إنَّ اللّهَ أَوْحَىٰ إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّىٰ لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ علىٰ أَحَدٍ، وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَىٰ أَحَدٍ

"Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menyuruh kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya di hadapan orang lain, dan tidak seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain." [HR Muslim]

أَرْفَعُ النَّاسِ قَدْرًا : مَنْ لاَ يَرَى قَدْرَهُ ، وَأَكْبَرُ النَّاسِ فَضْلاً : مَنْ لَا يَرَى فَضْلَهُ

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah melihat kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah melihat kemuliannya (merasa mulia).” [Syu’abul Iman]

الإخلاص فقد رؤية الإخلاص، فإن من شاهد في إخلاصه الإخلاص فقد احتاج إخلاصه إلى إخلاص

"Ikhlas itu tidak merasa ikhlas. Orang yang menetapkan keikhlasan dalam amal perbuatannya maka keihklasannya tersebut masih butuh keikhlasan (karena kurang ikhlas)." [Ihya’ Ulumuddin]

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur." [HR Muslim]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu.”[HR Ahmad]

Sunday, May 7, 2023

MASALAH DENGAN TETANGGA

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Uqbah Bin Amir RA, Nabi SAW bersabda :

أَوَّلُ خَصْمَيْنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جَارَانِ

Dua orang yang berseteru pertama kali di hari kiamat kelak adalah dua orang tetangga.  [HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Viral Warga Bekasi Beli Mobil Baru tapi Buat Garasi di Jalan Umum. Dalam video viral itu, tampak pemilik mobil memakai besi dan rantai pembatas area garasinya yang memakan separuh jalan umum sehingga membikin jalan umum itu tambah sempit. Setelah video ini viral, anggota Polsek Serang Baru akhirnya turun tangan (5/5/2023). [TribunWow com] Permasalahan seperti ini mengundang respon dari tetangga, sehingga viral juga foto yang memperlihatkan spanduk yang terpasang di gang bertuliskan : “Siapkan garasinya dulu, sebelum beli mobil. Jalan kampung adalah milik warga bro, bukan garasi milik pribadimu, jangan rampas hak jalan untuk orang lain. [kompas com]

 

Viral juga video dimana seorang wanita berkerudung merah muda di jaktim tengah menyapu di pekarangan rumahnya, tiba-tiba seorang pria berbaju hitam (tetangga) memukulkan helm kepadanya (4/4/2023). Wanita itu kemudian membalas dengan memukulkan sapu yang dia pegang. Cekcok di antara tetangga itu kemudian mengundang orang lain yang pada akhirnya turut serta saling baku hantam. Usut punya usut ternyata hal ini dikarenakan di wanita tersebut berkata-kata kotor dengan nada menghina bahkan meludah ke arahnya. [detik com]

 

Bermasalah dengan tetangga bukan terjadi sekarang saja. Di Zaman Nabi SAW telah terjadi hal demikian. Abu Hurairah RA berkata : "Seorang laki-laki datang kepada nabi SAW mengadukan tetangganya. lalu Beliau bersabda: " pergilah engkau dan bersabarlah." Laki-laki itu kembali mendatangi nabi SAW hingga dua atau tiga kali, beliau pun bersabda:

اذْهَبْ فَاطْرَحْ مَتَاعَكَ فِي الطَّرِيقِ

"Pergilah, dan taruhlah perabotan rumahmu ke jalan."

Laki-laki itu kemudian melakukannya, hingga orang-orang bertanya sebabnya. Iapun mengabarkan perilaku buruk tetanggnya hingga mereka bersimpati dengan melaknat sang tetangga. "Semoga Allah memberikan hukuman kepadanya” Kemudian tetangga itu mendatangi laki-laki tersebut dan berkata,

ارْجِعْ، لَا تَرَى مِنِّي شَيْئًا تَكْرَهُهُ

"Kembalilah pulang, engkau tidak akan lagi melihat sesuatu yang engkau benci dariku." [HR Abu Dawud]

 

Setiap kita hendaklah menyadari hak-hak tetangga. Jangan sampai perbuatan kita membuat tetangga terganggu hingga tidak kerasan di rumahnya. Rasil SAW bersabda :

مَا مِنْ جَارٍ يَظْلِمُ جَارَهُ وَيَقْهَرُهُ، حَتَّى يَحْمِلَهُ ذَلِكَ عَلَى أَنْ يَخْرُجَ مِنْ مَنْزِلِهِ، إِلَّا هَلَكَ

Tidaklah seseorang mendzalimi tetangganya dan memaksanya sehingga ia keluar (terusir) dari rumahnya melainkan ia akan binasa. [Adabul Mufrad]

 

Dulu ada kisah seseorang yang sukanya memutar lagu setiap hari di rumahnya dengan suara yang keras hingga seperti orang yang punya hajat. Tetangganya yang merasa terganggu akhirnya memberanikan diri untuk menegurnya. Si Tetangga berkata : Tolong matikan atau kecilkan volume musikmu!. Orang itu menjawab : “kenapa engkau berkata seperti itu? Bukankah ini adalah sound systemku sendiri yang aku beli sendiri, lagian aku memutarnya di rumahku sendiri, apa urusannya denganmu?” dengan nada tinggi. Tetangga berkata : Memang itu sound systemmu sendiri dan kamu beli sendiri, serta kau memutarnya di rumahmu sendiri, tapi kenapa suara sound-mu itu masuk ke dalam telingaku sendiri dan di rumahku sendiri?.

 

Banyak orang tidak menyadari bahwa kesukaan orang itu berbeda-beda maka hendaklah bijak dalam menggunakan barang milik sendiri, jangan sampai mengganggu tetangga. Dalam kaidah ushul disebutkan :

لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَتَصَرَّفَ فِي مِلْكِهِ بِمَا يُؤْذِي بِهِ جَارَهُ

Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk mempergunakan harta yang dimilikinya dengan penggunaan yang bisa mengganggu tetangganya. [Al-Ihkam Syarah Ushulil Ahkam]

 

Hal ini seperti pesan Nabi SAW kepada sahabat Hakim RA, Rasul SAW bersbda :

وَلا تَرْفَعْ بِنَاءَكَ فَوْقَ بِنَائِهِ فَتَسُدَّ عَلَيْهِ الرِّيحَ وَلَا تُؤْذِهِ بِرِيحِ قِدْرِكَ إِلَّا أَنْ تَغْرِفَ لَهُ مِنْهَا

Janganlah engkau meninggikan bangunan rumahmu melebihi rumah tetangga yang menyebabkan terhalangnya angin berhembus kepadanya, dan janganlah kau menyakiti tetangga dengan aroma masakanmu melainkan engkau memberikan sebagian untuknya. [HR Thabrani]

 

Memang permasalahan dengan tetangga kerap terjadi, bahkan disebutkan dalam hadits utama di atas “Dua orang yang berseteru pertama kali di hari kiamat kelak adalah dua orang tetangga”.  [HR Ahmad] Dan dalam hadits lain, Nabi SAW bersabda :

كَمْ مِنْ جَارٍ مُتَعَلِّقٍ بِجَارِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ يَا رَبِّ هَذَا أَغْلَقَ بَابَهُ دُونِي فَمَنَعَ مَعْرُوفَهُ

Betapa banyak orang yang memegangi tetangganya di hari kiamat dan ia berkata : “Wahai tuhanku, orang ini telah menutup pintunya untukku sehingga ia mencegah kebaikannya. [HR Bukhari dalam Adabul Mufrad]

 

Maka hendaknya kita tidak mengganggu tetangga karena mengganggu tetangga akan menjadi urusan di dunia bahkan di akhirat kelak. Nabi SAW bersabda :

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. [HR Muslim]

 

Dan sebaliknya kita harus berpikir bagaimana bisa membantu tetangga, membahagiakannya dan menjadikan mereka beruntung memiliki tetangga seperti kita. Jadilah tetangga terbaik di sisi Allah SWT. Nabi SAW bersabda :

خَيْرُ الْجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

“Sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah mereka yang paling baik kepada tetangganya.” [HR Tirmidzi].

 

Tentunya semua itu bukan untuk mencari pujian, namun supaya kita menjadi orang yang dicintai Allah SWT.  Rasul SAW bersabda : “Ada tiga golongan yang dicintai Allah, (salah satunya adalah) :

وَالرَّجُلُ يَكُونُ لَهُ الْجَارُ يُؤْذِيهِ جِوَارُهُ فَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُ حَتَّى يُفَرِّقَ بَيْنَهُمَا مَوْتٌ

seseorang yang memiliki tetangga yang menyakitinya tapi dia tetap bersabar hingga kematian memisahkan keduanya”. [HR Ahmad]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk tidak memikirkan kebahagiaan kita dan keluarga sendiri saja namun juga memikirkan kebahagiaan tetangga kita sehingga kita meraih bahagia di dunia dan akhirat. Amin...

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

 

 

Friday, May 5, 2023

MEMBUNUH ANAK KARENA CINTA

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah RA, Nabi SAW bersabda :

إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الأُمَّهَاتِ وَوَأْدَ البَنَاتِ...

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian ; durhaka kepada ibu dan memendam anak-anak perempuan hidup-hidup.” [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Viral seorang ayah (29 Tahun) di Gresik tega membunuh putri kandungnya (9 Tahun) yang sedang terlelap tidur pada (29/4/2023) sekitar pukul 04.30 WIB di rumah kontrakannya. Berdasarkan pengakuannya, sang ayah melakukan perbuatan keji tersebut karena ingin anaknya masuk surga dan tak ingin putrinya dibully temannya karena sang ibu bekerja sebagai LC (lady companion; wanita yang tugasnya menemani konsumen di tempat karaoke). Sang ayah menusuk putrinya sebanyak 24 kali dengan menggunakan pisau dapur. [kumparan com]

 

Pada tahun lalu, seorang ibu di Brebes juga tega merenggut nyawa tiga anaknya sendiri dengan alasan "demi kebaikan". Sang ibu mengaku melakukan pembunuhan tersebut karena ingin menyelamatkan anak-anaknya dari kemiskinan agar tidak hidup susah. Pembunuhan anak yang dilakukan oleh orang tua dengan alasan "demi kebaikan anak" dikenal pula sebagai “altruistic filicide”. Altruistic filicide adalah tindakan pembunuhan secara sengaja yang dilakukan kepada anak atas dasar "cinta". Orang tua meyakini bahwa tindakan tersebut dapat membebaskan anak dari kesulitan. Kesulitan ini bisa berupa kesulitan yang nyata maupun imajinasi yang dimiliki oleh orang tua. [Republika co id]

 

Kejadian ayah membunuh anak tidak hanya terjadi di zaman ini, hal demikian telah marak terjadi sejak zaman jahiliyah yang dikenal dengan istilah “Wa’dul Banat”, memendam anak-anak perempuan hidup-hidup sebagaimana disampaikan dalam hadits utama di atas. Allah SWT juga menyinggung soal tradisi buruk ini dengan Firman-Nya :

وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ بأَيّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ

dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh [QS At-Takwir : 8-9]

Dan juga dalam ayat lain disebutkan : “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. [QS An-Nahl : 58]

 

Ibnu Hajar Al-Asqalany menjelaskan bahwa membunuh anak khususnya anak perempuan dahulu dilakukan oleh orang-orang di masa jahiliyah karena mereka membenci anak perempuan. Orang pertama yang melakukannya adalah Qays bin Ashim At-Tamimy. Suatu ketika ada musuh menyerangnya dan berhasil mengambil putrinya sebagai tawanan kemudian dinikahinya. Setelah beberapa lama terjadilah perdamaian di antara mereka. Sang putri tadi disuruh memilih antara kembali ke ayahnya atau ia tetap hidup bersama suaminya lalu sang putri tanpa diduga memilih tetap hidup bersama suaminya yang tak lain adalah (mantan) musuh ayahnya. Sang Ayahpun murka dan merasa dipermalukan oleh putrinya sendiri dan sejak saat itu sang ayah yaitu Qays bersumpah jika sampai punya anak perempuan lagi maka ia akan menguburnya hidup-hidup. Lalu perbuatan ini menjadi tradisi dikalangan orang-orang arab jahiliyah. Ini adalah pembunuhan motif pertama.

 

Pembunuhan motif kedua adalah membunuh anak tanpa membedakan jenis kelamin, perempuan ataukah laki-laki. Pembunuhan ini dilakukan karena adanya anggapan bahwa anak akan mengurangi harta ayahnya dan ada pula pembunuhan yang dilakukan karena motif ekonomi yaitu sang ayah khawatir tidak memiliki nafkah untuk anaknya tersebut.

Pembunuhan ini dilakukan dengan modus, pertama-tama sang ayah menggali lubang di suatu tempat kemudian ia menyuruh istrinya ketika hendak melahirkan agar mendekat pada lubang tersebut. Ketika bayi keluar dan dilihat bahwa bayinya adalah perempuan maka sang ayah langsung membuangnya kedalam lubang dan segera memendamnya hidup-hidup. Ini adalah modus yang dilakukan pada pembunuhan motif pertama (motif gender).

Pada pembunuhan motif kedua (motif ekonomi), modus yang dilakukan adalah ketika anak laki atau perempuan berusia enam tahun maka sang ayah berkata kepada istrinya  :

طَيِّبِيْهَا وَزَيِّنِيْهَا لِأَزُوْرَ بِهَا أَقَارِبَهَا

“Berilah wewangian pada sang anak dan pakaikanlah pakaian yang bagus karena aku akan membawanya berkunjung ke rumah kerabat-kerabatnya”.

Lalu sang ayah keluar dengan membawa anak tersebut pergi. Ketika sampai di tengah perjalanan dan melewati satu sumur maka sang ayah berhenti lalu memerintahkan anak itu untuk mendekat dan melihat isi sumur tersebut. Dan saat itulah secara tiba-tiba sang ayah mendorong tubuh sang anak dari belakang hingga ia jatuh ke dalam sumur. Setelah itu sang ayah segera membuang tanah dan pasir ke dalam sumur untuk memendam anaknya. [Fathul Bari]

 

Dalam ajaran islam, membunuh anak adalah hal yang terlarang bahkan termasuk dosa besar. Anak laki-laki maupun perempuan dalam Islam mempunyai hak untuk hidup dan haknya ini tidak boleh direnggut oleh siapapun termasuk oleh Ayah atau ibunya sendiri. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami-lah yang akan memberi rizqi kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. [QS al-Isra : 31]

 

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu kasir berkata :

هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيْمَةُ دَالَّةٌ عَلَى أَنَّ اللهَ تَعَالَى أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنَ الْوَالِدِ بِوَلَدِهِ لِأَنَّهُ يَنْهَى عَنْ قَتْلِ الْأَوْلَادِ

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala lebih sayang terhadap hamba-Nya melebihi kasih sayang orang tua terhadap anaknya, karena Allah melarang orang tua membunuh anak-anaknya sendiri. [Tafsir Ibnu Kasir]

 

Umar bin Khattab RA berkata: “Suatu ketika datanglah tawanan perang kepada Nabi SAW, tiba-tiba ada seorang perempuan di antara tawanan itu (mencari anaknya untuk disusuinya karena) air susunya telah memenuhi teteknya, kemudian ia menemukan anaknya di antara para tawanan, lalu diambillah anaknya tersebut untuk disusuinya. Maka Nabi SAW bersabda kepada para sahabat: “Bagaimana menurut kalian, apakah mungkin ibu itu melemparkan anaknya ke dalam api? Para sahabat menjawab : ”Tidak mungkin selama dia mampu mencegahnya”. Nabi SAW bersabda :

لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا.

”Sungguh Allah lebih kasih sayang terhadap hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu ini terhadap anaknya. [HR Bukhari]

 

Sungguh perbuatan yang kejam, orang tua membunuh anak meskipun dengan alasan cinta (Altruistic filicide) misalnya takut anaknya tidak mendapat makanan karena faktor kemiskinan, ataupun alasan lainnya. Dalam hal ini, Abdullah bin Mas’ud RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW:

أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ

“Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah ?”

 

Beliau menjawab: yaitu engkau menyekutukan Allah padahal Dialah yang menciptakanmu.

Abdullah berkata : sungguh itu adalah dosa besar. Kemudian apa lagi? Maka beliau menjawab :

وَأَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ تَخَافُ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ

“Engkau bunuh anakmu lantaran kamu takut dia makan bersamamu”. [HR Bukhari]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menyayangi anak-anak kita, baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang benar yaitu cara yang diajarkan oleh Allah dan Rasulullah SAW dalam ajaran Islam serta tidak mendzalimi mereka dengan cara apapaun.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

Wednesday, May 3, 2023

PANAS EKSTRIM

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda :

إِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلَاةِ فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ

“Apabila cuaca panas ekstrim, maka tundalah sebentar pelaksanaan shalat hingga cuac agak dingin karena panas yang menyengat itu sebagian dari hembusan neraka jahannam.” [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Akhir akhir ini kita merasakan suhu yang lebih panas dari biasanya. Ternyata peningkatan suhu ini juga terjadi di beberapa negara. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di negara-negara Asia seperti Bangladesh, Myanmar, India, China, Thailand, dan Laos melaporkan kejadian suhu panas lebih dari 40°C yang telah berlangsung beberapa hari belakangan dengan rekor-rekor baru suhu maksimum di wilayahnya. Hal ini dipengaruhi oleh heatwave (gelombang panas). Di beberapa kota di utara dan timur India tercatat suhunya di atas 44°C (16 April 2023) bahkan tersebut telah menyebabkan kematian dan penutupan sekolah.

Lalu, apakah penyebab cuaca panas di Indonesia juga dipengaruhi oleh heatwave? Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Republik Indonesia atau BMKG RI, mengungkap penyebab cuaca panas di Indonesia 2023 bukanlah dipengaruhi gelombang panas atau heatwave, tetapi gerak semu matahari yang merupakan siklus tahunannya. Dilaporkan pada April 2023, di Indonesia suhu maksimum harian mencapai 37.2°C dan secara umum, suhu tertinggi berada pada kisaran 34-36°C. [Liputan6 com]

 

Cuaca panas ekstrim juga pernah terjadi di zaman Nabi SAW. Abu Dzarr Al-Ghifary mengisahkan: “Suatu ketika Kami bersama Nabi SAW dalam suatu perjalanan, lalu ada seorang seseorang hendak mengumandangkan adzan (dan iqamat), maka Nabi SAW bersabda, “Tundalah” Lalu (beberapa waktu kemudian), ia hendak mengumandangkan adzan lagi, beliau bersabda, “Tundalah hingga kita melihat bayang-bayang pada gundunkan pasir”

Lalu beliau bersabda dengan hadits di atas, yaitu “Sesungguhnya panas yang sangat itu sebagian dari panasnya jahannam. Maka jika terjadi cuaca panas sekali hendaklah kalian mengakhirkan shalat.” [HR Bukhari]

 

Dalam lanjutan hadits disebutkan :

وَاشْتَكَتْ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْ يَا رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ فَهُوَ أَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنْ الْحَرِّ وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنْ الزَّمْهَرِيرِ

Neraka jahanam mengadu kepada Rabb-nya seraya berkata, 'Wahai Rabb, sebagian kami telah makan sebagian yang lain!', maka Allah pun memberinya izin dengan dua tarikan nafas; sekali saat musim dingin dan sekali saat musim panas. Maka apa yang kalian rasakan berupa udara panas berasal darinya, begitu juga udara dingin yang kalian rasakan berasal darinya." [HR Bukhari]

 

Jadi cuaca panas ekstrim secara dogmatis merupakan bagian dari panasnya jahannam. Dalam hadits lain disebutkan bahwa Abu Hurairah RA pernah menemani Rasul SAW untuk menjenguk sahabat yang sedang sakit panas. Rasul SAW bersabda kepadanya : Bergembiralah karena Allah Azza wa Jalla berfirman :

أَبْشِرْ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ نَارِي أُسَلِّطُهَا عَلَى عَبْدِي الْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا لِتَكُونَ حَظَّهُ مِنْ النَّارِ فِي الْآخِرَةِ

Sakit panas adalah apiku yang aku timpakan kepada hambaku yang beriman di dunia supaya menjadi (pengganti) bagiannya dari api neraka di akhirat. [HR Ahmad]

 

Maka bagi orang mukmin, panas atau api akan menjadi sarana yang mengingatkan kepada adzab api neraka. Dan memanglah demikian api diciptakan, Allah SWT berfirman :

نَحْنُ جَعَلْنَاهَا تَذْكِرَةً وَمَتَاعًا لِلْمُقْوِينَ

Kami jadikan api itu untuk peringatan (yang mengingatkan kepada api neraka) dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir. [QS Waqi’ah : 73]

 

Dan Nabi SAW bersabda :

إِنَّ نَارَكُمْ هَذِهِ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ وَضُرِبَتْ بِالْبَحْرِ مَرَّتَيْنِ وَلَوْلَا ذَلِكَ مَا جَعَلَ اللَّهُ فِيهَا مَنْفَعَةً لِأَحَدٍ

Sesungguhnya api kalian ini merupakan satu dari 70 bagian dari api neraka jahannam dan ia masih ditambahkan air sebanyak dua lautan (supaya tidak terlalu panas). Jika tidak demikian niscaya Allah tidak akan memberikan kemanfaatan api kepada siapapun. [HR Ahmad]

 

Suatu ketika Ibnu Mas’ud melewati para pandai besi yang sedang mengeluarkan besi dari tungku api, Ia berhenti untuk melihatnya sambil menangis (karena teringat api neraka). dan di lain kesempatan ia melewati para pandai besi yang sedang meniup-niup tungku api, iapun melihatnya dan seketika itu ia jatuh pingsan.hal yang sama juga terjadi pada Rabi’ bin Khaytsam, Atha’ As-Sulaymi dan para salafus shalih. [Lathaiful Ma’arif]

 

Sebagian ulama salaf berkata :

لَوْ أُخْرِجَ أَهْلُ النَّارِ مِنْهَا إِلَى نَارِ الدُّنْيَا لَقَالُوا فِيْهَا أَلْفَيْ عَامٍ

Seandainya penghuni neraka dikeluarkan dari neraka untuk diganti dengan siksa api dunia niscaya mereka akan tidur siang selama dua ribu tahun (di atas bara api dunia, karena mereka menganggap panasnya api dunia itu dingin, tidak ada apa-apanya dibanding dengan panasnya api neraka). [Lathaiful Ma’arif]

 

Ibnu umar RA dan para ulama salaf, ketika mereka meminum air dingin maka mereka menangis karena teringat bahwa air dingin itu adalah minuman yang sangat diidam-idamkan oleh penduduk neraka. [Lathaiful Ma’arif]

 

Kembali ke pembahasan cuaca panas ekstrim. Kementerian Kesehatan meminta masyarakat agar waspada ketika di luar ruangan saat fenomena panas di Indonesia. Diantaranya mencegah dehidrasi dengan minum air yang banyak tanpa menunggu haus. [News detik com] Lalu bagaimana jika seseorang sedang berpuasa syawal misalnya?  Bagi yang berpuasa bisa meniru apa yang dilakukan oleh Nabi SAW. Sahabat Nabi berkata :

فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُبُّ الْمَاءَ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ الْحَرِّ وَهُوَ صَائِمٌ

 “Sungguh aku melihat Nabi Muhammad SAW menuangkan air ke atas kepala beliau sendiri lantaran panasnya cuaca dan saat itu beliau sedang berpuasa.” [HR Ahmad]

 

Dan Kemenkes juga meminta masyarakat agar menghindari kontak dengan sinar matahari secara langsung, menggunakan topi atau payung, dan memakai sunscreen minimal 30 SPF saat keluar rumah. [News detik com] dan sebagai orang yang beriman tentulah dalam berbagai keadaan harus berdoa dan ingat kepada Allah. Imam Baihaqi meriwayatkan dalam kitabnya Al-asma’ Was Shifat, satu doa yang bisa kita baca ketika cuaca sedang panas.  Beliau meriwayatkan bahwa ketika hari sedang panas, maka Allah Ta’ala mengarahkan pendengaran dan penglihatan kepada penduduk langit dan bumi. Jika ada seorang hamba berdoa :

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مَا أَشَدَّ حَرَّ هَذَا الْيَوْمِ! اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ

(Tiada Tuhan selain Allah, betapa panasnya hari ini, Ya Allah, selamatkanlah kami dari panasnya api neraka jahannam).

Maka Allah Azza wa Jalla berfirman kepada jahannam : Sungguh hambaku telah memohon kepadaku agar ia diselamatkan darimu, dan aku mempersaksikan kepadamu bahwa aku akan menyelamatkannya (darimu). [HR Baihaqi]

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menyadari bahwa panasnya cuaca saat ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan panasnya api neraka sehingga kita terus mengingat sang penciptanya sembari berdoa meminta perlindungan kepada-Nya.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

Tuesday, May 2, 2023

MUKMIN YANG SEMPURNA

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwatakan dari Ibnu Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda :

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

“Mukmin yang sempurna bukanlah orang yang banyak mencela, bukan pula orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang berkata-kata kotor dan bukan pula jorok perkataannya.” [HR Tirmidzi]

 

Catatan Alvers

 

“Ya ayyuhalladzina amanu” (Wahai orang-orang yang beriman). Kalimat yang merupakan seruan kepada orang yang beriman ini seringkali kita temukan di dalam Al-Qur’an. Bagaiamana tidak, kalimat ini disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak 89 kali. Dalam hadits utama di atas, Lafadz “Laysal Mu’min” Orang mukmin itu bukanlah... kata mukmin disini dimaknai sebagai “Al-Mu’min Al-Kamil” orang mukmin yang sempurna. [Tuhfatul Ahwadzi]

 

Disebutkan dalam hadits di atas bahwa orang mukmin  yang sempurna adalah mereka yang tidak memiliki sifat-sifat berikut. (1) Tha’an. Merupakan sighat mubalaghah (bentuk superlatif) dari kata “Tha’in”. Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa Ia berarti “Ayyaban Linnas” orang yang banyak menyebarkan aib orang lain, banyak mencela atau tukang gosip. [Tuhfatul Ahwadzi]

 

Kata Tha’an tersebut merupakan derivasi dari kata “ta’n” yang bermakna menusuk (dengan benda tajam). Ibnul Araby berkata :

وَإِنَّمَا سَمَّاهُ طَعْنًا لِأَنَّ سِهَامَ الْكَلاَمِ كَسِهَامِ النِّصَالِ حِسًّا وَجُرْحَ اللِّسَانِ كَجُرْحِ الْيَدِ

Rasul SAW menyebut perilaku mencela orang lain dengan sebutan menusuk (dengan pisau) karena anak panah berupa perkataan itu layaknya anak panah sesungguhnya, dan melukai orang dengan mulut itu seperti melukai dengan tangan. [Faidlul Qadir]

 

Mencela orang lain tidak hanya pertanda iman tidak sempurna namun juga pertanda kurang warasnya akal. Hal ini dipahami secara kebalikan (mafhum Mukhalafah) dari perkataan Imam Al-Haddad :

أَدَلُّ دَلِيْلٍ عَلَى كَمَالِ عَقْلِ الرَّجُلِ ثَنَاؤُهُ عَلَى أَقْرَانِهِ

Tanda utama yang menunjukkan kesempurnaan akal seseorang adalah pujiannya kepada teman-temannya. [Al-Hikam]

 

Dengan demikian diketahui bahwa pekerjaan orang beriman itu tidak cukup shalat, puasa dan ibadah yang lainnya namun juga harus menjauhi perkataan atau perbuatan yang bisa menyakiti orang lain. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ada seseorang bertanya : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah (seorang wanita) rajin mendirikan shalat malam, gemar puasa di siang hari, mengerjakan (kebaikan) dan bersedekah namun ia menyakiti tetangganya dengan ucapannya. (Maka bagaimanakah statusnya dia?)”

 

Rasulullah SAW menjawab :

لَا خَيْرَ فِيهَا هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

“Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka.”

 

Dan ada yang bertanya lagi: “Fulanah (wanita lainnya) mengerjakan shalat wajib, dan bersedekah dengan beberapa kerat keju (sedikit), tapi dia tidak menyakiti seorang pun.”

 

Rasulullah SAW menjawab :

هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Dia adalah penghuni surga. [Adabul Mufrad]

 

(2) La’an. Merupakan sighat mubalaghah (bentuk superlatif) dari kata “La’in” yang merupakan derivasi dari kata “la’nah” atau diadaptasi dalam bahasa Indonesia menjadi “laknat” yang secara bahasa berarti menjauhkan atau mengusir. Maka laknat itu berarti mendoakan orang lain agar dijauhkan dari rahmat Allah, atau mendoakan orang lain masuk neraka.

 

Syeikh Badruddin Al-Ayni  berkata : melaknat seseorang secara personal hukumnya adalah haram menurut kesepakatan ulama dan Imam Nawawi menggolongkan perbuatan melaknat sebagai dosa besar. Maka tidak diperbolehkan melaknat seseorang secara personal, baik muslim, kafir bahkan binatang. Melaknat yang diperbolehkan adalah melaknat orang yang diketahui dari syariat bahwa ia telah mati atau akan mati dalam keadaan kufur seperti abu Jahal dan Iblis. Melaknat satu golongan yang memiliki sifat buruk (bukan personal) seperti penyambung rambut, pemakan riba adalah diperbolehkan. [Umdatul Qari]

 

Baginda Rasul SAW bersabda :

لَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ

Melaknat orang mukmin itu (dosanya) seperti membunuhnya. [HR Ahmad]

 

(3) Fahisy. Al-Mubarakfuri menjelaskan yang dimaksud dengan “Fahisy”  :

الَّذِي يَتَكَلَّمُ بِمَا يُكْرَهُ سَمَاعُهُ أَوْ مَنْ يُرْسِلُ لِسَانَهُ بِمَا لَا يَنْبَغِي

Orang yang berbicara dengan sesuatu yang tidak enak didengar atau orang yang mengumbar lisannya dengan mengatakan sesuatu yang tidak pantas. [Tuhfatul Ahwadzi]

 

Kata “Fahisy”  merupakan derivasi dari kata “Fuhsy” dengan bentuk plural “Fahsya’” dan didefinisikan oleh Al-Qurtubi sebagai :

وَهُوَ كُلُّ قَبِيْحٍ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ

Setiap perkara yang jelek, berupa perkataan atau perbuatan. [Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an]

 

Suatu ketika ada serombongan orang-orang Yahudi menemui Rasulullah SAW, lalu mereka mengucapkan: Assaamu 'alaika (Semoga kematian bagimu) wahai Abal Qasim." Nabi SAW menjawab; 'Wa Alaikum. (semoga bagimu juga)' 'Aisyah menjawab; 'Bal 'alaikumus saam wal la'nah (Bagi kalianlah kematian dan laknat).' Maka Rasulullah SAW bersabda ;

لَا تَكُونِي فَاحِشَةً

Wahai 'Aisyah! Janganlah kau menjadi “Fahisyah” (wanita yang mengucapkan perkataan yang jelek).'

'Aisyah menjawab; 'Tidakkah Anda mendengar ucapan mereka? ' Jawab beliau: 'Bukankah aku telah membalas atas apa yang mereka ucapkan, aku telah katakan kepada mereka; Wa Alaikum. [HR Muslim]

 

Dan Beliau bersabda :

اَلْجَنَّةُ حَرَامٌ عَلَى كُلِّ فَاحِشٍ أَنْ يَدْخُلَهَا

Surga itu haram dimasuki oleh setiap orang yang berkata-kata kotor. [HR Ibnu Abid Dunya]

 

Dan Ibrahim bin Maysarah berkata : Dikatakan bahwa orang yang berkata-kata kotor lagi sengaja untuk berkata-kata kotor, ia pada hari kiamat akan dibangkitkan dalam bentuk berupa anjing atau di dalam perut anjing. [Ihya Ulumuddin]

 

 (4) Badzi’. Al-Mubarakfuri mendifinisikannya dengan :

المُتَكَلِّمُ بِالْفُحْشِ وَرَدِئُ الْكَلَامِ

Orang yang berkata-kata jorok dan yang jelek perkataannya. [Tuhfatul Ahwadzi]

 

Menurut Ibnul Araby, yang dimaksud dengan Badzi’ adalah :

الْفَاحِشُ فِي مَنْطِقِهِ وَإِنْ كَانَ الْكَلَامُ صِدْقًا

Orang yang jorok perkatannya meskipun perkataannya jujur. [Faidlul Qadir]

 

Kata Al-Fahisy dan Al-Badzi’, keduanya memiliki kemiripan makna karena keduanya merujuk kepada hal yang jelek dan kotor. Supaya tidak tumpang tindah maka kata yang pertama yakni Al-Fahisy dikhususkan kepada perbuatan sementara kata yang kedua yakni Al-Badzi’ dikhususkan kepada ucapan. Atau boleh juga kata pertama dimaknai dengan makna yang umum (perbuatan dan perkataan) sementara kata kedua adalah khusus (perkataan) untuk memberi tambahan penekanan. [Tuhfatul Ahwadzi]

 

Makna yang berbeda dikatakan oleh Al-Qari :

اَلْبَذِيءُ هُوَ الَّذِي لَا حَيَاءَ لَهُ

Badzi’ adalah orang yang tak punya rasa malu [Tuhfatul Ahwadzi]

 

Meskipun  dibedakan namun Fahisy dan Badzi’ keduanya sama-sama dibenci oleh Allah SWT. Rasul SAW bersabda :

وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ

Sesunguhnya Allah membenci orang yang berkata-kata kotor lagi jorok perkataannya. [HR Tirmidzi]

 

Ada sesuatu yang mengganjal yaitu kenapa kedua sifat pertama (1 dan 2) disebutkan dalam bentuk superlatif sementara sifat berikutnya (3 dan 4) tidak demikian ? Al-Mubarakfuri berkata :

لِأَنَّ الْكَامِلَ قَلَّ أَنْ يَخْلُوَ عَنِ الْمَنْقَصَةِ بِالْكُلِّيَّةِ

Karena hanya sedikit saja dari orang yang sempurna imannya yang tidak memiliki kekurangan sama sekali (dalam sifat 1 dan 2). [Tuhfatul Ahwadzi]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menghindari sifat-sifat negatif yang menyebabkan iman kita menjadi tidak sempurna.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]