ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa banyak
orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali
rasa lapar dan dahaga.”[HR Ahmad]
Catatan Alvers
Ketika berada di
penghujung Ramadhan, ada kegalauan di hati setiap orang beriman. Ada beberapa
renungan di dalam hati. Ramadhan pasti datang tahun depan namun apakah ketika ia
datang lagi apakah kita masih berada di atas tanah atau malah sudah berkalang
tanah. Jika ramadhan kali ini menjadi ramadhan terakhir dalam hidup kita lantas
apakah sudah maksimal ibadah puasa dan qiyamul lail kita. Sejauh mana puasa
membentuk ketakwaan yang menjadi tujuannya “La’allakum Tattaqun”. Dan lebih penting
lagi apakah semua ibadah yang telah dilakukan itu diterima oleh Allah ataukah
sekedar menggugurkan kewajiban sebagaiman dinyatakan dalam hadits utama tadi?
Hal yang demikian menjadi
konsen para sahabat Nabi. Ma’la bin Fadl menceritakan :
كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ تَعَالَى ... سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ
يَتَقَبَّلَ مِنْهُمْ
“Para sahabat nabi memohon kepada Allah
selama enam bulan (pasca ramadhan) agar amalan mereka diterima.”[Latha’iful
Ma’arif]
Ketika hari raya
Idul Fitri, ‘Umar bin ‘Abdul Aziz berkhutbah :
أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ صُمْتُمْ لِلَّهِ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، وَقُمْتُمْ
ثَلَاثِينَ لَيْلَةً، وَخَرَجْتُمُ
الْيَوْمَ تَطْلُبُونَ مِنَ اللَّهِ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْكُمْ
“Wahai sekalian
manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan
shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar
amalan kalian diterima. [Latha’iful Ma’arif]
Demikian pula hal itu dirasakan oleh salafus shalih. Ibnu Rajab berkata :
“Sebagian salaf terlihat bersedih ketika hari raya Idul Fitri. Dikatakan
kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka menjawab
:
صَدَقْتُمْ، وَلَكِنِّي عَبْدٌ أَمَرَنِي مَوْلَايَ أَنْ أَعْمَلَ
لَهُ عَمَلًا، فَلَا أَدْرِي أَيَقْبَلُهُ مِنِّي أَمْ لَا؟
“Kalian benar.
Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk
beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah
tidak.” [Latha’iful Ma’arif]
Berbicara apakah ibadah
puasa kita diterima atau tidak maka kita bisa memeriksa sejauh mana ibadah
puasa yang sudah dijalankan memberikan efek positif dan perubahan perilaku
dalam kehidupan kita. Bukankah tujuan disyariatkan puasa adalahlah menjadikan
seseorang bertakwa. Fudhalah bin ‘Ubaid berkata :
لَأَنْ أَكُونَ أَعْلَمَ أَنَّ اللهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي
مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَحَبُّ
إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا؛ لِأَنَّ
اللهَ يَقُولُ: إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Mengetahui bahwa
Allah menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji sawi saja, itu lebih aku
sukai dari pada dunia dan seisinya karena Allah berfirman “Allah hanya menerima
amalan dari orang-orang yang bertaqwa”. .” [Latha’iful Ma’arif]
Saya jadi teringat
dengan kisah orang bijak mengenai dua binatang yang sama-sama berpuasa namun hasil dari keduanya berbeda. Hewan pertama, yaitu ular.
Ia berpuasa agar mampu menjaga kelangsungan hidupnya
yaitu dengan cara mengganti kulitnya secara berkala. Ia berpuasa dalam kurun
waktu tertentu, setelah itu barulah kulit luarnya terlepas dan iapun memiliki kulit
yang baru. Meskipun demikian anehnya ular tetap seperti semula, tidak ada
perubahan bentuk, tabiat bahkan kebiasaannya.
Kedua yaitu ulat. Ia
termasuk hewan yang rakus, karena hampir sepanjang waktunya di habiskan untuk
makan. Tapi begitu sudah bosan menjadi ulat, ia berpuasa dan mengasingkan diri,
menjauhkan dari tempat makanan, membungkus badannya dengan kepompong, sehingga
ia benar-benar berpuasa dan bukan sekedar menahan lapar dan haus saja. Bahkan mulut,
mata dan anggota tubuh lainnya juga ikut berpuasa dan berusaha menghindari
segala perkara dapat mengganggu puasanya. Lalu setelah beberapa minggu berpuasa,
maka ulat keluar dari kepompong dengan bentuk yang baru yang sangat indah yaitu
kupu-Kupu.
Pasca berpuasa sang ulat tak hanya mengganti kulit
namun ia juga mengganti tabiat dan kebiasaannya. Kalau dulu ulat menjadi
perusak alam pemakan daun maka kini setelah menjadi kupu-kupu, ia menghidupkan
dan membantu kelangsungan kehidupan tumbuhan dengan cara membantu Penyerbukan
Bunga.
Sekarang kita
instrospeksi, apakah puasa kita seperti ular yang hanya berganti kulit yaitu baju
baru di hari raya ataukah seperti ulat yang berubah tabiat dan kebiasaan.
Dahulu sering mengganggu orang lain namun pasca puasa kita menjadi orang yang
bermanfaat dan bermaslahat untuk orang lain?. Jika tidak ada perubahan maka puasa
kita rupanya masuk kategori hadits utama yaitu “Betapa banyak orang yang
berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar
dan dahaga.” Namun jika ada perubahan menuju kepada yang lebih baik maka itu
indikasi puasa kita diterima karena puasa kita mengantarkan kita menjadi
pribadi yang bertakwa dan masuk dalam firman Allah “Allah hanya menerima amalan
dari orang-orang yang bertaqwa”.
Renungan seperti
ini sangat perlu dilakukan karena hal itu merupakan tanpa kita menjadi mukmin. Syeikh
Hasan al-Bashri berkata :
ٱلْمُؤْمِنُ جَمَعَ إِحْسَانًا
وَخَشْيَةً، وَٱلْمُنَافِقُ جَمَعَ إِسَاءَةً وَأَمْنًا.
Orang beriman
menggabungkan amal yang baik dan rasa takut kepada Allah. Sedangkan orang
munafik menggabungkan keburukan dan merasa aman dari siksa Allah. [Tafsir
Lubabut Ta’wil]
Orang yang sudah
mendapat garansi surga saja masih takut dan harap-harap cemas. Lihatlah Sayyidina
Abu bakar RA, ia berkata :
لَوْ كَانَتْ إِحْدَى قَدَمَيَّ دَاخِلَ الْجَنَّةِ وَالْأُخْرَى
خَارِجَهَا، مَا أَمِنْتُ مَكْرَ اللَّهِ.
“Seandainya satu
kakiku sudah di surga dan satu lagi di luar, aku belum merasa aman dari makar
Allah." [Kitab Ad-Daril Akhirah]
Dan lihat pula Sayyidina
Umar RA, ia berkata : "Seandainya ada penyeru berseru: 'Seluruh
manusia akan masuk neraka kecuali satu orang,' maka aku berharap akulah orang
itu”.
وَلَوْ نُودِيَ لِيَدْخُلِ الْجَنَّةَ كُلُّ النَّاسِ إِلَّا رَجُلًا
وَاحِدًا، لَخَشِيتُ أَنْ أَكُونَ أَنَا ذَلِكَ الرَّجُلَ.
“Dan seandainya
ada penyeru berseru: 'Seluruh manusia akan masuk surga kecuali satu orang,'
maka aku takut akulah orang itu." [Ihya Ulumiddin]
Maka tiada
kebaikan dan kebahagiaan melainkan amal puasa kita diterima Allah SWT. Nabi dan
para sahabat menjarkan agar saling mendoakan demikian. Khalid bin Ma’dan RA,
berkata : Aku menemui Watsilah bin Al-Asqa’ pada hari Id, lalu aku mengatakan,
‘Taqabbalallah Minna Wa Minka”. Lalu ia menjawab, ‘Iya, Taqabbalallah Minna Wa
Minka, Kemudian Watsilah berkata, ‘Aku menemui Rasulullah SAW pada hari Id lalu
aku mengucapkan ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka’, kemudian Rasulullah SAW
menjawab,
نَعَمْ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ
“Ya, semoga Allah
menerima (amal baik) dariku dan darimu”. [HR Baihaqi]
Wallahu A’lam.
Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk khawatir akan amal
baik kita tidak diterima Allah SWT sehingga kita terus semangat beribadah dan
tidak menyombongkan amal kebaikan di hadapan manusia.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul
Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren
Wisata
AN-NUR 2 Malang
Jatim
Ngaji dan Belajar
Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok
Itu Keren!
NB.
Jangan pelit
berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka
ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan
(3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]






0 komentar:
Post a Comment