إنَّ اللّهَ أَوْحَىٰ إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّىٰ لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ علىٰ أَحَدٍ، وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَىٰ أَحَدٍ

"Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menyuruh kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya di hadapan orang lain, dan tidak seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain." [HR Muslim]

أَرْفَعُ النَّاسِ قَدْرًا : مَنْ لاَ يَرَى قَدْرَهُ ، وَأَكْبَرُ النَّاسِ فَضْلاً : مَنْ لَا يَرَى فَضْلَهُ

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah melihat kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah melihat kemuliannya (merasa mulia).” [Syu’abul Iman]

الإخلاص فقد رؤية الإخلاص، فإن من شاهد في إخلاصه الإخلاص فقد احتاج إخلاصه إلى إخلاص

"Ikhlas itu tidak merasa ikhlas. Orang yang menetapkan keikhlasan dalam amal perbuatannya maka keihklasannya tersebut masih butuh keikhlasan (karena kurang ikhlas)." [Ihya’ Ulumuddin]

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur." [HR Muslim]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu.”[HR Ahmad]

Saturday, April 27, 2024

SOMBONG KARENA ILMU

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Amr bin Syuaib RA, Nabi SAW bersabda :

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمْ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ

“Pada hari kiamat orang-orang yang sombong akan digiring dan dikumpulkan seperti semut kecil dalam ukurannya yang kecil dengan bentuk wajah manusia, kehinaan akan meliputi mereka dari berbagai sisi”. [HR Turmudzi]

 

Catatan Alvers

 

Ada seorang ilmuwan yang sombong dia naik ke atas mimbar dan menantang para ulama untuk berdebat dengannya. Ilmuwan itu adalah seorang dahriyah (Filosof Ateis). Kisah ini diceritakan oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Fathul Majid. Dari bawah mimbar terdapat seorang anak kecil yang dengan lantang berkata :  “Iya, Aku akan menjawab pertanyaanmu dengan pertolongan Allah”. Ilmuwanpun marah lalu berkata: "Hei, siapa kamu anak kecil, betapa banyak sesepuh, bersorban besar, berpakaian mewah, berlengan lebar namun mereka semua tak bisa menjawab pertanyaanku!”

 

Ilmuwan bertanya "Apakah Allah itu ada dan Dimanakah dia?". anak kecil itu menjawab : "Iya, ada, tiada tempat baginya". Ilmuwan bertanya: "Bagaimana mungkin disebut ada, sementara Dia tidak bertempat?". Anak kecil menjawab : "Dalilnya ada di badan kamu, yaitu ruh. Kalau kamu percaya ruh ada, terus di manakah ruh itu? Apakah berada di perut, kepala, atau di mana?". Ilmuwan itu terdiam. Malu jika kalah, maka ilmuwan terus melontarkan beberapa pertanyaan lagi namun semua pertanyaan dengan mudah bisa dijawab oleh anak kecil tersebut. Dan pada bagian akhir ilmuwan bertanya : Sedang apa Allah itu? Anak kecil berkata : Kau ini terbalik, mestinya yang menjawab ada di atas mimbar dan yang bertanya ada dibawah mimbar. Aku Akan menjawab jika engkau turun dan aku naik mimbar. Ilmuwanpun menerimanya. Ilmuwan turun dan anak kecil naik mimbar. Lalu anak kecil dari atas mimbar menjawab :

شَأْنُ اللهِ أَلْآنَ إِسْقَاطُ الْمُبْطِلِ مِثْلِكَ مِنَ الْأَعْلَى إِلَى الْأَدْنَى وَإِصْعَادُ الْمُحِقِّ مِثْلِي مِنَ الْأدْنَى إِلَى الْأَعْلَى

Allah sekarang sedang menjatuhkan orang yang berbuat kebatilan sepertimu dari atas ke bawah dan menaikkan orang yang benar sepertiku dari bawah ke atas. [Fathul Majid]

 

Kisahpun berakhir dengan kekalahan ilmuwan yang sombong di tangan seorang anak kecil. Dan tahukah Anda saiapa anak kecil itu?  Dia tidak lain adalah Imam Abu Hanifah saat ia kecil.

 

Takabbur (sombong) merupakan maksiat pertama yang terjadi di kalangan makhluk. Dialah Iblis makhluk pertama yang melakukannya saat ia enggan untuk bersujud kepada Nabi Adam karena ia merasa lebih baik dari asal penciptaannya. [Lihat QS Al-Baqarah : 34] orang sombong dan merasa besar di hari kiamat akan digiring dalam keadaan kecil bentuknya seperti semut kecil sebagaimana keterangan pada hadits utama dan Rasul SAW juga bersabda :

مَنْ تَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ أَوْ اخْتَالَ فِي مِشْيَتِهِ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ

“Barang siapa merasa besar pada dirinya atau sombong sewaktu ia berjalan, niscaya ia akan bertemu dengan Alloh dalam keadaan Allah murka kepadanya” [HR Ahmad]

 

 

 

Semua kelebihan akan berpotensi menjadikan seseorang berprilaku sombong. Kelebihan akan semakin tinggi berpotensi mendatangkan kesombongan sesuai dengan kelebihan yang menjadi kebanggaan masyarakatnya. Kelebihan seperti kaya, cantik, nasab memiliki skala prioritas berbeda di kalangan yang berbeda. Abdullah Ibnul Mubarak berkata : “Orang Yahudi menikahkan putrinya karena faktor harta, orang nasrani menikahkan putrinya karena faktor ketampanan dan orang arab menikahkan putrinya karena faktor “hasab” (keturunan), adapun kaum muslimin menikahkan putrinya karena faktor takwa. Maka nikahkanlah putrimu sesuai dengan golonganmu”.  [Mawsu’atul Akhlaq Waz Zuhd War Raqaid, Yaser Abdur Rahman]

 

Orang sombong salah paham, ia mengira akan selamanya memiliki kelebihan yang dimilikinya padahal ia terlahir tanpa membawa apa-apa dan kelak ketika mati ia juga tak akan membawa apa-apa. Ingatlah, orang yang sombong karena memiliki harta yang banyak maka ia bisa saja dirampok sehingga hartanya menjadi hilang dalam sekejap. Orang yang sombong karena jabatan maka jabatan itu akan berpindak kepada orang lain saat masanya habis. Orang yang sombong karena ketampanan dan kecantikan maka hal itu akan berangsur-angsur hilang seiring dengan bertambahnya usia. Maka sungguh merupakan kebodohan yang nyata jika seseorang menjadi sombong karenanya. Imam Ghazali berkata :

وَكُلُّ مُتَكَبِّرٍ بِأَمْرٍ خَارِجٍ عَنْ ذَاتِهِ فَهُوَ ظَاهِرُ الْجَهْلِ

Setiap orang yang sombong karena faktor eksternal maka perilaku tersebut adalah kebodohan yang tampak jelas. [Ihya Ulumiddin]

 

Dengan demikian sebenarnya mudah bagi seseorang yang sombong (karena faktor eksternal) untuk menyadari kekeliruannya lalu berhenti dari sifat takabburnya. Dan yang sulit itu adalah mengatasi sombong karena faktor intrinsik (kelebihan yang terdapat dalam diri seseorang) seperti sombong karena dia punya ilmu mengingat ilmu itu agung dihadapan manusia dan juga agung di hadapan Allah sehingga berpotensi besar bagi orangnya untuk merasa lebih baik dari orang lain. Terlebih lagi, orang yang memiliki kelebihan seperti harta, jabatan, wajah rupawan jika tidak dibarengi dengan ilmu maka hal itupun tidak begitu dipedulikan di mata masyarakat sehingga kemuliaan ilmu itu lebih tinggi daripada kemuliaan yang didapat dari harta taupun jabatan. Maka Wahb ibnu Munabbih mengingatkan akan besarnya risiko dari ilmu. Ia berkata :

إِنَّ لِلْعِلْمِ طُغْيَاناً كَطُغْيَانِ الْمَالِ

“Sesungguhnya ilmu itu dapat mendatangkan perbuatan melampaui batas (angkuh, sombong) sebagaimana harta”. [Hilyatul Awliya]

Dan Sahabat Umar RA berkata :

وَمَا أَسْرَعَ الْكِبْرَ إِلَى الْعُلَمَاءِ

Betapa cepatnya kesombongan itu menjangkiti orang yang memiliki ilmu. [Ihya]

 

Maka  Imam ghazali memberikan nasehat : Sealim apapun seseorang maka janganlah ia merasa lebih mulia dari para sahabat Nabi RA, yang mana sebagian dari mereka berkata “Aduhai seandainya aku tidak dilahirkan oleh ibuku”, sebagian lain mengambil batu bata lalu berkata : “seandainya aku menjadi batu bata ini”, sebagian lain berkata : “seandainya aku menjadi burung yang dimakan”,  Dan sebagian lainnya berkata : “aduhai seandainya aku menjadi sesuatu yang tak dianggap apa-apa”. Itu semua dikatakan karena mereka sangat takut dengan akibat (efek negatif ilmu yang dimiliki) sehingga mereka menganggap dirinya lebih jelek keadaannya daridapada burung dan debu. [Ihya’]

 

Ilmu itu sangat luas sekali sementara manusia hanya mengetahui sedikit saja. Allah SWT berfirman :

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“ … dan tidaklah kalian diberi ilmu melainkan sedikit saja“ [QS Al-Isra: 85]

 

Maka sebanyak apapun seseorang menguasai ilmu maka sesungguhnya ia menguasai hal yang banyak dari yang sedikit. Jadi janganlah seorang berilmu tertipu dengan ilmu yang banyak yang ia miliki. Asy-Sya’bi berkata:

اَلْعِلْمُ ثَلَاثَةُ أَشْبَارٍ فَمَنْ نَالَ مِنْهُ شِبْرًا شَمَخَ بِأَنْفِهِ وَظَنَّ أَنَّهُ نَالَهُ . وَمَنْ نَالَ الشِّبْرَ الثَّانِيَ صَغرَتْ إِلَيْهِ نَفْسُهُ وَعَلِمَ أَنَّهُ لَمْ يَنَلْهُ ، وَأَمَّا الشِّبْرُ الثَّالِثُ فَهَيْهَاتَ لَا يَنَالُهُ أَحَدٌ أَبَدًا

Ilmu itu ada tiga level. Barang siapa mencapai level pertama maka ia akan menganggap dirinya besar dan ia menyangka ia telah mendapat semua ilmu. Barang siapa mencapai level kedua maka ia merasa kecil dan ia baru mengetahui bahwa ia belum mendapatkan semua ilmu. Dan pada level ketiga, seseorang akan merasa sangat jauh bahkan ia yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa mendapatkan semua ilmu selamanya. [Adabud Dunya waddin]

 

Senada dengan hal tersebut, Al-Munawi berkata : “Jarang sekali seseorang itu sombong dengan pencapaian ilmunya melainkan orang yang minim ilmu lagi sembrono karena ia tidak mengerti jatidirinya dan ia menyangka dengan baru memasuki ilmu bahwa ia telah memiliki ilmu yang lebih banyak dari orang lain. Adapun orang yang berilmu maka ia tahu betapa luasnya ilmu itu dan semua ilmu itu tidak akan tidak mungkin bisa dikuasai sehingga hal membuat dirinya tidak sombong dengan ilmu yang dimilikinya”.  [Faidlul Qadir]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk selalu rendah hati dengan apapun kelebihan yang diberikan Allah kepada kita khususnya ilmu. Semoga Ilmu kita semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada supaya sabda Nabi SAW  menghiasi dunia maya dan menjadi amal jariyah kita semua.

Monday, April 22, 2024

SUGUHAN TERBAIK

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari ibnu Abbas RA, Nabi SAW bersabda :

مَرْحَبًا بِالْوَفْدِ الَّذِينَ جَاءُوا غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى

“Selamat datang kepada para tamu (delegasi Abdil Qays) yang datang, tanpa merasa terhina dan menyesal.” [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Tidak hanya memerintah untuk memuliakan tamu, Rasul SAW juga merupakan teladan dalam memuliakan tamu bahkan semenjak ketika beliau belum diutus menjadi nabi. Selepas pulang dari gua hira pasca bertemu malaikat Jibril, beliau menggigil ketakutan sehingga meminta agar diselimuti. Khadijahpun menenangkan hati beliau dengan menceritakan kebaikan-kebaikan beliau diantaranya adalah memuliakan tamu. Khadijah berkata :

كَلَّا أَبْشِرْ فَوَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا فَوَاللَّهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ... وَتَقْرِي الضَّيْفَ

"Tidak, Demi Allah, tidaklah Allah akan menghinakanmu selamanya, Demi Allah sesungguhnya engkau adalah orang yang menjaga silahturahim, .... dan menyuguhi tamu. “ [HR Bukhari]

 

Al-Baydlawi berkata : “Orang Arab memiliki akhlak yang baik dengan menjalankan apa yang tersisa dari ajaran Nabi Ibrahim AS, dan mereka tersesat dengan menentang (kufur) pada sebagian besar ajarannya. Maka Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”. [Mirqatul Mafatih] Dan di antara  akhlak yang baik adalah memuliakan tamu. Ats-Tsa’aliby berkata :

إِكْرَامُ الْأَضْيَافِ مِنْ عَادَاتِ الْأَشْرَافِ

Memuliakan para tamu adalah kebiasaan dari orang-orang mulia. [At-Tamtsil Wal Muhadlarah]

 

Ibnu Abbas RA berkata :” Allah memberikan harta yang banyak dan para pembantu kepada Nabi Ibrahim, Khalilullah. Nabi Ibrahim membuat rumah khusus untuk menjamu tamu dengan memiliki dua pintu, yaitu satu pintu untuk masuk dan satu pintu untuk keluar. Di dalamnya terdapat meja yang di atasnya terdapat suguhan untuk tamu dan juga disediakan pakaian musim panas dan musim dingin. Maka tamu yang masuk ia memakan hidangan lalu memakai pakaian jika ia tidak memiliki pakaian”. [Ghida’ul Albab]

 

Dari Nabi Ibrahim kita belajar bagaimana menyediakan ruang tamu di rumah kita. Diriwayatkan dari Anas RA, bahwa beliau bersabda :

إِنَّ زَكَاةَ الرَّجُلِ فِي دَارِهِ أَنْ يَجْعَلَ فِيهَا بَيْتًا لِلضِّيَافَةِ

Sesungguhnya zakat (dari rumah) seseorang adalah ia menjadikan satu ruangan di dalam rumahnya untuk menerima tamu. [Syu’abul Iman]

 

Kita tidak akan maksimal memuliakan tamu jika kita tidak memiliki ruangan khusus untuk menerima tamu. Setelah itu barulah kita menyambut mereka dengan hangat sebagaimana hadits utama di atas Rasul SAW bersabda : “Selamat datang kepada para tamu yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” [HR Bukhari]

 

Selanjutnya adalah menyuguhkan hidangan kepada tamu dengan tanpa memaksakan diri. Sahabat Salman RA berkata :

نَهَانَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم أَنْ نَتَكَلَّفَ لِلضَّيْفِ مَا لَيْسَ عِنْدَنَا وَأَنْ نُقَدِّمَ مَا حَضَرَ

Rasul SAW melarang kami untuk memaksakan diri (di luar kemampuan) dalam menyuguhi tamu dari apa-apa (makanan) yang tidak kami miliki dan hendaknya kita menyuguhkan apa yang ada. [Syu’abul Iman]

 

Maka suguhkanlah makanan yang ada. Jabir bin Abdillah berkata :

هَلَاكُ الرَّجُلِ أَنْ يَدْخُلَ عَلَيْهِ الرَّجُلِ مِنْ إِخْوَانِهِ، فَيَحْتَقِرُ مَا فِي بَيْتِهِ أَنْ يَقْدِمَهُ إِلَيْهِ، وَهَلَاكُ الْقَوْمِ أَنْ يَحْتَقِرُوا مَا قُدِّمَ إِلَيْهِم.

Kebinasaan seseorang (pemilik rumah) adalah ketika ada saudaranya masuk rumahnya lalu ia meremehkan makanan yang dimilikinya untuk disuguhkan kepada saudaranya (sehingga tidak jadi disuguhkan), dan kebinasaan satu kaum (tamu) adalah mereka yang meremehkan makanan yang disuguhkan. [Syarhus Sunnah lil Baghawy]

 

Maimun bin Mihran berkata : “Jika engkau kedatangan tamu maka jangan engkau memaksakan diri menyuguhkan makanan yang engkau tidak mampu menghidangkannya. Berilah ia makanan sebagaimana yang dimakan oleh keluargamu dan berilah wajah yang berseri-seri karena jika engkau memaksakan diri diluar kemampuanmu maka boleh jadi engkau menemuinya dengan wajah yang tidak menyenangkan”. [Syu’abul Iman]

 

Maka jangan jadikan makanan untuk suguhan tamu sebagai beban berat, suguhkanlah sesuai dengan kemampuan dan ingatlah bahwa makanan suguhan untuk tamu itu hakikatnya adalah rezeki yang disediakan Allah untuk mereka. Syaqiq Al-Balakhi berkata :

لَيْسَ شَيْئٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ الضَّيْفِ لِأَنَّ رِزْقَهُ عَلَى اللهِ وَأَجْرَهُ لِي

Tiada sesuatu yang lebih aku sukai daripada tamu karena rizkinya (suguhan untuk tamu) ditanggung oleh Allah sementara pahalanya (dan balasan dari memuliakan tamu) itu untukku. [Siyaru A’lamin Nubala]

 

Sambutlah tamu dengan wajah berseri-seri serta perasaan gembira sebab dibalik menyuguhkan makanan kepada tamu itu ada banyak keutamaan. Al-Hasan Al-Bashri berkata : “Setiap nafkah yang seseorang membelanjakannya untuk dirinya, kedua orangtuanya dan seterusnya itu pasti akan dihisab melainkan nafkah (makanan) yang dibelanjakan seseorang untuk menjamu tamunya maka Allah malu untuk mempertanyakan hal itu kepadanya”. [Ihya Ulumiddin]

 

Diriwayatkan dari sebagian Ulama Khurasan, (sebelah Timur jazirah Arab, meliputi Iran, Afghanistan, dll.) bahwasannya ia menyuguhkan banyak makanan kepada para tamunya sehingga para tamu tidak mampu menghabiskan makanan tersebut dari banyaknya. Apa yang dilakukannya ini dikarenakan telah sampai kepadanya hadits “Sesungguhnya para tamu tatkala mengangkat tangan mereka dari makanan (ketika telah selesai makan) maka orang (pemilik rumah) yang memakan sisa makanan tamu tersebut tidak akan dihisab di hari kiamat nanti. [Ihya Ulumiddin]

 

Dan karena saking semangatnya dalam menjamu tamu, Yahya bin Muadz berkata :

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا لُقْمَةً فِي يَدِي لَوَضَعْتُهَا فِي فَمِ ضَيْفِي

Seandainya dunia ini berwujud makanan yang ada ditanganku niscaya aku suapkan ke mulut tamuku. [At-Tamtsil Wal Muhadlarah]

 

Tidak hanya memberikan suguhan berupa makanan namun yang tak kalah penting adalah menyuguhkan muka yang berseri-seri dan senang dengan kedatangan tamu. Suatu ketika Al-Awza’i ditanya mengenai bagaimana cara memuliakan tamu maka beliau menjawab :

طَلاَقَةُ الْوَجْهِ وَطِيْبُ الْكَلَامِ

Muka yang berseri-seri dan perkataan yang baik. [Syarhus Sunnah lil Baghawy]

Bahkan ada qil (maqalah, bukan hadits) yang berkata :

اَلْبَشَاشَةُ فِي الْوَجْهِ خَيْرٌ مِنَ الِقرَى

Muka yang berseri-seri (kepada tamu) itu lebih baik daripada suguhan makanan. [Al-Jiddu Al-Hatsits]

 

Maka jika kita memberikan suguhan terbaik kepada para tamu nsicaya mereka pulang dengan tanpa merasa terhina dan menyesal sebagaimana ungkapan Nabi dalam menyambut delegasi diatas.

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk selalu menyambut tamu dengan senang hati dan wajah yang berseri-seri sebab kedatangan mereka pada hakikahnya membawa berkah untuk kita.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada supaya sabda Nabi SAW  menghiasi dunia maya dan menjadi amal jariyah kita semua.

Sunday, April 14, 2024

GULUSUDA

 

ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda :

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya”[HR Muslim]

 

Catatan Alvers

 

Di momen hari idul fitri, sanak saudara saling berkunjung ke rumah satu sama lainnya. Momen ini merupakan momen yang tepat karena sebagian besar orang sama-sama libur dan cuti hari raya sehingga memiliki banyak waktu untuk saling silaturahmi. Tidak seperti hari-hari biasa yang mereka sibuk berada di luar rumah untuk urusan pekerjaan, belajar ataupun urusan lainnya.

 

Sebagai tuan rumah, atau shohibul bayt maka kita dituntut agar menjadi tuan rumah yang baik karena memuliakan tamu merupakan cerminan kemuliaan dan keimanan seseorang sebagaimana hadits utama di atas. Ada prinsip orang jawa yang familier dalam menemui tamu yang dikenal dengan istilah “Gupuh (menyegerakan), lungguh (mempersilahakan duduk), suguh (memberikan suguhan) dawuh (berkata-kata baik)” yang saya singkat dengan istilah GULUSUDA. Hal ini merupakan prinsip yang baik dan sesuai dengan ajaran Islam dalam menghormat tamu. 

 

Gupuh atau menyegerakan diri untuk melayani tamu dengan “Lungguh” atau mempersilahkan masuk rumah dan duduk lalu “Suguh” atau memberikan suguhan dan “Dawuh” mempersilahkan tamu untuk menikmari suguhan. Hatim Al-'Asham berkata:

اَلْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلَّا فِي خَمْسَةٍ فَإِنَّهَا مِنْ سُنَّةِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم

“Tergesa-gesa adalah berasal dari setan, kecuali dalam lima perkara, Maka itu termasuk sunnah Nabi SAW”. yaitu; (1) “Ith’amud Dlayf” (Menyuguhkan makanan kepada tamu) (2) Mengurus jenazah (3) Menikahkan gadis, (4) Melunasi hutang, dan (5) bertaubat dari dosa. [Ihya Ulumuddin]

 

Dalam Al-Qur’an diceritakan bagaimana Nabi Ibrahim menyegerakan diri dalam melayani tamu. Allah SWT berfirman : “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salam”. Ibrahim menjawab: “Salam (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal”.

فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ . فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

“Lalu Ibrahim pergi dengan cepat menemui istrinya, kemudian datang dengan membawa (daging) anak sapi yang gemuk (terbaik). Lalu dihidangkannya kepada tamu-tamu tersebut. Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan”. [QS ad-Dzariyat: 24 – 27]

Lafadz “Fa-Ragha” di dalam tafsir diartikan sebagai “Insalla Khufyatan fi sur’atin” pergi secara diam-diam dengan cepat. [Tafsir Ibnu Katsir] Ia pergi menemui istrinya untuk menyiapkan makanan dengan cepat dan diam-diam supaya tidak menggaggu perasaan para tamu. Apa yang dilakukan Nabi Ibrahim di sini adalah sebagai wujud Gupuh – Lungguh – Suguh - Dawuh.

 

Ibnu Katsir berkata : Dari ayat ini terdapat beberapa tata krama menerima tamu yaitu (1) “Ragha Ila Ahlihi” menyuguhkan hidangan dengan cepat tanpa memberi tahukan kepada tamu mengenai persiapan hidangan tersebut sehingga tidak memberatkan hati para tamu. Nabi Ibrahim tidak berkata kepada tamu : maukah aku siapkan makanan untukmu? (2) “Ijlin Samin ay Min Khiyari Malihi” memberikan suguhan makanan yang terbaik. (3) “Qarrabahu” Meyuguhkan makanan dengan mendekatkan makanan kepada tetamu. (4) “Ala Ta’kulun” Mempersilahkan tamu untuk mencicipi hidangan dengan perkataan yang baik seperti “Monggo” (dalam bahasa jawa yang artinya mari, silahkan). [Tafsir Ibni Katsir]

 

Maka di momen kedatangan tamu seperti hari raya ini sebaiknya jajanan dan hidangan telah disiapkan diatas meja supaya dengan mudah dan cepat kita menghidangkannya. Bahkan menyiapkan makanan untuk tamu memiliki keutamaan tersendiri sebagaimana Rasul SAW bersabda :

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَا تَزَالُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَتْ مَائِدَتُهُ مَوْضُوعَةً

Sesungguhnya para malaikat mendoakan salah seorang di antara kalian selama suguhan tamunya ditata (siap sedia). [HR Thabrani]

 

Dengan teladan menjamu tamu sebagaimana diatas maka Nabi Ibrahim mendapatkan gelar yang mulia. Diriwayatkan dari Ikrimah, ia berkata :

كاَنَ إِبْرَاهِيْمُ يُكْنَى أَبَا الضِّيْفَانِ وَكَانَ لِقَصْرِهِ أَرْبَعَةُ أَبْوَابٍ لِكَيْلَا يَفُوْتَهُ أَحَدٌ

Nabi Ibrahim AS digelari sebagai “Abud-Dlifan” (Bapaknya para tamu).Rumahnya memiliki 4 pintu untuk memudahkan para tamu yang hendak masuk kerumahnya sehingga tidak seorangpun terhalang dari pintu rumahnya. [Syu’abul Iman]

Selaku tuan rumah janganlah merasa berat dalam menjamu tamu sebab pada hakikatnya tamu itu tidak merugikan bahkan sebaliknya, aia akan mendatangkan manfaat untuk tuan rumah. Di dalam hadits disebutkan :

إِذَا دَخَلَ الضَّيْفُ عَلَى الْقَوْمِ دَخَلَ بِرِزِقْهِ، وَإِذَا خَرَجَ خَرَجَ بِمَغْفِرَةِ ذُنُوْبِهِمْ

Jika tamu masuk ke dalam satu rumah kaum maka ia masuk rumah dengan rizikinya sendiri dan tatkala keluar maka ia keluar dengan mendatangkan maghfirah (ampunan) dari dosa-dosa kaum tersebut (pemilik rumah). [Faidlul Qadir]

 

Al-Munawi berkata : Maksudnya “tamu masuk rumah dengan membawa riziki” adalah Allah akan memberi keberkahan kepada pemilik rumah sebab menerima tamu tersebut dan Allah akan mengganti biaya yang dikeluarkan untuk suguhan tamu bahkan melebihkannya. Dan bersamaan dengan keluarnya tamu maka Allah mengampuni dosa-dosa pemilik rumah sebagai bentuk balasan dari Allah atas perbuatannya memuliakan tamunya. [At-Taysir Bisyarhil Jami’ As-Shagir]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk selalu memuliakan tamu dengan senang hati dan mengharap imbalan keberkahan dari Allah SWT.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada supaya sabda Nabi SAW  menghiasi dunia maya dan menjadi amal jariyah kita semua.