia dan akhirat, bahkan aktifitas mondok itu sendiri sangatlah mulia, yang disetarakan dengan kemuliaan berjihad. Rasul SAW Bersabda :

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu (syar’i) maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang (kembali ke rumahnya)”. [HR Turmudzi]

 

Dengan kemuliaan anak yang menuntut ilmu agama maka setan tidak akan tinggal diam, setan akan terus menggoda dan menghalang-halangi anak yang akan kembali menuntut ilmu. Orang tua sudah semestinya memperjuangkan kembalinya anak ke pesantren karena anak itu merupakan investasi jangka panjang. Nabi SAW bersabda :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaat darinya, atau anak shalih yang mendoakannya." [HR Muslim]

 

Dan dalam hadits utama di atas, Nabi SAW bersabda : "Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang tetap mengikutinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan, anak shalih yang ia tinggalkan…” (selanjutnya) mushaf (Al-Qur’an) yang ia wariskan, masjid yang ia bangun, rumah (tempat singgah) untuk ibnu sabil yang ia dirikan, sungai (saluran air) yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya di saat sehat dan hidupnya—semua itu akan tetap sampai kepadanya setelah ia meninggal."[HR Ibnu Majah]

 

Anak juga bisa menjadi sebab terangkatnya derajat dan kemuliaan orang tua di akhirat kelak. Nabi SAW bersabda :

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، مِنْ أَيْنَ لِي هَذَا؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

"Sesungguhnya Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Maka ia berkata: ‘Wahai Tuhanku, dari mana aku mendapatkan ini?’ Maka Allah berfirman: ‘Dari istighfar (permohonan ampun) anakmu untukmu. [HR Ibnu Majah]

 

Hal ini dikarenakan anak itu sendiri merupakan aset bagi orang tuanya. Nabi SAW bersabda :

إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَإِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِهِ

Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya anaknya termasuk dari hasil usahanya." [HR Ibnu Majah]

 

Oleh karena itu maka setiap amal shalih yang dilakukan anak itu pahalanya akan didapatkan oleh kedua orang tuanya, tanpa mengurangi pahala si anak sedikit pun. Bahkan dikatakan:

لِلْوَالِدِ ثَوَابٌ مِنْ عَمَلِ الْوَلَدِ الصَّالِحِ، سَوَاءٌ دَعَا لِأَبِيهِ أَمْ لَا

Orang tua tetap mendapat pahala dari amal anak shalih, baik anak itu mendoakannya atau tidak”.

Sebagaimana orang yang menanam pohon akan mendapat pahala dari buahnya yang dimakan, baik orang yang memakan itu mendoakannya atau tidak. [Mirqatul Mafatih]

 

 

 

 

 

 

Maka mengupayakan anak menjadi shalih itu sangatlah penting. Ibn al-Malak berkata :

قَيَّدَ بِالصَّالِحِ لِأَنَّ الْأَجْر لَا يَحْصُل مِنْ غَيْره

"Nabi SAW mensyaratkan (anak) dengan sifat shalih karena pahala (untuk orang tua) itu tidak bisa diperoleh dari anak yang tidak shalih."

Dan al-Munawi berkata : "Faedah disebutkannya ‘anak’ (secara khusus), padahal doa selain anak juga bermanfaat baginya, adalah untuk mendorong anak agar berdoa (untuk orang tuanya)." [Aunul Ma’bud]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk terus mengupayakan agar anak menjadi shalih dengan bimbingan, arahan, usaha dan doa. Semoga anak-anak kita menjadi anak shalih yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat kelak.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts