Friday, August 29, 2025

MENGALAH UNTUK MENANG

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Umamah RA, Rasul SAW Bersabda :

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Aku menjamin sebuah istana yang berada di pinggiran surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar. [HR Abu Dawud]

 

Catatan Alvers

 

Orang bijak berkata : “Jangan berdebat dengan pelanggan, meskipun menang kau akan kehilangan pelanggan. Jangan berdebat dengan atasan, meskipun menang kau akan kehilangan masa depan. Jangan berdebat dengan saudara, meskipun menang kau akan kehilangan persaudaraan. Jangan berdebat dengan teman, meskipun menang kau akan kehilangan teman. Jangan berdebat dengan pasangan, meskipun menang kau akan kehilangan sebagian rasa sayang”.

 

Sebenarnya ketika berdebat meskipun menang kita itu kalah. Ya, sebab yang menang adalah ego kita dan kemenangan ego adalah kemenangan semu. Pepatah jawa mengatakan “Rebutan upo kelangan tumpeng” (berebut untuk mendapatkan sebutir nasi namun menyebabkan kehilangan tumpeng). Ego itu ibarat sebutir nasi dan hubungan baik itu tumpengnya. Maka dengan mengalah sebenarnya kita mendapatkan hal yang lebih besar. Maka darti itu dalam ujaran bahasa jawa disebutkan “Seng gede ngalah” (Yang dewasa hendaknya mengalah).

 

Dan ternyata perilaku mengalah tidak hanya menyebabkan langgengnya hubungan baik di dunia ini namun juga mendapatkan balasan besar di akhirat kelak sebagaimana sabda Nabi SAW dalam hadits utama di atas : “Aku menjamin sebuah istana yang berada di pinggiran surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar”. [HR Abu Dawud] Dalam syarah hadits ini, Abu Thayyib Abadi menjelaskan tujuannya :

كَسْرًا لِنَفْسِهِ كَيْلَا يَرْفَع نَفْسَهُ عَلَى خَصْمِهِ بِظُهُورِ فَضْلِهِ

“(Mengalah dan tidak berdebat itu dilakukan) Sebagai bentuk merendahkan nafsu sendiri sehingga ia tidak menyombongkan diri di atas lawannya dengan menampakkan kehebatannya.” [Aunul Ma’bud]

 

Nabi SAW pernah mengalah dengan kaum Quraisy pada waktu perjanjian Hudaibiyah tahun 6 H. Berawal dari mimpi bahwa beliau dan para sahabatnya dapat melaksanakan umrah di Masjidil Haram Makkah dan beliau menyampaikan mimpinya kepada para sahabat. Tidak lama kemudian Rasulullah SAW berangkat bersama 1.400 sahabat berangkat menuju Makkah pada bulan Dzul Qa'dah tanpa membawa senjata perang.

 

Mengetahui hal ini, orang-orang Quraisy menghadang kaum muslimin ketika memasuki Hudaibiyah. Setelah beberapa kejadian, Rasulullah SAW mengutus Utsman bin Affan RA sebagai duta kaum muslimin untuk menemui Quraisy. Namun beberapa saat setelah itu, ada kabar burung bahwa Utsman RA dibunuh oleh kaum Quraisy. Rasulullah SAW pun bersiap-siap dengan memanggil para sahabat untuk melakukan baiat (janji setia) untuk tidak melarikan diri, bahkan bersedia mati. Baiat ini dilaksanakan Rasulullah di bawah pohon sehingga para sahabat yang ikut serta disebut dengan sebutan “Ashabus Syajarah”.

 

Setelah proses baiat selesai tiba-tiba Utsman RA muncul dan pihak Quraisy mengutus Suhail bin Amr RA untuk mengadakan perundingan damai. Dalam Musnad Ahmad dikisahkan bahwa Rasul SAW menyuruh Sayyidina Ali untuk menulis perjanjian yaitu :

هَذَا مَا صَالَحَ عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ini adalah perjanjian damai yang disepakai oleh Muhammad utusan Allah SAW”

Melihat tulisan tersebut maka kaum Quraisy memprotes kalimat “utusan Allah”. Mereka berkata : “Seandainya kami mengakui engkau sebagai utusan Allah, tentu kami tidak akan memerangimu (menghalangimu masuk Ka‘bah)”. Lalu Rasul memerintah Ali untuk menghapusnya seraya bersabda : “Ya Allah, Sungguh Engkau mengetahui bahwa Aku adalah utusan-Mu” [HR Ahmad]

 

Namun Ali keberatan untuk menghapus tulisan tersebut dan dalam shahih Bukhari, Ali berkata :

وَاللَّهِ لَا أَمْحَاهُ أَبَدًا

Demi Allah, Aku tidak akan menghapunya selama-lamanya. [HR Bukhari]

Lalu Nabi sendiri menghapusnya kemudian menyuruh Ali untuk menulis kalimat “Ini adalah perjanjian damai yang disepakati oleh Muhammad bin Abdillah” [HR Ahmad]

 

Saat itu beliau mengalah dengan menuruti permintaan kaum kafir Mekkah untuk menghapus tulisan “Muhammad Utusan Allah” dan menggantinya dengan “Muhammad Bin Abdillah”. Tidak hanya itu, beliau juga tertahan selama tiga hari dan tidak diijinkan masuk ke masjidil haram kecuali di tahun berikutnya. Beliau mengalah meskipun saat itu para sahabat telah berbaiat untuk siap menghadapi peperangan namun beliau mengalah demi menjaga perdamaian.

 

Demikian pula dalam kasus bentuk bangunan ka’bah. Tatkala Nabi SAW menceritakan kepada Aisyah mengenai bangunan ka’bah yang ada saat itu tidak sama dengan bentuk asli yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, mulai dari bangunan hijr yang berada di luar bangunan ka’bah dan pintu ka’bah yang tinggi, maka Nabi SAW memberikan alasan mengapa beliau tidak merenovasi sehingga bisa dikembalikan ke bentuk semula. Beliau bersabda :

وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثٌ عَهْدُهُمْ بِالْجَاهِلِيَّةِ فَأَخَافُ أَنْ تُنْكِرَ قُلُوبُهُمْ أَنْ أُدْخِلَ الْجَدْرَ فِي الْبَيْتِ وَأَنْ أُلْصِقَ بَابَهُ بِالْأَرْضِ

Kalaulah bukan karena kaummu yang baru saja meninggalkan masa jahiliyah, yang mana aku khawatir hati mereka mengingkari niscaya aku telah berpikir untuk memasukkan dinding (hijr) itu ke dalam bangunan Baitullah dan menjadikan pintu ka’bah rendah sampai ke tanah." [HR Bukhari]

 

Di situlah Nabi SAW memilih untuk mengalah dan tidak memaksakan kehendak dengan tidak membangun ulang bangunan ka’bah demi kedamaian dan ketentraman bersama. Kebenaran harus beriringan dengan kebijasanaan sebab kebenaraan tanpa kebijaksanaan akan menjadi kontra produktif. 

 

Perilaku mengalah itu bukanlah tanda kelemahan dan wujud dari kekalahan melainkan mengalah itu adalah bukti kebijaksanaan, kedewasaan, dan kekuatan seseorang dalam menghadapi realita kehidupan. Perilaku mengalah dalam berbagai sendi kehidupan, baik dalam keluarga maupun pekerjaan dan sendi kehidupan lainnya akan membawa kemaslahatan yang lebih besar dibandingkan dengan mengejar kemenangan dan terus mempertahankan egoisme. Jadi jangan pernah merasa hina ketika Anda mengalah, karena sejatinya, mengalah itu adalah jalan untuk meraih kemenangan dan kesuksesan yang hakiki yaitu perdamaian dan kerukunan bahkan meraih surga di akhirat kelak nanti.

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk bersikap bijaksana dalam menghadapi setiap problematika kehidupan dan menyadari bahwa mengalah meskipun terlihat kalah namun hakikatnya ia adalah kemenangan di sisi khalayak manusia dan di sisi Allah SWT.

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Sarana Santri ber-Wisata Rohani Wisata Jasmani

Ayo Mondok! Mondok itu Keren!

WA Auto Respon :  0858-2222-1979

 

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

0 komentar:

Post a Comment