Selasa, 14 Januari 2020

TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA (TMC)



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Rasul SAW memanjatkan doa :
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالْآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan (turunkan hujan) di atas kami. Ya Allah turunkanlah di atas bukit-bukit, gunung-gunung, bendungan air (danau), dataran tinggi, jurang-jurang yang dalam serta pada tempat-tempat tumbuhnya pepohonan. [HR Bukhari]

Catatan Alvers

Menurut BMKG, banjir awal tahun 2020 yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya karena curah hujan ekstrim (lebih dari 150 mm per hari) yang turun cukup merata di wilayah DKI Jakarta. Kejadian ini sama dengan banjir besar yang terjadi di DKI Jakarta pada 2007 dan 2015 lalu. [kompas com]


Sebagai usaha mengurasi intensitas hujan di wilayah DKI dan meminimalkan resiko banjir maka pesawat TNI AU yakni CN 295 dan CASA 212 terbang di sekitaran perairan Selat Sunda untuk menabur garam dengan harapan agar hujan turun di kawasan tersebut, sehingga hujan tidak masuk ke Wilayah Jakarta. Sejak dilakukan pada 3 Januari 2020 lalu (hingga 8/1), operasi TMC ini telah melakukan 20 sorti penerbangan dengan total bahan semai NaCl mencapai 32 ton. [merdeka com] Usaha inilah yang dikenal dengan TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca).

TMC ini tidak hanya mengurangi intesitas hujan untuk mencegah banjir tapi juga sebaliknya mendatangkan hujan ketika musim kemarau berkepanjangan. Untuk menjalankan TMC ini membutuhkan 4 instansi yaitu BMKG sebagai peramal cuaca yang memberikan data awan dan angin yang akurat. BPPT (Bersama tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) sebagai penyedia teknologi menyediakan para ahli TMC. BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sebagai pelaksana penanggulangan Bencana, menyediakan sarana dan prasarana penanggulangan bencana. TNI AU sebagai penyedia alat transport berupa pesawat dan pilot, mengangkut peralatan dan bahan TMC.

Mencermati berita tersebut, Alvers ada yang bertanya bagaimanakah hukum Teknologi Modifikasi Cuaca seperti ini? Maka dalam edisi kali ini kami menguraikan tema TMC ini.

Dalam islam, hujan pada dasarnya merupakan rahmat.  Allah swt berfirman :
وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ
Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji [QS as-Syura: 28]

Dan pada ayat lain disebut sebagai barokah , Allah swt berfirman :
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ
Kami turunkan dari langit air yang barokah lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam. [QS Qaf: 9]

Namun tidak selalu demikian, terkadang hujan dirasa mendatangkan mafsadat (kerusakan) sehingga Nabi saw berdoa dengan mengucapkan :
اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً
Ya Allah jadikanlah hujan yang turun ini sebagai hujan yang mendatangkan manfaat. [HR Bukhari]

Hal ini sebagaimana kejadian dalam hadits utama di atas dimana Seseorang badui berkata:  "Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalanpun terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menahan hujan!" Anas berkata, "Rasulullah SAW lantas mengangkat kedua tangannya seraya berdoa ... (dengan doa di atas)." Anas berkata, "Maka hujan berhenti. Kami lalu keluar berjalan-jalan di bawah sinar matahari”. [HR Bukhari]

Begitu pula sebaliknya, jika dirasa kemarau berkepanjangan dan sangat dibutuhkan turunnya hujan maka kita diajarkan untuk melaksanakan shalat istisqa. Sayyidah A’isyah meriwayatkan bahwa suatu ketika Orang-orang mengadu kepada Rasulullah SAW tentang musim kemarau yang panjang. Lalu beliau memerintahkan untuk meletakkan mimbar di tempat tanah lapang, lalu beliau membuat kesepakatan dengan orang-orang untuk berkumpul pada suatu hari yang telah ditentukan (untuk melakukan sholat istisqa). [HR. Abu Daud]

(Tepat selepas pelaksanaan sholat istisqa tersebut), Allah mendatangkan awan yang disertai guruh dan petir. Turunlah hujan dengan izin Allah. Beliau tidak kembali menuju masjid sampai air bah mengalir di sekitarnya. Ketika beliau melihat orang-orang berdesak-desakan mencari tempat berteduh, beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya, lalu bersabda
أَشْهَدُ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنِّي عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
 “Aku bersaksi bahwa Allah adalah Maha kuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba dan Rasul-Nya” [HR Abu Daud]

Begitu pula ketika ummat terdahulu dilanda kemarau, Maka Nabi Nuh AS berkata kepada mereka :
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا :: يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. [QS Nuh : 10-11]

Maka mengupayakan datangnya hujan ataupun memindahnya tersebut bisa dikatakan modifikasi cuaca menggunakan sarana doa dan sholat. Dan itu hukumnya diperbolehkan. Maka sama halnya dengan TMC di atas, namun yang membedakan adalah sarana yang dipakai yaitu teknologi yang ada saat ini. Jadi selama tidak mendatangkan efek mafsadah maka TMC itupun diperbolehkan.

Namun demikian, upaya TMC itu tidak semudah yang dibayangkan karena membutuhkan biaya yang besar dan cuaca yang memang mendukung untuk direkayasa. Maka TMC belum menjamin bisa memodifikasi cuaca karena ia berpotensi sukses ataupun gagal. Sejak metode memodifikasi cuaca ini diperkenalkan pertama kali pada 1946, tingkat keberhasilannya masih diperdebatkan. Persentase keberhasilannya pun kecil, tak lebih dari 10 persen. [republika co id] Kalaupun berhasil, curah hujan yang dihasilkan tak sebesar hujan yang normal. Wajar bila negara-negara yang bertumpu pada modifikasi cuaca tidak selalu bisa berhasil mengatur cuaca dengan TMC, selama Allah tidak berkehendak, tetap saja hujan tidak akan turun dan sebaliknya. Allah swt berfirman :
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ
Sesungguhnya hanya pada sisi Allah sajalah pengetahuan tentang hari kiamat dan Dia-lah yang menurunkan hujan. [QS Lukman : 34]

Allahpun menyuruh manusia berfikir, Allah swt berfirman :
أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ :: أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ
”Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Apakah kalian yang menurunkannya atau Kami yang menurunkannya?” [QS. Al Waqi’ah: 68-69]

Maka manusia boleh saja berikhtiar, berusaha memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun tetaplah kekuasaan Allah berada di atas segalanya. Dalam pribahasa disebutkan :
Man proposes but God disposes
Menungsa Nggadhah engkrengan, Gusti Allah ingkang nentokaken
الانسان بالتفكير والله بالتدبير
Artinya : manusia berencana, (Tuhan) Allah yang menentukan.

Maka sah-sah saja kita berupaya dengan menggunakan teknologi namun hendaknya kita tetap berdoa kepada Allah sang pemilik dan pengatur jagad raya. Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati kita untuk mengetahui betapa besar kekuasaan-Nya dan betapa lemah diri kita selaku manusia sehingga kita semakin rajin berdoa dan beribadah kepada-Nya.

Salam Satu Hadits,
Dr. H. Fathul Bari Alvers

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Sarana Santri ber-Wisata Rohani Wisata Jasmani
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren Lho!

NB.
Hak Cipta berupa Karya Ilmiyah ini dilindungi oleh Allah SWT. Mengubah dan menjiplaknya akan terkena hisab di akhirat kelak. *Silahkan Share tanpa mengedit artikel ini*. Sesungguhnya orang yang copas perkataan orang  lain tanpa menisbatkan kepadanya maka ia adalah seorang pencuri atau peng-ghosob dan keduanya adalah tercela [Imam Alhaddad]



0 komentar:

Posting Komentar