Monday, December 19, 2016

DAHSYATNYA MANAQIB





ONE DAY ONE HADITH

Khabbab RA berkata : Kami mengeluh kepada Rasulullah SAW ketika beliau sedang berbaring di bawah bayangan Ka’bah, berbantalkan kain yang beliau miliki, lalu kami berkata: “Tidakkah engkau memohon pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau mendo’akan kami?” Rasulullah SAW bersabda :
قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهَا فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ فَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ
Sungguh ada di antara orang-orang yang beriman sebelum kalian yang ditangkap, lalu digalikan tanah dan ditanam di sana, kemudian dibawakan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya, lalu orang itu dibelah dua, daging dan urat yang berada di bawah kulit disisir dengan sisir besi, namun itu semua tidak menghalanginya dari din (agama)nya. [HR Bukhari]

Catatan Alvers

Di samping membaca maulid, Masyarakat kita lazim membaca manaqib. Kata manaqib adalah bentuk jamak dari mufrad (singular) manqabah, yang artinya cerita kebaikan amal dan akhlak perangai terpuji seseorang. Membaca manaqib artinya mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan riwayat hidup sosok panutan dengan tujuan untuk menjadikannya sebagai pelajaran yang baik.


Rasul SAW acapkali menceritakan kisah orang-orang terdahulu yang memiliki keteguhan iman untuk meneguhkan hati para sahabat seperti dalam hadits utama di atas. Metode kisah seperti ini efektif dalam membentuk kepribadian. Allah SWT berfirman :
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal…” [QS. Yusuf: 111]

Hal ini dikarenakan ketika kita menyebutkan riwayat hidup seseorang yang mulia maka seakan mereka kembali hidup bersama kita dengan akhlak terpuji mereka. Tersebut sebuah hadits diriwayatkan dari as-sakhawi :
 مَنْ وَرَّخَ مُؤْمِناَ فَكَأَنمَّاَ اَحْياَهُ
Siapa membuat riwayat hidup orang mukmin (yang sudah meninggal) maka sama halnya ia menghidupkannya. [Kasyfudz Dzunun]

Imam Abu Hanifah berkata :  
الحكايات عن العلماء ومجالستهم أحب إلي من كثير من الفقه ؛ لأنها آداب القوم وأخلاقهم
“Kisah-kisah (keteladanan) para Ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai dari pada kebanyakan (masalah-masalah) fikih, karena kisah-kisah tersebut (berisi) adab dan tingkah laku mereka (untuk diteladani).”[ Jami’u Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih libni ‘Abdil Barr]

Salah satu sosok panutan yang layak dipelajari riwayat hidupnya adalah Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Beliau terkenal memiliki berbagai macam karamah. Namun hal ini terkadang menjadikan seseorang tertarik untuk memiliki karamah layaknya beliau padahal beliau sendiri tidaklah mengejar karamah tersebut dan tidak menjadikan karamah sebagai tujuan. Bukankah istiqamah itu sendiri lebih baik dari 1000 karamah?. Abu ‘Ali al-Jawjaza’i berkata :
كن صاحب الاستقامة، لا طالب الكرامة،
“Jadilah engkau sebagai pemilik istiqamah jangan kau menjadi pencari karamah”.
Boleh jadi kau tergerak untuk mencari karamah padahal Allah memerintahkanmu istiqamah. [Risalah Qusyairiyah]

Maka ketertarikan seseorang kepada sosok mulia Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani janganlah terhenti pada karamah-karamah beliau karena pada hakikatnya letak kemuliaan beliau bukan terletak pada karamah beliau. Kalau tolok ukur kemuliaan seseorang adalah kesaktian yang dimilikinya maka setan boleh jadi dinobatkan sebagai mahluk yang paling mulia karena ia mampu menempuh perjalanan yang amat jauh, dari ujung timur ke ujung barat hanya ditempuh dengan beberapa menit saja. As-Syinqithi menukil perkataan Ulama’:
 إذا رأيت رجـلاً يطير وفوق ماء البحر قد يسيرُ ولم يقف عند حدود الشرع فإنه مستدرجٌ أو بدعي
Jika engkau melihat seseorang mampu Terbang ataupun Mampu berjalan di atas air. Sedang dia tidak berdiri di batas-batas hukum Syara’ maka sesungguhnya dia adalah seorang yang di istidrajkan atau seorang Pelaku Bid’ah. [Adlwa’ul Bayan]

Oleh karena itu seyogyanya yang harus mendapat perhatian lebih besar dalam membaca manaqib (riwayat hidup) beliau adalah bagaimana keistiqamahan dan perilaku beliau sebab itulah pondasi sebenarnya yang dapat kita teladani dalam hidup sehari-hari. Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata :
بَنَيْتُ أمري على الصدق
“Aku membangun urusanku di atas kejujuran”.

Selanjutnya beliau mengisahkan : Tatkala aku pergi dari mekkah ke bagdad untuk menuntut ilmu, Ibuku memberiku bekal empat puluh dinar (Sekitar Rp.75 Juta) dan ibuku berpesan kepada agar menjaga sifat jujur. Ketika kami tiba di daerah Hamdan, tiba-tiba orang pedalaman menghadang dan merampok kafilah. Seorang diantaranya bertanya kepadaku : Apa yang kau miliki? Aku menjawab : Uang 40 dinar. Namun ia menyangka aku bergurau dan iapun meninggalkanku. Perampok yang lain melihatku dan membawaku ke pimpinan mereka dan pemimpin itu lalu menanyakan hal yang sama dan akupun menjawab dengan yakin bahwa aku membawa uang 40 dinar. Kemudian pemimpin itu bertanya: apa yang membuatmu jujur? Maka aku menjawab: Aku telah berjanji kepada ibu untuk berlaku jujur maka aku takut mengkhianati janji kepada ibuku. Mendengar jawabanku ini, pemimpin itu menangis tersedu-sedu sambil berkata : kau takut untuk mengkhianati janji kepada ibumu lantas bagaimana aku tidak takut untuk mengkhianati janjiku kepada Allah!. Sang pimpinan perampok tadi menyuruh mengembalikan barang-barang kepada kafilah dan iapun berkata : aku bertaubat kepada Allah di hadapanmu (dengan bimbinganmu)!. Anak buahnya pun berkata :
أنت كبيرنا في قطع الطريق، وأنت اليوم كبيرنا في التوبة
Engkau adalah pemimpin kami dalam hal merampok dan hari ini engkau menjadi pemimpin kami dalam taubat.
Lalu semua perampok tadi bertaubat sebab kejujuran Syeikh Abdul Qadir al-Jilani. [Nuzhatul Majalis]

Disamping kejujuran yang merupakan pondasi kehidupan, beliau juga terkenal dengan keluasan ilmunya. Dikisahkan Syiekh Ja’far bin Hasan Al-Barzanji dalam Al-Lujain Ad-Dani, Beliau mengajar 13 bidang keilmuan yaitu Tafsir, hadits, Nahwu, Qiraat dll. Beliau menjadi Mufti Madzhab Imam Syafii kemudian Madzhab Imam Ahmad. Fatwa beliau menjadikan Ulama Iraq saat itu terkagum-kagum dan berkata :
سبحان من أعطاه
“Maha suci Allah yang memberinya Ilmu”
[Al-Lujain Ad-Dani]

Kealiman beliau mendapat perhatian khusus dari khalifah sehingga sang khalifah banyak mengirimkan hadiah namun apa yang dilakukan oleh Syeikh?
وما وقف بباب وزير ولا سلطان  ولا قبل الهدية من الخليفة قط
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani tidak pernah sama sekali berdiri di depan pintu mentri ataupun raja dan beliau tidak pernah mau menerima hadiah dari khalifah. [Al-Lujain Ad-Dani]

Beliau juga pernah didatangi cahaya yang diiringi dengan suara:
يا عبد القادر أنا ربك، وقد أبحت لك المحرمات
Wahai Abdul Qadir, Aku adalah tuhanmu dan aku telah menghalalkan untukmu perkara-perkara yang haram.
Sontak, Syeikh membaca ta’awwudz dan berkata: menyingkirlah wahai yang terlaknat! Lalu cahaya tadi menjadi gelap dan berupa kepulan asap dan bersuara: Wahai Abdul Qadir engkau selamat dari godaanku sebab kamu mengetahui hukum tuhanmu dan kesadaranmu akan kedudukanmu. Padahal aku telah menyesatkan 70 orang ahli thariqat dengan cara yang sama. [Al-Lujain Ad-Dani]
اللّٰهُمَّ انْثُـرْ نَّفَحَاتِ َالرِّضْوَانِ عليه ، وَأَمِدَّنَا بِالأَسْرَارِ التي أودعتها لديه
Ya Allah, Tebarkanlah harumnya keridlaanMu kepadanya dan anugerahilah kami rahasia-rahasia yang telah kau berikan kepadanya. Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk meneladani kejujuran dan sifat mulia dari Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Salam Satu Hadith,
DR.H.Fathul Bari, Malang, Ind

Kajian Hadits Sistem SPA
(Singkat, Padat, Akurat)
ONE DAY ONE HADITH
Buku Serial #1 Indahnya Hidup Bersama Rasul SAW
Buku Serial #2 Motivasi Bahagia dari Rasul SAW
Dapatkan harga promo, hub.: 081216742626

0 komentar:

Post a Comment