Tuesday, February 24, 2026

AUTOPHAGY DALAM PUASA

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Miqdan bin Ma’dy kariba RA, Rasul SAW Bersabda :

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

"Anak Adam tidaklah memenuhi suatu bejana yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah bagi mereka beberapa suap (makanan) yang dapat menegakkan tulangnya. Jika terpaksa, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan" [HR Tirmidzi]

 

Catatan Alvers

 

Seorang ilmuwan biologi sel dan profesor di Institut Sains Tokyo bernama Yoshinori Ohsumi (lahir 1945) [wikipedia] memenangkan hadiah nobel pada tahun 2016 dengan penemuan “Autophagy”. Banyak situs mengulas penemuannya, di antaranya situs health grid id yang mengangkat judul “Authopagi, Konsep Tubuh Melaparkan Diri Sendiri Untuk Perbaikan Sel Sejalan dengan Konsep Puasa, Penemunya Mendapat Hadiah Nobel”.

 

Kata autophagy berasal dari kata Yunani auto yang berarti "diri", dan phagein, yang berarti "makan". Jadi, autophagy berarti "makan diri sendiri". [health grid id] Saat seseorang tidak makan dalam beberapa jam maka sel akan memakan dirinya sendiri. sel yang baik akan memakan sel yang rusak. Dengan demikian sel akan “membersihkan” dan mendaur ulang bagian yang rusak. Inilah yang disebut dengan Autophagy. Ia sering dikaitkan  dikaitkan dengan : Regenerasi sel, Mengurangi stres oksidatif, Membantu tubuh bekerja lebih optimal. Ternyata puasa bukan cuma soal menahan lapar,
tapi juga kasih waktu tubuh buat “reset”. [ig
proem1indonesia]

 

Dengan manfaat puasa seperti itu, saya teringat hadits yang statusnya sering diperdebatkan, yaitu :

صُومُوْا تَصِحُّوا

Berpuasalah, niscaya kalian sehat. [Ihya Ulumuddin]

 

Hadits itu dikutip oleh Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin tepatnya pada bab Bayan Fawa’idil Ju’ (keutamaan lapar). Dan Al-Iraqi berkata : Hadits tersebut dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Al-Awsath dan Abu Nu’aim dalam At-Thibb An-nabawy dari Abu Hurairah dengan sanad Dla’if (lemah). [Takhrij Ahaditsil Ihya’] Demikian pula dikutip oleh Imam Suyuthi dalam Al-Jami’ As-Shagir dan Al-Munawi menilai sanadnya dengan status lemah. [At-Taysir bi Syarhil Jami’ As-Shagir] dan demikian pula Al-Albani juga menilainya sebagai hadits dla’if. Ia menambahkan : Pendla’ifan hadits tersebut tidak dapat dinafikan oleh perkataan Al-Mundziri dan Al-Haytsami yang menyatakan bahwa perawinya tsiqah karena hal itu tidak menafikan adanya ‘illat (cacat) dalam sanad meskipun para perawinya tsiqah, sebagaimana jelas bagi orang yang memahami kaidah ilmu hadits. Dan Mungkin al-Shaghani terlalu berlebihan ketika mengatakan: ‘Hadis ini mawdlu‘ (palsu). [As-Silsilah Ad-Dla’ifah]

 

Oleh karena hadits tersebut berstatus dla’if bukan mawdlu’ maka hadits tersebut masih bisa dipergunakan. Ibnu Hajar al-Haitami (w. 1566 M ) berkata :

قَدِ اتَّفَقَ العُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ العَمَلِ بِالحَدِيثِ الضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ الأَعْمَالِ

Para ulama sepakat atas bolehnya mengamalkan hadits dla’if dalam fadlailul a’mal (keutamaan amalan).

Karena jika hadits tersebut ternyata benar, maka sudah seharusnya diamalkan. Dan jika ternyata tidak benar, maka pengamalan terhadap hadits tersebut tidaklah mengakibatkan kerusakan (mafsadah) dengan menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal, dan tidaklah menyia-nyiakan hak orang lain. [Fathul Mubin Fi Syarhil Arbain]

 

Dengan demikian pula jauh sebelum Yoshinori Ohsumi menjelaskan autopagi, Nabi SAW telah menjelaskan manfaat kesehatan dari puasa, Banyak juga para ulama mengulasnya hadits tersebut. Diantaranya adalah Al-Harali (w. 1240 M). Ia berkata: “pada hadits tersebut terdapat isyarat bahwa orang yang berpuasa akan memperoleh banyak kebaikan pada tubuhnya, kesehatannya, dan rezekinya, di samping pahala besar di akhirat.” [Faidlul Qadir]

 

Ulama mesir, Rasyid Ridla (w. 1935 M) berkata : “Di antara manfaat kesehatan dari puasa adalah bahwa ia menghancurkan zat-zat yang mengendap dalam tubuh, terutama pada tubuh orang-orang yang hidup mewah, rakus, dan sedikit bekerja. Puasa mengeringkan kelembapan yang berbahaya, membersihkan usus dari kerusakan pencernaan dan racun yang ditimbulkan oleh kekenyangan, serta melelehkan lemak atau mencegah penumpukannya di perut yang sangat berbahaya bagi jantung. Puasa itu seperti melatih kuda yang menjadikannya lebih kuat untuk maju dan mundur... Sebagian dokter Eropa berkata :

إِنَّ صِيَامَ شَهْرٍ وَاحِدٍ فِي السَّنَةِ يَذْهَبُ بِالفُضْلَاتِ المَيِّتَةِ فِي البَدَنِ مُدَّةَ سَنَةٍ

Sesungguhnya puasa satu bulan dalam setahun dapat menghilangkan sisa-sisa zat mati dalam tubuh selama setahun.” [Tafsir Al-Manar]

 

DR Wahbah Az-Zuhayli (w. 2015 M) ulama dari suriah berkata : “Di antara manfaat terbesar puasa adalah bahwa ia memperbarui tubuh, menguatkan kesehatan, membersihkan jasad dari endapan dan fermentasi yang berbahaya, memberi istirahat bagi anggota tubuh, serta menguatkan daya ingat apabila seseorang meneguhkan tekadnya dan mencurahkan dirinya untuk pekerjaan akalnya tanpa disibukkan oleh kenikmatan jasmani… Semua manfaat jasmani, rohani, kesehatan, dan sosial ini bergantung pada sikap moderat dalam makan saat berbuka dan sahur. Jika seseorang berlebihan hingga kekenyangan dan tidak menjaga keseimbangan dalam makan dan minum, maka keadaan akan berbalik menjadi bencana, kesulitan, dan bahaya.” [Tafsir Al-Munir]

 

Dengan demikian puasa akan bermanfaat bagi kesehatan jika seseorang tidak balas dendam dalam makan di malam harinya. Hal ini sesuai dengan syarat yang dikemukakan oleh Az-Zuhaily di atas dan sesuai dengan hadits utama yaitu : "Anak Adam tidaklah memenuhi suatu bejana yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah bagi mereka beberapa suap (makanan) yang dapat menegakkan tulangnya. Jika terpaksa, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan" [HR Tirmidzi]

 

Ar-Raghib Al-Ashfihani, Ulama asal Iran (W. 1109 M) berkata : “Sedikit makan dapat melemahkan syahwat, dan untuk melemahkannya Allah memerintahkan dalam setiap syariat dengan puasa, agar hal itu menjadi sebab untuk menahannya dari apa yang diserukan oleh syahwat.

فَلَا تَكُونَ كَالْبَهَائِمِ الَّتِي تَأْكُلُ مَا تَشْتَهِي

“Sehingga manusia tidak seperti hewan yang makan apa saja yang diinginkannya”.

 Dan Rasul SAW mengisyaratkan hal ini dengan sabdanya : ‘Berpuasalah, niscaya kalian sehat.’ Sesungguhnya dalam puasa terdapat kesehatan bagi tubuh dan kesehatan bagi jiwa.” [Tafsir Ar-Raghib Al-Ashfihani]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk berpuasa karena Allah dan menjalani sesuai dengan tuntunan dan adab yang disampaikan oleh Nabi SAW sehingga kita mendapatkan manfaat dari puasa baik di dunia maupun di akhirat.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

0 komentar:

Post a Comment