SAKIT DI AKHIR RAMADHAN

 

ONE DAY ONE HADITH


Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari RA, Rasul SAW bersabda :

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat. [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Di akhir ramadhan ini banyak postingan seperti ini : “Tiba-tiba sakit di 10 terakhir ramadhan maka beruntunglah”. Sakit di 10 hari terakhir Ramadan bukan selalu kabar buruk. Terkadang, justru di situlah Allah memberi kesempatan untuk meraih pahala, menghapus dosa, dan memperkuat iman kita di malam-malam yang penuh keberkahan. Ada juga yang menulis : “Sakit di 10 hari terakhir ramadhan bisa jadi ada hikmah besar di baliknya” Pernah dengar? Bahwa 10 hari mau lebaran jika kamu rasain tenggorokan radang, batuk-batuk, hidung pilek, sakit perut, sakit gigi. Itu artinya kamu remasuk orang yang terpilih (beruntung), Kenapa?. Alm Syekh Ali Jaber "Beruntunglah Bagi Orang-Orang Yang Sakit Di Bulan Ramadhan Apa Lagi Di Minggu Terakhir, Itu Tandanya Doamu Akan Dijabah, Dan Semua Dosa Gugur. Sungguh Allah Bersama Orang-Orang Yang Sakit." [ig moslimcore]

 

Terdapat beragam komentar atas postingan tersebut. Ada yang menanggapinya dengan positif “aamiin, maaf yaAllah aku ngeluh tadi soalnya udh pilek & sakit tenggorokan”. “Lagi berada di tahap ini,selalu berprasangka baik sama Allah SWT.” “Beberapa hari belakangan mikir kok bisa tiba tiba sakit gigi tanpa ada sebab. Liat postingan ini langsung nangis. Sebegitu sayangnya Allah sampai memilih saya untuk menikmati sakit ini.” Ada juga yang menanggapinya dengan humor “Saya dompetku yang sakit”. Tapi ada juga protes “Yang sehat? Yang sehat gimana, apa Allah tolak? Apa dosanya ga diampuni?”  Dan ada juga yang bertanya-tanya “Saya berhusnudzon sesuai dengan postingan ini, tapi saya juga masih berusaha mencari apakah ada dalil shahih terkait akan hal ini”.

 

Secara umum, sakit itu dapat menggugurkan dosa. Jangankan sakit parah, sakit karena tertusuk duri sajapun demikian. Rasul SAW bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً ، أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah, berupa tertusuk duri atau yang lebih dari itu melainkan Allah akan mengangkat derajatnya sebab musibah tersebut. Atau Allah menghapuskan dosanya. [HR Bukhari]

 

Sakit juga bisa menaikkan derajat seseorang di sisi Allah SWT. Rasul SAW bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ

"Sesungguhnya seorang hamba, apabila telah ditetapkan baginya oleh Allah suatu kedudukan (derajat) yang tidak dapat ia capai dengan amal perbuatannya, maka Allah akan mengujinya pada tubuhnya, atau pada hartanya, atau pada anaknya." [HR Abu Dawud]

 

Dan ketika ramadhan, orang yang sakit dengan batasan jika puasa dapat menggangu penyembuhan maka ia diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan mengganti di lain hari. Allah SWT berfirman :

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ

Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain…" [QS Al- Baqarah : 184]

 

Dengan demikian, orang yang sakit tidak seyogyanya memaksakan diri untuk tetap berpuasa karena itu sama saja dengan menantang ujian dari Allah. Rasul SAW bersabda :

لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يُذِلَّ نَفْسَهُ

“Tidaklah patut seorang mukmin itu menghinakan dirinya”.

 

Para shahabat bertanya: ‘Bagaimana dia menghinakan dirinya?’ Rasulullah SAW menjawab:

يَتَعَرَّضُ مِنْ الْبَلَاءِ لِمَا لَا يُطِيقُ

“Ia menantang ujian atau cobaan yang dia tidak mampu menghadapinya”. [HR Tirmidzi]

Dan As-Sindi menjelaskan : Maksud “menantang ujian” adalah dengan berdoa agar bala’ menimpa dirinya  atau dia mendatangi sebab-sebabnya menurut kebiasaannya. [Hasyiyah As-Sindi]

 

Dan di sisi yang lain, ia melakukan hal yang terlarang yaitu “menjatuhkan diri kepada jurang kebinasaan.” Allah SWT berfirman :

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Dan janganlah melemparkan diri kalian dengan tangan sendiri menuju kebinasaan. [QS Al-Baqarah : 195]

 

Orang yang sakit juga tidak perlu berkecil hati karena tidak dapat beribadah secara maksimal di bulan ramadhan karena ia tetap akan mendapatkan pahala dari setiap ibadah yang biasa ia lakukan ketika sehat. Dalam hadits utama, Rasul SAW bersabda : Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat. [HR Bukhari]

 

Hal ini sebagaimana pula wanita yang sedang haidl di bulan ramadhan. Ia tidak perlu berkecil hati karena berpuasa, tidak bisa tarawih dan tidak bisa melakukan tadarus di bulan ramadhan sebab dengan ia mentaati aturan syariat itu sudah cukup untuk mendatangkan pahala baginya. Syeikh Qalyubi berkata :

وَتُثَابُ الحَائِضُ عَلَى تَرْكِ مَا حُرِّمَ عَلَيْهَا إِذَا قَصَدَتِ امْتِثَالَ الشَّارِعِ فِي تَرْكِهِ

Dan wanita yang sedang haidl tetap diberi pahala atas meninggalkan sesuatu yang diharamkan baginya, apabila ia berniat untuk menaati syariat dalam meninggalkannya.” [Hasyiyatan]

 

Dan kita perlu tahu bahwa yang wajib itu adalah melakukan ketaqwaan sekadar kemampuan. Jadi janganlah memaksakan diri. Allah SWT berfirman :

فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”. [QS At-Taghabun : 16]

 

Jadi sepanjang pengetahuan saya, tidak ada hadits yang secara spesifik menyatakan keutamaan sakit di akhir bulan ramadhan namun dengan hadits-hadits di atas sudah cukup untuk menjelaskan keutamaan bagi orang yang sakit secara umum sementara bulan ramadhan adalah bulan yang utama dan mulia dimana semua ibadah dilipat gandakan pahalanya. Adapun pernyataan “Allah Bersama Orang-Orang Yang Sakit” itu boleh jadi berdasar kepada hadits qudsy dimana pada hari kiamat, Allah azza wa jalla berfirman : Wahai anak Adam, Aku sakit namun engkau tidak menjenguk-Ku. Ia berkata: Ya Rabb, bagaimana aku menjenguk-Mu sementara Engkau adalah Tuhan alam semesta? Maka Allah berfirman :

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلَانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ

Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku fulan sakit tapi engkau tidak menjenguknya, tidakkah engkau tahu, bila engkau menjenguknya niscaya engkau akan mendapati-Ku ada di sisinya? [HR Muslim]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk melakukan ketaatan sesuai kadar kemampuan dan selebihnya kita mengharap rahmat dari Allah SWT. Yang sedang sakit semoga segera diberi kesembuhan dan anda sekalian diberi tetap semangat untuk beribadah di bagian akhir dari bulan mulia ini.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

No comments:

Post a Comment

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts