ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :
مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ
لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا
دِرْهَمٌ
Barangsiapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, maka
hendaklah ia meminta kehalalan darinya (di dunia). Karena sesungguhnya di sana
(akhirat) tidak ada dinar dan tidak ada dirham. [HR Bukhari]
Catatan Alvers
Setiap orang pasti pernah di dzalimi dan setiap orang yang di
dzalimi pasti ingin menuntut pembalasan atas kedzaliman tersebut. Namun
ketahuilah bahwa di dunia ini seseorang sulit bisa membalas kedzaliman orang
lain kepadanya dengan setimpal karena tidak ada hukum yang benar-benar adil
yang memuaskan. Sering kali, para pelaku kejahatan besar, seperti perampok atau
pemerkosa, tidak mendapatkan hukuman yang setimpal. Dan memang demikian,
lihatlah seorang pembunuh yang membunuh satu keluarga yang terdiri dari 6
orang, dia akan dihukum mati. Namun 6 Nyawa dibayar dengan 1 nyawa, apakah itu adil
dan setimpal? Tentuk tidak adil namun itulah hukuman dunia, tidak bisa berbuat
lebih dari itu. Belum lagi seorang mafia besar, dengan ratusan pengawal dan di back-up
oleh penguasa maka perbuatan dzalimnya akan sulit dibalaskan baik secara hukum
negara maupun hukum rimba.
Hari kiamat adalah hari dimana setiap kedzaliman akan
diberikan balasan yang setimpal dan seadil-adilnya. Orang yang tidak percaya
dengan hari kiamat, ia akan hidup tersiksa secara batin karena ia tidak menemukan
hukum yang adil dan setimpal atas kedzaliman yang menimpa dirinya betapapun pengadilan
telah memihak kepadanya. Lantas bagaimana dengan orang yang di dzalimi lalu
tidak mampu membawa hal itu ke pengadilan hukum negara atau ia tidak mampu membalaskannya
secara hukum rimba sebagaimana contoh di atas?.
Adapun bagi orang yang beriman, maka tatkala ia mendapatkan ketidak
adilan hukum di dunia maka hatinya bisa tenang karena ia yakin bahwa masih ada hari
kiamat dimana semua kedzaliman akan dibalaskan dengan seadil-adilnya. Allah SWT
berfirman :
الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ
بِمَا كَسَبَتْ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Pada hari itu, setiap orang akan diberi balasan sesuai
perbuatannya. Tidak ada yang terdzalimi pada hari tersebut. Sesungguhnya Allah
amat cepat hisabnya. [QS al- Mu’min : 17].
Dan Allah SWT juga berfirman :
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ
مِثْلُهَا
"Dan balasan dari suatu kejahatan adalah kejahatan yang
serupa (setimpal). [QS Asy-Syura : 40]
Hukuman akhirat akan mudah terlaksana karena manusia akan
hidup kekal di akhirat. Jika seseorang membunuh 10 orang maka ia akan
mendapatkan hukuman yang setimpal. Ia akan merasakan sakitnya 10 yang ia siksa
ketika di dunia karena ia tak akan mati dengan siksaan tersebut. Sebagai
gambaran, Rasul SAW bersabda :
مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ
فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَتَوَجَّأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا
“Barangsiapa yang bunuh diri dengan besi (pisau), maka kelak besi
itu akan berada di tangannya dan akan selalu ia arahkan untuk menikam perutnya di
neraka Jahanam secara terus-menerus dan ia kekal di dalamnya. [HR Muslim]
Dalam lanjutan hadits disebutkan : “Barangsiapa yang bunuh
diri dengan cara meminum racun maka ia akan selalu menghirupnya di neraka
Jahannam dan ia kekal di dalamnya. Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara
terjun dari atas gunung, maka ia akan selalu terjun ke neraka Jahanam dan dia
kekal di dalamnya”. [HR Muslim]
Maka tiada keamanan bagi pelaku kedzaliman dari pembalasan
Allah kelak di hari kiamat. Itulah kenapa Nabi SAW mengingatkan kita pada
hadits utama : “Barangsiapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, maka hendaklah
ia meminta kehalalan darinya (di dunia). Karena sesungguhnya di sana (akhirat)
tidak ada dinar dan tidak ada dirham”. [HR Bukhari] Dalam lanjutan hadits,
Rasul SAW bersabda : “Sebelum (pahala) kebaikan-kebaikannya diambil untuk
diberikan kepada saudaranya (yang terdzalimi). Jika ia tidak memiliki kebaikan,
maka keburukan saudaranya diambil lalu dibebankan kepadanya.” [HR Bukhari]
Dari adilnya hukum di akhirat, Allah SWT tidak hanya
membalaskan kedzaliman yang di lakukan manusia kepada manusia yang lain akan
tetapi juga membalaskan kedzaliman binatang kepada binatang lainnya. Pada suatu
hari ketika Rasul SAW sedang duduk-duduk (bersama para sahabat), ada dua
kambing bertemu lalu salah satunya menanduk yang lainnya sehingga jatuh. lalu
Rasul SAW pun tertawa. Maka ada yang bertanya : “Wahai Rasulullah, apa yang
menyebabkanmu tertawa?” Beliau menjawab :
عَجِبْتُ لَهَا وَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ لَيُقَادَنَّ لَهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Aku takjub dengan kambing itu. Demi jiwaku yang berada di
tangan-Nya, sungguh kambing itu akan diberi balasannya pada hari kiamat.” [HR
Ahmad ]
Rasul SAW juga bersabda :
لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى
أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنْ
الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ
“Sungguh, besok pada hari kiamat semua hak akan ditunaikan
kepada pemiliknya, sehingga kambing yang tak bertanduk diberi kesempatan untuk
membalas kepada kambing yang bertanduk (yang dulu menanduknya). [HR Muslim]
Semua makhluk akan dikumpulkan pada hari kiamat, binatang
ternak, hewan melata, burung-burung, dan segala sesuatu, sehingga dari adilnya
Allah, hewan bertanduk (yang dulu pernah menanduk) akan diberi balasan atas
hewan yang tak bertanduk. Kemudian (setelah semua diberikan balasannya) maka
Allah berfirman, “Kalian semua, jadilah debu.” Di saat itulah orang kafir
berkata:
يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا
“Aduhai (betapa
enaknya) andai aku jadi debu (seperti hewan itu).” [HR Hakim]
Inilah penjelasan dari sisi kesamaan hewan dengan manusia
dalam firman Allah SWT :
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ
وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا
فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ
Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung
yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kalian.
Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam al-Kitab (Lauh Mahfudz), kemudian kepada
Tuhanlah mereka dikumpulkan. [QS Al-An’am : 38].
Wallahu
A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk tidak berlaku
dzalim kepada orang lain dan ketika kita yang di dzalimi maka kita tidak sibuk
untuk balas dendam karena ada Allah yang akan membalaskannya di akhirat nanti.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!
NB.
Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata :
“Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata :
(1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]






0 komentar:
Post a Comment