Rabu, 14 November 2018

RASUL SAW JUGA MANUSIA



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Mas’ud RA, Rasul SAW bersabda:
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي
 Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku bisa saja lupa sebagaimana kalian semua bisa lupa. Maka jika aku lupa, ingatkanlah aku. [HR Bukhari]

Catatan Alvers

Rasul SAW adalah manusia yang sempurna dan paripurna. Kesempurnaan beliau tercermin dalam akhlak yang membuat Sang Khalik-pun memujinya. Allah SWT berfirman :
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. [QS Al-Qalam: 4].


Kesempurnaan beliau ini semakin nampak dengan keberadaan jati diri beliau sebagai manusia biasa dengan keterbatasannya, bukan selayaknya malaikat yang penuh dengan kekuatan dan kelebihan yang tak dimiliki manusia. Orang-orang yang melupakan hal ini akan salah dalam menilai beliau sebagaimana yang dilakukan oleh orang  Yahudi dan nasrani. Mereka memperolok-olok Nabi Muhammad SAW. Menurut mereka bagaimana bisa seorang Nabi yang berperang bisa mengalami kekalahan? Bagaimana bisa Nabi menikah?

Menjawab hal ini, Imam Al-Baqilani membalikkan pertanyaan mereka : “Adakah juga seorang Tuhan tapi disalib ?!. lalu beliau berkata : “Allahu akbar! Kalian menyucikan para pendeta kalian dari menikah dan berketurunan, kemudian menuduh tuhan kalian telah menikah dengan Maryam dan berkuturunan Isa?!” [Tarikh Baghdad]

Jika Nabi Muhammad SAW adalah seorang malaikat maka menjalankan ibadah apapun bahkan menghadapi musuh saat peperangan menjadi hal yang ringan dan biasa saja. Tak perlu keluar tenaga, keringat bahkan tak akan meneteskan darah hingga mempertaruhkan nyawa dalam sengitnya peperangan. Namun sekali lagi yang ditekankan bahwa beliau adalah manusia yang membutuhkan makan dan minum bahkan pernah lupa sebagaimana hadits utama di atas.

Hadits tersebut dilatarbalakangi kejadian dimana saat itu Rasulullah SAW melaksanakan shalat (dhuhur atau ashar) namun beliau setelah mendapat dua reka’at kemudian salam. Singkat cerita, setelah beliau diingatkan akan hal itu maka beliau menambah dua rekaat lalu melakukan sujud sahwi. Kemudian beliau bersabda dengan hadits di atas.

Kejaidan lupa tersebut merupakan sifat basyariah (kemanusiaan) dari Nabi SAW. Kelupaan beliau memberikan fakta bahwa beliau adalah manusia dan bukanlah malaikat. Allah-pun memerintahkan beliau :
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ
Katakanlah: sesungguhnya aku (Muhammad) ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa... [QS Al-Kahfi: 110]

Layaknya orang biasa, Rasul Saw makan, minum, beristri, bekerja bahkan juga pergi ke pasar, Allah SWT berfirman :
وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ
“Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” [QS al-Furqan: 20]

Bahkan Ibnu ‘Abbas RA menemuikan beliau mendengkur dalam tidur beliau. Ibnu ‘Abbas RA berkata :
نَامَ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيطَهُ ـ أَوْ خَطِيطَهُ
Beliau tidur hingga aku mendengar dengkurannya [HR Bukhari]

Maka dari itulah al-Bushiri berkata dalam burdahnya :
فمبلغ العلم فيه أنه بشر :: وأنه خير خلق الله كلهم
Puncak dari pengetahuan adalah bahwasannya Nabi Muhammad SAW adalah seorang manusia dan beliau adalah makhluk terbaik dari semua makhluk Allah swt.

Syaikh Muhammad Abu al-Mawahib al-Syadzili berkata: "Pernah terjadi perdebatan antara aku dan seseorang seseorang di masjid Jami’Al-Azhar tentang syi’ir Imam Bushiri tersebut. orang itu berkata kepadaku. "Itu gak ada dalilnya!." Maka kujawab: "Itu sudah Ijma Ulama." Namun orang masih bersikeras. Maka, tiba-tiba aku melihat baginda Nabi saw bersama Abu Bakar dan Umar berada di sisi mimbar Jami’ al-Azhar. Rasulullah berkata : "Selamat datang kekasih kita." Kemudian beliau berkata kepada para sahabatnya:  "Tahukah kalian apa yang terjadi saat ini?" Mereka menjawab:  "Tidak wahai Rasulullah."Beliau bersabda: "Sesungguhnya Fulan yang celaka itu meyakini bahwa Malaikat lebih baik daripada diriku." Para sahabat berkata :
لا يا رسول الله ما على وجه الأرض أفضل منك
"Tidak wahai Rasulullah, Tidak ada satupun di muka bumi ini makhlukyang  lebih baik daripada engkau."
Rasulullah berkata : "Bagaimana keadaan Fulan yang celaka yang tidak bernyawa itu? Meskipun bernyawa, ia akan hidup dalam keadaan terhina, terasingkan, terhimpit, lemah ingatannya baik di dunia dan maupun akhirat, sebab ia meyakini bahwa Ijma' tidak bersepakat atas kelebihanku?! Ketahuilah bahwa melencengnya Muktazilah terhadap Ahlus Sunnah tidak sedikitpun mampu merusak Ijma'! [Thabaqat al-kubra Lis Sya’rani]

Di sisi kemuliaan beliau inilah, pernah suatu ketika seorang badui hendak menemui Nabi SAW. Namun saat melihat wibawa beliau, ia ketakutan sehingga beliau bersabda :
هَوِّنْ عَلَيْكَ فَإِنِّي لَسْتُ بِمَلِكٍ إِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ تَأْكُلُ الْقَدِيدَ
“jangan takut. Aku hanyalah putera seorang perempuan yang makan (daging) dendeng di Makkah.”[ Ibnu majah]

Dari sisi kemuliaan ini pula yang membuat lupa sayyidina Umar RA, Ketika Rasul wafat, Ia bersumpah bahwa Nabi SAW tidaklah (bisa) wafat. Sayyidina Abu Bakar RA mengingatkannya :
أَلَا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ وَقَالَ إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ
Ingatlah, Barangsiapa menyembah Muhammad SAW maka Muhammad telah wafat, dan barangsiapa menyembah Allah maka Allah Maha hidup dan tidak akan mati. Allah Berfirman : Sesungguhnya Engkau (Nabi Muhammad SAW) akan mati dan merekapun akan mati. [QS az-Zumar : 30] Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati untuk senantiasa menjadikan Beliau SAW sebagai uswah hasanah dalam setiap sendi kehidupan kita.

Salam Satu Hadits,
Dr. H. Fathul Bari Alvers

NB.
Hak Cipta berupa Karya Ilmiyah ini dilindungi oleh Allah SWT. Mengubah dan menjiplaknya akan terkena hisab di akhirat kelak. *Silahkan Share tanpa mengedit artikel ini*. Sesungguhnya orang yang copas perkataan orang  lain tanpa menisbatkan kepadanya maka ia adalah seorang pencuri atau peng-ghosob dan keduanya adalah tercela [Imam Abdullah Alhaddad]

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Sarana Santri ber-Wisata Rohani Wisata Jasmani
Ayo Mondok! Nggak Mondok Nggak Keren!

0 komentar:

Posting Komentar