ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan dari Abu Umamah RA, Rasul SAW Bersabda
:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ
الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
Aku menjamin sebuah istana yang berada di pinggiran
surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar. [HR Abu
Dawud]
Catatan Alvers
Orang bijak berkata : “Jangan berdebat dengan
pelanggan, meskipun menang kau akan kehilangan pelanggan. Jangan berdebat
dengan atasan, meskipun menang kau akan kehilangan masa depan. Jangan berdebat
dengan saudara, meskipun menang kau akan kehilangan persaudaraan. Jangan
berdebat dengan teman, meskipun menang kau akan kehilangan teman. Jangan
berdebat dengan pasangan, meskipun menang kau akan kehilangan sebagian rasa
sayang”.
Sebenarnya ketika berdebat meskipun menang kita itu
kalah. Ya, sebab yang menang adalah ego kita dan kemenangan ego adalah
kemenangan semu. Pepatah jawa mengatakan “Rebutan upo kelangan tumpeng”
(berebut untuk mendapatkan sebutir nasi namun menyebabkan kehilangan tumpeng).
Ego itu ibarat sebutir nasi dan hubungan baik itu tumpengnya. Maka dengan
mengalah sebenarnya kita mendapatkan hal yang lebih besar. Maka darti itu dalam
ujaran bahasa jawa disebutkan “Seng gede ngalah” (Yang dewasa hendaknya
mengalah).
Dan ternyata perilaku mengalah tidak hanya
menyebabkan langgengnya hubungan baik di dunia ini namun juga mendapatkan
balasan besar di akhirat kelak sebagaimana sabda Nabi SAW dalam hadits utama di
atas : “Aku menjamin sebuah istana yang berada di pinggiran surga bagi siapa
saja yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar”. [HR Abu Dawud] Dalam
syarah hadits ini, Abu Thayyib Abadi menjelaskan tujuannya :
كَسْرًا لِنَفْسِهِ كَيْلَا يَرْفَع
نَفْسَهُ عَلَى خَصْمِهِ بِظُهُورِ فَضْلِهِ
“(Mengalah dan tidak berdebat itu dilakukan)
Sebagai bentuk merendahkan nafsu sendiri sehingga ia tidak menyombongkan diri
di atas lawannya dengan menampakkan kehebatannya.” [Aunul Ma’bud]
Nabi SAW pernah mengalah dengan kaum Quraisy pada
waktu perjanjian Hudaibiyah tahun 6 H. Berawal dari mimpi bahwa beliau dan para
sahabatnya dapat melaksanakan umrah di Masjidil Haram Makkah dan beliau
menyampaikan mimpinya kepada para sahabat. Tidak lama kemudian Rasulullah SAW
berangkat bersama 1.400 sahabat berangkat menuju Makkah pada bulan Dzul Qa'dah
tanpa membawa senjata perang.
Mengetahui hal ini, orang-orang Quraisy menghadang
kaum muslimin ketika memasuki Hudaibiyah. Setelah beberapa kejadian, Rasulullah
SAW mengutus Utsman bin Affan RA sebagai duta kaum muslimin untuk menemui
Quraisy. Namun beberapa saat setelah itu, ada kabar burung bahwa Utsman RA
dibunuh oleh kaum Quraisy. Rasulullah SAW pun bersiap-siap dengan memanggil
para sahabat untuk melakukan baiat (janji setia) untuk tidak melarikan diri,
bahkan bersedia mati. Baiat ini dilaksanakan Rasulullah di bawah pohon sehingga
para sahabat yang ikut serta disebut dengan sebutan “Ashabus Syajarah”.
Setelah proses baiat selesai tiba-tiba Utsman RA
muncul dan pihak Quraisy mengutus Suhail bin Amr RA untuk mengadakan
perundingan damai. Dalam Musnad Ahmad dikisahkan bahwa Rasul SAW menyuruh
Sayyidina Ali untuk menulis perjanjian yaitu :
هَذَا مَا صَالَحَ عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Ini adalah perjanjian damai yang disepakai oleh
Muhammad utusan Allah SAW”
Melihat tulisan tersebut maka kaum Quraisy
memprotes kalimat “utusan Allah”. Mereka berkata : “Seandainya kami mengakui
engkau sebagai utusan Allah, tentu kami tidak akan memerangimu (menghalangimu
masuk Ka‘bah)”. Lalu Rasul memerintah Ali untuk menghapusnya seraya bersabda :
“Ya Allah, Sungguh Engkau mengetahui bahwa Aku adalah utusan-Mu” [HR Ahmad]
Namun
Ali keberatan untuk menghapus tulisan tersebut dan dalam shahih Bukhari, Ali
berkata :
وَاللَّهِ لَا أَمْحَاهُ أَبَدًا
Demi Allah, Aku tidak akan menghapunya
selama-lamanya. [HR Bukhari]
Lalu Nabi sendiri menghapusnya kemudian menyuruh
Ali untuk menulis kalimat “Ini adalah perjanjian damai yang disepakati oleh
Muhammad bin Abdillah” [HR Ahmad]
Saat itu beliau mengalah dengan menuruti permintaan
kaum kafir Mekkah untuk menghapus tulisan “Muhammad Utusan Allah” dan
menggantinya dengan “Muhammad Bin Abdillah”. Tidak hanya itu, beliau juga
tertahan selama tiga hari dan tidak diijinkan masuk ke masjidil haram kecuali
di tahun berikutnya. Beliau mengalah meskipun saat itu para sahabat telah
berbaiat untuk siap menghadapi peperangan namun beliau mengalah demi menjaga
perdamaian.
Demikian pula dalam kasus bentuk bangunan ka’bah.
Tatkala Nabi SAW menceritakan kepada Aisyah mengenai bangunan ka’bah yang ada
saat itu tidak sama dengan bentuk asli yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, mulai
dari bangunan hijr yang berada di luar bangunan ka’bah dan pintu ka’bah yang
tinggi, maka Nabi SAW memberikan alasan mengapa beliau tidak merenovasi
sehingga bisa dikembalikan ke bentuk semula. Beliau bersabda :
وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثٌ
عَهْدُهُمْ بِالْجَاهِلِيَّةِ فَأَخَافُ أَنْ تُنْكِرَ قُلُوبُهُمْ أَنْ أُدْخِلَ
الْجَدْرَ فِي الْبَيْتِ وَأَنْ أُلْصِقَ بَابَهُ بِالْأَرْضِ
Kalaulah bukan karena kaummu yang baru saja
meninggalkan masa jahiliyah, yang mana aku khawatir hati mereka mengingkari
niscaya aku telah berpikir untuk memasukkan dinding (hijr) itu ke dalam
bangunan Baitullah dan menjadikan pintu ka’bah rendah sampai ke tanah."
[HR Bukhari]
Di situlah Nabi SAW memilih untuk mengalah dan
tidak memaksakan kehendak dengan tidak membangun ulang bangunan ka’bah demi
kedamaian dan ketentraman bersama. Kebenaran harus beriringan dengan
kebijasanaan sebab kebenaraan tanpa kebijaksanaan akan menjadi kontra
produktif.
Perilaku mengalah itu bukanlah tanda kelemahan dan
wujud dari kekalahan melainkan mengalah itu adalah bukti kebijaksanaan,
kedewasaan, dan kekuatan seseorang dalam menghadapi realita kehidupan. Perilaku
mengalah dalam berbagai sendi kehidupan, baik dalam keluarga maupun pekerjaan
dan sendi kehidupan lainnya akan membawa kemaslahatan yang lebih besar
dibandingkan dengan mengejar kemenangan dan terus mempertahankan egoisme. Jadi
jangan pernah merasa hina ketika Anda mengalah, karena sejatinya, mengalah itu
adalah jalan untuk meraih kemenangan dan kesuksesan yang hakiki yaitu
perdamaian dan kerukunan bahkan meraih surga di akhirat kelak nanti.
Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati
dan fikiran kita untuk bersikap bijaksana dalam menghadapi setiap problematika
kehidupan dan menyadari bahwa mengalah meskipun terlihat kalah namun hakikatnya
ia adalah kemenangan di sisi khalayak manusia dan di sisi Allah SWT.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Sarana Santri ber-Wisata Rohani Wisata Jasmani
Ayo Mondok! Mondok itu Keren!
WA Auto Respon :
0858-2222-1979
NB.
“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share
sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata :
_Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka
sebarkanlah ilmu._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]
0 komentar:
Post a Comment