Jumat, 02 Februari 2018

SALAH PAHAM



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Rasul SAW bersabda :
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Setiap anak adam banyak melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat. [Referensi ODOH]

Catatan Alvers

Setiap anak adam tidaklah luput dari kesalahan bahkan bapak kita, Adam AS juga demikian. Maka manusia yang terbaik bukanlah ia yang tidak pernah berbuat kesalahan, namun manusia yang terbaik jika bersalah maka ia segera sadar akan kesalahannya, memperbaiki kesalahannya lalu  selanjutnya bertaubat. Allah swt  berfirman dalam hadits Qudsi:
يا عبادي إنكم تخطئون في الليل والنهار وأنا أغفر الذنوب جميعاً فاستغفروني أغفر لكم
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dan siang, dan Aku mengampuni semua dosa, maka minta ampunlah kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuni kalian” [Referensi ODOH]


Itulah mengapa manusia dalam bahasa arab disebut dengan insan yang se-arti dengan nisyan (lalai, alpa, salah). Penyair berkata :
وما سمي الإنسان إلا لنسيه :: وما القلب إلا أنه يتقلب
Tidaklah insan disebut demikian kecuali karena faktor kealpaannya, dan qalbu tidak dinamakan demikian kecuali karena ia suka berpindah-pindah (kecondongannya) [Referensi ODOH]

Kesalahan bisa terjadi dalam hal apa saja, tak terkecuali dalam memahami ajaran agama dan oleh siapa saja termasuk para sahabat nabi yang mulia. Ketika turun ayat :
وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ
“dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam.” [Al-Baqarah: 187]

Adi bin Hatim RA memahami kata benang dalam ayat ini dengan makna yang sesungguhnya. Iapun meletakkan tali (pengikat kepala) hitam dan putih di bawah bantalnya setiap hendak tidur. Ketika terbangun iapun buru-buru melihat tali tersebut jika ia tidak bisa membedakan warna dari kedua tali tersebut maka ia makan sahur, jika sudah terlihat jelas maka iapun menghentikan makan sahurnya.

Pagi harinya ia bergegas menemui Rasulullah SAW untuk menanyakan apa yang ia lakukan itu, beliau bersabda :
إِنَّ وِسَادَكَ إِذًا لَعَرِيضٌ أَنْ كَانَ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ وَالْأَسْوَدُ تَحْتَ وِسَادَتِكَ
 Sungguh, Jika demikian maka betapa lebar bantalmu untuk menaruh tali hitam dan putih dibawahnya. [Referensi ODOH]

Dalam riwayat yang lain, Rasul SAW bersabda :
بل هو سواد الليل و بياض النهار
“Namun yang maksud ayat tersebut adalah hitamnya malam dan putihnya siang” [Refensi ODOH]
Maka Allah menurunkan setelah kejadian itu (kesalahpahaman sahabat tadi) kata “Minal Fajri” (yaitu fajar) sehingga para sahabat mengetahui bahwa yang dimaksud kata benang hitam dan putih tersebut adalah siang dan malam. [Referensi ODOH]

Kisah tersebut menegaskan fungsi dan tugas Nabi, yaitu sebagai penjelas wahyu (al-Quran) yang global sehingga tidak semua perincian ajaran terdapat dalam al-Quran. Ada seseorang yang bertanya banyak hal namun ia meminta jawaban hanya dari dalil al-Quran saja. Ia bertanya kepada sahabat yang bernama Imran ibn Hashin dan dengan tegas ia memarahinya dengan berkata :
إنك رجل أحمق، أتجد الظهر في كتاب الله أربعا لا يجهر فيها بالقراءة؟ ثم عدّد عليه الصلاة، والزكاة، ونحو ذلك، ثم قال: أتجد هذا في كتاب الله تعالى مفسّرا؟ إن كتاب الله تعالى أبهم هذا، وإن السنّة تفسر هذا
Engkau ini orang yang bodoh, apakah kau temukan dalam al-qur'an keterangan bahwa shalat Dzuhur itu empat reka'at dan bacaannya tidak dikeraskan, begitu pula mengenai jumlah rekaat shalat, nishab zakat dan semisalnya? Kemudian Ia berkata lagi: Apakah kau temukan al-qur'an menjelaskan semua itu?. Sesungguhnya kitab Allah tidak menjelaskan semua itu dan sunnahlah menjelaskannya. [Referensi ODOH]

Kejadian ini menegaskan bahwa memahami ajaran agama haruslah berpedoman kepada wahyu, apa yang disampaikan Rasul SAW dan bukan kepada pemahaman individu yang terbatas. Maka kaidah-kaidah syar’i disusun oleh para ulama dengan tujuan meminimilkan kesalahfahaman dalam ajaran agama.

Mengandalkan pikiran saja tanpa memperhatikan kaidah-kaidah syar’i akan menimbulkan kekeliruan dalam beragama. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh ‘Ali RA:
لو كان الدين بالرأى لكان مسح أسفل الخف أولى من أعلاه وقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسح أعلى الخف
Andaikan agama itu berdasarkan akal niscaya mengusap bagian bawah dari sepatu itu lebih utama dari pada mengusap bagian atasnya dan sungguh aku melihat Rasul SAW mengusap bagian atas dari sepatunya (dalam berwudlu’). [Referensi ODOH]

Kejadian salahfaham dari sahabat seperti di atas bukanlah untuk menjelaskan kelalaian mereka, namun lebih menjelaskan kepada proses pembelajaran dalam beragama sehingga kita tidak boleh mencela para sahabat apapun keadaannya. Rasul Saw bersabda :
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya. [Referensi ODOH] Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari menjadikan kita orang yang memahami ajaran agama dengan benar dan membantu mereka yang salah paham dengan cara yang bijaksana.

Salam Satu Hadits,
DR.H.Fathul Bari. SS., M.Ag
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jawa Timur Indonesia

Artikel di atas bisa anda dapatkan versi bukunya dalam
BUKU ONE DAY ONE HADITH
sistem SPA (Singkat, Padat, Akurat). SINGKAT karena  Didesain sekali duduk bisa selesai baca satu judul ::PADAT karena  Tidak bertele-tele dan  AKURAT karena disertai referensinya

ONE DAY#1 *INDAHNYA HIDUP BERSAMA RASUL SAW* ISBN : 9786027404434
ONE DAY#2 *MOTIVASI BAHAGIA DARI RASUL SAW* ISBN : 9786026037909
ONE DAY#3 *TAMAN INDAH MUSTHAFA SAW* ISBN : 9786026037923
(Pre Order) ONE DAY#4 *TAFAKKUR ZAMAN NOW*, ISBN: 978-602-60379-5-4
Bisa dapat harga promo dan kirim via tiki/JNE silahkan hub. Ust. Muadz 08121674-2626

0 komentar:

Posting Komentar