• WhatsApp Channel : One Day One Hadith

    Bergabunglah bersama Saluran WhatsApp One Day One Hadith

  • Penerimaan Santri Baru 2026/2027

    Monggo nderek-nderek Nyethak Sholihin Sholihat dengan mendaftarkan putra putri jenengan ke PPW An-Nur 2 Al Murtadlo

  • Tadarus Akbar

    Tadarus Akbar oleh ribuan santri putra Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo

  • Sholat Tarawih Akbar

    Sekitar 3.000 santri putra melaksanakan Tarawih Akbar di Lapangan Utama Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo. Sabtu malam, 21 Februari 2026, lapangan center An-Nur II penuh dengan 24 saf santri berbaju putih

  • Bersama KAPOLRI

    Bersama Bapak Jenderal Listyo Sigit Prabowo - KAPOLRI dan Majelis Keluarga An-Nur 2

ADAKAH MANUSIA SUCI?

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Anas Bin Malik RA, Rasul SAW bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah yang banyak bertaubat. [HR Ibnu Majah]

 

Catatan Alvers

 

Sungguh mengherankan kasus pencurian terjadi di masjid, bahkan tak tanggung-tanggung terjadi di masjidil Haram yang berlokasi di tanah suci. Kok bisa ya? Padahal kan di tanah suci? Ya hal ini terjadi. Media menulis “Aparat Keamanan Masjidil Haram berhasil menangkap 130 pencuri dan pencopet di Masjidil Haram, Makkah, yang menyamar dan berkedok sebagai jamaah dengan pakaian ihram. [Suarasurabaya net]

 

Dulu saya sendiri pernah kehilangan sandal di masjid nabawi madinah namun saya tidak yakin kalau itu ulah pencuri. Saya beranggapan mungkin saya lupa posisi rak sandal atau sandal saya jatuh dari rak lalu di sapu oleh petugas kebersihan. Sampai satu saat, ketika saya mencari-cari sandal yang tidak ada di raknya lalu saya keluar ke teras masjid dan secara tak sengaja saya melihat orang yang menenteng sandal yang mirip dengan sandal saya. Saya tepuk pundaknya dan spontan orang itu menyodorkan sandal tersebut kepada saya. Di sini saya baru sadar bahwa tanah suci itu yang suci adalah tanahnya, bukan orangnya. Lihatlah Abu Jahal, ia juga tinggal di area tanah suci, tanah haram. Bahkan lokasi rumahnya sekarang masuk dalam wilayah perluasan fasilitas masjidil Haram di dekat area bukit marwah tepatnya dibangunan besar toilet umum.

 

Jadi tidak ada manusia yang suci dari dosa. Dalam hadits di atas, Rasul SAW bersabda: Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah yang banyak bertaubat. [HR Ibnu Majah] As-Sindy berkata : Lafadz Khattha’ itu artinya "Katsirun Khata" (orang yang banyak melakukan kesalahan). Yang dimaksud dengan kesalahan di sini adalah maksiat yang dilakukan dengan sengaja, atau maksiat secara mutlak (baik sengaja maupun tidak), mengingat (pengertian yang umum) bahwa kesalahan itu lawan dari kebenaran, dan terjadi tanpa disengaja.  [Hasyiyah As-Sindy]

 

Namun demikian, hal ini mengecualikan para nabi karena status mereka adalah ma’shum (orang yang dijaga). Allah SWT berfirman :

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan agar ia ditaati dengan izin Allah." [QS An-Nisa' : 64]

Syeikh Nawawi Al-Jawi berkata : Ayat ini menunjukkan bahwa para nabi itu ma‘shum (terjaga) dari “ma’ashi wadz-dzunub” (maksiat dan dosa-dosa). [Marah Labid] Dan Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata :

وَالْأَنْبِيَاء مَعْصُومُونَ مِنْ الْكَبَائِر بِالْإِجْمَاعِ . وَاخْتُلِفَ فِي جَوَاز وُقُوع الصَّغَائِر

“Para nabi itu terjaga dari dosa-dosa besar berdasarkan ijma’ (kesepakatan ulama). Adapun mengenai kemungkinan terjadinya dosa-dosa kecil pada diri mereka, maka para ulama berbeda pendapat”. [Fathul Bari]

 

Mengenai kesalahan kecil itu seperti yang dilakukan Nabi Adam dengan memakan buah larangan (khuldi). “Fa Asha Adamu Rabbahu” (Maka Adam bermaksiat kepada tuhannya) [QS Thaha : 121] Nabi Musa meminta melihat Allah dan Nabi Musa berkata “Subhanaka Tubtu Ilayka” (Maha Suci Engkau, Aku bertaubat kepadaMu). [QS Al-A’raf-143] Nabi Dawud terlalu cepat memutuskan perkara sebelum mendengar pihak kedua. “Fastaghfara Rabbahu” (lalu ia meminta ampunan kepada tuhanNya). [QS Shad : 25] Bahkan Nabi Muhammad SAW memalingkan wajah saat orang buta datang kepada beliau sehingga Allah menegur “Abasa Watalla…” (Ia bermuka masam dan berpaling). [QS Abasa : 1]

 

Adapun selain para Nabi maka tidak ada yang terjaga dari dosa besar mapun dosa kecil tak terkecuali orang yang keramat sekalipun. Al-Fasyni menceritakan dalam Al-Majalis As-Saniyah mengenai ahli ibadah dari kalangan Bani Israil yang bernama Barshisha.

Ia telah beribadah selama 220 tahun dan membuat kagum para malaikat dan hebatnya lagi,

ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﺳِﺘُّﻮْﻥَ أَﻟْﻔًﺎ ﻣِﻦَﺍﻟﺘَّﻠَﺎﻣِﺬَﺓِ وَﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﻤْﺸُﻮْنَ ﻓِﻰﺍﻟْﻬَﻮَﺍﺀِ ﺑِﺒَﺮَﻛَﺘِﻪِ ﻓَﻤَﺎتَ ﻛَﺎﻓِﺮًﺍ

“Ia memiliki 60.000 murid dan mereka semua bisa terbang di udara dengan sebab keberkahannya namun ia mati dalam keadaan kafir”.

 

Secara ringkas,  dikisahkan bahwa Iblis yang berwujud manusia beribadah tiga hari tiga malam non stop, puasa dan qiyamul Lail. Barshisha-pun ingin mengetahui cara bagaimana bisa melakukan demikian. Iblis berkata: “bermaksiatlah lalu bertaubatlah hingga engkau dapat merasakan manisnya keta’atan.” Barshisha berkata: “Dosa manakah yang engkau sarankan kepadaku?” Iblis berkata: “Berzina, membunuh atau meminum khamr. Barshisha memilih yang paling ringan yaitu meminum Khamr.

 

Sesuai arahan Iblis, Barshisha membeli khamr dari wanita cantik. Ketika ia mabuk, iapun berzina dengan wanita itu. Ketika suaminya memergokinya maka Barshisha membunuhnya. Iblis melaporkan kejadian ini kepada raja. Lalu raja memerintahkan untuk menyalib Barshisha. Lalu tatkala Barshisha berada di atas kayu salib hendak dibunuh maka datanglah iblis kepadanya untuk menawarkan pertolongan dengan syarat bersujud kepadanya dengan isyarat.

فَأَوْمَأَ بِرَأْسِهِ سَاجِدًا فَكَفَرَ

Barshishapun sujud dengan isyarat kepala sehingga ia menjadi kafir. [Al-Majalis As-Saniyyah]

 

Maka tiada yang aman dari godaan dan tipuan setan. Orang yang ahli ibadah nan sakti layaknya Barshisha pun tidak bisa otomatis selamat dari setan, lantas bagaimana dengan kita? Dengan kisah tersebut kita harus waspada. Jangan sampai kita melakukan dosa dan meremehkan maksiat sekecil apapun. Hindari sebisa mungkin dan sadari sejak dini bahwa dorongan berbuat maksiat itu adalah jebakan setan.

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk berpegang teguh kepada ajaran Islam dan tidak termakan hasutan aliran-aliran sesat dan menyesatkan.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

RITUAL PESUGIHAN GUNUNG KEMUKUS

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Mas’ud RA, Rasul SAW bersabda :

لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ

“Tidaklah seseorang akan mati hingga ia mendapatkan jatah rezekinya dengan sempurna. Maka bertakwalah kepada Allah dan tempuhlah cara yang baik dalam mencari rezeki.” [HR Baihaqi]

 

Catatan Alvers

 

Viral di medsos liputan ritual pesugihan gunung kemukus, Sragen, Jawa Tengah. Anehnya, ritual dilakukan dengan mandi di Sendang Ontrowulan lalu berziarah ke makam Pangeran Samudro. Setelah itu mereka melakukan hubungan seksual dengan wanita yang bukan pasangannya. Ritual ini dilakukan sebanyak Tujuh kali setiap malam jum’at pon atau malam jum’at kliwon. Ini semua agar terkabul hajatnya. [unair ac id]

 

Ritual nyeleneh ini mendapat perhatian dari seorang wartawan Australia, Patrick About yang membuat tayangan video berjudul ‘Sex Mountain’ di You Tube. Usut punya usut awal mula ritual itu bermula dari wasiat Pangeran Samudro, putra Raja Terakhir Majapahit yang berwasiat bahwa “Siapa saja yang nantinya datang berziarah harus mempunyai hati yang senang, percaya, dan mantap seperti akan datang ke rumah kekasihnya”. Menurut hasil penelitian, wasiat ini lalu disalah artikan dengan berhubungan badan dengan orang lain. Lalu orang-orang yang secara ekonomis diuntungkan berkat adanya praktik ritual seks itu, berupaya agar mitos tersebut bisa tetap bertahan dan dipercaya sebagai sesuatu yang sah di masyarakat. [ugm ac id]

 

Pemerintah telah berupaya memberantas praktek prostitusi ilegal tersebut

Lewat Kementerian Pariwisata dan Kementerian PUPR dengan menggelontorkan dana Rp 48 miliar untuk perombakan Objek wisata di sana dan setelah selasai pada tahun 2022 diselenggarakan acara peresmian oleh ketua DPR dengan nama baru yaitu “The New Kemukus.” [detik com] Namun demikian hingga belakangan ini masih santer adanya ritual pesugihan di atas sehingga pesulap merahpun akan membuat liputan videonya di sana.

 

Entah apa yang melatar belakangi mereka yang ikut ritual tersebut, apakah karena pikirannya buntu sebab terkena masalah besar ataukah karena iseng-iseng ikut ritual dengan tujuan bisa bebas berhubungan badan namun mendapat legitimasi sosial, ataukah memang percaya dengan mitos yang demikian. Yang jelas menurut ajaran agama Islam, ritual yang demikian termasuk dosa besar karena itu adalah perbuatan zina yang dilarang. Di dalam hadits disebutkan :

 مَا مِنْ ذَنْبٍ بَعْدَ الشِّرْكِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنْ نُطْفَة ٍوَضَعَهَا رَجُلٌ فِي رَحِمٍ لَا يَحِلُّ لَهُ

Tidak ada dosa yang lebih besar di sisi Allah, setelah syirik, dari pada dosa seorang lelaki yang menumpahkan spermanya pada rahim wanita yang tidak halal baginya. [HR Ibnu Abid Dun-ya]

 

Alih-alih bisa menjadi kaya, perzinahan akan menyebabkan sulitnya rezeki dan mendatangkan kematian. dalam hadits disebutkan :

اِتَّقُوا الزِّنَا فَإِنَّ فِيْهِ سِتَّ خِصَالٍ ثَلَاثٌ في الدُّنْيَا وَثَلَاثٌ فِي الْآخِرَةِ

Takutlah kalian berbuat zina, karena sesungguhnya dalam zina itu ada enam perkara (siksaan), tiga di dunia dan tiga di akhirat.

 Adapun tiga perkara di dunia: (1) Hilangnya aura, (2) Pendeknya umur, dan (3) menjadi miskin selamanya. Adapun tiga perkara di akhirat adalah: (1) murka Allah, (2) hisab yang jelek dan (3) siksa neraka”. [HR Baihaqi]

 

Dalam hadits utama disabdakan : “Tidaklah seseorang akan mati hingga ia mendapatkan jatah rezekinya dengan sempurna. Maka bertakwalah kepada Allah dan tempuhlah cara yang baik dalam mencari rezeki”. [HR Baihaqi] Jadi hadits ini menegaskan bahwa rezeki itu harus dicari dengan cara yang baik, tidak menghalalkan segala cara termasuk dengan melakukan perzinahan. Dalam lanjutan hadits, Rasul SAW bersabda :

وَلَا يَحْمِلَنَّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوهُ بِمَعَاصِي اللَّهِ، فَإِنَّهُ لَا يُدْرَكُ مَا عِنْدَ اللَّهِ إِلَّا بِطَاعَتِهِ.

Janganlah lambatnya rezeki mendorong kalian bekerja dengan maksiat kepada Allah, karena apa yang ada di sisi Allah tidak dapat diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya.” [HR Baihaqi]

 

Maka di tengah kesulitan ekonomi yang melanda, jangan panik. Tetaplah berpikir dengan jernih dan jangan putus asa untuk mencari rezeki. Allah SWT berfirman :

وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ

Janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. [QS Yusuf : 87]

Teruslah berusaha dijalur yang halal. Bangkitlah dari keterpurukan dan bekerjalah dengan cara yang baik. jangan hanya berpangku tangan dengan mengandalkan ritual belaka. Umar bin khattab pernah menegur mereka yang tak mau bekerja. Ia berkata :

لَا يَقْعُدْ أَحَدُكُمْ عَنْ طَلَبِ الرِّزْقِ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي، فَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَّ السَّمَاءَ لَا تُمْطِرُ ذَهَبًا وَلَا فِضَّةً

Janganlah salah seorang kalian duduk dan tidak berusaha mencari rizki, dengan derdoa : Ya Allah, berilah kami rizki, kalian telah mengetahui bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas atau hujan perak.” [Ihya Ulumuddin]

 

Ritual pesugihan dalam Ajaran Islam dilakukan dengan ketaqwaan. Allah SWT berfirman :

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan jalan keluar baginya dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” [QS At-Thalaq: 2-3]

 

Lalu memperbanyak istighfar memohon ampunan kepada Allah SWT sebagaimana dalam QS Nuh : 10-12. Dan Rasul SAW Bersabda :

مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

"Barang siapa yang senantiasa beristighfar, niscaya Allah akan menjadikan untuknya jalan keluar dari setiap kesusahan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka." [HR Ibnu Majah]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk berpegang teguh kepada ajaran Islam dan tidak termakan hasutan aliran-aliran sesat dan menyesatkan.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

WALLAHU A’LAM

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ

"Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya." [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Wallahu A’lam adalah kata yang sering kita dengar saat seorang penceramah mengakhiri pengajiannya atau saat penulis mengakhiri tulisannya. Namun demikian, kata tersebut bukanlah kata yang digunakan untuk menandakan akhir sebuah ceramah atau tulisan akan tetapi kata “Wallahu A’lam” yang artinya Allah lebih mengetahui, adalah kata yang dapat menjauhkan orang yang mengucapkannya dari perasaan “sok paling tahu”, merasa paling alim dan paling banyak ilmu.

 

Wallahu A’lam itu artinya adalah Allah lebih tahu dari setiap orang yang tahu. Kata pepatah “di atas langit masih ada langit” dan di atas langit yang diatasnya itu masih ada langit lagi dan seterusnya hingga yang ter-atas dan yang tertinggi serta puncak dari ilmu pengetahuan itulah Allah SWT. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an :

وَفَوْقَ كُلِّ ذِى عِلْمٍ عَلِيمٌ

Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui. [QS Yusuf : 76]

 

Abdullah Ibnu Abbas RA menjelaskan :

يَكُونُ هَذَا أَعْلَمَ مِنْ هَذَا، وَهَذَا أَعْلَمَ مِنْ هَذَا، وَاللَّهُ فَوْقَ كُلِّ عَالِمٍ

"Orang ini lebih berilmu daripada orang itu, dan orang itu lebih berilmu daripada yang lain, sedangkan Allah berada di atas daripada setiap orang yang berilmu." [Tafsir At-Thabari]

 

Dari Muhammad ibn Ka'b al-Quradhi ia berkata : "Seorang laki-laki bertanya kepada Ali ibn Abi Thalib tentang suatu masalah. Maka Ali menjawabnya. Lalu orang itu berkata, 'Tidak demikian, tetapi yang benar adalah begini dan begini.' Maka Ali berkata,

أَصَبْتَ وَأَخْطَأْتُ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“Engkau benar, dan aku keliru.Dan di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih mengetahui."[Tafsir At-Thabari]

 

Maka saat seorang guru mengakhiri kajiannya dengan kata “Wallahu A’lam” itu artinya ia hendak melepaskan diri dari pengakuan menjadi orang yang paling alim dan ia memasrahkan kebenaran dari ilmu yang disampaikannya kepada Allah SWT sebagai puncak dari pengetahuan. Dan inilah yang dikatakan oleh Syeikh Al-Bayjuri sebagai “Ghayatut Tafwidl Al-Mathlub” (Tingkat tertinggi dari penyerahan diri yang semestinya). [Hasyiyah Al-Bayjuri] As-Shaymari berkata :

وَلَا يَدَعْ خَتْمَ جَوَابِهِ بِقَوْلِهِ: وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ، أَوِ اللَّهُ أَعْلَمُ، أَوِ اللَّهُ الْمُوَفِّقُ

"Janganlah seseorang (mufti) meninggalkan untuk menutup jawaban dengan ucapan: 'Wa billahit tawfiq (dan dengan pertolongan Allah-lah taufik itu)', atau 'Allahu a‘lam (Allah lebih mengetahui)', atau 'Allahul Muwaffiq (Allah-lah Yang memberikan taufik)'." [Al-Majmu’]

 

Mulla Ali Al-Qari lebih jelas berkata :  “Apabila seorang mufti telah memberikan jawaban, maka dianjurkan baginya untuk menulis di akhir jawabannya: "Wallahu A‘lam (Allah lebih mengetahui)" dan yang  semisalnya. Dan ada yang berpendapat bahwa dalam masalah-masalah agama yang telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah, dianjurkan baginya untuk menulis: "Wallahul Muwaffiq (Allah-lah Yang memberi taufik)", "Wabillahil ‘Ishmah (dengan pertolongan Allah terjagalah seseorang dari kesalahan), dan yang semisal dengannya. [Syammul Awaridl fi Dzammir Rawafidl]

 

Dahulu gara-gara tidak mengatakan “Allahu A’lam”, Nabi Musa diperintahkan untuk belajar kepada Nabi Khidlir. Rasul SAW bersabda : Pada suatu hari Musa berkhutbah di hadapan Bani Isra’il. Maka ada di antara mereka yang bertanya; ‘Siapakah orang yang paling berilmu?. Musa menjawab : “Ana A’lam” (Aku yang paling alim). Maka Allah menegurnya, karena ia tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Lalu Allah memberi wahyu kepadanya, yaitu :

أَنَّ عَبْدًا مِنْ عِبَادِي بِمَجْمَعِ الْبَحْرَيْنِ هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ

“Sesungguhnya ada seseorang dari hamba-hambaku yang ada di pertemuan dua samudera, dia lebih alim darimu.” [HR Bukhari]

 

Singkat cerita, setelah pencarian panjang Nabi Musa berhasil menemukannya. Dan saat itu, Nabi khidlir menjelaskan bahwa ia memiliki ilmu yang tidak diketahui oleh Musa. Namun demikian hal itu tidak menjadikannya merasa paling alim, Khidlir juga mengakui bahwa Musa memiliki ilmu yang tidak diketahuinya. Nabi khidlir berkata :

يَا مُوسَى إِنِّي عَلَى عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ عَلَّمَنِيهِ لَا تَعْلَمُهُ أَنْتَ وَأَنْتَ عَلَى عِلْمٍ عَلَّمَكَهُ لَا أَعْلَمُهُ

"Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki suatu ilmu dari ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku yang tidak engkau ketahui. Dan engkau pun memiliki suatu ilmu yang Allah telah ajarkan kepadamu yang tidak aku ketahui." [HR Bukhari]

 

Kejadian ini memberikan pelajaran bahwa setinggi apapun ilmu manusia pastilah ada ilmu yang belum diketahuinya karena ilmu manusia itu sangatlah terbatas. Allah SWT berfiman :

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“ … dan tidaklah kalian diberi ilmu melainkan sedikit saja“ [QS Al-Isra: 85]

 

Jangankan Nabi Musa, Nabi Muhammad SAW juga dalam beberapa hadits diriwayatkan bersabda : “La Adri” (Aku tidak tahu). Bahkan Malaikat Jibril sekalipun. Abdullah ibn Umar RA berkata : Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, tempat manakah yang paling baik?" Beliau menjawab: “La Adri” (Aku tidak tahu).” Orang itu bertanya lagi: "Tempat manakah yang paling buruk?" Beliau menjawab: “La Adri” (Aku tidak tahu)." Orang itu berkata: "Tanyakanlah kepada Tuhanmu." Ketika Jibril turun, Rasul SAW bersabda: "Sesungguhnya aku ditanya: 'Tempat manakah yang paling baik dan tempat manakah yang paling buruk?' Maka aku menjawab: 'Aku tidak tahu.'" Lalu Jibril berkata:

وَأَنَا لَا أَدْرِي حَتَّى أَسْأَلَ رَبِّي

"Aku pun tidak tahu sampai aku bertanya kepada Tuhanku."

Singkat cerita, Allah memberitahu : “Ketahuilah, sesungguhnya sebaik-baik tempat adalah masjid-masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar-pasar." [HR Al-Hakim]

 

Dalam hadits utama di atas, ketika ditanya malaikat jibril mengenai kapan kiamat maka beliau bersabda : "Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya." Lalu beliau menyebutkan tanda-tanda kiamat. [HR Bukhari] Demikianlah para sahabat ketika ditanya sesuatu yang mereka tidak tahu maka mereka mengatakan “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Hal ini sebagaimana kejadian selepas shalat subuh di Hudaibiyah. Rasul SAW bertanya kepada para sahabat. “Tahukah kalian apa yang Allah firmankan?” Para Sahabat menjawab :

اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

“Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. [HR Bukhari]

 

Hal yang sama ketika Rasul SAW berkhutbah pada Hari raya kurban dan bertanya kepada para sahabat “Apakah kalian tahu hari apa ini?”, “Bulan Apakah ini?”, “Tanah apa ini?”. Para sahabat menjawab dengan “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu” lalu diam sembari mendengar penjelasan dari Rasul SAW. Para sahabat mengira bahwa Rasul SAW akan memberi jawaban lain dari apa yang diketahui. [HR Bukhari]

Demikian pula ketika Muadz bin Jabal RA ditanya Rasul SAW : Wahai Muadz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba-Nya atas Allah?  Muadz menjawab : “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu” [HR Bukhari]

 

Demikianlah seharusnya, Abdullah bin Mas'ud RA berkata:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ عَلِمَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلْ اللَّهُ أَعْلَمُ

"Wahai manusia, barang siapa mengetahui sesuatu maka hendaklah ia mengatakannya. Dan barang siapa tidak mengetahui, maka hendaklah ia mengatakan: 'Allah lebih mengetahui.' Karena sesungguhnya termasuk ilmu adalah seseorang mengatakan terhadap perkara yang tidak diketahuinya: 'Allah lebih mengetahui.' Allah 'Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi-Nya SAW : "Katakanlah: Aku tidak meminta kepada kalian suatu imbalan pun atas (dakwah) ini,

وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mengada-adakan (sesuatu yang tidak aku ketahui)." [QS Shad : 86]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita menyadari betapa terbatasnya ilmu kita sehingga tidak menjadi sombong dengan sebanyak apapun ilmu yang dimiliki dan menyadari bahwa masih ada orang yang lebih alim dari kita dan seterusnya hingga Allah SWT.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts