KEMBALI KE PONDOK

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ...

"Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang tetap mengikutinya setelah kematiannya adalah ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan dan anak shalih yang ia tinggalkan…” [HR Ibnu Majah]

 

Catatan Alvers

 

Sekarang sudah saatnya kembali beraktifitas pasca liburan. Tidak hanya orang yang bekerja ataupun anak yang bersekolah, santri yang mondok juga saatnya kembali ke pesantren. Bermain-main ketika masa liburan itu sah-sah saja asal jangan melupakan bahwa liburan itu adalah istirahat sejenak supaya kembali semangat saat waktu kembalian tiba. Liburan yang demikian akan menjadi sarana yang efektif untuk merefreshing pikiran setelah penat beraktifitas di pesantren. Tidak hanya santri sekarang butuh refreshing, santrinya Nabi SAW juga demikian. Abu Darda’ RA menyatakan:

إِنِّي لَأَجُمُّ فُؤَادِي بِبَعْضِ الْبَاطِلِ أَيْ اللَّهْوِ الْجَائِزِ لِأَنْشَطَ لِلْحَقِّ

“Sungguh, saya merefresh jiwa saya dengan melakukan sebagian sendau-gurau atau permainan yang dibolehkan, agar saya kembali giat dalam melaksanakan kebaikan.” [Faidlul Qadir]

Dan Sayyidina  Ali RA juga berkata:

أَجِمُّوا هَذِهِ الْقُلُوبَ فَإِنَّهَا تَمَلُّ كَمَا تَمَلُّ الْأَبْدَانُ

“Rehatkan hati kalian, karena hati juga merasa bosan sebagaimana jiwa kalian merasa capek dan bosan.” [Faidlul Qadir]

 

Islam sebagai agama yang fitrah menyadari akan petingnya liburan atau istirahat sejenak mengingat manusia memiliki tabi’at bosan. Bahkan dalam urusan ibadah sekalipun, Rasul menganjurkan kita untuk melakukannya dengan kadar dimana kita tidak gampang merasa bosan dan terkesan memforsir fisik hingga melebihi batas kemampuan. Rasul SAW bersabda :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak akan pernah bosan sampai kalian sendiri merasa bosan.[HR. Muslim]

 

Namun demikian ketika masa libur telah usai terkadang ada perasaan berat bagi santri untuk kembali ke pesantren karena sudah nyaman dengan berbagai macam hiburan dan rekreasi selama liburan. Ketika anak merasa berat seperti itu maka hendaknya orang tua berjuang dan tetap optimis untuk mengembalikan anaknya ke pesantren.

 

Ketika anak berhenti mondok, dan ia memilih terus bermain-main dengan teman-teman di kampung halamannya yang cenderung berperilaku negatif maka kemungkinan besar sang anak akan terseret ke dalam circle yang negatif tersebut. Di sinilah peran orang tua sangat menentukan. Rasul SAW bersabda :

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

"Setiap anak terlahir dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi. [HR Bukhari]

 

Mengembalikan anak ke pondok merupakan usaha orangtua untuk menjadikan anak sebagai anak yang shalih, yang memiliki sopan santun serta ilmu agama sebagai bekal kehidupan dunia dan akhirat, bahkan aktifitas mondok itu sendiri sangatlah mulia, yang disetarakan dengan kemuliaan berjihad. Rasul SAW Bersabda :

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu (syar’i) maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang (kembali ke rumahnya)”. [HR Turmudzi]

 

Dengan kemuliaan anak yang menuntut ilmu agama maka setan tidak akan tinggal diam, setan akan terus menggoda dan menghalang-halangi anak yang akan kembali menuntut ilmu. Orang tua sudah semestinya memperjuangkan kembalinya anak ke pesantren karena anak itu merupakan investasi jangka panjang. Nabi SAW bersabda :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaat darinya, atau anak shalih yang mendoakannya." [HR Muslim]

 

Dan dalam hadits utama di atas, Nabi SAW bersabda : "Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang tetap mengikutinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan, anak shalih yang ia tinggalkan…” (selanjutnya) mushaf (Al-Qur’an) yang ia wariskan, masjid yang ia bangun, rumah (tempat singgah) untuk ibnu sabil yang ia dirikan, sungai (saluran air) yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya di saat sehat dan hidupnya—semua itu akan tetap sampai kepadanya setelah ia meninggal."[HR Ibnu Majah]

 

Anak juga bisa menjadi sebab terangkatnya derajat dan kemuliaan orang tua di akhirat kelak. Nabi SAW bersabda :

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، مِنْ أَيْنَ لِي هَذَا؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

"Sesungguhnya Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Maka ia berkata: ‘Wahai Tuhanku, dari mana aku mendapatkan ini?’ Maka Allah berfirman: ‘Dari istighfar (permohonan ampun) anakmu untukmu. [HR Ibnu Majah]

 

Hal ini dikarenakan anak itu sendiri merupakan aset bagi orang tuanya. Nabi SAW bersabda :

إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَإِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِهِ

Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya anaknya termasuk dari hasil usahanya." [HR Ibnu Majah]

 

Oleh karena itu maka setiap amal shalih yang dilakukan anak itu pahalanya akan didapatkan oleh kedua orang tuanya, tanpa mengurangi pahala si anak sedikit pun. Bahkan dikatakan:

لِلْوَالِدِ ثَوَابٌ مِنْ عَمَلِ الْوَلَدِ الصَّالِحِ، سَوَاءٌ دَعَا لِأَبِيهِ أَمْ لَا

Orang tua tetap mendapat pahala dari amal anak shalih, baik anak itu mendoakannya atau tidak”.

Sebagaimana orang yang menanam pohon akan mendapat pahala dari buahnya yang dimakan, baik orang yang memakan itu mendoakannya atau tidak. [Mirqatul Mafatih]

 

 

 

 

 

 

Maka mengupayakan anak menjadi shalih itu sangatlah penting. Ibn al-Malak berkata :

قَيَّدَ بِالصَّالِحِ لِأَنَّ الْأَجْر لَا يَحْصُل مِنْ غَيْره

"Nabi SAW mensyaratkan (anak) dengan sifat shalih karena pahala (untuk orang tua) itu tidak bisa diperoleh dari anak yang tidak shalih."

Dan al-Munawi berkata : "Faedah disebutkannya ‘anak’ (secara khusus), padahal doa selain anak juga bermanfaat baginya, adalah untuk mendorong anak agar berdoa (untuk orang tuanya)." [Aunul Ma’bud]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk terus mengupayakan agar anak menjadi shalih dengan bimbingan, arahan, usaha dan doa. Semoga anak-anak kita menjadi anak shalih yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat kelak.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

No comments:

Post a Comment

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts