Jumat, 10 Juni 2016

BULAN PENDIDIKAN KARAKTER

ONE DAY ONE HADITH

Rasul SAW bersabda, :
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun ia hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga dari puasanya tersebut.” [HR Thabrani]

Catatan Alvers

Diriwayatkan dalam Syu’abul Iman dari Nafi’ bahwasannya suatu ketika Abdullah Ibnu Umar (8 SH – 73 H) keluar menuju salah satu pelosok madinah bersama para sahabatnya. Dalam perjalanan itu mereka berhenti dan menghamparkan alas untuk istirahat dan makan siang. Saat itu, turunlah seorang penggembala kambing dari lereng gunung dan melewati mereka yang sedang menyantap makan siang. Penggembala itupun mengucap salam. Lalu Ibnu Umar menjawabnya dan menawarkan makanan kepadanya: “Kemarilah wahai penggembala, marilah makan bersama kami”. Penggembala memohon maaf seraya mengemukakan alasannya “Saya sedang berpuasa”.  Ibnu umar bertanya-tanya kepadanya dengan nada heran:
أَتَصُومُ فِي مِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ الْحَارِّ شَدِيدٍ سُمُومُهُ وَأَنْتَ فِي هَذِهِ الْجِبَالِ تَرْعَى هَذَا الْغَنَمَ ؟
Akankah kau puasa pada hari yang panas lagi terik seperti ini sedang kau berada di gunung untuk menggembalan kambing ini?


Lantas terbesitlah pada hati ibnu umar untuk menguji apakah penggembala tadi  benar-benar berpuasa. Ibnu umar bertanya: “Maukah engkau menjual satu ekor dari kambing- kambingmu ini, nanti kuberi uangnya dan kuberi dagingnya untuk buka puasamu nanti?”. Penggembala menjawab: “maaf ini bukan kambingku, kambing-kambing ini milik majikanku”. Lantas ibnu umar ingin menguji lebih jauh : “Majikanmu tidak akan tahu kalau kambingnya hilang satu ekor, atau bisa saja kau bilang kepadanya bahwa seekor kambingnya di mangsa harimau”.  Seketika itu si penggembala memalingkan wajahnya sambil mengacungkan telunjuknya ke arah langit dan berkata : “Fa Ainallah, Ya sayyidi?” Lantas dimanakah Allah itu? Jika aku berani melakukan kecurangan itu bukankah Allah mengetahuinya. Mendengar jawaban yang mantap dari penggembala tadi maka ibnu umar kaget dan tergetar hatinya, sungguh jawaban yang tak terduga yang muncul dari hati orang yang benar-benar berpuasa yang memiliki keimanan dan ketaqwaan yang kuat sebagai hasil dari puasanya.

Selepas kejadian itu, ibnu umar mengulang-ulang ucapan si penggembala tadi “Fa ainallah, Fa ainallah”. Sekembalinya ke madinah, ibnu umar mencari sang majikan untuk membeli satu ekor kambing darinya sekaligus membeli budak penggembala tersebut untuk dimerdekakan. Ibnu umar kemudian menghadiahkan kambing yang dibelinya itu kepada sang penggembala yang telah merdeka. [HR Al-Baihaqi]

Inilah gambaran puasa yang sebenarnya, puasa yang mengantarkan seorang pelakunya meraih predikat taqwa. Bukankah puasa diwajibkan supaya kalian bertaqwa “La allakum tattaqun” [lihat QS Al-Baqarah 183]. Dengan demikian orang yang berpuasa namun puasanya tidak menjadikan pribadinya bertaqwa maka sungguh puasanya sia-sia sebagaimana hadits di atas.

Taqwa didefinisikan oleh syeikh hafidz al-Mas’udi:
اَلتَّقْوَى هِيَ اِمْتِثَالُ أَوَامِرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاجْتِنَابُ نَوَاهِيْهِ سِرًّا وَعَلاَنِيَّةً
Taqwa adalah melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-laranganNya, baik dalam keadaan sendirian maupun di depan khalayak ramai. [Taysirul Khallaq]

Selaras dengan tujuan puasa yang membentuk pribadi ber-taqwa maka disinilah sebenarnya letak pendidikan karakter dalam puasa. Taqwa menurut hemat penulis adalah puncak dari pendidikan karakter. Bukankah Pendidikan karakter bertujuan mengembangkan watak dan tabiat peserta didik dengan cara menghayati nilai-nilai dan keyakinan masyarakat sebagai kekuatan moral dalam hidupnya melalui kujujuran, dapat dipercaya, disiplin, dan kerja sama yang menekankan ranah afektif (perasaan/sikap) tanpa meninggalkan ranah kognitif (ilmu pengetahuan, berpikir rasional), dan ranah psikomotorik (keterampilan, kerja sama). [Lihat Syamsul Kurniawan, Pendidikan Karakter, 2013]

Menurut penulis minus taqwa, pendidikan karakter adalah pendidikan yang semu, layaknya pepesan kosong layaknya seperti kejadian dalam kisah berikut. Seorang pejabat keluar dari sebuah hotel mewah setelah ia menyelenggarakan seminar dan malam amal untuk menggali dana bagi anak-anak miskin dan terlantar yang berkeliaran di jalan. Ketika akan masuk ke mobil mewahnya, seorang anak jalanan mendekatinya dan merengek, ”Pak, minta uang sekadarnya. Sudah dua hari saya tidak makan.” Pejabat itu terkejut dan melompat menjauhi anak itu. ”Dasar anak keparat yang tak tahu diri!” teriaknya. ”Tak tahukah kamu bahwa sepanjang hari saya sudah bekerja sangat keras untukmu?”.

Taqwa menuntut kebaikan dari pemiliknya kapan saja dan dimana saja. Baik di hadapan umum seperti seminar, liputan tv dll. maupun dalam tingkah sendirian, jauh dari keramaian dan liputan seperti kejadian di atas. Maka Ramadhan sebagai bulan dimana semua umat yang beriman diperintahkan berpuasa akan mencetak output yang sarat dengan sifat taqwa yang merupakan puncak pendidikan karakter manjadi Bulan Pendidikan Karakter.

Pendidikan karakter menjadi tema penting untuk dibahas mengingat negeri ini sedang dilanda krisis moral dan budi pekerti dimana banyak terjadi tawuran antar pelajar, perilaku seks bebas, penyalahgunaan narkoba, budaya tak tahu malu, tata nilai dan norma yang semakin merosot tidak hanya di perkotaan tapi sudah merambah ke pedesaan. Gagasan Pendidikan karakter di indonesia sebenarnya sudah ada sejak zaman kemerdekaan Republik Indonesia. Presiden soekarno saat itu menyatakan perlunya “nation and character building” sebagai bagian integral dari pembangunan bangsa. Beliau menyadari bahwa karakter suatu bangsa yang kuat berperan besar dalam mencapai tingkat keberhasilan dan kemajuan bangsa. Lebih jauh lagi di dalam ajaran islam, Sejak 14 abad yang silam Rasul diutus ternyata mengemban risalah dengan misi utama pembenahan bahkan penyempurnaan karakter. Hal ini ditegaskan dalam sabda Beliau :
إنما بعثت لأتمم صالح الأخلاق
Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan karakter mulia [HR Bukhari dalam Adab Al-Murad]. Semoga Bulan ramadhan betul-betul menjadi bulan pendidikan karakter untuk kita dan putra putri kita sehingga selepas dari bulan ramadhan kita mendapat predikat Muttaqin. Wallahu A’lam.











0 komentar:

Posting Komentar