Thursday, January 15, 2026

NABI JUGA SEDIH

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Anas Bin Malik RA, bahwasannya Rasul SAW bersabda :

إنَ عِظَمَ الجَزَاءِ مِنْ عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ.

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sebanding dengan besarnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.” [HR Turmudzi]

 

Catatan Alvers

 

Anda punya masalah? Tenang, semua orang punya masalah tak terkecuali sang panutan, Rasul SAW. Di masa awal dakwah, beliau bahkan keluarga besarnya pernah diboikot. Al-Mawardi dalam Al-Hawi Al-Kabir berkata : “Quraisy sepakat dan berjanji untuk memboikot Bani Hasyim : tidak menikahi mereka, tidak berdagang dengan mereka, dan tidak menolong mereka dalam urusan apapun.. Mereka menuliskan perjanjian itu dalam sebuah lembaran dan menggantungnya di atap Ka‘bah. Lalu Abu Thalib mengumpulkan seluruh Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib, baik yang Muslim maupun yang kafir, dan mengajak mereka untuk bersatu dan masuk ke dalam Syi‘b (sebuah lembah yang terdapat di antara dua gunung). Mereka pun menyetujui kecuali Abu Lahab dan anak-anaknya, karena mereka berpihak kepada Quraisy. Rasul SAW tinggal di Syi‘b bersama Abu Thalib dan seluruh Bani Hasyim serta Bani al-Muththalib selama tiga tahun, tidak ada makanan yang sampai kepada mereka kecuali secara sembunyi-sembunyi, dan tidak ada seorang pun yang masuk menemui mereka kecuali dengan bersembunyi.”

 

“Hingga akhirnya dari kalangan Quraisy, yaitu Hisham bin ‘Amr mulai berbicara ... untuk mencela perbuatan buruk mereka berupa pemutusan silaturahmi terhadap Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib. Mereka pun setuju ... untuk membatalkan lembaran itu... Lalu lembaran itu dibawa dari atap Ka‘bah, ternyata telah dimakan rayap kecuali tulisan mereka: “Bismikallahumma” (Dengan nama-Mu ya Allah). Tangan penulisnya, yaitu Manshur bin ‘Ikrimah, menjadi lumpuh. Maka keluarlah Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib bersama Rasul SAW ke Makkah, kembali seperti keadaan semula”. ).” [Al-Hawi Al-Kabir]

 

Pernahkah Anda susah?, sedih?, galau? Jangankan Anda, Rasul SAW juga pernah sedih. Al-Mawardi melanjutkan : Kemudian Rasul SAW setelah keluar dari Syi‘b tetap dalam keadaan seperti sebelumnya, tidak ada gangguan yang sampai kepadanya, hingga wafat pamannya Abu Thalib dan wafat Khadijah dalam satu tahun yang sama, yaitu “Amul Huzni” (Tahun Kesedihan), tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah. Setelah itu beliau mendapat gangguan hingga sebagian orang bodoh Quraisy menaburkan tanah di atas kepalanya. Beliau pun masuk ke rumahnya, lalu salah satu putrinya melihat tanah di atas kepala beliau dan menangis. Maka beliau bersabda:

لَا تَبْكِي فَإِنَّ اللهَ يَمْنَعُ أَبَاكَ

“Janganlah engkau menangis, sesungguhnya Allah akan menjaga ayahmu”.

Setelah itu beliau keluar menuju (kota) Thaif.  (90 kilometer dari Masjidil Haram).” [Al-Hawi Al-Kabir] Rasul SAW sendiri menceritakan kepada putrinya :

مَا نَالَتْ مِنِّي قُرَيْشٌ شَيْئًا أَكْرَهُهُ حَتَّى مَاتَ أَبُو طَالِبٍ

“Quraisy tidak pernah menyakiti aku dengan sesuatu yang aku benci hingga Abu Thalib wafat.”  [Dalailun Nubuwwah Lil Baihaqi]

 

Al-Qurtuby dalam Tafsirnya meriwayatkan : Ketika Abu Thalib wafat, Nabi keluar menuju Thaif untuk mencari pertolongan dari (pemuka Kabilah) Tsaqif. Beliau mencari AbduYalil, Mas’ud dan Habib. Mereka adalah saudara-saudara dari Banu Amr bin Umar di mana diantara mereka ada yang menikah dengan wanita Quraisy dari bani Jumah. Rasul mengajak mereka masuk Islam dan meminta pertolongan untuk menghadapi kaum kuffar Mekkah. [Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an] Namun apa yang terjadi jauh dari harapan, bukannya diterima beliau malah ditolak mentah mentah bahkan diusir. Al-Qurtuby melanjutkan : “Lalu mereka memerintahkan orang rendahan dan para budak untuk mengumpat dan menertawakan beliau sehingga orang-orang berkumpul dan mengusir beliau.... [Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an]

 

Mulla Al-Qari berkata : Diriwayatkan bahwa peristiwa yang tersebut terjadi pada bulan syawal tahun 10 kenabian tepatnya tiga bulan setelah wafatnya Siti Khadijah. [Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih] Peristiwa penolakan Nabi dari kota thaif itu sungguh hari yang sangat berat. Siti Aisyah pernah bertanya : Wahai Rasulullah, adakah hari yang lebih berat (ujiannya) daripada hari (kekalahan dalam perang) Uhud? Beliau Menjawab dengan menyebutkan peristiwa di kota Thaif tersebut. Hari itu merupakan ujian terberat dalam dakwah beliau bahkan lebih berat daripada kekalahan pada perang Uhud. Hal itu membuat Nabi sedih dan gundah gulana hingga beliau berkata :

فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ

Akupun pergi (meninggalkan thaif) dengan penuh kesedihan diwajahku, dan aku baru tersadar ketika aku sampai di daerah Qarnits Tsa'alib (Daerah Miqat Qarnul Manazil, 80 KM dari Masjidil Haram). [HR Bukhari]

 

Di tengah-tengah kesedihan beliau, Allah menurunkan QS Yusuf untuk meneguhkan hati beliau. As-Shabuni berkata : “Surah (yusuf) yang mulia ini diturunkan kepada Rasul SAW ... pada masa yang sangat kritis dan penuh kesulitan dalam kehidupan beliau ... Terutama setelah beliau kehilangan dua penolongnya: istri beliau yang suci dan penuh kasih sayang, Khadijah, serta pamannya Abu Thalib yang merupakan sebaik-baik penolong dan pendukung. Dengan wafatnya keduanya, semakin beratlah gangguan dan penderitaan yang menimpa beliau dan kaum Mukminin, hingga tahun itu dikenal dengan sebutan ‘Ām al-Ḥuzn (Tahun Kesedihan).” [Shafwatut Tafasir]

 

Surat Yusuf mengisahkan berbagai macam ujian yang menimpa Nabi Yusuf AS. ujian  berupa kedengkian saudara-saudaranya dan tipu daya mereka terhadapnya, ujian ketika ia dilemparkan ke dalam sumur, ujian ketika istri al-‘Aziz terpikat kepadanya dan jatuh cinta kepadanya, kemudian berusaha merayunya dengan berbagai cara fitnah dan godaan, lalu ujian penjara, kemudian setelah itu datanglah kemuliaan dan kehidupan yang penuh kelapangan. Kisah tersebut menjadi pelajaran bagi Nabi SAW dan kita selaku umatnya, agar bersabar dalam mengahadapi ujian berat kehidupan. Atha’ berkata :

لَا يَسْمَعُ سُورَةَ يُوسُفَ مَحْزُونٌ إِلَّا اسْتَرَاحَ إِلَيْهَا

“Tidaklah seorang yang sedang bersedih mendengar Surah Yusuf, melainkan ia akan merasa tenang (lega) karenanya.” [Shafwatut Tafasir]

 

Dan juga peristiwa Isra’ dan Mi’raj sebagai hiburan bagi Nabi SAW di tengah-tengah kesedihan atas ujian yang bertubi-tubi. Syaikh Safar al-Hawali berkata : Isra’ dan Mi‘raj terjadi sebelum hijrah, dan inilah pendapat yang paling kuat. Yang masyhur dan tersebar luas adalah bahwa Isra’ dan Mi‘raj terjadi setelah wafat Abu Thalib, paman Nabi SAW, dan setelah wafat Khadijah, serta setelah Nabi pergi ke Thaif lalu penduduknya menolak beliau. Tahun itu disebut sebagai ‘Ām al-Ḥuzn (tahun kesedihan), karena Nabi mengalami gangguan yang sangat berat, penuh rasa sakit dan keletihan. Maka Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi menganugerahkan kepada beliau tanda-tanda (ayat) yang agung ini, pemandangan-pemandangan luar biasa, dan kedudukan yang tinggi yang tidak pernah dicapai oleh seorang manusia pun,

تَسْلِيَّةً لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

(Itu semua) sebagai hiburan bagi Nabi. [Syarah al-‘Aqidah al-Tahawiyyah]

 

Wallahu A’lam Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk senantiasa menyadari bahwa setiap orang akan diuji dengan masalah berat yang akan menjadikannya susah dan sedih.  Dan saat itu kita tetap tabah karena dalam hadits utama dinyatakan bahwa sebesar ujian sebesar itu pula balasan. Semoga kita bisa meneladani beliau dalam mencari solusi setiap problematika kehidupan  dan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

0 komentar:

Post a Comment