Wednesday, January 13, 2021

SALAH PARFUM?



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abi Ayyub RA, Rasul ﷺ bersabda :
أَرْبَعٌ مِنْ سُنَنِ الْمُرْسَلِينَ الْحَيَاءُ وَالتَّعَطُّرُ وَالسِّوَاكُ وَالنِّكَاحُ
Ada Empat perkara yang merupakan sunnah para Rasul yaitu rasa malu, memakai parfum, bersiwak dan menikah. [HR Turmudzi]

Catatan Alvers

Memakai parfum merupakan sunnah para Nabi sebagaimana hadits utama tersebut dan Parfum juga merupakan kegemaran Nabi kita Muhammad ﷺ :
حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
“Tiga perkara dunia yang aku sukai adalah perempuan, parfum  dan dijadikannya shalat sebagai penyejuk hatiku,” [HR An-Nasa’i]


Dan hal ini disaksikan oleh Anas bin Malik, ia berkata :
وَ لاَ شَمِمْتُ مِسْكَةً وَ لاَ عَنْبَرَةً اَطْيَبَ مِنْ رَائِحَةِ رَسُوْلِ اللهِ ص
dan aku belum pernah mencium bau minyak wangi misik, maupun ambar yang lebih harum dari pada bau harumnya Rasulullah ﷺ. [HR. Muslim]

Dari Jabir bin Samurah, ia berkata, "Aku pernah shalat bersama Rasulullah ﷺ pada awal waktu, kemudian beliau menemui keluarganya dan aku mengikuti beliau, lalu beliau bertemu dengan anak-anak. Lalu beliau mengusap kedua pipi mereka satu-persatu. "Jabir berkata, "Dan adapun terhadapku, beliau mengusap pipiku juga.
فَوَجَدْتُ لِيَدِهِ بَرْدًا اَوْ رِيْحًا كَاَنَّمَا اَخْرَجَهَا مِنْ جُئْنَةِ عَطَّارٍ
Maka aku merasakan tangan beliau terasa dingin atau harum seakan-akan beliau baru mengeluarkannya dari tempat minyak wangi". [HR Muslim]

Lantas parfum dengan aroma apa yang disenangi oleh beliau?. Muhammad bin Ali (Ibnul Hanafiyyah) berkata: “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah, ‘Apakah Rasulullah ﷺ memakai parfum? ia menjawab :
نَعَمْ بِذِكَارَةِ الطِّيبِ الْمِسْكِ وَالْعَنْبَرِ
“Ya! dengan menggunakan parfum pria (maskulin) yaitu minyak wangi misik dan ‘anbar.”[HR An-Nasai]

Dan Misik adalah parfun yang terbaik. Beliau bersabda :  
وَالْمِسْكُ أَطْيَبُ الطِّيبِ
Minyak misik adalah parfum yang terbaik [HR Muslim]

Suatu ketika terdapat sekelompok orang datang kepada Nabi ﷺ untuk berbai’at. Namun di antara mereka ada seorang lelaki yang di tangannya ada bercak warna minyak wangi (parfum wanita). Maka Nabi pun tidak segera membai’atnya dan mengakhirkannya. Beliau bersabda:
إنَّ طيبَ الرِّجالِ ما ظَهَرَ ريحُهُ وخفِيَ لونُهُ وطيبُ النِّساءِ ما ظَهَرَ لونُهُ وخفيَ ريحُهُ
Parfum lelaki itu yang keras wanginya namun tidak samar warnanya (bening). Sedangkan parfum wanita itu yang nampak warnanya (pekat) namun tidak tercium wanginya (kalem baunya)” [HR Al Bazzar]

Hadits di atas mengisyaratkan bahwa parfum itu ada yabg khusus untuk pria ada juga yang khusus untuk wanita. Maka Imam Nawawi berkata : “Makruh orang laki-laki memakai parfum wanita (feminin) kecuali jika tidak ada yang lainnya. Parfum wanita itu cirinya adalah berwarna jelas namun aromanya samar (tidak menyengat).”[Syarah Nawawi]

Meskipun beliau berbadan harum, beliau tidak pernah menolak permberian parfum. Anas bin Malik RA berkata :  
أنَّ النبيَّ ﷺ كَانَ لاَ يَرُدُّ الطِّيبَ
“Nabi tidak pernah menolak (pemberian) minyak wangi,” [HR Bukhari]

Dan beliau juga melarang kita menolak pemberian parfum (makruh). Beliau bersabda :
مَنْ عُرِضَ عَلَيْهِ رَيْحَانٌ فَلَا يَرُدُّهُ فَإِنَّهُ خَفِيفُ الْمَحْمِلِ طَيِّبُ الرِّيحِ
“Barangsiapa ditawari (untuk diberi) parfum janganlah ia menolaknya, karena parfum itu mudah dibawa dan aromanya harum. [HR Muslim]

Maka kita dianjurkan untuk memakai parfum terutama dalam kondisi-kondisi sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi berikut :
وَيَتَأَكَّد اِسْتِحْبَابه لِلرِّجَالِ يَوْم الْجُمُعَة وَالْعِيد ، عِنْد حُضُور مَجَامِع الْمُسْلِمِينَ ، وَمَجَالِس الذِّكْر وَالْعِلْم ، وَعِنْد إِرَادَته مُعَاشَرَة زَوْجَ وَنَحْو ذَلِكَ
Hukum kesunnahan ini menjadi mua’akad (sangat dianjurkan untuk memakai parfum) bagi laki-laki pada hari jum'at, juga pada hari raya, ketika menghadiri perkumpulan kaum Muslimin juga ketika Majlis Dzikir, Majlis Ilmu, dan ketika  hendak berhubungan dengan isteri dll. [Al-Minhaj Syarah Nawawi]

Disamping bernilai sunnah, ternyata memakai parfum juga mendatangkan manfaat lain yaitu menambah kecerdasan. Imam As-Syafi'i berkata :
مَنْ نَظُفَ ثَوْبُهُ قَلَّ هَمُّهُ وَمَنْ طَابَ رِيْحُهُ زَادَ عَقْلُهُ
"Barang siapa yang bersih bajunya maka sedikit susahnya, dan barangsiapa yang harum baunya, maka akan bertambah akalnya. [Fathul Muin]

Namun demikian, bagi para wanita hendaklah tidak mengenakan parfum ketika keluar rumah yang bisa menarik perhatian para pria. Rasulullah ﷺ bersabda :
أيُّما امرأةٍ استعطرتْ ثُمَّ خَرَجَتْ ، فمرَّتْ علَى قومٍ ليجِدُوا ريَحها فهِيَ زانيةٌ ، وكُلُّ عينٍ زانيةٌ
Wanita mana saja yang memakai wewangian lalu ia keluar (dari rumah) dan melewati para lelaki sehingga tercium wanginya tersebut, maka ia adalah seorang pezina. Dan setiap mata yang melihatnya juga pezina” [HR Abu Daud]

Suatu ketika ada seorang wanita keluar rumah dengan memakai wewangian. Lalu wanginya tersebut tercium oleh Umar bin Khathab. Maka Umar memukulnya dengan tongkat. Umar berkata:
تخرجن متطيبات فيجد الرجال ريحكن وإنما قلوب الرجال عند أنوفهم اخرجن تفلات
Kalian ini keluar rumah menggunakan wewangian sehingga para lelaki bisa mencium aroma wangi kalian. Sesungguhnya hati para lelaki berhubungan dengan hidung (indera penciuman) mereka. Keluarlah kalian tanpa memakai wewangian” [HR Abdur Razzaq]

Ini semua berlaku jika wanita berada di luar rumah. As-Sindi berkata :
هَذَا إِذَا أَرَادَتِ الْخُرُوْجَ وَإِلَّا فَعِنْدَ الزَّوْجِ تَتَطَيَّبُ بِمَا شَاءَتْ
Ini jika wanita hendak keluar rumah namun jika ia berada di sisi suami (dalam rumah) maka ia bebas memakai parfum apa saja. [Hasyiyah A-Nasai]

Selanjutnya bagaimana hukumnya jika parfum kita terdapat campuran alkohol sebagaimana kebanyakan parfum? Apakah parfum menjadi najis dan tidak boleh dipergunakan? Jawabnya adalah mubah hukumnya. Majelis ulama Indonesia mengeluarkan Fatwa MUI No.: 11, Th. 2009 Pada 2.4. “Minuman beralkohol adalah najis jika alkohol/etanolnya berasal dari khamr, dan minuman beralkohol adalah tidak najis jika alkohol/ethanolnya berasal dari bukan khamr”. 2.6 : “Penggunaan alkohol/etanol hasil industri non khamr (baik merupakan hasil sintesis kimiawi [dari petrokimia] ataupun hasil industri fermentasi non khamr) untuk proses produksi produk makanan, minuman, kosmetika, dan obat-obatan, hukumnya: mubah, apabila secara medis tidak membahayakan”. Dan 2.7 : “...dan hukumnya haram, apabila secara medis membahayakan”. [mui or id]

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk semakin gemar melaksanakan sunnah-sunnah Nabi dalam kehidupan sehari-hari.

0 komentar:

Post a Comment