Rabu, 01 Juli 2020

MUTIARA YANG HILANG


ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud RA, Rasul   bersabda :
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
Tidak boleh hasud kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia menginfakkannya di jalan kebaikan dan orang yang Allah berikan karunia berupa hikmah dan iapun memutuskan perkara dengannya serta mengajarkannya.[HR Bukhari]

Catatan Alvers

Kata-kata hikmah senantiasa menghiasi layar kaca HP kita setiap hari bahkan setiap saat. Saking dari seringnya kita menerima maka banyak dari kita mengabaikannya bahkan tidak sempat untuk sekedar membacanya. Namun tahukah anda apa yang di maksud dengan istilah “hikmah” itu sendiri sehingga dalam hadits utama kita diperbolehkan hasud kepada orang yang dikaruniai hikmah?


“Hikmah” berasal dari kata “Hakama” yang bermakna mencegah, mengekang. Pengait besi yang terdapat pada mulut kuda dalam bahasa arab disebut dengan “Hakamah”, dinamakan demikian karena ia dapat mencegahnya dari lari kencang maka kata-kata hikmah disebut demikian karena perkataan hikmah itu bisa mengekang orangnya dari akhlak yang tercela. [Lisanul Arab] Ibnu Abbas RA berkata :
ضَمَّنِي النَّبِيُّ ﷺ إِلَى صَدْرِهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْحِكْمَةَ
Aku dipeluk Rasul SAW dan beliau mendoakanku “Ya Allah ajarkanlah kepadanya hikmah”. [HR Bukhari]

Muqatil berkata : kata “hikmah” di dalam al-Quran tidak lepas dari empat makna: (1) nasehat- nasehat al-Quran sebagaimana dalam QS Al-Baqarah : 231, (2) pemahaman dan ilmu sebagaimana dalam QS Luqman: 12, (3) kenabian sebagaimana dalam QS Shad:20. (4) al-Quran sebagaimana dalam QS An-Nahl : 125. [Tafsir Ar-Razi]

Ibnu Hajar mendefinisikan hikmah dengan :
كُلُّ مَا مَنَعَ مِنَ الْجَهْلِ وَزَجَرَ عَنِ الْقَبِيْحِ
Segala sesuatu yang bisa mencegah kebodohan dan menghentikan kejelekan. [Fathul Bari]

Sedangkan Jalaluddin As-Suyuthi menafsiri kata hikmah dengan :
اَلْعِلْمُ النَّافِعُ الْمُؤَدِّي إِلَى الْعَمَلِ
Ilmu yang bermanfaat yang menyebabkan orangnya dapat mengamalkannya. [Tafsir Jalalain]

Dengan demikian hikmah bisa saya katakan sebagai “ilmu yang berlandaskan Quran dan sunnah yang menjauhkan kita dari kejelekan dan memotivasi kita untuk mengamalkan segala kebaikan”. Jadi hikmah itu bukan semata-mata kata-kata motivasi atau kata-kata mutiara sebab kata-kata sebaik apapun jika bertentangan dengan Al-qur’an dan hadits maka tidak bisa dikatakan sebagai hikmah.

Hikmah itu sungguh berharga dalam kehidupan kita bahkan Ar-Razi dalam tafsirnya berkata : Renungkanlah bagaimana Allah menilai dunia dan seisinya itu hal yang sedikit, Allah SWT berfirman :
قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ
Katakanlah: kesenangan dunia ini hanyalah sedikit. [QS An-Nisa’ : 77]

(Dunia dan seisinya) yang dikatakan sebagai hal yang sedikit saja kita tidak bisa mengetahui jumlahnya lantas bagaimana penilaianmu dengan hikmah yang dikatakan sebagai hal yang banyak. Allah SWT berfirman :
وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيراً
Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah maka ia benar-benar telah dianugerahi kebaikan yang banyak. [QS Al-Baqarah : 269] [Tafsir Ar-Razi]

Kata-kata hikmah milik orang yang beriman namun ia diibaratkan seperti barang yang hilang. Rasul   bersabda :
الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا
Kata-kata hikmah adalah barang berharga kaum Mukmin yang hilang. Dimana saja ia menemukannya, ia lebih berhak terhadapnya. [HR Tirmidzi]

Maka seyogyanya kita mengambilnya kembali dimana saja kita temukan. Sayyidina Ali KW berkata :
خُذِ الْحِكْمَةَ أَنَّى تَأْتِكَ فَإِنَّ الْكَلِمَةَ مِنْهَا تَكُونُ فِي صَدْرِ الْمُنَافِقِ فَتَتَلَجْلَجُ حَتَّى تَسْكُنَ إِلَى صَاحِبَهَا
Ambillah hikmah itu dari manapun ia datang karena kata-kata hikmah terkadang keluar dari dada seorang munafik, hikmah itu berputar-putar di sana sampai menemukan ahlinya lalu tinggal di dalam hati penerimanya. [Faidlul Qadir]

Dan Ibnu Abbas RA berkata :
خُذِ الْحِكْمَةَ مِمَّنْ سَمِعْتَهُ فَقَدْ يَتَكَلَّمُ الرَّجُلُ بِالْحِكْمَةِ وَلَيْسَ بِحَكِيْمٍ فَتَكُوْنُ بِمَنْزِلَةِ الرَّمْيَةِ مِنْ غَيْرِ رَامٍ
Ambillah hikmah itu dari siapapun engkau mendengarnya karena terkadang seseorang berbicara hikmah padahal dia bukan ahlinya sehingga hal itu seperti lemparan yang mengenai sasaran tanpa disengaja. [Kasyful Khafa]

Suatu ketika Abu Hurairah RA ditugaskan oleh Rasulullah untuk menjaga harta zakat di bulan Ramadlan. Lalu ada seorang mendekat dan mengais-ngais makanan. Abu Hurairah pun menangkapnya dan berkata kepadanya : “Demi Allah, sungguh aku akan laporkan kamu kepada Rasulullah ”. Pencuri berkata : “Sesungguhnya aku adalah orang yang membutuhkan. Aku mempunyai keluarga yang mempunyai kebutuhan mendesak”. iapun melepaskan pencuri itu. Pada pagi harinya, Nabi berkata : “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu tadi malam ?”. Abu Hurairah berkata : “Wahai Rasulullah, ia mengeluh bahwa ia mempunyai kebutuhan yang mendesak dan tanggungan keluarga. Aku merasa kasihan padanya dan kemudian kulepaskan”. Beliau bersabda :“Sesungguhnya ia telah mendustaimu dan ia akan kembali lagi. Ketahuilah, ia akan kembali lagi”.

Ternyata benar, pada malam berikutnya ia kembali dan Abu Hurairah melepaskan sebagaimana malam sebelumnya dan Rasul mengatakan hal yang sama. Dan kali ke tiga Abu Hurairah menangkapnya, pencuri itu berkata : Lepaskanlah aku maka aku akan mengajarimu beberapa kalimat yang mana Allah akan memberikan manfaat kepadamu. Jika engkau hendak menuju tempat tidurmu, maka bacalah ayat Kursi hingga selesai.
فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ
(Sesungguhnya dengan membaca itu), kamu senantiasa dalam perlindungan Allah. Setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari”.

Pada pagi harinya, Rasulullah
menanyakan kemabli dan Abu Hurairah berkata : Wahai Rasulullah, ia telah mengajariku perkataan yang mana Allah akan memberikan manfaat kepadaku maka akupun melepaskannya. Maka Nabi bersabda :
أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ
“Sesungguhnya ia telah jujur kepadamu kali ini, padahal ia seorang pendusta”.

Tahukah siapa yang telah engkau ajak bicara semenjak tiga hari ini wahai Abu Hurairah ?”. Abu Hurairah menjawab : “Tidak”. Beliau bersabda : “Ia adalah syaithan”.[HR Bukhari]

Kata-kata setan tersebut menjadi hikmah karena telah mendapat “tashih” (pembenaran) dari Rasul maka kita janganlah salah paham lalu menerima sembarang perkataan tanpa kroscek dengan firman Allah dan sabda Rasul sehingga kita tertipu dengan rayuan setan. Al-Bushiri berkata :
وَخَالِفِ النَّفْسَ وَالشَّيْطَانَ وَاعْصِهِمَا :: وَإِنْ هُمَا مَحَضَاكَ النُّصْحَ فَاتَّهِمِ
Janganlah engkau mentaati nafsu dan setan dan jika keduanya menyampaikan nasehat kepadamu maka waspadailah mereka. [Burdah]

Jika kita telah menemukan kata-kata hikmah itu maka sebaiknya kita hadiahkan kepada orang lain. Ibnu Abbas RA berkata :
نِعْمَ الْفَائِدَةُ الْكَلِمَةُ مِنَ الْحِكْمَةِ يَسْمَعُهَا الرَّجُلُ فَيُهْدِيْهَا لِأَخِيْهِ
Sebaik-baik perkara yang berfaidah adalah perkataan hikmah yang didengar oleh seseorang lalu ia sampaikan (share) kepada saudaranya sebagai hadiah. [Al-Maqhashid Al-Hasanah]

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati kita untuk senantiasa menerima dan mengambil manfaatnya hikmah dari siapapun dan darimanapun sehingga kita terhindarkan dari kejelekan dan lebih termotivasi melakukan kebaikan. Semoga artikel demi artikel ini menjadi hadiah terbaik buat alvers semua.

Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.
Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada supaya sabda Nabi menghiasi dunia maya dan semoga menjadi amal jariyah kita semua.

0 komentar:

Posting Komentar