Jumat, 29 Desember 2017

SEPIRING BERTIGA




ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Umar bin Khattab RA, Rasul SAW bersabd a:
كُلُوا جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا فَإِنَّ الْبَرَكَةَ مَعَ الْجَمَاعَةِ
Makanlah kalian semua bersama-sama dan janganlah bercerai berai karena keberkahan itu terdalam dalam jamaah [HR Ahmad]

Catatan Alvers

Segolongan sahabat datang kepada Nabi SAW dan berkata : Wahai Rasulullah, Kami makan namun tidak merasa kenyang, Rasul SAW berkata : Boleh jadi kalian makan sendiri-sendiri. Para sahabat menjawab : Iya benar Wahai Rasulullah, Kemudian beliau bersabda :
فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ
Berkumpullah atas makanan kalian dan sebutlah asma Allah atas makanan tersebut niscaya makanan tersebut menjadi barokah untuk kalian. [HR Abu Daud]

Makan bersama bukanlah aktifitas biasa, namun ia merupakan anjuran Rasul SAW. Makan bersama bukanlah aktifitas sekedar mengisi liburan melainkan ia mendatangkan keberkahan sebagaimana keterangan hadits di atas.


Selain merupakan sunnah Nabi, Makan bersama memiliki manfaat lain di antaranya : Bersifat manusiawi karena hewan cenderung sendiri-sendiri kalau makan. Memberikan Perhatian satu sama lain. Mempererat hubungan keluarga, kesempatan mendidik agar menghargai orang lain, membiasakan diri dalam persamaan dengan orang lain. Mengajarkan sopan santun ketika makan dan membiasakan diri berbagi dengan sesama anggota keluarga atau handai taulan. Rasulullah SAW bersabda,
طَعَامُ الْوَاحِدِ يَكْفِي الِاثْنَيْنِ وَطَعَامُ الِاثْنَيْنِ يَكْفِي الْأَرْبَعَةَ وَطَعَامُ الْأَرْبَعَةِ يَكْفِي الثَّمَانِيَةَ
“Makan satu orang itu cukup untuk dua orang. Makanan dua orang itu cukup untuk empat orang. Makanan empat orang itu cukup untuk delapan orang,” [HR. Muslim].

Terkadang orang merasa risih bahkan jijik jika harus makan bersama dengan orang lain, boleh jadi makan bersama menjadikan makanan kurang bersih dan hiegynis. Anggapan seperti ini mungkin saja terbesit dalam hati kita namun yakinkan hati kita bahwa ajaran Rasul SAW adalah benar dan lebih banyak manfaatnya.

Hal seperti ini pernah terjadi ketika ibnu umar RA bertanya : Ya Rasulullah, Apakah berwudhu’ dengan bejana baru yang tertutup lebih engkau sukai daripada bersuci di tempat bersuci (yang biasa dipakai kaum muslimin)? Rasulullah menjawab :
لا ، بل من المطاهر ، إن دين الله الحنيفية السمحة
“tidak”, tetapi (aku lebih suka bersuci) di tempat-tempat bersuci (yang biasa dipakai kaum muslimin) saja, karena agama Allah itu mudah dan toleran.

Ibnu Umar berkata : Rasulullah sering mengutus sahabat untuk menuju tempat bersuci lalu diberikanlah beliau air (dari tempat bersuci kaum muslimin) dan beliau meminum air tersebut dengan mengharapkan berkah tangan-tangan kaum muslimin. [HR Thabrani]

Hal ini mengajarkan kepada kita agar tidak hanya berpedoman kepada logika ansich namun juga mempertimbangkan keberkahan dalam segala hal termasuk dalam hal makanan dan etiket makan (table manner).

Simak juga sabda Nabi SAW:
فَإِذَا سَقَطَتْ مِنْ أَحَدِكُمْ اللُّقْمَةُ فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى ثُمَّ لِيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ
“Apabila salah seorang dari kamu makan, kemudian suapannya jatuh dari tangannya, hendaklah ia membersihkan apa yang kotor darinya lalu memakannya, dan janganlah ia membiarkannya untuk (dimakan) setan. [HR Muslim]

Selanjutnya adalah anjuran Nabi SAW agar kita memulai makan dari tepi makanan. Rasul SAW bersabda :
إِنَّ الْبَرَكَةَ تَنْزِلُ فِى وَسَطِ الطَّعَامِ فَكُلُوا مِنْ نَوَاحِيهِ ، وَلاَ تَأْكُلُوا مِنْ وَسَطِهِ
Sesungguhnya keberkahan itu turun di tengah makanan maka makanlah dari arah pinggirnya dan janganlah kalian makan dari tengahnya. [HR Al-Hakim]

Lalu bagaimana dengan tumpeng yang mana biasanya diambil (makan) dari tengahnya? Menjawab hal ini maka ketahuilah bahwa hadits tersebut tidak ada perkecualiannya sehingga berlaku umum termasuk tumpeng dll.

Selanjutnya, Agar makanan menjadi lebih berkah maka jangan lupa membaca basmalah. Rasulullah bersabda kepada ‘Umar bin Abi Salamah ketika masih kecil :
يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
“Wahai Ghulam, sebutlah nama Allah (bacalah bismillah), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.”
Maka seperti itulah gaya makanku setelah itu. [HR Bukhari]
Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan fikiran kita agar menerapkan sunnah dalam aktifitas apapun tak terkecuali dalam hal makan sehari-hari.

Salam Satu Hadith,
DR.H.Fathul Bari Bin Badruddin
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jawa Timur Indonesia

Umrah Arbain :: ZIARAH RASUL VIII :: 20 Februari 2018 :: 15 Hari, Pesawat Garuda Tanpa Transit :: Fasilitas Lounge Bandara :: Hotel Mekkah Pulmann Zam-zam:: Daftar di Kantor PP Wisata AN-NUR 2 Malang Jatim Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar