إنَّ اللّهَ أَوْحَىٰ إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّىٰ لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ علىٰ أَحَدٍ، وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَىٰ أَحَدٍ

"Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menyuruh kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya di hadapan orang lain, dan tidak seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain." [HR Muslim]

أَرْفَعُ النَّاسِ قَدْرًا : مَنْ لاَ يَرَى قَدْرَهُ ، وَأَكْبَرُ النَّاسِ فَضْلاً : مَنْ لَا يَرَى فَضْلَهُ

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah melihat kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah melihat kemuliannya (merasa mulia).” [Syu’abul Iman]

الإخلاص فقد رؤية الإخلاص، فإن من شاهد في إخلاصه الإخلاص فقد احتاج إخلاصه إلى إخلاص

"Ikhlas itu tidak merasa ikhlas. Orang yang menetapkan keikhlasan dalam amal perbuatannya maka keihklasannya tersebut masih butuh keikhlasan (karena kurang ikhlas)." [Ihya’ Ulumuddin]

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur." [HR Muslim]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu.”[HR Ahmad]

Tuesday, September 26, 2023

MENCARI KEBAHAGIAAN

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

(Ukuran) kekayaan yang hakiki itu bukanlah dari banyaknya harta benda akan tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kaya hati. [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Hotman Paris sedang galau. Viral video pengacara kondang itu sedang galau mencari kebahagiaan meskipun ia sedang berada di Bali, destinasi wisata dunia. Dalam video itu ia berkata : “Aku sendiri belum menemukan apa sih kebahagian itu dan di mana untuk mendapatkannya... Kebahagiaan itu di mana sih, haduh, susah banget sih mencari kamu, mencari dan mencari eh tetap makanya nasi padang, nasi rawon bahkan ikan teri apalagi saya suka... Mungkin saya di Bali harus masuk di pusat keagamaan, saya mau belajar atau tinggal di sana berbulan-bulan sampai akhirnya sel-sel dalam tubuhku sudah berubah bukan seorang Hotman Paris yang selalu mencari popularitas, yang dimusuhin orang karena iri. Walaupun saya lagi di Bali saya lemes saya pandang kiri, kanan." [tribunnews com]

 

Sungguh mengejutkan, bagaimana tidak? Pengacara terkenal dengan tarif 1,3 miliar per kasus dengan total Kekayaan Rp 4,5 Triliun, Termasuk 500 Apartemen dan 200 Unit Ruko. 12 vila mewah di Bali, beberapa hotel di berbagai daerah, Lamborghini seharga 11 miliar, Bentley seharga 10 miliar. [liputan6 com]Selalu tampil dengan baju milyaran dikelilingi wanita-wanita cantik. Bisa-bisanya ia mengaku susah dan galau karena tidak merasakan kebahagiaan.

 

Hal ini semakin mempertegas bahwa kebahagiaan sejati bukan datang dari harta duniawi melainkan dari hati dan pikiran. Nabi SAW bersabda :

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

(Ukuran) kekayaan yang hakiki itu bukanlah dari banyaknya harta benda akan tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kaya hati. [HR Bukhari]

 

Dale Breckenridge Carnegie (1888 –1955) motivator dunia dari Amerika Serikat dan penulis buku spektakuler “How to Win Friends and Influence People” (Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain) yang di terjemahkan ke 37 bahasa. Ia mengatakan “Bukan apa yang anda miliki, atau siapa diri anda, atau dimana anda berada, atau apa yang anda lakukan yang membuat anda bahagia. Namun apa pemikiran anda.”

 

Hal ini juga menyadarkan kita bahwa kebahagiaan sejati bukan dengan mendapatkan harta, tahta dan wanita melainkan dengan taqwa. Abu Mulailah Al-Hathi’ah, penyair Muhadlram dalam bahar wafir berkata :

وَلَسْتُ أَرَى السَّعَادَةَ جَمْعَ مَالٍ :: وَلَكِنَّ التَّقِيَّ هُوَ السَّعِيدُ

“Aku melihat kebahagiaan bukanlah terletak pada harta akan tetapi orang yang bertaqwa itulah orang yang bahagia”. [Bahjatul Majalis]

 

Hal ini juga membelalakkan mata kita bahwa kebahagiaan sejati tidak didapat dengan uang akan tetapi dengan qana’ah. Orang bijak berkata : “Kaya belum tentu bahagia, Miskin belum tentu susah dan setiap orang akan menjadi bahagia apapun kondisinya asal dia mau ber-qana’ah (menerima ketentuan Allah dengan ridla dan senang hati). Banyak belum tentu cukup dan sedikit belum tentu kurang, maka cukup dan tidaknya itu adalah pilihan”. Qanaah bisa didapati dengan menjalankan titah Nabi :

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

Lihatlah orang yang (strata sosila dan ekonominya) berada di bawahmu dan janganlah engkau melihat orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu. [HR Muslim]. 

 

Untuk mencapai bahagia, Anak kecil berkata kapan menjadi dewasa. Pemuda berkata andai saja aku kembali kecil. Orang tua berkata andai saja masa muda kembali lagi. Orang yang telah menikah berkata andai saja aku kembali pada masa lajang. Orang yang lajang berkata andai saja aku telah menikah. Orang yang memiliki banyak anak berkata andai saja aku memiliki satu anak saja. Yang memiliki banyak anak berontak seraya berkata andai saja aku tidak memiliki anak.  Dan yang telah menikah dengan satu perempuan menginginkan menikah lagi untuk mencari kebahagiaan. Ya, semuanya mencari kebahagiaan akan tetapi ujung-ujungnye mereka kecewa karena kata “kebahagiaan” merupakan pepesan kosong. Bahagia bukanlah sebuah kata yang tiada makna dan hampa. Namun bahagia memiliki dimensi yang sangat luas, yaitu mencakup kebahagian di dunia dan di akhirat.

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati kita untuk senantiasa memperbaiki diri, hati, pikiran dengan tuntunan Nabi SAW sehingga kita menggapai kebahagian dunia dan akhirat nanti.

Friday, September 22, 2023

DIMANAKAH TAMAN SURGA?

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abdillah bin Zaid Al-Maziny RA, Rasul SAW bersabda :

مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ

“Antara rumahku (Makam) dan mimbarku adalah taman (raudlah) dari taman-taman surga” [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Raudlah adalah tempat yang berada di antara rumah Nabi  dan mimbar. Dimanakah posisi rumah Nabi?  rumah beliau sekarang menjadi makam beliau yang berada di dalam masjid nabawi. Mengapa beliau di makamkan di dalam rumahnya? Bukan di pemakaman baqi’ atau lainnya. Sayyidah Aisyah RA berkata : ketika Rasul SAW wafat maka para sahabat berbeda pendapat dalam menentukan dimana beliau akan dimakamkan. Maka Abu Abakar RA berkata : Aku mendengar dari Nabi SAW sesuatu yang aku tidak melupakannya. Beliau bersabda :

مَا قَبَضَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُدْفَنَ فِيهِ

Tidaklah Allah mewafatkan seorang nabi melainkan di tempat dimana ia suka dikubur di tempat tersebut. [HR Turmudzi]

 

Lantas Abu bakar RA berkata : “Kuburkanlah beliau di lokasi tempat ranjangnya”. Lalu para sahabat menyingkirkan ranjangnya dan menggali kubur di tempat ranjang tersebut. [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah]

Posisi rumah atau kuburan Nabi ditandai dengan kubah hijau di atasnya. Kubah hijau yang dikenal dengan nama Qubbatul Khadra' dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mahmud (1233 H), dan kini menjadi ciri khas atau identitas Masjid Nabawi.

 

Jadi ketika Anda berada di dalam masjid nabawi, di arah belakang mihrab atau tempat Imam melaksanakan shalat fardlu dan Anda menghadap ke kiblat maka Anda akan menemukan di arah kiri adalah makam beliau dan di arah kanan adalah mimbar beliau. Diantara keduanya itulah yang dinamakan raudlah. Panjang dari arah timur ke barat sepanjang 22 meter dan lebar dari utara ke selatan 15 meter. Sehingga Luas Raudlah adalah 144 meter persegi.

 

Tidak semua orang yang masuk ke masjid nabawi mengetahui posisi raudlah ini. Pernah ketika saya menunggu shalat ashar di masjid nabawi, ada seorang pemuda berjubah dan bersorban khas arab saudi bertanya kepada saya, di mana posisi raudlah? Dia berasal dari kota jeddah yang tentunya jauh lebih dekat ke madinah daripada Indonesia. Kemudian saya tunjukkan lokasinya yang kebetulan berada di posisi sebelah kiri sekitar lima meter di mana kami berada saat itu.

 

Dalam hadits utama di atas dinyatakan bahwa raudlah adalah taman dari taman-taman surga” [HR Bukhari]. Apa maksud dari keberadaan lokasi tersebut sebagai taman surga? Ibnu Hajar Al-Asqalany berkata : Para ulama berbeda pendapat mengenai maksud keberadaan lokasi tersebut sebagai taman surga. Berikut ada 3 pendapat yang disusun mulai dari pendapat yang terkuat. (1) Lokasi tersebut diserupakan taman surga karena sama-sama mendatangkan rahmat dan kebahagiaan sebab seseorang mengikuti halaqah dzikir terlebih semasa hidupnya Nabi SAW. Maka dalam perkataan tersebut terdapat penyerupaan tanpa menyebutkan “adat tasybih” (lazimnya disebut dengan tasybih muakkad). (2) Beribadah di lokasi tersebut akan menyebabkan seseorang masuk surga. Maka perkataan tersebut adalah majaz (bermakna kiasan). (3) Lokasi tersebut dikatakan sebagai taman sebenar-benarnya secara dzahir, karena lokasi tersebut akan dipindah ke lokasi surga di akhirat nanti. [Fathul Bari]

 

Apakah Raudlah itu tempat mustajabah? Saya tidak menemukan dalil hadits yang spesifik yang mengatakan bahwa raudlah adalah tempat doa mustajabah namun Mufti mesir, Doktor Ali Jum’ah mengatakan “Sesungguhnya keutamaan raudlah adalah ia sebagai tempat dimana doa dikabulkan. Barang siapa yang dianugerahi Allah bisa berziarah ke masjid nabawi maka hendaknya ia shalat dua rekaat di raudlah lalu berdoa sesuai hajatnya insyaAllah ia akan mendapatkan hajatnya. [www mostgab com]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk mempelajari segala sesuatu baik ibadah yang akan dikerjakan maupun tempat yang akan dikunjungi sehingga kita melakukan satu ibadah dengan benar dan tempat yang benar.

SALAM KEPADA NABI

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ

“Tidak ada salah seorang di antara kamu yang mengucapkan salam kepadaku (sesudah aku wafat) melainkan Allah mengembalikan ruh-Ku sehingga aku menjawab salamnya [HR Abi Daud]

 

Catatan Alvers

 

Salam kepada Nabi SAW lebih dulu diketahui oleh para sahabat dari pada shalawat. Hal ini diketahui dari pernyataan dari Ka’b bin Ujzah RA, ia berkata : kami pernah bertanya  “Wahai Rasulallah, kami telah mengetahui (lafadz) salam kepadamu lantas bagaimana kami bershalawat (kepadamu)? Lalu Nabi SAW mengajarkan Allahumma shalli ala dst (shalawat ibrahimiyah) [HR Nasa’i]

 

Adapun salam yang telah diajarkan oleh Rasul SAW dan diketahui oleh para sahabat adalah ucapan :

اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ

Semoga terlimpah kepadamu wahai nabi, keselamatan, rahmat Allah dan barakah-Nya. [Syarah Muslim]

 

Ketika seseorang mencupakan salam kepada beliau maka beliau membalas ucapan salam tersebut. Hal itu tidak hanya dahulu ketika beliau masih hidup namun juga ketika beliau sudah wafat beliau tetap menjawab salam dari dalam kubur beliau sebagaimana diberitahukan dalam hadits utama di atas : “Tidak ada salah seorang di antara kamu yang mengucapkan salam kepadaku (sesudah aku wafat) melainkan Allah mengembalikan ruh-Ku sehingga aku menjawab salamnya [HR Abi Daud]

 

 

Tidak hanya beliau, bahkan semua Nabi mereka hidup dalam kuburnya. Nabi SAW bersabda :

اَلْأَنْبِيَاءُ أَحْيَاءٌ فِي قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ

"Para nabi itu hidup di dalam kubur mereka dalam keadaan mengerjakan shalat." [Musnad Abu Ya'la]

 

Dan beliau juga menyaksikan sendiri keberadaan para nabi yang hidup dalam alam kuburnya. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda :

مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ

"Aku berpapasan dengan Musa AS pada malam Isra di bukit pasir yang berwarna merah dalam keadaan berdiri mengerjakan shalat dalam kuburnya." [HR Muslim]

 

Mungkin hati kecil alvers ada yang bertanya-tanya bagaimana itu terjadi, Rasul SAW hidup dalam kuburNya? Menjawab hal ini, Saya teringat dengan permasalahan yang sama yaitu tatkala roh mayyit dikembalikan ke dalam jasadnya kemudian ditanya oleh malaikat, dan mendapat siksa atau kenimatan, maka mengapa manusia tidak dapat melihatnya sedikitpun? Syeikh Thahir Al-Jazairy menjawab :

اِنَّ اللهَ يَحْجُبُ اَبْصَارَهُمْ عَنْ ذَلِكَ اِمْتِحَانًا لَهُمْ لِيُظْهَرَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْغَيْبِ وَمَنْ لَايُؤْمِنُ بِهِ مِنْ ذَوِى الشَّكِّ وَالرَّيْبِ وَلَوْ رَاىَ النَّاسُ ذَلِكَ لَآمَنُوا كُلُّهُمْ وَلَمْ يَصِرْ فَرْقٌ بَيْنَ النَّاسِ وَلَمْ يَتَمَيَّزِ الْخِبَيْثُ مِنَ الطَّيِّبِ وَالرَّدِئُ مِنَ الْجَيِّدِ.

Sesungguhnya Allah menutup penglihatan manusia dari hal tersebut, sebagai ujian bagi mereka, agar menjadi jelas siapakah yang beriman kepada hal ghaib dan siapa yang tidak beriman dan ragu serta bimbang akan hal tersebut. Seandainya manusia melihat keadaan dalam kubur, niscaya mereka akan beriman semuanya, sehingga tidak ada perbedaan antar manusia yang baik dan yang jahat, serta tidak ada beda antara yang hina dan mulia. [Al-Jawahir al-Kalamiyah]. 

 

Tidak hanya kita, manusia mengucapkan salam kepada beliau bahkan pepohonan dan gunung-gunung juga demikian. Sayyidina Ali KW berkata : Aku bersama Nabi SAW di mekkah lalu kami keluar ke sebagian penjuru mekkah dan saat itu tidaklah gunung dan pohon berpapasan dengan beliau melainkan mereka mengucapkan salam kepadanya, yaitu  :

السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Semoga keselamatan senantiasa tercurah padamu wahai utusan Allah” [HR Turmudzi]

 

Ketika melintasi makam Nabi, hendaklah jamaah berpaling dari kiblat atau membelakanginya dan menghadap dinding makam. Hendaklah jamaah berdiri sambil melihat ke arah bawah dinding makam dengan penuh tawadlu’, dan mengagungkan derajat Nabi SAW yang ada di hadapannya, dengan hati yang bersih dari usrusan duniawi kemudian mengucap salam dan jangan mengeraskan suara akan tetapi dengan suara yang biasa atau sedang. [Al-Idlah]

 

Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hangus (pahala) amalanmu tanpa kau sadari. [QS Al-Hujurat : 2]

 

Larangan ini turun ketika masa hidupnya Nabi SAW namun demikian larangan ini tetap berlaku setelah wafat beliau. Ketika berada di masjid Nabawi, As-Sa'ib bin Yazid dilempar dengan kerikil oleh seseorang dan ternyata ia adalah Umar bin Khatthab. Dia berkata : "Pergi dan bawalah dua orang (yang mengeraskan suara) itu kepadaku." Maka aku bawa keduanya ke hadapan Umar. lalu Umar bertanya, "Dari mana asalnya kalian berdua?" mereka menjawab, "Kami berasal dari Tha'if" Umar bin Khaththab berkata :

لَوْ كُنْتُمَا مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ لَأَوْجَعْتُكُمَا تَرْفَعَانِ أَصْوَاتَكُمَا فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Sekiranya kalian dari penduduk sini (madinah, niscaya kalian mengerti larangan mengeraskan suara) maka aku akan hukum kalian berdua! Sebab kalian telah mengeraskan suara di Masjid Rasulullah SAW." [HR Bukhari]

 

Para Ulama berkata :

يُكْرَهُ رَفْعُ الصَّوْتِ عِنْدَ قَبْرِهِ كمَاَ كاَنَ يُكْرَهُ فِي حَيَاتِهِ؛ لِأَنَّهُ مُحْتَرَمٌ حَيًّا وَفِي قَبْرِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ

Dimakruhkan mengeraskan suara di sisi makam Nabi SAW sebagaimana dahulu ketika beliau hidup karena Nabi SAW itu adalah pribadi yang dimuliakan, baik ketika hidup maupun setelah berada di makamnya SAW. [Tafsir Ibnu Katsir]

 

Hendaknya jamaah mengucapkan salam sesuai dengan lafadz salam di atas atau membaca bacaan salam yang panjang seperti yang tertera dalam buku manasik. Dan jika ada sanak saudara atau handai taulan menitipkan salam kepada beliau maka ucapkanlah :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ مِنْ ....

(“Semoga keselamatan senantiasa tercurah padamu wahai utusan Allah” dari ....) lalu sebut nama orang yang menitipkan salam. [Al-Idlah]

 

Setelah melewati makam nabi, maka jamaah akan melintasi makam sahabat Abu Bakar RA. Kitapun dianjurkan mengicapkan salam, minimal dengan ucapan :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا أَبَا بَكْرٍ

(Semoga keselamatan senantiasa tercurah padamu wahai sahabat, Abu Bakar)

 

Setelah itu, jamaah akan melintasi makam sahabat Umar RA. Kitapun dianjurkan mengicapkan salam, minimal dengan ucapan :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا عُمَرُ

(Semoga keselamatan senantiasa tercurah padamu wahai sahabat, Umar)

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk senantiasa memuliakan pribadi Agung, Nabi Muhammad SAW sampai kapanpun dan dimanapun terlebih ketika berada di dalam Masjid Nabawi dan di dekat makam beliau.

Tuesday, September 19, 2023

UMRAH ARBA’IN

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Rasul SAW bersabda :

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلَاةً لَا يَفُوتُهُ صَلَاةٌ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَنَجَاةٌ مِنْ الْعَذَابِ وَبَرِئَ مِنْ النِّفَاقِ

“Barang siapa shalat di masjidku empat puluh kali shalat tanpa ada yang ketinggalan, maka dia dicatat bebas dari neraka, selamat dari siksa dan bebas dari sifat munafik.”[HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Kita sering mendengar travel umrah menawarkan program Umrah Arba’in. Apa maksudnya?  Arbain berarti empat puluh maka Umrah Arbain maksudnya adalah perjalanan umrah dengan mukim di hotel madinah selama 9 hari. Dengan masa tersebut, peserta bisa melakukan shalat fardlu di masjid Nabawi sebanyak 40 kali. Jika sehari seseorang melakukan sholat fardlu 5 kali maka dibutuhkan minimal waktu 8 hari untuk mukim di madinah dan program-program seperti ziarah ke tempat-tempat bersejarah harus dilakukan dalam waktu yang terbatas sekira pada jam shalat para jamaah sudah ada di masjid Nabawi. Sholat inilah yang di maksud dengan istilah shalat arbain yang mana pada hadits utama di atas disebutkan memiliki pahala berupa bebas dari neraka, selamat dari siksa dan bebas dari sifat munafik.

 

Sifat munafik itu sebagaimana disampaikan dalam hadits dimana Rasul SAW bersabda :

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ اِذَاحَدَثَ كَذَبَ وَاِذَا وَعَدَ اَحْلَفَ وَاِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar dan jika dipercaya ia berkhianat. [HR Bukhari]

Dan dalam hadits lain dipertegas oleh Nabi SAW :

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ

“Tanda munafik itu ada tiga, walaupun orang tersebut puasa dan mengerjakan shalat, lalu ia mengklaim dirinya muslim.” [HR Muslim]

 

Hadits mengenai shalat arbain ini oleh al-Haitsami dinilai sebagai hadits shahih karena para perawinya tsiqah (terpercaya) [Jami’ul Ahadits]  Demikian pula Ibnu Hibban mengkategorikan para perawinya tsiqah (terpercaya) termasuk perawi yang bernama Nubaith bin Umar yang dinilai oleh ulama salafi sebagai perawi yang majhul sehingga hadits tersebut dinilai sebagai hadits dla’if.

 

Seandainyapun kita mengikuti penilaian hadits tersebut dla’if maka tidak semata-mata hal itu menggugurkan amaliahnya karena hadits dla’if masih bisa dipergunakan. Ibnu Hajar al-Haitami berkata :

قَدِ اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ الْعَمَلِ بِالْحَدِيْثِ الضَّعِيْفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ لِأَنَّهُ إِنْ كَانَ صَحِيْحًا فِي نَفْسِ الْأَمْرِ، فَقَدْ أُعْطِيَ حَقُّه ُمِنَ الْعَمَلِ بِهِ وَإِلَّا لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَى الْعَمَلِ بِهِ مَفْسَدَةُ تَحْلِيْلٍ وَلَا تَحْرِيْمٍ وَلَا ضِيَاعِ حَقٍّ لِلْغَيْرِ

Para ulama sepakat atas bolehnya mengamalkan hadits dla’if dalam fadlailul a’mal (keutamaan amalan). Karena jika hadits tersebut ternyata benar, maka sudah seharusnya diamalkan. Dan jika ternyata tidak benar, maka pengamalan terhadap hadits tersebut tidaklah mengakibatkan kerusakan (mafsadah) menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal, dan tidaklah menyia-nyiakan hak orang lain. [FathulMubin Fi Syarhil Arbain]

Dengan melaksanakan shalat arbain itu artinya para jamaah melakukan shalat 40 x 1000 pahala sehingga sama halnya jamaah melakukan shalat yang berpahala lebih baik dari 40.000 kali shalat. Hal ini mengingat sekali shalat di masjid nabawi pahalanya lebih baik dari 1000 kali shalat di masjid lainnya. Nabi SAW bersabda :

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari pada 1000 shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram.” [HR Bukhari]

Yang menjadi pertanyaan, apakah keutamaan pahala besar itu hanya berlaku pada masjid asal yang dibangun pada masa Nabi ataukah juga berlaku di area perluasan sekarang? Hal ini menjadi pro kontra tidak hanya sekarang namun sejak terjadi perluasan pertama kali di era Khalifa Umar RA. Ketika itu sebagian sahabat enggan untuk shalat di lokasi perluasan masjid dan mereka memilih shalat di lokasi masjid yang asal. Maka Umar berkata : Seandainya aku tidak mendengar Rasul SAW berkeinginan untuk memperluas masjid ini niscaya aku tidak berani memperluas bangunannya.

وَاللَّهِ إِنَّهُ لَمَسْجِدُ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَلَوِ امْتَدَّ إِلَى ذِي الْحُلَيْفَةِ

Demi Allah, Lokasi perluasan masjid itu juga termasuk bagian dari Masjid Rasulullah SAW meskipun perluasannya sampai ke daerah Dzul Hulaifah (yang berjarak 17 KM dari Madinah) [Adlwa’ul Bayan]

Ketika mendatangi masjid nabawi jangan hanya diniati untuk mengerjakan shalat namun beberapa waktu niatkan juga untuk mengikuti kajian yang disampaikan oleh pembimbing travel karena Rasul SAW bersabda :

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا، لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ

 “Barang siapa mendatangi masjidku ini, tidak datang kecuali untuk kebaikan yang ingin dia pelajari atau ajarkan, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Dan barang siapa datang untuk selain itu, maka ia laksana orang yang hanya memandang barang orang lain.” [HR Ibnu Majah]

 

Istilah shalat Arbain itu ternyata tidak hanya di madinah namun juga ada di tanah air meskipun pekerjaannya lebih berat karena arbain di tanah air dilakukan dengan empat puluh hari bukan empat puluh waktu. Rasul SAW bersabda :

مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ.

“Barang siapa yang shalat karena Allah empat puluh hari secara berjamaah tanpa ketinggalan takbir yang pertama, maka dicatat baginya dua kebebasan; bebas dari neraka dan bebas dari kemunafikan. [HR Tirmidzi]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati kita untuk semangat mengerjakan shalat berjamaah tidak hanya ketika berada di tanah suci namun juga ketika pulang ke tanah air sendiri.