Friday, January 16, 2026

DURASI PERJALANAN ISRA’

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Rasul SAW bersabda :

لَمَّا كَانَ لَيْلَةُ أُسْرِيَ بِي وَأَصْبَحْتُ بِمَكَّةَ فَظِعْتُ بِأَمْرِي وَعَرَفْتُ أَنَّ النَّاسَ مُكَذِّبِيَّ

"Ketika malam aku diperjalankan (Isra’), lalu aku kembali dan pagi harinya berada di Mekah, aku merasa khawatir dengan urusanku dan aku tahu bahwa orang-orang akan mendustakanku”. [HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Ketika Anda bersama dengan seseorang di satu rumah di daerah malang lalu orang itu keluar sebentar sekira satu jam dan begitu ia datang, ia berkata : “Aku barusan keluar, pergi ke Jakarta dan sekarang sudah kembali lagi ke rumah ini.” Percayakah Anda dengan ucapannya? Semua orang pasti sepakat dan berkata : “Tentu tidak”. Di zaman sekarang dengan kemajuan teknologi dan kecanggihan transportasi, pesawat saja yang merupakan kendaraan tercepat saat ini masih membutuhkan ber jam-jam untuk rute pulang pergi malang – Jakarta (1000 KM).  Lantas bagaimana kisah Isra’ yang jaraknya lebih jauh dari itu yaitu sekitar 1,200 KM dan terjadi di zaman belum adanya pesawat dan sarana transportasi modern seperti saat ini.

 

Hal ini disadari oleh Rasul SAW sehingga beliau khawatir ketika akan menceritakan perjalanan Isra’ dan Mi’raj yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat itu, beliau khawatir orang-orang saat itu tidak percaya dan mendustakannya. Mengingat perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha normalnya membutuhkan waktu selama 40 hari. Ar-Razi berkata : “Nabi SAW pernah melakukan perjalanan malam dari Mekkah menuju Syam (Daerah yang meliputi beberapa negara termasuk palestina, negara di mana masjidil Aqsha berada) dalam waktu 40 Malam”. [Tafsir Mafatihul Gaib] Beliau bersabda dalam hadist utama : "Ketika malam aku diperjalankan (Isra’), lalu aku kembali dan pagi harinya berada di Mekah, aku merasa khawatir dengan urusanku dan aku tahu bahwa orang-orang akan mendustakanku”. [HR Ahmad]

 

Dan ternyata benar, banyak orang mendustakan beliau bahkan orang yang beriman sebelumnyapun menjadi murtad karenanya. Ibnu Abbas RA berkata :

وَارْتَدَّ نَاسٌ مِمَّنْ كَانَ قَدْ آمَنَ بِهِ

Dan orang-orang yang sebelumnya telah beriman keluar dari Islam . {Tafsir Al-Kassyaf]

Durasi perjalanan Isra’ Mi’raj itu sangatlah sebentar. Disimpulkan dari kata “Lailan” pada Firman Allah :

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil haram ke Masjidil aqsa... [QS Al-Isra’ : 1]

 

Kata “Lailan” (Malam) disebutkan dengan bentuk nakirah, itu memiliki faidah. Al-Baidlawi berkata :

وَفَائِدَتُهُ الدّلَالَةُ بِتَنْكِيْرِهِ عَلَى تَقْلِيْلِ مُدَّةِ الْإِسْرَاءِ

Faidahnya adalah menunjukkan kepada sebentarnya waktu perjalanan Isra’ tersebut. [Tafsir Anwarut Tanzil]

 

Al-Khufaji menguraikan : Kata (sebelumnya yaitu) “Asra” itu sendiri berarti perjalanan yang di lakukan pada malam hari saja (tidak siang hari). Dengan demikian ia tidak butuh pada kata “lailan” (malam) setelahnya. Tidak ada manfaatnya juga kata “Lailan” dibuat sebagai taukid (penegasan), atau melepaskan makna waktu malam dari kata “Isra” (perjalanan malam) sehingga dapat ditambahkan kata “Lailan” (malam) setelahnya. [Hasyiyatus Syihab]

 

Jika demikian maka kata “Lailan” sudah semestinya dimaknai sebagai “sebagian yang sedikit dari waktu malam”. Lantas sebarapa durasi waktu Isra’ itu? Ulama berbeda beda dalam mengungkapkan kata yang menyiratkan betapa sebentarnya durasi Isra’. Al-Kannauji berkata : “Pengarang kitab al-Kasysyaf (yaitu al-Zamakhsyari) berdalil bahwa kata laylan (malam) menunjukkan makna sebagian (bukan seluruh malam), berdasarkan bacaan (qirā’ah) Abdullah (Ibnu Mas‘ud) dan Hudzaifah yang membaca minal-layl (dari malam),

أَيْ فِي جُزْءٍ مِنَ اللَّيْلِ، قِيلَ قَدْرَ أَرْبَعِ سَاعَاتٍ، وَقِيلَ ثَلَاثٍ، وَقِيلَ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ.

yakni pada sebagian dari waktu malam. Ada yang mengatakan lamanya sekitar empat jam, ada yang mengatakan tiga jam, dan ada pula yang mengatakan kurang dari itu.” [Tafsir Fathul Bayan]

 

Bahkan lebih cepat dari itu, Syeikh Abduurahman Ad-Diba’iy berkata :

ثُمَّ أَرُدُّه مِنَ الْعَرْشِ. قَبْلَ أَنْ يَّبْرُدَ الْفَرْشُ. وَقَدْ نَالَ جَمِيْعَ الْمَاٰرِبِ.

Kemudian Aku kembalikan dia dari ‘Arsy (ke bumi), sebelum dingin alas tidurnya. Benar-benar dia telah memperoleh semua tujuannya. [Maulid Ad-Diba’iy]

 

Dalam lanjutan hadits utama, Rasul SAW bersabda : Lalu Aku duduk menyendiri dengan perasaan sedih. Lalu lewatlah musuh Allah, Abu Jahl, ia datang dan duduk di sampingku. Ia berkata dengan nada mengejek: ‘Apakah ada sesuatu yang terjadi?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Ia bertanya: ‘Apa itu?’ Aku menjawab: ‘Aku telah diperjalankan malam tadi.’ Ia bertanya: ‘Ke mana?’ Aku menjawab: ‘Ke Baitul Maqdis.’ Ia berkata: ‘Lalu engkau pagi ini berada di tengah-tengah kami?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Abu Jahl tidak menampakkan keberadaan dirinya yang mendustakan kisah tersebut, karena Abu Jahl khawatir nabi mengingkari kisah tersebut di hadapan kaumnya. Ia berkata: ‘Bagaimana kalau aku panggil kaummu, apakah engkau akan menceritakan kepada mereka apa yang engkau ceritakan kepadaku?’ Rasul SAW menjawab: ‘Ya.’ Maka Abu Jahl berseru: ‘Wahai sekalian Bani Ka‘b bin Lu’ayy!’ Maka orang-orang pun berkumpul dan duduk bersama kami. Abu Jahl berkata: ‘Ceritakan kepada kaummu apa yang engkau ceritakan kepadaku.’

 

Rasul SAW bersabda: ‘Aku telah diperjalankan malam tadi.’ Mereka bertanya: ‘Ke mana?’ Aku menjawab: ‘Ke Baitul Maqdis.’ Mereka berkata: ‘Lalu engkau pagi ini berada di tengah-tengah kami?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Maka ada yang bertepuk tangan, ada yang meletakkan tangan di kepala karena heran terhadap apa yang mereka anggap dusta.

Mereka berkata: ‘Apakah engkau bisa menggambarkan kepada kami masjid itu? Di antara kami ada yang pernah bepergian ke negeri itu dan melihat masjidnya.’ Rasul SAW bersabda: ‘Aku pun mulai menggambarkan, terus-menerus aku menggambarkan hingga sebagian gambaran menjadi samar bagiku. Maka dibawakanlah masjid itu (ditampakkan oleh Allah) sehingga aku melihatnya, lalu diletakkan dekat rumah ‘Iqal atau ‘Uqail. Maka aku pun menggambarkannya sementara aku melihat kepadanya. Ada pula beberapa detail yang tidak aku ingat. Maka orang-orang (yang pernah sampai ke baitul maqdis) berkata:

أَمَّا النَّعْتُ فَوَاللَّهِ لَقَدْ أَصَابَ

‘Adapun gambaran itu, demi Allah, sungguh engkau benar adanya.’” [HR Ahmad]

 

Maka membicarakan peristiwa Isra Mi’raj tidak bisa dengan logika ansich namun dengan dogma dimana Allah berfirman  :

وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ

Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata. [QS Al Qamar : 50]

 

Dan firman Allah :

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. [Yasin: 82]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk meyakini kebenaran kisah Isra Mi’raj sebagai bukti atas kemaha kuasaan Allah SWT sehingga kita bertambah imannya dan dapat mengambil hikmahnya.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

0 komentar:

Post a Comment