Rabu, 17 Agustus 2016

TABARRUKAN



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Nafi’, Ibnu Umar RA bertanya kepada Rasul SAW :

يَا رَسُولَ اللَّهِ الْوُضُوءُ مِنْ جَرٍّ جَدِيدٍ مُخَمَّرٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ أَمْ مِنَ الْمَطَاهِرِ فَقَالَ : لا بَلْ مِنَ الْمَطَاهِرِ إِنَّ دِينَ اللَّهِ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ قَالَ : وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْعَثُ إِلَى الْمَطَاهِرِ فَيُؤْتَى بِالْمَاءِ فَيَشْرَبُهُ يَرْجُو بَرَكَةَ أَيْدِي الْمُسْلِمِينَ .
Wahai Rasulullah, manakah yang lebih engkau senangi apakah berwudlu dari wadah yang terbuat dari tembikar baru yang tertutup ataukah (langsung) dari (kolam) tempat-tempat berwudlu  Rasulullah menjawab: Tidak, tapi dari (kolam) tempat-tempat berwudlu’. Agama Allah adalah yang condong dan mudah. Ibnu Umar RA berkata: Kemudian Rasulullah menyuruh seseorang ke tempat-tempat berwudlu’ dan beliau didatangkanlah air wudlu’ (dari sana), kemudian beliau meminumnya. Beliau mengharap berkah dari tangan-tangan umat Islam” [HR Thabrani]

Catatan Alvers

Pada hari selasa dan rabu, 15-16 Agustus 2016 bertepatan dengan 12-13 Dzul Qa’dah 1437H kami mendapatkan kehormatan dengan menjamu seorang ulama dari libanon, keturunan ke 25 dari syeikh Abdul Qadir Al-Jilany Yaitu Syeikh Sayyid Amin Muhammad Ali Ad-Duhaiby Al-Jilany yang datang bersama putra beliau, Sayyid Al-Munsyid Ibrahim. Terlihat dari kalangan keluarga, pengurus bahkan para santri sangat antusias menyambut dan mendengarkan taushiyah beliau yang memotivasi para santri agar lebih giat untuk menuntut ilmu. Mereka juga antusias berebut untuk bersalaman sebagai wujud “ngalap berkah” dari beliau, ada mencucikan baju beliau bahkan meminum air kolam wudlu beliau.
Melihat hal itu kami teringat dengan apa yang dilakukan oleh Nabi SAW dalam hadits di atas. Begitu juga kisah Imam Syafi’i berikut. Diceritakan dari Abu Ja’far Muhammad Al-Malthy,  Rabi’ bin Sulaiman berkata : Suatu saat Imam Syafi’i pergi ke Mesir bersamaku,lalu ia berkata kepadaku:
يَا ربيع خُذ كتابي هَذَا فَامْضِ بِهِ وَسلمهُ إِلَى أَبِي عَبْد اللَّه وائتني بِالْجَوَابِ
“Wahai Rabi’, ambil surat ini dan serahkan kepada Abi Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal), selanjutnya datanglah kepadaku dengan membawa jawabannya!”,
Ketika memasuki kota Baghdad kutemui Imam Ahmad sedang shalat subuh, maka aku pun shalat di belakang beliau. Setelah beliau beranjak dari mihrab, aku serahkan surat itu, “Ini ada surat dari saudaramu Imam Syafi’i di Mesir,” kataku.
“Kau telah melihatnya?” tanya Imam Ahmad. “Tidak, wahai Imam” jawabku. Beliau membuka segel dan membaca isi surat itu, sejenak kemudian kulihat beliau berlinang air mata. “Apa isi surat itu wahai Imam?” tanyaku. Imam Ahmad berkata : Imam Syafi’i menceritakan bahwa ia bermimpi Rasulullah SAW dan Beliau berpesan:
اكْتُبْ إِلَى أَبِي عَبْد اللَّه فاقرأ عَلَيْهِ السَّلَام وَقل لَهُ إِنَّك ستمتحن وتدعى إِلَى خلق الْقُرْآن فَلَا تجبهمْ فيرفع اللَّه لَك علما إِلَى يَوْم الْقِيَامَة
“Tulislah surat kepada Ahmad bin Hanbal dan sampaikan salamku kepadanya. Katakan padanya kau akan diuji, yaitu kau akan diajak mengakui al-Qur’an adalah mahluk, maka janganlah kau ikuti ajakan mereka, maka Allah akan meninggikan benderamu hingga hari kiamat,”
Aku berkata “kabar gembira wahai Aba Abdillah”. Lalu beliau melepaskan salah satu gamis yaitu gamis yang melekat di kulitnya dan memberikannya padaku lalu Aku mengambil surat jawaban darinya dan pergi kembali menuju mesir. Setelah sampai, Aku langsung menyerahkan surat balasan itu kepada Imam Syafi’i. Beliau bertanya: “Apa yang diberikan Imam Ahmad padamu?”. Aku menjawab : Gamisnya. Lalu Imam syafii berkata:
ليس نفجعك به ولكن بُلّه وادفع إليّ الماء لأتبرك به

“Kami tidak akan merisaukanmu, akan tapi basahi gamis tersebut, lalu berikan kepadaku air (bekas basuhan gamis) itu supaya aku mengambil keberkahannya"[Thabaqat Syafi’iyyah] Kisah yang sama juga disebutkan dalam Tarikh Dimasq, Al-Adab As-Syar’iyyah dan Ghida’ul Albab Fi Syarhi Madzumatil Adab.

Apa yang dilakukan imam syafi’i kepada air bekas basuhan gamis imam ahmad, merupakan bentuk tabarruk, tabarrukan, mengambil berkah atau orang jawa mengatakan "Ngalap berkah" dari orang-orang sholeh.
Saya meyakini, dunia ini tidak terlepas dari pro kontra. Di satu sisi apa yang dilakukan oleh imam syaf’i merupakan bentuk tabarruk tetapi ada yang menilainya bid’ah bahkan syirik. Likulli Ra’sin Ra’yun, Setiap orang punya pendapatnya sendiri sehingga tulisan saya ini tidaklah memaksa pembaca untuk meyakini apa yang saya yakini. Namun tulisan ini hanya memaparkan apa yang saya ketahui dari apa yang saya yakini dan selanjutnya kata sponsor “terserah anda”.
Namun demikian, Apa yang dilakukan oleh imam syafi’i ini bukanlah hal baru mengingat hal yang sama telah dilakukan oleh Rasul SAW sebagaimana keterangan hadits utama di atas. Hadits tersebut dinilai hasan oleh para ulama bahkan albanipun menilai hasan hadits dengannomor 2118 dalam kitabnya Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah wa Syai'un min Fiqhiha wa Fawaidiha (9 jilid), yang digembar-gemborkan sebagai studi ilmiah terhadap 4.035 buah hadits yang dinyatakan shahih sesuai dengan kaidah musthalah hadits yang telah disepakati ulama ahli hadits sepanjang zaman. Namun anehnya tidak ada ulama dari kalangan mereka yang mengulasnya.
Apa yang dilakukan oleh imam syafi’i ini boleh jadi meniru apa yang dilakukan oleh Asma binti Abi Bakr RA , yang membasuh pasien dengan air bekas basuhan jubah Nabi SAW. Ia berkata :

هَذِهِ كَانَتْ عِنْدَ عَائِشَةَ حَتَّى قُبِضَتْ فَلَمَّا قُبِضَتْ قَبَضْتُهَا وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُهَا فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرْضَى يُسْتَشْفَى بِهَا

"Jubah ini dulunya ada pada aisyah sampai beliau wafat dan selanjutnya saya yang menyimpannya. Jubah ini dulu pernah dipakai Nabi SAW. lalu kami membasuhnya untuk orang sakit agar bisa sembuh dengan jubah tersebut".[HR Muslim]
Kisah tabarrukan tidak berhenti disitu saja, dalam al-Qur'an juga dikisahkan mengenai hal semacam itu Yaitu Nabi Yusuf AS yang memberikan baju gamisnya kepada saudara-saudaranya untuk selanjutnya diberikan kepada ayahandanya untuk diusapkan kepada wajah beliau yang saat itu menderita kebutaan. Kisah ini sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an :
اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ

Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah gamis tersebut ke wajah ayahku, niscaya ia dapat melihat kembali (sembuh dari kebutaan); dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku".[QS Yusuf: 93]

Bahkan para sahabat juga ber tabarruk dengan rambut Rasul saw. Dikisahkan saat perang yarmuk, khalid bin walid kehinlangan kopyahnya maka iapun memerintahkan prajuritnya untuk mencarinya hingga kopyahnya ditemukan dan ditemukanlah kopyahnya dalam keadaan rusak. Maka Khalid berkata :
اعتمر رسول الله صلى الله عليه وسلم فحلق رأسه فابتدر الناس جوانب شعره قال : فسبقتهم إلى ناصيته فجعلتها في هذه القلنسوة فلم أشهد قتالا وهي معي إلا رزقت النصر
Rasul SAW ber-umrah lalu mencukur rambut kepala beliau dan para sahabat berebut rambut kanan kiri beliau dan aku mendahului untuk mendapatkan rambut depan (ubun-ubun) beliau dan aku aku letakkan dalam kopyah ini. Maka tidaklah aku berperang dengan mengenakan kopyah ini kecuali diberikan rizki kemenangan. [Kitab : Dala’ilun Nubuwwah] disebutkan juga dalam kita Shifatus Shafwah dan Majma’uz Zawaid wa Mamba’ul Fawaid. Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menerima apa yang dilakukan oleh Rasul SAW, Sahabat RA dan para salafus Shalih serta mengikutinya.

Salam Hormat,
DR.H.Fathul Bari, Malang, Ind

0 komentar:

Posting Komentar