Friday, February 27, 2026

RENUNGAN AKHIR RAMADHAN #9

 

ONE DAY ONE HADITH


Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”[HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Ketika berada di penghujung Ramadhan, ada kegalauan di hati setiap orang beriman. Ada beberapa renungan di dalam hati. Ramadhan pasti datang tahun depan namun apakah ketika ia datang lagi apakah kita masih berada di atas tanah atau malah sudah berkalang tanah. Jika ramadhan kali ini menjadi ramadhan terakhir dalam hidup kita lantas apakah sudah maksimal ibadah puasa dan qiyamul lail kita. Sejauh mana puasa membentuk ketakwaan yang menjadi tujuannya “La’allakum Tattaqun”. Dan lebih penting lagi apakah semua ibadah yang telah dilakukan itu diterima oleh Allah ataukah sekedar menggugurkan kewajiban sebagaiman dinyatakan dalam hadits utama tadi?

 

Hal yang demikian menjadi konsen para sahabat Nabi. Ma’la bin Fadl menceritakan :

كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ تَعَالَى ... سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْهُمْ

“Para sahabat nabi memohon kepada Allah selama enam bulan (pasca ramadhan) agar amalan mereka diterima.”[Latha’iful Ma’arif]

 

Ketika hari raya Idul Fitri, ‘Umar bin ‘Abdul Aziz berkhutbah :

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ صُمْتُمْ لِلَّهِ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، وَقُمْتُمْ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً،  وَخَرَجْتُمُ الْيَوْمَ تَطْلُبُونَ مِنَ اللَّهِ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْكُمْ

“Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. [Latha’iful Ma’arif]

 

Demikian pula hal itu dirasakan oleh salafus shalih. Ibnu Rajab berkata : “Sebagian salaf terlihat bersedih ketika hari raya Idul Fitri. Dikatakan  kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka menjawab :

صَدَقْتُمْ، وَلَكِنِّي عَبْدٌ أَمَرَنِي مَوْلَايَ أَنْ أَعْمَلَ لَهُ عَمَلًا، فَلَا أَدْرِي أَيَقْبَلُهُ مِنِّي أَمْ لَا؟

“Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.” [Latha’iful Ma’arif]

 

Berbicara apakah ibadah puasa kita diterima atau tidak maka kita bisa memeriksa sejauh mana ibadah puasa yang sudah dijalankan memberikan efek positif dan perubahan perilaku dalam kehidupan kita. Bukankah tujuan disyariatkan puasa adalahlah menjadikan seseorang bertakwa. Fudhalah bin ‘Ubaid berkata :

لَأَنْ أَكُونَ أَعْلَمَ أَنَّ اللهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا؛ لِأَنَّ اللهَ يَقُولُ:  إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Mengetahui bahwa Allah menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji sawi saja, itu lebih aku sukai dari pada dunia dan seisinya karena Allah berfirman “Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertaqwa”. .” [Latha’iful Ma’arif]

 

Saya jadi teringat dengan kisah orang bijak mengenai dua binatang yang sama-sama berpuasa namun hasil dari keduanya berbeda. Hewan pertama, yaitu ular. Ia berpuasa agar mampu menjaga kelangsungan hidupnya yaitu dengan cara mengganti kulitnya secara berkala. Ia berpuasa dalam kurun waktu tertentu, setelah itu barulah kulit luarnya terlepas dan iapun memiliki kulit yang baru. Meskipun demikian anehnya ular tetap seperti semula, tidak ada perubahan bentuk, tabiat bahkan kebiasaannya.

 

Kedua yaitu ulat. Ia termasuk hewan yang rakus, karena hampir sepanjang waktunya di habiskan untuk makan. Tapi begitu sudah bosan menjadi ulat, ia berpuasa dan mengasingkan diri, menjauhkan dari tempat makanan, membungkus badannya dengan kepompong, sehingga ia benar-benar berpuasa dan bukan sekedar menahan lapar dan haus saja. Bahkan mulut, mata dan anggota tubuh lainnya juga ikut berpuasa dan berusaha menghindari segala perkara dapat mengganggu puasanya. Lalu setelah beberapa minggu berpuasa, maka ulat keluar dari kepompong dengan bentuk yang baru yang sangat indah yaitu kupu-Kupu.

 

Pasca berpuasa sang ulat tak hanya mengganti kulit namun ia juga mengganti tabiat dan kebiasaannya. Kalau dulu ulat menjadi perusak alam pemakan daun maka kini setelah menjadi kupu-kupu, ia menghidupkan dan membantu kelangsungan kehidupan tumbuhan dengan cara membantu Penyerbukan Bunga.

 

Sekarang kita instrospeksi, apakah puasa kita seperti ular yang hanya berganti kulit yaitu baju baru di hari raya ataukah seperti ulat yang berubah tabiat dan kebiasaan. Dahulu sering mengganggu orang lain namun pasca puasa kita menjadi orang yang bermanfaat dan bermaslahat untuk orang lain?. Jika tidak ada perubahan maka puasa kita rupanya masuk kategori hadits utama yaitu “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” Namun jika ada perubahan menuju kepada yang lebih baik maka itu indikasi puasa kita diterima karena puasa kita mengantarkan kita menjadi pribadi yang bertakwa dan masuk dalam firman Allah “Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertaqwa”.

 

Renungan seperti ini sangat perlu dilakukan karena hal itu merupakan tanpa kita menjadi mukmin. Syeikh Hasan al-Bashri berkata :

ٱلْمُؤْمِنُ جَمَعَ إِحْسَانًا وَخَشْيَةً، وَٱلْمُنَافِقُ جَمَعَ إِسَاءَةً وَأَمْنًا.

Orang beriman menggabungkan amal yang baik dan rasa takut kepada Allah. Sedangkan orang munafik menggabungkan keburukan dan merasa aman dari siksa Allah. [Tafsir Lubabut Ta’wil]

 

Orang yang sudah mendapat garansi surga saja masih takut dan harap-harap cemas. Lihatlah Sayyidina Abu bakar RA, ia berkata :

لَوْ كَانَتْ إِحْدَى قَدَمَيَّ دَاخِلَ الْجَنَّةِ وَالْأُخْرَى خَارِجَهَا، مَا أَمِنْتُ مَكْرَ اللَّهِ.

“Seandainya satu kakiku sudah di surga dan satu lagi di luar, aku belum merasa aman dari makar Allah." [Kitab Ad-Daril Akhirah]

 

Dan lihat pula Sayyidina Umar RA, ia berkata : "Seandainya ada penyeru berseru: 'Seluruh manusia akan masuk neraka kecuali satu orang,' maka aku berharap akulah orang itu”.

وَلَوْ نُودِيَ لِيَدْخُلِ الْجَنَّةَ كُلُّ النَّاسِ إِلَّا رَجُلًا وَاحِدًا، لَخَشِيتُ أَنْ أَكُونَ أَنَا ذَلِكَ الرَّجُلَ.

“Dan seandainya ada penyeru berseru: 'Seluruh manusia akan masuk surga kecuali satu orang,' maka aku takut akulah orang itu." [Ihya Ulumiddin]

 

 

Maka tiada kebaikan dan kebahagiaan melainkan amal puasa kita diterima Allah SWT. Nabi dan para sahabat menjarkan agar saling mendoakan demikian. Khalid bin Ma’dan RA, berkata : Aku menemui Watsilah bin Al-Asqa’ pada hari Id, lalu aku mengatakan, ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka”. Lalu ia menjawab, ‘Iya, Taqabbalallah Minna Wa Minka, Kemudian Watsilah berkata, ‘Aku menemui Rasulullah SAW pada hari Id lalu aku mengucapkan ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka’, kemudian Rasulullah SAW menjawab,

نَعَمْ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ

“Ya, semoga Allah menerima (amal baik) dariku dan darimu”. [HR Baihaqi]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk khawatir akan amal baik kita tidak diterima Allah SWT sehingga kita terus semangat beribadah dan tidak menyombongkan amal kebaikan di hadapan manusia.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

0 komentar:

Post a Comment