إنَّ اللّهَ أَوْحَىٰ إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّىٰ لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ علىٰ أَحَدٍ، وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَىٰ أَحَدٍ

"Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menyuruh kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya di hadapan orang lain, dan tidak seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain." [HR Muslim]

أَرْفَعُ النَّاسِ قَدْرًا : مَنْ لاَ يَرَى قَدْرَهُ ، وَأَكْبَرُ النَّاسِ فَضْلاً : مَنْ لَا يَرَى فَضْلَهُ

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah melihat kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah melihat kemuliannya (merasa mulia).” [Syu’abul Iman]

الإخلاص فقد رؤية الإخلاص، فإن من شاهد في إخلاصه الإخلاص فقد احتاج إخلاصه إلى إخلاص

"Ikhlas itu tidak merasa ikhlas. Orang yang menetapkan keikhlasan dalam amal perbuatannya maka keihklasannya tersebut masih butuh keikhlasan (karena kurang ikhlas)." [Ihya’ Ulumuddin]

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur." [HR Muslim]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu.”[HR Ahmad]

Thursday, January 15, 2026

PERJALANAN MENAKJUBKAN

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda:

أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ

Aku didatangi buraq, ia adalah hewan tunggangan berwarna putih yang tinggi, lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari baghal (keturunan silang antara kuda betina dan keledai jantan), yang dapat meletakkan kakinya di arah pandangan terjauhnya. Lalu aku menaikinya hingga sampailah aku di Baitul Maqdis.”[HR Muslim]

 

Catatan Alvers

 

Tanggal 27 Rajab adalah hari yang sangat penting dan bersejarah bagi umat Islam sebab 14 abad yang silam saat itu Rasul SAW mendapatkan wahyu dari Allah SWT berupa risalah shalat dalam sebuah ritus spiritual yang jamak dikenal dengan istilah Isra’ Mi’raj.  Dijelaskan dalam Thabaqat al-Qubra, peristiwa ini di bulan Rajab, 18 bulan sebelum hijrah. Menukil pendapat ibnu dihyah dalam kitab as-sirah al-halabiyah, isra’ dan mi’raj terjadi pada hari senin, ini semakin menguatkan nilai sejarah hari senin, karena pada hari senin itu Rasul lahir, diangkat menjadi rasul, keluar dari makkah (hijrah), sampai di madinah, bahkan wafat juga pada hari senin. 

 

Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha (Palestina) yang berjarak sekitar 1.200 KM. Sedangkan Mi’raj adalah dinaikkannya Nabi Muhammad SAW ke langit hingga Sidratul Muntaha yang mana jaraknya sangat jauh. Sebagai gambaran saja bahwa jarak rata-rata bumi dan matahari saja mencapai 149.600.000 KM. Menariknya, Keduanya terjadi hanya dalam sekejap yang menurut perhitungan akal, jelas peristiwa tersebut mustahil dilakukan. Peristiwa tersebut merupakan mu’jizat terbesar bagi Nabi Muhammad SAW setelah Al-Qur’an. Ini semua menunjukkan betapa besarnya kekuasaan Allah SWT.

 

Perjalanan tersebut adalah perjalanan yang sungguh menakjubkan. Allah membukanya dengan tasbih sebagaimana dalam Firman-Nya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah Yang telah memper-jalankan hambaNya pada (sebagian) malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat". [QS Al-Isra: 1]

 

Menurut Syeikh Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir al-Khaubawi hal ini mengandung hikmah; Pertama, bahwa kebiasaan bangsa Arab bertasbih di saat menjumpai hal-hal yang menakjubkan, maka lewat firman-Nya itu seolah-olah Allah kagum dengan rasul-Nya yang sempurna kemanusiaannya (al-insan al-kamil) sehingga di perjalankan-Nya secara menakjubkan. Kedua, dengan bertasbih, Allah bermaksud menepis sinisme masyarakat Arab yang menganggap rasul-Nya telah berdusta, sehingga redaksi ayat tersebut berbunyi, ''Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya....''[Durratun Nasihin]

 

Maka Pendekatan yang paling tepat untuk memahami keagungan peristiwa ini adalah pendekatan imaniy. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar As-Shiddiq, seperti terlukis dalam ucapannya:

لَئِنْ قَالَ ذَلِكَ لَقَدْ صَدَقَ

Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benarlah adanya.

Mereka bertanya keheranan : Apakah kau percaya bahwa ia (Rasul) pergi malam hari ke baitul Maqdis dan ia tiba sebelum subuh? Maka Abu Bakar kembali menjawab :

نَعَمْ، إِنِّي أُصَدِّقُهُ فِيمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ

" Ya, sungguh aku akan mempercayainya bahkan terhadap hal yang lebih jauh dari itu (perjalanan masjidil Haram- Masjidil Aqsa).” [HR Al-Hakim]

 

Dari peristiwa inilah kemudian beliau diberi gelar as-shiddiq yang artinya adalah orang yang mempercayai apa yang datang dari Rasul SAW dengan sungguh-sungguh.

 

Mengenai perjalanan Isra’ sendiri, Rasul SAW mengisahkan sebagaimana dalam hadits utama : “(Jibril) telah datang kepadaku bersama Buraq, yaitu hewan putih yang tinggi, lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari baghal (keturunan silang antara kuda betina dan keledai jantan), yang dapat meletakkan kakinya pada pandangan terjauhnya.” “Lalu aku menaikinya hingga sampailah aku di Baitul Maqdis. “lalu aku mengikatnya dengan tali yang biasa dipakai oleh para Nabi.” “Kemudian aku masuk ke masjid al-Aqsha dan aku shalat dua raka’at di sana, lalu aku keluar. Kemudian Jibril AS membawakan kepadaku satu gelas khamr dan satu gelas susu, maka aku memilih susu, lalu Jibril berkata kepadaku:

اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ

‘Engkau telah memilih fitrah (kesucian).”[HR Muslim]

 

Dan ketika mi’raj, Rasul SAW mendapatkan perintah shalat pada awalnya berjumlah 50 waktu. Ketika Nabi Muhammad SAW hendak turun beliau bertemu dengan Nabi Musa AS, Atas saran Nabi Musa AS, Nabi Muhammad SAW berulangkali menghadap Allah SWT untuk memberikan keringanan, yang akhirnya Allah memberikan keringanan hingga menjadi 5 waktu untuk setiap harinya. Rasul SAW bersabda: “Aku terus bolak-balik antara Rabb-ku dengan Musa AS sehingga Rabb-ku mengatakan:

يَا مُحَمَّدُ، إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ صَلاَةٍ عَشْرٌ فَذَلِكَ خَمْسُوْنَ صَلاَةً.

Wahai Muhammad, sesungguhnya kewajiban shalat itu lima kali dalam sehari semalam, setiap shalat mendapat pahala sepuluh kali lipat, maka lima kali shalat sama dengan lima puluh kali shalat. [HR Muslim]

 

Rasulullah SAW melanjutkan kisahnya: “Kemudian aku turun aku bertemu Musa AS (kembali), lalu aku beritahukan kepadanya, maka ia mengatakan:

ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ

Kembalilah kepada Rabb-mu dan mintalah keringanan lagi.

Rasulullah SAW berkata: “Lalu aku menjawab:

قَدْ رَجَعْتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ

Aku telah berulang kali kembali kepada Rabb-ku hingga aku merasa malu kepada-Nya. [HR Muslim] Wallahu A’lam.

 

Semoga dengan memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj ini kita semua menjadi hamba-hamba yang beriman kepada Allah swt dan semakin percaya akan kemaha kuasaan-Nya serta lebih semangat untuk mengerjakan sholat lima waktu.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]


Artikel adalah perbaikan dari artikel odoh sebelumnya berjudul Black Box Isra' Mi'raj

Monday, January 5, 2026

KAMBINGPUN AKAN DIADILI

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ

Barangsiapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, maka hendaklah ia meminta kehalalan darinya (di dunia). Karena sesungguhnya di sana (akhirat) tidak ada dinar dan tidak ada dirham. [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Setiap orang pasti pernah di dzalimi dan setiap orang yang di dzalimi pasti ingin menuntut pembalasan atas kedzaliman tersebut. Namun ketahuilah bahwa di dunia ini seseorang sulit bisa membalas kedzaliman orang lain kepadanya dengan setimpal karena tidak ada hukum yang benar-benar adil yang memuaskan. Sering kali, para pelaku kejahatan besar, seperti perampok atau pemerkosa, tidak mendapatkan hukuman yang setimpal. Dan memang demikian, lihatlah seorang pembunuh yang membunuh satu keluarga yang terdiri dari 6 orang, dia akan dihukum mati. Namun 6 Nyawa dibayar dengan 1 nyawa, apakah itu adil dan setimpal? Tentuk tidak adil namun itulah hukuman dunia, tidak bisa berbuat lebih dari itu. Belum lagi seorang mafia besar, dengan ratusan pengawal dan di back-up oleh penguasa maka perbuatan dzalimnya akan sulit dibalaskan baik secara hukum negara maupun hukum rimba.

 

Hari kiamat adalah hari dimana setiap kedzaliman akan diberikan balasan yang setimpal dan seadil-adilnya. Orang yang tidak percaya dengan hari kiamat, ia akan hidup tersiksa secara batin karena ia tidak menemukan hukum yang adil dan setimpal atas kedzaliman yang menimpa dirinya betapapun pengadilan telah memihak kepadanya. Lantas bagaimana dengan orang yang di dzalimi lalu tidak mampu membawa hal itu ke pengadilan hukum negara atau ia tidak mampu membalaskannya secara hukum rimba sebagaimana contoh di atas?.

 

Adapun bagi orang yang beriman, maka tatkala ia mendapatkan ketidak adilan hukum di dunia maka hatinya bisa tenang karena ia yakin bahwa masih ada hari kiamat dimana semua kedzaliman akan dibalaskan dengan seadil-adilnya. Allah SWT berfirman :

الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ  لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ  إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Pada hari itu, setiap orang akan diberi balasan sesuai perbuatannya. Tidak ada yang terdzalimi pada hari tersebut. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya. [QS al- Mu’min : 17].

 

Dan Allah SWT juga berfirman :

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا

"Dan balasan dari suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa (setimpal). [QS Asy-Syura : 40]

 

Hukuman akhirat akan mudah terlaksana karena manusia akan hidup kekal di akhirat. Jika seseorang membunuh 10 orang maka ia akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Ia akan merasakan sakitnya 10 yang ia siksa ketika di dunia karena ia tak akan mati dengan siksaan tersebut. Sebagai gambaran, Rasul SAW bersabda :

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَتَوَجَّأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا

“Barangsiapa yang bunuh diri dengan besi (pisau), maka kelak besi itu akan berada di tangannya dan akan selalu ia arahkan untuk menikam perutnya di neraka Jahanam secara terus-menerus dan ia kekal di dalamnya. [HR Muslim]

Dalam lanjutan hadits disebutkan : “Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara meminum racun maka ia akan selalu menghirupnya di neraka Jahannam dan ia kekal di dalamnya. Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara terjun dari atas gunung, maka ia akan selalu terjun ke neraka Jahanam dan dia kekal di dalamnya”. [HR Muslim]

 

Maka tiada keamanan bagi pelaku kedzaliman dari pembalasan Allah kelak di hari kiamat. Itulah kenapa Nabi SAW mengingatkan kita pada hadits utama : “Barangsiapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, maka hendaklah ia meminta kehalalan darinya (di dunia). Karena sesungguhnya di sana (akhirat) tidak ada dinar dan tidak ada dirham”. [HR Bukhari] Dalam lanjutan hadits, Rasul SAW bersabda : “Sebelum (pahala) kebaikan-kebaikannya diambil untuk diberikan kepada saudaranya (yang terdzalimi). Jika ia tidak memiliki kebaikan, maka keburukan saudaranya diambil lalu dibebankan kepadanya.” [HR Bukhari]

 

Dari adilnya hukum di akhirat, Allah SWT tidak hanya membalaskan kedzaliman yang di lakukan manusia kepada manusia yang lain akan tetapi juga membalaskan kedzaliman binatang kepada binatang lainnya. Pada suatu hari ketika Rasul SAW sedang duduk-duduk (bersama para sahabat), ada dua kambing bertemu lalu salah satunya menanduk yang lainnya sehingga jatuh. lalu Rasul SAW pun tertawa. Maka ada yang bertanya : “Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkanmu tertawa?” Beliau menjawab :

عَجِبْتُ لَهَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُقَادَنَّ لَهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Aku takjub dengan kambing itu. Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh kambing itu akan diberi balasannya pada hari kiamat.” [HR Ahmad ]

 

Rasul SAW juga bersabda :

لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنْ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ

“Sungguh, besok pada hari kiamat semua hak akan ditunaikan kepada pemiliknya, sehingga kambing yang tak bertanduk diberi kesempatan untuk membalas kepada kambing yang bertanduk (yang dulu menanduknya). [HR Muslim]

 

Semua makhluk akan dikumpulkan pada hari kiamat, binatang ternak, hewan melata, burung-burung, dan segala sesuatu, sehingga dari adilnya Allah, hewan bertanduk (yang dulu pernah menanduk) akan diberi balasan atas hewan yang tak bertanduk. Kemudian (setelah semua diberikan balasannya) maka Allah berfirman, “Kalian semua, jadilah debu.” Di saat itulah orang kafir berkata:

يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا

 “Aduhai (betapa enaknya) andai aku jadi debu (seperti hewan itu).” [HR Hakim]

 

Inilah penjelasan dari sisi kesamaan hewan dengan manusia dalam firman Allah SWT :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kalian. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam al-Kitab (Lauh Mahfudz), kemudian kepada Tuhanlah mereka dikumpulkan. [QS Al-An’am : 38].

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk tidak berlaku dzalim kepada orang lain dan ketika kita yang di dzalimi maka kita tidak sibuk untuk balas dendam karena ada Allah yang akan membalaskannya di akhirat nanti.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Monday, December 29, 2025

AKIBAT MELUDAHI ORANG

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Anas RA, Rasul SAW bersabda :

بَابَانِ مُعَجَّلَانِ عُقُوْبَتُهُمَا فِى الدُّنْيَا اَلْبَغْيُ وَالْعُقُوْقُ

“Ada dua pintu yang balasannya disegerakan di dunia yaitu perbuatan dzalim dan durhaka.” [HR al-Hakim]

 

Catatan Alvers

 

Viral video seorang pria dengan arogan meludahi kasir wanita di salah satu swalayan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Rabu (24/12/2025). Ia tidak terima ditegur oleh kasir lantaran menyerobot antrean ketika hendak membayar belanjaan. Belakangan terungkap bahwa pria tersebut adalah seorang dosen di Universitas Islam Makassar (UIM). [Kompas com] Buntut aksi arogannya ia resmi dipecat secara tidak hormat oleh Rektor karena tindakannya dinilai melanggar etika berat dan mencoreng nama baik institusi. Dosen bergelar Doktor ini juga terancam pidana setelah korban melaporkan dugaan penghinaan tersebut ke Polsek Tamalanrea. [Metrotvnews com] Ia adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang diperbantukan sebagai dosen dan telah mengabdi kurang lebih 20 tahun di Kampus UIM Makassar. bahkan sudah mendapatkan penghargaan dari Presiden dalam pengabdiannya yang cukup lama itu. [Kompas com] Kejadian tersebut memberikan pelajaran kepada kita bahwa ternyata prestasi dan penghargaan tidak menghalangi jatuhnya karma karena perbuatan dzalim kepada orang lain.

 

Kasus meludahi orang lain seperti di atas mengingatkan penulis pada kejadian yang menipa Nabi SAW. Pelakunya adalah Uqbah bin Abi Muayth yang digelari sebagai “Asyqal Qawm” (orang yang paling celaka dari kaum quraisy) karena menyakiti Nabi SAW. [Syarah Muslim] dan dalam riwayat lain disebut ayahnya yaitu Abi Muayth. [Subulul Huda War Rasyad Lis Shalihy] Berikut kisahnya bersama bestinya, Ubayy bin Khalaf. keduanya adalah sahabat karib dan Ibnu Abbas berkata :

وَهُمَا الْخَلِيْلَانِ فِي جَهَنَّمَ

Keduanya adalah sahabat karib di neraka Jahannam. [Tafsir Fathul Qadir]

 

Imam Syawkany meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA : Bahwa Abu Muayt dahulu duduk bersama Nabi SAW di Mekah tanpa menyakitinya, karena ia seorang yang lembut. Sedangkan orang-orang Quraisy lainnya bila duduk bersama Nabi SAW mereka menyakitinya. Abu Muayt memiliki seorang sahabat karib yang sedang bepergian ke Syam. Maka (sepulanya sahabatnya itu) orang-orang Quraisy berkata: “Abu Muayt telah masuk Islam.” Sahabat karibnya itu kembali dari Syam pada malam hari. Ia bertanya kepada istrinya: “Bagaimana keadaan Muhammad dengan apa yang ia bawa?” Istrinya menjawab: “Semakin keras urusannya.” Ia bertanya lagi: “Bagaimana dengan sahabat karibku Abu Muayt?” Istrinya menjawab: “Ia telah masuk Islam.” Maka ia pun melewati malam dengan penuh kegelisahan.

 

Ketika pagi tiba, Abu Muayt mendatanginya dan memberi tahiyyat (penghormatan). Namun sahabatnya tidak menjawab tahiyyat itu. Abu Muayt berkata: “Mengapa engkau tidak menjawab tahiyyat ku?” Sahabatnya menjawab: “Bagaimana aku akan menjawab tahiyyatmu, sedangkan engkau telah masuk Islam?” Abu Muayt berkata: “Apakah benar Quraisy mengatakan demikian?” Sahabatnya menjawab: “Ya.” [Tafsir Fathul Qadir]

 

Abu Muayt berkata : "Tidak, demi Allah aku tidak masuk Islam. Tetapi ada seorang lelaki (Muhammad SAW) masuk ke rumahku, ia enggan makan dari makananku kecuali aku membaca syahadat. Aku malu bila ia keluar dari rumahku sebelum makan, maka aku pun membaca syahadat."  Sahabatnya berkata: "Aku tidak akan ridha kepadamu hingga engkau mendatanginya lalu meludah ke wajahnya." Dalam riwayat lain disebutkan:

تَأْتِيْهِ فِي مَجْلِسِهِ فَتَبْزُقْ فِي وَجْهِهِ وَتَشْتِمْهُ بِأَخْبَثِ مَا تَعْلَمُ مِنَ الشَّتْمِ

“Engkau mendatanginya di tempat duduknya, lalu meludahi wajahnya dan mencacinya dengan seburuk-buruk cacian yang engkau ketahui."

 

Maka ia pun melakukannya dan Rasul tidak membalas selain mengusap wajah beliau dari ludah itu. Dan dalam riwayat lain ketika ‘Uqbah meludah ke wajah Nabi SAW, ludah itu kembali mengenai wajahnya sendiri sehingga ia terkena penyakit belang (barash). Kemudian beliau menoleh kepadanya dan bersabda: “Jika aku mendapati engkau di luar pegunungan Mekah, niscaya aku akan memenggal lehermu dengan sabar (pelan-pelan).” [Subulul Huda]

 

Imam Syawkany melanjutkan kisahnya : Ketika datang hari Badar, dan orang-orang Quraisy keluar, ia enggan untuk ikut. Maka sahabat-sahabatnya berkata kepadanya: “Keluarlah bersama kami.” Ia menjawab: “Orang itu (Muhammad) telah berjanji, jika ia mendapati aku di luar pegunungan Mekah, ia akan memenggal leherku dengan sabar.” Mereka berkata: “Engkau memiliki unta merah yang tidak dapat terkejar. Jika terjadi kekalahan, engkau bisa lari di atasnya.” Maka ia pun keluar bersama mereka. Ketika Allah mengalahkan kaum musyrikin, untanya membawa lari dirinya ke tanah yang berbatu, lalu Rasul SAW menangkapnya sebagai tawanan bersama tujuh puluh orang Quraisy. Kemudian Abu Muayt dihadapkan kepada Nabi SAW. Ia berkata: “Apakah engkau akan membunuhku di antara mereka semua?” Beliau menjawab: “Ya, karena engkau telah meludah ke wajahku.” Maka Allah menurunkan ayat tentang Abu Muayt:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا . يَاوَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا . لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ...

“Dan (ingatlah) hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata: ‘Aduhai, kiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul’. Oh, celaka aku! Sekiranya (dahulu) aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman setia. Sungguh, dia benar-benar telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika telah datang kepadaku... [QS al-Furqan: 27–29] [Tafsir Fathul Qadir]

 

Kalau Uqbah bin Abi Muayth digelari sebagai “Asyqa al-Qawm” (orang yang paling celaka dari kaum quraisy) maka masih ada Asyqa yang lain. Rasul SAW memberikan gelar kepada pembunuh unta Nabi Nuh sebagai “Asyqal Awwalin” (orang yang paling celaka dari umat terdahulu) dan orang yang memukul kepada Sayyidina Ali KW (pembunuhnya) sebagai sebagai “Asyqal Akhirin” (orang yang paling celaka dari umat terakhir) [Lihat Al-Mu’jam Al-Kabir HR Thabrani]

 

Dari kejadian di atas maka kita ketahui bahwa balasan dari perbuatan dzalim itu tidak hanya di akhirat akan tetapi di dunia sudah dibalaskan oleh Allah. Hal ini sesuai dengan hadits utama di mana Rasul SAW bersabda : “Ada dua pintu yang balasannya disegerakan di dunia yaitu perbuatan dzalim dan durhaka.” [HR Bukhari]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk tidak berlaku dzalim kepada orang lain betapapun kita lebih besar darinya karena Allah yang akan membalas setiap kedzaliman di dunia dan di akhirat nanti.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]