ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan dari Anas Bin Malik RA, bahwasannya Rasul SAW bersabda :
إنَ عِظَمَ الجَزَاءِ مِنْ عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا
ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ.
“Sesungguhnya besarnya pahala itu sebanding
dengan besarnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan
menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah. Dan
barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.” [HR Turmudzi]
Catatan Alvers
Anda punya
masalah? Tenang, semua orang punya masalah tak terkecuali sang panutan, Rasul
SAW. Di masa awal dakwah, beliau bahkan keluarga besarnya pernah diboikot. Al-Mawardi
dalam Al-Hawi Al-Kabir berkata : “Quraisy sepakat dan berjanji untuk memboikot
Bani Hasyim : tidak menikahi mereka, tidak berdagang dengan mereka, dan tidak
menolong mereka dalam urusan apapun.. Mereka menuliskan perjanjian itu dalam
sebuah lembaran dan menggantungnya di atap Ka‘bah. Lalu Abu Thalib mengumpulkan
seluruh Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib, baik yang Muslim maupun yang kafir,
dan mengajak mereka untuk bersatu dan masuk ke dalam Syi‘b (sebuah lembah yang
terdapat di antara dua gunung). Mereka pun menyetujui kecuali Abu Lahab dan
anak-anaknya, karena mereka berpihak kepada Quraisy. Rasul SAW tinggal di Syi‘b
bersama Abu Thalib dan seluruh Bani Hasyim serta Bani al-Muththalib selama tiga
tahun, tidak ada makanan yang sampai kepada mereka kecuali secara
sembunyi-sembunyi, dan tidak ada seorang pun yang masuk menemui mereka kecuali
dengan bersembunyi.”
“Hingga akhirnya
dari kalangan Quraisy, yaitu Hisham bin ‘Amr mulai berbicara ... untuk mencela
perbuatan buruk mereka berupa pemutusan silaturahmi terhadap Bani Hasyim dan
Bani al-Muththalib. Mereka pun setuju ... untuk membatalkan lembaran itu... Lalu
lembaran itu dibawa dari atap Ka‘bah, ternyata telah dimakan rayap kecuali
tulisan mereka: “Bismikallahumma” (Dengan nama-Mu ya Allah). Tangan penulisnya,
yaitu Manshur bin ‘Ikrimah, menjadi lumpuh. Maka keluarlah Bani Hasyim dan Bani
al-Muththalib bersama Rasul SAW ke Makkah, kembali seperti keadaan semula”. ).”
[Al-Hawi Al-Kabir]
Pernahkah Anda susah?,
sedih?, galau? Jangankan Anda, Rasul SAW juga pernah sedih. Al-Mawardi
melanjutkan : Kemudian Rasul SAW
setelah keluar dari Syi‘b tetap dalam keadaan seperti sebelumnya, tidak ada
gangguan yang sampai kepadanya, hingga wafat pamannya Abu Thalib dan wafat
Khadijah dalam satu tahun yang sama, yaitu “Amul Huzni” (Tahun Kesedihan), tiga
tahun sebelum hijrah ke Madinah. Setelah itu beliau mendapat gangguan hingga
sebagian orang bodoh Quraisy menaburkan tanah di atas kepalanya. Beliau pun
masuk ke rumahnya, lalu salah satu putrinya melihat tanah di atas kepala beliau
dan menangis. Maka beliau bersabda:
لَا تَبْكِي فَإِنَّ اللهَ يَمْنَعُ أَبَاكَ
“Janganlah engkau menangis, sesungguhnya
Allah akan menjaga ayahmu”.
Setelah itu beliau
keluar menuju (kota) Thaif. (90 kilometer dari Masjidil Haram).”
[Al-Hawi Al-Kabir] Rasul SAW sendiri menceritakan kepada putrinya :
مَا نَالَتْ مِنِّي قُرَيْشٌ شَيْئًا أَكْرَهُهُ حَتَّى مَاتَ أَبُو طَالِبٍ
“Quraisy tidak pernah menyakiti aku dengan
sesuatu yang aku benci hingga Abu Thalib wafat.”
[Dalailun Nubuwwah Lil Baihaqi]
Al-Qurtuby dalam Tafsirnya meriwayatkan : “Ketika Abu Thalib wafat,
Nabi keluar menuju Thaif untuk mencari pertolongan dari (pemuka Kabilah)
Tsaqif. Beliau mencari AbduYalil, Mas’ud dan Habib. Mereka adalah saudara-saudara
dari Banu Amr bin Umar di mana diantara mereka ada yang menikah dengan wanita
Quraisy dari bani Jumah. Rasul mengajak mereka masuk Islam dan meminta
pertolongan untuk menghadapi kaum kuffar Mekkah”. [Al-Jami’ Li Ahkamil
Qur’an]
Namun apa yang terjadi jauh dari harapan,
bukannya diterima beliau malah ditolak mentah mentah bahkan diusir. Al-Qurtuby melanjutkan : “Lalu mereka memerintahkan orang rendahan dan para
budak untuk mengumpat dan menertawakan beliau sehingga orang-orang berkumpul
dan mengusir beliau.... [Al-Jami’ Li Ahkamil
Qur’an]
Mulla Al-Qari berkata : Diriwayatkan bahwa peristiwa yang tersebut
terjadi pada bulan syawal tahun 10 kenabian tepatnya tiga bulan setelah
wafatnya Siti Khadijah. [Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih]
Peristiwa penolakan Nabi dari kota thaif itu
sungguh hari yang sangat berat. Siti Aisyah pernah
bertanya :
Wahai Rasulullah, adakah hari yang lebih berat
(ujiannya) daripada hari (kekalahan dalam perang) Uhud? Beliau Menjawab dengan menyebutkan peristiwa di kota
Thaif
tersebut. Hari itu merupakan ujian terberat dalam dakwah
beliau bahkan lebih berat daripada kekalahan pada perang Uhud. Hal itu membuat
Nabi sedih dan gundah gulana hingga beliau berkata :
فَانْطَلَقْتُ
وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ
“Akupun pergi (meninggalkan thaif) dengan penuh
kesedihan diwajahku, dan aku baru tersadar ketika aku sampai di daerah Qarnits
Tsa'alib (Daerah Miqat Qarnul Manazil, 80 KM dari Masjidil Haram)”. [HR Bukhari]
Di tengah-tengah
kesedihan beliau, Allah menurunkan QS Yusuf untuk meneguhkan hati beliau. As-Shabuni
berkata : “Surah (yusuf) yang mulia ini diturunkan kepada Rasul
SAW ... pada masa yang sangat kritis dan penuh kesulitan
dalam kehidupan beliau ... Terutama
setelah beliau kehilangan dua penolongnya: istri beliau yang suci dan penuh
kasih sayang, Khadijah, serta pamannya Abu Thalib yang merupakan sebaik-baik
penolong dan pendukung. Dengan wafatnya keduanya, semakin beratlah gangguan dan
penderitaan yang menimpa beliau dan
kaum Mukminin, hingga tahun itu dikenal dengan sebutan ‘Ām al-Ḥuzn (Tahun
Kesedihan).”
[Shafwatut Tafasir]
Surat Yusuf mengisahkan
berbagai macam ujian yang menimpa Nabi Yusuf AS. ujian berupa kedengkian saudara-saudaranya dan tipu
daya mereka terhadapnya, ujian ketika ia dilemparkan ke dalam sumur, ujian
ketika istri al-‘Aziz terpikat kepadanya dan jatuh cinta kepadanya, kemudian
berusaha merayunya dengan berbagai cara fitnah dan godaan, lalu ujian penjara,
kemudian setelah itu datanglah kemuliaan dan kehidupan yang penuh kelapangan. Kisah
tersebut menjadi pelajaran bagi Nabi SAW dan kita selaku umatnya, agar bersabar
dalam mengahadapi ujian berat kehidupan. Atha’ berkata :
لَا يَسْمَعُ سُورَةَ يُوسُفَ مَحْزُونٌ
إِلَّا اسْتَرَاحَ إِلَيْهَا
“Tidaklah seorang yang sedang bersedih mendengar Surah Yusuf, melainkan
ia akan merasa tenang (lega) karenanya.” [Shafwatut Tafasir]
Dan juga peristiwa
Isra’ dan Mi’raj sebagai hiburan bagi Nabi SAW di tengah-tengah kesedihan atas
ujian yang bertubi-tubi. Syaikh
Safar al-Hawali berkata : Isra’ dan Mi‘raj terjadi sebelum hijrah,
dan inilah pendapat yang paling kuat. Yang masyhur dan tersebar luas adalah
bahwa Isra’ dan Mi‘raj terjadi setelah wafat Abu Thalib, paman Nabi SAW, dan
setelah wafat Khadijah, serta setelah Nabi pergi ke Thaif lalu penduduknya menolak
beliau. Tahun itu disebut sebagai ‘Ām al-Ḥuzn (tahun kesedihan), karena Nabi mengalami
gangguan yang sangat berat, penuh rasa sakit dan keletihan. Maka Allah Yang
Maha Suci dan Maha Tinggi menganugerahkan kepada beliau tanda-tanda (ayat) yang
agung ini, pemandangan-pemandangan luar biasa, dan kedudukan yang tinggi yang
tidak pernah dicapai oleh seorang manusia pun,
تَسْلِيَّةً لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
(Itu semua) sebagai hiburan bagi Nabi. [Syarah
al-‘Aqidah al-Tahawiyyah]
Wallahu A’lam Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk
senantiasa
menyadari bahwa setiap orang akan diuji dengan masalah berat yang akan
menjadikannya susah dan sedih. Dan saat itu kita tetap tabah karena dalam hadits utama
dinyatakan bahwa sebesar ujian sebesar itu pula balasan. Semoga kita bisa meneladani beliau dalam mencari solusi
setiap problematika kehidupan dan dalam menjalani
kehidupan sehari-hari.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!
NB.
“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada
semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin
amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._
[At-Tadzkirah Wal Wa’dh]











