إنَّ اللّهَ أَوْحَىٰ إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّىٰ لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ علىٰ أَحَدٍ، وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَىٰ أَحَدٍ

"Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menyuruh kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya di hadapan orang lain, dan tidak seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain." [HR Muslim]

أَرْفَعُ النَّاسِ قَدْرًا : مَنْ لاَ يَرَى قَدْرَهُ ، وَأَكْبَرُ النَّاسِ فَضْلاً : مَنْ لَا يَرَى فَضْلَهُ

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah melihat kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah melihat kemuliannya (merasa mulia).” [Syu’abul Iman]

الإخلاص فقد رؤية الإخلاص، فإن من شاهد في إخلاصه الإخلاص فقد احتاج إخلاصه إلى إخلاص

"Ikhlas itu tidak merasa ikhlas. Orang yang menetapkan keikhlasan dalam amal perbuatannya maka keihklasannya tersebut masih butuh keikhlasan (karena kurang ikhlas)." [Ihya’ Ulumuddin]

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur." [HR Muslim]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu.”[HR Ahmad]

Tuesday, May 2, 2023

MUKMIN YANG SEMPURNA

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwatakan dari Ibnu Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda :

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

“Mukmin yang sempurna bukanlah orang yang banyak mencela, bukan pula orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang berkata-kata kotor dan bukan pula jorok perkataannya.” [HR Tirmidzi]

 

Catatan Alvers

 

“Ya ayyuhalladzina amanu” (Wahai orang-orang yang beriman). Kalimat yang merupakan seruan kepada orang yang beriman ini seringkali kita temukan di dalam Al-Qur’an. Bagaiamana tidak, kalimat ini disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak 89 kali. Dalam hadits utama di atas, Lafadz “Laysal Mu’min” Orang mukmin itu bukanlah... kata mukmin disini dimaknai sebagai “Al-Mu’min Al-Kamil” orang mukmin yang sempurna. [Tuhfatul Ahwadzi]

 

Disebutkan dalam hadits di atas bahwa orang mukmin  yang sempurna adalah mereka yang tidak memiliki sifat-sifat berikut. (1) Tha’an. Merupakan sighat mubalaghah (bentuk superlatif) dari kata “Tha’in”. Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa Ia berarti “Ayyaban Linnas” orang yang banyak menyebarkan aib orang lain, banyak mencela atau tukang gosip. [Tuhfatul Ahwadzi]

 

Kata Tha’an tersebut merupakan derivasi dari kata “ta’n” yang bermakna menusuk (dengan benda tajam). Ibnul Araby berkata :

وَإِنَّمَا سَمَّاهُ طَعْنًا لِأَنَّ سِهَامَ الْكَلاَمِ كَسِهَامِ النِّصَالِ حِسًّا وَجُرْحَ اللِّسَانِ كَجُرْحِ الْيَدِ

Rasul SAW menyebut perilaku mencela orang lain dengan sebutan menusuk (dengan pisau) karena anak panah berupa perkataan itu layaknya anak panah sesungguhnya, dan melukai orang dengan mulut itu seperti melukai dengan tangan. [Faidlul Qadir]

 

Mencela orang lain tidak hanya pertanda iman tidak sempurna namun juga pertanda kurang warasnya akal. Hal ini dipahami secara kebalikan (mafhum Mukhalafah) dari perkataan Imam Al-Haddad :

أَدَلُّ دَلِيْلٍ عَلَى كَمَالِ عَقْلِ الرَّجُلِ ثَنَاؤُهُ عَلَى أَقْرَانِهِ

Tanda utama yang menunjukkan kesempurnaan akal seseorang adalah pujiannya kepada teman-temannya. [Al-Hikam]

 

Dengan demikian diketahui bahwa pekerjaan orang beriman itu tidak cukup shalat, puasa dan ibadah yang lainnya namun juga harus menjauhi perkataan atau perbuatan yang bisa menyakiti orang lain. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ada seseorang bertanya : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah (seorang wanita) rajin mendirikan shalat malam, gemar puasa di siang hari, mengerjakan (kebaikan) dan bersedekah namun ia menyakiti tetangganya dengan ucapannya. (Maka bagaimanakah statusnya dia?)”

 

Rasulullah SAW menjawab :

لَا خَيْرَ فِيهَا هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

“Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka.”

 

Dan ada yang bertanya lagi: “Fulanah (wanita lainnya) mengerjakan shalat wajib, dan bersedekah dengan beberapa kerat keju (sedikit), tapi dia tidak menyakiti seorang pun.”

 

Rasulullah SAW menjawab :

هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Dia adalah penghuni surga. [Adabul Mufrad]

 

(2) La’an. Merupakan sighat mubalaghah (bentuk superlatif) dari kata “La’in” yang merupakan derivasi dari kata “la’nah” atau diadaptasi dalam bahasa Indonesia menjadi “laknat” yang secara bahasa berarti menjauhkan atau mengusir. Maka laknat itu berarti mendoakan orang lain agar dijauhkan dari rahmat Allah, atau mendoakan orang lain masuk neraka.

 

Syeikh Badruddin Al-Ayni  berkata : melaknat seseorang secara personal hukumnya adalah haram menurut kesepakatan ulama dan Imam Nawawi menggolongkan perbuatan melaknat sebagai dosa besar. Maka tidak diperbolehkan melaknat seseorang secara personal, baik muslim, kafir bahkan binatang. Melaknat yang diperbolehkan adalah melaknat orang yang diketahui dari syariat bahwa ia telah mati atau akan mati dalam keadaan kufur seperti abu Jahal dan Iblis. Melaknat satu golongan yang memiliki sifat buruk (bukan personal) seperti penyambung rambut, pemakan riba adalah diperbolehkan. [Umdatul Qari]

 

Baginda Rasul SAW bersabda :

لَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ

Melaknat orang mukmin itu (dosanya) seperti membunuhnya. [HR Ahmad]

 

(3) Fahisy. Al-Mubarakfuri menjelaskan yang dimaksud dengan “Fahisy”  :

الَّذِي يَتَكَلَّمُ بِمَا يُكْرَهُ سَمَاعُهُ أَوْ مَنْ يُرْسِلُ لِسَانَهُ بِمَا لَا يَنْبَغِي

Orang yang berbicara dengan sesuatu yang tidak enak didengar atau orang yang mengumbar lisannya dengan mengatakan sesuatu yang tidak pantas. [Tuhfatul Ahwadzi]

 

Kata “Fahisy”  merupakan derivasi dari kata “Fuhsy” dengan bentuk plural “Fahsya’” dan didefinisikan oleh Al-Qurtubi sebagai :

وَهُوَ كُلُّ قَبِيْحٍ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ

Setiap perkara yang jelek, berupa perkataan atau perbuatan. [Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an]

 

Suatu ketika ada serombongan orang-orang Yahudi menemui Rasulullah SAW, lalu mereka mengucapkan: Assaamu 'alaika (Semoga kematian bagimu) wahai Abal Qasim." Nabi SAW menjawab; 'Wa Alaikum. (semoga bagimu juga)' 'Aisyah menjawab; 'Bal 'alaikumus saam wal la'nah (Bagi kalianlah kematian dan laknat).' Maka Rasulullah SAW bersabda ;

لَا تَكُونِي فَاحِشَةً

Wahai 'Aisyah! Janganlah kau menjadi “Fahisyah” (wanita yang mengucapkan perkataan yang jelek).'

'Aisyah menjawab; 'Tidakkah Anda mendengar ucapan mereka? ' Jawab beliau: 'Bukankah aku telah membalas atas apa yang mereka ucapkan, aku telah katakan kepada mereka; Wa Alaikum. [HR Muslim]

 

Dan Beliau bersabda :

اَلْجَنَّةُ حَرَامٌ عَلَى كُلِّ فَاحِشٍ أَنْ يَدْخُلَهَا

Surga itu haram dimasuki oleh setiap orang yang berkata-kata kotor. [HR Ibnu Abid Dunya]

 

Dan Ibrahim bin Maysarah berkata : Dikatakan bahwa orang yang berkata-kata kotor lagi sengaja untuk berkata-kata kotor, ia pada hari kiamat akan dibangkitkan dalam bentuk berupa anjing atau di dalam perut anjing. [Ihya Ulumuddin]

 

 (4) Badzi’. Al-Mubarakfuri mendifinisikannya dengan :

المُتَكَلِّمُ بِالْفُحْشِ وَرَدِئُ الْكَلَامِ

Orang yang berkata-kata jorok dan yang jelek perkataannya. [Tuhfatul Ahwadzi]

 

Menurut Ibnul Araby, yang dimaksud dengan Badzi’ adalah :

الْفَاحِشُ فِي مَنْطِقِهِ وَإِنْ كَانَ الْكَلَامُ صِدْقًا

Orang yang jorok perkatannya meskipun perkataannya jujur. [Faidlul Qadir]

 

Kata Al-Fahisy dan Al-Badzi’, keduanya memiliki kemiripan makna karena keduanya merujuk kepada hal yang jelek dan kotor. Supaya tidak tumpang tindah maka kata yang pertama yakni Al-Fahisy dikhususkan kepada perbuatan sementara kata yang kedua yakni Al-Badzi’ dikhususkan kepada ucapan. Atau boleh juga kata pertama dimaknai dengan makna yang umum (perbuatan dan perkataan) sementara kata kedua adalah khusus (perkataan) untuk memberi tambahan penekanan. [Tuhfatul Ahwadzi]

 

Makna yang berbeda dikatakan oleh Al-Qari :

اَلْبَذِيءُ هُوَ الَّذِي لَا حَيَاءَ لَهُ

Badzi’ adalah orang yang tak punya rasa malu [Tuhfatul Ahwadzi]

 

Meskipun  dibedakan namun Fahisy dan Badzi’ keduanya sama-sama dibenci oleh Allah SWT. Rasul SAW bersabda :

وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ

Sesunguhnya Allah membenci orang yang berkata-kata kotor lagi jorok perkataannya. [HR Tirmidzi]

 

Ada sesuatu yang mengganjal yaitu kenapa kedua sifat pertama (1 dan 2) disebutkan dalam bentuk superlatif sementara sifat berikutnya (3 dan 4) tidak demikian ? Al-Mubarakfuri berkata :

لِأَنَّ الْكَامِلَ قَلَّ أَنْ يَخْلُوَ عَنِ الْمَنْقَصَةِ بِالْكُلِّيَّةِ

Karena hanya sedikit saja dari orang yang sempurna imannya yang tidak memiliki kekurangan sama sekali (dalam sifat 1 dan 2). [Tuhfatul Ahwadzi]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menghindari sifat-sifat negatif yang menyebabkan iman kita menjadi tidak sempurna.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

Tuesday, April 18, 2023

NEGARA PALING BAHAGIA

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Shuhaib RA, Rasul SAW bersabda :

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh mengagumkan keadaan orang Mukmin. Sesungguhnya semua urusannya baik, dan karakter itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang Mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, dan demikian itu lebih baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, dia bersabar, dan demikian itu lebih baik baginya.” [HR. Muslim]

 

Catatan Alvers

 

Finlandia dinobatkan sebagai peringkat nomor satu negara paling bahagia di dunia selama lima tahun berturut-turut oleh World Happiness Report. Dalam laporannya, penduduk dari 156 negara di dunia diminta untuk menilai kebahagiaan hidup mereka dari skala 0 hingga 10. Melalui skala tersebut, dapat terlihat faktor-faktor yang berkontribusi pada dukungan sosial, harapan hidup, kemurahan hati, dan tidak adanya korupsi.[cnbcindonesia com]

 

Finlandia adalah sebuah negara dengan total populasi 5.5 juta. Penduduknya mayoritas beragama Kristen. Sementara Agama Islam, Hindu, Buddha dll. adalah agama minoritas sekitar 0.8% saja di sana. [Wikipedia] Mengapa masyarakat Finlandia bisa meraih predikat negara paling bahagia? Ternyata ditemukan 3 rahasianya.[cnbcindonesia com] Berikut di antaranya : (1). Tidak Membandingkan Diri dengan Orang Lain. Masyarakat Finlandia tidak pernah memamerkan dengan berpedoman pada "Kell' onni on, se onnen kätkeköön," (Jangan membandingkan atau menyombongkan kebahagiaan Anda).

 

(2). Tidak mengabaikan manfaat alam. 87% masyarakat Finlandia menganggap bahwa alam memiliki peran penting terhadap kehidupan manusia karena memberikan ketenangan pikiran, energi, dan relaksasi. setiap karyawan memperoleh liburan musim panas selama empat minggu dan mereka gunakan untuk berlibur ke pedesaan dan 'menyatu' dengan alam. Semakin sedikit peralatan modern, bahkan sampai tidak ada listrik atau air mengalir di rumah, maka semakin baik.

 

(3). Mengutamakan Kejujuran. Menurut National Bureau of Economic Research, skala kebahagiaan suatu negara ditentukan oleh tingkat kejujuran yang tinggi. Dari eksperimen 'dompet hilang' di sejumlah negara di dunia dengan menjatuhkan 192 dompet di 16 kota seluruh dunia. Hasilnya, 11 dari 12 dompet yang dijatuhkan di Helsinki, Finlandia dikembalikan ke masing-masing pemiliknya.

 

Yang paling mengherankan kenapa predikat negara paling bahagia di dunia itu bukan Indonesia atau Arab saudi atau negara-negara dengan mayoritas agama Islam? Bukankah agama Islam telah mengajarkan tiga rahasia kebaikan tersebut?. Coba kita periksa satu persatu. (1). Tidak Membandingkan Diri dengan Orang Lain. Dalam Islam, Nabi SAW telah melarang kita untuk membandingkan diri kita dengan orang lain dalam urusan duniawi? Bahkan beliau memerintahkan kita agar lebih banyak merunduk? Rasulullah SAW bersabda :

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

Pandanglah orang yang (strata sosila dan ekonominya) berada di bawahmu dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu. [HR Muslim]. 

 

Dan di sisi lain, Allah secara tegas melarang kita untuk bersifat sombong yang merupakan motivasi seseorang membandingkan dengan orang lain. Allah SWT berfirman :

وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا

Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.[QS Al-Isra' : 37]

 

(2). Masyarakat Finlandia tidak mengabaikan manfaat alam. Agama Islam mendorong kita agar menjaga alam dan tidak merusaknya. Allah SWT berfirman :

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا

"Janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah dikelola dengan baik. [QS Al A'raf: 56]

 

(3). Masyarakat Finlandia mengutamakan Kejujuran. Agama Islam mewajibkan kita untuk jujur dan melarang untuk berdusta. Rasulullah SAW bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَاِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ اِلَى الْبِرِّ اِنَّ الْبِرِّ يَهْدِيْ اِلَى الْجَنَّةِ

“Tetaplah kalian dalam kejujuran karena kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu akan membawa ke dalam surga.” [HR Bukhari]

 

Lebih dari itu, ajaran islam mengajarkan syukur dan sabar yang merupakan kunci kebahagian dalam segala situasi kondisi sebagaimana disebutkan dalam hadits utama di atas dan Allah juga memerintahkan berbuat kebaikan dimanapun agar kita mendapatkan “Hayatan Thayyibah” (kehidupan yang baik). Allah SWT Berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً 

Barangsiapa yang mengerjakan amal kebajikanm, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik... [QS An-nahl : 97]

 

Bahkan kehidupan yang baik dalam islam bukan hanya berupa kebahagiaan di dunia saja namun juga kehidupan di akhirat kelak. Namun kembali kepada pertanyaan di atas, mengapa bukan kita, bangsa Indonesia yang dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia? Atau paling tidak negara dengan mayoritas Islam lainnya? Jawabannya “Wallahu A’lam” Allah yang maha mengetahui hakikat segala sesuatu. Namun demikian kiranya apa yang dikatakan oleh syeikh Muhammad Abduh (1881) ini ada benarnya :

ذَهَبْتُ لِلْغَرْبِ فَوَجَدْتُ إِسْلَاماً وَلَمْ أَجِدْ مُسْلِمِيْنَ وَلَمَّا عُدْتُ لِلشَّرْقِ وَجَدْتُ مُسْلِمِيْنَ وَ لَكِنْ لَمْ أَجِدْ إِسْلَاماً

Aku pergi ke barat dan aku menemukan ajaran islam tapi aku tidak menemukan orang islam di sana dan ketika aku kembali ke timur maka aku menemukan banyak orang islam namun aku tidak menemukan ajaran islam di sana. [albawabhnews com]

 

Wallahu A’lam Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk mempelajari ajaran agama islam dengan baik dan melaksanakannya secara baik pula sesuai dengan yang diteladankan oleh Nabi SAW kepada kita semua.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

Friday, April 14, 2023

BAJU BARU ALHAMDULILLAH

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Sayyidina Ali KW, ia berkata :

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في العيدين أَنْ نَلْبَسَ أَجْوَدَ مَا نَجِدُ وَأَنْ نَتَطَيَّبَ بِأَجْوَدِ مَا نَجِدُ

Kami diperintahkan oleh Rasulullah SAW pada dua hari raya untuk mengenakan pakaian yang paling bagus dari yang ada dan memakai parfum terbaik dari apa yang ada” [HR al-Hakim]

 

Catatan Alvers

 

“Baju baru Alhamdulillah. Tuk dipakai di hari raya. Tak punya pun tak apa-apa. Masih ada baju yang lama. Hari raya idul fitri Bukan untuk berpesta-pesta. Yang penting maafnya lahir batinnya. Untuk apa berpesta-pesta. Kalau kalah puasanya. Malu kita kepada Allah yang esa.” Ini adalah lagu anak populer berjudul “Baju Baru” yang pertama kali dirilis pada tahun 1997 silam. Meskipun jadul, lagu ini tetap cocok disenandungkan menjelang hari raya idul fitri sebagai pelajaran agar tidak sedih ketika tidak bisa membeli baju baru saat hari raya tiba. [urbanjabar com]

 

Mengenakan baju yang paling bagus saat idul fitri adalah anjuran Nabi SAW sebagaimana hadits di atas. Dalam riwayat yang shahih dari Abdullah bin Umar bahwa Sayyidina Umar mengambil sebuah jubah dari sutera yang dijual di pasar dan ia membawanya ke hadapan Rasulullah SAW, lalu Umar RA berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيْدِ وَالْوُفُوْدِ

“Wahai Rasulullah, belilah ini dan berhiaslah dengan pakaian ini untuk hari raya dan menyambut tamu-tamu utusan.”

Maka Rasulullah SAW pun berkata: “(Pakai Sutera) ini adalah pakaian orang yang tidak mendapat bagian (di akhirat kelak).” [HR Bukhari]

 

Rasul SAW menolak baju tersebut bukan karena melarang pakaian baju baru dipakai saat hari raya namun karena baju tersebut adalah baju sutera yang haram untuk orang laki-laki. Abu Al-Hasan As-Sindi berkata  :

مِنْهُ عُلِمَ أَنَّ التَّجَمُّلَ يَوْم الْعِيد كَانَ عَادَةً مُتَقَرِّرَةً بَيْنَهُمْ وَلَمْ يُنْكِرْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dari hadits ini diketahui, bahwa berhias di hari raya termasuk kebiasaan yang sudah ada di kalangan para sahabat, dan Nabi SAW juga tidak mengingkarinya. [Hasyiah As-Sindi]

 

Nabi SAW sendiri saat hari raya juga mengenakan pakai terbaik. Ibnu Abbas RA meriwayatkan :

كَانَ يَلْبَسُ بُرْدَ حِبَرَةٍ فِي كُلِّ عِيْدٍ

Rasul SAW di setiap hari raya mengenakan pakaian “Burd Hibarah” (mantel atau jas panjang bermotif garis-garis yang berasal dari negara yaman). [Musnad As-Syafi’i]

 

Dengan demikian diketahui bahwa mengenakan pakaian terbaik saat hari raya merupakan kebiasaan yang diperintah Nabi SAW sebagaimana hadits utama di atas sehingga hal itu menjadi satu kesunnahan. Dan sunnah ini juga diamalkan oleh para sahabat Nabi. Diriwayatkan dari Nafi’, Ia berkata :

أنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَلْبَسُ فِي الْعِيدَيْنِ أَحْسَنَ ثِيَابِهِ

Sesungguhnya Ibnu Umar mengenakan pakai terbaiknya pada dua hari raya. [HR Baihaqi]

 

Syeikh Zakaria Al-Anshari berkata :

وَسُنَّ تَزَيُّنٌ بِأَنْ يَتَزَيَّنَ بِأَحْسَنِ ثِيَابِهِ

“Disunnahkan bagi orang laki-laki (ketika hari raya) untuk berhias dengan memakai pakaian terbaiknya”

Beliau melanjutkan : “dan hendaknya juga memakai parfum. Juga disunnahkan memotong kuku dan menghilangkan bau yang tak sedap. Kesunnahan ini termasuk juga mandi sunnah, berlaku bagi lelaki yang hendak keluar menuju sholat ied ataupun tidak. Ini semua khusus untuk lelaki. Adapun wanita, maka makruh bagi wanita-wanita “dzawatul hay’at” untuk menghadiri sholat ied. Dan wanita selainnya disunnahkan hadir dan membersihkan badan dengan air dan tidak boleh mengenakan parfum. Para wanita keluar rumah dengan pakaian “bidzlah” (yang dipakai sehari-hari)”. [Fathul Wahhab]

 

Siapakah dzawatul hay’at itu? Imam Nawawi menjelaskan :

وَأَمَّا ذَوَاتُ الْهَيْئَاتِ وَهُنَّ اللَّوَاتِي يَشْتَهِيْنَ لِجَمَالِهِنَّ...

Adapun dzawatul hay’at yaitu para wanita yang menarik perhatian karena kecantikannya... [Al-Majmu’]

 

Imam Ramli berkata : “Disunnahkan berhias di hari raya seperti di hari jumat dengan memakai pakaian terbaik. Dan pakaian yang lebih afdhal adalah pakaian putih kecuali jika pakaian selain yang warna putih itu lebih baik , maka itulah yang lebih afdhal dikenakan di hari raya, bukan di hari jumat (sekiranya pakaian putih tetap lebih afdhal meskipun ada pakaian warna lain yang lebih bagus kwalitasnya)”.

وَالْفَرْقُ أَنَّ الْقَصْدَ هُنَا إِظْهَارُ النِّعَمِ وَثَمَّ إِظْهَارُ التَّوَاضُعِ

Perbedaannya adalah hari raya itu bertujuan untuk menampakkan nikmat- nikmat dari Allah sementara hari jumat bertujuan untuk menampakkan tawadlu’. [Nihayatul Muhtaj]

 

Kesunnahan ini berlaku umum, untuk yang mendatangi sholat ied ataupun tidak. Syeikh Abdurrahman Al-Jaziry berkata :

كَمَا يُنْدَبُ لِلرِّجَالِ الَّذِيْنَ لَمْ يُصَلُّوا الْعِيْدَ لِأَنَّ الزِّيْنَةَ مَطْلُوْبَةٌ لِلْيَوْمِ لَا لِلصَّلَاةِ وَذَلِكَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Disunnahkan pula bagi orang-orang yang tidak melaksanakan sholat ied (agar berhias dengan pakaian bagus), karena berhias itu dianjurkan sebab faktor hari raya bukan faktor sholat ied, dan hal itu disepakati oleh para ulama 4 madzhab. [Al-Fiqh ‘ala Madzahibil Arba’ah]

 

Pakaian hari raya dianjurkan berupa pakaian baru. Sayyid Bakri berkata :

وَيُسَنُّ أَنْ تَكُونَ جَدِيْدَةً، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ جَدِيْدَةً فَقَرِيْبَةً مِنْهَا... نَعَمْ، اَلْمُعْتَبَرُ فِي الْعِيْدِ اَلْاَغْلَى فِي الثَّمَنِ، لِأَنَّهُ يَوْمُ زِيْنَةٍ

Disunnahkan pakaian tersebut pakaian yang baru, jika tidak ada maka yang terbaru dari yang ada... Iya demikian, namun yang menjadi patokan dalam hari raya adalah pakaian yang lebih mahal harganya karena hari raya adalah hari untuk berhias.  [I’anatut Thalibin]

 

Mengenakan pakaian baru yang bagus, apakah tidak tidak dikhawatirkan menyebabkan sombong dan lain-lain? Imam Syafi’i dalam syairnya menjawabnya :

حَسِّنْ ثِيَابَكَ مَا اسْتَطَعْتَ فَإِنَّهَا :: زَيْنُ الرِّجَالِ بِهَا تُعَزُّ وَتُكْرَمُ

وَدَعِ التَّخَشُّنَ فِي الثِّيَابِ تَوَاضُعًا :: فَاللهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّ وَتَكْتُمُ

فَجَدِيْدُ ثَوْبِكَ لَا يَضُرُّكَ بَعْدَ أَنْ :: تَخْشَى الْاِلَهَ وَتَتَّقِي مَا يَحْرُمُ

وَرَثَاثُ ثَوْبِكَ لَا يَزِيْدُكَ رِفْعَةً :: عِنْدَ الْاِلَهِ وَأَنْتَ عَبْدٌ مُجْرِمُ

Kenakanlah pakaian yang bagus-bagus semampumu karena pakaian bagus menjadi perhiasan para lelaki yang dengannya ia akan dimuliakan.

Tinggalkan berpakaian kasar dengan dalih tawadlu’ karena Allah tahu apa yang kau sembunyikan dalam hatimu

Baju baru tidaklah membahayakanmu jika kamu takut kepada Allah dan menjauhi perkara haram

Jeleknya pakaian tidak menjadikanmu naik derajat di sisi Allah jika engkau adalah   hamba yang pendosa. [I’anatut Thalibin]

 

Jika tidak ada pakaian baru maka cukuplah dengan mencuci pakaian yang ada. Imam Nawawi berkata :

فَإِنْ لَمْ يَجِدْ إِلَّا ثَوْبًا اُسْتُحِبَّ أَنْ يَغْسِلَهُ لِلْعِيْدِ

Jika seseorang tidak memiliki baju baru maka ia disunnahkan untuk mencuci baju lamanya itu untuk persiapan hari raya. [Al-Majmu’]

 

Hal ini berbeda dengan pakain baru yang tidak perlu dicuci. Para ulama berkata :

مِنَ الْبِدَعِ الْمَذْمُوْمَةِ غَسْلُ الثَّوْبِ الْجَدِيْدِ

Termasuk kategori bid’ah yang tercela adalah mencuci pakaian baru (yang tidak ada indikasi terkena najis). [I’anatut Thalibin]

 

Dari uraian di atas maka kita ketahui memakai pakaian baru merupakan kesunnahan bukan satu keharusan sehingga tidak perlu susah dan kecil hati jika tidak memilikinya saat hari raya. Suatu ketika di malam hari raya, beberapa putri Umar bin Abdul Aziz mendatangi ayahnya seraya berkata : “Kami tidak memiliki baju baru untuk hari hari raya”. Maka bendahara baitul mal yang ada di situ berkata : “Wahai Amirul Mukminin, Apakah perlu aku cairkan sekarang gaji untuk bulan depan dari baitul mal?”  Umar berkata : “Aduhai celaka kamu, Apakah engkau dapat melihat Lauh Mahfudz sehingga engkau tahu bahwa aku akan tetap hidup sampai bulan depan?” Kemudian Umar bin Abdul Aziz berkata kepada putrinya :

يَا بَنَاتِي لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ إِنَّمَا الْعِيْدُ لِمَنْ خَافَ يَوْمَ الْوَعِيْدِ

Wahai putri- putriku, hari raya bukanlah dimiliki oleh orang yang mengenakan baju baru akan tetapi hari raya itu didapatkan oleh orang yang takut kepada hari kiamat. [Alfu Qisshah wa Qisshah]

 

Terdapat maqalah senada, diantaranya :

وَلَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ بَلْ طَاعَاتُهُ تَزِيْدُ،

وَلَا لِمَنْ تَجَمَّلَ بِالْمَلْبُوْسِ وَالْمَرْكُوْبِ بَلْ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْبُ

Hari raya bukanlah milik orang yang mengenakan baju baru akan tetapi hari raya itu milik orang yang bertambah taat kepada Allah SWT.

Hari raya bukanlah milik orang yang berhias dengan pakaian dan kendaraan akan tetapi hari raya itu milik orang yang dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. [Bughyatul Mustarsyidin]

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ، وَلَكِنَّهُ لِمَنْ رَضِيَ عَنْهُ رَبُّ الْعَبِيْدُ، وَأَعْتَقَهُ مِنَ الْعَذَابِ الشَّدِيْدِ

Hari raya bukanlah milik orang yang mengenakan baju baru akan tetapi hari raya itu milik orang yang mendapat ridlo dari Allah Tuhan dari para hamba dan ia dibebaskan dari adzab yang berat. [Mawsu’atul Khuthab Wad Durus Ar-Ramadlaniyyah]

 

Wallahu A’lam Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk mengenakan pakaian baru sebagaimana dianjurkan oleh Nabi SAW dan diamalkan oleh para sahabat saat hari raya dengan tujuan menampakkan nikmat-nikmat Allah dan mensyukurinya.

 

Kami atas nama pribadi, atas nama program One Day One Hadith Alvers dan atas nama pesantren Wisata AN-NUR 2 Malang Jatim mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Taqabballahu Minna Wa Minkum, Mohon Maaf Lahir Bathin.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]