Sabtu, 23 Desember 2017

FENOMENA MENGUMPAT




FENOMENA MENGUMPAT
ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abu ad-Darda’ RA, Rasul SAW bersabda: 
مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِيْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيْءَ
Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat di timbangan kebaikan seorang mu'min pada hari kiamat seperti akhlaq yang mulia, dan sungguh Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar [HR Tirmidzi]

Catatan Alvers

Mengumpat (Mesoh ; jawa) yang kami maksud adalah mengeluarkan kata-kata kotor yang biasanya dimaksudkan untuk melampiaskan kekesalan ketika sedang jengkel. Dalam term jawa timuran seperti Janc*k!, *su!, W*dus! Dan lainnya. Perkataan ini adalah perkataan yang amat kasar dan tidaklah pantas keluar dari mulut orang yang berpendidikan dan berperadaban.

Dahulu setiap orang tua akan mewanti-wanti anak - anak kecilnya untuk tidak meniru ujaran tersebut. Namun yang terjadi sekarang miris, Jamak ditemui remaja bahkan anak - anak kecil mengucapkan kata-kata umpatan (mesoh) dengan lancar dan fasihnya. Bahkan secara reflek, ketika seseorang tersandung batu langsung saja umpatan tersebut keluar dari mulutnya. Tidak hanya dalam guyonan mereka, namun dalam situasi serius pun kata-kata umpatan tersebut dianggap hal yang biasa bahkan luar biasa. Ya Luar biasa karena tertipu dengan penelitian yang menyebutkan orang yang memiliki kecerdasan tinggi ternyata lebih sering mengatakan umpatan dan mengucapkan sumpah serapah. [inovasee.com]


Melihat fenomena mengumpat yang sudah menjadi “sego jangan” (rutunitas keseharian) ini, hati penulis berontak bahkan lebih parahnya ketika penulis mendengar perkataan tersebut secara vulgar dilontarkan orang-orang panutan yang berprofesi sebagai penceramah bahkan mereka yang berlabel Gus dan Kyai. Sungguh Miris dan memilukan karena perkataan tersebut kemudian menjadi viral di dunia medsos dan banyak ditonton orang dari segala usia dan kalangan. Hal ini kemudian dipahami sebagai legalitas formal akan halalnya mengumpat dengan kata-kata tersebut karena perkataan tersebut dilakukan tanpa ada perasaan bersalah ataupun permintaan maaf ataupun semacam ralat.

Hemat Penulis, hal ini adalah sebuah kemungkaran yang apabila penulis biarkan begitu saja maka semua orang termasuk penulis sendiri akan terkena imbas kejelekannya, segaimana sabda Rasul SAW :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ
Barang siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. [HR Muslim]

Pembiaran seperti inilah yang menyebabkan bani isra’il dilaknat Allah SWT dalam firman-Nya : Telah terlaknat orang-orang kafir dari Bani Isra’il dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. [QS Al Māidah: 78]

Apakah yang telah mereka perbuat? Allah SWT menjelaskan :
كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
Mereka satu sama lain tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. [QS Al-Maidah: 79]

Setuju atau tidak, kata-kata umpatan dan kasar seperti di atas tidaklah pantas menjadi perkataan orang beriman karena orang beriman akan selalu menjaga lisannya. Bukankah Rasulullah SAW bersabda :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.” [HR. Bukhari]

Dan sangatlah jelas dalam hadits utama di atas bahwa Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar [HR Tirmidzi]

Dalam versi lain, Kata Fahisy dalam hadits tersebut diartikan sebagai Orang yang bertutur kata dengan sesuatu yang gak enak didengar atau orang yang mengumbar lisannya dengan mengatakan sesuatu yang tak pantas. Sedangkan kata Badzi’ diartikan sebagai orang yang berkata-kata kotor [Tuhfatul Ahwadzi]

Suatu ketika Abdullah bin Mas’ud RA naik ke atas bukit shofa kemudian memegang mulutnya sambil berkata :
يا لسان، قل خيرا تغنم، واسكت عن شر تسلم، من قبل أن تندم
“Wahai lisan, berkatalah yang baik niscaya engkau akan memperoleh kebaikan atau diamlah dari perkataan jelek niscaya engkau akan selamat sebelum engkau menyesal”.
Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda,
أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ فىِ لِسَانِهِ
“Kebanyakan dosa anak-anak adam itu ada pada lisannya”. [HR Thabrani]

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari menjauhkan kita dari perkataan yang kasar lagi kotor dan menjadikan mulut kita senantiasa berhias kata santun, perbuatan kita dengan akhlak karimah dan hati yang senantiasa ber-dzikir.

Salam Satu Hadith,
DR.H.Fathul Bari Bin Badruddin
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jawa Timur Indonesia

Umrah Arbain :: ZIARAH RASUL VIII :: 20 Februari 2018 :: 15 Hari, Pesawat Garuda Tanpa Transit :: Fasilitas Lounge Bandara :: Hotel Mekkah Pulmann Zam-zam:: Daftar di Kantor PP Wisata AN-NUR 2 Malang Jatim Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar