Jumat, 04 Januari 2019

MEMBULLY PEMIMPIN?


ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan oleh Al-‘Irbad bin Sariyah RA, Rasulullah bersabda :
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا
"Saya memberi wasiat kepadamu agar senantiasa bertaqwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta'at walaupun yang memerintahmu adalah seorang (pemimpin yang berasal dari) budak habasy (sudan). Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. [HR Abu Dawud]

Catatan Alvers

Setiap manusia pasti menginginkan kondisi yang ideal dalam setiap perkaranya, termasuk dalam urusan pemimpinnya. Inilah yang membuat mereka lupa bahwa seorang pemimpin adalah manusia yang tidak lepas dari kekurangan. Tiada gading yang tak retak, tiada manusia yang sempurna. Tiada pemimpin yang sempurna tanpa kekurangan sebagaimana tiada rakyatnya yang sempurna.


Ketergesa-gesaan inilah yang menjadikan seseorang mencaci-maki, menghujat bahkan mengumbar aib pemimpin mereka dengan mudahnya dengan niat memperbaikinya. Dahulu, Pernah ada seseorang yang memberikan teguran dan kritikas kepada Khalifah Al-Ma’mun dengan keras dan kasar. Maka Khalifah Al-Ma’mun berkata :
يَا هَذَا أَنَا لَسْتُ بِأَعْظَمَ ذَنْبًا مِنْ فِرْعَوْنَ. وَلَسْتَ أَنْتَ أَنْقَى مِنْ مُوْسَى وَهَرُوْنَ ، وَقَدْ قَالَ تَعَالَى لَهُمَا فَقُوْلَا لَهُ قَوْلًا لَيِّناً الآية
Wahai orang ini, Aku tidaklah lebih besar dosanya dari Fir’aun, sedang Anda tidaklah lebih suci dari Musa dan harun; tapi Allah Ta’ala menyuruh : (wahai Musa dan Harun) Katakanlah kepada Fir’aun dengan qaulan layyinan, (kata-kata yang lembut) dst.”
[Hasyiyah Syeikh Muhammad As-Sinwani]

Allah SWT memerintahkan kepada Musa dan Harun untuk memberi peringatan kepada Fir’aun. Siapakah fir’aun itu? “sesungguhnya dia telah melampaui batas” [Lihat QS. Thaha: 43-44], seorang yang sombong bahkan mengaku dirinya sebagai tuhan. Siapa Musa dan Harun itu? Keduanya adalah Nabi yang besar dan mulia di sisi Allah SWT.

Meskipun demikian, Allah tetap memerintahkan kepada Musa dan Harun untuk berbicara kepada Fir’aun dengan kata-kata yang lemah lembut agar mengena dan masuk ke dalam hati Fir’aun. Yang tujuannya agar supaya Fir’aun sadar, ingat akan kezhalimannya, kemudian tunduk dan takut kepada Allah. Kalau terhadap Fir’aun, Allah telah memerintahkan kepada Musa dan Harun untuk berbicara dengan kata-kata yang lemah lembut, maka tentunya penguasa muslim kita yang zhalim sekalipun lebih berhak mendapatkan teguran dengan kata-kata yang lemah lembut dari seorang yang menasehati dan memperingatinya.

So, alvers janganlah menasehati atau memperingati pemimpin secara terang-terangan di depan umum, di mimbar atau di majelis terbuka apalagi mencaci maki bahkan membuka aibnya karena yang demikian itu akan bertentangan dengan maksud dan tujuan dari peringatan itu sendiri bahkan akan menambah kezhaliman yang lain. Sahl Bin Abdillah Rahimahullah berkata:
لا يزال الناس بخير ما عظموا السلطان والعلماء، فإن عظموا هذين أصلح الله دنياهم وأخراهم، وإن استخفوا بهذين أفسدوا دنياهم وأخراهم
Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mau menghormati penguasa dan ulama’nya. Jika mereka mau menghormati keduanya maka Allah pastilah memperbaiki urusan dunia dan akhirat mereka. Jika mereka menghina keduanya maka mereka telah merusakkan urusan dunia dan akhirat mereka [Tafsir Al-Qurtubi]

Inilah Ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya. Islam juga tidak menyerukan pemberontakan dan kudeta Justru kita diperintah untuk tetap taat selama pemimpin yang dholim itu tidak memerintahkan kepada maksiat.  Pemimpin yang dhalim itu tidak hanya terjadi pada sistem kerajaan, republik dll. pemimpin yang dhalim itu juga bisa terjadi pada sistem yang mengatasnamakan khilafah seperti yang terjadi pada masa Hajjaj bin yusuf as-saqafi [41 H / 661 M - 95 H / 714 M] seorang pembesar di masa khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayah, yang memerintah dengan cara-cara kekerasan dan sangat mudah menumpahkan darah.

Ketika kaum muslimin mengadukan kedhaliman tersebut kepada Anas bin malik RA, -- Siapakah anas itu? beliau adalah sahabat dikaruniai umur yang panjang (103 tahun). Ia mengalami beberapa periode umat Islam yang penuh dinamika: sejak hijrah Nabi hingga masa kerajaan dinasti Umayah. Dengan keilmuan dan pengalaman hidup yang sangat kaya itulah maka tidak mengherankan apabila beliau didatangi manusia untuk mengambil faedah darinya. -- Sahabat Anas berkata:
اصْبِرُوا ، فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِى عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ الَّذِى بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ. سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ صلى الله عليه وسلم
Bersabarlah kalian semua, karena tidaklah datang suatu zaman melainkan keadaan setelahnya lebih jelek dari sebelumnya sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian. Aku mendengar wasiat ini dari Nabi kalian SAW. [HR Bukhari ]

Bahkan Rasul SAW bersabda : “Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia”. Hudzaifah bin Yaman RA bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?” Beliau bersabda,
تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” [HR. Muslim]

Maka seperti itulah wasiat Rasul SAW yang dikatakan oleh Irbal sebagai wasiat yang menggetarkan hati dan menjadikan air mata berlinang, nasihat itu seakan-akan adalah nasihat dari orang yang akan berpisah (akan meninggal) dalam hadits utama di atas, agar kita tetap damai menjalani kehidupan yang carut marut yang dikatakan oleh Nabi SAW “akan terjadi banyak perselisihan”.

Lalu perbanyaklah untuk mendoakan pemimpin. Fudhail bin iyadl berkata :
لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً لجَعَلْتُهَا لِلْإِماَمِ لِأَنَّ بِهِ صَلَاحَ الرَّعِيَّةِ، فَإِذَا صَلُحَ أَمِنَتْ العِبَادُ وَالْبِلاَدُ
Seandainya aku memiliki doa yang mustajabah niscaya akan aku jadikan doa itu untuk pemimpin, karena pemimpin itu akan mendatangkan kebaikan bagi rakyatnya, jika pemimpin itu baik maka pendududk dan begaranya akan menjadi aman dan sentosa [Al-Bidayah Wan Nihayah] Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati setiap penduduk negeri ini dan memberikan hidayah kepada jalan dan tuntunan-Nya sebagaimana pula membuka hati para penguasa dan pemimpin negeri ini agar berbuat adil dan bijaksana.

Salam Satu Hadits,
Dr. H. Fathul Bari Alvers

NB.
Hak Cipta berupa Karya Ilmiyah ini dilindungi oleh Allah SWT. Mengubah dan menjiplaknya akan terkena hisab di akhirat kelak. *Silahkan Share tanpa mengedit artikel ini*. Sesungguhnya orang yang copas perkataan orang  lain tanpa menisbatkan kepadanya maka ia adalah seorang pencuri atau peng-ghosob dan keduanya adalah tercela [Imam Abdullah Alhaddad]

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Sarana Santri ber-Wisata Rohani Wisata Jasmani
Ayo Mondok! Nggak Mondok Nggak Keren!

0 komentar:

Posting Komentar