Minggu, 21 Juli 2019

ANAK; KARUNIA ATAU BENCANA?


ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda :
إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَنَّى هَذَا فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ
Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, maka ia berkata,”Dari manakah balasan ini?” Dikatakan,” sebab istighfar anakmu kepadamu”.[HR Ibnu Majah]

Catatan Alvers

Memiliki anak akan menjadikan seseorang bahagia dalam hidupnya karena anak merupakan karunia Allah sekaligus menjadi perhiasan dunia. Allah SWT berfirman.
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلاً
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalah adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik menjadi harapan. [QS Al-Kahfi : 46].


Orang yang menganggap anak sebagai perhiasan dunia tentu ia akan bangga dengan banyaknya anak, Allah SWT berfirman :
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah diantara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak. [QS Al-Hadid : 20].

Orang yang memiliki perhiasan tentunya ia akan menjaga perhiasan tersebut dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai perhiasannya rusak karena debu atau goresan sehingga ia menyimpannya dalam tempat yang khusus. Demikian pula orang yang menganggap anak seperti perhiasan, ia akan selalu menjaga anaknya dari debu-debu pergaulan dan goresan-goresan maksiat. Ia akan menempatkan anaknya di tempat khusus sehingga anaknya betul-betul menjadi penyejuk pandangan mata dengan keluhuran budi pekertinya.

Tidak sekedar perhiasan dunia, anak yang demikian juga menjadi investasi akhirat bagi orang tuanya. Bukankah Rasulullah SAW bersabda :
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Jika manusia meninggal, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara; shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendo’akannya. [HR Muslim]
Bahkan anak akan menjadi sarana bagi orang tua untuk mendapat kedudukan yang tinggi di surga sebagaimana hadits utama di atas.

Anak juga menjadi sarana kebahagiaan abadi karena akan dikumpulkan bersama orang tuanya. Allah SWT berfirman :
وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآأَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. [QS Ath-Thur : 21]

Namun anak juga berpotensi menjadi bencana. Misalnya ketika orang tua salah asuh, Alih-alih bisa mengharumkan nama orang tua malah ia menjadi apa yang dikatakan oleh pepatah jawa “anak polah bapak kepradah”. Dalam syair yang populer, Habib Syech bersenandung “Lamun wong tuwo - Lamun wong tuwo keliru mimpine Alamat bakal - alamat bakal getun mburine. Wong tuwo loro kundur ing ngarso pengeran Anak putune rame-rame rebutan warisan”. Maka dari itulah Allah SWT mengingatkan kita :
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. [QS Al-Anfal : 28]

Ketika Rasul SAW sedang berkhutbah tiba-tiba datanglah Hasan dan Husain mengenakan gamis berwarna merah keduanya berjalan lalu keduanya terjatuh. Melihat hal ini, Nabi SAW turun dari mimbar untuk menggendongnya lalu ditempatkan di depannya kemudian beliau bersabda “Maha benar Allah (yang berfirman) bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai fitnah”
فَنَظَرْتُ إِلَى هَذَيْنِ الصَّبِيَّيْنِ يَمْشِيَانِ وَيَعْثُرَانِ فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ حَدِيثِي وَرَفَعْتُهُمَا
Ketika aku melihat kedua anak kecil ini berjalan dan terpeleset maka aku tidak sabar sehingga aku memotong khutbahku dan menggendongnya. [HR Turmudzi]

Bahkan lebih celakanya, anak bisa menjadi musuh bagi orang tuanya. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. [QS At-Taghabun : 14]

Ayat ini turun dalam konteks Auf bin Malik Al-Asyja`i dimana ketika ia akan berangkat jihad, mereka menangis dan meminta belas kasihannya seraya berkata,”Kepada siapakah kami ditinggalkan ?”. Lalu hal ini membuatnya tidak tega meninggalkan anaknya dan akhirnya iapun tidak jadi berangkat jihad. [Tafsir Al-Qurtubi] Itulah posisi anak sebagai musuh, karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya dari pada musuh yang mampu memutuskan hubungan baik antara seorang hamba dengan tuhannya. Maka jangan sampai anak menjadikan orang tua lalai dari mengingat Allah Sebagaimana firman-Nya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allâh. Barang siapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi. [QS Al-Munafiqun : 9]

Wallahu A’lam. Semoga Allah albari membuka hati anak-anak kita dan mengisinya dengan hidayah-Nya sehingga mereka kelak menjadi anugerah bukan bencana bagi kita selaku orang tuanya. Mohon doanya alvers semoga anak kami, Muhammad Badruddin Fardan yang baru lahir menjadi anugerah dunia dan akhirat bagi kami. “Ya Tuhan Kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. [QS Al-Furqan : 74]

Salam Satu Hadits,
Dr. H. Fathul Bari Alvers

NB.
Hak Cipta berupa Karya Ilmiyah ini dilindungi oleh Allah SWT. Mengubah dan menjiplaknya akan terkena hisab di akhirat kelak. *Silahkan Share tanpa mengedit artikel ini*. Sesungguhnya orang yang copas perkataan orang  lain tanpa menisbatkan kepadanya maka ia adalah seorang pencuri atau peng-ghosob dan keduanya adalah tercela [Imam Abdullah Alhaddad]

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Sarana Santri ber-Wisata Rohani Wisata Jasmani
Ayo Mondok! Mondok itu Keren!




1 komentar: