إنَّ اللّهَ أَوْحَىٰ إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّىٰ لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ علىٰ أَحَدٍ، وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَىٰ أَحَدٍ

"Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menyuruh kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya di hadapan orang lain, dan tidak seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain." [HR Muslim]

أَرْفَعُ النَّاسِ قَدْرًا : مَنْ لاَ يَرَى قَدْرَهُ ، وَأَكْبَرُ النَّاسِ فَضْلاً : مَنْ لَا يَرَى فَضْلَهُ

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah melihat kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah melihat kemuliannya (merasa mulia).” [Syu’abul Iman]

الإخلاص فقد رؤية الإخلاص، فإن من شاهد في إخلاصه الإخلاص فقد احتاج إخلاصه إلى إخلاص

"Ikhlas itu tidak merasa ikhlas. Orang yang menetapkan keikhlasan dalam amal perbuatannya maka keihklasannya tersebut masih butuh keikhlasan (karena kurang ikhlas)." [Ihya’ Ulumuddin]

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur." [HR Muslim]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu.”[HR Ahmad]

Sabtu, 18 Februari 2017

SAAT KENYATAAN TAK SEINDAH HARAPAN




ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah ditimpakan kepada seorang muslim berupa penderitaan (keletihan), penyakit, kesusahan, kesedihan dan gangguan serta kepedihan sampai-sampai duri yang tertusuk padanya melainkan Allah menghapuskan dosa-dosanya”. [HR Bukhari]

Catatan Alvers

“Ketika mimpimu yang begitu indah, tak pernah terwujud... Ya sudahlah. Saat kau berlari mengejar anganmu dan tak pernah sampai... Ya sudahlah (hhmm). Apapun yang terjadi... ku kan slalu ada untukmu Janganlah kau bersedih... Coz Everything’s gonna be Okay...”

Minggu, 12 Februari 2017

MENJADI SUAMI TERBAIK




ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Ibnu Abbbas RA, Rasul SAW bersabda :
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku (istriku)” [HR Ibnu Majah]

Catatan Alvers

Memiliki rumah tangga yang bahagia dan harmonis merupakan idaman setiap mukmin bahkan setiap orang namun faktanya berkata lain, semakin tahun semakin banyak rumah tangga yang gagal dan berakhir dengan perceraian. Mengapa demikian?. Setiap pasangan pastilah ingin membahagiakan satu sama lain namun seringkali manusia salah dengan menganggap kebahagiaan hanya bertumpu kepada harta. Ingin membahagiakan istri, maka suami kerja di tempat yang jauh sehingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tidak berkumpul dengan istrinya.Suami lupa bahwa kebutuhan istri tidak sebatas nafkah lahir namun tidak kalah pentingnya juga memenuhi nafkah bathin.

Kamis, 09 Februari 2017

SHOLAWAT HAJJIYAH

Ya Allah, berikanlah rahmat ta'dzim kepada junjungan kami Muhammad, sebuah rahmat ta'dzim yang dengannya Engkau mengantarkan kami (memenuhi ibadah) haji ke rumah-Mu yang Mulia, dan menziarahi kubur nabi-Mu, kepadanya semoga tercurahkan seutama-utama rahmat ta'dzim dan salam sejahtera dalam kelembutan, kesegarbugaran, keselamatan dan sampainya tujuan, juga kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya, dan salam sejahtera kepadanya.

Fadhilah: Shalawat hajjiyah ini merupakan shalawat yang dapat menjadi wasilah untuk mendapatkan manfaat besar, sebagai sarana untuk mendapatkan rizki yang cukup hingga dapat melaksanakan ibadah ke baitullah al-haram bagi orang yang berkenan mendzikirkannya secara istiqamah

Pengamalan:

Kerjakan shalat hajat 2 rakaat dan 2 rakaat.

TAKBIR SHOLAT PERTAMA
Pada rakaat pertama, setelah membaca al-Fatihah kemudian membaca al-Ikhlas 10 kali.
Pada rakaat kedua,     setelah membaca al-Fatihah kemudian membaca al-Ikhlas 20 kali.
SALAM

TAKBIR SHOLAT KE DUA
Pada rakaat ketiga,     setelah membaca al-Fatihah kemudian membaca al-Ikhlas 30 kali.
Pada rakaat keempat, setelah membaca al-Fatihah kemudian membaca al-Ikhlas 40 kali.
SALAM

Lalu baca sebanyak sholawat hajji 1000 x, minimal 40 hari berturut-turut insa Allah tidak sampai 3 tahun Allah akan mempermudah untuk berziarah ke tanah suci.


Setelah itu bacalah sholawat hajjiyah setiap selesai sholat malam.
Setelah itu membaca istighfar 100 x.
Sholawat Hajjiyah sebanyak 100 x,
insa Allah akan dipermudah segala urusan duniawi terlebih urusan ibadah haji dan umrah..

Penting untuk minta ijazah terlebih dahulu...

Tafaddhal

Rabu, 08 Februari 2017

DISPENSASI BOHONG


*ONE DAY ONE HADITH*

Dari Asma’ binti Yazid dia berkata: Rasul ﷺ bersabda:
لاَ يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلاَّ فِى ثَلاَثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِى الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ
Bohong itu tidak halal kecuali dalam tiga hal (yaitu) perkataan suami pada istrinya agar mendapat ridho istrinya, bohong ketika perang, dan bohong untuk mendamaikan di antara manusia. [HR Tirmidzi]

_Catatan Alvers_

Pasca kejadian seorang kyai yang juga tokoh nasional yang datang dalam sebuah persidangan sebagai saksi dimana beliau dituduh terdakwa dan kuasa hukumnya telah berbohong karena tidak mengakui apa yang dituduhkan oleh mereka maka tema bohong kemudian menjadi topik menarik untuk kami angkat dalam pembahasan odoh kali ini.

Al-Jurjani mendefinisikan bohong sebagai:
عدم مطابقته للواقع، وقيل: هو إخبارٌ لا على ما عليه المخبر عنه.
tidak sesuainya berita dengan kenyataan atau memberitakan sesuatu yang berlainan dengan kenyataan mukhbar anhu (yang diberitakan) sebenarnya. [At-Ta’rifat]

Contoh bohong dalam kehidupan keseharian kita misalnya, Faktanya barang berwarna merah tetapi diberitakan berwarna putih atau yang lainnya atau anak yang ditanya dari mana oleh orang tuanya dan ia menjawab dari tempat yang bukan dikunjunginya.

Bohong sering juga disebut juga dusta dalam Bahasa Arab disebut Kadziba. Maka Musailimah digelari Al-Kadzdzab karena ia berbohong dengan mengaku menjadi Nabi pasca Nabi penutup dan terakhir.

Berbohong adalah perilaku yang tidak terpuji yang merugikan orang lain bahkan dirinya sendiri, seperti mengakibatkan galau karena takut kebohongannya diketahui orang lain atau terbongkar, tidak akan dipercaya orang lagi ketika berbicara dan dijauhi oleh masyarakat.

Nabi Ibrahim AS kelak di hari kiamat ketika dimintai syafaat oleh manusia, beliau berkata : “Lastu Laha” (Aku tidak bisa memberi syafaat) [HR Bukhari]. Hal ini beliau katakan karena merasa punya kesalahan, yaitu pernah berbohong. Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw. bersabda:

لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيمُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَام قَطُّ إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ ثِنْتَيْنِ فِي ذَاتِ اللَّهِ قَوْلُهُ { إِنِّي سَقِيمٌ } وَقَوْلُهُ { بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا } وَوَاحِدَةٌ فِي شَأْنِ سَارَةَ
Nabi Ibrahim as. tidak pernah berdusta kecuali sebanyak tiga kali, dua di antaranya menyangkut Dzat Allah, yaitu ucapannya: Sesungguhnya aku sakit. (Qs. Ash Shaffaat 37: 89). Dan ucapannya: Sebenarnya patung yang besar itulah yang memukulnya. (Qs. Al-Anbiyaa’ 21: 63). Yang satu lagi adalah menyangkut diri Sarah (“Dia Saudaraku”). [HR Muslim]

Meskipun semua ucapan tersebut tidak dinilai bohong oleh para ulama, namun tetap saja nabi ibrahim menilainya sebagai suatu kebohongan karena tingginya derajat beliau. Ataupun ulama menilainya sebagai bohong yang diperbolehkan karena tidak semua kebohongan itu tercela, karena pada hakikatnya bohong itu menjadi tercela bukan karena dzatiahnya kebohongan akan tetapi karena adanya bahaya dan kerugian yang menimpa orang lain. Maka boleh jadi dalam kasus tertentu bohong itu menjadi boleh (mubah) bahkan wajib. Maimun bin Mahran berkata : terkadang dalam kasus tertentu, bohong itu lebih baik dari pada jujur. Coba bayangkan, jika ada seseorang (penjahat) berlari membawa parang bermaksud membunuh fulan dan ia mengejarnya lalu fulan itu bersembunyi lalu penjahat bertanya kepada anda : apakah kamu melihat fulan? bukankah anda akan mengatakan :  Aku tidak melihatnya!. Padahal anda mengetahuinya dan anda tidak jujur dalam hal ini. Inilah kebohongan yang wajib hukumnya. [Ihya’ Ulumiddin]

Oleh karena itulah dalam islam, tidak selamanya bohong itu terlarang dan haram hukumnya. Nabi SAW dalam hadits utama di atas memberikan perkecualian yaitu perkataan bohong suami pada istrinya agar mendapat ridho istrinya, bohong ketika perang, dan bohong untuk mendamaikan di antara manusia. [HR Tirmidzi]

Bukankah merupakan kebaikan jika suami berkata bohong kepada istrinya yang buruk rupa “engkau cantik” dan sebaliknya akan menyakitkan hati jika suami jujur mengatakan “sungguh mukamu jelek sekali”.

Di zaman khalifah Umar RA, Ada seorang suami berkata kepada istrinya “Aku minta bersumpah atas nama Allah, Apakah kau mencintaiku?” maka istrinya berkata “baiklah, jika kau memintaku bersumpah atas nama Allah maka aku katakan aku tidak cinta padamu”. Keluarlah lelaki tersebut dan mengadukan hal ini kepada sang khalifah. Singkat cerita, Khalifat bertanya : Apakah engkau wanita yang berkata kepada suamimu : “aku tidak cinta kepadamu”? Maka wanita menjawab: “iya, Ia telah memintaku bersumpah atas nama Allah, apakah aku akan berkata bohong?”. Maka Khalifah berkata :

نعم فاكذبيه ليس كل البيوت تبنى على الحب ولكن الناس يتعاشرون بالإسلام والإحسان
Iya, berbohonglah kepada suamimu (dengan berkata “aku cinta kamu”) sebab tidak semua rumah tangga dibangun atas dasar rasa cinta akan tetapi manusia itu berhubungan satu sama lain dengan prinsip ajaran islam dan ihsan (berbuat baik) [Ghid’aul Albab]

Lebih jelas mengenai batasan berbohong dalam ranah rumah tangga, Al-Hafidz ibnu hajar mengatakan:
واتفقوا على أن المراد بالكذب في حق المرأة والرجل إنما هو فيما لا يسقط حقا عليه أو عليها أو أخذ ما ليس له أو لها
“Ulama sepakat bahwa yang dimaksud bohong antar-suami istri adalah bohong yang tidak menggugurkan kewajiban atau mengambil sesuatu yang bukan haknya.” [Fathul Bari]

Imam Al-Ghazali berkata dilam kitabnya ( Ihya 'Ulumuddin ) batasan dalam berbohong sebagai berikut :

1. Setiap tujuan yang terpuji yang masih di mungkinkan sampai kepadanya dengan cara jujur dan berbohong dengan cara bersamaan maka berbohong dalam hal tesebut adalah haram.

2. Jika tujuan yang terpuji tidak dapat di peroleh kecuali dengan cara berobhong maka berbohong dalam keadaan tesebut adalah mubah

3. Jika menghasalkan tujuan yang terpuji hukumnya wajib, maka hukumnya berbohong juga wajib, sebagaimana seseorang melihat orang yang ma'sum (terpelihara harta dan darahnya) bersembunyi dari orang yang dhalim yang ingin membunuh atau menyakitinya, karena darahnya orang yang ma'sum wajib dijaga. [Ihya 'Ulumiddin] Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menjauhi kebohongan dalam setiap perkataan kita, baik ketika bergurau apalagi ketika serius.

Salam Satu Hadith,
DR.H.Fathul Bari Alvers
PP Annur2.net Malang, Ind

Temukan Artikel ini dalam
BUKU ONE DAY ONE HADITH
Kajian Hadits Sistem SPA
(Singkat, Padat, Akurat)
Buku Serial #1 Indahnya Hidup Bersama Rasul SAW
Buku Serial #2 Motivasi Bahagia dari Rasul SAW
Harga Promo, hub.: 081216742626

UMRAH ALVERS Bersama Admin ODOH Alvers, Periode 20 April 2017 Hanya Rp 26 Juta (Net, tanpa tambahan) Pesawat Saudia Langsung Madinah, Hotel Dekat, 13 Hari (Mekkah 7 H –Madinah 4 H) Free: Pigura Foto Depan Ka’bah, Video Dokumentasi, Asuransi-Airport tax-Handling-Perlengkapan. WA : 08125214321

SADAP MENYADAP (INTERSEPSI)


*ONE DAY ONE HADITH*

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas RA, Nabi SAW bersabda,
وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak menyukainya atau lari darinya, maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” [HR. Bukhari]

_Catatan Alvers_

Penyadapadan akhir-akhir ini kembali heboh pasca kasus percakapan telpon yang dituduhkan terjadi antara tokoh agama terkemuka dengan mantan presiden. Perkara sadap menyadap buknalah hal baru. Tidak hanya mantan presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono yang pernah disadap, banyak pemimpin negara besar yang juga pernah jadi korban penyadapan.

Pengungkapan penyadapan terbesar terjadi pada tahun 2013 saat dokumen rahasia badan intelijen Amerika Serikat, NSA, dibocorkan oleh Edward Snowden ke media dan WikiLeaks yang telah menyadap 35 pemimpin negara. Dan pada tahun 2014 disebutkan ada 122 pemimpin jadi korban penyadapan, utamanya para pemimpin negara dalam KTT G20 di Kanada. [Kumparan com] Kasus penyadapan menjadi marak karena saat ini ternyata teknologi yang ada di film James Bond itu telah berkembang begitu pesatnya. Penyadapan hampir tidak mungkin diantisipasi, bahkan ratusan juta orang bisa disadap dalam waktu yang bersamaan.

Menurut Pakar Kriptografi, metode penyadapan yang berkembang saat ini ada dua, yakni pertama lawful interception dengan berkerjasama dengan perusahaan provider. Kedua, tactical interception, yaitu menyadap dengan batuan alat sadap portabel pada radius trebatas. Penyadapan model ini harus mendekati kepada target penyadapan. Misalnya target berada di gedung DPR, maka penyadap harus mendekat lokasi seperti di tempat parkir gedung DPR. Penyadapan model ini tidak memerlukan nomor handphone karena semua handphone yang berada pada radius alat tersebut otomatis akan tersadap. Metode kedua inipun sekarang telah berkembang macamnya sehingga radiusnya bertambah jauh.[jpnn com]

Menyadap atau dikenal dalam bahsa hukum sebagai intersepsi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia didefiniskan sebagai perbuatan mendengarkan (merekam) informasi (rahasia, pembicaraan) orang lain dengan sengaja tanpa sepengetahuan orangnya. [KBBI web id] Penyadapan merupakan perbuatan yang dilarang oleh Pasal 40 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (“UU Telekomunikasi”) yang berbunyi: “Setiap orang dilarang melakukan kegiatan penyadapan atas informasi yang disalurkan melalui jaringan telekomunikasi dalam bentuk apapun”.

Yang dimaksud dengan penyadapan (intersepsi) tersebut adalah kegiatan memasang alat atau perangkat tambahan pada jaringan telekomunikasi untuk tujuan mendapatkan informasi dengan cara tidak sah. Pada dasarnya informasi yang dimiliki oleh seseorang adalah hak pribadi yang harus dilindungi sehingga penyadapan harus dilarang. [Penjelasan Pasal 40 UU Telekomunikasi ] dan barang Siapa yang melanggarnya dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun. [ Pasal 56 UU Telekomunikasi ]

Di dalam islam, tindakan penyadapan adalah tergolong perbuatan yang haram karena tindakan menyadap ini tergolong tindakan menguping pembicaraan orang lain tanpa sepengetahuan dengan ancaman lebih berat dari pada hukuman yang dijatuhkan oleh UU telekomnukiasi di atas karena Rasul ﷺ bersabda dalam hadits utama di atas : “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak menyukainya atau lari darinya, maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” [HR. Bukhari]

Islam merupakan agama yang sangat menghormati hak-hak sesama manusia baik bagi setiap individu maupun masyarakat. Dalam rangka menjaga keharmonisan hubungan sesama manusia maka islam menganjurkan setiap individu menutup aib orang lain dan melarang mencari-cari kesalahan mereka dengan menguping dan memata-matai.

Imam Al-Ghazali menceritakan bahwa di suatu malam, Khalifah Umar RA berkeliling untuk melihat situasi kondisi kota madinah. Saat itu ia mendengar dari suatu rumah suara lelaki sedang bernyanyi maka didekatilah rumah tersebut dan Umarpun memanjat pagarnya untuk melihat apa yang sedang terjadi. Ternyata, Umar melihat lelaki tersebut sedang meminum khamer bersama seorang perempuan. Umar lantas berteriak “Hai Musuh Allah, Akankah kau menyangka bahwa Allah akan menutupi perbuatan maksiatmu ini?”
Lalu lelaki itu berkata :
وأنت يا أمير المؤمنين فلا تعجل، فإن كنت قد عصيت الله واحدة فقد عصيت الله في ثلاثة
Janganlah tergesa-gesa wahai Amirul Mu’minin!, Jika aku bermaksiat kepada Allah dalam satu hal maka engkau telah bermaksiat kepadaNya dalam tiga Hal.

Pertama, Allah SWT berfirman “Janganlah engkau memata-matai” [QS Al-Hujurat : 12] sedangkan engkau telah melanggarnya dengan memata-mataiku. Kedua, Allah SWT berfirman “Bukanlah kebaikan mendatangi rumah dari belakang” [AL-Baqarah : 189] sedangkan engkau telah memanjat rumahku. Ketiga, Allah SWT berfirman “Janganlah masuk rumah selain rumahmu sehingga kau meminta ijin dan mengucapkan salam” [QS An-NUR : 27] sedangkan kau telah menyusup dalam rumahku tanpa ijin dan tanpa mengucap salam. 

Umar berkata: “Apakah kau memiliki kebaikan untuk memaafkanku?”. Lelaki itu menjawab: Demi Allah wahai Amirul Mu’minin, Jika engkau memaafkanku atau pelanggaranku kali ini maka aku tidak akan mengulanginya lagi selamanya”. Maka Khalifah umarpun keluar dari rumah tersebut dan meninggalkannya. [Ihya Ulumuddin]

Perbuatan menyadap atau menguping pembicaraan orang lain termasuk tindakan tajassus yang terlarang. Tajassus (spionase) adalah mencari-cari kesalahan orang lain dengan menyelidikinya atau memata-matainya. Dalam kamus literatur bahasa Arab, Imam Ibnu Manzhur tajassus diartikan “bahatsa ‘anhu wa fahasha” yaitu mencari berita atau menyelidikinya.[ Lisan al-‘Arab]

Allah SWT berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” [QS Al-Hujurat : 12]

Tajassus biasanya merupakan kelanjutan dari prasangka buruk sehingga dalam ayat tadi, Allah Ta’ala melarang secara bersamaan.

Rasulullah ﷺ bersabda,
إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا
“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”[HR Bukhari]

Terdapat perbedaan pendapat dalam makna Tahassus dan tajassus. Ada ulama yang mengatakan keduanya adalam sama, sinonim dan adapula yang mengatakan berbeda. Yahya ni Abi Katsir seorang tabi’in berkata :
Tajassus berarti mencari-cari kesalahan sedangkan tahassus berarti menguping, mendengarkan percakapan orang lain. [fathu Bari] dengan demikian tajassus lebih umum daripada tahassus.

Perbedaan selanjutnya, Kata ‘tajassus’ lebih sering digunakan untuk suatu kejahatan sedangkan kata ‘tahassus’ terkadang digunakan untuk hal yang baik. Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT :
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ
(Ya’qub berkata) “Wahai anak-anakku, pergilah kalian, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya…” [QS. Yusuf: 87]

Terlepas dari perbedaan tersebut, maka perbuatan mencari-cari kesalahan orang lain dengan menguping, memata-matai atau yang lainnya adalah perbuatan tercela. Pelakunya lupa bahwa dirinya juga memiliki dosa dan kesalahan yang sama bahkan boleh jadi lebih besar dari targetnya. Maka sebaiknya, mata-matailah diri sendiri sebelum memata-matai orang lain. Sungguh rugi orang yang mencari-cari kesalahan orang lain dan sebaliknya sungguh beruntung orang yang mau mencari-cari kesalahan diri sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda :
طُوْبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوْبِ النَّاسِ
Beruntunglah orang yang sibuk dengan aibnya sendiri, sehingga tidak sempat memperhatikan aib orang lain [HR Al-Baihaqi]

Bahkan orang yang mau melihat dan memeriksa kesalahan dirinya sendiri itu lebih baik daripada ia memiliki karomah dapat melihat hal ghaib. Syekh Atha’illah As-sakandary:
تَشَوُّفُكَ اِلَى مَا بَطَنَ فِيْكَ مِنَ الْعُيُوْبِ خَيْرٌ مِنْ تَشَوِّفِكَ اِلَى مَا حُجِبَ عَنْكَ مِنَ الْغُيُوْبِ
Usahamu untuk mengetahui apa yang tersimpan dalam dirimu dari berbagai macam cela itu lebih baik daripada usahamu kepada apa yang terhalang darimu dari berbagai macam perkara yang ghaib [Al-Hikam]

Dan terakhir, Tajassus itu diperkecualikan jika menjadi cara untuk menyelamatkan orang yang terancam di bunuh, dianiaya atau menghindarkan orang lain dari perbuatan maksiyat seperti zina. [Fathul Bari] Maka dari itu, termasuk dalam ranah perkecualian disebutkan dalam Pasal 31 UU 19/2016 ayat 3 :  Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku terhadap intersepsi atau penyadapan yang dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, atau institusi lainnya yang kewenangannya ditetapkan berdasarkan undang-undang. Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menyibukkan diri dengan kesalahan diri sendiri sehingga kita enggan untuk menguping apalagi menyadap pembicaraan orang lain.

_Salam Satu Hadith,_
DR.H.Fathul Bari Alvers
PP Annur2.net Malang, Ind

DAPATKAN BUKU ONE DAY ONE HADITH
Kajian Hadits Sistem SPA
(Singkat, Padat, Akurat)
Buku Serial #1 Indahnya Hidup Bersama Rasul SAW
Buku Serial #2 Motivasi Bahagia dari Rasul SAW
Harga Promo, hub.: 081216742626

*UMRAH ALVERS* Bersama Admin, Periode 20 April 2017 *Promo Hanya Rp 26 Juta* (Net, tanpa tambahan) *Pesawat Saudia Langsung Madinah,* Hotel Dekat, 13 Hari (Mekkah 7 H –Madinah 4 H) Free: Pigura Foto Depan Ka’bah, Video Dokumentasi, Asuransi-Airport tax-Handling-Perlengkapan. Kuota terbatas, cepat daftar via *WA : 08125214321*