إنَّ اللّهَ أَوْحَىٰ إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّىٰ لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ علىٰ أَحَدٍ، وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَىٰ أَحَدٍ

"Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menyuruh kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya di hadapan orang lain, dan tidak seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain." [HR Muslim]

أَرْفَعُ النَّاسِ قَدْرًا : مَنْ لاَ يَرَى قَدْرَهُ ، وَأَكْبَرُ النَّاسِ فَضْلاً : مَنْ لَا يَرَى فَضْلَهُ

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah melihat kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah melihat kemuliannya (merasa mulia).” [Syu’abul Iman]

الإخلاص فقد رؤية الإخلاص، فإن من شاهد في إخلاصه الإخلاص فقد احتاج إخلاصه إلى إخلاص

"Ikhlas itu tidak merasa ikhlas. Orang yang menetapkan keikhlasan dalam amal perbuatannya maka keihklasannya tersebut masih butuh keikhlasan (karena kurang ikhlas)." [Ihya’ Ulumuddin]

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur." [HR Muslim]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu.”[HR Ahmad]

Thursday, January 15, 2026

NABI JUGA SEDIH

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Anas Bin Malik RA, bahwasannya Rasul SAW bersabda :

إنَ عِظَمَ الجَزَاءِ مِنْ عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ.

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sebanding dengan besarnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.” [HR Turmudzi]

 

Catatan Alvers

 

Anda punya masalah? Tenang, semua orang punya masalah tak terkecuali sang panutan, Rasul SAW. Di masa awal dakwah, beliau bahkan keluarga besarnya pernah diboikot. Al-Mawardi dalam Al-Hawi Al-Kabir berkata : “Quraisy sepakat dan berjanji untuk memboikot Bani Hasyim : tidak menikahi mereka, tidak berdagang dengan mereka, dan tidak menolong mereka dalam urusan apapun.. Mereka menuliskan perjanjian itu dalam sebuah lembaran dan menggantungnya di atap Ka‘bah. Lalu Abu Thalib mengumpulkan seluruh Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib, baik yang Muslim maupun yang kafir, dan mengajak mereka untuk bersatu dan masuk ke dalam Syi‘b (sebuah lembah yang terdapat di antara dua gunung). Mereka pun menyetujui kecuali Abu Lahab dan anak-anaknya, karena mereka berpihak kepada Quraisy. Rasul SAW tinggal di Syi‘b bersama Abu Thalib dan seluruh Bani Hasyim serta Bani al-Muththalib selama tiga tahun, tidak ada makanan yang sampai kepada mereka kecuali secara sembunyi-sembunyi, dan tidak ada seorang pun yang masuk menemui mereka kecuali dengan bersembunyi.”

 

“Hingga akhirnya dari kalangan Quraisy, yaitu Hisham bin ‘Amr mulai berbicara ... untuk mencela perbuatan buruk mereka berupa pemutusan silaturahmi terhadap Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib. Mereka pun setuju ... untuk membatalkan lembaran itu... Lalu lembaran itu dibawa dari atap Ka‘bah, ternyata telah dimakan rayap kecuali tulisan mereka: “Bismikallahumma” (Dengan nama-Mu ya Allah). Tangan penulisnya, yaitu Manshur bin ‘Ikrimah, menjadi lumpuh. Maka keluarlah Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib bersama Rasul SAW ke Makkah, kembali seperti keadaan semula”. ).” [Al-Hawi Al-Kabir]

 

Pernahkah Anda susah?, sedih?, galau? Jangankan Anda, Rasul SAW juga pernah sedih. Al-Mawardi melanjutkan : Kemudian Rasul SAW setelah keluar dari Syi‘b tetap dalam keadaan seperti sebelumnya, tidak ada gangguan yang sampai kepadanya, hingga wafat pamannya Abu Thalib dan wafat Khadijah dalam satu tahun yang sama, yaitu “Amul Huzni” (Tahun Kesedihan), tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah. Setelah itu beliau mendapat gangguan hingga sebagian orang bodoh Quraisy menaburkan tanah di atas kepalanya. Beliau pun masuk ke rumahnya, lalu salah satu putrinya melihat tanah di atas kepala beliau dan menangis. Maka beliau bersabda:

لَا تَبْكِي فَإِنَّ اللهَ يَمْنَعُ أَبَاكَ

“Janganlah engkau menangis, sesungguhnya Allah akan menjaga ayahmu”.

Setelah itu beliau keluar menuju (kota) Thaif.  (90 kilometer dari Masjidil Haram).” [Al-Hawi Al-Kabir] Rasul SAW sendiri menceritakan kepada putrinya :

مَا نَالَتْ مِنِّي قُرَيْشٌ شَيْئًا أَكْرَهُهُ حَتَّى مَاتَ أَبُو طَالِبٍ

“Quraisy tidak pernah menyakiti aku dengan sesuatu yang aku benci hingga Abu Thalib wafat.”  [Dalailun Nubuwwah Lil Baihaqi]

 

Al-Qurtuby dalam Tafsirnya meriwayatkan : Ketika Abu Thalib wafat, Nabi keluar menuju Thaif untuk mencari pertolongan dari (pemuka Kabilah) Tsaqif. Beliau mencari AbduYalil, Mas’ud dan Habib. Mereka adalah saudara-saudara dari Banu Amr bin Umar di mana diantara mereka ada yang menikah dengan wanita Quraisy dari bani Jumah. Rasul mengajak mereka masuk Islam dan meminta pertolongan untuk menghadapi kaum kuffar Mekkah. [Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an] Namun apa yang terjadi jauh dari harapan, bukannya diterima beliau malah ditolak mentah mentah bahkan diusir. Al-Qurtuby melanjutkan : “Lalu mereka memerintahkan orang rendahan dan para budak untuk mengumpat dan menertawakan beliau sehingga orang-orang berkumpul dan mengusir beliau.... [Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an]

 

Mulla Al-Qari berkata : Diriwayatkan bahwa peristiwa yang tersebut terjadi pada bulan syawal tahun 10 kenabian tepatnya tiga bulan setelah wafatnya Siti Khadijah. [Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih] Peristiwa penolakan Nabi dari kota thaif itu sungguh hari yang sangat berat. Siti Aisyah pernah bertanya : Wahai Rasulullah, adakah hari yang lebih berat (ujiannya) daripada hari (kekalahan dalam perang) Uhud? Beliau Menjawab dengan menyebutkan peristiwa di kota Thaif tersebut. Hari itu merupakan ujian terberat dalam dakwah beliau bahkan lebih berat daripada kekalahan pada perang Uhud. Hal itu membuat Nabi sedih dan gundah gulana hingga beliau berkata :

فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ

Akupun pergi (meninggalkan thaif) dengan penuh kesedihan diwajahku, dan aku baru tersadar ketika aku sampai di daerah Qarnits Tsa'alib (Daerah Miqat Qarnul Manazil, 80 KM dari Masjidil Haram). [HR Bukhari]

 

Di tengah-tengah kesedihan beliau, Allah menurunkan QS Yusuf untuk meneguhkan hati beliau. As-Shabuni berkata : “Surah (yusuf) yang mulia ini diturunkan kepada Rasul SAW ... pada masa yang sangat kritis dan penuh kesulitan dalam kehidupan beliau ... Terutama setelah beliau kehilangan dua penolongnya: istri beliau yang suci dan penuh kasih sayang, Khadijah, serta pamannya Abu Thalib yang merupakan sebaik-baik penolong dan pendukung. Dengan wafatnya keduanya, semakin beratlah gangguan dan penderitaan yang menimpa beliau dan kaum Mukminin, hingga tahun itu dikenal dengan sebutan ‘Ām al-Ḥuzn (Tahun Kesedihan).” [Shafwatut Tafasir]

 

Surat Yusuf mengisahkan berbagai macam ujian yang menimpa Nabi Yusuf AS. ujian  berupa kedengkian saudara-saudaranya dan tipu daya mereka terhadapnya, ujian ketika ia dilemparkan ke dalam sumur, ujian ketika istri al-‘Aziz terpikat kepadanya dan jatuh cinta kepadanya, kemudian berusaha merayunya dengan berbagai cara fitnah dan godaan, lalu ujian penjara, kemudian setelah itu datanglah kemuliaan dan kehidupan yang penuh kelapangan. Kisah tersebut menjadi pelajaran bagi Nabi SAW dan kita selaku umatnya, agar bersabar dalam mengahadapi ujian berat kehidupan. Atha’ berkata :

لَا يَسْمَعُ سُورَةَ يُوسُفَ مَحْزُونٌ إِلَّا اسْتَرَاحَ إِلَيْهَا

“Tidaklah seorang yang sedang bersedih mendengar Surah Yusuf, melainkan ia akan merasa tenang (lega) karenanya.” [Shafwatut Tafasir]

 

Dan juga peristiwa Isra’ dan Mi’raj sebagai hiburan bagi Nabi SAW di tengah-tengah kesedihan atas ujian yang bertubi-tubi. Syaikh Safar al-Hawali berkata : Isra’ dan Mi‘raj terjadi sebelum hijrah, dan inilah pendapat yang paling kuat. Yang masyhur dan tersebar luas adalah bahwa Isra’ dan Mi‘raj terjadi setelah wafat Abu Thalib, paman Nabi SAW, dan setelah wafat Khadijah, serta setelah Nabi pergi ke Thaif lalu penduduknya menolak beliau. Tahun itu disebut sebagai ‘Ām al-Ḥuzn (tahun kesedihan), karena Nabi mengalami gangguan yang sangat berat, penuh rasa sakit dan keletihan. Maka Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi menganugerahkan kepada beliau tanda-tanda (ayat) yang agung ini, pemandangan-pemandangan luar biasa, dan kedudukan yang tinggi yang tidak pernah dicapai oleh seorang manusia pun,

تَسْلِيَّةً لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

(Itu semua) sebagai hiburan bagi Nabi. [Syarah al-‘Aqidah al-Tahawiyyah]

 

Wallahu A’lam Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk senantiasa menyadari bahwa setiap orang akan diuji dengan masalah berat yang akan menjadikannya susah dan sedih.  Dan saat itu kita tetap tabah karena dalam hadits utama dinyatakan bahwa sebesar ujian sebesar itu pula balasan. Semoga kita bisa meneladani beliau dalam mencari solusi setiap problematika kehidupan  dan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

PERJALANAN MENAKJUBKAN

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda:

أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ

Aku didatangi buraq, ia adalah hewan tunggangan berwarna putih yang tinggi, lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari baghal (keturunan silang antara kuda betina dan keledai jantan), yang dapat meletakkan kakinya di arah pandangan terjauhnya. Lalu aku menaikinya hingga sampailah aku di Baitul Maqdis.”[HR Muslim]

 

Catatan Alvers

 

Tanggal 27 Rajab adalah hari yang sangat penting dan bersejarah bagi umat Islam sebab 14 abad yang silam saat itu Rasul SAW mendapatkan wahyu dari Allah SWT berupa risalah shalat dalam sebuah ritus spiritual yang jamak dikenal dengan istilah Isra’ Mi’raj.  Dijelaskan dalam Thabaqat al-Qubra, peristiwa ini di bulan Rajab, 18 bulan sebelum hijrah. Menukil pendapat ibnu dihyah dalam kitab as-sirah al-halabiyah, isra’ dan mi’raj terjadi pada hari senin, ini semakin menguatkan nilai sejarah hari senin, karena pada hari senin itu Rasul lahir, diangkat menjadi rasul, keluar dari makkah (hijrah), sampai di madinah, bahkan wafat juga pada hari senin. 

 

Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha (Palestina) yang berjarak sekitar 1.200 KM. Sedangkan Mi’raj adalah dinaikkannya Nabi Muhammad SAW ke langit hingga Sidratul Muntaha yang mana jaraknya sangat jauh. Sebagai gambaran saja bahwa jarak rata-rata bumi dan matahari saja mencapai 149.600.000 KM. Menariknya, Keduanya terjadi hanya dalam sekejap yang menurut perhitungan akal, jelas peristiwa tersebut mustahil dilakukan. Peristiwa tersebut merupakan mu’jizat terbesar bagi Nabi Muhammad SAW setelah Al-Qur’an. Ini semua menunjukkan betapa besarnya kekuasaan Allah SWT.

 

Perjalanan tersebut adalah perjalanan yang sungguh menakjubkan. Allah membukanya dengan tasbih sebagaimana dalam Firman-Nya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah Yang telah memper-jalankan hambaNya pada (sebagian) malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat". [QS Al-Isra: 1]

 

Menurut Syeikh Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir al-Khaubawi hal ini mengandung hikmah; Pertama, bahwa kebiasaan bangsa Arab bertasbih di saat menjumpai hal-hal yang menakjubkan, maka lewat firman-Nya itu seolah-olah Allah kagum dengan rasul-Nya yang sempurna kemanusiaannya (al-insan al-kamil) sehingga di perjalankan-Nya secara menakjubkan. Kedua, dengan bertasbih, Allah bermaksud menepis sinisme masyarakat Arab yang menganggap rasul-Nya telah berdusta, sehingga redaksi ayat tersebut berbunyi, ''Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya....''[Durratun Nasihin]

 

Maka Pendekatan yang paling tepat untuk memahami keagungan peristiwa ini adalah pendekatan imaniy. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar As-Shiddiq, seperti terlukis dalam ucapannya:

لَئِنْ قَالَ ذَلِكَ لَقَدْ صَدَقَ

Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benarlah adanya.

Mereka bertanya keheranan : Apakah kau percaya bahwa ia (Rasul) pergi malam hari ke baitul Maqdis dan ia tiba sebelum subuh? Maka Abu Bakar kembali menjawab :

نَعَمْ، إِنِّي أُصَدِّقُهُ فِيمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ

" Ya, sungguh aku akan mempercayainya bahkan terhadap hal yang lebih jauh dari itu (perjalanan masjidil Haram- Masjidil Aqsa).” [HR Al-Hakim]

 

Dari peristiwa inilah kemudian beliau diberi gelar as-shiddiq yang artinya adalah orang yang mempercayai apa yang datang dari Rasul SAW dengan sungguh-sungguh.

 

Mengenai perjalanan Isra’ sendiri, Rasul SAW mengisahkan sebagaimana dalam hadits utama : “(Jibril) telah datang kepadaku bersama Buraq, yaitu hewan putih yang tinggi, lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari baghal (keturunan silang antara kuda betina dan keledai jantan), yang dapat meletakkan kakinya pada pandangan terjauhnya.” “Lalu aku menaikinya hingga sampailah aku di Baitul Maqdis. “lalu aku mengikatnya dengan tali yang biasa dipakai oleh para Nabi.” “Kemudian aku masuk ke masjid al-Aqsha dan aku shalat dua raka’at di sana, lalu aku keluar. Kemudian Jibril AS membawakan kepadaku satu gelas khamr dan satu gelas susu, maka aku memilih susu, lalu Jibril berkata kepadaku:

اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ

‘Engkau telah memilih fitrah (kesucian).”[HR Muslim]

 

Dan ketika mi’raj, Rasul SAW mendapatkan perintah shalat pada awalnya berjumlah 50 waktu. Ketika Nabi Muhammad SAW hendak turun beliau bertemu dengan Nabi Musa AS, Atas saran Nabi Musa AS, Nabi Muhammad SAW berulangkali menghadap Allah SWT untuk memberikan keringanan, yang akhirnya Allah memberikan keringanan hingga menjadi 5 waktu untuk setiap harinya. Rasul SAW bersabda: “Aku terus bolak-balik antara Rabb-ku dengan Musa AS sehingga Rabb-ku mengatakan:

يَا مُحَمَّدُ، إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ صَلاَةٍ عَشْرٌ فَذَلِكَ خَمْسُوْنَ صَلاَةً.

Wahai Muhammad, sesungguhnya kewajiban shalat itu lima kali dalam sehari semalam, setiap shalat mendapat pahala sepuluh kali lipat, maka lima kali shalat sama dengan lima puluh kali shalat. [HR Muslim]

 

Rasulullah SAW melanjutkan kisahnya: “Kemudian aku turun aku bertemu Musa AS (kembali), lalu aku beritahukan kepadanya, maka ia mengatakan:

ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ

Kembalilah kepada Rabb-mu dan mintalah keringanan lagi.

Rasulullah SAW berkata: “Lalu aku menjawab:

قَدْ رَجَعْتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ

Aku telah berulang kali kembali kepada Rabb-ku hingga aku merasa malu kepada-Nya. [HR Muslim] Wallahu A’lam.

 

Semoga dengan memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj ini kita semua menjadi hamba-hamba yang beriman kepada Allah swt dan semakin percaya akan kemaha kuasaan-Nya serta lebih semangat untuk mengerjakan sholat lima waktu.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]


Artikel adalah perbaikan dari artikel odoh sebelumnya berjudul Black Box Isra' Mi'raj

Monday, January 5, 2026

KAMBINGPUN AKAN DIADILI

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ

Barangsiapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, maka hendaklah ia meminta kehalalan darinya (di dunia). Karena sesungguhnya di sana (akhirat) tidak ada dinar dan tidak ada dirham. [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Setiap orang pasti pernah di dzalimi dan setiap orang yang di dzalimi pasti ingin menuntut pembalasan atas kedzaliman tersebut. Namun ketahuilah bahwa di dunia ini seseorang sulit bisa membalas kedzaliman orang lain kepadanya dengan setimpal karena tidak ada hukum yang benar-benar adil yang memuaskan. Sering kali, para pelaku kejahatan besar, seperti perampok atau pemerkosa, tidak mendapatkan hukuman yang setimpal. Dan memang demikian, lihatlah seorang pembunuh yang membunuh satu keluarga yang terdiri dari 6 orang, dia akan dihukum mati. Namun 6 Nyawa dibayar dengan 1 nyawa, apakah itu adil dan setimpal? Tentuk tidak adil namun itulah hukuman dunia, tidak bisa berbuat lebih dari itu. Belum lagi seorang mafia besar, dengan ratusan pengawal dan di back-up oleh penguasa maka perbuatan dzalimnya akan sulit dibalaskan baik secara hukum negara maupun hukum rimba.

 

Hari kiamat adalah hari dimana setiap kedzaliman akan diberikan balasan yang setimpal dan seadil-adilnya. Orang yang tidak percaya dengan hari kiamat, ia akan hidup tersiksa secara batin karena ia tidak menemukan hukum yang adil dan setimpal atas kedzaliman yang menimpa dirinya betapapun pengadilan telah memihak kepadanya. Lantas bagaimana dengan orang yang di dzalimi lalu tidak mampu membawa hal itu ke pengadilan hukum negara atau ia tidak mampu membalaskannya secara hukum rimba sebagaimana contoh di atas?.

 

Adapun bagi orang yang beriman, maka tatkala ia mendapatkan ketidak adilan hukum di dunia maka hatinya bisa tenang karena ia yakin bahwa masih ada hari kiamat dimana semua kedzaliman akan dibalaskan dengan seadil-adilnya. Allah SWT berfirman :

الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ  لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ  إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Pada hari itu, setiap orang akan diberi balasan sesuai perbuatannya. Tidak ada yang terdzalimi pada hari tersebut. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya. [QS al- Mu’min : 17].

 

Dan Allah SWT juga berfirman :

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا

"Dan balasan dari suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa (setimpal). [QS Asy-Syura : 40]

 

Hukuman akhirat akan mudah terlaksana karena manusia akan hidup kekal di akhirat. Jika seseorang membunuh 10 orang maka ia akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Ia akan merasakan sakitnya 10 yang ia siksa ketika di dunia karena ia tak akan mati dengan siksaan tersebut. Sebagai gambaran, Rasul SAW bersabda :

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَتَوَجَّأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا

“Barangsiapa yang bunuh diri dengan besi (pisau), maka kelak besi itu akan berada di tangannya dan akan selalu ia arahkan untuk menikam perutnya di neraka Jahanam secara terus-menerus dan ia kekal di dalamnya. [HR Muslim]

Dalam lanjutan hadits disebutkan : “Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara meminum racun maka ia akan selalu menghirupnya di neraka Jahannam dan ia kekal di dalamnya. Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara terjun dari atas gunung, maka ia akan selalu terjun ke neraka Jahanam dan dia kekal di dalamnya”. [HR Muslim]

 

Maka tiada keamanan bagi pelaku kedzaliman dari pembalasan Allah kelak di hari kiamat. Itulah kenapa Nabi SAW mengingatkan kita pada hadits utama : “Barangsiapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, maka hendaklah ia meminta kehalalan darinya (di dunia). Karena sesungguhnya di sana (akhirat) tidak ada dinar dan tidak ada dirham”. [HR Bukhari] Dalam lanjutan hadits, Rasul SAW bersabda : “Sebelum (pahala) kebaikan-kebaikannya diambil untuk diberikan kepada saudaranya (yang terdzalimi). Jika ia tidak memiliki kebaikan, maka keburukan saudaranya diambil lalu dibebankan kepadanya.” [HR Bukhari]

 

Dari adilnya hukum di akhirat, Allah SWT tidak hanya membalaskan kedzaliman yang di lakukan manusia kepada manusia yang lain akan tetapi juga membalaskan kedzaliman binatang kepada binatang lainnya. Pada suatu hari ketika Rasul SAW sedang duduk-duduk (bersama para sahabat), ada dua kambing bertemu lalu salah satunya menanduk yang lainnya sehingga jatuh. lalu Rasul SAW pun tertawa. Maka ada yang bertanya : “Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkanmu tertawa?” Beliau menjawab :

عَجِبْتُ لَهَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُقَادَنَّ لَهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Aku takjub dengan kambing itu. Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh kambing itu akan diberi balasannya pada hari kiamat.” [HR Ahmad ]

 

Rasul SAW juga bersabda :

لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنْ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ

“Sungguh, besok pada hari kiamat semua hak akan ditunaikan kepada pemiliknya, sehingga kambing yang tak bertanduk diberi kesempatan untuk membalas kepada kambing yang bertanduk (yang dulu menanduknya). [HR Muslim]

 

Semua makhluk akan dikumpulkan pada hari kiamat, binatang ternak, hewan melata, burung-burung, dan segala sesuatu, sehingga dari adilnya Allah, hewan bertanduk (yang dulu pernah menanduk) akan diberi balasan atas hewan yang tak bertanduk. Kemudian (setelah semua diberikan balasannya) maka Allah berfirman, “Kalian semua, jadilah debu.” Di saat itulah orang kafir berkata:

يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا

 “Aduhai (betapa enaknya) andai aku jadi debu (seperti hewan itu).” [HR Hakim]

 

Inilah penjelasan dari sisi kesamaan hewan dengan manusia dalam firman Allah SWT :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kalian. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam al-Kitab (Lauh Mahfudz), kemudian kepada Tuhanlah mereka dikumpulkan. [QS Al-An’am : 38].

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk tidak berlaku dzalim kepada orang lain dan ketika kita yang di dzalimi maka kita tidak sibuk untuk balas dendam karena ada Allah yang akan membalaskannya di akhirat nanti.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]