Wednesday, January 24, 2018

ALAMAT PALSU




ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abu Yazid yakni Ma’n bin Yazid bin Akhnas RA, Rasulullah SAW bersabda:
لَكَ مَا نويْتَ يَا يَزِيدُ ، وَلَكَ مَا أَخذْتَ يَا مَعْنُ
“Engkau telah mendapatkan apa yang engkau niatkan hai Yazid (ayah Ma’n), sedangkan engkau boleh memiliki apa yang telah engkau ambil, hai Ma’n” [1]

Catatan Alvers

Alamat Palsu, Judul di atas seperti judul lagu populer yang dilagukan oleh ayu tingting namun alvers pembahasan odoh kali ini tidak ada kaitannya dengan lagu tersebut. “Alamat Palsu” dalam judul ini bermaksud menjelaskan adalah sebuah sedekah (sunnah) yang dilakukan dengan salah alamat atau salah sasaran tanpa adanya faktor kesengajaan.

Dalam kasus zaman now, banyak orang yang meminta-minta dengan acting memakai pakaian yang lusuh, sobek-sobek bahkan ada yang beracting jalan sambil ngesot padahal ia adalah orang yang normal dan berkecukupan. Ada juga dengan membawa bayi padahal ia adalah bayi sewaan untuk memancing belas kasihan orang lain. Kasus-kasus seperti ini membuka lebar salah alamat dalam memberi sedekah.


Menurut Imam Nawawi, sedekah tersebut tidaklah sia-sia dan tetap berpahala meskipun yang menerimanya adalah orang yang tidak dikehendaki atau orang yang salah seperti orang fasik (pencuri, pezina dan pelaku dosa besar lainnya) ataupun orang kaya. Karena (berbuat baik kepada) setiap makhluk hidup terdapat pahala. Adapun zakat maka tidak sah memberikannya kepada orang kaya. [2]

Kesimpulan Iman Nawawi tersebut berdasar kepada kasus salah sedekah dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Seorang laki-laki berkata : Sungguh aku akan bersedekah (pada Malam ini). Lalu Ia keluar dengan membawa sedekahnya kemudian ia bersedekah kepada (seseorang yang tak diketahuinya bahwa ia adalah) pencuri. Pagi harinya orang-orang (ramai) berkata “semalam ada pencuri diberi sedekah”. Lalu (laki laki ini) berkata :
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ
Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Sungguh aku akan bersedekah lagi.

Iapun keluar dengan sedekahnya lalu ia bersedekah kepada (seseorang yang tak diketahuinya bahwa ia adalah)wanita pezina. Pagi harinya orang-orang (ramai) berkata, semalam ada wanita pezina diberikan sedekah. Maka (laki laki ini) berkata :
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ لَأَتَصَدَّقَنَّ
Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Aku akan bersedekah lagi.

Iapun keluar dengan sedekahnya lalu ia bersedekah kepada (seseorang yang tak diketahuinya bahwa ia adalah) orang kaya. Pagi harinya orang-orang (ramai) berkata, semalam ada orang kaya diberi sedekah. Maka (laki laki ini) berkata :
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى سَارِقٍ وَعَلَى زَانِيَةٍ وَعَلَى غَنِيٍّ
Ya Allah, segala puji bagi-Mu (atas sedekahku yang salah) atas pencuri, atas wanita pezina dan atas orang kaya itu. (sekiranya hal itu terjadi semua atas kehendak-Mu)

Maka laki-laki itu (susah dengan kejadian tersebut) lalu didatangkanlah (sebuah mimpi dalam tidurnya malam itu) kemudian dikatakanlah kepadanya :
أَمَّا صَدَقَتُكَ عَلَى سَارِقٍ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعِفَّ عَنْ سَرِقَتِهِ وَأَمَّا الزَّانِيَةُ فَلَعَلَّهَا أَنْ تَسْتَعِفَّ عَنْ زِنَاهَا وَأَمَّا الْغَنِيُّ فَلَعَلَّهُ يَعْتَبِرُ فَيُنْفِقُ مِمَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ
Adapun sedekahmu kepada pencuri maka (telah diterima Allah) karena (dengan sedekah itu) ia terhindar dari perbuatan mencuri (yang menjadi pekerjaan)nya. Adapun wanita pezina itu maka (telah diterima Allah) karena (dengan sedekah itu) ia terhindar dari zina (yang menjadi pekerjaan)nya. Sementara orang kaya itu maka (telah diterima Allah) karena ia dapat mengambil pelajaran sehingga ia mau berinfak sebagian rizki yang telah diberikan Allah kepada-Nya”. [3]

Imam Muslim juga mencantumkan hadits tersebut dalam kitab jami’nya dengan memberi judul :
بَاب ثُبُوتِ أَجْرِ الْمُتَصَدِّقِ وَإِنْ وَقَعَتْ الصَّدَقَةُ فِي يَدِ غَيْرِ أَهْلِهَا
Bab, Tetapnya pahala orang yang bersedekah meskipun sedekahnya jatuh ke tangan yang tidak berhak (bukan ahli sedekah).
Dan dalam bab tersebut hanya berisi satu hadits yaitu hadits tentang sedekah kepada pencuri, pezina dan orang kaya di atas. [4]

Keberadaan sedekah yang tidak sia-sia meskipun yang menerimanya adalah orang yang tidak dikehendaki tercermin dalam hadits utama di atas. Hadits tersebut diriwayatkan dari Ma’n bin Yazid RA (Panglima perang romawi di era khalifah mu’awiyah) di atas. Asbabul wurud dari hadits tersebut adalah sebagaimana dikisahkan langsung oleh Ma’n bin Yazid RA bahwa suatu ketika “Ayahku (Yazid) hendak memberikan beberapa dinar (kurs 1 dinar zaman now = Rp. 2.2 Juta dan 1 dinar zaman Rasul =  harga seekor kambing) untuk sedekah, lalu dinar-dinar itu (dititipkannya) kepada seseorang yang ada di dalam masjid (untuk diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan). Lalu Aku (Ma’n anak Yazid) datang (kepada orang tadi) untuk menerima (bagian) sedekah tersebut, kemudian aku menemui ayahku dengan dinar-dinar sedekah tadi. Ayah berkata: “Demi Allah, bukan engkau yang aku kehendaki – untuk diberi sedekah itu.” Selanjutnya hal itu aku adukan kepada Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda dengan hadits di atas [5]

Ibnu Hajar Al-Asqalany berkata : Hadits ini menyiratkan bolehnya istikhlaf (mewakilkan) dalam sedekah, terutama sedekah sunnah karena di dalam istikhlaf tersebut terdapat usaha menjadikannya sebagai sedekah sirri (rahasia)... Begitu pula menyiratkan bahwa ayah tidak boleh menarik kembali sedekah kepada anaknya berbeda dengan hibah [Fathul Bari]

Sedekah secara etimologi berasal dari bahasa arab “Shadaqah” merupakan derivasi dari kata “shidq” yang berarti kesungguhan, hal ini dikarenakan sedekah merupakan wujud kesungguhan dari keimanan orang yang bersedekah. Adapun secara terminologi, sedekah berarti beribadah kepada Allah dalam wujud berinfaq harta tanpa ada kewajiban dalam syariat [Fathul Qadir] Allah swt berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ
“Wahai orang orang yang beriman !. Infakkanlah sebagian dari rizki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan dan tidak ada lagi syafaat (pertolongan). [6]. Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari menjadikan kita sebagai ahli sedekah tanpa mencari-cari alasan sebagai pembenaran atas sikap pelit kita yang mungkin masih menguasai diri kita.


Salam Satu Hadits,
DR.H.Fathul Bari. SS., M.Ag
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jawa Timur Indonesia

Artikel di atas bisa anda dapatkan versi bukunya
Lengkap dengan semua harakat dan referensinya dalam
BUKU ONE DAY ONE HADITH
sistem SPA (Singkat, Padat, Akurat). SINGKAT karena  Didesain sekali duduk bisa selesai baca satu judul ::PADAT karena  Tidak bertele-tele dan  AKURAT karena disertai referensinya

ONE DAY#1 *INDAHNYA HIDUP BERSAMA RASUL SAW* ISBN : 9786027404434
ONE DAY#2 *MOTIVASI BAHAGIA DARI RASUL SAW* ISBN : 9786026037909
ONE DAY#3 *TAMAN INDAH MUSTHAFA SAW* ISBN : 9786026037923
(Pre Order) ONE DAY#4 *TAFAKKUR ZAMAN NOW*, ISBN: 978-602-60379-5-4
Bisa dapat harga promo dan kirim via tiki/JNE silahkan hub. Ust. Muadz 08121674-2626

Referensi
[1].............
----terpotong----

0 komentar:

Post a Comment