Jumat, 16 November 2018

MENDOAKAN GURU



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Ubadah Bin Shamit RA, Rasul SAW bersabda :
لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama” [HR Ahmad]

Catatan Alvers

Socrates dalam bukunya The Republic menyebut dua profesi yang harus sarjana dimana saat itu (2.000 tahun sebelum Masehi) sarjana diidentikkan dengan orang yang luas pengetahuannya, arif dan bijaksana. Siapakah mereka? yang pertama adalah anggota parlemen, Mengapa? Karena parlemen berwenang membentuk aturan untuk hidup bersama dengan baik. Dan yang kedua adalah guru. Mengapa demikian? karena guru bertugas mencetak generasi masa depan dan penerus perjuangan. Pasca Hiroshima dan Nagasaki dibom atom dan akhirnya Jepang takluk kepada Sekutu, Kaisar Hirohito bertanya berapa jumlah guru yang tersisa. Dengan sekitar 250.000 guru yang masih hidup, Kaisar Jepang menyatakan tekad, dalam satu generasi, Jepang akan lebih maju dari kondisi sewaktu ditaklukan. Pada tahun 1960-an, Jepang membuktikan dapat lebih unggul dalam teknologi dan ekonomi dari banyak negara Barat penakluknya. [nasional kompas com]


“Guru memang bukan orang hebat, akan tetapi semua orang hebat berkat jasa guru”. Itulah kata orang bijak. Guru dalam bahasa Jawa merupakan akronim dari "digugu lan ditiru" (orang yang dipercaya dan diikuti), bukan hanya sekedar transfer of knowledge akan tetapi lebih dari itu ia mendidik moral dan spiritual atau menurut Ki Hajar Dewantoro, diistilahkan dengan “cipta, rasa, dan karsa” dan dalam taksonomi bloom dikenal dengan istilah Ranah Kognitif (aspek intelektual), Afektif (aspek emosional) dan Psikomotorik (keterampilan motorik).

Seorang guru amatlah mulia karena tanpa perantaranya manusia tidak akan mengenal tuhan-Nya. ulama berkata :
لولا المربي، ما عرفت ربي
Seandainya tidak ada guru, niscaya aku tidak mengenal Tuhanku [Kitab Hikmatul Isyraq]

Rasul SAW menerangkan kemuliaan guru dalam sabda beliau :
إنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِيْ جِحرِهَا وَحَتَّى الْحُوْتَ لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
Sesungguhnya Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, beserta penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang berada dalam sarangnya, demikian pula dengan ikan-ikan; Semuanya berdo’a untuk orang-orang yang mengajarkan kebajikan pada manusia.” [HR Tirmidzi]

Jika Allah dan malaikatnya saja memberikan kemuliaan kepada guru maka bagaimana sikap murid memuliakan kepadanya? Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri RA berkata,
كنا جلوسا في المسجد فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم فجلس إلينا ولكأن على رؤوسنا الطير ، لا يتكلم أحد منا
“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah SAW kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah].

Zaid bin Tsabit RA ketika hendak menuju kendaraannya (Baghal) maka Ibnu Abbas menuntunkan tali hewannya untuknya. Melihat hal ini, Zaid bin Tsabit RA merasa sungkan dan tidak mau mendapatkan perlakukan spesial seperti itu, iapun berkata : “Tolong lepaskan talinya wahai putra paman Rasul SAW!” Maka Ibnu Abbas seorang sahabat yang ‘alim, mufasir Quran umat ini, seorang dari Ahli Bait Nabi yang pernah mendapatkan ilmu darinya berkata : 
هكذا نفعل بالعلماء ؛ لأنه كان يأخذ عنه العلم
Beginilah perlakuan (adab) kami terhadap ulama (guru) karena ia telah berjasa menyampaikan ilmu.
Lalu Zaid bin Tsabit RA mencium tangan Ibnu Abbas dan berkata:
هكذا أمرنا أن نفعل بأهل بيت نبينا صلى الله عليه وسلم
Beginilah kami diperintahkan berbuat terhadap ahli bayt Nabi kami SAW. [Ghidza’ul Albab]

Itulah sebagian dari hak guru sebagaimana hadits utama di atas. Di sisi lain, Kebaikan dari orang lain haruslah kita balas dengan kebaikan. Salah satu cara membalas kebaikan adalah dengan mendoakannya. Rasul SAW bersabda :
وَمَنْ أَتَى إِليْكُم مَعْروفاً فَكَافِئُوه فَإِنْ لَمْ تَجِدوا فَادْعُوا لَهُ، حَتَّى يَعلَمَ أن قَد كَافَئْتُمُوه
“Apabila ada yang berbuat baik kepadamu maka balaslah dengan balasan yang setimpal. Apabila kamu tidak bisa membalasnya, maka doakanlah dia hingga engkau memandang telah mencukupi untuk membalas dengan balasan yang setimpal. [HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad]

Seperti itulah yang dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal kepada gurunya. Beliau berkata:
إِنِّيْ لأَدْعُو اللهَ لِلشَّافِعِيِّ فِيْ صَلاَتِيْ مُنْذُ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً، أَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِيِّ
 Aku mendoakan al-Imam al-Syafi’i dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Aku berdoa, “Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris al-Syafi’i.” [al-Baihaqi, Manaqib al-Imam al-Syafi’i]

Bahkan disamping doa, ada juga yang menambah dengan sedekah. Al-Imam an-Nawawi berkata :
وَقَدْ كَانَ بَعْضُ الْمُتَقَدِّمِيْنَ إِذَا ذَهَبَ إِلَى مُعَلِّمِهِ تَصَدَّقَ بِشَئْ ٍوَقَالَ اللَّهُمَّ اسْتُرْعَيْبَ مُعَلِّمِي عَنِّى وَلاَ تَذْهَبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ مِنِّى
Sebagian (Ulama) terdahulu jika berangkat menuju gurunya ia bershodaqoh dengan sesuatu kemudian berdoa: Ya Allah, tutuplah aib guruku dariku. Jangan hilangkan keberkahan ilmunya dariku [al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab] Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati untuk senantiasa memuliakan dan mendoakan guru sampai akhir hayat kita.

Salam Satu Hadits,
Dr. H. Fathul Bari Alvers

NB.
Hak Cipta berupa Karya Ilmiyah ini dilindungi oleh Allah SWT. Mengubah dan menjiplaknya akan terkena hisab di akhirat kelak. *Silahkan Share tanpa mengedit artikel ini*. Sesungguhnya orang yang copas perkataan orang  lain tanpa menisbatkan kepadanya maka ia adalah seorang pencuri atau peng-ghosob dan keduanya adalah tercela [Imam Abdullah Alhaddad]

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Sarana Santri ber-Wisata Rohani Wisata Jasmani
Ayo Mondok! Nggak Mondok Nggak Keren!

0 komentar:

Posting Komentar