ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan dari Anas bin
Malik RA, Rasulullah SAW bersabda:
أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ
طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى
طَرْفِهِ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ
Aku didatangi buraq, ia adalah hewan tunggangan berwarna putih yang tinggi, lebih
tinggi dari keledai dan lebih pendek dari baghal (keturunan silang antara kuda
betina dan keledai jantan), yang dapat meletakkan kakinya di arah pandangan
terjauhnya. Lalu aku menaikinya hingga
sampailah aku di Baitul Maqdis.”[HR Muslim]
Catatan Alvers
Tanggal 27
Rajab adalah hari yang sangat penting dan bersejarah bagi umat Islam sebab 14
abad yang silam saat itu Rasul SAW mendapatkan wahyu dari Allah SWT berupa
risalah shalat dalam sebuah ritus spiritual yang jamak dikenal dengan istilah Isra’
Mi’raj. Dijelaskan dalam Thabaqat al-Qubra, peristiwa ini di bulan
Rajab, 18 bulan sebelum hijrah. Menukil pendapat ibnu dihyah dalam kitab
as-sirah al-halabiyah, isra’ dan mi’raj terjadi pada hari senin, ini semakin
menguatkan nilai sejarah hari senin, karena pada hari senin itu Rasul lahir,
diangkat menjadi rasul, keluar dari makkah (hijrah), sampai di madinah, bahkan
wafat juga pada hari senin.
Isra’ adalah
perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha
(Palestina) yang berjarak sekitar 1.200 KM. Sedangkan Mi’raj adalah
dinaikkannya Nabi Muhammad SAW ke langit hingga Sidratul Muntaha yang mana
jaraknya sangat jauh. Sebagai gambaran
saja bahwa jarak rata-rata bumi dan matahari saja mencapai 149.600.000 KM.
Menariknya, Keduanya terjadi hanya dalam sekejap yang menurut perhitungan akal,
jelas peristiwa tersebut mustahil dilakukan. Peristiwa tersebut merupakan
mu’jizat terbesar bagi Nabi Muhammad SAW setelah Al-Qur’an. Ini semua
menunjukkan betapa besarnya kekuasaan Allah SWT.
Perjalanan tersebut adalah perjalanan
yang sungguh menakjubkan. Allah membukanya dengan tasbih sebagaimana dalam Firman-Nya:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى
بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ
الْبَصِيرُ
Maha Suci Allah
Yang telah memper-jalankan hambaNya pada (sebagian) malam dari Masjidil Haram
ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan
kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah
Maha Mendengar lagi Maha Melihat". [QS Al-Isra: 1]
Menurut Syeikh
Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir al-Khaubawi hal ini mengandung hikmah;
Pertama, bahwa kebiasaan bangsa Arab bertasbih di saat menjumpai hal-hal yang menakjubkan,
maka lewat firman-Nya itu seolah-olah Allah kagum dengan rasul-Nya yang
sempurna kemanusiaannya (al-insan al-kamil) sehingga di perjalankan-Nya secara
menakjubkan. Kedua, dengan bertasbih, Allah bermaksud menepis sinisme
masyarakat Arab yang menganggap rasul-Nya telah berdusta, sehingga redaksi ayat
tersebut berbunyi, ''Maha Suci Allah yang telah memperjalankan
hamba-Nya....''[Durratun Nasihin]
Maka Pendekatan
yang paling tepat untuk memahami keagungan peristiwa ini adalah pendekatan
imaniy. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar As-Shiddiq, seperti terlukis dalam
ucapannya:
لَئِنْ قَالَ ذَلِكَ لَقَدْ
صَدَقَ
“Apabila
Muhammad yang memberitakannya, pasti benarlah adanya”.
Mereka bertanya
keheranan : “Apakah kau
percaya bahwa ia (Rasul) pergi malam hari ke baitul Maqdis dan ia tiba sebelum
subuh?” Maka Abu Bakar
kembali menjawab :
نَعَمْ، إِنِّي أُصَدِّقُهُ
فِيمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ
" Ya,
sungguh aku akan mempercayainya bahkan terhadap hal yang lebih jauh dari itu (perjalanan masjidil Haram-
Masjidil Aqsa).” [HR Al-Hakim]
Dari peristiwa
inilah kemudian beliau diberi gelar
as-shiddiq yang artinya adalah orang yang mempercayai apa yang datang dari
Rasul SAW dengan sungguh-sungguh.
Mengenai perjalanan Isra’ sendiri, Rasul
SAW mengisahkan sebagaimana dalam hadits utama : “(Jibril) telah
datang kepadaku bersama Buraq, yaitu hewan putih yang tinggi, lebih tinggi dari
keledai dan lebih pendek dari baghal (keturunan silang antara kuda betina dan
keledai jantan), yang dapat meletakkan kakinya pada pandangan terjauhnya.” “Lalu aku menaikinya hingga
sampailah aku di Baitul Maqdis. “lalu aku mengikatnya
dengan tali yang biasa dipakai oleh para Nabi.” “Kemudian aku masuk ke masjid
al-Aqsha dan aku shalat dua raka’at di sana, lalu aku keluar. Kemudian Jibril
AS membawakan kepadaku satu gelas khamr dan satu gelas susu, maka aku memilih
susu, lalu Jibril berkata kepadaku:
اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ
‘Engkau telah
memilih fitrah (kesucian).”[HR Muslim]
Dan ketika mi’raj, Rasul SAW mendapatkan perintah shalat pada
awalnya berjumlah 50 waktu. Ketika Nabi Muhammad SAW hendak turun beliau
bertemu dengan Nabi Musa AS, Atas saran Nabi Musa AS, Nabi Muhammad SAW
berulangkali menghadap Allah SWT untuk memberikan keringanan, yang akhirnya
Allah memberikan keringanan hingga menjadi 5 waktu untuk setiap harinya. Rasul
SAW bersabda: “Aku terus bolak-balik antara Rabb-ku dengan Musa AS sehingga
Rabb-ku mengatakan:
يَا مُحَمَّدُ، إِنَّهُنَّ
خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ صَلاَةٍ عَشْرٌ فَذَلِكَ
خَمْسُوْنَ صَلاَةً.
Wahai Muhammad,
sesungguhnya kewajiban shalat itu lima kali dalam sehari semalam, setiap shalat
mendapat pahala sepuluh kali lipat, maka lima kali shalat sama dengan lima
puluh kali shalat. [HR Muslim]
Rasulullah SAW
melanjutkan kisahnya: “Kemudian aku turun aku bertemu Musa AS (kembali), lalu
aku beritahukan kepadanya, maka ia mengatakan:
ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ
فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ
“Kembalilah
kepada Rabb-mu dan mintalah keringanan lagi”.
Rasulullah SAW
berkata: “Lalu aku menjawab:
قَدْ رَجَعْتُ إِلَى رَبِّي
حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ
“Aku telah
berulang kali kembali kepada Rabb-ku hingga aku merasa malu kepada-Nya”. [HR Muslim] Wallahu
A’lam.
Semoga dengan
memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj ini kita semua menjadi hamba-hamba yang
beriman kepada Allah swt dan semakin percaya akan kemaha kuasaan-Nya serta lebih semangat
untuk mengerjakan sholat lima waktu.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!
NB.
Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata :
“Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata :
(1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]
Artikel adalah perbaikan dari artikel odoh sebelumnya berjudul Black Box Isra' Mi'raj






0 komentar:
Post a Comment