Monday, March 18, 2024

PERUMPAMAAN LEBAH

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru  RA, Rasul SAW bersabda :

إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تُكْسرْ وَلَمْ تفْسدْ

 “Sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah. Ia selalu memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik. Ia hinggap (di ranting) namun tidak membuatnya patah dan rusak.” [HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Lebah dijadikan perumpamaan dari kondisi seorang mukmin. Dalam hadits di atas, Rasul SAW menyebutkan dua perkara. Pertama, lebah selalu memakan yang baik. Lihatlah lebah, Ia hanya mendatangi bunga-bunga atau tempat bersih lainnya yang mengandung madu atau nektar. Ia tidak pernah terlihat hinggap di tempat sampah atau kotoran. Seperti itu pula seharusnya seorang mukmin, ia hanya memakan makanan yang halal lagi baik yang dihasilkan dari pekerjaan yang halal dan baik serta menjauhi makanan haram.  Allah SWT berfirman :

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا

“Makanlah kalian semua dari rezeki Allah yang halal lagi baik” [QS An-Nahl: 114]

Kedua, lebah itu tatkala hinggap di pohon dan bunga ia tidak membuat kerusakan di sana, ia tidak membuat ranting patah ataupun bunga menjadi rusak. Bahkan kedatangannya membawa manfaat, ia membantu bunga-bunga untuk proses penyerbukan sehingga tumbuhan bisa berkembang biak. Seorang mukminpun hendaknya demikian, ia tidak melakukan kerusakan di muka bumi yang mendatangkan kerugian baik material maupun non-material, hal ini sebagaimana dilarang oleh Allah SWT :

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا

"Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. ..." [QS Al-A'raf: 56]

Sebaliknya, ia harus menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lainnya. Nabi SAW bersabda :

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lainnya. [HR Thabrani]

Lebih dari itu, lebah menghasilkan madu yang bisa menjadi obat. Allah SWT berfirman :

يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ

“Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia...” [QS An-Nahl : 69]

 

Dahulu ada seseorang datang kepada Rasul SAW seraya berkata, “Sesungguhnya saudaraku perutnya mulas (diare).” Maka beliau bersabda, “Minumkan madu kepadanya,” kemudian orang itu memberinya madu. Kemudian orang itu datang lagi seraya berkata, “Ya Rasul aku telah memberinya madu, tetapi perutnya bertambah mulas.” Rasul bersabda, “Pergilah dan minumkan lagi madu kepadanya.” Maka orang itu pergi dan memberinya lagi madu, kemudian orang itu datang lagi seraya berkata, “Ya Rasul, perutnya justru bertambah mulas,” kemudian Rasul bersabda :

صَدَقَ اللّٰهُ وَكَذَبَ بَطْنُ اَخِيْكَ

“Allah benar dan perut saudaramu berdusta”.

Pergilah dan beri madu lagi saudaramu itu.” Lalu orang itu pergi dan memberinya lagi madu, kemudian ia pun sembuh.” [HR Bukhari]

 

Dalam hadits lain disebutkan :

اَلشِّفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ: فِي شَرْطَةِ مَحْجَمٍ اَوْ شُرْبَةِ عَسَلٍ اَوْ كَيَّةٍ بِنَارٍ وَأَنَا أَنْهَى اُمَّتِي عَنِ الْكَيِّ

 “Obat itu ada tiga perkara yaitu mengeluarkan darah dengan bekam, minum madu dan Kayya (membakar kulit dengan panas), dan aku melarang umatku melakukan kayy.” [HR Bukhari]

 

Karena ada ayat yang menyatakan bahwa madu menjadi obat maka Ibnu umar tidaklah terkena borok atau lainnya melainkan ia mengobatinya dengan madu. Ia pernah memiliki bisul dan iapun mengolesinya dengan madu. [Hasyiyah As-Shawi] Madu menjadi obat, baik secara murni ataupun dengan dicampur. Auf bin Malik al-Asyja’iy ketika sakit, ada orang yang menawarkan obat. Orang itu berkata : Datangkanlah air kepadaku karena Allah berfiman : “Aku menurunkan dari langit air yang berkah”. Lalu datangkan lagi madu karena Allah berfirman : “Di dalamnya terdapat obat”. Dan datangkan pula minyak zaitun, karena Allah berfirman : “ia berasal dari pohon yang diberkahi”. Setelah semua didatangkan maka orang itu mencampurkannya. Lalu racikan itu diminum oleh Auf dan iapun sembuh dari sakitnya. [Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an]

 

Jika lebah mengeluarkan madu yang menjadi obat maka orang mukmin harus mengeluarkan perkataan yang menjadi obat untuk orang lain. Perkataan yang menyejukkan, menentramkan dan menjadikan pendengarnya berlapang hati dan bahagia terlepas apapun yang menimpanya. Tidak semestinya orang mukmin berkata-kata kecuali yang baik. Rasul SAW bersabda :

مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam.” [HR Bukhari]

 

Lebah dijadikan salah satu nama surat dalam Al-Qur’an yaitu An-Nahl. Lebah memiliki keajaiban bukan hanya karena madu yang dihasilkannya yang bisa menjadi makanan dan obat namun masih ada lainnya. Prof. Qurais Shihab mengemukakan diantaranya (1) jenis lebah ada yang jantan dan betina bahkan ada yang bukan jantan dan bukan betina. (2) sarang-sarangnya tersusun dalam bentuk lubang-lubang yang sama bersegi enam dan diselubungi oleh selaput yang sangat halus menghalangi udara atau masuknya bakteri, (3) sistem kehidupannya yang penuh disiplin dan dedikasi di bawah pimpinan seekor "ratu" (4) Ratu tidak hubungan seksual dengan salah satu anggotanya yang berjumlah sekitar tiga puluh ribu ekor. Hal ini dikarenakan sang ratu memiliki rasa "malu". (5) Lebah memiliki bentuk bahasa dan cara berkomunikasi yang unik, Sebagaimana dipelajari oleh seorang ilmuwan Austria, Karl Van Fritch. [Membumikan Al-Qur’an]

 

Lebih lanjut Al-Munawi menjelaskan sisi kesamaan anatara mukmin dan lebah, beliau berkata : “Sisi kesamaannya adalah bahwa lebah itu cerdas, ia jarang menyakiti, rendah (tawadlu), bermanfaat, selalu merasa cukup (qona’ah), bekerja di waktu siang, menjauhi kotoran, makanannya baik, ia tak mau makan dari hasil kerja pihak lain, amat taat kepada pemimpinnya. [Faidlul Qadir]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk meniru kebaikan lebah sehingga kita menjadi mukmin yang diharapkan Nabi SAW.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada supaya sabda Nabi SAW  menghiasi dunia maya dan menjadi amal jariyah kita semua.

0 komentar:

Post a Comment