ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan dari Ibnu
Abbas RA, Rasul SAW bersabda :
لَمَّا
كَانَ لَيْلَةُ أُسْرِيَ بِي وَأَصْبَحْتُ بِمَكَّةَ فَظِعْتُ بِأَمْرِي
وَعَرَفْتُ أَنَّ النَّاسَ مُكَذِّبِيَّ
"Ketika malam aku diperjalankan
(Isra’), lalu aku kembali dan pagi harinya berada di Mekah, aku merasa khawatir
dengan urusanku dan aku tahu bahwa orang-orang akan mendustakanku”. [HR Ahmad]
Catatan Alvers
Ketika Anda bersama dengan seseorang di
satu rumah di daerah malang lalu orang itu keluar sebentar sekira satu jam dan
begitu ia datang, ia berkata : “Aku barusan keluar, pergi ke Jakarta dan
sekarang sudah kembali lagi ke rumah ini.” Percayakah Anda dengan ucapannya?
Semua orang pasti sepakat dan berkata : “Tentu tidak”. Di zaman sekarang dengan
kemajuan teknologi dan kecanggihan transportasi, pesawat saja yang merupakan
kendaraan tercepat saat ini masih membutuhkan ber jam-jam untuk rute pulang
pergi malang – Jakarta (1000 KM). Lantas
bagaimana kisah Isra’ yang jaraknya lebih jauh dari itu yaitu sekitar 1,200 KM
dan terjadi di zaman belum adanya pesawat dan sarana transportasi modern
seperti saat ini.
Hal ini disadari oleh Rasul SAW sehingga
beliau khawatir ketika akan menceritakan perjalanan Isra’ dan Mi’raj yang
terjadi dalam waktu yang sangat singkat itu, beliau khawatir orang-orang saat
itu tidak percaya dan mendustakannya. Mengingat perjalanan dari Masjidil Haram
ke Masjidil Aqsha normalnya membutuhkan waktu selama 40 hari. Ar-Razi berkata :
“Nabi SAW pernah melakukan perjalanan malam dari Mekkah menuju Syam (Daerah
yang meliputi beberapa negara termasuk palestina, negara di mana masjidil Aqsha
berada) dalam waktu 40 Malam”. [Tafsir Mafatihul Gaib] Beliau bersabda dalam hadist utama : "Ketika
malam aku diperjalankan (Isra’), lalu aku kembali dan pagi harinya berada di
Mekah, aku merasa khawatir dengan urusanku dan aku tahu bahwa orang-orang akan
mendustakanku”. [HR Ahmad]
Dan ternyata benar, banyak orang
mendustakan beliau bahkan orang yang beriman sebelumnyapun menjadi murtad
karenanya. Ibnu Abbas RA berkata :
وَارْتَدَّ
نَاسٌ مِمَّنْ كَانَ قَدْ آمَنَ بِهِ
Dan orang-orang yang sebelumnya telah
beriman keluar dari Islam . {Tafsir Al-Kassyaf]
Durasi perjalanan Isra’ Mi’raj itu
sangatlah sebentar. Disimpulkan dari kata “Lailan” pada Firman Allah :
سُبْحٰنَ
الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا
“Mahasuci
(Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari
dari Masjidil haram ke Masjidil aqsa...” [QS Al-Isra’ :
1]
Kata “Lailan” (Malam) disebutkan dengan
bentuk nakirah, itu memiliki faidah. Al-Baidlawi berkata :
وَفَائِدَتُهُ
الدّلَالَةُ بِتَنْكِيْرِهِ عَلَى تَقْلِيْلِ مُدَّةِ الْإِسْرَاءِ
Faidahnya adalah menunjukkan kepada
sebentarnya waktu perjalanan Isra’ tersebut. [Tafsir Anwarut Tanzil]
Al-Khufaji menguraikan : Kata (sebelumnya
yaitu) “Asra” itu sendiri berarti perjalanan yang di lakukan pada malam hari
saja (tidak siang hari). Dengan demikian ia tidak butuh pada kata “lailan”
(malam) setelahnya. Tidak ada manfaatnya juga kata “Lailan” dibuat sebagai taukid
(penegasan), atau melepaskan makna waktu malam dari kata “Isra” (perjalanan
malam) sehingga dapat ditambahkan kata “Lailan” (malam) setelahnya. [Hasyiyatus
Syihab]
Jika demikian maka kata “Lailan” sudah
semestinya dimaknai sebagai “sebagian yang sedikit dari waktu malam”. Lantas
sebarapa durasi waktu Isra’ itu? Ulama berbeda beda dalam mengungkapkan kata
yang menyiratkan betapa sebentarnya durasi Isra’. Al-Kannauji berkata :
“Pengarang kitab al-Kasysyaf (yaitu al-Zamakhsyari) berdalil bahwa kata laylan
(malam) menunjukkan makna sebagian (bukan seluruh malam), berdasarkan bacaan
(qirā’ah) Abdullah (Ibnu Mas‘ud) dan Hudzaifah yang membaca minal-layl (dari
malam),
أَيْ
فِي جُزْءٍ مِنَ اللَّيْلِ، قِيلَ قَدْرَ أَرْبَعِ سَاعَاتٍ، وَقِيلَ ثَلَاثٍ،
وَقِيلَ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ.
yakni pada sebagian dari waktu malam. Ada
yang mengatakan lamanya sekitar empat jam, ada yang mengatakan tiga jam, dan
ada pula yang mengatakan kurang dari itu.” [Tafsir Fathul Bayan]
Bahkan lebih cepat dari itu, Syeikh
Abduurahman Ad-Diba’iy berkata :
ثُمَّ
أَرُدُّه مِنَ الْعَرْشِ. قَبْلَ أَنْ يَّبْرُدَ الْفَرْشُ. وَقَدْ نَالَ جَمِيْعَ
الْمَاٰرِبِ.
Kemudian Aku kembalikan dia dari ‘Arsy (ke
bumi), sebelum dingin alas tidurnya. Benar-benar dia telah memperoleh semua
tujuannya. [Maulid Ad-Diba’iy]
Dalam lanjutan hadits utama, Rasul SAW bersabda : Lalu Aku duduk menyendiri dengan perasaan sedih. Lalu lewatlah musuh Allah,
Abu Jahl, ia datang dan duduk di sampingku. Ia berkata dengan nada mengejek:
‘Apakah ada sesuatu yang terjadi?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Ia bertanya: ‘Apa itu?’
Aku menjawab: ‘Aku telah diperjalankan malam tadi.’ Ia bertanya: ‘Ke mana?’ Aku
menjawab: ‘Ke Baitul Maqdis.’ Ia berkata: ‘Lalu engkau pagi ini berada di
tengah-tengah kami?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Abu Jahl tidak
menampakkan keberadaan dirinya yang mendustakan kisah tersebut, karena Abu Jahl
khawatir nabi mengingkari kisah tersebut di hadapan kaumnya. Ia berkata:
‘Bagaimana kalau aku panggil kaummu, apakah engkau akan menceritakan kepada
mereka apa yang engkau ceritakan kepadaku?’ Rasul SAW menjawab: ‘Ya.’ Maka Abu
Jahl berseru: ‘Wahai sekalian Bani Ka‘b bin Lu’ayy!’ Maka orang-orang pun
berkumpul dan duduk bersama kami. Abu Jahl berkata: ‘Ceritakan kepada kaummu
apa yang engkau ceritakan kepadaku.’
Rasul SAW bersabda: ‘Aku telah
diperjalankan malam tadi.’ Mereka bertanya: ‘Ke mana?’ Aku menjawab: ‘Ke Baitul
Maqdis.’ Mereka berkata: ‘Lalu engkau pagi ini berada di tengah-tengah kami?’
Aku menjawab: ‘Ya.’ Maka ada yang bertepuk tangan, ada yang meletakkan tangan
di kepala karena heran terhadap apa yang mereka anggap dusta.
Mereka berkata: ‘Apakah engkau bisa
menggambarkan kepada kami masjid itu? Di antara kami ada yang pernah bepergian
ke negeri itu dan melihat masjidnya.’ Rasul SAW bersabda: ‘Aku pun mulai
menggambarkan, terus-menerus aku menggambarkan hingga sebagian gambaran menjadi
samar bagiku. Maka dibawakanlah masjid itu (ditampakkan oleh Allah) sehingga
aku melihatnya, lalu diletakkan dekat rumah ‘Iqal atau ‘Uqail. Maka aku pun
menggambarkannya sementara aku melihat kepadanya. Ada pula beberapa detail yang
tidak aku ingat. Maka orang-orang (yang pernah sampai ke baitul maqdis)
berkata:
أَمَّا
النَّعْتُ فَوَاللَّهِ لَقَدْ أَصَابَ
‘Adapun gambaran itu, demi Allah, sungguh
engkau benar adanya.’” [HR Ahmad]
Maka membicarakan peristiwa Isra Mi’raj
tidak bisa dengan logika ansich namun dengan dogma dimana Allah berfirman :
وَمَا
أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ
Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan
seperti kejapan mata. [QS Al Qamar : 50]
Dan firman Allah :
إِنَّمَا
أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia
menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka
terjadilah ia. [Yasin: 82]
Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari
membuka hati dan pikiran kita untuk meyakini kebenaran kisah Isra Mi’raj
sebagai bukti atas kemaha kuasaan Allah SWT sehingga kita bertambah imannya dan
dapat mengambil hikmahnya.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!
NB.
Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan
Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu
dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya
hilang”. [Al-Majmu’]






0 komentar:
Post a Comment