Sabtu, 27 Agustus 2016

FENOMENA TITIP DOA



ONE DAY ONE HADITH

Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda,
الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ
“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti Allah akan memberinya” [HR. Ibnu Majah]

Catatan Alvers

Hari-hari ini, keluarga dan kenalan kita mulai bersiap-siap berangkat menuju baitullah untuk menunaikan rukun islam yang kelima. Mereka dipanggil Allah dan merekapun bergegas memenuhinya dengan meninggalkan segala apa yang mereka miliki, keluarga, rumah, kendaraan, sawah, toko dan aset lainnya. Mereka mendatangi panggilan Allah seraya berseru membaca talbiyah “Labbaik Allahumma Labbaik” Aku memenuhi panggilanmu Ya Allah. Allahpun membanggakan Mereka . Dalam satu riwayat disebutkan : “Jika hari Arafah, Allah SWT membanggakan mereka (jamaah haji) di hadapan malaikat-malaikat-Nya seraya berfirman :
انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي أَتَوْنِي شُعْثًا غُبْرًا ضَاحِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ ، أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ
“Lihatlah hamba-hamba-Ku mereka mendatangi (panggilan)Ku dengan keadaan rambut kusut, pakaian berdebu dan di bawah terik matahari dari berbagai penjuru negeri. Aku memberitahu kalian bahwa, Aku telah mengampuni mereka.” [HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman]

Seseorang yang diundang oleh bapak presiden, dia akan bergegas mendatangi undangan tersebut dengan penuh sukacita. Dia akan berpakaian dengan pakaian yang pantas atau sesuai dengan protokol pihak istana, dia juga akan menjaga tata krama dan bicara selama bertamu ke istana. Ada harapan yang tersirat, seseorang yang datang ke istana dengan perilaku yang sopan dan sesuai dengan protokoler ia mendapatkan “sesuatu” yang berharga dari sang presiden. Lantas bagaimana tidak bahagia orang yang memenuhi panggilan sang pencipta alam semesta Allah SWT yang maha kaya raya, yang akan memenuhi segala permintaan setiap tamu yang datang memenuhi panggilannya sebagaimana sabda Nabi di atas “jika mereka meminta kepada Allah pasti Allah akan memberinya” [HR. Ibnu Majah].

Kebahagiaan ini tidak hanya dirasakan oleh orang yang hendak pergi berhaji, orang-orang di sekitarnya mulai saudara, tetangga hingga handai taulan juga larut dalam kegembiraan ini. Mereka berduyun duyun mendatangi rumahnya untuk memberikan doa restu, motivasi bahkan menitip doa kepadanya. Fenomena menitip doa ini berawal dari keyakinan bahwa orang yang berhaji adalah tamu Allah dan sebagai seorang tamu pastilah Allah akan memberikan apa yang dimintanya . Allah SWT memerintahkan kita yang memiliki segala kekurangan, untuk menghormati tamu kita sebagaimana Rasul SAW bersabda :
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”. [HR Bukhari]

Lantas bagaimana dengan Allah sendiri, Dzat yang maha kaya yang urusannya hanyalah “kun fayakun”, pastilah Allah akan memberikan semua permintaan orang yang berhaji selaku tamu yang memenuhi panggilan-Nya. Dengan demikian, menitipkan doa kepada orang berhaji maka sama halnya doa kita termasuk dalam jaminan dikabulkan oleh Allah swt.

Menitipkan doa kepada orang lain bukanlah satu hal yang baru. Bahkan Rasulpun menitip doa kepada Umar RA. Ketika itu Saat Umar bin Khattab RA memohon izin kepada Rasulullah untuk pergi melaksanakan umrah. Umar berkata: “Beliau mengizinkan aku dan berkata kepadaku :
أَيْ أُخَيَّ أَشْرِكْنَا فِي دُعَائِكَ وَلَا تَنْسَنَا
“Wahai saudaraku, Sertakan kami dalam doamu dan jangan lupakan kami [HR Tirmidzi] Abu Isa berkata: Hadits ini Hasan Shahih.

Umar RA sendiri juga pernah menitip doa kepada orang lain. Dalam Shahih Muslim terdapat kisah dari Usair bin Jabir : ‘Umar bin Khattab ketika didatangi oleh serombongan pasukan dari Yaman, ia bertanya, “Apakah di tengah-tengah kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?” kemudia ‘Umar mendatangi ‘Uwais dan bertanya, “apakah engkau adalah Uwais bin ‘Amir?” Uwais menjawab, “Iya.” Umar bertanya lagi, “Apakah engkau dari Murad, dari Qarn?” Uwais menjawab, “Iya.”  Umar bertanya lagi, “Benar engkau dahulu memiliki penyakit kulit lantas sembuh kecuali sebesar satu dirham.” Uwais menjawab, “Iya.” Umar bertanya lagi, “Benar engkau punya seorang ibu?” Uwais menjawab, “Iya.” Umar berkata, “Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:
يَأْتِى عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ
“Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”
Umar pun berkata, “Mintalah pada Allah untuk mengampuniku.” Kemudian Uwais mendoakan Umar dengan meminta ampunan pada Allah. [HR Muslim]

Lebih spesifik mengenai titip doa kepada orang yang hendak berhaji adalah riwayat dari Shafwan bin Abdillah : Saya pergi ke Syam ingin menjumpai Abu Darda’ di rumahnya, tetapi dia tidak ada. Saya hanya menjumpai istrinya, Ummu Darda’. Ummu Darda’ bertanya kepadaku :
أَتُرِيدُ الْحَجَّ الْعَامَ
Apakah kamu akan melaksanakan haji tahun ini?
Aku jawab: Ya.
Dia (Ummu Darda’ ) berkata:
 فَادْعُ اللَّهَ لَنَا بِخَيْرٍ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“(titip) Doa kebaikan untuk kami, karena Nabi SAW pernah bersabda,  “Doa seorang muslim untuk saudaranya bi dzahril ghayb (tanpa kehadiran saudaranya itu) akan dikabulkan. Di dekat kepalanya ada satu malaikat yang ditugaskan agar setiap dia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat itu ditugasi untuk berkata: Amin (semoga Allah mengabulkan) dan kamu mendapatkan hal yang sama.” [HR. Muslim]

Maka dari itu alvers, cukuplah menitip doa kepada saudara yang hendak berhaji dan janganlah menitip sesuatu yang memberatkannya bahkan sia-sia seperti menitip foto, rambut, kain dll untuk dibuang di tanah haram dengan harapan orang yang menitipkan bisa sampai ke sana. Disamping tidak ada ajarannya, hal ini menjadikan tanah haram sebagai tempah sampah, Bagaimana tidak jika setiap orang jamaah haji indonesia saja membawa satu bungkusan plastik berisi foto, rambut dll maka akan ada 168.800 bungkusan plastik sampah berserakan di sana sesuai dengan jumlah kuota haji tahun 2016 ini.

Janganlah kita lepas mereka dengan merepotkannya sebab barang titipan yang sia-sia seperti itu, Lepaslah mereka suka rela dan dengan doa restu yang diajarkan oleh Rasul SAW :
أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
Aku titipkan kepada Allah ; agamamu, amanatmu, dan penutup amalmu.[HR. Abu Dawud] Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk senang meminta doa orang lain dan tidak merepotkannya.
Salam Hormat,
DR.H.Fathul Bari, Malang, Ind

Artikel Terbaik
ONE DAY ONE HADITH
Kajian Hadits dengan
Sistem SPA (Singkat, Padat, Akurat)
READY STOCK BUKU ONE DAY#1
Hub. Pemesanan :
Muadz
081.216.74.2626

0 komentar:

Posting Komentar